Dear Em! (My Em, The Only One For Me)

Hai, Em. Lama tidak mendengar kabarmu, kau okekan? Aku berharap semua berjalan baik untukmu. Terkadang aku memikirkanmu sedikit dan segera melupakannya. Aku tidak ingin ada penyesalan sedikitpun. Sejak pertengkaran terakhir kita yang bahkan aku telah lupa, dipicu oleh apa. Kau marah, aku lebih marah lagi. Dan diujungnya kita saling mengadu ego masing-masing. Berapa lama, sebulan dua bulan nyaris setengah tahun kita tidak saling berkomunikasi lagi. Awalnya tidak mengganggu sama sekali kehilanganmu, tetapi lama-lama aku sedikit menyesal Em. Kita berteman bukan? Kita sudah melewati banyak waktu bersama dan saling mengenal baik dan buruk masing-masing. Dan kita kalah dengan hal remeh yang bahkan tidak kita ingat lagi. Aku merindukanmu Em. Sedikitnya candaan kasarmu. Pesan-pesan bodohmu yang membuatku kesal dihari-hari panjangku. Dan suara sombongmu ditiap waktu sebelum aku terlelap. Kita saling menguatkan, mengejek dan kembali menopang satu sama lain.

Aku tidak ingin mengenang mengapa kita akhirnya jadi jauh. Sudah tidak penting lagi. Kau sudah melaju dengan kehidupanmu disana. Dan aku masih tertahan dengan hari-hari membosankan. Yah, seperti yang selalu kau bilang aku gadis yang membosankan. Tidak perlu aku ceritakan betapa sulit dan beratnya hidup yang aku lalui, kau sudah dapat menebaknyakan? Kau tahu benar aku bagaimana dan impian yang aku punya. Tidak semudah itu meninggalkan tanggung jawabku pada keluarga dan mengejar harapanku. Aku harus memilih salah satu dan aku harus mengalah untuk tujuan yang lebih mulia. Ku yakin kaupun mengerti ini tidak mudah buatku, Em. Tetapi aku tetap harus melakukannya. Dan aku tidak tahu sampai kapan.

Em, ada saat-saat dimana kesepian begitu menggigitku dan aku nyaris tersungkur dengan kesedihan yang dalam. Aku mengingatmu dan pertengkaran-pertengkaran kecil kita. Itu membuatku tertawa. Betapa bodohnya kita, berputar-putar begitu lama untuk saling menemukan lagi. Entah apa sebenarnya hubungan kita teman, musuh atau kekasih. Siapa yang peduli Em? Kau pasti cukup percaya diri bahwa aku selalu teguh memegang prinsip. Bagiku hanya ada dirimu saat itu. Bukankah kau yang menjadi saksi saat aku bersama dia, yang namanya tidak ingin aku sebut lagi. Melihatku terluka, dan terluka lagi dibuatnya. Ditipu dan dibohongi lagi oleh temanmu itu. Aku tidak pernah mempermainkannya dan aku setia pada orang itu. Lalu saat semuanya sudah kurasa cukup, aku memilih pergi darinya dan kehidupannya. Kau satu-satunya yang mendukungku, ingat? Kau yang menyemangatiku dengan bilang “Bodoh sekali gadis sepertimu bersama dia. ” Tentu saja kau yang paling mengenal siapa dia, karena kau dan dia juga sama-sama brengsek. Walau pada akhirnya kau bilang kau berubah. Kau tidak ingin hancur seperti dirinya.

Kau selalu menganggap aku gadis baik yang bodoh. Dan mungkin itu yang membangkitkan rasa ingin melindungimu, Em. Tetapi keadaan kita jauh lebih sulit bagiku. Rumit. Perasaan tumpang tindih yang melingkupiku. Masalah yang bertubi-tubi menerpa hidupku. Dan kau tidak sabar dengan itu. Kita berpisah dengan menyimpan kemarahan dihati. Menyedihkan bagi dua orang sahabat yang berusaha menjalin kasih dan kembali menjadi asing bagi satu sama lain.

Tapi sudahlah, kudengar kehidupan berjalan mulus untukmu. Pekerjaan yang semakin berprospek cerah, menemukan pasangan hidup. Dan sekarang sedang menunggu kelahiran sikecil. Kau sudah semakin dewasa dan bertanggung jawab rupanya. Sudah bisa setia dengan seorang wanita dan membangun rumah bagi hidupmu. Kau melangkah sangat jauh Em, langkah sama yang belum bisa aku kejar. Aku bahkan tidak punya keyakinan akan melangkah ke arah itu. Karena yang datang padaku hanya orang-orang aneh yang mesum. Aku tidak tahu dimana salahku Em, kenapa mereka punya niatan buruk seperti itu. Aku bukan tipe perempuan liar yang suka menggoda, tetapi bila dilahirkan dengan bagian tubuh seperti itu dan aura yang tanpa aku sadari mengundang. Aku bisa apa kawan. Aku cuma perlu menolak mereka yang seperti itu. Siapa yang sudi menghabiskan waktu dengan orang yang otaknya kotor dan melihatku sebagai mangsanya.

Hei, Em! Doakan aku mendapatkan yang tepat bagiku yah. Tidak perlu sempurna seperti didrama-drama kesukaanku. Cukup seseorang yang bisa membuatku tertarik padanya setiap saat, membuatku terpesona tiap kali dan bertahan bersamaku menjalani hidup yang kacau ini. Aku tidak meminta banyak Em. Aku berharap bisa jatuh cinta lagi pada orang yang benar. No more bad guy, like him or you. Jangan marah kawan, aku bercanda. Kau bahagiakan? Aku dengan tulus berharap kau bahagia dan tidak ada sedikitpun menyesali tentang kita. Dan jangan lagi mengatakan bahwa masih ada kesempatan menjadi yang kedua dalam hidupmu. Kau tahu bagaimana pendapatku tentang berbagi cinta dan suami. TIDAK MUNGKIN. Aku pernah mengalami kekasih yang mendua, mentigakan dan itu tidak menyenangkan sama sekali. Aku tidak suka bila harus mengalaminya dalam pernikahan. Jangan sampailah. Bagiku cinta pada kekasih tidak bisa ditawar untuk dipotong dan berikan pada lainnya. Cinta yang berbagi-bagi itu bukan cinta, tetapi keserakahan dalam memiliki semuanya. Dan bukankah manusia memang tamak dan tak pernah merasa cukup. Hanya orang-orang yang tidak lupa bersyukurlah yang mengerti arti kata CUKUP.

