When I Meet You!

¤(Park Jaebum)¤
Saat itu diakhir musim dingin, dan aku sedang sangat lelah dengan semua hal. Aku memutuskan pergi selama beberapa hari tanpa membawa ponsel dan tanpa memberitahu siapapun. Aku membawa diriku ke tepi laut. Sungguh pilihan yang bodoh bukan. Karena cuaca dingin tentu saja laut sepi dan tidak ada pemandangan indah yang bisa dilihat. Aku memutuskan singgah ke sebuah kedai kopi yang tampak hangat. Lalu aku menemukanmu disana. Sedang duduk memeluk guci tempat abu jenasah. Kau tampak sangat sedih, tidak ada air mata yang menetes diwajahmu namun aku merasa kau sangat menderita. Kau memasukkan beberapa sendok gula, mengaduk lalu meminum tehmu, dan kembali menambahinya dengan gula. Setelah kau meminumnya lagi, kau berkata pada dirimu sendiri “Mengapa masih pahit?”. Aku yakin teh yang kau minum pasti sangat manis, karena aku telah melihat hampir sepuluh sendok gula yang kau masukkan. Mungkin bukan tehnya yang tidak manis tetapi kesedihanmu yang membuatnya menjadi terasa pahit. Lalu tiba-tiba kau mulai menangis, memanggil ayah dan ibumu. Aku baru menyadari kalau kau baru saja menyebarkan abu jenasah kedua orang tuamu di laut. Seorang gadis muda, sendirian dengan hati hancur ditinggalkan ayah dan ibunya. Aku merasa sedih untukmu. Hatiku ikut sakit. Hidupmu pasti akan jauh lebih berat setelah ini dan kau harus kuat menghadapinya. Namun setelah melihatmu yang seperti itu semua kelelahan yang aku alami mendadak hilang, aku merasa malu karena apa yang aku rasakan belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang telah terjadi padamu.

Beberapa bulan kemudian aku sudah hampir melupakan kejadian ini, lalu saat memeriksa beberapa CV lamaran untuk Asisten pribadiku aku melihat fotomu. Samar-samar aku mengingat sepertinya aku pernah melihatmu, lalu saat melihat keterangan bahwa usiamu masih sangat muda dan mengambil cuti kuliah aku mulai mengingatmu. Ekspresi wajahmu yang sendu itu mengingatkanku saat kau menahan tangismu yang mengisak di kedai kopi saat itu. Aku memutuskan menerimamu bekerja walaupun kau belum berpengalaman dan belum lulus kuliah. Aku ingin diberi kesempatan untuk membantumu walau aku sama sekali tidak mengenalmu, Kim Hana.

Dan saat mulai bekerja denganku, aku merasa tidak salah memilih. Kau bekerja sangat baik, tidak banyak bicara dan efisien. Aku memang terkenal cukup sulit sebagai seorang pimpinan. Dan entah sudah beberapa kali aku berganti Sekretaris dan akhirnya aku memutuskan memakai Asisten untuk memudahkan urusanku. Sekretaris yang membantu urusan kantor dan Asisten yang membantu urusan pribadi dan lain-lainya. Entah bagaimana caramu bisa membuatku merasa puas dengan kinerjamu. Kau benar-benar bekerja keras dalam memenuhi tuntutanku yang selalu ingin sempurna.

Belakangan ini aku tidak tahu mengapa, aku jadi lebih sering memperhatikanmu. Diam-diam sering mencuri menatapmu yang sedang asik menunduk menekuri tablet pc atau mengecek email dan pesan yang masuk keponselmu. Aku perhatikan dengan seksama, sebenarnya kau terlihat manis dan natural. Kau memiliki wajah yang cantik meskipun tanpa polesan make-up. Dan aku lihat pakaian yang sering kau gunakan mungkin memang tidak semodis pegawai wanita lain di kantor, namun bukan dari merek murahan atau palsu. Mungkin dulu kau berasal dari keluarga yang mampu, namun setelah kedua orang tuamu meninggal keadaanmu juga ikut berubah. Sehingga gaya hidupmu jadi seperti ini. Aku salut pada ketegaranmu meskipun kau tidak pernah mengatakan apapun tetapi aku tahu kau tidak mudah menghadapi ini. Karena akupun walau berasal dari keluarga berada namun kehidupanku tidak semudah yang orang lain pikirkan. Aku juga pernah mengalami saat-saat sulit sepertimu hingga bisa menjadi seperti ini.

