Dunia belum berakhir

Waktu SD saya pernah didiamkan anak sekelas, pas SMP pernah dimusuhi segerombolan kakak kelas dan pas kuliah juga sempat disirikin beberapa teman perempuan. Singkatnya, saya sudah ngalamin apa yang jaman sekarang disebut bullying. Bahkan saat saya dewasa dan bekerja pun, hal-hal seperti ini masih tetap ada kok.

Ada saja orang-orang yang tidak menyukaimu, enggak bisa dihindari kamu tetap harus berhadapan dengan mereka dan tetap melanjutkan hidup. Lalu?

Intinya adalah dalam hidup seringkali kita menemukan hal- hal yang tidak kita inginkan namun terpaksa kita alami. Karena hidup ya memang seperti itu, kamu gak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan alih-alih malah apa yang kamu butuhkan [katanya].

Bagi saya sesederhana ini kalau kamu butuh menyakiti orang lain untuk membuatmu berbahagia maka yang sangat butuh pertolongan itu bukan orang lain tapi kamu. Karena sejujurnya kamulah yang paling menyedihkan dibandingkan orang yang jadi korbanmu. 


Ketika singgah lagi

Mengenangmu tidak lagi menyakitkan.

Ternyata perlu waktu yang lama untuk berdamai dengan ingatan-ingatan yang tersisa, memudarkan luka yang pernah memeluk begitu dalam. Tapi hidup tetap berlanjut meski dalam keadaan tidak siap, hidup tetap menjadi pilihan yang tak terbantahkan. 

Semoga kelak jika kau memutuskan untuk singgah lagi padaku, tolong jangan bawa-bawa kebodohan dan salah yang sama.

izinkanlah aku patah sekali lagi

Mungkin hati-hati yang berserakan di kakimu adalah saksi bahwa kau tak bisa mencintai siapa-siapa atau bisa saja artinya, kau hanya mencintai dirimu sendiri hingga tidak ingin berbagi dengan tak seorangpun. Dan aku adalah seseorang yang kau patahkan berkali-kali hingga aku lupa ini darah atau nanah, yang mengalir bersama air mata. Tapi tolong, izinkanlah aku untuk patah lalu remuk redam di kakimu sekali lagi. Karena kalau kau yang tak bisa mencinta maka aku adalah orang yang masih belum tau bagaimana cara memeluk kegagalan ini.

Selalu

Bersenang-senanglah selagi masih sempat karena kita tidak akan tau kapan kesedihan akan datang atau bagaimana cara menghindarinya. Sementara satu-satunya yang pasti hanyalah waktu yang sayangnya tak kita miliki dengan banyak, karena tiap detik adalah berharga. Genggam erat ia yang saat ini disisimu, peluklah apa-apa yang kau cintai seolah kesempatan terakhirmu. Dan bisikkanlah cinta dan kerinduan pada mereka yang bersetia padamu, selalu.

Rumitnya niat dan usaha 

Dulu kupikir, jatuh cinta adalah perkara mudah. Kau cukup menemukan seseorang yang menarik perhatianmu dan fokus padanya, voila… tau-tau ia sudah dalam hatimu saja.

Tapi itu enggak benar.

Jatuh cinta adalah perkara rumit, dikatakan oleh seseorang yang sudah jomblo selama 6 tahun. Yang kalau diibaratkan usia seorang anak, kira-kira dari bayi sampai masuk sekolah dasar. Buset… ternyata udah selama itu sendirian, sementara sikawan udah beranak bahkan anaknya sudah mulai besar.

Dan kau masih saja sendiri, belum mencoba lagi meski waktu sudah jauh melaluimu.

Move-on, yon. Bukan cuma niat tapi usahain juga.

Harusnya

Saat pertamaku melihatmu, aku tidak pernah berpikir bahwa kau akan jadi segalaku, bahagia dan juga malam-malam sendiriku yang pedih. Kamu duniaku, semesta yang menaungi.

Aku nggak tau apa yang selanjutnya terjadi, aku kehilanganmu. Entah kau yang memilih pergi atau akulah yang mendorongmu hingga menjauh. Kau tinggalkan aku.

