Even If I Die, I Can’t Let You Go (Part 1)

“Sudah lama?”
Hyde menatap intens gadis di hadapannya yang menunggunya dengan sabar.
Kira tersenyum lalu menutup majalah yang terbuka dipangkuannya.
“Cukup untuk menghabiskan beberapa cangkir teh. Dan sebuah novel detektif. ” Ujarnya dengan sudut mata bersinar jahil.
Hyde mengacak poni gadis itu gemas. Dan tertawa lepas. Hanya gadis ini yang bisa membuatnya tetap jadi diri sendiri dan tidak ingin menjaga imagenya sebagai seorang bintang.
Tak lama seorang pelayan mengantarkan makanan yang sudah mereka pesan. Kira tampak bersemangat memegang sumpitnya.
“Apa sebegitu laparnya?” Tanya Hyde dengan senyum kecil.
“Kau tidak pernah tahu.” Keluhnya dengan bibir mencebik, lucu.
Hyde membolak-balik daging dan menaruhnya di mangkuk Kira.
“Ada berita apa? sepertinya aku bisa melihat ekor anjing tidak sabaran dibalik rokmu.” Kata Hyde dengan nada ringan.
Kira tertawa kecil, wajahnya bercahaya penuh kebahagiaan.
“Ryosuke melamarku!” Ucapnya dengan bangga.
Hyde menatapnya tajam, “Benarkah?” Tanyanya memastikan.
“Tentu. Dia melamarku kemarin, saat mengantar aku pulang.” Kira menatapnya dengan mata berbinar.
Sungguh tidak romantis, pikir Hyde.
“Kau menerimanya?” Ia terlihat mengacuhkan makanannya.
Kira tersenyum, “Aku bilang akan memikirkannya. ”
Hyde tersenyum, “Bagus. Jangan terburu-buru memutuskannya. ”
Ia kembali menaruh banyak daging ke mangkuk gadis cantik ini.
“Makan yang banyak!” Ucapnya dengan sebuah senyuman tulus.
Kira membalas senyumannya dan menyuapkan daging kemulutnya.

Hyde sedang menekuri sebuah naskah film saat manajernya datang membawakan minuman hangat. Pemuda itu menoleh sekilas dan mengucapkan terimakasih.
“Bagaimana kencanmu semalam?” Manajer Sho tersenyum menggodanya.
Hyde tersenyum masam. Lalu melempar kertas yang dipegangnya dengan kesal.
“Kira dilamar!” Ucapnya singkat.
Manajernya tertawa lalu berkata, “Tidak heran. Gadis semenarik itu pasti banyak yang menyukainya. ”
Hyde mendesah. Ia tahu benar hal itu. Karena ia dan Kira sudah berteman bertahun-tahun lamanya. Sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Dari dulu selalu saja ada serangga-serangga busuk yang mencoba mendekati gadis itu tetapi Kira tidak semudah itu bisa didapatkan. Berbeda dengan Hyde yang dikenal sebagai pria yang suka berganti-ganti pacar dengan gampangnya.
Kira tipe gadis serius yang selalu bersikap jujur dan hangat. Ia mungkin terlihat membosankan bagi yang lain. Namun Hyde mengagumi kecerdasannya dan sifat baik hatinya yang nyaris naif. Hanya Kira, wanita yang dapat bertahan begitu lama di sampingnya tanpa pernah berusaha menghakiminya.
“Aku tidak yakin pria itu baik untuknya. ” Ucapnya dengan nada biasa.
“Maksudmu?” Tanya Sho tertarik.
Hyde hanya menarik nafas dengan ekspresi malas.
Tidak ada yang mengerti Kira seperti diriku. Aku sudah bersama dengannya selama 10tahun dan aku yang ada disisinya saat yang lain menyakitinya. Kata Hyde di dalam hati.
Dan selama ini walau ia telah banyak bergonta-ganti pacar, hanya Kiralah yang setia padanya. Yang tetap tidak berubah dari dulu. Yang selalu menganggap ia pria baik dan lebih dari yang selama ini ia perlihatkan pada semua orang. Kira terlalu memandang tinggi padanya.
Hyde mendesah lalu kembali membaca naskah film yang tadi dihempaskannya ke sofa.

