When I Find You!

¤(Kim Hana)¤
Dia bos yang baik, dia bahkan melindungiku saat terjadi kecelakaan namun setelah itu dia jadi berubah agak ‘aneh’. Dan kemarin adalah puncak dari seluruh kelakuannya yang tidak biasa. Dia menciumku. Lagi. Kali ini dengan penuh amarah, putus asa dan kepahitan. Setelah itu ia berkata, “Coba lupakan itu!” Benar-benar seperti seorang brengsek. Dia berhasil membuatku merasa bingung dan terganggu. Ada apa dengannya? Aku yakin banyak sekali perempuan yang akan dengan senang hati mau digoda olehnya, tetapi kenapa harus aku? Kalau aku tidak mengenalnya dan tahu latar belakangnya, aku pasti menganggap dia sebagai seorang playboy. Tapi sialnya aku tahu dengan pasti dia bukan laki-laki seperti itu. Dan itu membuat keadaan menjadi semakin parah, aku semakin tertekan jadinya. Direktur Park Jaebum aku harus bagaimana menghadapimu? Aku sudah berpura-pura tidak ada yang terjadi setelah kelakuanmu di rumah sakit, itu bukan hal yang mudah. Dan sekarang kau melakukannya lagi, kali ini kau meninggalkanku dengan marah. Mengapa kau yang marah? Aku yang seharusnya ngamuk dengan perlakuanmu yang makin aneh saja. Lalu setelah itu sikapnya jadi lebih dingin. Matanya selalu melihat dengan tatapan tajam, bibir yang selalu terkunci dan tangan yang terlipat di dada. Dan yang lebih menakutkan orang-orang di kantor juga merasakan auranya yang semakin gelap dan memilih menyingkir. Sebagai asisten pribadimu, aku mau menyingkir kemana?

Aku harus bertahan. Setelah kedua orang tuaku meninggal kehidupanku tidak pernah sama lagi. Semua keluarga dan teman menjauh. Aku nyaris terlunta-lunta. Terpaksa berhenti kuliah dan bekerja serabutan, karena seluruh harta disita oleh Bank. Lalu keadaan mulai membaik saat aku diterima bekerja di kantor ini. Aku bisa menyewa kamar yang layak, makan dengan tenang dan mulai mengumpulkan uang untuk melanjutkan kuliah lagi. Dan sejujurnya aku suka pekerjaanku dan semua orang disini. Tetapi belakangan ini keadaan menjadi rumit bagiku, Direktur menyatakan cinta dan menciumku. Lebih dari sekali. Aku bingung dan takut. Aku berharap ia segera sadar bahwa perasaannya tidak nyata. Hanya kegilaan sesaat dan akan membuatnya menyesal dikemudian hari. Tapi sepertinya Direktur malah semakin dalam terperosok dengan kebingungannya setelah Kak Minho datang. Sepertinya Direktur menganggap Kak Minho saingannya. Aneh sekali bukan.
Kak Minho. Ia yang selalu baik padaku dan bersikap dewasa. Aku menyukainya dari dulu hanya saja ia tidak pernah tahu. Aku mengenalnya dari kecil dan selalu terpesona pada kebaikan hatinya. Ia tipe orang yang memberi kursi pada seorang nenek atau kakek di bis kota. Dan tidak yakin sejak kapan, tapi aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku melihat Jang Hyerin menyatakan cinta, aku kira Kak Minho akan menolaknya seperti yang lain. Namun kali ini tidak, Kak Minho menciumnya. Aku patah hati namun tetap tidak bisa menghilangkan perasaan ini. Sedih memang tapi hidup berjalan terus dan aku bertahan. Setidaknya aku bisa tetap disampingnya sebagai teman.