Ah! Aku jadi menceracau tidak jelas. Cinta tetap merupakan inspirasi terbesar dalam hidupku, Em. Aku mulai memberanikan menceritakan segala keluh dan kesahku dengan tulisan apa saja. Ternyata selain membaca dan mendengar musik, hal ini bisa menjadi terapi stres yang mujarab buatku. Aku sudah bisa menerima keadaan dan jauh lebih sabar. Aku semakin dewasa ya? Tetapi aku tidak merasa aku bertambah TUA, Em. Hentikan cengiran diwajahmu itu, hapus saja. Dan jangan coba-coba mengatakan ada kerutan dikulitku. Kau ini, selalu saja membuatku kesal. Masa kau tidak mengerti juga, usia dan kerutan adalah masalah yang sangat sensitif bagi wanita. Selain status single bagi yang sudah matang menikah. Kau tidak tahu bagaimana aku menghadapi pertanyaan orang-orang tentang pernikahan, tetapi jangan berharap aku kesal karenanya. Sudah kubilang aku sudah semakin bijak, pertanyaan tentang pernikahan tidak pernah mengusikku. Aku tidak mau salah memilih seperti mereka yang pernah kuceritakan padamu. Lagipula soal jodoh bukanlah salahku bila saat ini aku belum menemukannya, karena urusan jodoh keputusannya bukan ditangan aku Em. Jadi aku tidak bersalah sama sekali bila sampai ini belum menikah. Aku santai saja menghadapi semuanya. Yah, kau tahu betapa percaya dirinya akukan. Aku tidak jelek (masih ada kejadian dimana aku lewat dan kepala-kepala yang menoleh sampai 180derajat, kawan. Catet itu). Aku gadis baik setidaknya aku masih menjaga diriku dengan baik dijaman yang carut marut ini. Dan kualitas pemikiranku sedikit cenderung membuat minder orang-orang yang hanya bisa berbicara dan sombong. Atau mungkin ini malah jadi bumerang bagiku? karena aku pernah dengar pria kurang suka wanita yang lebih pintar dari dirinya. Apa aku harus berpura-pura tidak menonjolkan sisi ini?

Aku semakin tidak fokus ya. Ah, intinya aku baik-baik saja, Em. Jangan khawatirkan aku. Doakan saja yang terbaik bagiku. Aku juga begitu, selalu berharap yang terbaiklah buatmu. Kau harus banyak bahagia, banyak tertawa dan tersenyum. Tidak lucu bila kau tidak bahagia setelah memilih yang lain. Jadi kau harus lebih bahagia banyak, banyak sekali. Jangan lupa caranya bersyukur agar kau tahu rasanya cukup dengan apapun yang diberikan Tuhan. Kau beruntung dan kau harus sadar itu. Aku masih harus mencari, Em. Dan bila itu tidak datang padaku, aku akan mencari kebahagiaan yang lain. Kau tahu betapa sederhana kebahagiaan bagiku dan betapa mudahnya aku merasa senang dengan hal-hal kecil. Aku orang yang mudah dan tidak sulit bersyukur. So, sampai jumpa Em. Semoga saat kita bertemu, kita bisa saling tertawa dan bercerita penuh kehangatan dua orang sahabat, yang telah menghabiskan waktu yang lama dan tetap berteman akrab. Bye, Em. Baik-baik disana.

(Fiksi atau Realita, tulisan ini kupersembahkan buat My Em. Satu-satunya Em yang pernah ada untukku). Hope you enjoy guys!

Advertisements

When I Meet You!

¤(Park Jaebum)¤
Saat itu diakhir musim dingin, dan aku sedang sangat lelah dengan semua hal. Aku memutuskan pergi selama beberapa hari tanpa membawa ponsel dan tanpa memberitahu siapapun. Aku membawa diriku ke tepi laut. Sungguh pilihan yang bodoh bukan. Karena cuaca dingin tentu saja laut sepi dan tidak ada pemandangan indah yang bisa dilihat. Aku memutuskan singgah ke sebuah kedai kopi yang tampak hangat. Lalu aku menemukanmu disana. Sedang duduk memeluk guci tempat abu jenasah. Kau tampak sangat sedih, tidak ada air mata yang menetes diwajahmu namun aku merasa kau sangat menderita. Kau memasukkan beberapa sendok gula, mengaduk lalu meminum tehmu, dan kembali menambahinya dengan gula. Setelah kau meminumnya lagi, kau berkata pada dirimu sendiri “Mengapa masih pahit?”. Aku yakin teh yang kau minum pasti sangat manis, karena aku telah melihat hampir sepuluh sendok gula yang kau masukkan. Mungkin bukan tehnya yang tidak manis tetapi kesedihanmu yang membuatnya menjadi terasa pahit. Lalu tiba-tiba kau mulai menangis, memanggil ayah dan ibumu. Aku baru menyadari kalau kau baru saja menyebarkan abu jenasah kedua orang tuamu di laut. Seorang gadis muda, sendirian dengan hati hancur ditinggalkan ayah dan ibunya. Aku merasa sedih untukmu. Hatiku ikut sakit. Hidupmu pasti akan jauh lebih berat setelah ini dan kau harus kuat menghadapinya. Namun setelah melihatmu yang seperti itu semua kelelahan yang aku alami mendadak hilang, aku merasa malu karena apa yang aku rasakan belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang telah terjadi padamu.

Beberapa bulan kemudian aku sudah hampir melupakan kejadian ini, lalu saat memeriksa beberapa CV lamaran untuk Asisten pribadiku aku melihat fotomu. Samar-samar aku mengingat sepertinya aku pernah melihatmu, lalu saat melihat keterangan bahwa usiamu masih sangat muda dan mengambil cuti kuliah aku mulai mengingatmu. Ekspresi wajahmu yang sendu itu mengingatkanku saat kau menahan tangismu yang mengisak di kedai kopi saat itu. Aku memutuskan menerimamu bekerja walaupun kau belum berpengalaman dan belum lulus kuliah. Aku ingin diberi kesempatan untuk membantumu walau aku sama sekali tidak mengenalmu, Kim Hana.

Dan saat mulai bekerja denganku, aku merasa tidak salah memilih. Kau bekerja sangat baik, tidak banyak bicara dan efisien. Aku memang terkenal cukup sulit sebagai seorang pimpinan. Dan entah sudah beberapa kali aku berganti Sekretaris dan akhirnya aku memutuskan memakai Asisten untuk memudahkan urusanku. Sekretaris yang membantu urusan kantor dan Asisten yang membantu urusan pribadi dan lain-lainya. Entah bagaimana caramu bisa membuatku merasa puas dengan kinerjamu. Kau benar-benar bekerja keras dalam memenuhi tuntutanku yang selalu ingin sempurna.

