When I Saw You

¤(Sisi Park Jaebum)¤
Tidak pernah mudah bagiku untuk mendekatinya. Kim Hana. Ia tetap menjaga jarak denganku meskipun sudah berbulan-bulan setelah peristiwa kecelakaan mobil. Ia tetap menggunakan bahasa formal dan bersikap layaknya bawahan terhadap atasannya. Bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apapun. Dan aku sendiri tidak ingin memaksanya untuk menerimaku, hanya saja aku tidak berhenti mencoba. Hana tidak terlihat terganggu dan ia tidak sedang punya hubungan dengan pria lain, sepanjang pengetahuanku. Aku masih seperti biasa, gila kerja dan kerja keras. Tapi setidaknya minimal seminggu sekali aku selalu menyempatkan diri makan siang dengan Ayah atau sesekali pergi ke sauna bersama. Ayah terlihat sehat dan bahagia, mungkin ibu tiri memang memperlakukannya dengan baik dan seharusnya itu membahagiakan buatku. “Tuan Park Yongsun, tampaknya sangat menyayangi anda. ” Ujar Hana suatu hari, usai menemaniku makan siang bersama Ayah. “Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, Miss Hana. ” Balasku sambil kembali sibuk dengan tablet pc milikku. “Dan bukankah sudah seharusnya juga anda meluangkan waktu untuk beliau? Beliau sudah tua dan anda jangan sampai menyesal dikemudian hari. ” Ujar Hana menohok hatiku. Ia menatapku dengan pandangan teduh tanpa menuntut. Dan itu memberikan kesadaran baru padaku, bahwa aku harus menghargai atas apa yang aku miliki sekarang. “Terimakasih, Miss Hana. Karena mengingatkanku” kataku tulus mewakili perasaanku. Dan gadis itu hanya tersenyum, lalu kembali mengingatkan jadwal kerja selanjutnya.

