doa dan harapan di ujung tahun (2012)

Seorang teman bertanya “udah bikin resolusi buat tahun 2013?”. Aku mikir lama sebelum jawab, “belum. Aku bahkan belum review tahun ini udah ngapain aja. ” Yah, begitulah aku. Walau udah berkali-kali diingetin untuk selalu buat rencana, tapi tetap aja nggak pernah ngerencanain apa-apa sebelum melakukan sesuatu. Tetapi kalau udah menginginkan sesuatu, yah aku lakukan dengan kemampuan terbaiklah.

Tahun ini udah berlalu dan seperti biasa, otak aku selalu menyingkirkan hal-hal yang tidak ingin kuingat dengan mudah. Jadi mereka yang udah buat salah, tenang aja aku udah lupain. Termasuk kamunya sekalian. Jadi jangan kaget kalau kita ketemu di jalanan dan aku bakal ngeliat kamu seperti pertama kali ketemu. Dan buat kamu-kamu yang akunya pernah punya janji atau hutang, sabar ya. Aku pasti bakal nepati kok, mungkin cuma butuh waktu sedikit lagi.

Doa aku ditahun depan, semoga keadaan di rumah bertambah baik. Nyokap sehat dan tekanan darahnya stabil. Adik-adik sehat, sekolahnya rajin dan nilainya bagus-bagus. Dan anak yang suka bikin masalah di rumah segera dapat hidayah atau pergi yang jauh sekalian, biar tahu kalau hidup itu nggak semudah yang dia rasakan selama ini. Dan biar makin dewasa dan nggak bikin susah orang tua dan keluarga.

Buat diriku sendiri, aku berharap ditahun depan mendapatkan penghasilan yang besar dan bisa ngelunasin semua hutang nyokap. Bisa terus menulis. Sholatnya makin rapat. Dan ketemu dengan orang-orang menarik yang bisa membawa angin segar dalam hidupku.

Harapan aku, teman dan keluarga aku selalu sehat dan bahagia. Yah kalo ada masalah dikit-dikit itukan biasa. Semua orang hidupkan memang selalu mendapatkan ujian dari Tuhan. Cuma tingkat ketabahan dan ketahanan tiap orang levelnya beda-beda. Dan Tuhan juga nggak akan kebangetan menguji umatnya diluar batas kemampuan seseorang.

Jadi mari kita sambut tahun baru dengan semangat baru dan kerja keras untuk menjadikan harapan, doa dan mimpi kita jadi kenyataan. Selamat tinggal 2012 dan selamat datang 2013.

cobaan di2012 dan harapan

Dalam hidupku ibu dan adik-adikku adalah ujian yang diberikan Tuhan padaku. Ini ucapan yang menyedihkan yang pernah aku katakan pada diriku sendiri. Kau tidak akan tahu rasanya kalau kau tidak menjadi aku dan menjalani hidup seperti aku. Aku pernah mengatakan ada hal-hal yang tidak bisa kau hindari meskipun kau tidak menginginkannya, ini salah satunya. Tuhan memaksakan aku untuk mencintai mereka (keluarga) tanpa syarat dan tidak ada pilihan lain kecuali menerimanya. Dan berdamai dengan keadaan ini. Apalagi yang dapat kulakukan?

Setahun berlalu dan keadaan tidak juga membaik. Ada saat-saat dimana aku ingin lari atau bunuh diri saja. Saat-saat sulit dan putus asa. Tapi aku bertahan. Walau keadaan masih belum menunjukkan perubahan yang berarti. Tekanan yang datang dari orang-orang terdekat namun justru dari merekalah kata-kata paling pahit itu menghujam jantung.

Aku lelah. Dan rasanya ingin berbaring saja sampai semuanya menghilang. Tapi dalam kehidupan nyata tidak bisa begitu. Aku tetap harus terjaga, mencari uang, makan, mandi dan melakukan hal-hal yang dilakukan orang normal lainnya. Siapa yang tahu perasaan dan pikiranku yang sudah muak dengan segalanya?

