Dear Em! (My Em, The Only One For Me)

Hai, Em. Lama tidak mendengar kabarmu, kau okekan? Aku berharap semua berjalan baik untukmu. Terkadang aku memikirkanmu sedikit dan segera melupakannya. Aku tidak ingin ada penyesalan sedikitpun. Sejak pertengkaran terakhir kita yang bahkan aku telah lupa, dipicu oleh apa. Kau marah, aku lebih marah lagi. Dan diujungnya kita saling mengadu ego masing-masing. Berapa lama, sebulan dua bulan nyaris setengah tahun kita tidak saling berkomunikasi lagi. Awalnya tidak mengganggu sama sekali kehilanganmu, tetapi lama-lama aku sedikit menyesal Em. Kita berteman bukan? Kita sudah melewati banyak waktu bersama dan saling mengenal baik dan buruk masing-masing. Dan kita kalah dengan hal remeh yang bahkan tidak kita ingat lagi. Aku merindukanmu Em. Sedikitnya candaan kasarmu. Pesan-pesan bodohmu yang membuatku kesal dihari-hari panjangku. Dan suara sombongmu ditiap waktu sebelum aku terlelap. Kita saling menguatkan, mengejek dan kembali menopang satu sama lain.

Aku tidak ingin mengenang mengapa kita akhirnya jadi jauh. Sudah tidak penting lagi. Kau sudah melaju dengan kehidupanmu disana. Dan aku masih tertahan dengan hari-hari membosankan. Yah, seperti yang selalu kau bilang aku gadis yang membosankan. Tidak perlu aku ceritakan betapa sulit dan beratnya hidup yang aku lalui, kau sudah dapat menebaknyakan? Kau tahu benar aku bagaimana dan impian yang aku punya. Tidak semudah itu meninggalkan tanggung jawabku pada keluarga dan mengejar harapanku. Aku harus memilih salah satu dan aku harus mengalah untuk tujuan yang lebih mulia. Ku yakin kaupun mengerti ini tidak mudah buatku, Em. Tetapi aku tetap harus melakukannya. Dan aku tidak tahu sampai kapan.

Em, ada saat-saat dimana kesepian begitu menggigitku dan aku nyaris tersungkur dengan kesedihan yang dalam. Aku mengingatmu dan pertengkaran-pertengkaran kecil kita. Itu membuatku tertawa. Betapa bodohnya kita, berputar-putar begitu lama untuk saling menemukan lagi. Entah apa sebenarnya hubungan kita teman, musuh atau kekasih. Siapa yang peduli Em? Kau pasti cukup percaya diri bahwa aku selalu teguh memegang prinsip. Bagiku hanya ada dirimu saat itu. Bukankah kau yang menjadi saksi saat aku bersama dia, yang namanya tidak ingin aku sebut lagi. Melihatku terluka, dan terluka lagi dibuatnya. Ditipu dan dibohongi lagi oleh temanmu itu. Aku tidak pernah mempermainkannya dan aku setia pada orang itu. Lalu saat semuanya sudah kurasa cukup, aku memilih pergi darinya dan kehidupannya. Kau satu-satunya yang mendukungku, ingat? Kau yang menyemangatiku dengan bilang “Bodoh sekali gadis sepertimu bersama dia. ” Tentu saja kau yang paling mengenal siapa dia, karena kau dan dia juga sama-sama brengsek. Walau pada akhirnya kau bilang kau berubah. Kau tidak ingin hancur seperti dirinya.

Kau selalu menganggap aku gadis baik yang bodoh. Dan mungkin itu yang membangkitkan rasa ingin melindungimu, Em. Tetapi keadaan kita jauh lebih sulit bagiku. Rumit. Perasaan tumpang tindih yang melingkupiku. Masalah yang bertubi-tubi menerpa hidupku. Dan kau tidak sabar dengan itu. Kita berpisah dengan menyimpan kemarahan dihati. Menyedihkan bagi dua orang sahabat yang berusaha menjalin kasih dan kembali menjadi asing bagi satu sama lain.

Tapi sudahlah, kudengar kehidupan berjalan mulus untukmu. Pekerjaan yang semakin berprospek cerah, menemukan pasangan hidup. Dan sekarang sedang menunggu kelahiran sikecil. Kau sudah semakin dewasa dan bertanggung jawab rupanya. Sudah bisa setia dengan seorang wanita dan membangun rumah bagi hidupmu. Kau melangkah sangat jauh Em, langkah sama yang belum bisa aku kejar. Aku bahkan tidak punya keyakinan akan melangkah ke arah itu. Karena yang datang padaku hanya orang-orang aneh yang mesum. Aku tidak tahu dimana salahku Em, kenapa mereka punya niatan buruk seperti itu. Aku bukan tipe perempuan liar yang suka menggoda, tetapi bila dilahirkan dengan bagian tubuh seperti itu dan aura yang tanpa aku sadari mengundang. Aku bisa apa kawan. Aku cuma perlu menolak mereka yang seperti itu. Siapa yang sudi menghabiskan waktu dengan orang yang otaknya kotor dan melihatku sebagai mangsanya.

