kapan? sebuah kata yang penuh tekanan!

Kapan wisuda? Kapan pacarnya dikenalin? Kapan kawin? Kapan punya anak? Kapan naik pangkat? Dan masih banyak kapan-kapan yang lain yang lebih menyebalkan yang ditanyakan oleh orang. Setiap orang mungkin pernah ditanyain hal seperti itu minimal sekali dalam hidupnya. Enggak mungkin enggak deh.

Pertanyaan tersebut mungkin didasari niat yang baik, sebagai bentuk perhatian terhadap orang yang ditanyain. Bahwa yang bertanya mengenal mereka dan ingin tau kabar terakhir mereka secara langsung. Namun belum tentu hal ini ditanggapi positif oleh orang yang ditanyain. Apalagi seandainya hal tersebut ditanyakan pada saat perasaan sedang buruk, ditengah acara penting atau keramaian. Efeknya pasti sangat aduhai bagi sikorban pertanyaan.

Aku sendiri pernah mengalami ditanya kapan wisuda sementara skripsi belum juga disetujui dosen pembimbing. Bukannya kita kurang berusaha supaya cepat-cepat wisuda tapi gimana kalau kita terbentur dengan dosen pembimbing yang sulit. Kamu bisa bilang ini alasan klasik bagi mahasiswa, tapi percayalah dikampus-kampus beneran ada dosen tipe seperti ini. Yang lajang tua, cerewet, suka mempersulit mahasiswa, sama sekali tidak perduli dengan kondisi mahasiswanya secara pribadi. Tapi saya tetap bisa wisuda walau waktunya melenceng dari harapan dan penuh perjuangan untuk sampai kesana.

Tapi apa masalah selesai? Tentu tidak. Ada saat dimana saya dihantui pertanyaan “Udah kerja? Kerja dimana?” Dan sekarang pertanyaan besar yang selalu mengikuti saya saat ketemu teman, keluarga dll “KAPAN KAWIN?” Oh God! Ini pertanyaan paling absurb yang ditujukan buat seorang jomblo. Lah mau kawin sama siapa kalau nggak punya calon. Dan kembali alasan klise, susahloh nyari pasangan yang tepat diantara kesibukan kerja dan umur yang terus bertambah.

Banyak orang yang merasakan tekanan dari pertanyaan “KAPAN!”. Dan ada berbagai reaksi untuk menanggapinya. Bagi saya yang paling bijak adalah menjawabnya dengan senyuman dan katakan saja dengan nada lembut namun tegas “Saya sedang mengusahakannya. Doakan saja ya!”. Tidak perlu emosi dan berpanjang-panjang alasan. Karena orang lain memang tidak mengerti kondisi kita. Jadi bersabarlah, berusaha terus dan berdoa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s