Siang ini aku sedang ada waktu luang. Aku duduk disofa kantor dengan posisi nyaman dan melihat-lihat grafik bursa saham. Pintu kantorku agak terbuka, samar-samar terdengar percakapan antara Sekretaris Lee dan Hana. Ini jam istirahat makan siang dan tampaknya mereka sedang bergosip. Dasar wanita, pikirku. Tapi agak aneh membayangkan Kim Hana terlibat dengan gosip murahan di kantor. Aku tersenyum sendiri. Lalu aku jadi tergelitik ingin tahu mereka sedang membicarakan apa. Aku menajamkan telingaku dan lamat-lamat mulai mencuri dengar pembicaraan mereka. “Jadi Kak Minho ini seperti apa?” Tanya Sekretaris Lee terdengan menggoda. Mereka membicarakan Oppa Minho, siapa? Aku bertanya dalam hati. “Dia sunbaeku (senior) yang paling dekat denganku di sekolah dan orang tua kami berteman. ” Kata Hana dengan nada ringan. “Apa dia tampan?” Tanya Sekretaris Lee genit. “Emh..!” Hana terdengar agak ragu. Mungkin jelek, pikirku dalam hati. “Dia senior paling populer di sekolah. Dan pintar. Kak Minho sedang mengambil S2 di Inggris.” Ujarnya terdengar malu-malu. Apa? Hana tidak pernah seperti ini dihadapanku. “Pasti sangat tampan, tinggi dan berkharisma. Apakah kalian berpacaran?” Puji Sekretaris Lee terdengar sangat bersemangat. Aku merasa kesal mendengar suaranya, namun juga tertarik mendengar jawaban Hana. “Tidak. Senior sudah punya kekasih. ” Suaranya terdengar agak sedih. “Dia hanya menganggapku dongsaengnya (adik).” Sekretaris Lee tertawa kecil, “Wajahmu mengatakan lain. Kau menyukainya ya?” Tebaknya langsung. Aku tercekat mendengarnya, dan berdebar menunggu reaksi Hana. Tanpa sadar aku sudah berjongkok didekat pintu yang setengah terbuka. Jantungku berdetak kencang, sialan. “Kak Minho cinta pertamaku!” Katanya dengan nada lembut seperti biasa, namun bagai badai petir ditelingaku. “Benar. Tidak mungkin kita tidak jatuh cinta pada lelaki seperti itu. Benar-benar sempurna sehingga tidak bisa jadi kenyataan. Aku juga pernah mengalaminya dan akhirnya malah patah hati. Setidaknya Hanna-ssi masih bisa berhubungan baik dengan Kak Minho itu. ” Ujar Sekretaris Lee panjang lebar. Aku malah semakin kesal, buat apa berteman dengan orang seperti itu. Bukankah menyiksa perasaan? Rutukku dalam hati. Jadi itu cinta pertama Hana, sial. Orang yang seperti apa dan seberapa hebat dia. “Masih ada kesempatan bila kalian masih berhubungan baik, toh diakan belum menikah. ” Sekretaris Lee tampak menyemangati Hana. Aish, apa-apaan itu? Pikirku marah. Tidak perlu menghiburnya dengan kata-kata itu. Kim Hana tidak akan berhubungan dengan laki-laki itu, dia sudah punya kekasih. Aku bangkit dan berjalan ke sofa lagi. “Sebenarnya kemarin Kak Minho menghubungiku. Ia sedang libur dan akan pulang ke Korea. Dia memintaku untuk menjemputnya di bandara. ” Kata Kim Hana kembali terdengar sedikit antusias, membuat hatiku terasa membara panas. “Oh!” Sekretaris Lee memekik senang. “Kapan? Kau akan menjemputnya?” Ujarnya bertubi-tubi. “Sekretaris Lee!” Panggilku dengan suara keras. Mereka menoleh ke arah pintu dengan kaget, aku berdiri dengan kaku disana. “Mana dokumen yang tadi saya minta?” Kataku pada akhirnya. Sekretaris Lee lalu buru-buru menyambar dokumen dengan sampul hitam dan menyerahkannya pada Hana. Lalu Hana mengikutiku masuk ke dalam ruanganku. Mau menjemputnya? Aku mengerutu dalam hati. Awas saja.

Belakangan aku agak melupakan masalah ini sampai suatu hari, Kim Hana cuti sehari. Dan aku hanya menemukan Sekretaris Lee yang menemaniku rapat seharian. Benar-benar menyebalkan. Bahkan dia tidak mengatakannya padaku. “Memangnya Kim Hana kemana?” Tanyaku ketus saat Sekretaris Lee kelabakan tidak bisa menemukan surat yang aku suruh cari. “Hari ini dia cuti, Pak. ” Katanya cemas. “Dimana Hana menyimpannya ya?” Tanyanya pada diri sendiri. Aku tersenyum diam-diam. “Telfon saja. Tanyakan dimana. ” Kataku memberikan usul. Sekretaris Lee mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Hana. “Maaf, Hana-ssi. Mengganggu waktu cutimu. Dimana kau menyimpan salinan surat perjanjian XXX?” Tanya wanita ini. “Oh, disitu. Baiklah akan aku cari. Terimakasih Hana-ssi. Semoga liburanmu menyenangkan. ” Katanya memutuskan. Sekretaris Lee melihat ke arahku, lalu menuju ke arah laci dan memcari-cari. “Ini Pak. ” Ia menyerahkan bundel warna biru. Aku menerimanya dengan kesal, aku tahu letaknya disana. “Miss Hana kemana? Mengapa ia mengambil cuti disaat kita sangat sibuk?” Ujarku dengan sebal. Sekretaris Lee melihatku dengan pandangan agak takut, “Hari ini ia ada janji dengan temannya yang baru pulang dari luar negeri Pak. ” Apa? Teriakku dalam hati. Apa ini soal seniornya itu? Aku bertanya-tanya. Aih, menyebalkan sekali. “Sekretaris Lee, tolong bawakan saya kopi panas. ” Kataku memerintahkannya. Sekretaris Lee cepat-cepat keluar dari ruangan ini, mungkin ia melihat aura yang tidak enak disini. “Bib..bib!” Nada pesan masuk diponsel. Aku melirik ponselku, ternyata bukan. Lalu aku menatap ponsel pink yang tergeletak di atas dokumen, oh ternyata milik Sekretaris Lee. Aku melihat layarnya sekilas, untuk memindahkannya dari atas dokumen yang ada dimeja. Pesan masuk dari Kim Hana. Aku tergoda, dan melihat ke arah pintu yang tertutup rapat. Aku memencet tombol dan pesannya terpampang,
“Eonni (kakak) sudah ketemu suratnya? Ohya aku mau tanya, kafe yang pernah Eonni ceritakan itu alamatnya dimana? Rencananya aku dan Kak Minho mau mencoba Red Velvet Cake dan cookies coklat yang Eonni rekomendasikan. ”
Hah? Kim Hana cuti kerja agar bisa bekerja dengan lelaki itu. Benar-benar tidak bertanggung jawab. Aku tidak akan membiarkannya bersenang-senang sendirian.