¤¤¤

“Direktur, ini laporan dari Manajer Han Sekyung. Kemudian bahan presentasi untuk Fujiatsu Corp sudah saya perbanyak dan sebagian sudah saya bagikan pada bagian perencanaan. Manajer Park Dongsan meminta konfirmasi keberangkatan anda ke Busan bulan depan. Saya sudah memberitahunya kalau anda hanya punya waktu sekitar 3 hari dan ia menyetujuinya. Dan ini hasil test produk kita yang baru, anda akan senang melihatnya. Tuan Park…!”
“Miss Hana, kau sudah makan?” Tanya Park Jaebum memotong perkataan gadis itu. Hana melihatnya dengan pandangan heran karena bosnya terlihat bosan dan mengajukan pertanyaan yang tidak ada kaitannya dengan hal yang dipaparkannya. “Maaf, pak!” Ujarnya bingung. Direktur Park Jaebum tersenyum, hal yang jarang dilakukannya. “Aku bertanya Miss Hana sudah makan siang?” Ulangnya sambil melihat arloji ditangan kirinya. “Belum pak. ” Jawab Hana bingung. Ia melirik pada jam tangannya, pukul setengah dua. Dan ia lupa belum makan apapun dari tadi. “Kita makan. Aku sudah bosan makan sambil bekerja. Aku ingin makan dengan tenang. ” Katanya sambil bangkit merapikan jasnya. Hana bingung, ia mengikuti sambil membawa tablet yang penuh dengan jadwal lelaki ini. “Direktur.” Ia memanggil Jaebum ragu. “Ayah anda, eh maksud saya Tuan Park Yongsun mengajak anda makan siang. Apakah anda mau pergi kesana?” Tanyanya dengan wajah memandang langsung pada bosnya. “Oh, baguslah. Ayo sekalian kau temani kami. ” Perintahnya tanpa bisa ditawar.

“Tumben sekali kau mau makan siang denganku, yah walaupun ini sudah siang sekali. ” Sambut Tuan Park hangat saat putranya Park Jaebum akhirnya muncul di restoran favorit ayahnya. “Aku lapar, Ayah!” Katanya singkat lalu duduk di kursi berhadapan dengan Ayahnya. Kim Hana terlihat ragu mendekati mereka, haruskah ia bergabung dengan mereka atau menunggu di luar saja. Namun sebelum ia memutuskan sesuatu terdengar suara gemuruh yang berasal dari perutnya. Sontak Tuan Park dan Jaebum melihat padanya, “Siapa Nona ini?” “Miss Hana, mengapa hanya berdiri?” Tanya mereka berdua bersamaan. Hana merasa sangat malu, wajahnya memerah dan ia akhirnya duduk di sebelah Direkturnya. “Yah, setidaknya ada yang benar-benar lapar.” Kata Tuan Park sambil tertawa. “Maafkan putraku yang kejam ini karena telah membuatmu kelaparan Miss Hana. ” Hana hanya tertawa kecil, mendengar pria setengah baya itu kembali tertawa karenanya. Sementara Jaebum hanya diam saja tanpa komentar. Diam-diam Tuan Park Yongsun memperhatikan Hana lebih teliti dan memandang wajah putranya jauh lebih hati-hati. “Jaebum jarang sekali mau makan bersamaku, apalagi saat ia sibuk. Dan tidak pernah ia membawa temannya apalagi seorang gadis. Ini aneh, ia membawa seorang wanita makan siang bersama ayahnya. Apa ini kekasihnya? Tetapi dulupun ia tidak pernah mengenalkan kekasihnya pada keluarganya. Benar-benar aneh. Siapa gadis yang dipanggilnya Miss Hana ini? ” Pikirnya bertanya dalam hati sambil mengawasi kedua orang di hadapannya. Pria tua ini tersenyum tipis, sepertinya ia mengambil kesimpulan dari yang sudah dilihatnya.

