Katrina dan Matthew, Love start Here!

Aku menatap pengantinku yang cantik. Katrina. Gadis yang sudah bertahun-tahun aku kenal. Sahabatku. Rasanya wajahku kebas karena terlalu banyak tersenyum dan tertawa. Dan jujur aku merasa bahagia. Sekaligus malu-malu dan berdebar. Aku seperti kembali keusia 9 tahun dan naksir gadis kecil anak tetangga. Kat menoleh padaku dengan bola mata cokelatnya yang bersinar hangat. Tersenyum sampai kehati. Rasanya jantungku ingin melompat melihatnya. Aku mulai gila.

Pesta pernikahan kami yang sederhana, pribadi dan hanya dihadiri keluarga dekat. Berlangsung intim dan hangat. Kedua orang tua kami terlihat sangat bahagia dan tak habis-habisnya tersenyum dan tertawa. Begitu bahagianya mereka sehingga membuatku merasa bersalah, mengapa tidak dari dulu hal ini kulakukan. Aku memeluk Kat yang masih menggunakan gaun pengantin indah dengan punggung yang hanya ditutupi brokat halus dan tipis. “Kau sangat cantik Kat. ” Bisikku ditelinganya. Ia tersenyum malu, “Matt kau sudah mengatakan itu sebanyak 5 kali hari ini. ” Balasnya mengingatkan. Aku tertawa, “Aku akan terus mengatakannya. Karena aku suka rona wajahmu saat mendengarnya!” Rayuku dengan tulus. Kat menatapku dengan pandangan berbeda, wajahnya kembali merona merah. “Jangan terkejut Kat, kau akan melihat banyak hal yang selama ini tidak kau ketahui. Aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi. ” Ujarku dengan senyum kecil, dan rangkul pinggangnya. Aku bahagia.

¤¤¤¤

Kami tidak pergi bulan madu. Hanya melakukan perjalanan ke rumah musim panas keluarga Matt disebuah desa. Aku tidak bisa melihat apapun karena kami tiba tepat tengah malam. Tetapi dari cerita yang aku dengar rumah kabin ini indah dan terletak di dekat danau. Lelah karena pesta dan perjalanan beberapa jam lalu. Aku keluar dari mobil dan merasakan hawa dingin yang membuatku merapatkan sweater kasmirku. Matt tersenyum sambil menenteng kedua koper berisi pakaian serta merangkulku dengan tangan yang lain. “Ibuku sudah menyiapkan segalanya untuk kita selama beberapa hari kedepan. Jadi kita tidak perlu kemana-mana. ” Katanya menerangkan sambil membuka pintu. “Tempat ini memang paling pas untuk pasangan yang hanya ingin berdua saja tanpa diganggu! ” Ujarnya dengan senyum yang penuh kilatan nakal. Aku merasakan wajahku memanas. Aku memperhatikan sekelilingku. Isi rumah ini sangat vintage tetapi dapurnya sudah moderen. Aku melihat-lihat isi kulkas yang penuh dengan bahan makanan dan beberapa makanan siap saji. “Matt, kau ingin makan?” Tanyaku sambil membuat teh untuk kami minum. Ia sedang membawa koper kesalah satu kamar, “Tidak. ” Katanya singkat. “Kemarilah!” Panggilnya lagi. Aku mengikutinya sambil membawa secangkir teh panas untuknyaa, ia meletakkan tehnya dimeja kecil.

Aku terkejut melihat kamar yang akan kami tempati. Tempat tidur king size dengan hiasan kelambu yang indah. Kamar ini sangat tradisional seperti kamar bangsawan inggris jaman dulu sekaligus menarik. “Kau suka?” Ia memelukku hangat dari belakang dan melihat sekeliling. “Ibuku menyiapkan ini semua untuk kita, beliau sangat senang karena tahu kau sangat menyukai gaya vintage dan klasik.” Aku tersenyum, “Ini sempurna. ” Ujarku pelan. Matt membalikkan badanku dan menunduk menatap wajahku. Ia menciumku dengan lembut. Ia melepaskan gulungan rambutku dan menggerainya.

