Katrina dan Matthew, Dua Orang Sahabat!

“Hai!” Gadis itu akhirnya muncul juga. Terlihat kedinginan dan tetap cantik. Ia mengecup pipiku sekilas dan berkata, “Jangan tanya Darl. ” Ia menggeleng. “Bosku sedang PMS dan memberikan banyak kerjaan yang membuatku telat. Kau sudah memesan makanan? ”
Aku tersenyum, jariku melayang kepuncak kepalanya dan membersihkan salju yang menempel pada rambut pirang itu. “Sudah. Dan aku sangat lapar menunggumu. ” Ujarku sedikit merajuk. Sudut bibirnya naik dan ia tertawa kecil. “Maaf. Maaf. ” Katanya memohon, “Sebagai permintaan maaf. Aku membelikan ini untukmu. ” Ia mencoba menyogokku dengan sebuah amplop. Aku membuka amplop itu dan terkejut dengan isinya. “Tiket konser Train. Woho, royal sekali. ” Ujarku sumringah. Aku mengucek rambutnya gemas. “Baiklah Darling. Aku akan berbaik hati memaafkanmu dan mentraktirmu makan kali ini. ” Kataku dengan nada berpura-pura serius. Ia tertawa terbahak.
Dia, Katrina. Sahabatku. Kami berteman sudah lama sekali. Dari jaman kuliah. Sebenarnya dia seniorku di kampus namun karena pergaulannya yang luas dan sifatnya yang bebas ia sangat dikenal oleh adik-adik kelas. Dulu aku sedikit naksir dengannya tetapi dengan sopan ia tidak pernah menunjukkan ketertarikan. Ia gadis baik yang sangat menyenangkan dijadikan teman. Bijaksana dan selalu bisa mencerahkan pemikiran saat berbincang dengannya.

¤¤¤¤

Matt terlihat sedikit gusar kemarin malam. Walaupun ia terlihat senang menerima hadiah yang kuberikan. Tetapi aku menjadi sedikit penasaran juga. Ada apa dengannya? Apa hubungannya dengan gadis berambut merah itu tidak berjalan dengan baik? Aku tidak ingin memaksanya bercerita. Biasanya dia akan bercerita sendiri kalau sudah waktunya. Dan aku selalu siap menerima keluh kesahnya tanpa bermaksud mengguruinya.
Aku dan Matt sudah lama berteman. Hanya berteman tidak lebih. Kami saling mengenal dekat satu sama lain dan juga berbagi kisah cinta yang selalu gagal. Pada akhirnya selalu ada Matt bagiku disaat patah hati dan hanya ada aku bagi Matt saat ia dicampakkan oleh wanita lain. Aku tidak tahu apa masalah kami, aku gadis yang menarik (setidaknya aku masih bisa membuat pria-pria tidak dikenal menoleh saat aku berjalan melewati mereka) dan Matt juga tampan menurutku. Bertubuh tinggi ramping namun berotot dengan rambut hitam mempesona. Ia tipikal pria Inggris yang sopan dan gentleman. Kami tidak punya kelainan tetapi selalu tidak beruntung dalam percintaan.

“Kat!” Ujarnya ditelefon. Aku sedang mengecat kuku jari kakiku saat menerima panggilannya. “Ada apa? Jangan bilang kau tidak bisa menggunakan tiket yang aku belikan. Acaranya tinggal sejam lagi. ” Kataku sambil mengoles lebih banyak kuteks berwarna biru. Matt mendesah, oh ini tidak baik. Aku langsung duduk tegak, bersiap mendengar penjelasannya. “Itu dia masalahnya. Aku berantem dengan Carrie.” Katanya dengan kesal. Uh oh. “Lalu bagaimana dengan tiket yang satunya?” Tanyaku bingung. Nonton konser sendirian bukan hal yang menyenangkan. Tetapi kenapa mereka bertengkar ya? Pikirku sendiri. “Aku tidak mau pergi sendiri. Bagaimana kalau kau saja yang menemaniku Darling?” Matt terdengar memohon. Aku berpikir sebentar, “Baiklah. Jemput aku 25 menit lagi. ” Kataku sambil menimbang-nimbang ingin memakai baju apa. “Sebenarnya aku sudah ada lobi apartemenmu. ” Suaranya terdengar riang, tidak urung aku tersenyum juga. “Oke!” Aku bergegas mengganti pakaianku.