Hei, Em! Doakan aku mendapatkan yang tepat bagiku yah. Tidak perlu sempurna seperti didrama-drama kesukaanku. Cukup seseorang yang bisa membuatku tertarik padanya setiap saat, membuatku terpesona tiap kali dan bertahan bersamaku menjalani hidup yang kacau ini. Aku tidak meminta banyak Em. Aku berharap bisa jatuh cinta lagi pada orang yang benar. No more bad guy, like him or you. Jangan marah kawan, aku bercanda. Kau bahagiakan? Aku dengan tulus berharap kau bahagia dan tidak ada sedikitpun menyesali tentang kita. Dan jangan lagi mengatakan bahwa masih ada kesempatan menjadi yang kedua dalam hidupmu. Kau tahu bagaimana pendapatku tentang berbagi cinta dan suami. TIDAK MUNGKIN. Aku pernah mengalami kekasih yang mendua, mentigakan dan itu tidak menyenangkan sama sekali. Aku tidak suka bila harus mengalaminya dalam pernikahan. Jangan sampailah. Bagiku cinta pada kekasih tidak bisa ditawar untuk dipotong dan berikan pada lainnya. Cinta yang berbagi-bagi itu bukan cinta, tetapi keserakahan dalam memiliki semuanya. Dan bukankah manusia memang tamak dan tak pernah merasa cukup. Hanya orang-orang yang tidak lupa bersyukurlah yang mengerti arti kata CUKUP.

Ah! Aku jadi menceracau tidak jelas. Cinta tetap merupakan inspirasi terbesar dalam hidupku, Em. Aku mulai memberanikan menceritakan segala keluh dan kesahku dengan tulisan apa saja. Ternyata selain membaca dan mendengar musik, hal ini bisa menjadi terapi stres yang mujarab buatku. Aku sudah bisa menerima keadaan dan jauh lebih sabar. Aku semakin dewasa ya? Tetapi aku tidak merasa aku bertambah TUA, Em. Hentikan cengiran diwajahmu itu, hapus saja. Dan jangan coba-coba mengatakan ada kerutan dikulitku. Kau ini, selalu saja membuatku kesal. Masa kau tidak mengerti juga, usia dan kerutan adalah masalah yang sangat sensitif bagi wanita. Selain status single bagi yang sudah matang menikah. Kau tidak tahu bagaimana aku menghadapi pertanyaan orang-orang tentang pernikahan, tetapi jangan berharap aku kesal karenanya. Sudah kubilang aku sudah semakin bijak, pertanyaan tentang pernikahan tidak pernah mengusikku. Aku tidak mau salah memilih seperti mereka yang pernah kuceritakan padamu. Lagipula soal jodoh bukanlah salahku bila saat ini aku belum menemukannya, karena urusan jodoh keputusannya bukan ditangan aku Em. Jadi aku tidak bersalah sama sekali bila sampai ini belum menikah. Aku santai saja menghadapi semuanya. Yah, kau tahu betapa percaya dirinya akukan. Aku tidak jelek (masih ada kejadian dimana aku lewat dan kepala-kepala yang menoleh sampai 180derajat, kawan. Catet itu). Aku gadis baik setidaknya aku masih menjaga diriku dengan baik dijaman yang carut marut ini. Dan kualitas pemikiranku sedikit cenderung membuat minder orang-orang yang hanya bisa berbicara dan sombong. Atau mungkin ini malah jadi bumerang bagiku? karena aku pernah dengar pria kurang suka wanita yang lebih pintar dari dirinya. Apa aku harus berpura-pura tidak menonjolkan sisi ini?

Aku semakin tidak fokus ya. Ah, intinya aku baik-baik saja, Em. Jangan khawatirkan aku. Doakan saja yang terbaik bagiku. Aku juga begitu, selalu berharap yang terbaiklah buatmu. Kau harus banyak bahagia, banyak tertawa dan tersenyum. Tidak lucu bila kau tidak bahagia setelah memilih yang lain. Jadi kau harus lebih bahagia banyak, banyak sekali. Jangan lupa caranya bersyukur agar kau tahu rasanya cukup dengan apapun yang diberikan Tuhan. Kau beruntung dan kau harus sadar itu. Aku masih harus mencari, Em. Dan bila itu tidak datang padaku, aku akan mencari kebahagiaan yang lain. Kau tahu betapa sederhana kebahagiaan bagiku dan betapa mudahnya aku merasa senang dengan hal-hal kecil. Aku orang yang mudah dan tidak sulit bersyukur. So, sampai jumpa Em. Semoga saat kita bertemu, kita bisa saling tertawa dan bercerita penuh kehangatan dua orang sahabat, yang telah menghabiskan waktu yang lama dan tetap berteman akrab. Bye, Em. Baik-baik disana.

(Fiksi atau Realita, tulisan ini kupersembahkan buat My Em. Satu-satunya Em yang pernah ada untukku). Hope you enjoy guys!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s