Hanya tanggung jawab yang menahanku. Tanggung jawab sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang haram mengakhiri hidupnya sendiri. Tanggung jawab sebagai putri dari seorang ibu. Tanggung jawab seorang kakak pada adik-adik yang sudah tidak berbapak (bokap nitipin mereka padaku). Dan tanggung jawab sebagai manusia yang menghargai hidup, walau aku tidak yakin apakah hidupku begitu berharga atau tidak.

Harapan. Adalah kata-kata manis penyemangatku. Jauh di dalam hati dan pikiranku aku selalu berharap keadaan akan membaik. Semuanya baik-baik saja. Walau aku tidak tahu kapan dan bisakah terjadi, namun aku tetap menyimpan sebuah harapan. Semoga suatu saat Tuhan menjawab doa dan harapan-harapan yang kulambungkan ke langit. Amin.

proud to be single and pray for us

Enggak pernah mudah bagi cinta untuk mendapatkan bahagia. Kita harus melalui berbagai macam cobaan, menempuh perjalanan yang jauh dan berliku. Bahkan ada saat dimana kita harus menyerah dan berbalik lagi ketitik awal dan memulai dari nol kembali. Jadi masih pantaskah kita mempertanyakan mengapa seseorang begitu lama sendirian tanpa kekasih di sampingnya? Padahal mungkin dulu kita juga pernah ada di posisinya, sendiri.

Di dunia ini tidak ada yang bisa hidup sendirian. Tuhan juga menciptakan manusia berpasang-pasangan. Diciptakannya manusia, lelaki dan perempuan. Saling tertarik satu sama lain dan sudah menjadi naluri untuk meneruskan keturunan. Jadi tidak pernah ada orang yang memang ingin sendiri saja di dunia ini, mengapa dipertanyakan kesendiriannya. Karena kitapun sudah tahu, bukan pilihannya untuk tidak berpasangan.

Mengapa kita harus sombong karena kita memiliki kekasih? Apa kita terlihat lebih hebat karena punya seseorang dibandingkan yang tidak punya? Menjadi seseorang yang tidak punya kekasih adalah keputusan yang berat. Menjalaninya pun tidaklah mudah. Untuk apa mempersulit hidup mereka dengan membuatnya semakin tidak nyaman.

Bukan hal mudah menemukan seseorang yang tepat bagi tiap orang. Apalagi untuk seseorang yang sudah begitu banyak mengalami ketidakbahagiaan dalam hubungan sebelumnya. Dari pada menjalani hubungan yang tidak mempunyai ujung yang jelas atau menjalani hubungan dengan orang yang tidak membawa kebaikan dalam hidup kita, sendiri adalah pilihan terbaik.

Oh, jangan bilang kami terlalu selektif memilih. Wajar bila tiap orang ingin mendapatkan yang terbaik untuk dirinya. Namun yang paling penting dari semua kriteria itu, kembali pada masalah hati. Kalau perasaan kita tidak merasa cocok atau tidak nyaman sebuah hubungan dengan orang paling sempurnapun tidak akan bisa berhasil.

Jadi cukup doakan saja kami yang saat ini lebih memilih meraih sepi, untuk segera menemukan yang tepat. Doakan kami bertahan menghadapi semuanya dengan hati yang tabah dan pikiran yang bersih. Doakan kami bisa segera menyusul kalian yang sudah menemukannya. Doakan kebahagiaan kami, dengan atau tanpa pasangan.

lebih dalam lagi tentang wanita

Wanita adalah mahkluk paling indah yang diciptakan Tuhan dan juga yang paling rumit. Wanita secara fisik rapuh seperti sayap kupu-kupu tetapi mampu menahan segala macam perasaan sekaligus dalam satu kesempatan. Yang para pria tidak akan dapat melakukannya. Tuhan membuat wanita mempunyai perasaan yang sangat lembut, peka dan kompleks. Namun wanita sangat mudah ditebak karena perasaannya akan langsung tercerminkan pada wajah dan perbuatannya.