Aku dan Kak Minho berjalan di taman setelah pulang nonton dan makan. “Belakangan ini Hana seperti banyak pikiran. Ada apa?” Tanya Kak Minho lembut. Aku tersenyum lemah. “Hanya sedikit capek saja Kak. ” Aku menggandeng tangannya. Sangat capek sebenarnya, setiap hari nyaris selalu bersama Direktur Park Jaebum yang moodnya berhasil kurusak. “Apa bosmu mempersulitmu?” Ia berhasil membuat aku terkejut. Kak Minho tertawa. “Aku tahu Park Jaebum menyukaimu. “Katanya sambil menepuk kepalaku pelan. “Kakak tahu darimana?” Tanyaku sangat penasaran. “Dia yang bilang sendiri padaku. Tetapi saat pertama bertemu dengannya aku langsung menyadarinya kok!” Kak Minho tersenyum bijaksana. Aku menunduk dan merasakan wajahku terbakar. “Hana menyukainya?” Tanyanya dengan serius. Aku membalas pandangannya. “Aku tidak tahu Kak. Tapi aku juga tidak merasa benci padanya.” Jawabku dengan jujur. Lama kami terdiam. Hanya saling berjalan beriringan sampai ke depan rumah tempat aku menyewa. “Hana, bagaimana kalau ikut aku ke Inggris? Aku punya uang. Hana bisa meneruskan sekolah. Dan kita bisa bersama-sama lagi. ” Ujarnya dengan hati-hati. Namun tak urung membuatku terkejut juga. Aku menatap Kak Minho dalam-dalam. Dan tidak menemukan setitik candaan disana. “Aku tidak bisa Kak. Tapi terimakasih atas tawarannya. ” Kataku pelan dan tersenyum. Aku sedikit merasa kecewa. “Mengapa?” Tanyanya tidak mengerti. “Aku tahu maksud Kakak baik. Aku mengerti. Setelah Ayah dan Ibu tiada, aku banyak belajar. Salah satunya adalah jangan bergantung pada siapapun selagi masih mampu. Kehidupanku saat ini tidak buruk-buruk amat. Bahkan jauh lebih baik daripada sebelumnya. Dan aku melakukannya dengan kemampuan aku sendiri Kak.” Aku menekuri setiap inchi wajahnya yang tampan dan melihat guratan kekecewaan disana. “Aku akan meneruskan kuliahku tetapi dengan usahaku sendiri.” Kataku lagi. Kak Minho menarik nafas panjang, “Kau tersinggung?” Tanyanya lembut. Aku tersenyum, “Sedikit. Kakak tidak mempercayaiku. ” Ia menggenggam tanganku. “Lusa aku kembali ke London. Aku harap kau mau mempertimbangkannya lagi, Hana. ” Ujarnya lembut. “Aku sudah lama putus dari Hyerin. ” Sambungnya kembali mengejutkanku. “Putus? Kenapa?” Kataku terbata-bata. “Karenamu!” Ucapnya pelan. “Aku?” Pekikku kaget.

Aku dan Direktur duduk di mobil dalam perjalanan ke Bandara. Hari ini kami akan ke Indonesia, melihat pabrik baru yang akan diresmikan. Aku melirik pada pria di sampingku yang sedang membaca dokumen. Memikirkan bagaimana bisa orang seperti dia menyukaiku. Aku mendesah. “Kalau pandangan bisa membuat lubang. Mungkin wajahku sudah penuh lubang gara-gara kamu. ” Ujarnya dingin seperti biasa. Aku terkejut dan sangat malu. “Apa?” Ia melirikku dengan tajam. Aku hanya diam, tidak bereaksi. “Kau baru menyadari aku tampan ya?” Tanyanya lagi. Lalu ia tertawa lepas. “Ternyata begini aslinya Direktur. Sangat Narsis!” Balasku dengan senyum masam. “Apa yang membuatmu tidak menyukaiku?” Tanyanya dengan nada hati-hati. “Saya tidak membenci anda, Pak!” Jawabku otomatis. Ia menghela nafas, “Miss Hana. Tidak bertanya kenapa aku menyukaimu?” Ia menatapku lembut. “Kenapa anda menyukai saya, Pak?” Aku mengulangi pertanyaannya dengan hati berdebar. “Awalnya aku pikir ini hanya rasa iba. Aku salut dengan ketegaranmu dalam menghadapi cobaan hidup. Aku ingin membantumu dan melindungimu. Tetapi pada akhirnya aku menyadari aku melihatmu sebagai wanita bukan seorang adik atau seseorang yang butuh bantuan. Aku sudah berusaha untuk menghilangkan perasaan ini. Tapi tidak berdaya. ” Ia memandangku lurus dengan tatapan yang tidak kukenali artinya. Dan entah mengapa debaran di dada ini malah semakin kencang. “Apa kau mengerti perasaan seperti ini? Nyaman namun berdebar-debar kencang saat di sampingmu. Malu sekaligus rindu melihatmu setiap saat. Kecanduan melihat senyuman itu. Dan bahagia hanya dengan melihat tawa kecil di wajah itu. Seperti inilah yang aku rasakan. ” Ujarnya bersungguh-sungguh. Aku merasa tersentuh. Tetapi hubungan ini tetap mustahil bagiku. Dia terlalu jauh untuk orang seperti aku. Meskipun kelak ia mau melangkah memasuki duniaku, apa keadaan bisa menerima semudah itu. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Aku tidak bisa menahannya. Pikirku sedih.

