DIA yang Mendengar Semua Doamu

Tuhan, aku tahu saat ini kau terlalu sibuk mengurusi umatmu yang lebih membutuhkan bantuanmu.
Jadi kau belum bisa menjawab doa-doa yang kupanjatkan ke langit. Tetapi, tolong dengarkan pintaku sekali ini saja.
Aku tidak sedang memintamu untuk segera mengirimkan jodohku. Kupercaya janjimu bahwa semua makhluk hidup kau ciptakan berpasangan.
Aku hanya ingin merasakan jatuh cinta lagi pada seseorang.
Aku ingin berdebar-debar walau hanya mendengar namanya disebutkan.
Aku ingin merindukan seseorang sampai aku merasa nyaris mati.
Aku ingin bersama seseorang yang juga menganggapku penting sebagaimana aku juga begitu.
Apa ini terlalu berlebihan, Tuhan?
Yah, jujur saja. Aku sangat kesepian disini.
Bukan karena melihat yang lain sudah berpasangan dan telah berketurunan.
Juga bukan karena yang lain membanggakan kemapanan dan kestabilan hidup mereka.
Aku merasa kosong, seperti kerang yang tidak berisi.
Apa aku dangkal karena berpikir begitu?
Maafkan aku, Tuhan. Bila sepertinya aku tampak seperti kurang bersyukur atas segala hal yang telah kau beri.
Bukan berarti aku tidak bahagia selama ini.
Mungkin aku hanya sedang resah, menunggu.
Mungkin juga aku sedang lemah harapan.
Aku masih mempercayai-MU.
Dan yakin dengan cinta-MU.
Tuhan, berikan aku satu kali lagi kesempatan yang baik.
Waktu yang indah.
Dan orang yang tepat.

Dark Side Of The Moon

Suara petir yang keras membangunkanku dari tidur yang panjang. Aku terjaga dengan mata nyalang di tengah kegelapan. Seseorang telah menaruh lampu di atas meja riasku namun lupa menutup tirai di depan pintu kaca menuju balkon.
Aku bangkit dan tergesa-gesa menarik tirai. Hujan telah turun dengan derasnya. Sudah berhari-hari aku tidak tidur dan sore ini setelah pemakaman ibuku, aku jatuh pingsan. Karena kelelahan dan semua kesedihan itu.
Aku sudah lelah menangis, berteriak sekeras apapun ibuku tidak akan pernah bisa kembali. Jadi aku menyimpan semuanya dalam hatiku. Semoga ibuku tenang disana dan Tuhan menberikannya kebahagiaan yang lebih abadi.
Aku memutuskan keluar dari kamar dan berjalan melewati lorong yang gelap. Aku ingin melihat kamar ibuku. Ayahku mungkin berada di kamarnya dengan ibu tiriku. Setelah bertahun-tahun ibuku menderita, ayah mungkin lega pada akhirnya ibuku terbebas dari rasa sakit. Dan ibu tiriku mungkin juga merasa senang, nyonya besar akhirnya meninggal dan ia pasti berharap dapat menggantikan posisi ibuku di rumah ini.
Aku menyentuh pegangan pintu dan mendorongnya terbuka. Samar-samar aku melihat sosok lelaki yang sedang berbaring ditempat tidur ibuku. Perlahan aku mendekatinya dan aku menyadari bahwa sosok itu adalah ayahku yang terlihat kelelahan usai menangisi ibuku. Ia memeluk gaun kesayangan ibu dan aku masih bisa melihat sisa air mata dipipi kurusnya. Ternyata ayah masih mencintai ibu dan sangat terpukul juga seperti diriku. Perlahan air mataku mulai menetes dipipiku. Tidak pantas rasanya aku mengganggu ayah atas kenangannya pada ibuku. Jadi aku berbalik dan menutup pintu kamar.
Aku berjalan kembali menyusuri lorong dan menghapus air mata yang membasahi pipiku. Seharusnya aku tidak boleh menangis lagi. Ibuku di surga pasti akan sedih jika melihatku begini. “Ibu, hanya hari ini saja. Aku tidak akan menangis lagi. ” Bisikku pada diriku sendiri.
Sesaat aku hendak mencapai belokan di kamarku, aku melihat cahaya bergoyang dari balik pintu kamar tunanganku. Fabian. Pintu kamarnya terbuka karena angin atau karena memang tidak tertutup rapat. Aku mendekatinya sambil bertanya dalam hati, “Apa ia sudah tertidur?”
Rasanya tidak sopan jika aku memasuki kamar lelaki di tengah malam seperti ini, meskipun itu tunanganku sendiri. Tetapi aku butuh teman bicara dan Fabian pasti bisa mengerti keadaanku. Perlahan aku mendorong pintu itu dan melongok ke dalam kamar yang terang benderang. Aku mendengar suara orang yang bercakap-cakap. Dan saat aku melihat ke arah ranjang di kamar itu, aku tersentak dan menjadi kaku seperti batu.
Tubuhku gemetar dan nafasku tercekat, raungan rasa marah memenuhi paru-paruku. Jemariku mengepal dan rasanya aku sanggup membunuh siapa saja saat itu. Aku membanting pintu dengan keras dan berjalan cepat menuju kamarku.
Malam ini hatiku hancur untuk kedua kalinya. Ibuku meninggalkanku dan tunangan yang aku cintai, dengan mata kepalaku sendiri kulihat sedang bersama adik tiriku. Bercinta.
Ya Tuhan, rasa sakit apa ini yang menghujam jantungku. Aku merasa dadaku terbakar sekaligus membeku disaat yang sama. Ingin aku mencabut jantungku dan membuangnya sehingga aku tidak akan lagi merasa kepedihan ini. Aku berguling-guling kesakitan dan menahan segala amarah yang tak bisa kukendalikan lagi. Malam jahanam ini tidak akan pernah aku lupakan dan mereka akan membayar semua pengkhianatan yang telah mereka lakukan. Tunggu saja.

¤¤¤¤

“Helena!” Ayah tampak terkejut melihatku sudah duduk di meja makan dan sedang menikmati sarapan pagiku.
Tentu saja tidak ada yang menyangka bahwa aku secepat ini pulih dari kesedihan. Sejujurnya aku masih bersedih dengan kepergian ibuku, tetapi aku tetap harus melanjutkan hidupku. Dan membalas perlakuan jahat yang telah mereka lakukan dibelakangku.
“Pagi ayahanda!” Sapaku dengan suara sesopan dan dingin seperti biasa.
Aku menatap raut wajah ayah yang semakin tua dan terlihat menderita. Dulu aku membenci ayah yang menikah lagi dengan seorang janda beranak satu itu. Tetapi apa yang kulihat tadi malam, sedikit merubah pandanganku padanya. Ayah juga mencintai ibu dan menderita seperti diriku.
“Helena, kau sudah sehat sayang?” Terdengar suara lembut yang mendayu-dayu menyapaku.
Tidak perlu melihat, sudah pasti itu ibu tiriku yang berpura-pura perhatian padaku. Dan anak perempuan jalangnya. Mereka duduk di seberang kursiku.
Aku mengoleskan madu pada rotiku dan mengigitnya.
Lalu sebuah sosok muncul dari sudut tatapanku. Pria tampan dengan penampilan yang sangat necis. Fabian. Aku malas melihat sampah seperti dirinya dan lebih memilih memperhatikan rotiku.
“Pagi Helena!” Ia mendekat dan berusaha mengecup pipiku. Namun cepat aku membuang muka ke samping.
“Euuh, kau bau busuk!” Ujarku sangat keras.
Ia terkejut mendengar ucapanku. Namun aku tidak memperdulikannya. Aku menepiskan tangannya yang tadi menyentuhku.
“Lain kali kau harus membersihkan dirimu sebelum dekat-dekat denganku. Hidungku sangat sensitif dengan bau-bauan yang tidak enak. ” Kataku dengan nada dingin dan tanpa perasaan.
Fabian tampak terpukul namun aku merasa belum puas sampai disini.
“Ayah, aku sudah memutuskan akan menunda pernikahanku. ” Ucapku dengan nada tenang.
Ayahku menatap penuh perhatian. Sementara Fabian kembali merasa terkejut dengan keputusanku.
“Mengapa?” Tanyanya dengan nada tercekat.
Aku mendesah dan mulai menikmati dominansi terhadap percakapan ini.
“Aku tidak yakin kau mampu menjadi pengganti ayahku kelak. Dengan latar belakang keluargamu dan pendidikanmu, aku rasa kau kurang kompeten untuk menjadi suamiku. ” Kataku dengan ringan dan menghadiahinya sebuah senyuman kecil.
Ayahku tampak berpikir keras namun tidak mencegahku.
“Ada apa denganmu Helena?” Tanya Fabian dengan mata terbelalak.
Terkejut mendengar kata-kata menusuk yang baru saja meluncur dari bibir ini.
“Bagaimana menurutmu ayah? Sebagai putri tunggal dari seorang Duke Of Ollerton sudah sepantasnya jika aku menikahi seorang bangsawan yang sederajat denganku atau paling tidak yang memiliki kekayaan sama denganku. ”
Ayah menatapku dengan pandangan menyelidik, “Apa kau ingin memutuskan pertunanganmu nak? Kenapa?” Tanyanya dengan nada lembut.
Aku mengerjapkan mataku. Membayangkan apa yang telah aku lihat semalam dan menguatkan hatiku.
“Tadi malam aku sudah melihat pencerahan ayah. Selama ini ayah juga kurang setuju dengan hubungan ini, jadi aku memutuskan akan mengikuti keinginan ayah saja. ”
Aku melirik pada Fabian dan si pelacur kecil yang terlihat ketakutan.
“Aku rasa Fabian bisa mengerti keinginanku. Karena ia sangat mengerti wanita. Bukankah begitu?” Aku mengerling pada Fabian yang tampak pucat dan ingin muntah.

¤¤¤¤

Di ruang bacaku. Aku duduk dengan anggun dan menyandarkan tangan pada pegangan kursi empuk kesayangan ibuku.
Terdengan suara langkah tergesa dan pintu dibuka dengan buru-buru.
Fabian muncul dengan wajah berkeringat dan terlihat marah.
“Apa yang kau lakukan?” Katanya dengan suara kasar.
Aku melirik padanya dan menghembuskan napas perlahan.
“Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. ” Ucapku dengan nada ringan.
“Memutuskan pertunangan tanpa alasan?” Teriaknya histeris.
Aku menatapnya dengan pandangan merendahkan.
“Apa kau pikir aku melakukannya tanpa alasan?” Kataku dengan sinis.
Ia menatapku dengan pandangan menilai.
“Apa maksudmu?” Tanyanya dengan wajah tanpa dosa.
Aku merasa sangat muak dan ingin mencakar wajah itu.
“Aku melihatmu meniduri pelacur itu, Fabian.”
Aku mengerjapkan mata dan mempertahankan wajah tanpa ekspresi.
“Aku…aku..tidak..! Itu hanya..” Terbata-bata ia berusaha membela diri.
“Oh, aku tahu perempuan itu yang menggodamu duluan. ”
“Itu benar. ” Sergahnya dengan nada keras.
“Tapi aku paling tidak suka barang milikku disentuh orang lain. Jika aku tidak dapat memilikinya aku akan menghancurkannya. ” Kataku dengan nada tenang.
Fabian semakin pucat dan berlutut memohon maaf padaku. Ia memegang jemariku dengan wajah memelas.
“Singkirkan tangan kotormu. Dan segeralah menghilang dari hadapanku. ” Aku menepis tangannya dengan angkuh.
Lalu segera bangkit dari dudukku, persetan dengan rengekan dan permintaan maafnya.
“Larilah Fabian, sebelum aku gelap mata dan membunuhmu. ” Ancamku sebelum meninggalkan ruangan ini.