Belakangan ini aku tidak tahu mengapa, aku jadi lebih sering memperhatikanmu. Diam-diam sering mencuri menatapmu yang sedang asik menunduk menekuri tablet pc atau mengecek email dan pesan yang masuk keponselmu. Aku perhatikan dengan seksama, sebenarnya kau terlihat manis dan natural. Kau memiliki wajah yang cantik meskipun tanpa polesan make-up. Dan aku lihat pakaian yang sering kau gunakan mungkin memang tidak semodis pegawai wanita lain di kantor, namun bukan dari merek murahan atau palsu. Mungkin dulu kau berasal dari keluarga yang mampu, namun setelah kedua orang tuamu meninggal keadaanmu juga ikut berubah. Sehingga gaya hidupmu jadi seperti ini. Aku salut pada ketegaranmu meskipun kau tidak pernah mengatakan apapun tetapi aku tahu kau tidak mudah menghadapi ini. Karena akupun walau berasal dari keluarga berada namun kehidupanku tidak semudah yang orang lain pikirkan. Aku juga pernah mengalami saat-saat sulit sepertimu hingga bisa menjadi seperti ini.

¤¤¤

“Direktur, ini laporan dari Manajer Han Sekyung. Kemudian bahan presentasi untuk Fujiatsu Corp sudah saya perbanyak dan sebagian sudah saya bagikan pada bagian perencanaan. Manajer Park Dongsan meminta konfirmasi keberangkatan anda ke Busan bulan depan. Saya sudah memberitahunya kalau anda hanya punya waktu sekitar 3 hari dan ia menyetujuinya. Dan ini hasil test produk kita yang baru, anda akan senang melihatnya. Tuan Park…!”
“Miss Hana, kau sudah makan?” Tanya Park Jaebum memotong perkataan gadis itu. Hana melihatnya dengan pandangan heran karena bosnya terlihat bosan dan mengajukan pertanyaan yang tidak ada kaitannya dengan hal yang dipaparkannya. “Maaf, pak!” Ujarnya bingung. Direktur Park Jaebum tersenyum, hal yang jarang dilakukannya. “Aku bertanya Miss Hana sudah makan siang?” Ulangnya sambil melihat arloji ditangan kirinya. “Belum pak. ” Jawab Hana bingung. Ia melirik pada jam tangannya, pukul setengah dua. Dan ia lupa belum makan apapun dari tadi. “Kita makan. Aku sudah bosan makan sambil bekerja. Aku ingin makan dengan tenang. ” Katanya sambil bangkit merapikan jasnya. Hana bingung, ia mengikuti sambil membawa tablet yang penuh dengan jadwal lelaki ini. “Direktur.” Ia memanggil Jaebum ragu. “Ayah anda, eh maksud saya Tuan Park Yongsun mengajak anda makan siang. Apakah anda mau pergi kesana?” Tanyanya dengan wajah memandang langsung pada bosnya. “Oh, baguslah. Ayo sekalian kau temani kami. ” Perintahnya tanpa bisa ditawar.

“Tumben sekali kau mau makan siang denganku, yah walaupun ini sudah siang sekali. ” Sambut Tuan Park hangat saat putranya Park Jaebum akhirnya muncul di restoran favorit ayahnya. “Aku lapar, Ayah!” Katanya singkat lalu duduk di kursi berhadapan dengan Ayahnya. Kim Hana terlihat ragu mendekati mereka, haruskah ia bergabung dengan mereka atau menunggu di luar saja. Namun sebelum ia memutuskan sesuatu terdengar suara gemuruh yang berasal dari perutnya. Sontak Tuan Park dan Jaebum melihat padanya, “Siapa Nona ini?” “Miss Hana, mengapa hanya berdiri?” Tanya mereka berdua bersamaan. Hana merasa sangat malu, wajahnya memerah dan ia akhirnya duduk di sebelah Direkturnya. “Yah, setidaknya ada yang benar-benar lapar.” Kata Tuan Park sambil tertawa. “Maafkan putraku yang kejam ini karena telah membuatmu kelaparan Miss Hana. ” Hana hanya tertawa kecil, mendengar pria setengah baya itu kembali tertawa karenanya. Sementara Jaebum hanya diam saja tanpa komentar. Diam-diam Tuan Park Yongsun memperhatikan Hana lebih teliti dan memandang wajah putranya jauh lebih hati-hati. “Jaebum jarang sekali mau makan bersamaku, apalagi saat ia sibuk. Dan tidak pernah ia membawa temannya apalagi seorang gadis. Ini aneh, ia membawa seorang wanita makan siang bersama ayahnya. Apa ini kekasihnya? Tetapi dulupun ia tidak pernah mengenalkan kekasihnya pada keluarganya. Benar-benar aneh. Siapa gadis yang dipanggilnya Miss Hana ini? ” Pikirnya bertanya dalam hati sambil mengawasi kedua orang di hadapannya. Pria tua ini tersenyum tipis, sepertinya ia mengambil kesimpulan dari yang sudah dilihatnya.

“Miss Hana, kau ikut ke Jepang. ” Ujar Park Jaebum tanpa basa-basi. “Wow, ke Jepang!” Pikir Hana senang. Jaebum menatapnya heran, “Kau punya pasporkan?” Tanyanya lagi. “Punya pak. ” Jawab Hana cepat. ”
Walaupun ini perjalanan bisnis, tetapi ini pertama kalinya ia keluar negeri dan ke Jepang. Menyenangkan sekali. Hana bersorak dalam hati. “Dan tolong persiapkan seluruh kebutuhan saya selama di Jepang. Miss Hana tinggal memberitahukan Ahjuma Song dan Sekretaris Lee sudah menyiapkan semua bahan presentasi untuk dibawa. Juga plan B yang dipersiapkan untuk berjaga-jaga. Tolong kordinasi dengan Sekretaris Lee.” Ujarnya panjang lebar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar LCD komputernya. “Baik pak. ” Hana permisi keluar dari ruangan bosnya. Ia menemui Sekretaris Lee yang mejanya berada di ruangan depan. “Selamat Hana-ssi, ke Jepang selama seminggu bersama Direktur. ” Ujarnya sebal karena dirinya tidak jadi ikut. “Ada apa? Mengapa Nona Lee tidak jadi pergi?” Tanya Hana dengan raut wajah senang. “Ah, kau tidak tahu. Pekerjaanku sangat banyak, sehingga bos memutuskan aku harus tinggal. Padahal di Jepang sedang musim bunga sakura. Kau sangat beruntung. Tapi kau harus hati-hati, bos kita jadwalnya sangat padat dan…!” Ia memelankan suaranya dan melihat ke arah pintu. ” Dia sangat mengerikan kalau sedang marah. ” Katanya mengingatkan. Hana hanya tertawa mendengarnya. Oh, ia juga tahu hal itu. Park Jaebum memang dikenal sebagai bos yang dingin, disiplin, perfeksionis. Namun ia memang jenius dan pekerja keras. Wajar kalau pada akhirnya iapun meminta hal yang sama dari bawahannya.

