LAGU NATAL, DESEMBER DAN INDONESIA YANG KITA CINTAI

Lagu-lagu natal mulai ramai berkumandang.
Memasuki desember adalah biasa bagi saya untuk mendengar lagu-lagu natal kristiani berkumandang baik yang bahasa inggris atau bahasa batak, karena tetangga saya beragama kristen dan karena rumah kakek saya dari pihak papa dan kakek saya dari pihak ibu, keduanya sama-sama dekat gereja.
Itu tidak mengganggu kami. Bahkan hampir setiap malam, tercium bau dupa hio dari rumah sebelah kiri kami, yang dihuni keluarga tionghoa dengan nama anaknya Ahok. Iya Ahok tapi bukan Ahok yang di Jakarta. Ahok yang ini teman masa kecil saya. Sayangnya setelah ibunya tewas dibunuh perampok, mereka pindah dan saya tidak tau kabar terakhirnya.
Kembali kemasalah lagu natal. Saya tidak perlu merasa terganggu. Mungkin sama dengan yang dirasakan oleh pemeluk agama lain saat mendengar suara azan dari mesjid. Saya bahkan hanya mendengarnya setahun sekali dibulan desember, bayangkan mereka yang mendengarkan setiap hari nyaris beberapa kali sehari tergantung rajinnya merbot. Jadi jangan tanyakan toleransi mereka terhadap kita ya, karena kita sama-sama taulah dinegeri ini yang minoritas lebih banyak menahan diri dibandingkan yang mayoritas. Contoh kejadian di Tanjung Balai Asahan, ada seorang ibu Tionghoa yang protes suara speaker mesjid, vihara-vihara langsung banyak dibakar massa. Padahal belum tentu si ibu ini seorang budhist atau hindu, bisa saja kan ia katolik atau kristen. Lalu pembakaran umat ibadah ini apakah boleh dibenarkan? Tidak berapa lama setelah kejadian ini, di tempat yang sama ada protes tentang patung budha yang besar di vihara kota Tanjung Balai. Saya kurang jelas protesnya karena apa, apakah karena mengganggu agama lain atau apakah permasalahan izin. Kalau mengganggu memangnya patung bisa apa coba? Padahal patung tersebut sudah lama berada disana dan sudah tentu mendapatkan izin untuk tempat beribadah, akhirnya solusinya diturunkan dan dipindah. 
Menariknya adalah komentar para pemeluk agama budha disana. Mereka tidak masalah patung budha besar itu dipindahkan, iman mereka tidak terganggu dengan itu karena budha selalu dihati dan pikiran mereka, tidak tergantung oleh sesuatu dan benda. Bukankah seharusnya begitu?
Bukankah seharusnya iman kita seperti itu? Tidak terganggu oleh hal-hal kecil semacam apa yang dikatakan sebagian orang-orang sebagai penghinaan terhadap alquran (belum terbukti secara hukum). Apa dengan alquran dihina, agama kita dihina, maka alquran dan islam menjadi hina dihati kita? TIDAK. Aku pribadi tidak merasa seperti itu. Kalau boleh aku bilang iman aku melampaui hinaan dan fitnah terhadap alquran dan islam, hal itu tidak membuat imanku menurun ataupun hilang. Karena sekali lagi iman ini adanya didalam hati, pikiran dan perbuatan kita. Alangkah rapuhnya iman bila hanya karena hal-hal tersebut kita terganggu.
Apakah saya pernah bercerita bahwa saya pernah makan satu meja dengan teman, saya makan rendang dia makan babi dan seorang teman yang lain vegetarian? Saya tidak perlu merasa terganggu teman makan babi meski babi haram dalam agama saya. Pun teman yang lain tak perlu merasa terganggu sebab saya makan sapi sementara sapi bagi dia dan kaumnya adalah hewan yang suci atau reinkernasi dari kehidupan yang lalu. Itu yang saya sebut dengan toleransi beragama. Tidak sulitkan?
Saya hanya ingin Indonesia menjadi lebih baik. Menjadi tempat yang menyenangkan dan aman bagi anak keturunan kita tanpa takut dibedakan, bebas berteman dengan siapa saja, bahu membahu membangun negeri ini. Kita memang memiliki banyak sekali perbedaan agama, suku, rasa dan pandangan politik mungkin tapi bukan berarti gak bisa bersatu dalam perbedaan. Ada kok hal yang membuat kita sama, kita sama-sama cinta damai karena itu kita percaya Tuhan dan kita sudah pasti cinta negeri ini, Indonesia. Dan apapun itu, saya muak dengan perbedaan yang membuat kita terkotak-kotak dalam pikiran tapi saya masih sayang kamu.