“Tuan Park!” Aku bangkit dan membungkuk dengan hormat. Pada pria setengah baya yang mengundangku makan siang di restoran ini. Ia tertawa dan menyuruhku duduk lagi. “Kita makan sambil berbincang ya.” Pintanya padaku. “Baik, Pak. ” Aku mengangguk. “Bagaimana kabarmu? Aku dengar Jaebum mempersulitmu ya. ” Katanya langsung, membuatku salah tingkah. “Soal itu,..!” Aku bingung mau berkata apa. Ia tertawa menenangkanku, “Aku sudah menduganya sejak pertama kali ia membawamu makan bersamaku. ” Katanya dengan senyuman. “Tenang saja. Aku tidak akan memaksamu menerima atau menjauhi anakku. Tetapi sebagai orang tua, aku hanya bisa berharap anakku bahagia dengan apapun pilihannya. ” Aku terdiam mendengar ucapannya yang bijaksana itu. “Jaebum bilang kau selalu menolaknya. ” Ia tertawa dengan riang. Aku merasa wajahku memerah, malu hal seperti ini diketahui Tuan Park. “Aku mengerti perasaan Miss Hana. ” Ujarnya setelah tawanya reda. Aku mengernyit bingung, “Bapak mengerti?” Tanyaku lagi. “Miss Hana bukannya tidak suka pada Jaebum. Hanya saja ragu dengan ketulusannya. Ragu apakah dia benar-benar serius. Dan lain-lain. ” Tebaknya tanpa basa-basi. Aku merasa Tuan Park seperti membaca hatiku. “Bagaimana kalau kubilang ini pertama kalinya Jaebum jatuh cinta. ” “Apa??” Aku kaget setengah mati. Dan Tuan Park tertawa kecil, “Ini benar. ” Katanya berusaha meyakinkanku. Aku diam-diam merasa tersanjung. Entah apa yang membuat orang seperti dia bisa menyukaiku. “Miss Hana tidak ingin menyelesaikan kuliahnya?” Tanya Tuan Park serius. “Saya sedang mengumpulkan uang, Pak. ” Kataku tersenyum. Mungkin butuh waktu 1 atau 2 tahun lagi, pikirku. “Bagaimana kalau disponsori perusahaan tetapi dengan syarat setelah lulus, Miss Hana harus bekerja di perusahaan sebagai pegawai tetap? ” Tuan Park tersenyum dengan kilatan jahil di matanya. “Bapak serius?” Tanyaku dengan suara tercekat. “Tentu saja. Sekalian kita menguji Jaebum. Apakah ia benar serius mengejar Nona atau tidak?” Ia tertawa terbahak-bahak. Hah! Aku terheran-heran melihat reaksinya. Pria ini sepertinya senang sekali mengerjai anaknya. Dan ia terlihat bahagia sekali saat menyebut nama Direktur. Sepertinya ia sangat menyayangi anak semata wayangnya itu.