Nyaris menjadi tragedi. Alergi Park Jaebum kumat saat ia akan bertemu dengan perwakilan dari Fujiatsu Corporation. Ia bersin-bersin dan kepalanya sangat pusing karena sempat terkena serbuk sari bunga sakura yang sedang mekar di Jepang. Untung Hana segera menemukan obat alerginya yang tidak lupa dibawakan oleh Ahjuma Song. Hana memberikan dua macam pil dan segelas air putih pada Jaebum. Dan hana berhasil memaksa Jaebum istirahat dan meminta pertemuan ulang dengan pihak Fujiatsu diundur dua jam. Untungnya pihak Fujiatsu tidak tersinggung dan mereka turut prihati dengan alergi yang dialami Jaebum. Setelah tidur selama dua jam dan dipaksa minum ramuan herbal, makan bubur oleh Hana, yang entah bagaimana caranya berani memerintah bosnya. Jaebum mulai merasa baik namun ia diharuskan memakai masker untuk melindunginya dari serbuk sari bunga. Dan hal itu syukurnya tidak menggangu proses negosiasi dengan pihak Fujiatsu, bahkan mereka sangat terkesan dengan presentasi yang dilakukan oleh Jaebum sendiri.

¤¤¤

(Kembali ke Sisi Park Jaebum)
Akhirnya pihak Fujiatsu bersedia bekerja sama dengan perusahaan kami. Dan dokumen kerjasamanya sudah ditanda tangani dan disaksikan notaris. Aku segera mengefakskan salinan kerjasamanya dan menyimpan dokumen aslinya di brangkas kamar hotel. Dan syukurnya keadaanku sudah jauh lebih baik. Hana-ssi tanpa disangka merawatku dengan baik. Bahkan ia berani memaksaku meminum ramuan herbal yang mungkin bila disuruh ibuku saja aku tidak akan mau. Kalau soal kerjaan Hana-ssi memang handal walaupun ia tanpa pengalaman kerja dan ijasah sarjana. Dan aku merasa ia perempuan yang baik, bukan karena ia yang merawatku saat sakit. Aku hanya berpikir dia satu-satunya orang yang bisa bertahan denganku meskipun aku sangat menuntut tinggi terhadap pekerjaan. Dan sebagai perayaan pihak Fujiatsu mengadakan acara minum-minum dan kami dengan senang hati menerima. Hana-ssi menolak minum sake dengan sopan, ia beralasan sangat lemah terhadap alkohol. Aku yakin, ia masih menganggap ini jam kerja dan tidak sopan bila ia mabuk. Dan tampaknya ia sudah cukup senang dengan berbagai makanan Jepang yang banyak tersedia. Tanpa malu-malu ia mencoba semuanya dan ini malah membuat Direktur Harada merasa senang. “Baru kali ini saya bertemu wanita cantik yang punya selera makan bagus. ” Ia memuji Hana yang tampak rakus. Aku hanya bisa tertawa, gadis ini memang punya naluri makan yang besar. “Saya tidak suka menyia-nyiakan makanan. Di luar sana banyak orang kelaparan yang tidak mempunyai apapun untuk dimakan. ” Katanya menjelaskan. Aku sempat melihat kabut di matanya. Aku merasa Hana-ssi sedang menceritakan dirinya sendiri. Aku pikir ia mungkin teringat dengan pengalamannya sendiri, gadis yang tabah.

¤¤¤

Setelah pulang dari Jepang, Hana merasa ada yang berbeda dari Direktur Park Jaebum. Ia masih tidak banyak berbicara seperti sebelumnya dan dan menuntut pekerjaan sempurna. Namun ekspresinya jauh lebih rileks dan sekarang ia selalu mengajak Hana makan bersamanya ditiap kesempatan. Ini agak aneh bagi Hana tetapi ia tidak menolaknya. Soalnya makanan yang ditawarkan Direktur Park selalu enak dan lezat. Hana tentu saja tidak dapat melewatkannya selama ini gratis. “Sebenarnya saya tidak suka makan sendirian. Rasanya terlalu sepi. ” Katanya suatu ketika, saat Hana sedang menemaninya makan siang di restoran favoritnya usai bertemu klien penting. Dimata Hana, Park Jaebum jadi tampak lebih manusiawi dibandingkan sebelumnya. Namun ia heran, mengapa hanya ia yang selalu diajak makan bersama.

¤(Kembali ke Park Jaebum)¤
Entah mengapa dimataku Kim Hana sekarang terlihat jauh lebih hidup. Saat melihatnya menangis di kedai kopi waktu itu, aku pikir tidak akan pernah bisa melihat ia tersenyum lagi. Semua kesedihan itu mungkin belum benar-benar hilang namun ia sudah melanjutkan hidupnya. Ia mulai tersenyum dari hati hingga ke matanya. Walau aku hanya sering melihat matanya berbinar saat melihat makanan yang enak dan lezat. Suatu ketika ia pernah bilang begini, “Ibuku selalu berkata kalau perut kenyang hatipun senang!”. Aku merasa itulah alasan mengapa ia selalu makan dengan penuh semangat dan begitu menghargai hidup. Diam-diam aku sedih sekaligus bangga pada gadis muda ini, yang sebatang kara namun tetap berusaha untuk maju. Dan menjadi lebih baik.

Lalu hari itupun tiba, hari nahas dimana aku dan Hana mengalami kejadian yang mengerikan. Saat itu kami sedang berada di dalam mobil. Perjalanan menuju bandara kami melewati tol yang cukup ramai. Aku sedang meluruskan punggung merasa lelah seharian rapat dengan manajemen perusahaan X. Dan Hana yang duduk disebelah supir sedang sibuk mengecek email yang masuk ditabletnya dan menerima telefon dari Sekretaris Lee yang menginstruksikan jadwal terbaruku. Lalu aku mendengar suara berdecit yang tajam, dan tiba-tiba saja dari arah depan terlihat sebuah benda meluncur dengan cepat ke arah kaca. “Hanaa!” Teriakku keras, secara refleks aku menarik gadis itu. Melindungi setengah badannya dengan lenganku. Lalu tabrakan itu tidak terhindarkan. Semuanya terjadi cepat dan selain goncangan bertubi-tubi aku sudah tidak melihat apapun. Aku samar-samar mendengar Hana menjerit ketakutan dan berteriak histeris memanggilku namun aku tidak bisa menjawab. Aku merasa sangat lelah dan tertidur.