“Miss Hana, kau ikut ke Jepang. ” Ujar Park Jaebum tanpa basa-basi. “Wow, ke Jepang!” Pikir Hana senang. Jaebum menatapnya heran, “Kau punya pasporkan?” Tanyanya lagi. “Punya pak. ” Jawab Hana cepat. ”
Walaupun ini perjalanan bisnis, tetapi ini pertama kalinya ia keluar negeri dan ke Jepang. Menyenangkan sekali. Hana bersorak dalam hati. “Dan tolong persiapkan seluruh kebutuhan saya selama di Jepang. Miss Hana tinggal memberitahukan Ahjuma Song dan Sekretaris Lee sudah menyiapkan semua bahan presentasi untuk dibawa. Juga plan B yang dipersiapkan untuk berjaga-jaga. Tolong kordinasi dengan Sekretaris Lee.” Ujarnya panjang lebar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar LCD komputernya. “Baik pak. ” Hana permisi keluar dari ruangan bosnya. Ia menemui Sekretaris Lee yang mejanya berada di ruangan depan. “Selamat Hana-ssi, ke Jepang selama seminggu bersama Direktur. ” Ujarnya sebal karena dirinya tidak jadi ikut. “Ada apa? Mengapa Nona Lee tidak jadi pergi?” Tanya Hana dengan raut wajah senang. “Ah, kau tidak tahu. Pekerjaanku sangat banyak, sehingga bos memutuskan aku harus tinggal. Padahal di Jepang sedang musim bunga sakura. Kau sangat beruntung. Tapi kau harus hati-hati, bos kita jadwalnya sangat padat dan…!” Ia memelankan suaranya dan melihat ke arah pintu. ” Dia sangat mengerikan kalau sedang marah. ” Katanya mengingatkan. Hana hanya tertawa mendengarnya. Oh, ia juga tahu hal itu. Park Jaebum memang dikenal sebagai bos yang dingin, disiplin, perfeksionis. Namun ia memang jenius dan pekerja keras. Wajar kalau pada akhirnya iapun meminta hal yang sama dari bawahannya.

Nyaris menjadi tragedi. Alergi Park Jaebum kumat saat ia akan bertemu dengan perwakilan dari Fujiatsu Corporation. Ia bersin-bersin dan kepalanya sangat pusing karena sempat terkena serbuk sari bunga sakura yang sedang mekar di Jepang. Untung Hana segera menemukan obat alerginya yang tidak lupa dibawakan oleh Ahjuma Song. Hana memberikan dua macam pil dan segelas air putih pada Jaebum. Dan hana berhasil memaksa Jaebum istirahat dan meminta pertemuan ulang dengan pihak Fujiatsu diundur dua jam. Untungnya pihak Fujiatsu tidak tersinggung dan mereka turut prihati dengan alergi yang dialami Jaebum. Setelah tidur selama dua jam dan dipaksa minum ramuan herbal, makan bubur oleh Hana, yang entah bagaimana caranya berani memerintah bosnya. Jaebum mulai merasa baik namun ia diharuskan memakai masker untuk melindunginya dari serbuk sari bunga. Dan hal itu syukurnya tidak menggangu proses negosiasi dengan pihak Fujiatsu, bahkan mereka sangat terkesan dengan presentasi yang dilakukan oleh Jaebum sendiri.

¤¤¤

(Kembali ke Sisi Park Jaebum)
Akhirnya pihak Fujiatsu bersedia bekerja sama dengan perusahaan kami. Dan dokumen kerjasamanya sudah ditanda tangani dan disaksikan notaris. Aku segera mengefakskan salinan kerjasamanya dan menyimpan dokumen aslinya di brangkas kamar hotel. Dan syukurnya keadaanku sudah jauh lebih baik. Hana-ssi tanpa disangka merawatku dengan baik. Bahkan ia berani memaksaku meminum ramuan herbal yang mungkin bila disuruh ibuku saja aku tidak akan mau. Kalau soal kerjaan Hana-ssi memang handal walaupun ia tanpa pengalaman kerja dan ijasah sarjana. Dan aku merasa ia perempuan yang baik, bukan karena ia yang merawatku saat sakit. Aku hanya berpikir dia satu-satunya orang yang bisa bertahan denganku meskipun aku sangat menuntut tinggi terhadap pekerjaan. Dan sebagai perayaan pihak Fujiatsu mengadakan acara minum-minum dan kami dengan senang hati menerima. Hana-ssi menolak minum sake dengan sopan, ia beralasan sangat lemah terhadap alkohol. Aku yakin, ia masih menganggap ini jam kerja dan tidak sopan bila ia mabuk. Dan tampaknya ia sudah cukup senang dengan berbagai makanan Jepang yang banyak tersedia. Tanpa malu-malu ia mencoba semuanya dan ini malah membuat Direktur Harada merasa senang. “Baru kali ini saya bertemu wanita cantik yang punya selera makan bagus. ” Ia memuji Hana yang tampak rakus. Aku hanya bisa tertawa, gadis ini memang punya naluri makan yang besar. “Saya tidak suka menyia-nyiakan makanan. Di luar sana banyak orang kelaparan yang tidak mempunyai apapun untuk dimakan. ” Katanya menjelaskan. Aku sempat melihat kabut di matanya. Aku merasa Hana-ssi sedang menceritakan dirinya sendiri. Aku pikir ia mungkin teringat dengan pengalamannya sendiri, gadis yang tabah.