¤¤¤¤

Tiga bulan setelah Fabian pergi, keheningan pagi di rumah kami dipecahkan dengan suara muntahan seseorang. Aku yang kebetulan sedang sarapan dengan ayahku, tidak merasa heran melihat perempuan itu mual-mual dan ingin muntah.
“Apa Bonnie sakit?” Tanya ayah pada ibu tiriku yang gugup.
Aku memotong sosisku dengan pisau, menyuapkan potongan besar ke dalam mulutku.
Sampai kapan ia bisa menutupi kehamilan putrinya? Pikirku dalam hati.
“Biarkan Dokter Talbot memeriksanya ayah. ” Kataku sambil tersenyum pada ibu tiriku.
“Tidak ada penyakit yang tak bisa diobatinya. Benarkan ayah?” Kataku sambil meminta persetujuan ayahku.
Ayah lalu menyuruh seorang pelayan mengirim kereta kuda, untuk menjemput Dokter keluarga kami itu.
Aku menyesap tehku dan meninggalkan meja makan dengan sopan.
Beberapa jam kemudian aku mendengar keributan di ruang baca ayahku.
“Oh, sudah dimulai. ” Kataku pada diri sendiri dan berjalan menuju sumber suara gaduh itu.
Aku melihat wajah ayah memerah dan ibu tiriku menangis dengan wajah pucat.
“Helena!” Ayahku menatapku dengan pandangan sedih.
“Jadi ini alasan kau memutuskan pertunangan dan Fabian kabur begitu saja?” Tanya ayahku dengan suara lemah.
Aku memasang ekspresi terbaikku.
“Maksud ayah apa?” Tanyaku dengan bingung.
Ayah menutup matanya dan bersandar pada meja. Aku mendekatinya dan memegang lengannya.
“Apa yang terjadi yah?” Tanyaku dengan suara lembut.
“Bonnie hamil oleh Fabian. ” Ujarnya singkat.
Aku terdiam. Dan bayangan malam itu kembali menghantuiku.
“Apa benar itu ibu?” Tanyaku dengan nada tajam pada wanita yang sedang menangis itu.
“Helena, Bonnie diperkosa oleh lelaki itu. Ia tidak bersalah. Makanya lelaki itu kabur karena takut bertanggung jawab. Bonnie hanya gadis tak berdosa yang terjebak. ” Ia menangis dan memasang wajah paling menyedihkan yang pernah aku lihat.
“Bagaimana ini ayah?” Aku memandang ayah yang tampak kecewa dan terpukul.
“Ayah tidak tahu harus bagaimana, Helena. ” Bisiknya dengan raut wajah bingung.
“Paling tidak Bonnie harus menikah dengan seseorang, untuk menutupi aib ini. ” Kataku memberi usul.
“Bagaimana dengan Fabian?” Kata ibu tiriku.
“Kalau ibu tahu ia dimana, kita bisa menyeretnya untuk menikahi Bonnie. ”
Aku menatap wajahnya yang terlihat bingung. Aku tentu saja tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia setelah mengkhianatiku. Enak saja.
“Ayah ingat dengan Kolonel Strauss?” Kataku pada ayahku.
“Tidak. Jangan dia. ” Kata ibu tiriku dengan cepat.
“Kolonel Strauss pria yang baik. ” Ujarku dengan nada meyakinkan.
“Tidak. Dia sudah tua, punya banyak istri dan, Ya Tuhan. Bonnie tidak mungkin menjadi istrinya. ” Pekiknya keberatan.
“Ibu, siapa yang mau menikahi wanita yang hamil oleh pria lain? Bonnie tidak punya banyak pilihan. ”
Aku menatapnya dengan pandangan meremehkan.
“Jangan dia. Bagaimana dengan anak teman-teman ayahmu saja?”
Aku mendengus kesal. Bangsawan mana yang mau menikahi wanita bejat yang mencuri tunangan kakak tirinya dan hamil diluar nikah? Menipu orang lain akan berakibat buruk, apalagi menipu seseorang dengan kedudukan tinggi dimasyarakat. Kau ingin mati rupanya? Aku menatapnya muak.
“Bagaimana dengan salah satu dari pekerja atau pelayan di rumah ini?” Kata ayah dengan suara getas.
Wanita itu memekik kaget.
“Pekerja, pelayan. Tidak. Sayang bagaimana mungkin Bonnie menikahi kaum rendahan seperti itu?”
Ia mengeleng-geleng dan mendekati ayahku.
Ayah menatapnya dengan tajam.
“Sebelum menikah denganku, kau juga berasal dari kaum seperti itu. Dan apakah benar Bonnie diperkosa? Mengapa ia diam saja selama ini? Atau jangan-jangan memang Bonnie berniat mencuri tunangan kakaknya?” Sergah ayah sangat marah.
Wanita itu tampak ketakutan dengan kemarahan ayahku.
“Ayah, kita tidak bisa membiarkan masalah ini. Perut Bonnie tidak akan bisa ditutupi dan dia harus menikah dengan seseorang. Secepatnya!” Putusku sambil menenangkan ayah.
Ayah menatapku dengan pandangan sayang dan rasa sedih. Aku mengerti perasaan ayah, tapi ia tidak tahu aku lebih kuat dari yang ia bayangkan.
“Aku akan mengurus semuanya. Ayah tidak perlu cemas. ” Aku menepuk-nepuk lengannya dan berusaha tersenyum.

¤¤¤¤

Aku duduk berdiri menghadap ke balkon kamarku. Dan menatap jauh keluar, tanah milik keluargaku sangat luas.
“Kau sudah mendapatkan orang yang mau menikahi Bonnie?” Ucapku dengan nada dingin.
“Putra kedua dari Earl Norrington kandidat terbaik yang bisa menikahi Bonnie. ”
Aku berbalik dan menatapnya yang sedang duduk dikursi.
“Kau ingin menipu bangsawan? Kau sudah siap dengan hukumannya bila ketahuan?” Tanyaku dengan nada ringan.
“Bonnie harus menikah dengan pria bangsawan yang terhormat. ” Pekiknya dengan cepat.
Aku tertawa mendengarnya.
“Siapa yang mau menikahi gadis pendosa seperti dia? Seharusnya ia kubuang ke rumah bordil. ” Ucapku dengan intonasi bosan.
Ibu tiriku tercekat.
“Kau sangat kejam. Kau tidak berniat membantu. Kau iri pada Bonnie dan ingin menghancurkan masa depannya. ” Ujarnya dengan histeris.
“Iri!” Aku mengutip perkataanya.
“Siapa putri dikeluarga ini? Dan siapa yang telah mencuri tunanganku? Apa kau tidak bisa melihat, Bonnielah yang iri terhadapku. ” Kataku dengan getas.
Dua minggu setelah itu Bonnie menikah dengan seorang bangsawan kampung yang sudah tua dan punya banyak anak dan istri. Dia tidak akan mempunyai kesempatan menjadi seorang lady terhormat. Karena bangsawan tersebut ternyata tidak mempunyai harta apa-apa.
Aku terus-terusan menahan tawa dan rasa puasku yang berlebihan. Bonnie yang barus berusia 18tahun menikahi seorang kakek jelek berusia 67tahun. Yang punya 5 orang istri dan 12 anak. Tinggal dikampung dan melarat. Itulah hidup yang cocok untuknya.
Ibunya menangis dengan histeris tetapi tidak dapat berbuat apapun. Bonnie juga menangis dengan keras tetapi tidak seorangpun akan menolongnya. Aku akan memastikan hidupnya sengsara dan penyesalannya tidak pernah berguna.
Dan yang tidak mereka ketahui adalah aku baru saja menerima telegram dari seseorang yang kubayar untuk mengikuti Fabian. Kabar terakhir yang aku dapatkan adalah Fabian terkena penyakit kelamin yang parah dan saat ini sedang di rawat disebuah rumah sakit kota sebelah. Kemungkinan untuk sembuh ada namun keadaannya jauh lebih buruk daripada mati. Karena Fabian akan kehilangan organ pentingnya dan tidak bisa punya anak lagi. Dan aku tidak bisa menjamin Bonnie juga tidak tertular penyakit ini.
Sungguh suatu tontonan yang menarik bukan. Semua akan kembali keposisinya masing-masing dengan bagian yang sudah seharusnya. Dan bagaimana denganku? Ah. Tak usah kau khawatirkan diriku. Aku seorang Lady terhormat yang baru berusia 19tahun. Aku cantik, kaya dan pintar. Tidak akan kekurangan orang yang akan melamar dan bersedia menikahiku. Tetapi tidak semudah itu menjadi suamiku. Aku sudah belajar bahwa cinta saja tidak cukup dan dengan kedudukanku yang seperti ini banyak pria yang berpura-pura mencintaiku padahal hanya mengincar harta dan kekuasaan keluargaku seperti Fabian. Jadi aku akan mencari pria yang sama dari kalanganku, yang punya harta dan kedudukan tinggi. Sehingga aku yakin ia tidak punya niat jahat terhadapku.
Dan ia harus punya moral yang baik, tidak rendahan seperti binatang. Yang baru digoda sedikit langsung lemah iman. Aku yakin masih ada pria baik seperti itu dan aku pasti mendapatkannya.
Aku percaya tiap manusia punya sisi terbaik dalam hidupnya dan inilah sisi gelapku yang terungkap. Aku sebenarnya gadis baik tetapi merekalah yang memaksaku menjadi kejam. Bukankah seorang penyair pernah mengatakan “Kita semua seperti bulan yang bercahaya terang, tetapi kita juga pasti memiliki sisinya yang gelap.” Seperti itulah aku dan kita semua.

Even If I Die, I Can’t Let You Go (Part 2)

“Bagaimana keadaan Kira?” Tanya manajer Sho saat menjemput Hyde dari flat Kira.
“Ia membaik. ” Ujar pemuda tampan itu.
Manajer Sho memperhatikan ekspresi wajahnya yang datar.
“Dia gadis yang baik. ” Katanya lagi.
“Aku tidak pernah bisa mengerti hubungan kalian selama bertahun-tahun. Kalian bersama, saling bergantung, menjaga dan rasanya semua itu lebih dari cinta. ”
Manajer Sho memandangnya lurus, “Kau sudah tidak bisa menyembunyikannya lagi. ”
Hyde menoleh sekilas. “Apa terlihat begitu jelas?” Tanyanya dengan nada biasa.
“Tentu saja!” Jawab pria berusia 40tahun ini cepat.
“Tapi Kira tidak pernah menyadarinya. ”
Nada suaranya terdengar dingin dan kecewa.