Wanita dan pria diciptakan bukan untuk berteman tetapi untuk berpasangan. Sudah menjadi kodrat bagi mereka untuk tertarik satu sama lain. Jatuh cinta dan menikah. Seharusnya semudah itu namun kenyataannya tidaklah seperti itu. Kita harus menjalani jalan yang sulit, terjal dan berliku bahkan terkadang harus memulai dari awal kembali. Untuk mencapai level yang disebut bahagia. Bahkan pasangan yang sudah mengalami awal yang begitu dramatis, dipertengahan jalan banyak yang berguguran dan akhirnya berpisah. Apa yang salah? Apa perasaan mereka tidak sekuat dulu lagi, luntur dengan tekanan dan rasa bosan? Cinta memang dasar yang kuat dalam menjalin suatu hubungan namun harus diikuti juga dengan rasa saling menghargai, kesetiaan dan percaya. Tanpa ketiga hal tersebut nyaris mustahil hubungan pria dan wanita bisa langgeng.

Dalam hubungan asmara, tidak semua hal bisa berjalan mulus. Terkadang salah satu pihak tersakiti dan pihak yang lain menjadi pemicunya. Tetapi hal yang paling sulit diterima adalah saat kesetiaan dikhianati. Kita memang tidak boleh mendendam dan harus memaafkan. Namun memaafkan bagi wanita bukan berarti melupakan. Hati yang tersakiti tidak semudah itu bisa sembuh dengan ribuan kata-kata manis, seikat bunga, tas dan sepatu mahal. Wanita sulit sekali melupakan hal-hal yang menyakitinya. Ia akan ingat terus dan akan menyimpan rasa sakitnya untuk mengingatkan pasangannya kerusakan yang pernah dibuatnya.

Bersabarlah menghadapinya. Wanita mempunyai banyak sekali hormon ditubuhnya dan syaraf-syaraf ditubuhnya erat sekali dengan perasaannya. Dan perasaanya lengket dengan kelenjar airmatanya. Saat ia sedih ia akan menangis, saat bahagia ia akan menangis, saat terharu pun ia akan menitikkan air mata. Itu bukan hal yang mereka inginkan, namun itu terjadi begitu saja pada mereka.

Ibu, kakak dan adik perempuanmu. Kekasih dan teman wanitamu. Mereka semua adalah mahkluk yang sama, perempuan. Mereka diciptakan untuk menjadi perhiasannya dunia. Untuk melembutkan hati para lelaki. Untuk menjadi pasangan bagi lelaki. Untuk dicintai dan disayangi. Untuk kelanjutan hidup generasi selanjutnya.

Selamat hari IBU dan berbahagialah wanita yang hidup dimasa kini!

setitik air mata kesedihan ibu, mungkin 1000 tahun dineraka

Pernah bikin ibu kandungmu menangis? Bersedih. Marah. Atau sampai menyesal melahirkanmu? Kalau pernah lebih baik kau tiduran di tengah jalan, biar kepalamu dilindas ban mobil sampai segala isi otakmu berceceran. Kejam ya? Ooh, itu belum seberapa dibandingkan siksa neraka yang bakal kamu terima nanti diakhirat. Karena kalau sampai ibumu tidak ridho dan memaafkan segala kesalahanmu, walaupun kau sudah bertobat menjadi malaikat sekalipun tetap saja amal ibadahmu tidak bisa menghapuskan dosa-dosamu yang durhaka pada ibu kandung.