¤¤¤

Setelah pulang dari Jepang, Hana merasa ada yang berbeda dari Direktur Park Jaebum. Ia masih tidak banyak berbicara seperti sebelumnya dan dan menuntut pekerjaan sempurna. Namun ekspresinya jauh lebih rileks dan sekarang ia selalu mengajak Hana makan bersamanya ditiap kesempatan. Ini agak aneh bagi Hana tetapi ia tidak menolaknya. Soalnya makanan yang ditawarkan Direktur Park selalu enak dan lezat. Hana tentu saja tidak dapat melewatkannya selama ini gratis. “Sebenarnya saya tidak suka makan sendirian. Rasanya terlalu sepi. ” Katanya suatu ketika, saat Hana sedang menemaninya makan siang di restoran favoritnya usai bertemu klien penting. Dimata Hana, Park Jaebum jadi tampak lebih manusiawi dibandingkan sebelumnya. Namun ia heran, mengapa hanya ia yang selalu diajak makan bersama.

¤(Kembali ke Park Jaebum)¤
Entah mengapa dimataku Kim Hana sekarang terlihat jauh lebih hidup. Saat melihatnya menangis di kedai kopi waktu itu, aku pikir tidak akan pernah bisa melihat ia tersenyum lagi. Semua kesedihan itu mungkin belum benar-benar hilang namun ia sudah melanjutkan hidupnya. Ia mulai tersenyum dari hati hingga ke matanya. Walau aku hanya sering melihat matanya berbinar saat melihat makanan yang enak dan lezat. Suatu ketika ia pernah bilang begini, “Ibuku selalu berkata kalau perut kenyang hatipun senang!”. Aku merasa itulah alasan mengapa ia selalu makan dengan penuh semangat dan begitu menghargai hidup. Diam-diam aku sedih sekaligus bangga pada gadis muda ini, yang sebatang kara namun tetap berusaha untuk maju. Dan menjadi lebih baik.

Lalu hari itupun tiba, hari nahas dimana aku dan Hana mengalami kejadian yang mengerikan. Saat itu kami sedang berada di dalam mobil. Perjalanan menuju bandara kami melewati tol yang cukup ramai. Aku sedang meluruskan punggung merasa lelah seharian rapat dengan manajemen perusahaan X. Dan Hana yang duduk disebelah supir sedang sibuk mengecek email yang masuk ditabletnya dan menerima telefon dari Sekretaris Lee yang menginstruksikan jadwal terbaruku. Lalu aku mendengar suara berdecit yang tajam, dan tiba-tiba saja dari arah depan terlihat sebuah benda meluncur dengan cepat ke arah kaca. “Hanaa!” Teriakku keras, secara refleks aku menarik gadis itu. Melindungi setengah badannya dengan lenganku. Lalu tabrakan itu tidak terhindarkan. Semuanya terjadi cepat dan selain goncangan bertubi-tubi aku sudah tidak melihat apapun. Aku samar-samar mendengar Hana menjerit ketakutan dan berteriak histeris memanggilku namun aku tidak bisa menjawab. Aku merasa sangat lelah dan tertidur.

Lalu saat aku tersadar di rumah sakit, aku menemukan diriku terbaring lemah di ruangan yang penuh dengan alat-alat dan monitor. Tangan kananku digips dan leherku memakai penyangga. Aku merasa sangat haus dan wajah yang kulihat pertama kali adalah Hana yang sedang menangis di samping tempat tidurku. Ia terlihat baik-baik saja kecuali beberapa perban yang menempel di lengan dan tangannya. Sepertinya ia baik-baik saja. “Miss Hana, aku haus!” Kataku padanya. Ia tidak memperdulikan ucapanku dan malah menangis semakin keras. “Hei, Hana-ssi kau kenapa?” Tanyaku heran. Aku menepuk lengannya yang tidak sakit. “Direktur tidak sadar selama 2 hari. ” Katanya perlahan. Aku kaget, “Benarkah?” Tanyaku heran. “Saya takut sekali. ” Bisiknya sedih. “Saya takut Direktur tidak akan sadar lagi, seperti kedua orang tua saya. Mereka kecelakaan dan tidak pernah sadar. Saya tidak sempat mengucapkan selamat tinggal pada mereka dan mengatakan betapa sayangnya saya pada ayah dan ibu. ” Ia kembali tergugu. Aku mencoba bangkit walau kepalaku terasa sangat pusing, “Hei, jangan menangis. ” Aku menepuk kepalanya pelan, dan ia tetap menangis sedih seperti di kedai kopi saat itu. Aku menariknya mendekat dan memeluknya sebisaku dengan tangan yang patah. “Kim Hana, kau sangat jelek saat ini. ” Kataku akhirnya. “Ya. Saya tahu!” Bisiknya pelan. Aku tertawa dan itu membuatku semakin merasa pusing. “Rasanya aku jatuh cinta padamu. ” Kataku sungguh-sungguh. Aduh kepalaku semakin sakit rasanya. Ia melihatku dengan aneh, “Pak, saya rasa kepalamu gegar otak. ” Ucapnya perlahan dengan sopan. “Kepalaku memang pusing, tapi aku cukup sadar dengan apa yang aku bicarakan. ” Kataku padanya. Aku meringis menahan sakit kepalaku. “Saya panggilkan dokter. ” Hana, gadis itu langsung melesat keluar kamar. Aku tidak yakin dia mengerti apa yang sedang aku bicarakan tetapi aku akan membuatnya paham.

