Dark Side Of The Moon

Suara petir yang keras membangunkanku dari tidur yang panjang. Aku terjaga dengan mata nyalang di tengah kegelapan. Seseorang telah menaruh lampu di atas meja riasku namun lupa menutup tirai di depan pintu kaca menuju balkon.
Aku bangkit dan tergesa-gesa menarik tirai. Hujan telah turun dengan derasnya. Sudah berhari-hari aku tidak tidur dan sore ini setelah pemakaman ibuku, aku jatuh pingsan. Karena kelelahan dan semua kesedihan itu.
Aku sudah lelah menangis, berteriak sekeras apapun ibuku tidak akan pernah bisa kembali. Jadi aku menyimpan semuanya dalam hatiku. Semoga ibuku tenang disana dan Tuhan menberikannya kebahagiaan yang lebih abadi.
Aku memutuskan keluar dari kamar dan berjalan melewati lorong yang gelap. Aku ingin melihat kamar ibuku. Ayahku mungkin berada di kamarnya dengan ibu tiriku. Setelah bertahun-tahun ibuku menderita, ayah mungkin lega pada akhirnya ibuku terbebas dari rasa sakit. Dan ibu tiriku mungkin juga merasa senang, nyonya besar akhirnya meninggal dan ia pasti berharap dapat menggantikan posisi ibuku di rumah ini.
Aku menyentuh pegangan pintu dan mendorongnya terbuka. Samar-samar aku melihat sosok lelaki yang sedang berbaring ditempat tidur ibuku. Perlahan aku mendekatinya dan aku menyadari bahwa sosok itu adalah ayahku yang terlihat kelelahan usai menangisi ibuku. Ia memeluk gaun kesayangan ibu dan aku masih bisa melihat sisa air mata dipipi kurusnya. Ternyata ayah masih mencintai ibu dan sangat terpukul juga seperti diriku. Perlahan air mataku mulai menetes dipipiku. Tidak pantas rasanya aku mengganggu ayah atas kenangannya pada ibuku. Jadi aku berbalik dan menutup pintu kamar.
Aku berjalan kembali menyusuri lorong dan menghapus air mata yang membasahi pipiku. Seharusnya aku tidak boleh menangis lagi. Ibuku di surga pasti akan sedih jika melihatku begini. “Ibu, hanya hari ini saja. Aku tidak akan menangis lagi. ” Bisikku pada diriku sendiri.
Sesaat aku hendak mencapai belokan di kamarku, aku melihat cahaya bergoyang dari balik pintu kamar tunanganku. Fabian. Pintu kamarnya terbuka karena angin atau karena memang tidak tertutup rapat. Aku mendekatinya sambil bertanya dalam hati, “Apa ia sudah tertidur?”
Rasanya tidak sopan jika aku memasuki kamar lelaki di tengah malam seperti ini, meskipun itu tunanganku sendiri. Tetapi aku butuh teman bicara dan Fabian pasti bisa mengerti keadaanku. Perlahan aku mendorong pintu itu dan melongok ke dalam kamar yang terang benderang. Aku mendengar suara orang yang bercakap-cakap. Dan saat aku melihat ke arah ranjang di kamar itu, aku tersentak dan menjadi kaku seperti batu.
Tubuhku gemetar dan nafasku tercekat, raungan rasa marah memenuhi paru-paruku. Jemariku mengepal dan rasanya aku sanggup membunuh siapa saja saat itu. Aku membanting pintu dengan keras dan berjalan cepat menuju kamarku.
Malam ini hatiku hancur untuk kedua kalinya. Ibuku meninggalkanku dan tunangan yang aku cintai, dengan mata kepalaku sendiri kulihat sedang bersama adik tiriku. Bercinta.
Ya Tuhan, rasa sakit apa ini yang menghujam jantungku. Aku merasa dadaku terbakar sekaligus membeku disaat yang sama. Ingin aku mencabut jantungku dan membuangnya sehingga aku tidak akan lagi merasa kepedihan ini. Aku berguling-guling kesakitan dan menahan segala amarah yang tak bisa kukendalikan lagi. Malam jahanam ini tidak akan pernah aku lupakan dan mereka akan membayar semua pengkhianatan yang telah mereka lakukan. Tunggu saja.