¤¤¤¤

Ting. Pintu lift terbuka dan Kat muncul dengan penampilan santai namun sangat manis. Ia memakai jaket kulit berwarna coklat dengan dalaman mini dress warna silver dan legging ketat warna hitam membungkus kaki panjangnya. Ia memakai sepatu bot yang nyaman dipakai. Wajahnya tampak cerah dan segar, ia tersenyum padaku. “Kau terlihat lumayan, Darl!” Katanya dengan nada menggoda. Aku menyerahkan lenganku untuk digandengnya, “Kau juga tidak buruk. Darling!” Aku balas menggodanya. Ia tertawa dan menggandengku erat.

Aku menikmati pertunjukannya. Dan Kat juga tampak sangat antusias disampingku. Ia ikut bernyanyi bersamaku, berjingkrak tanpa malu-malu, tertawa dan menari. Aku merasa tepat mengajaknya kemari. Ia juga sama senangnya seperti diriku. Diam-diam aku tidak menyesali Carrie tidak jadi ikut. Bersama Kat jauh lebih menyenangkan. Aku merangkul Kat, dan tertawa bersamanya. “Kau keren!” Bisikku ditelinganya. Ia nyengir lebar dan berkata, “Kau baru menyadarinya?”.
Aku terkadang berpikir betapa mudahnya bila bersama Kat. Dan bertanya-tanya lelaki bodoh mana yang telah meninggalkan gadis secantik dan sebaik ini. Benar-benar sangat bodoh. Bertahun-tahun berteman aku menyadari benar Kat adalah teman yang setia dan baik hati. Dan aku yakin perlakuannya dengan kekasihnya pasti jauh lebih baik. Cuma pacar-pacarnya saja yang brengsek. Kat walaupun berjiwa bebas dan modren namun sangat menghargai dirinya sendiri. Ia tipe gadis yang menjaga keperawanannya sampai malam pernikahan. Walau sering diejek kuno oleh yang lain, tetapi Kat tetap bertahan dengan prinsipnya ini. Mungkin karena ia separuh berdarah Indonesia. Aku dengan dinegara itu budaya timurnya masih sangat kuat, jadi walaupun Kat lahir dan besar di London ibunya berhasil menanamkan prinsip tersebut pada gadis ini. Sayangnya hal ini selalu menjadi bumerang bagi kekasih-kekasihnya. Dan membuat hubungan mereka tidak pernah berhasil.

Kami sedang duduk di pojok favorit Bar yang sering kami kunjungi. Kat seperti biasa meminum minuman tanpa alkohol dan aku meneguk bir kesukaanku. “Hei, ini sudah botol ketiga. ” Kat menegurku. “Besok kau harus bekerja. ” Sambungnya lagi. “Ini untungnya punya teman yang tidak mabuk. ” Kataku sambil tertawa. Namun gadis itu menatapku dengan serius. “Ada apa denganmu? Dari kemarin senyummu aneh. ” Ah, gadis ini selalu tanpa basa-basi tetapi disitu letak keistimewaannya. “Aku putus dengan Carrie. ” Ujarku singkat membuatnya terdiam. “Oh!” Ia terlihat agak bingung. Aku tersenyum menenangkannya, “Kaukan tahu sendiri belakangan ini aku selalu bersitegang dengannya bahkan untuk masalah sepele. Jadi aku rasa ini yang terbaik. ” Aku meneguk bir botol keempat. Kat hanya diam, menyesap minumannya. “Ah, aku juga sedang kesal. Ibuku mungkin akan datang lagi dan menjodoh-jodohkan aku dengan anak-anak temannya. ” Ia mendesah tidak bersemangat. “Seolah-olah aku tidak laku saja.” Aku tertawa mendengar ucapannya. Kurasa aku agak mabuk.