Dalam agama islam, kedudukan ibu itu 3 kali lebih tinggi dibandingkan ayah. Bukan berarti kedudukan ayah tidak penting, tetapi pengorbanan ibu pada anaknya memang jauh lebih berat dibandingkan seorang ayah. Seperti yang sama-sama kita ketahui ibu mengandung kita selama 9 bulan lebih, melahirkan dengan rasa sakit dan taruhan nyawa, mengasuh dan membesarkan kita penuh kasih sayang. Masih beranikah kita membantah perkataan seorang ibu? Melawan padanya. Apalagi kalau kita sampai tidak hormat, atau berani memukul ibu kita sendiri. Jangan harap hidup kamu di dunia ini bakal senang, hidup kamu bakal susah terus dan kamu enggak akan pernah bahagia. Aku jamin itu. Belum lagi kalau kamu mati, disiksa dikuburan sebelum akhirnya masuk neraka. Itukah hidup yang kamu mau?

Ibu bagaimanapun keadaannya harus kita hormati. Kita sayangi. Jangankan membuat air matanya menetes sedih karena kita, membuatnya tersinggung saja sudah dosa besar. Kalau seorang anak tidak bisa memperlakukan ibunya dengan baik dan penuh rasa hormat, bagaimana mungkin anak tersebut bisa memperlakukan orang lain dengan penuh kebaikan.

Aku pribadi sangat membenci orang-orang yang tidak memperlakukan orang tuanya, terutama ibunya dengan baik. Manusia seperti ini adalah sampah yang tidak bisa didaur ulang. Sampah beracum yang bakalan mencemari lingkungan. Karena cuma orang bodoh, tidak berguna dan tidak punya kewarasan yang berani melawan perintah Tuhan. Manusia seperti itu seharusnya hidup dengan tragis dan mati sengsara tanpa perlu rasa kasihan dari orang lain.

Apa aku tampak sangat keras? Iya. Aku memang sangat keras dalam hal ini. Karena ibu merupakan orang yang sangat aku hormati di dunia ini, bahkan lebih berkuasa bagiku dibandingkan presiden Amerika. Kalau ibu melarangku untuk kebaikanku, meskipun diancam dengan pistol dikepala aku tetap tidak akan melakukannya (semoga). Bila ada yang menghina, mengejek atau memperlakukan ibuku dengan tidak sopan, darahku langsung mendidih dan mataku gelap. Matipun aku rela demi membela ibu. Ibu mungkin satu-satunya orang yang aku takuti di dunia ini. Kalau ia tidak bahagia, bagaimana aku bisa berbahagia.

Jadi teman-teman, sayangilah ibumu. Hormatilah beliau. Perlakukan dengan baik. Karena enggak ada gunanya kamu punya kekuasaan yang besar kalau ibu kamu sengsara. Enggak ada pentingnya harta kamu yang belimpah ruah, kalau ibu kamu kesakitan. Enggak perlu menjadi orang yang sangat pintar kalau ternyata kamu membuat ibumu bersedih. Semuanya akan sia-sia tanpa restu dari seorang ibu.

berbahagialah, cuma itu pintaku!

“Maaf!” Kamu tiba-tiba muncul dan cuma itu yang bisa kamu ucapkan. Permintaan maaf. Untuk apa? Untuk hatiku yang kamu hancurkan. Untuk kesedihan yang mati-matian aku hadapi. Untuk dirimu sendiri yang pada akhirnya merasa bersalah. Atau untuk masalah yang tiba-tiba menghampirimu dan membuatmu ingat akan hati-hati yang telah kau lukai. Siapa aku, yang bisa menggerakkan Tuhan supaya menghukum kamu?

Kamu tidak berhutang maaf apapun terhadapku. Aku yang bodoh, mengapa menganggap serius semua perkataanmu. Aku yang bodoh sekali, percaya kalau perasaan kamu nyata. Dan akibatnya hanya aku yang terluka sedangkan kamu bisa menggandeng wanita lain di depan mataku (cuma Tuhan yang tahu bagaimana aku bisa tetap tersenyum saat itu). Kamu tidak tahu aku menangis setelahnya.

