berbahagialah, cuma itu pintaku!

“Maaf!” Kamu tiba-tiba muncul dan cuma itu yang bisa kamu ucapkan. Permintaan maaf. Untuk apa? Untuk hatiku yang kamu hancurkan. Untuk kesedihan yang mati-matian aku hadapi. Untuk dirimu sendiri yang pada akhirnya merasa bersalah. Atau untuk masalah yang tiba-tiba menghampirimu dan membuatmu ingat akan hati-hati yang telah kau lukai. Siapa aku, yang bisa menggerakkan Tuhan supaya menghukum kamu?

Kamu tidak berhutang maaf apapun terhadapku. Aku yang bodoh, mengapa menganggap serius semua perkataanmu. Aku yang bodoh sekali, percaya kalau perasaan kamu nyata. Dan akibatnya hanya aku yang terluka sedangkan kamu bisa menggandeng wanita lain di depan mataku (cuma Tuhan yang tahu bagaimana aku bisa tetap tersenyum saat itu). Kamu tidak tahu aku menangis setelahnya.

Jadi yang aku ingat kenangan terakhir tentangmu adalah duka. Tapi jangan khawatir sekarang tidak lagi, aku tidak lagi berduka karenamu. Walau kini aku tetap sendiri bukan karena masih mengharapkanmu. Juga bukan karena tidak percaya lagi dengan perasaan manusia. Aku hanya jauh lebih berhati-hati dalam melangkah. Pengalaman mengajarkanku seberapa lamapun aku mengenalmu, aku tetap tidak mengerti dirimu. Seberapa sulit dulu kamu mengejarku tetap tidak dapat membuat kau bertahan sampai akhir.

Jadi perasaan manusia itu sangat rapuh menurutku. Mudah terluka, kecewa dan dapat berubah. Walau berkali-kali kecewa tetap dapat jatuh cinta lagi.

Kamu sekarang bahagiakan? Kamu pasti banyak tertawa bersama diakan? Kamu juga harus banyak tersenyum karena dia! Kalau dia membuatmu sedih, jangan jatuhlah air matamu. Bertahanlah. Kalau kalian bertengkar, jangan mudah putus asa dan berbaikanlah. Kalian harus bahagia. Aku dengan tulus mengharapkan itu. Sudah lama sekali aku memaafkanmu. Jadi tak perlu merasa bersalah lagi padaku.

Doakan saja, aku juga pada akhirnya mendapatkan seseorang yang seperti dia bagimu. Seseorang yang tidak akan meninggalkanku meski aku sangat aneh. Seseorang yang bisa menerima sifat burukku. Seseorang yang bertahan sampai akhir terhadapku.

Dan terima kasih pernah hadir mengisi kisah hidupku. Kamu pernah jadi yang terpenting. Dan kini kamu bukanlah apa-apa lagi. Kamu sudah aku bebaskan. Berbahagialah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s