¤¤¤

¤(Sisi Kang Minho)¤
“Ada apa?” Tanyaku sambil menatapnya dengan lembut. Gadis itu membalasnya dengan senyuman manis. “Sebentar Kak!” Katanya menenangkan. Hana melihat pesan yang masuk diponselnya. Ia mendesah, terlihat agak kesal. “Bosmu lagi?” Kataku prihatin, ada apa dengan kantor mereka? Memangnya kalau tidak ada Kim Hana, perekonomian Korea akan hancur. Pikirku terganggu. “Iya. Maaf Kak, aku cuti mendadak. Jadi agak merepotkan. ” Ujarnya mencoba menghapus rasa khawatirku. Aku mencoba tersenyum dihadapannya, dan mengucek poninya gemas. “Kau sudah dewasa. Sudah bekerja dan bertanggung jawab. Aku bangga padamu. ” Kataku lalu menggandeng tangannya, berjalan ke bioskop lagi. “Kau ingin nonton film apa?” Tanyaku sambil melihat-lihat poster film yang dipajang. Ia menoleh dan menunjuk ke gambar Song Jong Ki, “A Werewolf Boy!” Katanya pasti, memutuskan. Aku tergelak sebal, “Apa aku kurang tampan bagimu?” Kataku dengan nada merajuk. Ia tertawa melihatnya, namun aku tetap membelikan tiket film tersebut. Setelah menonton kami pergi ke kafe yang direkomendasikan temannya Hana. “Katanya cake disini enak Kak dan tidak terlalu mahal. ” Kata Hana sambil duduk di salah satu both kursi nyaman yang kosong. “Memangnya kenapa kalau mahal? Aku akan mentraktirmu Hana. ” Ujarku dengan pasti. Hana menatap kedalam mataku dengan pandangan berbeda, “Aku tahu Kak. ” Ia lalu terdiam menatap keluar jendela kaca. Aku merasa bersalah, sepertinya kata-kataku menyinggungnya. “Bagaimana keadaanmu?” Tanyaku bersungguh-sungguh. Ia menoleh padaku, ” Seperti yang Kakak lihat. Aku baik.” Aku mendengus kesal, “Aku dengar pihak Bank menyita seluruh aset dan harta keluargamu. Kau berhenti kuliah dan menjadi pekerja magang. ” Ia tersenyum pahit, “Itu memang benar, Kak. Setidaknya kini aku tidak terlilit hutang lagi. ” Ucapnya dengan nada hati-hati. “Hana!” Aku meraih jemarinya dan menggenggamnya, “Jangan berbohong padaku. ” Perlahan mata gadis di hadapanku berkabut. Aku jadi menyadari betapa kecil dan rapuhnya pundaknya. ” Tidak mudah Kak. Tetapi sekarang semuanya sudah mulai membaik. ” Katanya singkat pada akhirnya.