Jadi yang aku ingat kenangan terakhir tentangmu adalah duka. Tapi jangan khawatir sekarang tidak lagi, aku tidak lagi berduka karenamu. Walau kini aku tetap sendiri bukan karena masih mengharapkanmu. Juga bukan karena tidak percaya lagi dengan perasaan manusia. Aku hanya jauh lebih berhati-hati dalam melangkah. Pengalaman mengajarkanku seberapa lamapun aku mengenalmu, aku tetap tidak mengerti dirimu. Seberapa sulit dulu kamu mengejarku tetap tidak dapat membuat kau bertahan sampai akhir.

Jadi perasaan manusia itu sangat rapuh menurutku. Mudah terluka, kecewa dan dapat berubah. Walau berkali-kali kecewa tetap dapat jatuh cinta lagi.

Kamu sekarang bahagiakan? Kamu pasti banyak tertawa bersama diakan? Kamu juga harus banyak tersenyum karena dia! Kalau dia membuatmu sedih, jangan jatuhlah air matamu. Bertahanlah. Kalau kalian bertengkar, jangan mudah putus asa dan berbaikanlah. Kalian harus bahagia. Aku dengan tulus mengharapkan itu. Sudah lama sekali aku memaafkanmu. Jadi tak perlu merasa bersalah lagi padaku.

Doakan saja, aku juga pada akhirnya mendapatkan seseorang yang seperti dia bagimu. Seseorang yang tidak akan meninggalkanku meski aku sangat aneh. Seseorang yang bisa menerima sifat burukku. Seseorang yang bertahan sampai akhir terhadapku.

Dan terima kasih pernah hadir mengisi kisah hidupku. Kamu pernah jadi yang terpenting. Dan kini kamu bukanlah apa-apa lagi. Kamu sudah aku bebaskan. Berbahagialah!

kamu sudah jinakkan aku (pengharapan)

Saat kamu datang ingin menjinakkan aku. Kamu duduk di depan gerbang. Berhari-hari selalu muncul disaat yang sama. Meletakkan bunga, berbagai macam bunga tepat di depan pintu masuk. Aku sudah bilang kalau ingin berteman denganku kamu harus bertanggung jawab. Karena bagiku saat aku sudah memberikan hatiku, aku tidak akan bisa melupakanmu jadi kamu harus tanggung jawab. Kamu tertawa dan bilang, itu perkara mudah. Sekarang setelah kamu jinakkan aku, kamu harus pergi. Bagaimana dengan aku? Karena bagiku semua hal tidak akan sama lagi seperti kamu belum datang. Setiap melihat bunga aku akan mengingatmu. Melihat malam, aku akan teringat bola matamu. Mendengar lonceng, akan mengingatkanku denting tawamu. Semua hal di dunia ini mengingatkanku akan dirimu. Karena kamu sudah jinakkan aku, aku sudah jadi milikmu. Terlepas kamu ada di sini atau tidak, aku sudah tertawan oleh dirimu. Perlahan-lahan mungkin kamu akan lupakan aku, tapi aku tidak akan bisa begitu. Hatiku cuma ada satu dan itu sudah aku berikan padamu. Lalu bagaimana?

Kamu sudah tidak inginkan aku lagi. Kamu sudah tidak ingat aku lagi. Kamu tidak bertanggung jawab tentang diriku lagi. Semua hal yang kamu lakukan untuk buat aku percaya padamu, sudah tidak ada artinya lagi buat kamu.

Yang tersisa hanya ada aku, dengan hati dan perasaan yang sudah kamu rampok. Dan aku harus tetap lanjutkan hidup. Hidup dengan baik-baik walau di dalam dada aku tidak baik. Karena kamu tidak tanggung jawab sampai akhir.

(Terinspirasi dari dongeng rubah dan pangeran).