“Aku senang akhirnya kau mengajakku bertemu. ”
Ryosuke terlihat tulus mengatakannya. Kira membuang pandangannya jauh ke luar jendela kafe. Jujur, hatinya masih sakit bahkan hanya dengan menatap pemuda ini. Tetapi semua harus diselesaikan dengan cepat supaya sakitnya tidak lama.
“Aku merindukanmu!” Bisiknya lembut.
“Kita putus saja. ” Ucap gadis itu dengan nada terdengar lelah.
Ryosuke terkejut dan menarik telapak tangan Kira.
“Kau serius?” Ucapnya tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
Kira menarik tangannya lembut, “Aku tidak tahu cara berpisah dengan baik. Tapi setidaknya aku ingin mengucapkan selamat tinggal yang layak. Dan terimakasih untuk semuanya. ”
Ia bangkit dan membungkuk hormat.
“Selamat tinggal, Ryosuke!”

Kira menyandarkan kepalanya pada bahu kekar Hyde. Pemuda itu diam saja, bahkan saat Kira merangkul lengannya erat.
“Kau wangi sekali. ” Ujarnya menggoda pemuda ini.
Hyde menoleh padanya, tersenyum lemah.
“Dan kau selalu cantik. ” Ucapnya dengan nada ringan. Seolah mengomentari cuaca hari ini.
“Apa kau selalu semurah hati ini memuji?” Kira tertawa riang.
“Apa menurutmu begitu?” Hyde balik bertanya dengan alis mencuat.
“Hanya kau yang suka menjawab pertanyaan dengan bertanya. ”
Hyde menatapnya dengan pandangan tajam, seolah dengan begitu ia bisa melihat isi hati Kira. “Kira menurutmu aku apa?” Tanyanya dengan nada dan raut muka serius.
“Kau yang paling penting. ”
Hyde diam, memandangnya tak bergeming.
“Hanya kau yang aku punya. ”
Hyde berkedip, tapi masih diam.
“Aku sudah sangat bersabar. Sudah sejak lama aku ingin melakukannya, tetapi aku tidak yakin kau juga menginginkannya. Sekarang aku tidak bisa menahannya lagi, jadi aku akan melakukannya dengan benar. Kali ini kau harus melihat aku yang sesungguhnya, karena aku tanpa rasa malu akan menjadikanmu milikku. ”
Ucap Hyde bersungguh-sungguh di dalam hati.
“Hibino Kira, mulai saat ini kau harus lebih hati-hati. ”
Kata Hyde yang tiba-tiba membuat Kira heran.
“Kenapa? Kau ingin menceramahiku lagi! ” Ujarnya dengan bibir cemberut.
“Tidak. Hanya saja aku akan memperlakukanmu lebih baik lagi. ”
Hyde memamerkan senyum terbaiknya, yang membuat Kira semakin heran.
“Kau kasihan padaku? Ini bukan apa-apa Hyde.”
Gadis itu duduk dengan tegak dan wajahnya berubah sangat serius.
Hyde kembali tersenyum lemah, dan menangkupkan kedua belah tangannya pada bahu gadis berambut panjang ini. Mengapa ia berpikir lamban sekali soal ini? Desah Hyde.
“Aku selama ini di sampingmu, sedekat ini. Bukan karena rasa kasihan. Kalau bagimu aku penting dan hanya aku saja milikmu, perasaanku jauh lebih besar dari itu. Mungkin terdengar klise kalau kubilang selama ini bagiku cuma ada kamu, tapi itu kenyataannya. ”
Kira tampak sangat terkejut, mungkin ia mulai memahami arah pembicaraan Hyde.
“Aku ingin kita lebih dari sekedar teman. Tapi aku tidak akan memaksamu, aku hanya akan berusaha sangat keras membuatmu suka padaku. ” Ujarnya lagi dengan mimik wajah sangat serius.
“Dan aku akan melakukannya dengan segala cara. Seperti selama ini. ” Bisik Hyde di dalam hatinya.
Hyde tersenyum dengan sudut mata yang bersinar berbeda.
“Kau mengertikan?” Hyde mengelus kepala Kira yang wajahnya kini sangat merah.
Malu, bingung dan terkejut. Ia bahkan tidak tahu harus berkata apa.

¤¤¤¤

Hyde semakin gencar mendekatinya. Seakan tidak ingin memberikan kesempatan bagi Kira untuk berpikir lagi. Ia selalu menyempatkan waktu untuk menemui Kira meskipun hanya sebentar. Memaksa Kira mengikuti kelas olah raga, perawatan gigi dan kecantikan yang sama dengannya. Memberikan Kira membership beberapa klub yang diikutinya. Kira tidak bisa menolak karena Hyde bilang ini gratis. Karena Hyde secara tidak langsung sudah mempromosikannya, dengan memakai jasa dan produk mereka.
Hyde tahu ia terlihat licik dengan mendekati Kira saat gadis ini baru saja putus dengan mantannya. Tapi Hyde sudah tidak perduli dengan apapun. Hyde sudah tidak mau lagi menahan diri. Terlalu lama ia berada dizona nyaman, dimana hatinya diam-diam terluka melihat Kira bersama orang lain. Atau saat dimana dirinya yang bersama gadis lain namun Kira malah menyemangatinya untuk bersikap setia. Padahal yang ia inginkan hanyalah Kira. Selalu dirinya yang memenuhi pikiran Hyde.
Jadi mulai saat itu Hyde hanya akan melihat Kira dan tidak akan menyembunyikan perasaannya lagi.
Pemuda itu tahu Kira mulai merasa canggung, berbeda dan melihat dirinya dengan pandangan yang lain. Kira berusaha untuk menutupinya dengan bersikap biasa tapi Hyde tidak bisa dibohongi. Ia malah dengan sengaja menggoda gadis cantik ini.

Mereka berada di sebuah klub malam dengan beberapa orang teman. Kira duduk dengan senpai Aibara yang datang bersama suaminya. Hyde yang datang belakangan dengan manajernya tampak sangat mencolok. Segera saja ia menjadi pusat perhatian wanita-wanita cantik di tempat ini. Tanpa ragu ia langsung duduk di samping Kira dan meneguk isi gelas ditangan gadis ini.
“Jangan minum lagi!” Ucapnya usai menyesap minuman Kira.
“Kalau kau mabuk dan tersesat di mansionku lagi, aku tidak bisa menjamin tidak terjadi apapun. ” Bisiknya ditelinga Kira tanpa didengar oleh yang lain.
Wajah Kira memerah seperti tomat masak. Ia menunduk berusaha menyamarkan pipinya dengan bingkaian rambut hitamnya.
“Kau tidak akan berani. ” Balasnya pada Hyde.
Pemuda itu tersenyum nakal, “Coba saja dan jangan menyesal. ”
Ia mengalungkan lengannya di pundak Kira saat melihat beberapa wanita ingin mendekat. Ia mendekatkan wajahnya kepada Kira.
“Mengapa wajahmu sangat merah? Kau mabuk ya? Kuantar pulang ya.”
Ia kembali tersenyum nakal, menatap Kira dengan mata tajamnya.
Gadis itu bangkit dan permisi ke toilet. Hyde benar-benar player. Makinya dalam hati saat menenangkan diri di kamar mandi yang ramai.
Aku tahu semua kelakuan buruknya dan trik yang selalu digunakannya untuk menggoda gadis-gadis. Dan sialnya kenapa aku malah jadi merasa malu-malu dan sedikit berdebar. Hideaki brengsek. Rutuknya sendiri.
Lalu saat ia keluar dari toilet, ia melihat Hyde sedang bersandar di dinding, menunggunya. Dengan senyuman yang bisa membuat gadis-gadis mabuk. Ah, benar-benar pemuda ini.
“Kau mau apa?”
Kira bersedekap dan berdiri menantang Hyde yang tinggi menjulang di hadapannya.
Hyde tersenyum, “Mengantarmu pulang. Kau sudah mabuk. ”
Ia mengalungkan lengannya kepundak gadis setinggi 160cm ini.
“Aku baru minum sedikit dan itupun kau rebut. ”
“Bagaimana kalau minum di rumahku saja? Aku punya banyak persediaan. ” Hyde tersenyum manipulatif.
“Hideaki ada apa denganmu? Aku jadi merasa aneh padamu. ” Ujarnya kesal. “Aku bingung harus bagaimana menghadapimu. ” Ungkapnya dengan jujur.
Hyde menatap ke dalam bola mata hitam yang sedang memandangnya dengan hati resah.
“Kau bingung, resah dan tak tahu berbuat apa. Sedangkan aku sudah merasakannya dari bertahun-tahun lalu dan semua itu karenamu. Jadi sekarang bisakah kau mengerti betapa leganya perasaanku sekarang?” Ujarnya dengan nada hati-hati seperti menjelaskan perkara yang sulit.
Kira diam sepanjang perjalanan pulang. Kenyataan bahwa sahabat terbaiknya Hyde menyimpan perasaan padanya sudah sangat mengejutkan baginya. Terlebih ia sama sekali tidak pernah menyadarinya. Lalu dengan ia mengetahui semuanya sekarang malah membuatnya merasa bingung. Ia memang menyayangi Hyde lebih dari apapun tetapi menjadi sepasang kekasih bersamanya, apakah itu yang terbaik? Hyde seorang pematah hati, bagaimana bila kelak bosan dan meninggalkannya? Kira tidak yakin dengan Hyde dan dirinya sendiri.
Hyde bukannya tidak menyadari kegelisahan gadis ini. Ia menyadari apa yang Kira rasakan dan ia memakluminya. Ia akan membiarkan Kira terbiasa dan pada akhirnya menerima keadaan ini. Ia akan membangun kepercayaan Kira perlahan-lahan. Toh sudah lama sekali ia tidak berhubungan dengan wanita lain karena kesibukannya yang padat. Dan ia sendiri sudah lelah mencari kesenangan yang semu sementara yang ia inginkan hanya gadis ini, Hibino Kira.
Kau tidak tahu apa yang sudah aku lakukan untuk sampai pada saat ini. Ucapnya dalam hati saat melihat Kira yang masih terdiam.

¤¤¤¤

Sudah sebulan lamanya Hyde menghilang. Tidak muncul dimanapun. Dan tidak pernah mengabarinya sedikitpun. Hyde sedang syuting film di luar negeri. Indonesia, Cina dan India. Proyek kerjasama dengan Warner Bros dan film internasional pertama Hyde. Kira mengerti saat Hyde mengatakan akan memberikan waktu untuk ia memikirkan kelanjutan hubungan mereka. Tapi tidak disangkanya dengan benar-benar menjauhinya. Bahkan Hyde tidak pernah membalas email yang ia kirim, itu benar-benar menyakiti harga dirinya. Ia menelefon Manajer Sho tetapi selalu saja tidak berhasil berbicara dengan Hyde. Kira sangat kesal.
Apa benar ia sesibuk itu, sampai tidak bisa mengirim 1 pesan singkat saja. Hyde brengsek. Maki gadis ini pada foto Hyde di layar ponselnya.
Kira mendesah. Sebenarnya ia tidak terlalu marah pada pemuda itu, ia hanya merindukannya. Belum pernah mereka tidak berkomunikasi sampai selama ini, bahkan saat mereka berantem sekalipun. Hyde tetap akan membalas pesan dan email yang ia kirimkan. Apa ia sengaja melakukan ini? Pikir Kira gelisah.