Lalu saat aku tersadar di rumah sakit, aku menemukan diriku terbaring lemah di ruangan yang penuh dengan alat-alat dan monitor. Tangan kananku digips dan leherku memakai penyangga. Aku merasa sangat haus dan wajah yang kulihat pertama kali adalah Hana yang sedang menangis di samping tempat tidurku. Ia terlihat baik-baik saja kecuali beberapa perban yang menempel di lengan dan tangannya. Sepertinya ia baik-baik saja. “Miss Hana, aku haus!” Kataku padanya. Ia tidak memperdulikan ucapanku dan malah menangis semakin keras. “Hei, Hana-ssi kau kenapa?” Tanyaku heran. Aku menepuk lengannya yang tidak sakit. “Direktur tidak sadar selama 2 hari. ” Katanya perlahan. Aku kaget, “Benarkah?” Tanyaku heran. “Saya takut sekali. ” Bisiknya sedih. “Saya takut Direktur tidak akan sadar lagi, seperti kedua orang tua saya. Mereka kecelakaan dan tidak pernah sadar. Saya tidak sempat mengucapkan selamat tinggal pada mereka dan mengatakan betapa sayangnya saya pada ayah dan ibu. ” Ia kembali tergugu. Aku mencoba bangkit walau kepalaku terasa sangat pusing, “Hei, jangan menangis. ” Aku menepuk kepalanya pelan, dan ia tetap menangis sedih seperti di kedai kopi saat itu. Aku menariknya mendekat dan memeluknya sebisaku dengan tangan yang patah. “Kim Hana, kau sangat jelek saat ini. ” Kataku akhirnya. “Ya. Saya tahu!” Bisiknya pelan. Aku tertawa dan itu membuatku semakin merasa pusing. “Rasanya aku jatuh cinta padamu. ” Kataku sungguh-sungguh. Aduh kepalaku semakin sakit rasanya. Ia melihatku dengan aneh, “Pak, saya rasa kepalamu gegar otak. ” Ucapnya perlahan dengan sopan. “Kepalaku memang pusing, tapi aku cukup sadar dengan apa yang aku bicarakan. ” Kataku padanya. Aku meringis menahan sakit kepalaku. “Saya panggilkan dokter. ” Hana, gadis itu langsung melesat keluar kamar. Aku tidak yakin dia mengerti apa yang sedang aku bicarakan tetapi aku akan membuatnya paham.

Selama masa penyembuhan, aku nyaris merubah kamar rumah sakit ini menjadi kantor kedua buatku. Kalau tidak karena pihak rumah sakit yang melarang, aku sudah setiap hari bakal rapat dengan bawahanku di kamar ini. Dan Hana kembali sibuk dengan jadwal harian seperti biasa. Luka-lukanya sudah sembuh dan aku berencana membawanya kedokter kulit untuk menghilangkan bekasnya. Ia kembali bersikap biasa dan berpura-pura tidak terjadi apapun. Dan itu mengesalkan bagiku. “Aku bosan. ” Kataku sambil melihatnya dengan kesal. Kim Hana memandangku bingung, mungkin karena perkataanku yang tiba-tiba atau cara bicaraku yang tidak formal lagi. “Aku ingin cepat keluar dari sini. Dan pergi berkencan dengan Hana-ssi. ” Ujarku lugas sambil memperhatikan perubahan diwajah mulusnya. “Direktur?” Hana memanggilku dengan alis berkerut heran. “Anda merasa pusing?” ia memandangku dengan wajah horor. “Kim Hana, aku serius dengan ucapanku. Aku benar-benar menyukaimu. Jauh sebelum kecelakaan itu. ” Aku bersungguh-sungguh dengan segala ucapanku. Ia masih terdiam. “Kim Hana, bagaimana denganmu? Apa menurutmu aku ada peluang. ” Tanyaku lagi. “Direktur, mau minum? Saya rasa anda dehidrasi. ” Ujarnya malah ngelantur. Aku tertawa, kadang-kadang aku merasa kadar kepercayaan dirinya sangat rendah. Sudah dua kali aku menyatakan perasaanku padanya dan ia malah menganggap aku gila. Padahal, aku mungkin memang gila karena dirinya. “Ah, kepalaku pusing sekali.” Kataku sambil memegang keningku. “Miss Hana, coba raba keningku. ” Pintaku padanya. Hana mendekat dengan prihatin dan jemarinya menempel dikeningku. Saat itu aku melingkari lengan kiriku pada pinggangnya dan menariknya mendekat. Ia tercekat dan aku mengecup bibirnya sekilas. “Jangan acuhkan perasaanku dong. Miss Hana, menurutmu aku bagaimana?” Tanyaku dengan senyuman lebar. Ia menunduk, “Saya pikir Direktur tidak buruk. ” Ucapnya pelan. Tidak buruk, apapula maksudnya itu? “Hei, Kim Hana kau harus menjelaskannya. Apa maksudnya tidak buruk?” Tanyaku kesal sambil mengetatkan lingkaran lenganku dipinggangnya. Dan kami mungkin akan terus berdebat, karena Hana tidak menyadari apa yang aku rasakan. Gadis itu tidak menyadari betapa kuat takdir menemukan kami dan membuat aku yakin bahwa dia dan aku memang berjodoh.

Tuhan sedang bercanda denganku!

Saya sedang bersedih tetapi sedang tidak ingin berbagi dengan siapapun. Saat saya terlalu banyak bicara atau tertawa mungkin sebenarnya saya sedang menutupi kenyataan bahwa hati saya menangis. Duka ini tidak bisa saya tunjukkan pada dunia, kelak disaat saya seharusnya bahagia saya akan mengingat hal yang membuat kesedihan ini. Agar saya tidak terlalu bahagia dan tidak juga terlalu bersedih.

Hidup selalu memberikan tantangan baru buat saya, dan selalu semakin berat untuk dihadapi. Saya tidak tahu apakah Tuhan terlalu memandang tinggi pada saya, atau saya saja yang sedang lemah. Terkadang saya juga merasakan lelah dan ingin berhenti hidup saja kalau bisa. Tapi itu hanya pikiran saja, karena saya orang yang takut Tuhan dan saya tahu sedikit tentang agama yang saya anut. Jadi saya hanya bisa menjalani saja semua hal yang terjadi.

Bagi mereka saya adalah tumpuan, saya kakak yang menanggung 4 orang adik dan seorang ibu. Seperti itulah dunia saya. Dan tidak semua orang bisa memahami saya, sayapun tidak selalu bisa berbagi dengan orang lain. Bukan karena beban saya berat, tetapi saya tidak selalu bisa menunjukkan perasaan saya. Itu seperti memperlihatkan kelemahan saya. Karena tidak semua orang yang sepertinya tampak peduli benar-benar tulus, sebagiannya lagi hanya berbasa-basi. Jadi lebih baik saya tidak menunjukkan apapun. Bukankah terlihat baik-baik saja lebih menyenangkan daripada terlihat menyedihkan?