Aku melihat Hana sedang duduk bersama seseorang yang tidak kukenal, disebuah restoran pada saat jam makan siang. “Hana!” Tegurku mengagetkannya. Ia menoleh, tersenyum. “Kak Minho!” Ia membalas panggilanku. Pria di hadapannya ikut menoleh padaku, dan memandangiku seksama. Aku membungkuk padanya. Ia hanya tersenyum tipis dan berkata sesuatu pada Hana. Hana lalu mendekatiku, “Kakak sedang apa disini?” Ia terlihat sumringah melihatku. Cantik. Aku memegang kepalanya, “Tentu saja makan siang!” Dustaku lancar. Aku memang ingin mengajaknya makan siang tetapi saat aku menelfon kantornya ia sudah keluar dengan bosnya. Dan seseorang yang menjawab telfonku (kalau tidak salah wanita bernama Lee) mengatakan mungkin Direktur Park Jaebum dan Hana makan di restoran ini. Makanya aku memutuskan datang kemari secepat mungkin. “Kakak mau bergabung dengan kami?” Tanya Hana pelan. “Apa tidak apa-apa?” Kataku melirik pada pria yang mengenakan setelan kerja yang rapi dan mahal. “Bosku mengajak bergabung. ” Katanya sambil tersenyum. “Baiklah. ” Kataku berusaha riang. “Direktur, kenalkan seniorku Kang Minho. Kak, ini bosku. Direktur Park Jaebum !” Ujar Hana pada kami berdua. Aku mengangsurkan tangan dan disambut oleh genggaman yang kuat oleh pria yang ini. Aku memperhatikannya seksama, ia tinggi dengan tubuh yang atletis. Aku tidak menyangka ia masih semuda ini dan wajahnya tampan. Entah mengapa aku merasa kesal mengetahuinya. “Terimakasih karena sudah mengundang saya makan bersama!” Ujarku dengan senyum sopan. “Tidak masalah. ” Katanya dengan senyum tipis, aku merasa pria ini juga sedang menilai diriku. “Sudah lama mengenal Miss Hana?” Tanyanya sambil lalu. “Oh, dari kecil. Keluarga kami saling mengenal dan kami satu sekolah. Jadi lama jugasih.” Jawabku sambil melihat Hana yang tersenyum-senyum. “Oh begitu. ” Ia menoleh pada Hana dengan pandangan sedikit tajam. Ada apa disini? Aku bertanya-tanya.

“Kak, ada apa? Kok diam terus?” Hana yang duduk disampingku melihatku penasaran. Aku menghela nafas, “Hana apa kau tidak melihat, sepertinya bosmu menyukaimu?” Tanyaku dalam hati. “Tidak. Aku hanya merasa lelah. ” Kataku sambil tersenyum dan kembali konsentrasi menyetir. “Ohya, bagaimana kabar Hyerin?” Tiba-tiba Hana menanyakan tentang Jang Hyerin. “Bukankah kalian sama-sama kuliah di Stanford. Pasti menyenangkan sekali. ” Hana tersenyum melihatku, “Kau pasti bahagiakan?” Sambungnya lagi. Aku tersenyum miris, aku selalu memikirkanmu Kim Hana. Dari dulu tetapi apakah kau tidak pernah menyadarinya? Kau tidak mengatakan apapun saat ada gadis yang mendekatiku bahkan saat Jang Hyerin menembakku. Akhirnya aku berpacaran dengannya, kau tetap tersenyum hangat dan aku menjadi tidak percaya diri. Apa aku tidak pernah mempunyai tempat dihatimu? Dan sekarang melihat pria yang menjadi bosmu itu, aku merasa sangat terganggu. Ia seperti serigala yang ingin memangsamu. Dan aku punya perasaan tidak enak terhadapnya. “Apa bosmu bersikap baik padamu?” Aku memperhatikan reaksi diwajah gadis cantik ini. “Baik. Direktur walaupun selalu bersikap dingin sebenarnya baik hati. Coba bayangkan Kak, perusahaan sebesar itu mau mempekerjakan orang yang tidak berpengalaman dan tidak berijasah. Aku juga selalu ditraktir makan, dan tentu saja gajinya lumayan besar. Aku sedang mengusahakan mendapat beasiswa dari kantor, setidaknya aku harus bekerja minimal 2 tahun dulu. Aku senang bekerja disana, banyak yang bersikap baik terhadapku. ” Hana berkata panjang lebar dengan senyuman yang tidak terlepas dari bibirnya.