Surat untuk Tante Moken, Indonesia 04 November 2016

images.jpeg
Dear Tante,

Apa kabar? Semoga Tante, Om dan keluarga dalam keadaan sehat.
saya jarang nulis sekarang Tan, sibuk kerja sampai gak punya waktu buat mikir (alasan saja, dasarnya emang pemalas). Hehehe bisa ngeles.
Kemarin, 04 Nov 2016 adalah hari berat Tan. bukan buat orang-orang di Jakarta, bukan hanya kaum minoritas tetapi yang berasal dari mayoritas seperti saya pun merasakan sesak ini. kegelisahan melihat betapa rapuhnya kemanusiaan di tunggangi oleh hal-hal yang katanya ‘MEMBELA AGAMA”.
Saya jadi bertanya mengapa kaum saya begitu merasa tidak aman/insecure? padahal mereka mayoritas? orang-orang mereka yang menguasai seluruh sendi-sendi kehidupan di Indonesia ini, kok mereka segitu takutnya? ini umat ini kaum apa sih, apa-apa kok takut lalu bagaimana kaum minoritas, suku-suku, penganut agama lain? apa dan bagaimana yang telah mereka hadapi dan rasakan selama ini, saya yakin jauh lebih tidak nyaman dari yang kaum mayoritas rasakan saat ini.
Poor people. saya gak bisa marah dengan mereka Tan.
bukan agama yang salah, bukan islam atau kristen atau budha.
mereka hanya gak pinter sedikit.
gak pinter karena segitu sensitifnya.
gak pinter karena mudah saja diprovokasi oleh hal yang belum tentu benar.
gak pinter karena malah ngecilin kekuatannya Tuhan
gak pinter karena gak bisa melihat gambaran yang jauh lebih luas.
ini bukan masalah agama Tan.
ini masalahnya karena Ahok cina dan dia non muslim.
ini masalahnya mau goyang jakarta, mau bikin rusuh kayak tahun 1998, mau GULINGKAN JOKOWI.
tapi orang-orang gak liat ini.
kenapa?
karena dibungkus masalah agama, agama paling besar dijagad ini, ISLAM.
Aku malu Tan, marah dan terutama sedih.
Aku minta maaf atas nama kaumku.

Kita Sudah Lama Tidak Bercinta

Minggu ini saya bangkrut (biasanya juga sih), kena batuk pilek, kerjaan lumayan numpuk akibat cuti, drama korea yang diikuti ternyata bad ending, sby masih juga caper kayak mantan saya yang meski udah nikah tapi masih belum mup on dan tentang keresahan kawan-kawan tionghoa, ahok dan demo 4 november. 

Halah, duniaku ini loh.

Jadi minggu kemarin saya cuti dan pulang kampung, ketemu ibu yang paling penting, lainnya cuma selintasan gak berarti. Wajar kalau bulan ini gaji lebih cepat habisnya, pokoknya gitu deh detilnya males untuk diungkap. Malu. Toh gaji tak seberapa eh, kesannya kok gak bersyukur? Tapi bos baru kasih kesempatan untuk ngambil lembur kalau-kalau kerjaan banyak (makasih bos baru yang gak mau dipanggil bos, maunya dipanggil oom). So, tadi aku lembur dan nyampai rumah jam 8 malam berhubung agak sakit, rencananya mau ke klinik eh ternyata dokternya udah pulang. Klinik buka 24 jam, my ass. Buat apa buka kalo mau berobat dokternya enggak adakan? 