¤¤¤¤

Kira tersenyum, tangannya melambai pada seorang pria yang sedang menunggunya di sudut kafe.
“Maaf aku sedikit terlambat!” Ucapnya dengan wajah memerah karena cuaca dingin diluar.
Ryosuke tersenyum hangat.
“Apa yang membuatmu terlambat?”
“Ah, Hyde tiba-tiba menculikku dari kantor penerbit. ”
Sudut mata Kira bersinar dan mulutnya menahan tawa. Tampaknya ia menganggap apa yang dilakukan Hyde adalah hal lucu.
Ryosuke tidak menyukai ini. Dari dulu ia juga tidak menyukai Hyde, si aktor terkenal dan playboy kelas kakap.
“Aku tidak suka padanya. ” Ujar Ryosuke tiba-tiba.
Kira menoleh padanya dengan pandangan lembut.
“Aku tahu!” Ucapnya dengan sama lembutnya.
“Kau tahu?” Kaget Ryosuke. “Lalu kenapa tetap berteman dengannya?” Tanyanya lagi.
Kira tertawa, “Kau cemburu?” Ucapnya dengan nada menggoda.
“Aku heran kenapa kau bisa berteman dengan orang seperti itu. Sama sekali tidak cocok dengan kepribadianmu. ” Ryosuke menatapnya dengan pandangan tajam.
“Jadi menurutmu aku harus berteman dengan orang seperti apa?”
Kira mengetuk jari-jarinya kepermukaan meja. Terlihat mulai terganggu. Namun Ryosuke tidak menyadarinya.
“Yang jelas bukan dengan pria seperti dia.”
“Memangnya dia pria seperti apa?” Tanya Kira dengan alis yang naik sebelah, tidak sabaran.
Ryosuke menatapnya dalam-dalam dan berkata “Pria mesum mata keranjang. ”
Wajah Kira terkejut lalu tertawa terbahak-bahak. Membuat pria di hadapannya merasa tersinggung berat.

Selalu saja begitu. Setiap pria yang sedang dekat dengannya atau sedang menjalin hubungan dengannya, tidak pernah menyukai Hyde. Entah karena sebab apapun. Dan jujur saja Hyde juga tidak pernah terlalu respek dengan pria-pria yang mengencaninya.
“Kau terlalu bodoh memilih lelaki!” Katanya suatu ketika saat Kira menceritakan hubungannya yang kandas.
Tetapi Hyde yang selalu dengan tulus menghiburnya. Dan kapanpun ia butuh bantuan Hyde secepat yang ia bisa pasti akan datang padanya.
Ia mengerti mengapa Hyde tidak mempercayai komitmen dengan wanita. Ibunya Hyde seorang artis berbakat dan sangat terkenal dijamannya. Dan sudah beberapa kali kawin dan bercerai. Ayahnya Hyde adalah seorang komposer yang juga sudah beberapa kali menikah dan bercerai. Hyde muak melihat kedua orang tuanya yang berganti-ganti pasangan lalu memutuskan ikut dengan Kakek dan Neneknya. Tetapi dengan latar belakang seperti itu ia jadi tidak mempercayai pernikahan dan komitmen pada satu pasangan saja.

Dihari pertama Kira masuk SMU, ia harus membaca pidato mewakili anak baru. Sebenarnya ia hanya murid dengan nilai kedua tertinggi. Murid dengan nilai pertama tertinggi tidak bisa datang tepat waktu. Kira merasa kesal karena ia pertama kali dikalahkan oleh orang lain. Lalu yang membuat Kira lebih terkejut adalah saat ia menyadari murid yang mengalahkannya adalah seorang laki-laki yang berwajah tampan dan jangkung yang selalu dikelilingi murid-murid perempuan. Bahkan rambutnya dicat berwarna coklat gelap. Benar-benar tipe yang tidak disukainya. Apalagi setelah ia tahu Miyamoto Hideaki, nama murid tersebut adalah seorang selebriti. Ia benar-benar kesal mengetahuinya, membuatnya belajar lebih keras lagi dan kembali menjadi sijuara umum. Miyamoto Hideaki tidak merasa terganggu, malah memaksa untuk duduk sebangku dengan Kira. Meminjam catatan dan sering mengajaknya belajar bersama, karena ia jarang masuk akibat kesibukannya sebagai artis terkenal. Dan mereka jadi berteman sejak saat itu.