“Kau menyukai Hana-ssi?” Tanyaku pada pria yang duduk di hadapanku ini, saat Hana sedang membayar tagihan makanan. “Ya. Dan aku pikir kau juga menyukainya. “Ujarnya tanpa basa-basi. “Padahal kau sudah punya kekasih.” Katanya dengan senyum meremehkan. Aku tertawa, “Dan bukankah kau sendiri punya tunangan, Direktur Park Jaebum! “. Kali ini terlihat ia sedikit terkejut, “Aku tidak akan menyangkal. ” Ucapnya dengan nada dingin. “Aku akan mengajaknya ke Inggris. ” Kataku dengan penekanan. Park Jaebum tersenyum, “Kau tidak mengerti Hana-ssi. Dan kau tidak melihatnya seperti yang aku lihat. Kau menyedihkan. ” Ujarnya dengan percaya diri. Aku merasa terpancing, “Apa maksudmu?” Kataku marah. “Apa kau tidak bisa melihat? Kim Hana bukan gadis lemah seperti yang kau pikirkan. Dia gadis yang dengan tabah menyebar abu kedua orang tuanya dilaut pada saat musim dingin. Gadis yang sabar menerima semua kehilangan dan berjuang dari bawah untuk dirinya sendiri. Ia melewati berbagai hal sulit itu sendirian dan kini kau mau menawarkan hal itu begitu saja, kau pikir ia akan menerimanya. Aku tidak tahu bagaimana dahulu, tetapi ia yang sekarang aku sangat memahami dirinya. ” Pemuda itu melipat tangannya dan bersandar ke belakang. Rasanya aku ingin menghapus cengiran diwajah mulus itu namun semua perkataannya membuatku semakin kesal. Karena ada kebenaran disana, Hana memang sudah jauh berubah.

¤¤¤

¤(Park Jaebum)¤
“Sampai kapan pria itu di Korea? Apa dia tidak punya kerjaan?” Aku bertanya-tanya di dalam hati dengan kesal. Kim Hana sedang mengikutiku dengan membawa banyak berkas. Aku merampas bawaannya dan berjalan mendahuluinya. “Terimakasih, Pak. ” Ujarnya pelan. Ia nyaris setengah berlari mengikuti langkahku. “Kau tahu aku sangat cemburu melihat dia?” Kataku dengan keras dan berbalik. Hana tercekat dan melihat sekeliling dengan panik. Tidak ada siapapun di lorong ini. “Ini di kantor, Pak. ” Katanya mengingatkan. “Memangnya kenapa? Kau dan aku orang yang bebas. ” Kataku kesal. “Direktur, saya tidak ingin menimbulkan kesan yang tidak baik bagi yang lain. ” Ucapnya berhati-hati padaku. “Apa kau membenciku?” Tanyaku sambil menatapnya tajam. “Bukan begitu. ” Katanya cepat. “Lalu saat itu kau bilang aku tidak buruk. Maksudnya apa coba?” Aku melipat tangan dan menatapnya dalam-dalam. “Saya harus realistis, Pak. Direktur siapa dan saya siapa. Anda hanya tersesat dengan perasaan bingung, dan itu bukan cinta. Saya tidak ingin merusak semuanya, jadi sebaiknya kita lupakan saja semuanya. ” Ia menghela nafas dan menatapku takut-takut. “Aku tidak mau. ” Kataku keras menolak. “Kau pikir perasaan itu bisa diatur seperti itu? Aku ini manusia Hana. Aku hanya manusia biasa terlepas dari apapun jabatan dan apapun yang kumiliki. Mengapa kau tidak mengerti itu. “. “Direktur, mengapa anda mempersulit saya?” Ujarnya putus asa. “Apa? Mempersulit?” Aku sangat marah sehingga menjatuhkan semua berkas yang tadinya kupeluk. Aku meraih tubuh Hana, dan menciumnya. Kasar pada awalnya namun melembut dan memabukkan pada akhirnya. Aku melepaskan pelukanku dan berbisik ditelinganya lembut, “Coba lupakan itu. ” Aku sangat egois. Ya aku jahat dengan menciumnya lagi, memaksanya mengerti apa yang aku rasakan. Ia sangat meremehkan kesungguhanku. Ia tidak pernah menyadari betapa dalamnya perasaan ini. Dan semua itu membuatku merasa frustasi, Kim Hana.