Selama masa penyembuhan, aku nyaris merubah kamar rumah sakit ini menjadi kantor kedua buatku. Kalau tidak karena pihak rumah sakit yang melarang, aku sudah setiap hari bakal rapat dengan bawahanku di kamar ini. Dan Hana kembali sibuk dengan jadwal harian seperti biasa. Luka-lukanya sudah sembuh dan aku berencana membawanya kedokter kulit untuk menghilangkan bekasnya. Ia kembali bersikap biasa dan berpura-pura tidak terjadi apapun. Dan itu mengesalkan bagiku. “Aku bosan. ” Kataku sambil melihatnya dengan kesal. Kim Hana memandangku bingung, mungkin karena perkataanku yang tiba-tiba atau cara bicaraku yang tidak formal lagi. “Aku ingin cepat keluar dari sini. Dan pergi berkencan dengan Hana-ssi. ” Ujarku lugas sambil memperhatikan perubahan diwajah mulusnya. “Direktur?” Hana memanggilku dengan alis berkerut heran. “Anda merasa pusing?” ia memandangku dengan wajah horor. “Kim Hana, aku serius dengan ucapanku. Aku benar-benar menyukaimu. Jauh sebelum kecelakaan itu. ” Aku bersungguh-sungguh dengan segala ucapanku. Ia masih terdiam. “Kim Hana, bagaimana denganmu? Apa menurutmu aku ada peluang. ” Tanyaku lagi. “Direktur, mau minum? Saya rasa anda dehidrasi. ” Ujarnya malah ngelantur. Aku tertawa, kadang-kadang aku merasa kadar kepercayaan dirinya sangat rendah. Sudah dua kali aku menyatakan perasaanku padanya dan ia malah menganggap aku gila. Padahal, aku mungkin memang gila karena dirinya. “Ah, kepalaku pusing sekali.” Kataku sambil memegang keningku. “Miss Hana, coba raba keningku. ” Pintaku padanya. Hana mendekat dengan prihatin dan jemarinya menempel dikeningku. Saat itu aku melingkari lengan kiriku pada pinggangnya dan menariknya mendekat. Ia tercekat dan aku mengecup bibirnya sekilas. “Jangan acuhkan perasaanku dong. Miss Hana, menurutmu aku bagaimana?” Tanyaku dengan senyuman lebar. Ia menunduk, “Saya pikir Direktur tidak buruk. ” Ucapnya pelan. Tidak buruk, apapula maksudnya itu? “Hei, Kim Hana kau harus menjelaskannya. Apa maksudnya tidak buruk?” Tanyaku kesal sambil mengetatkan lingkaran lenganku dipinggangnya. Dan kami mungkin akan terus berdebat, karena Hana tidak menyadari apa yang aku rasakan. Gadis itu tidak menyadari betapa kuat takdir menemukan kami dan membuat aku yakin bahwa dia dan aku memang berjodoh.

2 thoughts on “When I Meet You!

  1. pada paragraf ke5 Ai jadi kehilangan keasyikan membacanya kak.. kn kakak bercerita melalui si cowok,, tiba2 Ai merasa yg bercerita bkn si cowok lg.. mgkn krn ada kata ” tanya park jaebum dengan ringan”..

    • Mulai paragraf 5 dan selanjutnya emang sudut pandangnya bukan sicowok lagi ai. Kita sebagai orang ketiga yang memperhatikan mereka. Setelah 3 paragraf selanjutnya balik kesudut pandang sicowok lagi. Memang masih banyak kekurangannya, soalnya aku buat dlm waktu 3-4jam sebelum tidur. Dan paginya langsung aku posting tanpa edit lagi. He3x.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s