Aku bertanya-tanya, dimana salahku? Apa ada hal yang kulakukan tanpa kusadari membuatmu marah hingga membenciku? Atau bisakah perasaan raib begitu saja, kau sudah tak menginginkan kita lagi?

Lama aku terpaku, menyesali, mencari-cari kemungkinan yang tak akan pernah ada. Kamu melaju. Hidupmu baik-baik saja bahkan sudah menemukan orang lain dengan mudahnya.

Aku cemburu. 

Gampang saja bagimu, menggantikanku sementara aku masih berpijak pada masa itu.

Aku menyesal. Bukan karena kita berakhir begini tapi lebih pada banyak hal yang belum kulakukan, kukatakan serta tunjukkan untukmu. Aku belum sungguh-sungguh dalam segala hal. Harusnya kukatakan betapa kau, tanpamu aku. 

Lalu bagaimana kini aku, bisakah aku?

Footnote : inspire by Maudy Ayunda, Davichi, Katy Perry.

Levelnya CUMA SEGITU DOANG

image

Pindah itu harus ke tempat yang lebih baik, sama kayak move-on. Harusnya pasangan selanjutnya ya lebih baik daripada yang sebelumnya. Kalau malah lebih enggak karuan, situ yakin matanya gak rabun?

Jadi ceritanya aku pindahan rumah, lagi. Setelah setahun tinggal di kompleks G, terpaksa keluar dari rumah sewa gara-gara gak nyaman lagi dengan teman serumah. Bukan masalah besar sih, cuma tipikal orang modal badan gede, omong kosong dan hidup yang kacau. Saya malah antara kasian dan lucu setelah diamuk-amuknya, disms maki-maki. Such a big fat loser, pfff…..!

Bukannya rasis sama orang gemuk. Mamaku panggilan kesayangannya Gendut. Babi kecilku badannya juga paling gede diantara dua abang laki-lakinya yang langsing-langsing. Babi kecil nomor satu, hanya difoto aja keliatan langsing. So, aku gak anti sama orang gendut.

Cuma kalo liat kelakuan yang dulu pernah serumah, delusional banget. Playing victim terus. Siapa yang salah, siapa yang yang bikin ulah. Gak konsisten. Kadang ninggi sok bisa beli harga diri orang, dua hari kemudian ngemis-ngemis minta duit dikembalikan, sampai akhirnya marah-marah sambil bawa seisi kebun binatang plus ngatain orang lesbian. Dan aku tetap gak mau kasih apa yang dia mau.

Yeah, dia bisa aja tipu kakak dan ibunya juta-jutaan pakai acara ngancem bunuh diri. Tapi aku gak akan kemakan gertakan sambalnya, ngancem ini itu cuma karena uang 350.000 yang katanya adalah haknya. Dimana-mana namanya uang sewa kalau sudah dibayarkan ya hangus kalau  keluar rumah sebelum waktunya, gak ada istilah refund. Lagian kenapa minta ganti uang kepada sesama penyewa dalam satu rumah. Karena tau kalau minta sama pemilik rumah, bakal diketawain. Lu pikir ini main rumah-rumahan?

Haha.

Hidup kok sukanya bikin masalah. Semakin kamu kasari, semakin kamu gak sopan, semakin kamu fitnah orang lain dengan tuduhan-tuduhan menjijikkan. Semakin jelaslah bahwa kamu memang levelnya CUMA SEGITU DOANG. Hehehe…

Aku gak butuh pujian dari orang lain, pun hinaan kamu. Memang aku tulang punggung keluarga, memang aku kerja keras cari nafkah yang halal. Setidaknya uang yang aku dapat dan berikan kekeluargaku, bukan dari kantong kamu toh. Jadi kalau gak pernah diposisi saya, jangan sok seksi deh babi guling sambal tuk-tuk.

Pecundang ya memang begitu. Selalu merasa dirinya yang paling menderita, paling berhak, paling bener, dunia ini enggak adil tapi males bersungguh-sungguh. Gak mau kerja keras dan mau dapat enaknya aja. Dan masih mikir dirinya pantes mendapatkan apa-apa yang orang lain sudah mati-matian perjuangkan.

Vaya con dios, upil monyet pantat merah!