“Kira menghubungiku lagi. ”
Manajer Sho memperlihatkan layar ponselnya. “Sepertinya ia cemas juga sedikit marah padamu. ”
Hyde tersenyum lalu melihat layar ponselnya sendiri, kembali membaca email yang dikirim gadis itu beberapa jam yang lalu.
“Ia merasa sangat terganggu dan itu membuatnya marah. ”
Hyde senyum-senyum sendiri.
“Tinggal beberapa scene lagi dan lusa kita sudah bisa balik ke Tokyo. ” Cetusnya dengan nada gembira.
“Kau tidak ingin berjalan-jalan dahulu, istirahat. Mumpung sedang di luar negeri. Jarang sekali kita bisa berlibur.” Kata manajernya sambil mengecek jadwal Hyde ditablet pcnya.
“Aku ingin segera menemuinya. ” Ucapnya dengan senyum terkembang. Manajer Sho mendesah lalu berkata, “Baiklah. Aku pesan tiket pesawat penerbangan pertama. ”
“Terimakasih, Manajer. Aku mencintaimu. ” Hyde memeluk pria setengah baya yang berpostur pendek dan gemuk ini.
“Hah, dasar berandalan. Selalu menyusahkan saja dari dulu. ” Ucapnya dengan nada merajuk. Namun tak urung manajer Sho tersenyum juga saat Hyde kembali bersemangat melakukan syuting dicuaca yang sangat panas.
Kira muncul dengan penampilan kacau. Segera setelah mendarat di bandara, manajer Sho menghubunginya. Memberitahu Hyde sudah pulang dan mendapat kecelakaan saat syuting di India. Dengan gemetar ia mengetik password di pintu mansion mewah Hyde. Setengah berlari ia masuk dan melihat ruang tengah yang terang benderang. Tas dan koper Hyde masih tergeletak di lantai. Gadis ini berjalan ke kamar utama, ia mendengar suara orang bercakap-cakap di sana.
“Hai!” Hyde menyapanya dan tersenyum lebar.
Manejer Sho ikut menyapanya dan menjelaskan “Ia tertimpa properti saat buru-buru ingin menyelesaikan syuting. Untung hanya keseleo dan luka kecil dilengan saja. Tapi berita di media berbeda, yah lumayan untuk promosi film. ”
Kira hanya menatap Hyde yang memamerkan luka disikunya dan tersenyum-senyum padanya.
“Yah, sepertinya keadaanmu cukup baik. Aku pulang saja. ” Ia berbalik keluar dari kamar.
“Hei, tunggu. ” Hyde mengejarnya dan menahan bahunya.
“Manajer Sho, anda bisa pulang sekarang. Ada yang harus kami bicarakan berdua. ” Perintahnya pada pria yang murah senyum itu.
“Baiklah. Aku menganggap kalian berdua sudah dewasa dan bertanggung jawab. Tolong jangan membuat masalah. ” Ujarnya sambil berjalan keluar.
Kira dan Hyde duduk di sofa ruangan tengah.
“Kenapa kau marah?” Hyde menatapnya tajam.
Kira membalas menantang. “Karena kau tidak pernah menghubungiku dan kembali dengan bersikap biasa saja. ” Katanya dengan nada dingin.
“Aku ingin memberikan waktu supaya kau bisa berpikir dengan jernih. Aku sengaja tidak menghubungimu dulu sampai pekerjaanku selesai, baru menemuimu. ” Hyde berusaha memberikan penjelasan.
“Tapi aku kesal diabaikan seperti itu. ” Cecar Kira dengan emosi.
“Aku membaca semua pesan dan emailmu. Manajer Sho juga selalu memberitahuku tiap kali kau menghubunginya. ” Hyde tersenyum, mencoba melunakkan hatinya. Ia menyentuh lengan gadis ini lembut.
“Aku merindukanmu, sangat. ” Bisiknya dengan mata bersinar lembut.
“Aku nyaris gila menahan diri untuk tidak menghubungimu. Tapi aku harus melakukannya supaya kau sadar arti keberadaanku bagimu. ” Ucap Hyde di dalam hati.
“Aku kehilangan. Dan rasanya tidak menyenangkan saat tidak ada dirimu. Aku tidak tahu, tetapi rasanya seperti hidupku tidak lengkap tanpa kau. ” Ucap Kira jujur.
Hyde memeluknya dengan perasaan bersyukur, “Itu sudah cukup. ” Katanya dengan suara bergetar.
Kira membalas pelukannya.
“Jangan seperti ini lagi, Hyde. Bukankah aku sudah pernah bilang kau satu-satunya yang aku punya. Apapun yang terjadi pada kita, tolong jangan membuat aku merasa tidak memiliki apapun lagi. ”
Hyde mempererat pelukannya, “Maafkan aku. ” Bisiknya merasa bersalah.
“Kira, bisakah kau menginap disini?” Tanya Hyde tanpa melepaskan pelukannya.
Kira menarik badannya dan menatap langsung ke wajah pemuda itu.
“Aku hanya ingin bersamamu malam ini. Aku janji tidak akan bersikap kurang ajar. Apa kau percaya?” Katanya lagi dengan mimik muka serius.
Kira masih menatapnya, meneliti ekspresi di wajahnya.
“Seharusnya aku sudah lama menyadari, bahwa bagaimanapun kau adalah lelaki juga. ” Ucapnya pada akhirnya.
Hyde tertawa keras.
“Kau memang lamban. Untung saja aku bukan lelaki yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan. ” Ujarnya dengan sisa tawa di wajah tampannya. “Kau bisa percaya padaku, cantik!” Katanya lagi.

¤¤¤¤

Manajer Sho melihat pada pemuda yang sudah bertahun-tahun ia urus dan jaga. Baginya Hyde bukan hanya sekedar artis tetapi sudah seperti adiknya sendiri. Pemuda yang sangat cerdas dan ambisius namun ia selalu menutupinya dengan bermain-main. Hyde bisa bersikap menyenangkan sekali bila ia mau dan menjadi brengsek sekalian bila ia memang menginginkannya. Terkadang ia sangat manipulatif bila menginginkan sesuatu tanpa harus mengotori tangannya sendiri. Namun sejauh ini Hyde masih bisa menahan dirinya dengan tidak melakukan kesalahan yang fatal. Ia masih mempertimbangkan kecintaannya pada akting yang sudah digelutinya dari usia muda.
“Usai promo film ini, aku tidak akan cepat-cepat mengambil proyek film lainnya. ” Ucapnya sambil memperhatikan rangkaian berita film yang baru saja premier di bioskop.
Filmnya mendapat respon positif dan jumlah penontonnya semakin meningkat. Bahkan masuk box office di Amerika dan Eropa. Dan merajain box office di Benua Asia. Hyde cukup puas dengan hasilnya.
“Apa yang akan kau lakukan? Aku dengar Quentin Tarantino sedang mencari aktor Asia untuk proyek terbarunya. Rain dari Korea, Takeshi Kaneshiro dan beberapa aktor lainnya sudah menghubungi perwakilan mereka di luar negeri untuk mendapatkan kesempatan audisi. ” Kata Manajer Sho memberitahunya.
“Dengan modal film terakhirmu ini, aku rasa cukup untuk membuatnya tertarik padamu. ” Tambahnya lagi.
“Bisakah aku mendapat kesempatan audisi?” Tanyanya dengan nada biasa. Manajer Sho mendesah, melihat Hyde sepertinya tidak begitu antusias.
“Apa yang kau pikirkan? Ini kesempatan besar. Kau bilang menyukai semua filmnya Tarantino. ” Unggahnya dengan nada kesal.
“Aku juga suka Tim Burton. Tapi akukan bukan Jhony Depp. ”
Hyde mendesah lagi, tidak bersemangat.
“Apa hubunganmu dengan Kira tidak lancar?” Tebak manajernya langsung.
“Justru kami lagi bahagia. ” Jawabnya dengan cepat.
“Lalu?” Tanyanya tidak mengerti.
“Aku merasa hubungan kami belum stabil bila kami belum menikah. ” Ujarnya dengan nada yang berbeda.
“Menikah?” Ulang manajernya dengan kaget.
“Kau ingin menikah?” Katanya lagi, tidak mempercayai kata-kata itu keluar dari mulut Hyde.
“Aku ingin menikahi Kira. ” Ujarnya dengan tenang dan tampak sudah memikirkanya dengan matang.
“Apa dia hamil?” Tanya manajer Sho hati-hati.
“Aku berharap bisa seperti itu. Tapi hubunganku dan kira tidak begitu, kau mengerti maksudku. ”
Hyde tampak sedikit tertekan.
Manajernya tertawa terbahak-bahak.
Sungguh ia tidak menyangka Hyde bisa menahan diri selama itu untuk seseorang seperti Kira.
“Kira gadis yang hebat. Bisa menjinakkan playboy sepertimu. ” Imbuhnya dengan nada puas.
Hyde menatapnya kesal, “Makanya aku ingin menikah. Sekarang. ” Katanya dengan nada getas.