Saya tidak tahu sampai dimana Tuhan akan menguji saya. Saya tidak tahu kemana arah ujung jalan ini. Saya juga tidak tahu kapan semua ini akan berakhir. Saya sungguh tidak tahu apa-apa. Saya marah, bersedih dan kembali berdoa pada Tuhan seperti sebuah siklus kehidupan. Yang saya yakini seperti apapun sulit dan kacaunya hidup saya selalu kembali kepada-NYA. Dan saya sangat bersyukur Tuhan saya sangat pengasih dan pemurah, karena ia selalu menerima umatnya yang ingin bertobat. Jadi bila saat ini Ia sedang merencanakan sesuatu yang baik untuk saya dimasa depan dan mempermainkan hati, pikiran dan hidup saya saat ini, saya ikhlas. Tuhan selalu tahu yang terbaik untuk umatnya. Amin.

Owyah! Aku juga ingin menikah, guys!

“Berapa umurmu Kak?” Tanya nyokap kemarin sore. “28. ” Sahutku. Nyokap kaget, “Udah segitu? Kalo ditanyain orang-orang, Mama jawabnya baru 25. ” Kata Nyokap lagi. Aku cuma mendengus kayak kuda. 25 dari Hongkong. Ujarku dalam hati. “Nggak takut keriput dan gelambir kak?” Tanya Nyokap. Aku menggeleng. “Kapan menikah? Mama udah kepengen nimang cucunih!” Yah, kalo jodoh ditangan akusih gampang. Begitu akil baligh aku langsung kawin aja, ngapain lama-lama kalau udah tahu dia yang bakalan jadi jodohku. Lah, emangnya aku yang nentuin siapa jodoh aku, kapan aku kawin dan lain-lain. Akhirnya aku cuma bisa bilang, “Kapan-kapan deh!” Sambil nyengir asem.

Perempuan, usia dan jodoh. Adalah satu paket topik pembicaraan yang panjang dan nggak ada habis-habisnya. Dan aku yang sudah usia segini, single (bukan nggak ada yang mau, tapi yang mau kualifikasinya kurang tepat denganku) rasanya selalu jadi bulan-bulanan dalam acara keluarga dan kumpul-kumpul keluarga besar. Aku sendiri bukannya takut dengan pernikahan, tidak. Cuma belum ketemu saja dengan seseorang yang pengen aku seret ke KUA minta dinikahin.

Di dunia yang kacau seperti ini, menikah adalah ide romantis yang gila. Di tengah carut-marut keadaan punya seseorang yang punya ikatan dengan kita, seseorang yang bisa menjadi milik kita terdengar sangat menyenangkan. Aku selalu percaya cinta dan kasih sayang adalah obat terbaik di dunia ini. Meskipun tidak bisa menyembuhkan setidaknya bisa menyegarkan dan sedikit memberikan warna dalam hidup.

Tapi pokok permasalahannya ya itu, sulit sekali menemukan orang yang tepat. Aku sudah melihat seseorang yang seusia denganku dua kali menikah dan gagal, aku tidak tahu alasan ia memilih lelaki-lelaki itu dan nyatanya tidak berhasil. Lalu aku juga melihat gadis yang lebih muda dariku dan cantik, menikahi duda usia 40tahun yang punya putri usia 18tahun. Gadis itu dan putri tirinya hanya berjarak usia 5tahun. Dan alasan ia menikah karena tidak ingin hidup susah. Hanya Tuhan yang tahu kalau di dunia ini semua orang pasti pernah mendapat kesusahan dan bukan tidak mungkin akan mendapatkannya lagi. Tidak bisa kubayangkan seandainya keadaan itu terbalik, apakah si gadis itu akan meninggalkan suaminya saat susah menerpa.

Damn, mungkin aku terlalu banyak mengetahui alasan-alasan salah memilih pernikahan. Yah, aku tahu banyak. Tetapi aku juga tahu alasan terbaik seseorang menikah. Seperti saat kita sudah menemukan seseorang yang tepat, yang bisa bertahan denganmu dan membuatmu tetap di sampingnya meskipun keadaan sulit dan kacau, seseorang yang ingin kau lihat senyumnya dipagi hari dan manjanya sebelum tidur, seseorang yang mau bertanggung jawab atasmu dan ingin bekerjasama denganmu meraih kebahagiaan, seseorang yang menjadi rumah bagimu dan engkau menjadi tempat ia pulang. Sungguh tidak ada lagi alasan buat kita untuk tidak menikahinya.

Dan pertanyaan akhir yang sampai saat ini belum terjawab, “Where is he now?”. I’m still waiting, guys.

Kamu adalah cerminan jiwamu sendiri!

Aku paling nggak suka dicurangi walau untuk hal seperak dua perak yang mungkin nggak bakal bikin kaya, tapi itu tetap bukan hak kamukan? Aku tahu tapi aku diam aja dan menilai kejujuran kamu, mungkin masih bisa senyum dan tertawa sama kamu. Tetapi penilaian aku terhadap kamu sudah berubah saat itu juga. Karena kejujuran merupakan hal penting buat aku. Sekecil apapun kecurangan yang kamu buat dampaknya tetap sama dengan jumlah yang besar, sama-sama membuat kamu tidak jujur. Mungkin orang-orang belum menyadarinya atau tidak akan tetapi kamu sendiri sadarkan dan Tuhan maha melihat. Kamu mau pakai dalih alasan apapun sesuatu yang bukan milik kamu tetap bukan hak kamu untuk menguasainya, dan masalah hutang itu juga sama. Mau sampai kapan pun kalau belum dibayar ya tetap berhutang namanya. Sampai mati dan hidup lagi, kalau yang punya uang belum ikhlas ya tetap punya hutang yang belum dilunasi. Apa kamu mau nggak jadi masuk surga gara-gara masih terbelit utang duit sama orang lain? Kan nggak lucu. Diakhirat kamu mau cari uang dari mana untuk membayarnya, alamat masuk neraka nih. He3x.

