Baby, I’m so Lonely!

Kirara, gadis cantik dengan tubuh semampai. Dibalut sackdress biru gelap, yang tampak kontras dikulit kuning langsatnya. Ia duduk dengan anggun di sofa sudut kafe. Secangkir latte mengepul di hadapannya. Ia mengacuhkannya dengan menatap keluar jendela kaca, jauh. Sesekali ia menyentuh mainan kalung yang melingkari leher jenjangnya. Ia mendesah. Berusaha menguatkan dirinya, meyakinkan bahwa keputusan yang akan diambilnya adalah yang terbaik yang dapat dilakukannya.

Ting!
Bunyi lonceng kecil di pintu kafe saat seorang pemuda yang sangat tampan memasuki ruangan ini. Suasana kafe tampak sepi, pemuda itu mengedarkan pandangannya dan melihat ke sudut. Tempat dimana ia bisa bercengkrama dengan teman-teman dan kekasihnya. Ia tersenyum dan berjalan penuh percaya diri menuju gadis itu.

“Baby!” Ujarnya tampak senang lalu mengecup pipi gadisnya. Ia merangkulnya hangat. “I miss you so much!” Bisiknya ditelinga Kirara.
Gadis itu tersenyum kecil dan menunduk. “Sudah makan?” Tanyanya lembut. Pemuda itu membalas senyumannya dan membelai kepalanya, “Tentu saja sudah. ” Ia berkata dengan nada tak kalah lembut. Memandang Kirara dengan tatapan memuja.

“Bagaimana perjalananmu?” Gadis itu menarik kedua belah tangannya dan menatap pemuda itu penuh perhatian. Han, pemuda berhidung mancung dengan mata tajam ini bercerita panjang lebar tentang kegiatannya di Jepang selama sebulan terakhir. Berkali-kali ia menyentuh pundak, dagu dan tangan kekasihnya namun gadis di hadapannya ini hanya diam mendengar ia berbicara. Sesekali ia tersenyum dengan sorot mata yang sedalam lautan.

“Baby, ada apa?” Han merangkulnya dengan perasaan tidak nyaman. Seolah ada sesuatu yang mengganggunya tentang gadis ini.
“Han, aku ingin pulang ke Indonesia. ” Ucap gadis itu dengan perlahan dan mata yang berkaca-kaca. Han tertegun dan menatap gadis itu tajam, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. “Mendadak sekali. ” Katanya dengan nada berhati-hati.

“Aku tidak akan kembali ke Seol. ” Kembali gadis itu berucap pelan. Han tersengat, ia terdiam. Kehilangan kata-kata. Hanya jari-jarinya yang terkepal erat. “Ada apa, Baby?” Ia bertanya dengan melihat langsung ke dalam mata gadis yang sangat dicintainya ini. Seolah mencari tanda-tanda atau sesuatu, apapun itu. Pertanda bahwa semua ini hanya candaan saja.

“Apa ada orang lain?” Katanya dengan nada cemas. Kirara menangis, “Kau tahu itu tidak benar. ” Ujarnya sedih. Han menyentuh tangan gadis itu lagi, menggenggamnya lembut. “Aku tidak mengerti. ” Ia menggeleng dengan rasa frustasi. “Apa yang terjadi, Baby? Kau tahu aku sangat mencintaimu. Kau juga tahu aku selalu setia padamu. ” Ia meremas jemari gadisnya. Ia kembali mengeleng tidak mengerti.

“Aku tahu, Han. ” Ia membelai wajah pemuda yang sudah mengisi hatinya selama tiga tahun terakhir. “Kau pria yang sangat baik. Tidak ada yang salah padamu. Ini bukan tentang kau, Han. ” Gadis itu membiarkan butiran permata yang membanjiri pipi halusnya. “Baby, aku tidak mengerti. Mengapa kau berubah? Apa ada yang salah padaku?” Kembali ia bertanya-tanya.

“Han, aku mencintaimu. Tapi saat ini aku tidak bahagia meskipun di sampingmu. Aku lelah dengan semuanya. ” Ucapnya dengan nada tercekat. Han menarik nafas dengan berat, kecurigaannya terbukti. Perasaan tidak nyaman yang dirasakannya tadi ternyata memang benar terjadi. “Baby, I’m so sorry!” Bisiknya dengan berat. “Please don’t leave me. I will change. But please don’t leave me, Baby. ” Ujarnya menghiba.

“Han, it’s not about you. It’s not your fault. Aku yang berubah. Baby, I feel so lonely. I’m not happy anymore. I feel bad for myself but I can’t take it anymore. I always love you, tapi aku nggak sanggup lagi berada di sisi kamu. I’m sorry Han!” Kirara mengusap wajahnya yang basah dengan air mata. ” I’m sorry. I’m sorry. I’m so sorry, baby!” Ujarnya berkali-kali.

