Us and Them, sebuah kenyataan pahit

Us and them.

Berhubung lagi nganggur banget belakangan ini, aku banyak nonton dong. Niatnya sih pengen yang ringan-ringan dan manis, biar memperbaiki mood yang selalu asem kalo gak pahit. Jadilah searching, dan pas lihat yang main Jing Boran. Bolehlah, dia cakep dan aku perempuan (aku bahkan nggak ngerti apa hubungannya tapi abaikan saja). Pemeran utama wanita-nya juga gak kalah kok. Cowok-cowok, let me introduced Zhou Dongyou. Manis dan seger, kayak es jeruk di cuaca 39Ā°celcius.

So, nonton-lah film ini dan berakibat :
Anjrit!!!!
Sad ending-nya itu masih kebawa sampai beberapa hari kemudian. Bikin depresi, sinis dan semakin hopeless.
Gak difilm, gak di dunia nyata, hidup kok ya gitu-gitu banget. šŸ’©

Advertisements

Tak Perlu Membandingkan Hidup

Sementara seorang teman sedang merayakan 10 tahun pernikahannya, aku masih bergumul dengan komik, film dan masih menganggap rocker 90-an ke bawah masih yang terbaik dibandingkan musik 2000-an ke atas. Masih sendirian dan yah, sereceh itu. Aku percaya hidup tak pernah sama bagi setiap orang karena Tuhan tak akan pernah bosan menciptakan kejutan-kejutan, twist serta closure yang pantas bagi ciptaannya. Mungkin bagi orang pada umumnya punya pasangan dan berkeluarga adalah bagian dari pilihan serta takdir yang dijalani. Ada yang memilih sendiri saja karena berbagai alasan. Aku malah tidak tahu mau masuk kategori yang mana, yang percaya manusia wajib berpasangan atau yang yakin sendiri juga merupakan pilihan. Tipikal aquarius sejati yang kayak air, ditempatkan dalam wadah apapun ia akan mengisi ruang yang tersedia. Atau bahkan apabila tak ada ruang kosong, ia bisa meresap tanpa perlu dibukakan celah. Kurasa aku seperti itu.

Perempuan dan pilihan untuk menikah ataupun tidak


Tidak semua perempuan memilih menikah dan berkeluarga sebagai tujuan hidup. Ada (banyak) perempuan yang ingin mendedikasikan hidupnya untuk hal-hal diluar itu seperti karir, hasrat akan haus ilmu pengetahuan dan lain-lain. Tetapi tentu ada juga yang ambisius, bisa menyeimbangkan keluarga dan karir walaupun pasti enggak mudah ya, ibu-ibu.
Yang jadi masalah adalah stigma dimasyarakat, perempuan dewasa usia 25 tahun keatas yang punya karir atau pendidikan tinggi tapi belum menikah, itu kok ya dianggap hal yang memalukan. Seolah-olah apapun pencapaian tertinggi seorang perempuan kalau pada akhirnya ndak punya suami dan anak, belumlah berprestasi. Percuma kalau anak perempuanmu menemukan obat penyembuh HIV Aids kalau masih jomblo ndak laku. Buat apa mendapat hadiah Nobel perdamaian kalau gak punya suami buat dibawa ke reuni sekolah atau arisan keluarga besar. Apa hebatnya kamu menjadi presiden direktur F1 atau ketua dewan klub Real Madrid kalau gak punya keturunan. Bla bla bla…. dan seterusnya. Ada saja hal yang dicari sebagai kekurangan sehingga perempuan sehebat apapun, enggak akan pernah bisa melebihi  (prestasi) laki-laki. Jangan kan melebihi, dianggap sebanding saja masih jarang. 
Yang lebih menyedihkan adalah kadang yang mengecilkan pencapaian-pencapaian ini bukan hanya laki-laki yang minder sama perempuan mandiri dan cerdas, kaum perempuannya sendiri juga berpikiran kolot terhadap perempuan lain yang menganggap pernikahan, keluarga dan anak adalah hal utama dalam tujuan hidup seorang perempuan. Kembali ke ide awal bahwa prioritas setiap orang kan berbeda-beda. Ada yang life goalnya pengen jadi ibu diusia muda, ya silakan. Ada yang pengen jadi profesor filsafat sekaligus penyanyi jazz, Monggo aja. Pengen jadi WAG’S atau relawan UNHCR, sip 2 jempol. Yang pentingkan jangan bercita-cita untuk merebut pasangan atau suami orang lain, ya kalau tetep mau begitu siap-siap aja digempur warganet Indonesia yang terkenal kejam-kejam.
Hmmm kalau aku sih cuma ingin hidup tenang dan aman dengan atau tidak ada orang di sisiku, yang pentingkan gak menyusahkan orang lain. Aku mandiri dan bisa mengurus diriku sendiri dengan baik, nyisihin separuh gaji untuk nyokap tiap bulannya. Dan kalau menurut kalian itu belum membuatku layak sebagai manusia, aku bisa apa coba? Itu sih Masalah kalian, bukan masalah ku. Hehehe. 

