Pernikahan bukan akhir, melainkan awal dari masalah!

Pagi ini dimulai dengan melihat seorang senior yang kuhormati sepertinya berantem dengan suami yang baru dinikahinya dan hal itu terekam jelas di media sosial. Aku merasa sedikit tergerak. Aku sendiri bahkan belum pernah menikah dan rasanya kok seperti sok tahu ngomongin masalah yang aku sendiri belum pernah mengalaminya. Yeah, aku memang belum mengalaminya tetapi aku adalah tipe seorang pengamat dan pemikir. Aku melihat banyak hal tentang pernikahan di sekelilingku dan aku bisa menyimpulkan dengan baik apa saja yang benar dan salah, sehingga hal-hal tersebut bisa menjadi pelajaran bagiku dan akan kubagikan dengan menuliskannya diblog ini. Ini alasan penambahan kategori “Pernikahan”.

Pernikahan bukan akhir dari cerita indah tentang cinta tetapi merupakan awal dari kisah yang jauh lebih besar dan panjang, yaitu kehidupan berumah tangga. Banyak orang yang tidak mempersiapkan hal ini karena mereka lupa kalau hidup bukan dongeng dimana setelah putri dan pangeran menikah ceritapun berakhir bahagia, mereka nggak tahu apa yang terjadi kemudiannya. Apakah putri dan pangeran tetap bersama atau bercerai setelah menghadapi masa-masa sulit dalam pernikahan.

Menurutku pernikahan itu kayak mempertahankan rangking sekolah, kita punya banyak pilihan.
1. Meraih rangking yang lebih tinggi. 2. Mempertahankan rangking yang sudah ada.
3. Tidak peduli dapat rangking atau tidak.
Bukan cuma masalah lulus atau enggak, tetapi nilai juga membebani kita. Jadi apapun pilihan yang kita ambil, kita tetap harus belajar dan belajar terus supaya kita bisa tetap mempertahankannya atau malah semakin menaikkan rangking kita.

Ibarat main game, pernikahan itu cuma sebuah level menuju level yang lain. Dan untuk menyelesaikan level ini kamu enggak bisa bekerja sendirian, karena level ini hanya dapat dimainkan oleh dua orang pemain. Kamu dan pasangan kamulah yang memegang peranan penting dalam permainan ini. Pilihan ditangan kalian berdua, mau bekerja sama dengan baik, saling bahu membahu menuju level selanjutnya atau mau saling mengutamakan ego masing-masing dan akhirnya kalah sehingga harus memulai dari awal dengan yang lain lagi. Owyah, aku sudah begitu banyak melihat pasangan yang kalah dilevel ini bahkan aku sudah melihat seseorang yang berkali-kali kalah dilevel ini. Dan pelajaran yang bisa aku ambil, tidak peduli siapa dan bersama siapa dalam level ini kalau kamu tidak belajar bagaimana caranya bekerjasama, saling menghormati dan menghargai dengan pasangan kalian tidak akan pernah bisa melewatinya.

Hidup itu enggak selalu berjalan mulus, pernikahan juga begitu. Marah, berkelahi, saling mendiamkan, cemburu mungkin akan mewarnai hubungan kalian tetapi jangan lupa berbaikan. Cinta yang menyatukan kalian, seharusnya juga bisa menguatkan kalian disaat-saat yang sulit dan gelap. Dia adalah pasangan yang kamu pilih menjadi patner dalam hidup kamu, pasti bukan orang yang sembarangan kamu comot dari jalanan. Pertahankan dia, kuatkan dia disaat lemah dan bersandarlah padanya disaat kamu tidak bertenaga. Bersabarlah dalam cobaan, kuatlah terhadap ujian, temukan jalan dalam kesulitan dan berbahagialah meskipun untuk hal yang sederhana. Karena kalian adalah orang-orang ‘gila’ yang berani berkomitmen di dunia yang seperti ini, kalian hebat dan harus berhasil. Aku tulus mendoakan kebahagiaan buat kalian, orang-orang ‘gila’ (dalam artian yang baik ya). Salam sayang, bencong gagal.

4 thoughts on “Pernikahan bukan akhir, melainkan awal dari masalah!

  1. kurang setuju dengan pernyataan “Pernikahan bukan akhir, melainkan awal dari masalah!”
    klo menurut gw tergantung cara kita ngejalanin pernikahan, gw udah 3tahun nikah Alhamdulilah blm pernah berantembesar. klo berantemkecil itu sih wajar anggap aja bumbu2 pernikahan😀
    jangan kapok buat nikah ya

    • Halo mas yandi. Terimaksih sudah baca dan berkomentar.
      Judulnya emang serem ya, kayak nakut-nakuti orang buat menikah. Tapi saya pikir isi artikel yang saya tulis, sama sekali nggak menakuti orang supaya nggak menikah. Saya cuma mengingatkan bahwa menikah itu bukan akhir dari cerita. Ibarat main game, menikah itu naik level. Memang semakin sulit tapi juga semakin seru.

      Saya juga menasihati pasangan yg tengah dirundung masalah dlm pernikahannya supaya bertahan dan jangan mudah menyerah kalah.

  2. Judulnya mungkin bisa lebih Spesifik mbak: ‘menikah bukanlah akhir, melainkan awal dalam menyelesaikan suatu masalah’ hehehe.

    Saya juga sependapat dgn mas yandhi karena menikah ibarat mengikuti kompetisi bola. Makin banyak anggota keluarga yg hadir, makin kompleks perkaranya. makin banyak kita belajar menyeselesaikanya satu masalah scara terkoordinir, rembug dan tidak ditelan mentah. Cmiiw

    Tulisan yg mengisnspirasi sekali mbak yona. Salam 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s