“Kau melamun lagi!” Ujar Ryosuke.
Matanya menatap Kira dalam-dalam. Seolah ingin membaca isi hati gadis ini.
“Dan kau menatapku seperti ingin menginterogasiku!” Kata Kira dengan senyuman kecil.
“Aku memang selalu ingin tahu, apa yang ada dipikiran gadis cemerlang ini. ” Ryosuke mendengus kesal. “Tetapi ia tidak pernah mengatakan apa-apa. ” Tambahnya dengan nada ragu.
“Hyde adalah sahabatku selama bertahun-tahun. Kami tumbuh dewasa bersama. ”
Tatapan mata Kira melembut dan sudut bibirnya tersenyum.
“Tidak bisakah kau berhenti berteman dengannya?” Ryosuke menyentuh lengannya dengan lembut.
“Berhenti berteman dengannya berarti aku harus pindah ke Kutub Utara dan jadi beruang putih. ”
Kira tertawa kecil dan membalas pandangan Ryosuke. Tetapi melihat wajah Ryosuke yang tanpa ekspresi tersenyum, gadis itu sadar pria ini tidak sedang bercanda.
“Aku tidak tahu mengapa, tapi aku benar-benar tidak menyukai pria itu!” Ujarnya dengan nada getas.

¤¤¤¤

Tengah malam. Saat Hyde baru saja berbaring ditempat tidur, ia mendengar suara pintu ditutup dengan keras. Lalu pemuda itu bangun dan berjalan keluar kamar. Hanya ada satu orang di dunia ini yang mengetahui password kuncinya. “Kira!” Panggilnya sambil melihat ruang tengah yang gelap. Ia meraba tombol lampu dan sedetik kemudian cahaya membutakan matanya.
Terdengar cegukan di dapur dan Hyde melihat sosok gadis itu sedang meminum air putih. Hyde mendekatinya dan memperhatikan wajah gadis itu memerah.
“Kau mabuk?” Katanya dengan kesal.
Kira paling lemah dengan alkohol dan biasanya ia tidak suka minum. Dan sudah jadi kebiasaan baginya kalau ia mabuk malah pulang ke mansion Hyde. Bukan ke flatnya sendiri.
Hyde memapah gadis itu ke sofa di depan televisi. Kira masih cegukan dan setengah sadar.
“Hei, gadis bodoh. Apa yang terjadi?” Hardik pemuda itu sambil merapikan rambut Kira yang berserakan.
Hyde mengambil ikat rambut ditas Kira dan mengikat rambutnya tinggi-tinggi.
“Aku berantem dengan pria bodoh itu.” Kata Kira dengan kesal.
Matanya berkedip-kedip tidak fokus.
“Ryosuke?” Tanya Hyde ikut-ikutan kesal.
Kira mengangguk, “Menyebalkan sekali!”
Gadis itu bersandar pada Hyde dengan mata terpejam.
“Ada apa?” Tanya pemuda itu lagi.
“Kami bertengkar karena masalah sepele dan pada akhirnya dia, berani-beraninya dia..!” Kira mendesah kesal. “Apa yang dilakukannya?” Hyde menunduk menatap wajah gadis itu.
Kira mendongak dan masih berkedip-kedip bingung. “Dia menciumku!”

“Bagaimana kabarmu?”
Suara Hyde terdengar tidak semangat.
“Seperti biasa. Kau sakit?” Tanya Kira dengan kening berkerut.
“Hmm. Mungkin karena terlalu lama berendam air laut ditengah cuaca panas. ” Ujarnya dengan nada lelah.
“Pasti menyenangkan disana. ”
Kira cemberut membayangkan Hyde yang sedang melakukan photo session dengan Asia Magazine. Di Raja Ampat, Indonesia.
“Yah, menyenangkan kalau tidak terkena flu. Aku bahkan tidak bisa diving. Padahal disini hanya tinggal sehari lagi. ”
Kira tertawa mendengar nada suara Hyde yang menderita.
“Kau sudah berbaikan dengannya?”
Kira terdiam sejenak.
“Aku jadi memikirkan semuanya lebih dalam lagi. Kalau dipikir-pikir sejak dulu aku selalu saja salah memilih pacar. Ingat pacar pertamaku di SMU? Yang ketahuan berciuman dengan kakak kelas di perpustakaan. ”
Hyde mendesah, “Aku ingat!”.
“Lalu saat kuliah, setelah dua tahun berpacaran aku memergokinya keluar dari hotel dengan asisten dosen! ” Ujar Kira dengan nada suara mengecam.
“Aku juga ingat bagian itu!” Hyde kembali mendesah.
“Belum lagi mereka yang masih pendekatan saja sudah berlaku kurang ajar padaku. ”
Dan kini nada suara Kira nyaris histeris.
“Apa ini salahku?” Tanya Kira dengan nada kecewa.
Hyde menghela napas panjang.
“Berapa lama kita berteman? Pernahkan aku berbuat kurang ajar padamu?” Tanyanya dengan nada serius.
“Tidak!” Jawab Kira tegas. Ia yakin akan hal itu, Hyde tidak pernah bersikap seperti itu padanya. Juga dengan perempuan lain. Walaupun pemuda itu playboy, ia tidak pernah memaksa perempuan melakukan hal yang tidak mereka inginkan.
“Kau cuma salah memilih orang. Banyak laki-laki yang berpura-pura baik dan alim tetapi aslinya tetap saja brengsek. ” Ucap Hyde dengar perlahan. “Apalagi dengan sikapmu yang seperti itu, mereka mencari pelampiasan kepada yang lain. ” Tambahnya lagi. Tidak menenangkan.
Ryosuke berkali-kali mengirim pesan. Menelepon. Namun Kira mengacuhkannya.
Baru saja ia melamarku dan hanya karena masalah sepele kami bertengkar hebat. Dan apa ia pikir dengan berciuman masalah akan selesai? Bodoh sekali. Aku rasa aku harus memikirkan ulang rencana pertunangan ini. Pikir Kira sambil menatap layar komputer di hadapannya.
Hyde benar. Aku memang sering sekali salah memilih. Tipikal pria yang kukencani selalu saja sama. Pria serius yang pintar dan nyambung saat berbicara denganku. Tetapi pada ujungnya mereka terlihat brengsek saat aku mengetahui mereka selingkuh dengan wanita lain. Dan aku takut Ryosuke seperti itu juga.
Kira mendesah sambil memegang keningnya.