Kau terlihat canggung. Ragu dan terbebani. Aku merasa senang memperhatikanmu yang salah tingkah, ketakutan. Artinya ciuman itu berarti banyak buatmu. Setidaknya saat ini kau sudah melihatku sebagai seorang pria, yang mengejarmu. Jatuh cinta padamu. Dan benar-benar berharap padamu. Hei, Kim Hana jangan mengecewakan aku lagi. Aku sangat serius denganmu. Apa kau bisa mengerti sekarang?
“Apa yang mengganggumu?” Ayahku tersenyum, sambil meletakkan cangkir tehnya. “Jangan mencoba menghindar, aku sudah menjadi ayahmu selama 27tahun dan sebagian besar kulakukan sekaligus menjadi ibu buatmu. Aku tahu kau sedang kalut. ” Katanya menambahkan. “Apa ini tentang Miss Hana?” Ia mengagetkanku dengan pertanyaannya. “Ayah tahu?” Tanyaku lagi. Ia tersenyum dan menepuk lenganku, “Cukup tahu kalau kau tergila-gila pada seorang gadis untuk pertama kali! “. “Aku sangat serius padanya tetapi ia meremehkan perasaanku. Dan itu menyebalkan. ” Kataku mencurahkan isi hati. “Aku merasa ia banyak memberikan pengaruh buatmu. Jangan terlalu menekannya, ia hanya seorang gadis. ” Ia menasihatiku dengan tanpa menggurui. “Apa Ayah akan merestui kami?” Aku menatapnya, menimbang-nimbang jawaban yang keluar dari mulutnya. Ia menarik nafas dalam, “Ibumu adalah wanita yang dijodohkan oleh orang tuaku. Aku menerimanya demi baktiku pada mereka. Aku berusaha keras mencintainya dan membahagiakannya. Namun ibumu terlalu cepat pergi, tetapi setidaknya ia telah menghadiahkanmu padaku. Saat aku pada akhirnya menikahi bekas kekasihku dahulu, kau sangat marah. Kau merasa aku menghianati ibumu. Kau mulai membenciku dan menjauhiku. Aku belajar bahwa aku tidak bisa memaksamu menerima ibu tirimu dan aku juga tidak bisa meninggalkannya. Aku sangat mengerti keadaanmu, dan tidak akan memaksamu seperti orang tuaku dulu. ” Ayah memandangku dengan sorot mata penuh pengertian dan aku merasa ada yang hangat didadaku. Seperti ada yang tumbuh. Mata Ayah seolah berkata : “Kau satu-satunya anakku. Tentu saja aku sangat menyayangimu lebih dari apapun. ” Terimakasih Ayah, atas segalanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s