“Menikah?” Ulang Kira tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar.
“Kau tidak ingin menikah denganku?” Tanya Hyde dengan nada menuntut.
“Aku bahkan belum memikirkan untuk menikah. Dan bagaimana dengan karirmu bila kau memutuskan menikah? Para penggemarmu. ”
Hyde mendecak kesal. “Aku sudah membicarakan ini pada manajer dan Agencyku, mereka malah menyambut baik. Katanya ini bagus untuk imageku yang baru. Tetapi masa kau tidak pernah memikirkan menikah denganku?”
Aku selalu berpikir kalau kau yang akan jadi istriku, tidak pernah gadis lain. Pikir Hyde dengan gemas.
Kira menyentuh lengan Hyde dan bersandar padanya. Hyde merangkulnya dan menumpangkan dagunya pada kepala gadisnya.
“Aku berharap novel ketigaku ini bisa sukses dan filmmu selanjutnya jauh lebih sukses. Tetapi menikah, aku belum memikirkannya. ” Ujar Kira sambil mendesah.
“Kita bisa tetap melakukannya sambil menikah. ” Hyde berusaha membujuknya.
“Sambil berpacaran juga. ” Kata Kira tidak mau kalah.
“Tapi ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan orang yang berpacaran. ” Kata Hyde mulai kesal.
“Apa?” Kata Kira tidak percaya.
Hyde menggeleng tidak percaya, “Kau ini benar-benar polos atau bodoh sih. ” Ujarnya dengar nada kecewa.
“Maksudmu apa?” Kira tersinggung.
“Kau benar-benar ingin tahu?” Tanya Hyde lagi.
Ia lalu membungkuk dan membisikkan sesuatu ke telinga gadis ini. Seketika wajah Kira memerah sampai ketelinga dan pangkal lehernya. Ia mengebuk bahu Hyde dengan kesal.
“Aduh, kenapa memukulku?” Hyde mengusap bahunya yang telak kena genggaman Kira.
“Kau laki-laki mesum. ” Pekiknya kesal.
Hyde tertawa lirih.
“Aku ini lelaki normal. Semua lelaki juga sama denganku. Selama ini aku bisa menahan diri di hadapanmu tapi belakangan ini aku semakin sulit menjaganya. ” Ucapnya dengan nada terdengar biasa.
“Alasan saja. Kau pikir aku percaya. ” Kata Kira menggeleng keras.
“Ya Tuhan. Kau pikir aku bohong. Coba lihat pakaianmu ini, rokmu terlalu pendek dan bahumu terlihat jelas. ” Hyde menunjuk kearahnya dengan tatapan spekulatif.
Ini kaos gombrong yang selalu dipakainya di rumah karena nyaman. Memang hanya menutupi setengah pahanya dan bahu bajunya longgar sehingga sering jatuh.
“Bukannya kau sering melihatku seperti ini?”
Kenapa gadis ini tidak mengerti juga. Dulu ia tidak berani macam-macam karena Kira pasti akan membencinya. Tetapi sekarang Kira adalah kekasihnya dan ia lelaki normal yang punya kebutuhan.
“Kita menikah saja. ” Ucapnya memohon pada Kira.
“Kau mungkin tidak mengerti malam-malam yang aku lewati tanpa dirimu disisiku. Berat rasanya dengan godaan yang begitu banyak. Bukannya aku ingin menyerah, tapi apa lagi yang harus kita tunggu untuk menikah. ” Ia tampak berhati-hati saat mengungkapkannya.
Kira memikirkan ucapan Hyde dan mulai menimbang keputusan yang akan dibuatnya.
“Beri aku waktu ya untuk memikirkannya. Menikah bukan masalah yang mudah. ” Putusnya setelah beberapa saat terdiam.
Hyde mendesah, sedikit kecewa.
Sepertinya Kira perlu sedikit dorongan untuk melakukan yang benar, pikir pemuda itu.

“Darimana datangnya gosip-gosip murahan ini?” Rutuk Manajer Sho saat melihat berita di internet yang beredar sangat cepat.
Hyde malah seperti tidak terpengaruh, ia sibuk melihat rekaman video yang akan dikirimkan untuk audisi film Quentin Tarantino. Ia memperhatikan secara seksama tiap detil ekspresi dari beberapa rekaman yang sedang diseleksi.
“Sudahlah, gosip itu tidak benar. ” Katanya dengan santai.
“Tapi ini bisa berpengaruh terhadap reputasimu untuk proyek terbaru. Ohya, Kira sudah tahu hal ini?” Kata manajernya dengan nada panik.
“Mungkin. ” Katanya tidak perduli.
Membuat manajernya merasa heran.
“Kau tidak takut ia salah paham?” Cecarnya lagi.
“Salah paham apa? Aku benar-benar tidak melakukannya kok. ”
Hyde kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Manajernya menatapnya dengan pandangan curiga.
“Kau tidak ada hubungannya dengan semua inikan?”
Hyde menoleh padanya, “Kan aku yang digosipkan. Bagaimana mungkin tidak ada hubungannya?” Ucapnya kesal.
Tapi manajernya justru merasa semakin ada yang aneh. Hyde sangat sibuk sehingga tidak punya waktu untuk melakukan hal-hal pribadi. Jelas ia sudah lama tidak bergaul dengan wanita lain dan hanya berkencan dengan Kira. Tapi darimana bisa muncul gosipnya dengan artis wanita lain. Kalau Hyde yang dulu mungkin saja, tetapi yang sekarang tidak mungkin. Dan mengapa ia sama sekali tidak perduli dan membiarkan saja masalah ini. Sama sekali buka Hyde yang biasanya.
“Kau sudah melihat berita itu?” Tanya manajer Sho saat bertemu dengan gadis itu.
Mereka sedang berkumpul di Bar milik Aibara. Dan Hyde sedang berbicara dengan beberapa temannya di meja lain.
Kira mendesah, “Sudah. ” Katanya singkat.
“Itu cuma gosip tidak benar. ” Katanya menenangkan.
“Tapi menyebalkan juga melihat orang-orang membicarakannya seolah mereka benar-benar tahu. ” Kira menatap Hyde dengan pandangan muram.
“Kau terganggu ya? Ini resikonya menjadi artis terkenal apalagi Hyde dulu memang terkenal plaboy. Orang-orang senang mendengar gosip tidak benar tentangnya. Apalagi orang-orang tidak tahu Hyde sudah punya kekasih, jadi setiap ada wanita yang dekat dengannya selalu digosipkan yang tidak-tidak. ” Kata manajer Sho tanpa bermaksud apa-apa.
“Hyde juga sepertinya tidak peduli orang-orang mau berkata apa padanya. ” Ujar Kira semakin muram.
“Ah, anak itu memang seperti itu. Selama ia menganggap dirinya benar, ia tidak akan bergeming. ” Tambah manajer Sho lagi.
Hyde datang dan duduk disebelah Kira, dengan tangan merangkul pinggangnya. Sedikit protektif.
“Bicara apa dengan manajer Sho?” Tanyanya sambil memegang gelas minuman.
“Soal gosip itu. ” Kata Kira pendek.
“Ah, nanti juga hilang sendiri. Kau tahu kadang-kadang ada orang yang sengaja membuat cerita untuk membuat sensasi. ” Ujarnya ringan.
Hyde meneguk minumannya.
“Aku tidak suka kau digosipi begitu. ” Kira memandangnya dengan tajam.
“Jadi aku harus bagaimana? Tidak semua orang menyukaiku. Sabar ya!”
Hyde mengusap punggungnya lembut.
“Kalau kita menikah, gosip itu akan hilangkan. ” Kata Kira mengejutkan.
“Aku tidak mau kita menikah hanya gara-gara gosip murahan. Kalau kita menikah itu karena kita yang ingin menikah, bukan karena hal lain!” Semburnya dengan marah.
“Bukan begitu. Tapi aku jadi berpikir kalau menikah adalah jalan terbaik agar aku merasa bisa tenang di sampingmu dan lebih mempercayaimu. ”
Hyde menatap Kira dengan pandangan menilai.
“Aku tentu saja ingin sekali kita menikah. ” Katanya dengan nada hati-hati.
“Lalu?” Kira menatapnya dalam-dalam.
“Bukan untuk menepis gosip, menyenangkan orang-orang dan memperbaiki imageku yang jelek. Tapi karena aku dan kau memang ingin dan sudah siap. ”
Hyde mengenggam tangan Kira dan tersenyum.

¤¤¤¤

Hyde tersenyum puas. Mereka baru saja mendaftarkan pernikahan mereka ke catatan sipil. Setelah sebelumnya melakukan upacara tertutup di kuil dan hanya dihadiri keluarga dan teman terdekat.
Kira tampak sangat cantik menggunakan kimono sutra berwarna putih dan rambut yang disanggul tinggi. Gadis ini sekarang sudah benar-benar menjadi miliknya, istrinya.
Setelah lama mereka bersama selama ini dan perjuangan yang telah ia lakukan selama ini.
Hyde sadar kalau ia telah melakukan segala cara untuk mendapatkan gadis ini dan ia sama sekali tidak menyesal dengan semuanya. Karena ia tahu dengan pasti, tidak ada yang adil dalam cinta dan perang. Tidak peduli bagaimana caranya dan apa yang telah terjadi, pemenangnyalah yang mendapatkan semuanya. Dan pada akhirnya ia mendapatkan Kira.
Hyde mengenang lagi saat mereka masih duduk di bangku sekolah. Ada seorang pemuda yang mendekati Kira dan akhirnya berpacaran dengannya. Hyde tidak menyukainya dan dengan sengaja ia menantang seorang kakak kelas yang paling cantik. Yang sudah lama mengejar-ngejarnya.
“Senpai memang gadis paling cantik di sekolah. ” Ucapnya dengan nada merayu. “Tapi tidak semua pria mau dengan senpai. ” Katanya dengan nada ringan.
“Maksudmu apa?” Tanya gadis itu marah.
“Senpai tidak bisa membuat semua pria menyukaimu. ” Hyde tersenyum meremehkan.
Gadis itu tersenyum, “Sebutkan satu nama. Akan kubuat ia bertekuk lutut!”
Hyde tersenyum penuh kemenangan. Dan beberapa hari kemudian Kira memergoki pacarnya berciuman dengan seorang kakak kelas di perpustakaan.

Beberapa tahun kemudian Hyde meminta Kira menemuinya di restoran sebuah hotel, yang sayangnya saat mereka akan masuk lift. Kira melihat kekasihnya sedang merangkul seorang gadis keluar dari kamar hotel. Hyde sudah tahu sejak lama kelakuan lelaki itu. Ia sengaja mencari tahu semua hal tentang laki-laki itu dan kegiatannya. Hyde merencanakan semuanya dengan matang dan memang sengaja mempertemukan mereka disana. Kira kembali putus dengan pacarnya.
Dan Ryosuke adalah lawan terberatnya. Hyde nyaris tidak menemukan kelemahannya. Ryosuke benar-benar tidak tergoda dengan wanita lain namun ia tetap hanya lelaki normal. Hyde tahu Ryosuke tidak pernah menyukainya begitu juga dengan dirinya. Dan saat ia tahu Ryosuke mulai melarang Kira berteman dengannya ia sudah menyiapkan rencana. Saat Kira datang padanya malam itu, ia memastikan Ryosuke masih ada ditempat itu. Dan menyuruh seorang gadis yang tidak mengenalnya untuk menggoda Ryosuke. Ryosuke yang sedang marah dan mabuk akhirnya terkena jebakannya. Ia membayar gadis itu tanpa perlu bertemu muka dan gadis itu tidak akan membuka mulut karena ia memang tidak tahu apapun.
Hyde jugalah yang menyiratkan ia bersama seseorang saat wawancara dengan seorang wartawan gosip dan dengan sengaja membiarkan gosip murahan itu menyebar. Ia sengaja melakukannya untuk mendesak Kira agar mau menikah dengannya. Sesuai dengan perkiraannya Kira terganggu. Ia hanya perlu membiarkan orang-orang disekeliling mereka menjadi menyugesti gadisnya secara tidak langsung. Dan voila, Kira malah mengajaknya menikah.
Hyde tersenyum bahagia, menatap Kira yang juga tersenyum padanya. Mengenggam tangannya dan untuk pertama kalinya ia bersyukur atas semua hal dalam hidupnya. Ia tidak peduli berapa banyak kebohongan, perasaan orang lain yang dilukainya, dan kesedihan yang pernah diakibatkannya. Yang ia inginkan hanya Hibino Kira yang tersenyum dan bahagia seperti ini di sampingnya, itu saja sudah cukup.