“Aku yang salah. Aku yang berubah. Aku wanita yang jahat, Han. Kau boleh membenciku setelah semua ini. ” ucapnya penuh penyesalan. “Baby, bagaimana aku bisa membencimu? Aku sangat mencintaimu. ” Han menyentuh pundak gadis itu. “Maaf selama ini aku tidak menyadarinya. Ini salahku. ” Pemuda itu tampak sangat terpukul. Dan sangat sedih. Berkali-kali ia mengusap wajahnya. “Aku tidak pernah menyadari betapa berat malam-malam yang kau lewati sendirian tanpaku. Aku bahkan tidak tahu beratnya tekanan yang kau hadapi. Baby, I’m so sorry. But don’t leave me. ”

Kirara menangis tergugu, hal ini pun tidak mudah baginya. Betapapun bulat tekadnya untuk mengungkapkan masalah ini sejujurnya ia tidak pernah ingin menyakiti Han dan membuatnya membenci dirinya. Ia tidak bisa bersikap egois dengan meninggalkan Han tanpa penjelasan. Setelah bertahun-tahun penuh kenangan, mereka pernah saling mencintai dan berbahagia bersama. Pria itu pernah merajai seluruh hatinya. Membuatnya meninggalkan tanah air dan keluarganya, memilih untuk bisa bersama Han. Hidup di kota asing yang bahkan bahasanya tidak begitu ia kuasai. Terasing dan kesepian karena harus menutupi jati diri, karena tidak pernah mudah menjadi kekasih seorang superstar seperti Han. Selalu bersembunyi. Sendirian. Hanya bisa menanti dan menunggu Han. Belum lagi tekanan dari agency tempat Han bernaung yang tidak menyukai hubungan mereka. Gadis itu bahkan tidak punya teman untuk mencurahkan isi hatinya. Sementara Han selalu sibuk dengan kegiatannya dan jadwalnya yang padat.

Kirara kesepian dan menderita sendirian. Ia mencoba bertahan tetapi pada akhirnya tanpa ia sadari semua telah berubah. Ia merasa tidak sama lagi. Dan tidak bisa kembali menjadi seperti dulu. Ia memang masih mencintai pemuda itu, tetapi ia sangat kesepian. Bahkan saat ia bersama Han. Ia tidak bahagia lagi.

Gadis itu ingin pulang. Kirara hanya gadis biasa yang tidak bisa mengerti lagi untuk apa semua hal ini dilakukan bila ternyata jauh dilubuk hatinya, ia tahu kebahagiaan itu sudah menghilang. Pada akhirnya disinilah akhir kisah mereka berdua, perjuangan yang telah terlewati seakan tidak bisa merekatkan lagi kepingan hati yang menjauh satu sama lain.

“Han, kau pria yang sangat baik. Kau tidak bersalah sedikit pun. Aku yang menyerah dan tak sanggup lagi. Kau berhak membenciku. ” Ucap Kirara dengan nada lelah. “Kau harus mendapatkan yang lebih baik daripada aku. Yang lebih mencintaimu. Yang tidak akan berubah meskipun sudah lama. Yang memperlakukanmu lebih baik dari yang aku bisa lakukan. Aku tidak pantas bersamamu lagi. Aku tidak seberharga itu untuk dipertahankan. ” Gadis itu menyusuri lengan Han dan menyentuh jemarinya lembut. “Ingatlah kita pernah bahagia bersama. Dan saling mencintai. Maafkan aku!” Bisiknya lembut dan mengecup pipi Han.

Han menangis. Ia memeluk Kirara untuk terakhir kalinya. “Tidak bisakah kau tinggal?” Tanyanya dengan kesedihan menghujam jantung. Kirara membalas pelukannya. “Aku berangkat malam ini. ” Ujar gadis itu dengan nada tak kalah sedihnya. “Maafkan aku, Baby. ” Ucap Han berkali-kali. Dengan perasaan remuk redam. “Maafkan aku, Han!” Bisik Kirana tak kalah sedihnya. “Aku lebih memilih pergi daripada tetap bersamamu yang selalu membuatku merasa kesepian. Maaf Han, aku tidak sekuat itu. Maafkan aku!” Bisiknya penuh penyesalan. Mereka saling berpelukan dan menangisi hati mereka yang terluka.

Malam sudah beranjak dan merajai langit kota Seol. Han masih duduk di tempat yang sama, saat bersama Kirara beberapa jam lalu. Ia menatap jauh ke luar jendela. Raut wajah tampannya tampak sangat kelam dan bersedih. Ia telah berdiam diri selama berjam-jam dan tenggelam dalam lautan perasaannya yang kacau. Kirara telah pergi dari hidupnya dan Korea. Tidak akan kembali. Tidak sepenuhnya bersalah. Dan disinilah mereka berakhir, di sudut sebuah kafe. Setelah perjuangan yang berat selama ini dan bertahun-tahun bersama. Han membiarkan air matanya menetes. Ia akan membiarkan dirinya menangis hari ini. Hanya hari ini saja. Karena esok akan jauh lebih berat baginya namun ia tetap harus menahannya sendirian.

“Baby, forgive me. I love you so much!” Bisiknya pada angin. Pada langit yang hitam. Pada penderitaan yang akan menyongsongnya di hari-hari ke depan.

Note : cerita ini berawal saat saya mendengarkan lagu Lonely – 2NE1. Saya mencari terjemahan liriknya dan langsung jatuh cinta. Kesepian lebih menakutkan dibandingkan kehilangan cinta. Karena lebih baik sendiri daripada bersama seseorang yang membuat kita selalu merasa kesepian meskipun berada di sampingnya.

2 thoughts on “Baby, I’m so Lonely!

  1. Pernah ngalamin yg dialami kirara, tiap hr ketemu tp aku ngerasa kesepian.. waktu minta putus dia kaget bgt karna ngerasa semuanya baik²aja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s