“Well, ini malam yang penting. ” Ucapnya dengan nada berhati-hati. Aku menegang, sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Ia menyadari itu namun kembali menciumku dengan panas, membuatku sulit berkonsentrasi. Aku bahkan tidak bisa mengingat bagaimana caranya aku bisa berada di tempat tidur dengan keadaan setengah berpakaian. Ini sungguh memalukan dan aku bingung harus bagaimana, meredam suara jantungku yang bertalu-talu seperti genderang perang. Aku tidak bisa membayangkan betapa merah wajahku saat ini. Aku memang tak pernah seintens ini dengan Matt. Dan aku belum pernah melihatnya seperti ini. Ia terlihat sangat berbeda dari biasanya. Aku bahkan tidak tahu bibirnya bisa selembut itu sekaligus juga membakar. Perasaanku bercampur aduk sehingga aku merasa akan meledak. Campuran ketertarikan juga sedikit ketakutan. Mark menatapku lekat, aku bersumpah tak pernah melihatnya semenarik ini. Terlalu menggoda. “Kau tidak perlu melakukan apapun. Serahkan semua padaku. ” Bisiknya perlahan. “Aku akan memperlakukanmu baik. Aku janji. ” Ucapnya sambil membelai wajahku. Ia kembali menciumku penuh hasrat. Membuatku merasakan kepedihan yang sangat manis. Entah mengapa aku merasa tidak hanya tubuh kami yang menyatu tetapi ikatan diantara kami juga semakin kuat. “Kat, terimakasih karena sudah menjaga diri dengan sangat baik selama ini. ” Ujarnya sungguh-sungguh dengan tatapan yang tidak kumengerti artinya. Aku tidak tahu alasannya aku jadi merasa terharu dan menitikkan air mata.

¤¤¤¤

Paginya aku terbangun sendirian di tempat tidur. Aku masih bisa mencium wangi tubuh Kat disini. Aku tersenyum sendiri mengenang yang telah terjadi sebelumnya. Tadi malam adalah salah satu saat terbaik dihidupku. Kat, pengantinku yang cantik dan lugu. Aku merasa menjadi pria yang sangat beruntung di dunia ini. “Kat!” Panggilku. Aku melihat ke kamar mandi namun kosong. Lalu keluar kamar dan melihat gadis itu di dapur. Ia terlihat segar dan jauh lebih cantik dari yang pernah kulihat sebelumnya. “Hei Georgeus!” Kataku sambil tersenyum. Ia menoleh dan rona wajahnya menjadi sangat merah. Cepat-cepat ia membuang pandangannya. Mungkin ia malu melihatku hanya mengenakan boxer atau mengingat kejadian tadi malam. Aku tersenyum, mendekatinya dan meminum kopi yang dibuatnya. Aku memeluknya hangat, merasakan wangi rambutnya yang setengah basah. Aku masih dapat merasakan tubuhnya sedikit menegang, belum terbiasa dengan keintiman ini. Ada hal-hal yang belum diketahuinya dan aku ingin membiasakannya. Seperti betapa terpesonanya aku pada dirinya. Dan betapa cantiknya wanita ini sehingga aku tidak ingin melepaskannya sedetikpun.

Waktu seolah berhenti berputar disini. Aku tidak ingat sudah berapa hari kami di tempat ini tetapi semua menit yang terlalui menjadi sangat berharga. Kami menghabiskan waktu dengan berenang, memasak, berjemur, berperahu, berjalan-jalan ke hutan dibelakang rumah, dan lain-lain. Aku banyak mengambil foto-foto keberadaan kami disini. Dan Kat terlihat sangat cantik, berbahagia. Kusadari betapa aku sangat memujanya belakangan ini. Aku tidak keberatan bila harus selamanya berada disini hanya berdua saja dengannya. Tetapi ada kehidupan diluar sana berjalan terus dan kami juga punya tanggung jawab. Kami harus pulang dan memulai kehidupan baru kami.

Hari ini genap sebulan kami menikah dan hidup bersama di mansionku. Kehidupan pengantin baru yang menyenangkan dan banyak hal baru yang aku pelajari tentangnya. Kat pintar memasak sekaligus mengurus rumah dengan efisien. Ia tetap sibuk bekerja di perusahaan biro iklan sebagai assistant creative director. Walaupun kami berdua sangat sibuk tetapi hubungan kami jauh lebih intens daripada dahulu. Sebentar saja tidak bersamanya aku sudah merindukannya dan ingin bertemu. Aku menghujaninya dengan pesan dan telefon disela-sela waktu kerjaku. Sesekali membawakan bunga dan menjemputnya pulang kerja. Aku sebenarnya tidak seromantis itu tetapi melihat senyum terpikat diwajahnya menjadi candu bagiku untuk kembali melakukannya. Dan malam ini aku rencananya akan makan malam di sebuah Restoran favoritku.