Even If I Die, I Can’t Let You Go (Part 1)

“Sudah lama?”
Hyde menatap intens gadis di hadapannya yang menunggunya dengan sabar.
Kira tersenyum lalu menutup majalah yang terbuka dipangkuannya.
“Cukup untuk menghabiskan beberapa cangkir teh. Dan sebuah novel detektif. ” Ujarnya dengan sudut mata bersinar jahil.
Hyde mengacak poni gadis itu gemas. Dan tertawa lepas. Hanya gadis ini yang bisa membuatnya tetap jadi diri sendiri dan tidak ingin menjaga imagenya sebagai seorang bintang.
Tak lama seorang pelayan mengantarkan makanan yang sudah mereka pesan. Kira tampak bersemangat memegang sumpitnya.
“Apa sebegitu laparnya?” Tanya Hyde dengan senyum kecil.
“Kau tidak pernah tahu.” Keluhnya dengan bibir mencebik, lucu.
Hyde membolak-balik daging dan menaruhnya di mangkuk Kira.
“Ada berita apa? sepertinya aku bisa melihat ekor anjing tidak sabaran dibalik rokmu.” Kata Hyde dengan nada ringan.
Kira tertawa kecil, wajahnya bercahaya penuh kebahagiaan.
“Ryosuke melamarku!” Ucapnya dengan bangga.
Hyde menatapnya tajam, “Benarkah?” Tanyanya memastikan.
“Tentu. Dia melamarku kemarin, saat mengantar aku pulang.” Kira menatapnya dengan mata berbinar.
Sungguh tidak romantis, pikir Hyde.
“Kau menerimanya?” Ia terlihat mengacuhkan makanannya.
Kira tersenyum, “Aku bilang akan memikirkannya. ”
Hyde tersenyum, “Bagus. Jangan terburu-buru memutuskannya. ”
Ia kembali menaruh banyak daging ke mangkuk gadis cantik ini.
“Makan yang banyak!” Ucapnya dengan sebuah senyuman tulus.
Kira membalas senyumannya dan menyuapkan daging kemulutnya.

Hyde sedang menekuri sebuah naskah film saat manajernya datang membawakan minuman hangat. Pemuda itu menoleh sekilas dan mengucapkan terimakasih.
“Bagaimana kencanmu semalam?” Manajer Sho tersenyum menggodanya.
Hyde tersenyum masam. Lalu melempar kertas yang dipegangnya dengan kesal.
“Kira dilamar!” Ucapnya singkat.
Manajernya tertawa lalu berkata, “Tidak heran. Gadis semenarik itu pasti banyak yang menyukainya. ”
Hyde mendesah. Ia tahu benar hal itu. Karena ia dan Kira sudah berteman bertahun-tahun lamanya. Sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Dari dulu selalu saja ada serangga-serangga busuk yang mencoba mendekati gadis itu tetapi Kira tidak semudah itu bisa didapatkan. Berbeda dengan Hyde yang dikenal sebagai pria yang suka berganti-ganti pacar dengan gampangnya.
Kira tipe gadis serius yang selalu bersikap jujur dan hangat. Ia mungkin terlihat membosankan bagi yang lain. Namun Hyde mengagumi kecerdasannya dan sifat baik hatinya yang nyaris naif. Hanya Kira, wanita yang dapat bertahan begitu lama di sampingnya tanpa pernah berusaha menghakiminya.
“Aku tidak yakin pria itu baik untuknya. ” Ucapnya dengan nada biasa.
“Maksudmu?” Tanya Sho tertarik.
Hyde hanya menarik nafas dengan ekspresi malas.
Tidak ada yang mengerti Kira seperti diriku. Aku sudah bersama dengannya selama 10tahun dan aku yang ada disisinya saat yang lain menyakitinya. Kata Hyde di dalam hati.
Dan selama ini walau ia telah banyak bergonta-ganti pacar, hanya Kiralah yang setia padanya. Yang tetap tidak berubah dari dulu. Yang selalu menganggap ia pria baik dan lebih dari yang selama ini ia perlihatkan pada semua orang. Kira terlalu memandang tinggi padanya.
Hyde mendesah lalu kembali membaca naskah film yang tadi dihempaskannya ke sofa.

¤¤¤¤

Kira tersenyum, tangannya melambai pada seorang pria yang sedang menunggunya di sudut kafe.
“Maaf aku sedikit terlambat!” Ucapnya dengan wajah memerah karena cuaca dingin diluar.
Ryosuke tersenyum hangat.
“Apa yang membuatmu terlambat?”
“Ah, Hyde tiba-tiba menculikku dari kantor penerbit. ”
Sudut mata Kira bersinar dan mulutnya menahan tawa. Tampaknya ia menganggap apa yang dilakukan Hyde adalah hal lucu.
Ryosuke tidak menyukai ini. Dari dulu ia juga tidak menyukai Hyde, si aktor terkenal dan playboy kelas kakap.
“Aku tidak suka padanya. ” Ujar Ryosuke tiba-tiba.
Kira menoleh padanya dengan pandangan lembut.
“Aku tahu!” Ucapnya dengan sama lembutnya.
“Kau tahu?” Kaget Ryosuke. “Lalu kenapa tetap berteman dengannya?” Tanyanya lagi.
Kira tertawa, “Kau cemburu?” Ucapnya dengan nada menggoda.
“Aku heran kenapa kau bisa berteman dengan orang seperti itu. Sama sekali tidak cocok dengan kepribadianmu. ” Ryosuke menatapnya dengan pandangan tajam.
“Jadi menurutmu aku harus berteman dengan orang seperti apa?”
Kira mengetuk jari-jarinya kepermukaan meja. Terlihat mulai terganggu. Namun Ryosuke tidak menyadarinya.
“Yang jelas bukan dengan pria seperti dia.”
“Memangnya dia pria seperti apa?” Tanya Kira dengan alis yang naik sebelah, tidak sabaran.
Ryosuke menatapnya dalam-dalam dan berkata “Pria mesum mata keranjang. ”
Wajah Kira terkejut lalu tertawa terbahak-bahak. Membuat pria di hadapannya merasa tersinggung berat.

Selalu saja begitu. Setiap pria yang sedang dekat dengannya atau sedang menjalin hubungan dengannya, tidak pernah menyukai Hyde. Entah karena sebab apapun. Dan jujur saja Hyde juga tidak pernah terlalu respek dengan pria-pria yang mengencaninya.
“Kau terlalu bodoh memilih lelaki!” Katanya suatu ketika saat Kira menceritakan hubungannya yang kandas.
Tetapi Hyde yang selalu dengan tulus menghiburnya. Dan kapanpun ia butuh bantuan Hyde secepat yang ia bisa pasti akan datang padanya.
Ia mengerti mengapa Hyde tidak mempercayai komitmen dengan wanita. Ibunya Hyde seorang artis berbakat dan sangat terkenal dijamannya. Dan sudah beberapa kali kawin dan bercerai. Ayahnya Hyde adalah seorang komposer yang juga sudah beberapa kali menikah dan bercerai. Hyde muak melihat kedua orang tuanya yang berganti-ganti pasangan lalu memutuskan ikut dengan Kakek dan Neneknya. Tetapi dengan latar belakang seperti itu ia jadi tidak mempercayai pernikahan dan komitmen pada satu pasangan saja.

Dihari pertama Kira masuk SMU, ia harus membaca pidato mewakili anak baru. Sebenarnya ia hanya murid dengan nilai kedua tertinggi. Murid dengan nilai pertama tertinggi tidak bisa datang tepat waktu. Kira merasa kesal karena ia pertama kali dikalahkan oleh orang lain. Lalu yang membuat Kira lebih terkejut adalah saat ia menyadari murid yang mengalahkannya adalah seorang laki-laki yang berwajah tampan dan jangkung yang selalu dikelilingi murid-murid perempuan. Bahkan rambutnya dicat berwarna coklat gelap. Benar-benar tipe yang tidak disukainya. Apalagi setelah ia tahu Miyamoto Hideaki, nama murid tersebut adalah seorang selebriti. Ia benar-benar kesal mengetahuinya, membuatnya belajar lebih keras lagi dan kembali menjadi sijuara umum. Miyamoto Hideaki tidak merasa terganggu, malah memaksa untuk duduk sebangku dengan Kira. Meminjam catatan dan sering mengajaknya belajar bersama, karena ia jarang masuk akibat kesibukannya sebagai artis terkenal. Dan mereka jadi berteman sejak saat itu.

“Kau melamun lagi!” Ujar Ryosuke.
Matanya menatap Kira dalam-dalam. Seolah ingin membaca isi hati gadis ini.
“Dan kau menatapku seperti ingin menginterogasiku!” Kata Kira dengan senyuman kecil.
“Aku memang selalu ingin tahu, apa yang ada dipikiran gadis cemerlang ini. ” Ryosuke mendengus kesal. “Tetapi ia tidak pernah mengatakan apa-apa. ” Tambahnya dengan nada ragu.
“Hyde adalah sahabatku selama bertahun-tahun. Kami tumbuh dewasa bersama. ”
Tatapan mata Kira melembut dan sudut bibirnya tersenyum.
“Tidak bisakah kau berhenti berteman dengannya?” Ryosuke menyentuh lengannya dengan lembut.
“Berhenti berteman dengannya berarti aku harus pindah ke Kutub Utara dan jadi beruang putih. ”
Kira tertawa kecil dan membalas pandangan Ryosuke. Tetapi melihat wajah Ryosuke yang tanpa ekspresi tersenyum, gadis itu sadar pria ini tidak sedang bercanda.
“Aku tidak tahu mengapa, tapi aku benar-benar tidak menyukai pria itu!” Ujarnya dengan nada getas.

¤¤¤¤

Tengah malam. Saat Hyde baru saja berbaring ditempat tidur, ia mendengar suara pintu ditutup dengan keras. Lalu pemuda itu bangun dan berjalan keluar kamar. Hanya ada satu orang di dunia ini yang mengetahui password kuncinya. “Kira!” Panggilnya sambil melihat ruang tengah yang gelap. Ia meraba tombol lampu dan sedetik kemudian cahaya membutakan matanya.
Terdengar cegukan di dapur dan Hyde melihat sosok gadis itu sedang meminum air putih. Hyde mendekatinya dan memperhatikan wajah gadis itu memerah.
“Kau mabuk?” Katanya dengan kesal.
Kira paling lemah dengan alkohol dan biasanya ia tidak suka minum. Dan sudah jadi kebiasaan baginya kalau ia mabuk malah pulang ke mansion Hyde. Bukan ke flatnya sendiri.
Hyde memapah gadis itu ke sofa di depan televisi. Kira masih cegukan dan setengah sadar.
“Hei, gadis bodoh. Apa yang terjadi?” Hardik pemuda itu sambil merapikan rambut Kira yang berserakan.
Hyde mengambil ikat rambut ditas Kira dan mengikat rambutnya tinggi-tinggi.
“Aku berantem dengan pria bodoh itu.” Kata Kira dengan kesal.
Matanya berkedip-kedip tidak fokus.
“Ryosuke?” Tanya Hyde ikut-ikutan kesal.
Kira mengangguk, “Menyebalkan sekali!”
Gadis itu bersandar pada Hyde dengan mata terpejam.
“Ada apa?” Tanya pemuda itu lagi.
“Kami bertengkar karena masalah sepele dan pada akhirnya dia, berani-beraninya dia..!” Kira mendesah kesal. “Apa yang dilakukannya?” Hyde menunduk menatap wajah gadis itu.
Kira mendongak dan masih berkedip-kedip bingung. “Dia menciumku!”