Hari ini Kira minum-minum dengan beberapa teman di Bar langganan. Kebetulan Manajer tempat ini senior Hyde dan Kira di sekolah. Bar ini adalah salah satu tempat favorit mereka sehingga mereka sering menghabiskan waktu disini. Aibara, manajer bar itu melambai pada Kira dan memangilnya.
Gadis itu tersenyum, mengikutinya ke ruang kantornya.
“Kau berantem dengan kekasihmu ya beberapa hari yang lalu?” Kata Aibara tanpa basa-basi.
Kira mendelik, “Senpai melihatnya?” Kagetnya.
Aibara menarik napas panjang, “Aku tidak melihatnya. Cuma anak-anak banyak yang mengadu padaku. ”
Aibara menatapnya tajam membuat Kira merasa sedikit heran.
“Ada apa Senpai?”
Aibara menggerakkan tangannya, menyuruhnya lebih mendekat.
Kira semakin bingung.
Aibara menunjukkan ke layar komputer jinjing di mejanya.
“Ini rekaman kamera cctv. Tadinya aku tidak peduli dengan hal ini, tetapi karyawan mudah sekali bergosip. Saat aku melihat rekaman ini, aku sadar kalau pria dalam rekaman ini kekasihmu. Dan kejadian ini usai kau meninggalkannya setelah berantem mulut. ”
Kira terbelalak melihat rekaman yang sedang diputar di layar komputer.
Walaupun gambarnya tidak terlalu jelas, tetapi ia yakin itu memang Ryosuke. Ia mengenali sosoknya dan pakaian yang dikenakannya sama dengan ingatan Kira.
Ryosuke dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya.
Kira memalingkan wajah dengan hati terluka.
Aibara menatapnya dengan iba.
“Kupikir kau lebih baik tahu. ” Ujarnya dengan lembut.
“Terimakasih Senpai!” Bisiknya halus.
Kira menangis, memukul dan memaki-maki Ryosuke. Berkali-kali pria itu meminta maaf namun Kira tetap berteriak histeris.
“Tidak terjadi apapun. Aku hanya sedang marah padamu bahkan aku tidak mengenal wanita itu. Semuanya terjadi begitu saja. Aku juga sedang mabuk saat itu. ” Ujarnya berusaha menjelaskan.
Ia kembali meminta maaf pada gadis yang sedang menangis ini. Berusaha untuk memeluknya.
“Maafkan aku, aku benar-benar menyesal. ” Ia membelai kepala Kira.
Gadis itu mendorongnya lalu berjalan ke arah pintu.
Ryosuke cepat menarik tangannya. Menahan langkahnya pergi.
“Sudah berakhir semuanya. ” Bisik gadis itu dengan sedih.
“Beri aku kesempatan. ” Balas Ryosuke dengan wajah tak kalah terluka.
“Aku sangat mencintaimu, Kira. Kau tahu itu. ” Ia kembali memohon.
“Aku tidak ingin mendengar apapun saat ini!” Ujar gadis itu dengan nada lelah.
Ia dengan tangannya yang bebas ia melepaskan pegangan Ryosuke dan berjalan keluar dari apartement pemuda ini. Dibalik pintu ia menangis tergugu.

