22 Mei 2019, Pokoknya harus menang.

Jakarta rusuh hari ini. Menurut gubernurnya sudah jatuh korban, 6 orang tewas dan ratusan luka-luka akibat kerusuhan dan pengobatan mereka dicover oleh BPJS. Mereka lempari polisi dengan batu dan molotov lalu lari ke mesjid. Polisi balas dengan gas air mata dan peluru kosong.

Chaos. Ratusan orang ditangkap karena dianggap melawan, provokator dan anarkis. Dan semua ini karena siapa?Karena satu orang yang kalah kompetisi dan gak bisa terima kenyataan bahwa dia gak menang. Berkali-kali ikut kompetisi dan selalu kalah, mungkin dia muntab. Sudah pakai segala cara kok hasilnya masih sama, KALAH. Lucunya adalah para pendukungnya mau saja dibodohi dengan narasi kompetisi tidak fair bahkan lawan dianggap curang. Sama sekali tidak terpikirkan oleh mereka bahwa lebih banyak rakyat Indonesia yang memilih bukan dia sebagai pemimpin. Tapi ambisi sudah membutakan matanya, pokoknya harus menang.

Fanatisme adalah tolol yang tidak terlawan. Apalagi kalau sudah bawa-bawa agama, udah kelar hidup lu. Saya akan mengingat hari ini, 22 Mei 2019 sebagai bukti bahwa kalau seperti ini cara-cara mereka untuk menang, maka dia memang enggak pernah pantas untuk jadi pemenang. Takdirnya adalah dikenang sebagai pecundang. Kalau dulu dikenal sebagai pecundang yang lari terbirit-birit ke Yordania maka sekarang dia adalah pecundang terburuk yang diwariskan oleh orde baru-nya Soeharto.

Tentara gila masih bisa disebut tentara walaupun kejiwaannya tidak stabil, lah kalau gila presiden? Ini kalau disinetron azab pasti sudah lari-lari di jalanan sambil dilempari anak-anak kecil yang teriak “orang gila, orang gila…” Lalu ada adegan dia balas ngomong sama anak-anak kecil itu, “aku ini presiden, berani-beraninya kalian hina aku. Indonesia ini aku yang punya kuasa.” Duh, jangan sampai gini deh pak mantan jenderal. Sakitnya sih gak seberapa, malunya ini loh.

Advertisements

Waktu bahagia

Dulu waktu aku menang lomba catur di SMU atau lomba debat di kampus, tampang aku pasti jauh lebih gembira di bandingkan raut wajah Pak Prabowo dan Sandiaga Uno seperti di bawah ini. Sama sekali tidak ada pancaran bahagia, binar mata bangga atau gairah, wajah yang bercahaya pancaran kehidupan. Padahal pencapaian anak SMU atau anak semester dua di kampus, apalah artinya dibandingkan dengan memenangkan pemilu. Memenangkan 250 juta rakyat Indonesia. Tapi kok aku ya ndak bisa melihat itu pada gambar di atas ini?

Ekspresi yang mereka tampilkan ini seperti ekspresi saat pemakaman, saat bersedih atau saat berduka karena kehilangan sesuatu yang tak bisa dijangkau lagi. Lihat sudut bibir Prabowo? Melengkung ke bawah. Bukan hanya melengkung ke bawah, mulutnya Amin Rais dan Sandiaga terkatup rapat dengan dagu berkerut. Seperti sedang menahan sesuatu. Mungkin menahan perasaan atau menahan perkataan yang mungkin disesali apabila diucapkan.

Jelas ini bukan suasana ceria padahal harusnya disambut suka cita, lah wong menang kok. Ini adalah suasana yang biasa kita lihat di film-film-nya DC Comics sebelum Aquaman dan Shazam : dark, gloomy dan hopeless. Jadi sebenarnya ada apa nih Pak Prabowo? Pak Sandiaga?

Lalu seseorang menyelutuk : ” Nyet, ya sedihlah. Wong kemenangannya dirampok, dicurangi dan dibuat kalah secara sistematis, terstruktur dan masif.” Siapa yang gak marah kalau dalam situasi seperti itu coba?

Aku balik kanan aja dan lebih baik nunggu tanggal 24 segera datang. Menyiapkan mental, energi dan waktu agar bisa menyaksikan Avengers Endgame yang durasinya lebih dari 3 jam.

XOXO. ❤

Fearless

34th me be like :
I’m not afraid of getting older.
I’m one less day from dying young.
Sudah sejauh ini, sudah mengerti bahwa hidup gak melulu hitam dan putih, sudah mengalami kehilangan-kehilangan yang parah, sudah ditempa berkali-kali seperti besi, sudah pernah hancur dan bangkit lagi karena harapan, dan sudah mencintai seseorang dan lebih sering patah hati.
Jadi sudah sewajarnya i’m fearless, so give it to me. ❤❤❤

Us and Them, sebuah kenyataan pahit

Us and them.

Berhubung lagi nganggur banget belakangan ini, aku banyak nonton dong. Niatnya sih pengen yang ringan-ringan dan manis, biar memperbaiki mood yang selalu asem kalo gak pahit. Jadilah searching, dan pas lihat yang main Jing Boran. Bolehlah, dia cakep dan aku perempuan (aku bahkan nggak ngerti apa hubungannya tapi abaikan saja). Pemeran utama wanita-nya juga gak kalah kok. Cowok-cowok, let me introduced Zhou Dongyou. Manis dan seger, kayak es jeruk di cuaca 39°celcius.

So, nonton-lah film ini dan berakibat :
Anjrit!!!!
Sad ending-nya itu masih kebawa sampai beberapa hari kemudian. Bikin depresi, sinis dan semakin hopeless.
Gak difilm, gak di dunia nyata, hidup kok ya gitu-gitu banget. 💩

Tak Perlu Membandingkan Hidup

Sementara seorang teman sedang merayakan 10 tahun pernikahannya, aku masih bergumul dengan komik, film dan masih menganggap rocker 90-an ke bawah masih yang terbaik dibandingkan musik 2000-an ke atas. Masih sendirian dan yah, sereceh itu. Aku percaya hidup tak pernah sama bagi setiap orang karena Tuhan tak akan pernah bosan menciptakan kejutan-kejutan, twist serta closure yang pantas bagi ciptaannya. Mungkin bagi orang pada umumnya punya pasangan dan berkeluarga adalah bagian dari pilihan serta takdir yang dijalani. Ada yang memilih sendiri saja karena berbagai alasan. Aku malah tidak tahu mau masuk kategori yang mana, yang percaya manusia wajib berpasangan atau yang yakin sendiri juga merupakan pilihan. Tipikal aquarius sejati yang kayak air, ditempatkan dalam wadah apapun ia akan mengisi ruang yang tersedia. Atau bahkan apabila tak ada ruang kosong, ia bisa meresap tanpa perlu dibukakan celah. Kurasa aku seperti itu.