“Bagaimana kabarmu?”
Suara Hyde terdengar tidak semangat.
“Seperti biasa. Kau sakit?” Tanya Kira dengan kening berkerut.
“Hmm. Mungkin karena terlalu lama berendam air laut ditengah cuaca panas. ” Ujarnya dengan nada lelah.
“Pasti menyenangkan disana. ”
Kira cemberut membayangkan Hyde yang sedang melakukan photo session dengan Asia Magazine. Di Raja Ampat, Indonesia.
“Yah, menyenangkan kalau tidak terkena flu. Aku bahkan tidak bisa diving. Padahal disini hanya tinggal sehari lagi. ”
Kira tertawa mendengar nada suara Hyde yang menderita.
“Kau sudah berbaikan dengannya?”
Kira terdiam sejenak.
“Aku jadi memikirkan semuanya lebih dalam lagi. Kalau dipikir-pikir sejak dulu aku selalu saja salah memilih pacar. Ingat pacar pertamaku di SMU? Yang ketahuan berciuman dengan kakak kelas di perpustakaan. ”
Hyde mendesah, “Aku ingat!”.
“Lalu saat kuliah, setelah dua tahun berpacaran aku memergokinya keluar dari hotel dengan asisten dosen! ” Ujar Kira dengan nada suara mengecam.
“Aku juga ingat bagian itu!” Hyde kembali mendesah.
“Belum lagi mereka yang masih pendekatan saja sudah berlaku kurang ajar padaku. ”
Dan kini nada suara Kira nyaris histeris.
“Apa ini salahku?” Tanya Kira dengan nada kecewa.
Hyde menghela napas panjang.
“Berapa lama kita berteman? Pernahkan aku berbuat kurang ajar padamu?” Tanyanya dengan nada serius.
“Tidak!” Jawab Kira tegas. Ia yakin akan hal itu, Hyde tidak pernah bersikap seperti itu padanya. Juga dengan perempuan lain. Walaupun pemuda itu playboy, ia tidak pernah memaksa perempuan melakukan hal yang tidak mereka inginkan.
“Kau cuma salah memilih orang. Banyak laki-laki yang berpura-pura baik dan alim tetapi aslinya tetap saja brengsek. ” Ucap Hyde dengar perlahan. “Apalagi dengan sikapmu yang seperti itu, mereka mencari pelampiasan kepada yang lain. ” Tambahnya lagi. Tidak menenangkan.
Ryosuke berkali-kali mengirim pesan. Menelepon. Namun Kira mengacuhkannya.
Baru saja ia melamarku dan hanya karena masalah sepele kami bertengkar hebat. Dan apa ia pikir dengan berciuman masalah akan selesai? Bodoh sekali. Aku rasa aku harus memikirkan ulang rencana pertunangan ini. Pikir Kira sambil menatap layar komputer di hadapannya.
Hyde benar. Aku memang sering sekali salah memilih. Tipikal pria yang kukencani selalu saja sama. Pria serius yang pintar dan nyambung saat berbicara denganku. Tetapi pada ujungnya mereka terlihat brengsek saat aku mengetahui mereka selingkuh dengan wanita lain. Dan aku takut Ryosuke seperti itu juga.
Kira mendesah sambil memegang keningnya.

Hari ini Kira minum-minum dengan beberapa teman di Bar langganan. Kebetulan Manajer tempat ini senior Hyde dan Kira di sekolah. Bar ini adalah salah satu tempat favorit mereka sehingga mereka sering menghabiskan waktu disini. Aibara, manajer bar itu melambai pada Kira dan memangilnya.
Gadis itu tersenyum, mengikutinya ke ruang kantornya.
“Kau berantem dengan kekasihmu ya beberapa hari yang lalu?” Kata Aibara tanpa basa-basi.
Kira mendelik, “Senpai melihatnya?” Kagetnya.
Aibara menarik napas panjang, “Aku tidak melihatnya. Cuma anak-anak banyak yang mengadu padaku. ”
Aibara menatapnya tajam membuat Kira merasa sedikit heran.
“Ada apa Senpai?”
Aibara menggerakkan tangannya, menyuruhnya lebih mendekat.
Kira semakin bingung.
Aibara menunjukkan ke layar komputer jinjing di mejanya.
“Ini rekaman kamera cctv. Tadinya aku tidak peduli dengan hal ini, tetapi karyawan mudah sekali bergosip. Saat aku melihat rekaman ini, aku sadar kalau pria dalam rekaman ini kekasihmu. Dan kejadian ini usai kau meninggalkannya setelah berantem mulut. ”
Kira terbelalak melihat rekaman yang sedang diputar di layar komputer.
Walaupun gambarnya tidak terlalu jelas, tetapi ia yakin itu memang Ryosuke. Ia mengenali sosoknya dan pakaian yang dikenakannya sama dengan ingatan Kira.
Ryosuke dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya.
Kira memalingkan wajah dengan hati terluka.
Aibara menatapnya dengan iba.
“Kupikir kau lebih baik tahu. ” Ujarnya dengan lembut.
“Terimakasih Senpai!” Bisiknya halus.
Kira menangis, memukul dan memaki-maki Ryosuke. Berkali-kali pria itu meminta maaf namun Kira tetap berteriak histeris.
“Tidak terjadi apapun. Aku hanya sedang marah padamu bahkan aku tidak mengenal wanita itu. Semuanya terjadi begitu saja. Aku juga sedang mabuk saat itu. ” Ujarnya berusaha menjelaskan.
Ia kembali meminta maaf pada gadis yang sedang menangis ini. Berusaha untuk memeluknya.
“Maafkan aku, aku benar-benar menyesal. ” Ia membelai kepala Kira.
Gadis itu mendorongnya lalu berjalan ke arah pintu.
Ryosuke cepat menarik tangannya. Menahan langkahnya pergi.
“Sudah berakhir semuanya. ” Bisik gadis itu dengan sedih.
“Beri aku kesempatan. ” Balas Ryosuke dengan wajah tak kalah terluka.
“Aku sangat mencintaimu, Kira. Kau tahu itu. ” Ia kembali memohon.
“Aku tidak ingin mendengar apapun saat ini!” Ujar gadis itu dengan nada lelah.
Ia dengan tangannya yang bebas ia melepaskan pegangan Ryosuke dan berjalan keluar dari apartement pemuda ini. Dibalik pintu ia menangis tergugu.

¤¤¤¤

Tidak perlu bertanya, betapa terlukanya Kira saat ini. Hyde menatap gadis yang ada disampingnya saat ini. Kira yang tertidur dalam pelukannya.
Hyde menyesap wangi rambut Kira dan menempelkan dagunya pada puncak kepala gadis itu.
Berapa lama ia tidak tidur? Tanya pemuda ini dalam hati. Wajahnya pucat dan lelah. Dengan lingkaran mata ungu. Pasti makannya juga tidak teratur. Tebaknya lagi.
Kira mendesah dalam tidurnya, menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Hyde menepuk-tepuk punggungnya perlahan dan bersenandung kecil.
Kira sangat terpukul kali ini. Mungkin ia benar-benar mencintai pria bodoh itu. Ia tidak menangis lagi namun tangannya terus-terusan terkepal. Dan berhari-hari tidak bisa tidur. Hanya sekali Kira bersikap seperti ini, saat neneknya meninggal.
Hyde mengerti kesepian Kira. Ketakutannya. Dan keinginannya untuk merasa aman dan terlindungi. Kira juga sama seperti dirinya, produk kegagalan rumah tangga. Bahkan Kira sama sekali tidak mengenal siapa ayahnya, karena ibunya hamil diusia muda dan kekasihnya kabur tidak mau bertanggung jawab. Ibunya bersikap keras padanya dan lebih memilih bersama dengan keluarga barunya. Sedangkan Kira dibesarkan oleh neneknya.
Dengan masa lalu seperti itu sulit bagi gadis ini bisa mempercayai lagi orang yang telah mengkhianatinya. Hal itu juga yang membuatnya membenci tipikal pria yang suka mempermainkan wanita, playboy atau pria yang berselingkuh. Hyde menyadarinya dengan jelas.
Walau mereka pada akhirnya berteman dengan sangat akrab, Kira tidak pernah menyukai sifatnya yang flamboyan. Hyde dapat melihat pandangan mencela Kira saat pertemuan pertama mereka di sekolah. Kira membenci dirinya yang dikelilingi gadis-gadis lain.
“Jangan melihatku seperti itu!” Ujar Kira dengan mata terpejam.
Hyde tersenyum, “Melihat apa?”
Kira berdecak, “Pandangan kasihan. Aku tidak menyukainya.”
“Aku tidak seperti itu. ” Kata Hyde bersikeras.
“Kau bohong. Kau mungkin tidak menyadarinya, saat berbohong kau menggertakkan gigimu. ”
Hyde menatap Kira yang berbaring di ranjang dengan mata masih tertutup. Tetapi ia masih terlihat cantik dengan wajah lusuh dan rambut acak-acakan. Hyde ikut berbaring miring menghadap kearahnya. Tersenyum dengan tangan terulur merapikan helaian rambut gadis ini.
“Aku mencemaskanmu. ” Ucapnya bersungguh-sungguh.
Kira membuka matanya dan membalas tatapan Hyde yang hangat. Kira menarik telapak tangan Hyde dan menempelkannya kepipinya. Tersenyum tulus.
“Tanganmu selalu hangat, seperti hatimu. Kau orang yang baik, Hideaki.”
Hyde tertegun. Menatap Kira dengan perasaan bercampur baur.
Kira, kau tidak pernah tahu yang sesungguhnya. Ucapnya membatin.

¤¤¤¤

Belakangan ini Hyde berubah sekali. Ia sangat menjaga Kira, bahkan saat ia tidak berada disisi gadis itu. Mengirim pesan dan menelefon lebih sering dari biasanya. Menghabiskan semua waktu luangnya bersamanya, di flat kecil gadis cantik ini. Menemaninya berjam-jam mengedit naskah yang tebal.
Ia juga memanjakan Kira dengan berbagai makanan lezat.
“Kau tidak bosan disini?” Tanya Kira suatu ketika.
“Kau tidak suka aku disini?” Ia balas bertanya.
“Aku hanya tidak ingin pekerjaanmu terganggu.”
“Aku tahu, jangan khawatir. Teruskan saja pekerjaanmu.”
Hyde berbaring di sofa dengan nyaman.
“Kau merasa nyaman? Apa perlu aku ambilkan sesuatu?” Gadis itu menatapnya lagi.
Hyde menggeleng lalu memejamkan mata.
Kira mendesah. Kau yang paling kusayang Hyde. Ia menatap pemuda itu dengan pandangan sedih. (Bersambung ke bagian dua).

Kematian dan Orang-Orang yang Ditinggalkan!