¤¤¤¤

Tidak perlu bertanya, betapa terlukanya Kira saat ini. Hyde menatap gadis yang ada disampingnya saat ini. Kira yang tertidur dalam pelukannya.
Hyde menyesap wangi rambut Kira dan menempelkan dagunya pada puncak kepala gadis itu.
Berapa lama ia tidak tidur? Tanya pemuda ini dalam hati. Wajahnya pucat dan lelah. Dengan lingkaran mata ungu. Pasti makannya juga tidak teratur. Tebaknya lagi.
Kira mendesah dalam tidurnya, menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Hyde menepuk-tepuk punggungnya perlahan dan bersenandung kecil.
Kira sangat terpukul kali ini. Mungkin ia benar-benar mencintai pria bodoh itu. Ia tidak menangis lagi namun tangannya terus-terusan terkepal. Dan berhari-hari tidak bisa tidur. Hanya sekali Kira bersikap seperti ini, saat neneknya meninggal.
Hyde mengerti kesepian Kira. Ketakutannya. Dan keinginannya untuk merasa aman dan terlindungi. Kira juga sama seperti dirinya, produk kegagalan rumah tangga. Bahkan Kira sama sekali tidak mengenal siapa ayahnya, karena ibunya hamil diusia muda dan kekasihnya kabur tidak mau bertanggung jawab. Ibunya bersikap keras padanya dan lebih memilih bersama dengan keluarga barunya. Sedangkan Kira dibesarkan oleh neneknya.
Dengan masa lalu seperti itu sulit bagi gadis ini bisa mempercayai lagi orang yang telah mengkhianatinya. Hal itu juga yang membuatnya membenci tipikal pria yang suka mempermainkan wanita, playboy atau pria yang berselingkuh. Hyde menyadarinya dengan jelas.
Walau mereka pada akhirnya berteman dengan sangat akrab, Kira tidak pernah menyukai sifatnya yang flamboyan. Hyde dapat melihat pandangan mencela Kira saat pertemuan pertama mereka di sekolah. Kira membenci dirinya yang dikelilingi gadis-gadis lain.
“Jangan melihatku seperti itu!” Ujar Kira dengan mata terpejam.
Hyde tersenyum, “Melihat apa?”
Kira berdecak, “Pandangan kasihan. Aku tidak menyukainya.”
“Aku tidak seperti itu. ” Kata Hyde bersikeras.
“Kau bohong. Kau mungkin tidak menyadarinya, saat berbohong kau menggertakkan gigimu. ”
Hyde menatap Kira yang berbaring di ranjang dengan mata masih tertutup. Tetapi ia masih terlihat cantik dengan wajah lusuh dan rambut acak-acakan. Hyde ikut berbaring miring menghadap kearahnya. Tersenyum dengan tangan terulur merapikan helaian rambut gadis ini.
“Aku mencemaskanmu. ” Ucapnya bersungguh-sungguh.
Kira membuka matanya dan membalas tatapan Hyde yang hangat. Kira menarik telapak tangan Hyde dan menempelkannya kepipinya. Tersenyum tulus.
“Tanganmu selalu hangat, seperti hatimu. Kau orang yang baik, Hideaki.”
Hyde tertegun. Menatap Kira dengan perasaan bercampur baur.
Kira, kau tidak pernah tahu yang sesungguhnya. Ucapnya membatin.

¤¤¤¤

Belakangan ini Hyde berubah sekali. Ia sangat menjaga Kira, bahkan saat ia tidak berada disisi gadis itu. Mengirim pesan dan menelefon lebih sering dari biasanya. Menghabiskan semua waktu luangnya bersamanya, di flat kecil gadis cantik ini. Menemaninya berjam-jam mengedit naskah yang tebal.
Ia juga memanjakan Kira dengan berbagai makanan lezat.
“Kau tidak bosan disini?” Tanya Kira suatu ketika.
“Kau tidak suka aku disini?” Ia balas bertanya.
“Aku hanya tidak ingin pekerjaanmu terganggu.”
“Aku tahu, jangan khawatir. Teruskan saja pekerjaanmu.”
Hyde berbaring di sofa dengan nyaman.
“Kau merasa nyaman? Apa perlu aku ambilkan sesuatu?” Gadis itu menatapnya lagi.
Hyde menggeleng lalu memejamkan mata.
Kira mendesah. Kau yang paling kusayang Hyde. Ia menatap pemuda itu dengan pandangan sedih. (Bersambung ke bagian dua).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s