Oh ya, beberapa bulan ini aku ngikutin drama moon lover. Biasalah tipikal tokoh utama favoritku kan yang dingin-tajem-dan tukang kontrol (pake R ya!). Udah dibela-belain nonton 2 kali seminggu, donlot, simpan eh endingnya sedih. So kampret banget, masa udah udah susah payah penuh perjuangan darah dan air mata gak pakai kentut (catet pake huruf U ya bukan O) sepasang tokoh utamanya malah putus dan pisah, salah paham sampai salah satunya mati. Ini gak bener, ini kampret sekali. Kalau dalam film aja akhir bahagia itu enggak ada, gimana dengan dunia nyata? Gimana dengan jomblo usia 31 tahun yang udah hampir 7 tahun gak punya pasangan? Ya Alloh, kejam banget film makernya. Gak mikit efeknya kekita-kita? Memupuskan semua harapan yang tidak tersisa.

Ok. Lupain soal drama. Di Indonesia ada drama politik yang lebih seru dibandingkan ngeliat King Gwangjoong kehilangan satu-satunya perempuan yang ia cintai. Ada cina gila yang berani jadi pejabat publik dan kerjanya tak dapat dipungkiri bagus (cuma orang tolol yang gak bisa liat hasil kerja ahok ya, cuma orang tolol dan orang yang mungkin punya kepentingan selangkangan sendiri). Terus ada mantan mentri yang tadinya aku sempat respek karena concernnya dibidang pendidikan tapi ada tapinya semuanya hangus karena ketidaksabarannya. Kenapa aku bilang tidak sabar? Ok. Ambisius itu boleh aja, punya harapan dan impian selangit juga gak salah tetapi cara-cara mencapainya ini yang jadi masalah. Lewat jalan mana dulu? Karena aku orang yang percaya kadang proses jauh lebih penting daripada hasil akhir.

Bullshit lah itu kata bang pandji merampok kapal bajak laut, yang ada aku melihat keserakahan yang menghalalkan segala cara termasuk yang tak baik. Semakin kemari semakin blunder saja, bukan adu visi misi malah nyari-nyari kesalahan petahana. Sama kayak hasil konvensi partai demokrat, aku kok punya keyakinan pak anies gak bakal menang dalam pilkada DKI apalagi dengan tandem uno dan (so sorry nih) Mr. Prabs and the gang behind him. Sudah rusaklah citra pak anies yang lumayan bersih, kalau begini cara-cara yang ia pilih (mau bekerja sama dengan pihak-pihak semacam fadli zon, fahri hamzah, fpi, pekaes, jonru dan dia-yang-namanya-tak-perlu-disebutkan-tapi-kalian-pasti-tau-karena-hanya-kalah-2%-untuk-jadi-presiden) kesempatan untuk dipercaya jadi orang nomor satu dinegara ini, kok aku enggak bakalan rela ya. Ah sayang sekali pak anies terlalu terburu-buru, tidak mau nunggu kesempatan dan jalan yang jauh lebih baik dari pada masuk GANG hambalang.