Aku sudah tiba 20 menit lebih cepat dari janji. Istriku belum datang, aku masih belum terbiasa memanggil Kat seperti itu. Kat akan datang sedikit terlambat karena urusan kerjaan dan tidak mau dijemput. Aku duduk di tempat biasa kami makan. Sambil meminum segelas anggur.
“Matthew! ” Sebuah suara menegurku. Aku menoleh dan tersenyum karena aku pikir itu Kat. Lalu sosok itu tersenyum ragu-ragu. “Carrie!” Ucapku otomatis dengan suara datar. “Kau sedang menunggu seseorang?” Tanyanya hati-hati, matanya terlihat gelisah. “Ya. Aku menunggu Katrina. “Jawabku jujur. “Oh!” Ujarnya pelan, ia kembali menunduk. “Bisa kita berbicara sebentar?” Tanyanya lagi dengan canggung. Aku sungguh tidak menyangka akan bertemu dengannya disini. Sejujurnya aku bahkan sudah melupakannya. “Yah, boleh saja. ” Kataku berusaha ramah. “Matt!” Ia aku menyesal. Aku sudah memikirkannya sejak lama dan aku ingin kita kembali lagi. Aku berjanji akan berubah. Aku sangat mencintaimu dan tidak bisa hidup tanpamu. ” Ujarnya penuh keberanian dan mata yang bersinar penuh harapan. Carrie menyentuh tanganku lembut. Aku sangat terkejut dengan ucapannya dan menarik tanganku perlahan. “Carrie Darling. Aku sudah menikah. ” Kataku jujur dengan menunjukkan cincin di jari manisku yang tidak terlihat olehnya tadi.
¤¤¤¤

Aku melihat seorang gadis berlari keluar dengan menangis. Nyaris menabrakku yang baru saja masuk restoran. Siapa? Pikirku sepertinya aku mengenalnya. Aku berjalan kemeja favorit Matt, dan terbelalak kaget melihatnya. “Matt!” Pekikku. Suamiku berdiri dengan pakaian yang basah, sepertinya ada seseorang yang menyiramnya dengan wine. “Apa yang terjadi sayang?” Aku mendekatinya dan mengambil handuk yang diberikan seorang pelayan. “Carrie. ” Ujarnya singkat. Oh, jadi gadis yang hampir menabrakku tadi dia. “Aku tidak tahu dia disini. Dia mengajakku balikan tetapi aku menolaknya dan bilang sudah menikah. Lalu dia histeris dan menyiramku. Kabur begitu saja. ” Matt terlihat sangat kesal. “Sayang, sebaiknya kau ke toilet dahulu. ” Saranku padanya. Ia mengangguk lalu bergegas ke bagian belakang restoran.

Matt membukakan pintu mobil untukku. “Maaf ya sayang. Kita makan di rumah saja. Aku akan pesan makanan. ” Ujar Matt sambil menyentuh wajahku lembut. “Tidak apa!” Kataku lembut. Terdengar suara ponselku berbunyi, aku melihat display yang tidak menunjukkan nomor yang kukenal. “Halo!” Sapaku dengan heran. “Katrina, ini Carrie. Kau ingat?” Ujar seorang gadis yang sesekali masih menangis. “Carrie!” Ulangku terkejut sambil melirik Matt yang sedang menyetir. Ia tidak kalah terkejut. “Ya Carrie. Ada yang bisa kubantu?” Tanyaku dengan perasaan campur aduk. “Benarkah Matthew sudah menikah? Kami bahkan belum putus selama 2 bulan. Aku bahkan berpikir akan mengajaknya berbalikan. ” Katanya panjang lebar. Aku berusaha untuk tetap tenang walau pikiranku kalut. “Matt memang telah menikah. Kira-kira sebulan yang lalu. ” Ujarku pelan-pelan. “Dengan siapa?” Katanya histeris. “Siapa wanita jalang itu?” Teriaknya lagi. Matt melihat wajahku yang memucat. “Dia bilang apa?” Tanyanya khawatir. “Dia tanya kau menikah dengan siapa. ” Kataku kaget, jadi dia tidak tahu Matt menikah dengan siapa. Matt mendengus, “Berikan padaku. ” Ia mengambil ponselku dan menempelkannya ditelinganya. “Carrie, ini Matthew. Saat ini Katrina sedang bersamaku. Kalau ada yang ingin kau katakan, tanyakan langsung padaku. Jangan mengganggu Katrina lagi. Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini. ” Matt mengatakannya dengan nada yang tegas. Ia lalu mematikan panggilan tersebut. “Lain kali jangan pedulikan lagi panggilan darinya. ” Ujarnya menahan marah. “Carrie tidak tahu dengan siapa kau menikah?” Ucapku tidak mempercayainya. “Darling, aku tidak sempat mengatakannya karena ia keburu pergi dengan emosi. ” Matt menatapku dengan perasaan bersalah. “Aku tidak tahu ia sehisteris itu. Benar-benar bencana. ” Katanya lagi sambil menyetir. Aku mendesah, sepertinya Carrie akan jadi masalah dikemudian hari. Dan gadis itu tampaknya masih menyimpan perasaan pada suamiku.