¤¤¤¤

¤(Park Jaebum)¤
“Apa ini?” Tanyaku sambil melihat surat di atas mejaku. Kim Hana yang berdiri di depanku tersenyum, wajahnya tampak gembira sekali. “Surat cuti, Pak. Saya akan kembali kuliah. ” Ujarnya sangat senang. Membuatku merasa kesal. “Siapa yang memberimu ijin untuk cuti setahun?” Kataku keras. “Ayah anda merekomendasikan saya untuk beasiswa dari perusahaan. ” Ia terlihat sangat bahagia. Tetapi tidak denganku, mengapa Ayah melakukan ini tanpa berbicara dulu denganku. “Kau sangat senang?” Tanyaku pada gadis di hadapanku. Ia terlihat sangat senang, wajahnya berseri-seri. Sebahagia itukah dirinya karena dapat meneruskan pendidikannya? Atau karena bisa terbebas dari diriku? Aku bertanya-tanya dalam hati. “Saya senang, Pak. Saya akan segera menyelesaikan pendidikan dan kembali bekerja di perusahaan lagi. ” Ujarnya dengan semangat dan binar indah di matanya. Aku berharap gadis ini selalu aman, makan yang cukup dan bahagia. Itu saja. “Bapak maukan menunggu saya sampai saya merasa pantas ada di sampingmu?” Ucapnya tiba-tiba. Aku terkejut. Ia tersenyum, “Saat ini saya belum bisa membalas perasaan Direktur. Bukan karena saya tidak menyukai Bapak, tetapi saya akan berusaha jadi lebih baik lagi. Hanya satu tahun saja, saya akan kembali. ” Ia menatapku dengan lembut. “Bagaimana, Park Jaebum-ssi?” Ia tertawa melihat reaksiku yang masih lambat. Aku memeluknya dan tertawa. “Kau masih mengujiku ya? Satu tahun itu kecil. ” Kataku sambil memandang wajahnya. “Benarkah?” Ia memicingkan matanya. “Kalau begitu aku akan mengambil S2 ke luar negeri. Kebetulan Kak Minho pernah mengajakku. ” Ujarnya dengan yakin. “Hei, jangan sebut nama laki-laki lain!” Kataku kesal. Ia tertawa.

Beberapa bulan kemudian.
Sepasang kekasih sedang berkelahi di dalam mobil. “Aku sudah bilang besok aku ujian. Tapi kau terus memaksaku pergi!” Kata si gadis dengan kesal. Si pria juga terlihat kesal, “Besok aku harus ke Jepang selama sebulan. Apa salahnya malam ini kita berkencan? Lagipula dengan otakmu yang seperti itu nilaimu pasti bagus. ” Ujarnya enteng. “Park Jaebum!” Pekik si gadis kesal. Si pria menghentikan mobilnya tiba-tiba, membuat si gadis kaget. “Hei, panggil aku Oppa (kakak)!” Katanya merajuk. “Kau ini benar-benar menyebalkan. Aku bilang kau harus menungguku selesai kuliah tapi kau terus-menerus merecokiku dengan ide berkencan. ” Marah gadis itu berapi-api. “Yak! Seharusnya kau senang aku bisa meluangkan waktu untuk kita berkencan. Kau tahu aku sangat sibuk. ” Kata pria itu tidak mau kalah. “Yak! Kau membuat Sekretaris Lee kalang kabut dan yang lainnya susah di kantor. Kau pikir aku tidak tahu?” Gadis itu menatapnya kesal. Park Jaebum tersenyum jahil, ia memang sangat merepotkan Sekretaris Lee dan yang lain di kantor belakangan ini. Bahkan Pak Jang, sopirnya ikut terkena getahnya. “Hei, Miss Hana. Aku ini masih bosmu. ” Ujarnya mengingatkan. Kim Hana memandangnya dengan tatapan mencela, “Sebaiknya aku berubah pikiran sekarang. Daripada menyesal dikemudian hari. Lagipula Kak Minho masih menungguku di London. ” “Jangan sebut-sebut namanya!” Ujar pria itu kembali kesal. “Kak Minho tidak mungkin berlaku tidak bertanggung jawab sepertimu. ” Katanya lagi. “Yak. Sudah kubilang jangan menyebutkan namanya. ” Ia menarik tangan kekasihnya. “Aku ingin memberikan ini. ” Park Jaebum memberikan bingkisan kotak kecil. “Ulang tahunmu 3 hari lagi tetapi aku sedang di Jepang. Hanya malam ini kesempatan aku untuk bertemu denganmu. ” Ia menatap gadis itu dengan pandangan lembut. Kim Hana terdiam, wajahnya tampak menahan perasaan yang tiba-tiba sedih. “Kau tahu hari ulang tahunku?” Katanya dengan mata berkaca-kaca. “Tentu saja, bodoh!” Ia tertawa dan membelai kepala gadis itu. Ia memeluknya. “Ah, aku akan merindukan ini. ” Ucapnya pada diri sendiri. ” Dan ini juga!” Ia mengecup bibir kekasihnya. Gadis itu menangis, “Terimakasih!” Bisiknya lirih. “Dan aku mencintaimu!” Sambungnya lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s