Terus ada pak beye yang dalam masa pensiunnya tampak jauh lebih sibuk jadi negarawan dibanding saat masih jadi orang nomor satu. Bayangin aja selama 10 tahun jadi presiden, beliau bisa menciptakan 5 album lagu sampai masuk rekor MURI. Sungguh sangat hebat, bravo, ngebayangin beliau disela-sela bencana tsunami aceh, lumpur lapindo dan sinabung, getitaran genjreng-genjreng cari nada. Lah kini, sudah 2 tahun santai 1 buah single lagu pun tiada tercipta. Beliau sibuk keliling jawa, ketemu netizen, curhat via konferensi pers (ya tuhan, hobi kok curhat playing victim) dan majuin anaknya untuk jadi gubernur. Ah pak beye, anda lebih baik main-main sama cucu dan bikin album lagi daripada sibuk kembali berpolitik, kan anda sudah tau busuk-busuknya gimana. Karena terus terang, saya tuh penikmat musik kecuali k*ngenband aja, kok saya sama sekali gak notice 1biji pun lagu yang anda ciptakan? Ada apa ini? Apa semesta terlalu hebat menghalangi telinga saya untuk menikmati karya anda? Saya yang kurang update atau lagu anda yang memang gak populer. Saya gak bilang gak populer bukan berarti sampah loh tapi mungkin, masa udah dinyanyiin penyanyi sekelas judika dan afgan masih gak booming juga. Yang salah bukan anda pak juga bukan penyanyinya, saya yang salah. Saya udah kelamaan jomblo, haus hubungan berkualitas dengan lain gender dan kekurangan hormon karena gak bisa bercinta. Maafkeun.

Footnote: ditulis dalam pengaruh obat flu yang mengandung amphetamin dan playlist full melow-ballad.

Pesan bapakku

Menikahlah nak, kata bapakku, supaya kau tau jaraknya sejengkal dari surga dan neraka didunia.

Menikahlah nak, pesan bapakku, agar kau mengerti bahagia dan derita letaknya bersebelahan selalu.

Bapakku tidak tau tanpa menikah pun aku sudah berada dalam neraka, 

dan surga? surga seperti apa yang pantas diperjuangkan aku belum temukan.

Bapak tidak sempat melihatku memilih untuk berbahagia atau bersedih namun itu justru bagus. Karena beliau tak perlu mencemaskan apa-apa lagi. 

Jadi jalani saja. Jalani hidupmu yon.

Dunia belum berakhir

Waktu SD saya pernah didiamkan anak sekelas, pas SMP pernah dimusuhi segerombolan kakak kelas dan pas kuliah juga sempat disirikin beberapa teman perempuan. Singkatnya, saya sudah ngalamin apa yang jaman sekarang disebut bullying. Bahkan saat saya dewasa dan bekerja pun, hal-hal seperti ini masih tetap ada kok.

Ada saja orang-orang yang tidak menyukaimu, enggak bisa dihindari kamu tetap harus berhadapan dengan mereka dan tetap melanjutkan hidup. Lalu?

Intinya adalah dalam hidup seringkali kita menemukan hal- hal yang tidak kita inginkan namun terpaksa kita alami. Karena hidup ya memang seperti itu, kamu gak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan alih-alih malah apa yang kamu butuhkan [katanya].

Bagi saya sesederhana ini kalau kamu butuh menyakiti orang lain untuk membuatmu berbahagia maka yang sangat butuh pertolongan itu bukan orang lain tapi kamu. Karena sejujurnya kamulah yang paling menyedihkan dibandingkan orang yang jadi korbanmu. 


Ketika singgah lagi

Mengenangmu tidak lagi menyakitkan.

Ternyata perlu waktu yang lama untuk berdamai dengan ingatan-ingatan yang tersisa, memudarkan luka yang pernah memeluk begitu dalam. Tapi hidup tetap berlanjut meski dalam keadaan tidak siap, hidup tetap menjadi pilihan yang tak terbantahkan. 

Semoga kelak jika kau memutuskan untuk singgah lagi padaku, tolong jangan bawa-bawa kebodohan dan salah yang sama.

izinkanlah aku patah sekali lagi

Mungkin hati-hati yang berserakan di kakimu adalah saksi bahwa kau tak bisa mencintai siapa-siapa atau bisa saja artinya, kau hanya mencintai dirimu sendiri hingga tidak ingin berbagi dengan tak seorangpun. Dan aku adalah seseorang yang kau patahkan berkali-kali hingga aku lupa ini darah atau nanah, yang mengalir bersama air mata. Tapi tolong, izinkanlah aku untuk patah lalu remuk redam di kakimu sekali lagi. Karena kalau kau yang tak bisa mencinta maka aku adalah orang yang masih belum tau bagaimana cara memeluk kegagalan ini.