Aku pernah mendengar sebuah ungkapan lama, kalau ingin melihat sifat asli dari seseorang lihatlah hadapkanlah pada uang. Uang merupakan godaan terbesar buat manusia. Akan ada saat dimana orang dalam dilema, disisi lain ia butuh uang dan disisi lain ia tergoda dengan sesuatu yang bukan miliknya tetapi bisa dikuasainya dengan tidak halal. Oh, aku sering mengalaminya. Misalnya dulu waktu ngekost aku sedang tidak punya uang dan nemu uang dilantai depan kost, satu-satunya orang yang baru masuk kost adalah mbak ketring makanan. Aku sempat tertegun, kalau aku ambil uang ini cukup lumayan untuk pegangan sampai kiriman datang dan aku tidak mencuri tetapi menemukannya. Namun aku mikir orang yang punya uang pasti sedih, ini milik orang lain dan Tuhan pasti sedang melihatku. Menggodaku apakah aku akan mengambilnya atau mengembalikannya. Dan akhirnya aku tersenyum, aku tidak mau kalah sama godaan dari-NYA. Aku dan harga diriku lebih berharga daripada sejumlah uang itu dan aku tidak mau mengotori nurani dan hatiku dengan perasaan bersalah. Aku segera memanggil mbak ketring yang masih dilantai bawah, “Kak, ada kehilangan uang nggak?’ Dan ia segera merogoh-rogoh kantongnya. Ia terkesiap, aku mengulurkan uang yang kujumpai.

Kamu adalah cerminan dari perbuatanmu meskipun tidak ada orang lain yang melihat tetapi jauh di dasar lubuk hati kamu yang tahu orang seperti apa kamu sebenarnya. Seorang yang ramah tetapi mau mengambil hak orang lain. Seseorang yang baik tetapi diam-diam mempunyai koleksi film biru yang banyak. Seseorang yang mapan dan pekerja keras namun punya hasrat menyimpang. Atau seorang pemuda bermasa depan cerah namun suka melecehkan wanita mungkin. Benar, manusia punya dua sisi kepribadian. Yang baik dan jahat, tetapi kalau kamu mau dan mengusahakannya sisi yang baik akan terus mendominasi dan menekan hasrat jahat. Walau kadang-kadang pikiran kotor mungkin terlintas namun kamu bisa bertahan untuk tidak melakukannya. Salah sekali dua kali mungkin akan ada, asalkan kamu menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi tak apa. Hanya Tuhan yang tidak pernah salah dan syukurnya ia sangat pemurah.

Pernikahan bukan akhir, melainkan awal dari masalah!

Pagi ini dimulai dengan melihat seorang senior yang kuhormati sepertinya berantem dengan suami yang baru dinikahinya dan hal itu terekam jelas di media sosial. Aku merasa sedikit tergerak. Aku sendiri bahkan belum pernah menikah dan rasanya kok seperti sok tahu ngomongin masalah yang aku sendiri belum pernah mengalaminya. Yeah, aku memang belum mengalaminya tetapi aku adalah tipe seorang pengamat dan pemikir. Aku melihat banyak hal tentang pernikahan di sekelilingku dan aku bisa menyimpulkan dengan baik apa saja yang benar dan salah, sehingga hal-hal tersebut bisa menjadi pelajaran bagiku dan akan kubagikan dengan menuliskannya diblog ini. Ini alasan penambahan kategori “Pernikahan”.

Pernikahan bukan akhir dari cerita indah tentang cinta tetapi merupakan awal dari kisah yang jauh lebih besar dan panjang, yaitu kehidupan berumah tangga. Banyak orang yang tidak mempersiapkan hal ini karena mereka lupa kalau hidup bukan dongeng dimana setelah putri dan pangeran menikah ceritapun berakhir bahagia, mereka nggak tahu apa yang terjadi kemudiannya. Apakah putri dan pangeran tetap bersama atau bercerai setelah menghadapi masa-masa sulit dalam pernikahan.

Menurutku pernikahan itu kayak mempertahankan rangking sekolah, kita punya banyak pilihan.
1. Meraih rangking yang lebih tinggi. 2. Mempertahankan rangking yang sudah ada.
3. Tidak peduli dapat rangking atau tidak.
Bukan cuma masalah lulus atau enggak, tetapi nilai juga membebani kita. Jadi apapun pilihan yang kita ambil, kita tetap harus belajar dan belajar terus supaya kita bisa tetap mempertahankannya atau malah semakin menaikkan rangking kita.

Ibarat main game, pernikahan itu cuma sebuah level menuju level yang lain. Dan untuk menyelesaikan level ini kamu enggak bisa bekerja sendirian, karena level ini hanya dapat dimainkan oleh dua orang pemain. Kamu dan pasangan kamulah yang memegang peranan penting dalam permainan ini. Pilihan ditangan kalian berdua, mau bekerja sama dengan baik, saling bahu membahu menuju level selanjutnya atau mau saling mengutamakan ego masing-masing dan akhirnya kalah sehingga harus memulai dari awal dengan yang lain lagi. Owyah, aku sudah begitu banyak melihat pasangan yang kalah dilevel ini bahkan aku sudah melihat seseorang yang berkali-kali kalah dilevel ini. Dan pelajaran yang bisa aku ambil, tidak peduli siapa dan bersama siapa dalam level ini kalau kamu tidak belajar bagaimana caranya bekerjasama, saling menghormati dan menghargai dengan pasangan kalian tidak akan pernah bisa melewatinya.

Hidup itu enggak selalu berjalan mulus, pernikahan juga begitu. Marah, berkelahi, saling mendiamkan, cemburu mungkin akan mewarnai hubungan kalian tetapi jangan lupa berbaikan. Cinta yang menyatukan kalian, seharusnya juga bisa menguatkan kalian disaat-saat yang sulit dan gelap. Dia adalah pasangan yang kamu pilih menjadi patner dalam hidup kamu, pasti bukan orang yang sembarangan kamu comot dari jalanan. Pertahankan dia, kuatkan dia disaat lemah dan bersandarlah padanya disaat kamu tidak bertenaga. Bersabarlah dalam cobaan, kuatlah terhadap ujian, temukan jalan dalam kesulitan dan berbahagialah meskipun untuk hal yang sederhana. Karena kalian adalah orang-orang ‘gila’ yang berani berkomitmen di dunia yang seperti ini, kalian hebat dan harus berhasil. Aku tulus mendoakan kebahagiaan buat kalian, orang-orang ‘gila’ (dalam artian yang baik ya). Salam sayang, bencong gagal.

5 hal yang tabu dilakukan saat PDKT

Bingung ya, kenapa ditolak sama gebetan. Padahal selama pendekatan sicewek terlihat asik-asik aja. Diajak jalan, nonton, makan, hang-out dengan teman juga nggak pernah nolak. Komunikasi juga lancar-lancar aja tuh. Tapi pas giliran ditembak, sicewek dengan santai nolak dan nyuruh cari perempuan lain aja. Sebenarnya apa yang salah ya?

