dengar kata kakak, memaki itu tidak baik buat kesehatan. it’s not cool!

Suka ngerasa lucu kalau mendengar laki-laki yang mengumpat dengan kata yang artinya kemaluan dia sendiri. Berarti jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, ia menganggap kemaluannya kotor dong.

Suka ngerasa lucu juga kalo melihat orang yang memaki dengan menyebutkan hewan-hewan yang dia sendiri mau memakannya. Udah tau hewan tersebut menjijikkan kok masih dimakan sih? Atau kita balik keadaannya kalau orang yang tidak memakannya menyebut orang lain dengan hewan yang dia sendiri jijik untuk memakannya, itu wajarkan. Lah wong hewannya memang menjijikkan. Terus kenapa yang mau memakan hewan tersebut merasa terhina disebut demikian? Ini hanya pertanyaan tanpa berniat menyinggung siapapun.

Lalu mengapa kita harus mengumpat dan memaki dengan kata-kata buruk? Manusia mudah sekali melakukan kesalahan. Tidak ada salahnya kita saling mengingatkan. Perkataan kita adalah cerminan dari hati, pikiran dan kepercayaan kita. Jadi kalau kata-kata tidak indah keluar dari bibir kita, orang-orang akan menganggap seperti itu pula hati, pikiran dan ajaran agama kita. Ini tidak bagus bukan? Karena saya yakin dimuka bumi ini tidak ada satu agamapun yang mengajarkan umatnya berkata-kata tidak indah. Bukankah lisan yang santun, lembut dan indah lebih disukai daripada kata-kata kasar yang bukan hanya menyakiti yang mendengar juga menyakiti jiwa yang menyatakannya. Lalu adakah citra diri yang terlihat baik setelah mengucapkan kata-kata kotor? Aku juga pernah memaki saat zaman jahiliyah dan itu sangat tidak keren. Setelah melakukannya aku merasa bodoh sekali. Malu sama diriku sendiri, karena aku tau kualitas diriku seharusnya lebih dari ini. Malu sama ilmu yang bertahun-tahun aku kejar. Citra diriku juga jadi rendahan, apa bedanya aku yang berpendidikan dengan orang-orang yang enggak makan sekolahan dan bekerja kasar? Mau merasakan seperti itu? Sebaiknya jangan.

Peliharalah ucapan kita supaya tidak ada yang tersakiti olehnya. Kata-kata yang keluar dari mulut kita seharusnya bisa mewakili diri kita pada orang lain. Masa sudah cantik dan tampan tapi mulutnya kayak comberan. Katanya berpendidikan tapi mulutnya seperti tidak pernah belajar sopan santun.

Sayang sekali kalau mulut ini mengatakan hal-hal yang tidak pantas. Padahal ucapan kita adalah doa. Apa nggak malu sama Tuhan? Kalau kita bersalah dan pada akhirnya merasa malu, artinya kita masih punya nurani. Tapi kalau kita salah dan tetap tidak merasa diri kita salah dan malu, bahkan mencari-cari alasan pembenaran tindakan kita yang salah. Alangkah celakanya diri kita, teman.

Aku berbicara begini bukan karena aku sudah sempurna. Aku juga terkadang masih melakukan kesalahan. Namun aku berusaha untuk menjadi lebih baik. Memperbaiki diri. Dan aku ingin berbagi pada semuanya, pada orang-orang yang masih mau mendengarkan kebaikan.

Salam hangat dari Nong Poy, transeksual tercantik didunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s