¤¤¤¤

“Katrina Dewi Courtenay!” Terdengar teriakan menggelegar. Aku tergeragap bangun dan melihat ke pintu kamar yang terbuka lebar. “Mummy?!” Kataku bingung. Aku mengucek mataku yang masih ngantuk. “Jam berapa ini?” Kataku sambil menggaruk kepalaku. Ibuku melihatku dengan pandangan mematikan, “Apa yang kau lakukan dengan lelaki itu?” Teriak ibuku lagi. Dan aku merasakan ada yang bergerak di sampingku, aku menoleh. “Matt!” Pekikku kaget. Pemuda itu tidur sambil merangkul pinggangku. Oh Tuhan ini sangat buruk. Aku kembali menoleh ibuku yang nyaris mendapat serangan jantung pagi ini.
Setelah melewati serangkaian pertengkaran yang histeris dan berbagai macam penjelasan, akhirnya ibuku memutuskan langsung pulang Stibbly. Kedua orang tuaku memang lebih banyak tinggal dipedesaan Inggris setelah ayahku pensiun dari pekerjaannya. Dan meninggalkanku seperti tersangka yang sudah divonis mati.

Aku meminum kopi pertama di kantor dan merasa sangat buruk. Tidak pernah aku melihat ibuku semarah ini, walau pada akhirnya ia mau menerima tidak terjadi apa-apa antara aku dan Matt. Memang tidak terjadi apapun, Matt hanya terlalu mabuk dan ketiduran. Namun ia menyuruhku untuk pulang minggu depan dan aku yakin ia bakal memaksaku menikah dengan siapa saja diakhir liburanku. Telefonku berdering dan nama Matt tertera di layar. “Hei, Kat!” Suaranya terdengar khawatir. “Bagaimana keadaanmu?” Tanyanya prihatin. “Buruk. Dan ibuku memaksaku pulang liburan minggu depan. Kurasa aku akan menikah. ” Kataku sambil mendesah. Matt tertawa dengan renyah. “Aku tidak bercanda Alexander Matthew Swyre.” Ujarku kesal. Ia kembali tergelak, “Saat marah kau persis ibumu. Memanggil dengan nama lengkap. Tetapi tenang saja, aku akan jadi satria penolongmu. Aku akan ikut ke rumahmu. ” Aku tidak mengerti. “Maksudnya?” Tanyaku heran. “Oh, aku akan jadi alibi yang baik untukmu. ” Katanya menenangkan.

“Me..menikah?” Ujarku terbata. Mummy dan Daddy terlihat sangat serius. “Mummy pikir daripada terjadi kesalahpahaman lagi lebih baik kalian segera menikah. ” Ujar ibuku yang didukung oleh ayahku. “Tapi..!” Aku melirik Matt yang duduk di sebelahku dengan panik. “Bagaimana menurutmu Matt?” Tanya ayahku pada pemuda ini. Matt memandang kedua orang tuaku dengan raut wajah yang sulit kutebak, “Saya sangat mengenal putri anda. Ia gadis yang baik dan sangat menarik. Ya, saya mau menikahinya. Dan dengan ini saya meminta persetujuan anda. ” Katanya dengan tegas. Aku tercengang dan kehilangan kata-kata. Diam-diam Matt meraih jemariku dan mengenggamnya hangat.