Tentang Rumah

Sebagai perantau sejak lulus SMU, aku sudah terbiasa hidup sendiri jauh dari rumah. Sudah terdidik untuk menjaga diri dan menyelesaikan masalah-masalah sendiri. Dan orang tua, terutama papa, percaya benar dengan kemampuanku untuk nggak bertindak macem-macem. Beliau haqul yakin kalo anak perawannya tidak akan pernah mengecewakannya. So far sih gitu.

Lalu setelah papa enggak ada lagi, di dunia ini yang disebut rumah bagiku adalah ibu. Nyokap. Cuma tersisa satu dan aku selalu saja merasa kurang cukup bisa membahagiakannya. Nyokap nangis waktu aku bilang seperti itu, buatnya apa yang aku lakukan udah lebih dari cukup. For her, i give my all. Everything. Buat kalian yang masih hidup dengan orang tua, kalian diberkati. Sementara kami-kami ini cuma bisa mengandalkan telefon dan video call atau mudik setahun sekali untuk meluk nyokap. Kalian bisa makan masakan nyokap setiap saat, dicerewetin, diajak kondangan atau diseret ke pasar untuk nenteng belanjaan dan bayarin sekalian. Percaya deh, kalian tetap lebih beruntung kok.

 

Nyokapku udah tua. Saat aku melihat kerutan diwajahnya atau uban dirambutnya, aku berdoa dengan egois, semoga aku mati muda sehingga tak perlulah merasakan kehilangan ‘rumahku’ ini. Sudah cukup aku pernah kehilangan satu-satunya kamus bahasa inggris berjalan, pemain gitar band belakang rumah, gudang buku, pencerita hebat, penggemar berat Beatless, tertuduh utama yang mencekoki aliran musik rock klasik.
Bokap boleh jadi cinta pertamaku yang enggak mati-mati tapi nyokap adalah semuanya, semuanya yang ada dihidupku.

AQUARIUS SEJAK DALAM PIKIRAN

Mumpung masih february, kita ramein #aquarius yuk.
Aquarius nggak gampang tersinggung anaknya bahkan cenderung kurang sensitif tapi kalau lagi nggak mood, lo ngelirik dengan cara yang ia gak suka, kelar idup lo. 
Aquarius mungkin gampang berbaur seperti air, dimana ditempatkan semudah itu ia mengikuti wadah tempat ia diletakkan. 
Aquarius mungkin bukan pecinta yang mengebu-gebu namun soal siapa yang bertahan sampai akhir, ia boleh diadu.
Aquarius selalu terbuka dengan berbagai pilihan dan kesempatan tetapi sekalinya hatinya sudah tertangkap, dimana dan dengan siapapun dia, hatinya akan selalu membawanya pulang.
Aquarius memang tidak terlihat seperti seseorang yang serius tetapi saat sudah menentukan pilihan, kalian akan kaget dengan keteguhannya.
Aquarius tidak benci kekalahan sehingga dianggap kurang ambisius padahal ia hanya sudah merasa cukup dengan apa-apa yang ia miliki sehingga tak merasa kurang satu apapun.
Aquarius bisa menyulap kesederhanaan menjadi sesuatu yang tampak elegan tanpa perlu hal mewah.
Aquarius adalah pekerja keras yang tau kapan menikmati hidup.
Aquarius kadang suka lupa bahwa orang lain mungkin tidak mengerti jalan pikirannya dan ia tidak ambil pusing dengan hal itu.
Aquarius perlu diajarkan bahwa kadang-kadang kompromi artinya adalah bukan mengalah karena mempertahankan apa yang dipercayai juga merupakan kompromi bagi orang lain.
Aquarius tidak bisa memilih antara cinta dan pertemanan, karena keduanya adalah hal mutlak yang ia junjung.
Aquarius bisa berteman sampai bertahun-tahun panjang dan masih bisa berteman dengan para mantan dengan baiknya.
Aquarius lebih suka terluka akibat kejujuran dibandingkan bahagia namun ternyata dibohongi.

#TeamAquarius