Ijinkan saya memilih untuk tidak memilih kamu!

Apa yang sedang kamu lakukan sekarang, tidak menambah rasa simpatikku padamu. Pun tidak mengurangi ketidaksukaan saya terhadap kamu. Saya tidak sedang menilai kamu, tetapi kamu sendiri yang telah menunjukkan sifat aslimu. Kamu bilang tidak mau menyembunyikan keburukan di belakang saya, tetapi saya jauh lebih terkesan jika yang kamu tunjukkan adalah ketulusan.

Saya cuma manusia biasa yang juga punya kekurangan. Tapi melihat kamu seutuhnya membuat saya berpikir lebih dalam lagi tentang kemungkinan kamu dan aku dimasa depan. Saat saya melihat gaya makan kamu yang kacau, berbicara dengan mulut penuh atau kuah yang menetes di dagu. Saya merasa kesal dan terganggu. Dan cenderung agak jijik. Yang ada dipikiran saya, bagaimana mungkin saya bisa bersama orang seperti ini. Seandainya saya punya perasaan lebih hal-hal kecil seperti ini seharusnya tidak mengganggu dan lucu saja, tetapi ternyata tidak seperti itu yang saya rasakan.

Kalau saya tidak mendengar kabar berhari-hari dari kamu, saya biasa aja. Dan tidak merasa kehilangan. Justru kamulah yang akhirnya selalu menghubungi saya duluan. Padahal salah satu dari ciri-ciri orang yang jatuh cinta adalah selalu ingin tahu kabar orang yang disukainya dan bila mendapatkan pesan atau panggilan darinya akan merasa sangat bahagia.

Saat kamu bilang ingin mengenalkan saya pada orang tua kamu dan membawa saya keacara keluarga kamu, saya merasa tidak nyaman. Karena saya tidak yakin ingin menjadi bagian dari kamu dan keluarga kamu. Saya nggak yakin saya ingin memilih kamu.

Saya juga tidak suka cara kamu menggampangkan masalah yang sudah kamu buat, seolah permintaan maaf bisa menghilangkan kenangan buruk saya tentang kamu. Saya bukan siapa-siapa kamu yang harus bisa mengerti kamu dan menerima semua perlakuan kamu. Kamu pikir dengan tahu latar belakang saya, keluarga saya dan masalah yang saya hadapi, kamu tahu dan mengerti tentang saya. Kamu salah besar. Kamu tidak tahu apapun yang saya pikirkan dan apa yang menjadi pertimbangan saya. Dan bila kamu mengira kamu bisa mengambil kesempatan saat saya sedang bingung dan tertimpa masalah, kamu licik dan kejam namanya. Karena saya tetap akan mengingatnya. Mungkin saya akan memaafkannya namun saya tidak akan melupakannya. Saya jelas tidak butuh sosok laki-laki pengecut yang memanfaatkan kesempatan dari wanita yang percaya penuh padanya. Dan bagaimana mungkin saya bisa memilih kamu, kalau yang kamu harapkan saya membimbing kamu. Kalau diri kamu sendiri saja tidak bisa kamu harapkan membuat dirimu menjadi lebih baik, kesempatan apa yang saya punya untuk mengubah kamu lebih baik? Saya memaafkan kamu. Saya bilang saya berterima kasih atas bantuan dan waktu yang kamu berikan. Tetapi saya tidak bilang saya ingin jadi bagian hidup kamu dan begitu juga sebaliknya. Saya ingin pasangan saya yang bisa bekerja sama dan dia bertanggung jawab sebagai pemimpin dalam keluarga kelak. Imam saya dunia dan akhirat. Dan saya tidak melihat itu di kamu. Maaf!

One thought on “Ijinkan saya memilih untuk tidak memilih kamu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s