“Kau masih marah ya?” Tanyanya sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk. Matt baru selesai mandi dan hanya memakai celana pendek kesukaannya. Aku mengalihkan pandanganku kebuku yang kupegang. Ah, melihat suamiku yang tampan dengan keadaan seperti ini selalu membuatku rikuh. Matt masuk dalam selimut dan merangkulku. “Aku akan berbicara dengannya saat keadaannya sudah tenang. ” Katanya sambil menarikku bersandar padanya. “Bagaimana dengan mantanmu yang lain?” Tanyaku dengan raut wajah sedikit kesal, membayangkan berapa banyak gadis yang dikencaninya sebelum akhirnya menikah denganku. Ini sedikit menyebalkan jika mengetahui semua riwayat percintaan suamimu. Matt menatap wajahku dengan senyuman kecil yang tidak kusukai. “Kau cemburu?” Ia tertawa. “TIDAK!” Kataku keras. Ia malah tertawa lebih keras, “Kau jelas sedang cemburu.”. “Bagaimana kalau kita buat pesta pernikahan yang meriah dan mengundang seluruh teman dan kolega kita. Supaya tidak ada lagi yang salah paham. ” Matt menatapku lekat-lekat dengan mata hijaunya itu. Aku menelan air ludah, pahit. “Kau tahukan bosku? Siwanita naga itu paling jahat pada pegawainya yang menikah. Aku takut ia akan memindahkanku ke kantor yang jauh dan aku terpaksa kehilangan pekerjaan karena itu.” Aku mengungkapkannya dengan hati-hati. Matt mendesah, “Kat, aku sangat mampu menghidupi kamu dengan layak. Aku punya banyak uang, sayang. ” Aku membalas tatapan matanya lembut. Dan membelai wajahnya, “Sayang. Aku sangat menyukai pekerjaanku. Tolong jangan suruh aku berhenti bekerja. ” Ucapku lirih. Matt kembali mendesah dan memelukku erat. “Aku sangat suka menyimpan dirimu hanya untukku. Tetapi aku jelas tidak akan tahan bila melihat ekspresimu yang seperti itu. Aku kalah. ” Ia mengucapkannya dengan bibir manyun. Aku tertawa melihatnya. “Kau yang terbaik, Matt!” Ujarku senang lalu mengecup pipinya, hangat. Ia mendelik senang, “Hanya pipi?” Aku tergelak.

¤¤¤¤

“Bagaimana?” Katrina berputar di hadapanku memakai gaun merah pendek. Memamerkan pundaknya yang telanjang dan menonjolkan payudaranya yang penuh. Ia tersenyum sangat manis. “Bagus tidak?” Suaranya terdengar renyah. “Ganti yang lain. Aku tidak suka. ” Kataku kesal. Ia terlihat heran tetapi ia menuruti keinginanku dengan kembali masuk kamar. Ya Tuhan, dia cantik sekali! Teriakku dalam hati. Seharusnya ia tidak berdandan secantik itu bila hanya menghadiri pesta kantor yang membosankan. Rutukku dalam hati. Semakin membuatku uring-uringan.
Aku dan Katrina pergi kepesta di sebuah Club terkenal. Sebagai seorang produser musik dan pemilik saham terbesar di Swyre Record aku harus menghadiri acara yang diadakan oleh perusahaan. Tidak banyak yang mengetahui aku dan Kat sudah menikah, tetapi banyak teman-temanku juga merupakan temannya istriku. Jadi tidak terlalu aneh bagi mereka bila melihat aku bergadengan dengan Katrina. Tetapi harus aku akui istriku tidak pernah kehilangan pesonanya bahkan setelah menikah. Kat sedang mengobrol dengan sepasang suami istri yang ternyata kliennya di kantor. Saat aku memutuskan mengambilkannya minuman. Aku memesan minuman di bar, Katrina nyaris tidak pernah minum minuman beralkohol. Selain tidak kuat ia memang tidak menyukainya.

