Kematian dan Orang-Orang yang Ditinggalkan!

Kehilangan orang yang kita cintai tidak pernah mudah untuk dilalui. Walaupun kita tahu dengan pasti bahwa ditangan Tuhan segalanya pasti lebih baik dibandingkan dunia ini. Orang-orang yang kita cintai satu persatu pasti akan pergi, begitu juga dengan kita sendiri. Kita juga suatu saat pasti akan mati dan meninggalkan semua yang kita cintai didunia ini. Tanpa membawa apapun.
Kehilangan terbesar yang pernah kualami adalah ketika papaku meninggal. Saat itu usiaku baru 20 tahun dan baru saja menyelesaikan ujian terakhir D3. Aku lulus dengan predikat sangat memuaskan, namun sayangnya papa nggak bisa melihat aku diwisuda. Hampir delapan tahun berlalu dan aku masih selalu sedih saat mengenang bokap. Aku merindukannya. Karena itu aku merasa heran bila melihat ada teman-temanku yang tidak dekat dengan orang tuanya, terutama bokapnya. Lucu karena menurutku, seharusnya hubungan anak dan orang tua tidak ada jarak. Kalau sama orang lain bisa akrab, kenapa dengan bapak sendiri kayak ketemu dosen killer aja. Pengen cepat-cepat kabur. Aku selalu menasihati teman-teman dekatku supaya berbaik-baik pada orang tua mereka masing-masing. “Sayangi orang tua kalian dan tunjukkanlah. Jangan sampai kelak kalian menyesal karena nggak sempat bilang. ” Kataku pada seorang teman yang tidak dekat dengan bapaknya yang seorang Polisi. Dan beberapa bulan kemudian, saat pergi dinas bapaknya mendapat serangan jantung di jalan. Dan meninggal tanpa sempat bertemu dengan keluarganya terlebih dahulu. Temanku ini langsung teringat dengan kata-kataku sebelumnya. Dia menyesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Berteriak, menangis ataupun memaki tidak akan membuat yang sudah meninggal bisa mendengar perkataan kita. Aku saja yang sangat dekat dengan bokapku, menyesal. Karena tidak pernah cukup waktu yang aku punya untuk bikin bokap bangga dan bilang betapa sayang dan bersyukurnya aku jadi anak perempuannya. Bokap adalah orang yang paling aku sayang didunia ini, bahkan lebih dari sayangku kenyokap.
Butuh waktu yang lama untuk bisa menerima kenyataan bokap enggak akan pernah pulang ke rumah. Tapi bokap selalu hidup dalam hati dan kenanganku. Beberapa hari yang lalu aku melihat seorang wanita yang suaminya tiba-tiba saja meninggal. Ia shock dan histeris. Aku dapat merasakan kesedihan dan kebingungannya. Ia berkali-kali menangis dan menguncang tubuh suaminya. Berteriak, memeluk dan mencium pipi suaminya. Memintanya bangun. Sangat menyedihkan melihatnya seperti itu, ditinggal mati oleh kekasih yang dicintai. Aku yakin ia pasti merasa ingin mati juga. Ingin menghilang dan tidak menjadi apa-apa.

Kematian selalu memisahkan orang-orang yang saling mencintai. Memisahkan tanpa bisa bertemu kembali. Dan tidak ada yang dapat dengan mudah menghadapinya. Dengan atau tanpa persiapan sekalipun tetap saja akan meninggalkan rasa kehilangan bagi orang-orang yang ditinggalkan. Tuhan mungkin akan mengganti dengan yang lebih baik, tetapi bagaimana bila kita tidak ingin yang terbaik? Kita hanya menginginkan dia yang telah diambil. Cukup hanya dia saja dan tak butuh yang lain. Tapi kita tetap saja tidak bisa berbuat apapun, selain menjalani saja semuanya. Perlahan-lahan hanya waktu yang dapat menyembuhkan luka ini. Dan butuh banyak kesabaran dan rasa ikhlas menerima kenyataan hidup. Bahwa yang sudah pergi tidak akan pernah kembali lagi. Tetapi bukan karena ia tidak mencintai mereka yang ditinggalkannya, ia pun sama tidak berdayanya dengan kita. Ingatlah semua kebaikan-kebaikannya dan selalu berdoa untuknya. Dan kelak mungkin kita bisa berjumpa lagi.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s