Kehilangan orang yang kita cintai tidak pernah mudah untuk dilalui. Walaupun kita tahu dengan pasti bahwa ditangan Tuhan segalanya pasti lebih baik dibandingkan dunia ini. Orang-orang yang kita cintai satu persatu pasti akan pergi, begitu juga dengan kita sendiri. Kita juga suatu saat pasti akan mati dan meninggalkan semua yang kita cintai didunia ini. Tanpa membawa apapun.
Kehilangan terbesar yang pernah kualami adalah ketika papaku meninggal. Saat itu usiaku baru 20 tahun dan baru saja menyelesaikan ujian terakhir D3. Aku lulus dengan predikat sangat memuaskan, namun sayangnya papa nggak bisa melihat aku diwisuda. Hampir delapan tahun berlalu dan aku masih selalu sedih saat mengenang bokap. Aku merindukannya. Karena itu aku merasa heran bila melihat ada teman-temanku yang tidak dekat dengan orang tuanya, terutama bokapnya. Lucu karena menurutku, seharusnya hubungan anak dan orang tua tidak ada jarak. Kalau sama orang lain bisa akrab, kenapa dengan bapak sendiri kayak ketemu dosen killer aja. Pengen cepat-cepat kabur. Aku selalu menasihati teman-teman dekatku supaya berbaik-baik pada orang tua mereka masing-masing. “Sayangi orang tua kalian dan tunjukkanlah. Jangan sampai kelak kalian menyesal karena nggak sempat bilang. ” Kataku pada seorang teman yang tidak dekat dengan bapaknya yang seorang Polisi. Dan beberapa bulan kemudian, saat pergi dinas bapaknya mendapat serangan jantung di jalan. Dan meninggal tanpa sempat bertemu dengan keluarganya terlebih dahulu. Temanku ini langsung teringat dengan kata-kataku sebelumnya. Dia menyesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Berteriak, menangis ataupun memaki tidak akan membuat yang sudah meninggal bisa mendengar perkataan kita. Aku saja yang sangat dekat dengan bokapku, menyesal. Karena tidak pernah cukup waktu yang aku punya untuk bikin bokap bangga dan bilang betapa sayang dan bersyukurnya aku jadi anak perempuannya. Bokap adalah orang yang paling aku sayang didunia ini, bahkan lebih dari sayangku kenyokap.
Butuh waktu yang lama untuk bisa menerima kenyataan bokap enggak akan pernah pulang ke rumah. Tapi bokap selalu hidup dalam hati dan kenanganku. Beberapa hari yang lalu aku melihat seorang wanita yang suaminya tiba-tiba saja meninggal. Ia shock dan histeris. Aku dapat merasakan kesedihan dan kebingungannya. Ia berkali-kali menangis dan menguncang tubuh suaminya. Berteriak, memeluk dan mencium pipi suaminya. Memintanya bangun. Sangat menyedihkan melihatnya seperti itu, ditinggal mati oleh kekasih yang dicintai. Aku yakin ia pasti merasa ingin mati juga. Ingin menghilang dan tidak menjadi apa-apa.

Kematian selalu memisahkan orang-orang yang saling mencintai. Memisahkan tanpa bisa bertemu kembali. Dan tidak ada yang dapat dengan mudah menghadapinya. Dengan atau tanpa persiapan sekalipun tetap saja akan meninggalkan rasa kehilangan bagi orang-orang yang ditinggalkan. Tuhan mungkin akan mengganti dengan yang lebih baik, tetapi bagaimana bila kita tidak ingin yang terbaik? Kita hanya menginginkan dia yang telah diambil. Cukup hanya dia saja dan tak butuh yang lain. Tapi kita tetap saja tidak bisa berbuat apapun, selain menjalani saja semuanya. Perlahan-lahan hanya waktu yang dapat menyembuhkan luka ini. Dan butuh banyak kesabaran dan rasa ikhlas menerima kenyataan hidup. Bahwa yang sudah pergi tidak akan pernah kembali lagi. Tetapi bukan karena ia tidak mencintai mereka yang ditinggalkannya, ia pun sama tidak berdayanya dengan kita. Ingatlah semua kebaikan-kebaikannya dan selalu berdoa untuknya. Dan kelak mungkin kita bisa berjumpa lagi.

TAK CUKUP HANYA CINTA!

Kemarin, nyaris seharian aku menemani sahabat mengurus sidang perceraian di Pengadilan Agama. Jujur aja, ini pertama kalinya aku melihat sidang perceraian. Dan aku sangat terkejut saat melihat di ruang tunggu sidang, hampir 100% diisi oleh kaum wanita. Yang sedang menggugat cerai suaminya dengan berbagai alasan. Karena penasaran aku nanya-nanya dan ternyata ada 3 alasan utama mereka meminta cerai. Masalah ekonomi, selingkuh dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Salah satu contoh kasusnya (lihat foto yang aku lampirkan). Pria bertopi ini duduk di depanku. Ia sedang merayu istri dan keluarga istrinya supaya membatalkan gugatan cerai yang diajukan istrinya. Ia berkali-kali meminta istrinya memikirkan lagi urusan perceraian ini dan mempertimbangkan anak-anak mereka. Tetapi siistri tetap bersikeras ingin bercerai karena sudah merasa cukup dan bisa mandiri melanjutkan hidupnya tanpa sisuami. Siistri tampak muak dan meninggalkan laki-laki itu, duduk di tempat lain. Suaminya masih tetap memohon pada keluarga sang istri agar tidak jadi bercerai. Ternyata dari penuturan keluarga siperempuan, ia menuntut cerai karena suaminya ringan tangan padanya alias KDRT makanya siistri pulang ke rumah orang tuanya dengan luka lebam. Nah, laki-laki yang menjadikan wanita sebagai sansak buat dipukuli emang nggak pantas dapat kesempatan kedua. Jadi karung pasir masih mending, gimana kalau sampai dimutilasi kayak kasus yang baru-baru ini terjadi? Seremkan.

Masalah ekonomi adalah masalah yang paling banyak dijadikan alasan para perempuan untuk bercerai. Suami yang tidak bekerja/pemalas, suami yang kurang dapat mencukupi kebutuhan materi, suami yang model penggeretan dengan istri yang bekerja mati-matian banting tulang. Rasanya sulit membayangkan sosok yang seharusnya jadi pemimpin dan imam dalam rumah tangga tetapi enggak berpenghasilan. Bagaimana bisa sang istri respek dan hormat kalo suami tidak mau berusaha?

Perempuan mau dan bisa kok diajak hidup susah, asalkan lelakinya mau berusaha keras. Bekerja sama dalam membangun rumah tangga dan kehidupan yang lebih baik. Hidup memang nggak semudah itu, pasti banyaklah ujian dan masalah yang harus dihadapin. Tapi kalau kita yakin dengan pasangan kita dan ingat dengan komitmen diawal pernikahan, apa yang ingin dicapai. Insya Allah pasti ada jalan keluarnya. Enggak semua orang dilahirkan langsung kaya dan berhasil. Sebagian besar memulainya dari nol dan butuh usaha keras dalam mewujudkannya. Kalau kamu menyerah dan bercerai karena masalah ekonomi yang tidak mapan, kelak saat keadaan kamu kembali kesulitan ekonomi apakah kamu akan kembali bercerai? Begitu seterusnya? Siap-siap saja dianggap matrealistis dan yakinlah orang-orang yang mau sama kamu juga hanya menilai kamu cuma seharga dengan uang dan barang. Justru terlihat murah ya?

Maka dari itu aku selalu bilang, ENGGAK PERNAH CUKUP HANYA CINTA saja dalam mewujudkan rumah tangga bahagia. Apalagi kalau pernikahan yang cuma dilandasi nafsu sesaat, pasti sulit sekali mempertahankannya. Cinta mungkin hanya sebagai awal atau pencetus ide pernikahan, tetapi selanjutnya adalah komitmen hidup bersama yang disertai dengan rasa saling menghormati, kepercayaan dan kerjasama untuk mencapai keluarga yang berbahagia. Karena cinta saja tidak akan cukup untuk mengenyangkan perut, tidak bisa membayar rekening listrik dan biaya perobatan. Manusia tetap butuh uang dan kenyamanan dalam hidupnya.

Pernikahan bukan hal yang mudah untuk dilakukan, maka ambillah pilihan yang paling bijaksana. Jangan cuma mengandalkan cinta saja tanpa memikirkan logika dan aspek penting lainnya yang mendukung seperti kesetiaan, kepercayaan dan rasa hormat. Menikahi seseorang adalah keputusan besar yang harus bisa dipertanggung jawabkan. Bukan hanya pada pasangan dan keluarga, juga pada Tuhan. Juga bukan kayak permainan yang saat kita bosan bisa berhenti bermain lalu semuanya kembali seperti semula, seperti tidak terjadi apapun.

Kalau kalian sudah sampai ditahap pernikahan dan saat semuanya berjalan tidak sesuai dengan yang kalian harapkan, jangan semudah itu saja menyerah. Kalau kenangan saat-saat bahagia tidak mampu membuatmu tetap bertahan, jangan lari dari masalah dan memutuskan berhenti disini. Kalau pada akhirnya pasangan yang sudah kamu pilih ternyata mengecewakan dan kamu lelah mengharapkan ia berubah menjadi lebih baik, jangan pernah membiarkan dirimu salah memilih lagi dimasa depan. Cukup salah sekali saja tetapi berkali-kali salah, itu berarti justru ada yang salah dengan dirimu. Entah kamunya yang memang terlalu bodoh atau terlalu manja, nggak mau berjuang menyelesaikan masalah. Masalah yang kamu hindari nggak akan pernah bisa selesai dengan sendirinya. Kalau kamu berlari tanpa menyelesaikannya, ia akan tetap mendatangimu melalui orang atau masalah yang lain.

Aku Tersesat, TUHAN!

Tuhan!
Bolehkan aku memejamkan mata malam ini.
Dan berharap esok tidak akan pernah ada lagi untukku.
Aku lelah. Tidak ada seorangpun yang akan mengenangku lebih dari seminggu.
Jadi Tuhan, ketiadaanku tidak akan pernah memberikan efek apapun terhadap hidup orang lain dan dunia.

Tuhan!
Aku tidak membencimu atas segala hal yang terjadi dalam hidupku.
Mungkin diri-MU yang terlalu memandang tinggi terhadapku dan berharap aku dapat melaluinya dengan selamat.
Aku tidak sanggup, Tuhan.
Aku tak berdaya. Aku lemah.

Aku menengadah, menatap ke langit yang kelam.
Maafkan aku, Tuhan.
Telah membuatmu kecewa.
Aku sudah berpikir ribuan kali namun selalu kembali ke jalan ini.
Dunia tidak pernah menjadi pusat dari kehidupanku.
Dan kematian jauh lebih terlihat menggiurkan bagiku.
Kegilaan ini sudah berkali-kali aku tekan, namun idenya tak pernah jauh dari otakku.

Tuhan, tolong jaga ibuku dan adik-adikku.
Juga maafkan segala kesalahan ayahku.
Bukan salah mereka aku jadi seperti ini.
Jelas tidak ada yang salah dengan mereka maka aku memilih mati.
Aku yang salah.
Aku yang bertanggung jawab.

Terima kasih Tuhan, telah memberiku kesempatan. Aku selalu mencintai-MU meskipun pada akhirnya aku memilih lebih cepat menemui malaikat maut-MU.