1. Niat awal yang salah.
Coba diingat-ingat lagi, awalnya kamu bilang apa sama cewek itu. Yupp, kalau kamu bilangnya mau berteman. Wajar aja tuh cewek bersikap baik dan mau saja kamu ajak kemana-mana. Soalnya dia nganggap kamu temannya sih dan kalau pada akhirnya kamu nembak dia dan ditolak bukan salah dia juga sih. Kamu ngajak berteman dan akhirnya nembak, niat dari awal itu udah beda. Karena bagi sebagian cewek berteman dan berpacaran itu dua hal yang berbeda. Berteman mungkin dengan siapa aja dan tanpa pandang bulu tetapi berpacaran selain harus ada chemistry mungkin juga ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi pasangannya. Dan itu mungkin nggak ada pada kamu.

2. Kamu menganggap dirinya gampang.
Nah loh, ini hal yang sangat penting buat cewek-cewek yang punya kharisma tangguh dan harga diri tinggi. Mungkin dia terlihat seperti cewek-cewek lainnya yang mudah saja silau dengan tampang cakep, ketajiran atau hal lainnya. Saat kamu menggodanya dengan hal-hal yang kamu anggap unggul dari diri kamu, dia mungkin hanya tersenyum manis. Diam dan nggak ngasih komen apa-apa. Tapi saat kamu memintanya jadi kekasihmu dengan tegas ia menggeleng dan bilang “kita temenan saja ya!”. Oho, kamu sudah melakukan kesalahan dengan melukai harga dirinya. Mungkin kamu nggak sadar saat kamu mengira sudah dapat membeli dirinya, dia sudah menilai diri kamu dan mencatatnya. Dan dengan penilaian itu tidak mungkin kamu bisa dimaafkan dan diterima. Nggak semua perempuan yang kamu kira levelnya berada di bawah kamu, bisa dengan gampang kamu dapatkan. Perempuan mungkin nggak sepintar laki-laki dalam memisahkan perasaan dan pikiran tapi dia merupakan makhluk yang punya ingatan kuat. Sekali kamu menyinggungnya, mungkin dia masih bisa tersenyum padamu. Tetapi siapa yang tahu apa penilaian kamu dalam hati dan pikirannya. Dan walaupun ia sudah memaafkan perbuatan kamu, bukan berarti dia melupakan kesalahan kamu loh. Camkan itu.

3. Kamu bertindak kurang ajar.
Masih pendekatan aja kamu udah berani grepe-grepein cewek, apalagi sampai menciumnya dengan paksa. Woho, kamu mau cari kekasih atau PSK mas? Mana ada perempuan yang suka dilecehkan secara seksual. Dan nggak ada perempuan baik-baik yang suka dengan lelaki mesum. Yah, aku menyebut kamu mesum. Dengan alasan apapun kalau perempuan sudah berkata TIDAK MAU, JANGAN dan menolak perlakuan kamu seharusnya itu sudah menghentikan perbuatan cabul kamu. Dan walaupun saat itu kamu tidak terkena tamparan atau gebukan dari massa, kamu sudah terlempar sangat jauh dari daftar pria yang akan dikencani seorang wanita. Kelakuan kurang ajar kamu pasti meninggalkan trauma bagi perempuan waras mana saja. Coba kamu bayangkan saudara perempuan, adik, kakak atau bahkan ibu kamu yang digrepe-grepein atau dilecehkan orang lain. Gimana perasaan kamu? Marah. Tidak terima. Pengen ngamuk. Begitu juga yang dirasakan sama korban perlakuan kamu. Jadi sadarlah, kalau berlaku tidak sopan pada wanita jangan berharap wanita bisa respek dan hormat sama kamu. Apalagi jatuh cinta, sangat jauh panggangan dari api mas.

4. Terlalu banyak perbedaan.
Alasan yang tampaknya klise ya, tapi ini memang terjadiloh. Bahkan mereka yang sudah menikahpun bisa bercerai gara-gara alasan ini. Perbedaan yang bagaimana yang membuat hubungan ini jadi tidak mungkin? Awalnya mungkin hal-hal kecil sepele yang tidak bisa diterima dan membuat lama-lama jadi tidak nyaman. Misalnya saya haters garis keras salah satu band alay, dan ada pria yang mendekati saya. Saya akan bertanya pendapatnya tentang band tersebut dan jawabannya akan merubah penilaian saya terhadapnya saat itu juga, dan ini benar kejadian pada saya. Dari hal kecil dan nggak penting itu saya langsung ilfil pada lelaki itu. Dari begitu banyak band, lagu dan pemusik di dunia ini, kalau ternyata dia sukanya sama band alay tersebut artinya kami tidak cocok dan selera kami berbeda. Oh, mungkin dia merasa cocok dengan saya, tetapi saya yang tidak. Saya selalu menganggap ada yang salah dari band tersebut dan para fansnya. Dan saya harap saya tidak ada hubungannya dengan mereka, sedikitpun. Dalam suatu hubungan apabila kenyamanan sudah tidak ada lagi, mustahil hubungan tersebut bisa diselamatkan. Apalagi bila hubungan tersebut belum terjalin, yah nggak bakalan ada hubunganlah tanpa rasa nyaman.

5. Kamu terlalu percaya diri.
Belum apa-apa kamu udah ngomong kalau menikah kita akan punya 5 orang anak atau kamu harus mau mengasuh ponakan saya yang ibunya baru saja meninggal. Helloow, tidak semua perempuan siap dengan pilihan yang sudah kamu tentukan. Dan memangnya siapa kamu yang datang-datang langsung maunya begini begitu? Apa kamu setampan itu? Sekaya itu? Sehebat itu? Kalau tidak, jangan bersikap sok pada perempuanlah. Karena kamu bukan apa-apanya, kok bisa-bisanya kamu langsung memaksakan kehendak kamu ke orang lain. Dan mungkin kamu berpikir “wanita yang mau sama saya harus menerima saya dengan seluruh paketan yang saya maui.” Tetapi kamu harus punya nilai jual yang sangat tinggi kawan, kalo nggak siap-siap aja bermimpi sampai 1000 tahun lamanya menunggu wanita idaman kamu datang.

Itulah beberapa hal yang membuat PDKT gagal berdasarkan pengalaman pribadi saya. Mungkin beberapa orang tidak akan menyukai hal-hal yang saya sampaikan, tetapi kalau tidak ada yang mengatakannya darimana kalian bisa tahu salah kalian dimana. Dan saya pikir tiap perempuan sebenarnya tidak menginginkan lelaki yang sempurna, hanya saja mencari yang tepat baginya. Dan bukan hal yang mudah juga buat wanita menolak seseorang, tetapi hal ini jauh lebih baik dari pada berpura-pura dan tidak bahagia. So, jangan lakukan hal-hal di atas supaya tidak dibenci wanita. Cukup jadi diri sendiri, bersikap sopan dan santun dan tunjukkan ketulusan. Maka saya yakin akan ada perempuan yang akan menerima kamu sebagai kekasih atau pendampingnya.