“Hai, Matthew. ” Tegur seorang pria berlesung pipi yang berpakaian kasual. Aku mencoba mengingatnya. Ia tersenyum, “Aku mantannya Katrina. ” Ujarnya mengingatkan. “Oh, David bukan?” Tanyaku memastikan. Ternyata sibrengsek itu, makiku dalam hati. Ia tertawa. “Aku lihat kau bersama Katrina tadi. ” Ia menoleh pada istriku yang sedang tertawa dengan teman wanitanya. “Wow, gadis itu semakin cantik saja. ” Ujar David mengomentari Katrina. Ia kembali memandang Katrina dengan pandangan yang tidak kusukai, pandangan kurang ajar yang biasa diperlihatkan lelaki brengsek. “Katrina pasti tidak sesuci itu. Kira-kira malam ini kalau kutraktir minum sampai mabuk, ia bakalan tumbang tidak?” David tertawa kecil sambil menatapku. “Aku penasaran seperti apa dia di ranjang. ” Katanya tanpa perasaan. Aku sungguh sangat marah. Rasanya seluruh darah mengalir ke kepalaku. “Sebaiknya kau tidak melakukan itu!” Ujarku dingin. “Kenapa? Aku bisa berbagi denganmu. ” Ia tampak sangat menjijikkan dimataku. Dan semuanya terjadi dengan cepat. Aku meninju tepat dimata kirinya hingga ia tersungkur menabrak pelayan yang membawa senampan gelas bir. “Katrina itu istriku, brengsek! “Kataku dengan penekanan. Seorang petugas security memapahnya bangun dan mengiringnya keluar. Sebelum keadaan menjadi lebih kacau. Aku memandang pada Katrina yang membalas menatapku dengan heran.

Usai kejadian itu Katrina pergi ke Paris selama dua minggu. Proyek iklan mobil yang berhasil dimenangkannya syuting di pusat kota mode. Dan Katrina diutus kantor untuk mengawasi jalannya syuting sampai selesai. Aku merindukannya walau selalu mengirimkan pesan dan menelefonnya. Rasanya berbeda bila ia berasa disisiku. Dan hari ini ia pulang, aku berencana menjemputnya di bandara Heatrow. Sudah setengah jam aku menunggu di terminal kedatangan. Dan akhirnya ia muncul. Cantik seperti biasa dan melambai padaku. Aku menyongsongnya, memeluknya hangat. Ia mengecup pipiku. “Uh, kangen sekali. ” Katanya dengan manja. “Ayo kita makan!” Katanya sambil menggandengku.
“Aku sudah bilang ke Bosku bahwa kita sudah menikah. ” Ujarnya dengan senyum terkembang. Aku terkejut, “Benarkah?” Kataku tidak percaya. Katrina mengganggu dengan percaya diri. “Ia tentu saja kesal. Lalu aku bilang aku tidak mau dipindahkan ke daerah lain. Ia terpaksa menerima. ” Ujarnya menahan senyum. “Semudah itu?” Kataku dengan alis berkerut. “Tidak juga. Aku mengancam akan pindah kebiro lain dengan membawa klien potensial. ” Ia tertawa terbahak-bahak. Aku ikut tersenyum. ” Ia juga berjanji menaikkan gajiku sebanyak 25%. Tapi sepertinya sebentar lagi aku akan cuti. ” Katrina menatapku serius. “Kenapa? Kau ingin kita pergi bulan madu?” Aku tersenyum senang. Ia menatapku dengan pandangan lembut yang tidak kumengerti. “Matthew, aku hamil. Sudah 3 minggu. ” Ujarnya dengan mata berkaca-kaca dan tangan yang gemetar. Aku sangat terkejut. Woho, aku akan jadi seorang ayah. “Benarkah?” Tanyaku lagi dengan suara tercekat. Katrina mengangguk dengan semangat. “Kita akan jadi orang tua!” Pekiknya senang. Aku memeluknya dengan kegembiraan yang meluap. “Astaga Kat. Aku tidak percaya. ” Aku sangat senang. Aku tidak perlu berteriak mengatakan betapa aku mencintai wanita ini. Aku memang mencintainya. Mungkin sejak dulu. Dan aku bahagia. Seperti dia juga bahagia denganku. (Story end).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s