¤¤¤¤

“Hei!” Kataku saat melihatnya sedang duduk di kamar yang sudah dihiasi dengan indah. Kat terlihat tegang dan rapuh. Aku merapikan rambut pirangnya yang berkilauan dengan indah dibahunya. Kami duduk berdampingan di sofa. Aku meraih tangannya yang bebas dan menggenggamnya. “Ibumu memberikannya untukku. ” Ia menunjukkan kalung indah warisan keluargaku turun temurun. Dan tiba-tiba saja Kat menangis padahal biasanya ia jarang sekali menangis. Aku memeluknya dan berusaha menenangkannya. “Hei jangan menangis, Darl. ” Aku membelai punggungnya dan mencium puncak kepalanya. “Matt, aku merasa bersalah. Kita tidak harus melakukan ini. ” Ujarnya dengan beruraian air mata yang membuatnya terlihat jauh lebih cantik. Aku tersenyum dan menghapus pipinya. “Kat, aku justru tidak pernah seyakin ini. Aku tahu kita mungkin tidak saling tergila-gila namun selama kita berteman kita adalah pasangan yang paling kompak dan sangat mengerti satu sama lain. Aku pikir persahabatan kita sudah cukup menjadi modal untuk kita hidup bersama. Kaukan tahu betapa lelahnya aku dengan hubungan-hubunganku terdahulu. ” Kataku panjang lebar. “Yang kita lakukan tidak salah. Setidaknya kedua orang tua kita senang setengah mati. Dan aku yakin kita bisa memulainya sebagai teman. Tidak tahu apa yang akan terjadi didepan, tetapi bersamamu aku percaya kita akan bahagia. ” Aku meremas jemarinya, berusaha menenangkannya. Kat menghapus air mata dipipinya. “Aku tidak akan menganggap ini pura-pura. Aku akan menjalaninya dengan sungguh-sungguh. ” Ujarnya terdengar hati-hati. Aku menatapnya dalam-dalam dan menunduk mencium bibirnya. “Itu segel perjanjian. ” Kataku dengan tertawa, namun diam-diam jantungku berdebar keras. Ini ciuman pertama kami setelah sekian lama kami bersama. Dan wajah Katrina tampak sangat merah.

Lalu semuanya terjadi dengan sangat cepat. Aku bahkan tidak yakin ini benar terjadi atau hanya dalam khayalanku saja. Kat tampak sangat cantik dengan gaun pengantin putih yang berpotongan sederhana dan klasik. Ia terlihat gugup dan gemetar. Aku memegang jemarinya dan meremasnya lembut. Ia menoleh padaku dan aku tersenyum padanya. “Kau cantik, Darling!” Bisikku tulus. Aku dapat merasakan semburat merah dipipinya panas. Pendeta dihadapan kami membacakan sumpah pernikahan dan bertanya padaku, “Alexander Matthew Swyre bersediakah kau menjadi suami dari Katrina Dewi Courtaney didalam susah maupun senang, disaat sakit maupun sehat sampai maut memisahkan?” Aku menatap pada gadis di sampingku, dan menjawab dengan pasti. “Saya bersedia!” “Katrina Dewi Courtaney bersediakah kau menjadi istri dari Alexander Matthew Swyre didalam susah maupun senang, disaat sakit maupun sehat sampai mau memisahkan?” Pendeta itu bertanya pada Kat. Aku memandang gadis itu dan dengan tegang menunggu jawabanya. Ia menatapku dan berkata perlahan, “Iya. Saya bersedia. ” Pendeta tersebut lalu menyuruh kami memasangkan cincin pernikahan. ” Dan dengan kuasa yang diberikan Tuhan dengan ini saya nyatakan kalian sah menjadi suami istri. Silahkan mencium pengantinmu, nak!” Aku meraih Kat yang memejamkan mata dan mencium bibirnya sekilas. Aku sebenarnya ingin menciumnya lebih dalam namun takut tidak bisa menahan diri. Lalu terdengar semua orang bersorak dan bertepuk tangan. Kami telah resmi menikah dan menjadi suami istri. Aku merangkul tubuh istriku yang gemetar dan berbisik ditelinganya, “Kat, aku tidak bisa selalu membuatmu bahagia. Tetapi aku berjanji akan kau tidak akan pernah menyesali semua ini. ” Aku menatap manik matanya yang bersinar ragu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s