¤¤¤¤

“Helena!” Ayah tampak terkejut melihatku sudah duduk di meja makan dan sedang menikmati sarapan pagiku.
Tentu saja tidak ada yang menyangka bahwa aku secepat ini pulih dari kesedihan. Sejujurnya aku masih bersedih dengan kepergian ibuku, tetapi aku tetap harus melanjutkan hidupku. Dan membalas perlakuan jahat yang telah mereka lakukan dibelakangku.
“Pagi ayahanda!” Sapaku dengan suara sesopan dan dingin seperti biasa.
Aku menatap raut wajah ayah yang semakin tua dan terlihat menderita. Dulu aku membenci ayah yang menikah lagi dengan seorang janda beranak satu itu. Tetapi apa yang kulihat tadi malam, sedikit merubah pandanganku padanya. Ayah juga mencintai ibu dan menderita seperti diriku.
“Helena, kau sudah sehat sayang?” Terdengar suara lembut yang mendayu-dayu menyapaku.
Tidak perlu melihat, sudah pasti itu ibu tiriku yang berpura-pura perhatian padaku. Dan anak perempuan jalangnya. Mereka duduk di seberang kursiku.
Aku mengoleskan madu pada rotiku dan mengigitnya.
Lalu sebuah sosok muncul dari sudut tatapanku. Pria tampan dengan penampilan yang sangat necis. Fabian. Aku malas melihat sampah seperti dirinya dan lebih memilih memperhatikan rotiku.
“Pagi Helena!” Ia mendekat dan berusaha mengecup pipiku. Namun cepat aku membuang muka ke samping.
“Euuh, kau bau busuk!” Ujarku sangat keras.
Ia terkejut mendengar ucapanku. Namun aku tidak memperdulikannya. Aku menepiskan tangannya yang tadi menyentuhku.
“Lain kali kau harus membersihkan dirimu sebelum dekat-dekat denganku. Hidungku sangat sensitif dengan bau-bauan yang tidak enak. ” Kataku dengan nada dingin dan tanpa perasaan.
Fabian tampak terpukul namun aku merasa belum puas sampai disini.
“Ayah, aku sudah memutuskan akan menunda pernikahanku. ” Ucapku dengan nada tenang.
Ayahku menatap penuh perhatian. Sementara Fabian kembali merasa terkejut dengan keputusanku.
“Mengapa?” Tanyanya dengan nada tercekat.
Aku mendesah dan mulai menikmati dominansi terhadap percakapan ini.
“Aku tidak yakin kau mampu menjadi pengganti ayahku kelak. Dengan latar belakang keluargamu dan pendidikanmu, aku rasa kau kurang kompeten untuk menjadi suamiku. ” Kataku dengan ringan dan menghadiahinya sebuah senyuman kecil.
Ayahku tampak berpikir keras namun tidak mencegahku.
“Ada apa denganmu Helena?” Tanya Fabian dengan mata terbelalak.
Terkejut mendengar kata-kata menusuk yang baru saja meluncur dari bibir ini.
“Bagaimana menurutmu ayah? Sebagai putri tunggal dari seorang Duke Of Ollerton sudah sepantasnya jika aku menikahi seorang bangsawan yang sederajat denganku atau paling tidak yang memiliki kekayaan sama denganku. ”
Ayah menatapku dengan pandangan menyelidik, “Apa kau ingin memutuskan pertunanganmu nak? Kenapa?” Tanyanya dengan nada lembut.
Aku mengerjapkan mataku. Membayangkan apa yang telah aku lihat semalam dan menguatkan hatiku.
“Tadi malam aku sudah melihat pencerahan ayah. Selama ini ayah juga kurang setuju dengan hubungan ini, jadi aku memutuskan akan mengikuti keinginan ayah saja. ”
Aku melirik pada Fabian dan si pelacur kecil yang terlihat ketakutan.
“Aku rasa Fabian bisa mengerti keinginanku. Karena ia sangat mengerti wanita. Bukankah begitu?” Aku mengerling pada Fabian yang tampak pucat dan ingin muntah.

¤¤¤¤

Di ruang bacaku. Aku duduk dengan anggun dan menyandarkan tangan pada pegangan kursi empuk kesayangan ibuku.
Terdengan suara langkah tergesa dan pintu dibuka dengan buru-buru.
Fabian muncul dengan wajah berkeringat dan terlihat marah.
“Apa yang kau lakukan?” Katanya dengan suara kasar.
Aku melirik padanya dan menghembuskan napas perlahan.
“Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. ” Ucapku dengan nada ringan.
“Memutuskan pertunangan tanpa alasan?” Teriaknya histeris.
Aku menatapnya dengan pandangan merendahkan.
“Apa kau pikir aku melakukannya tanpa alasan?” Kataku dengan sinis.
Ia menatapku dengan pandangan menilai.
“Apa maksudmu?” Tanyanya dengan wajah tanpa dosa.
Aku merasa sangat muak dan ingin mencakar wajah itu.
“Aku melihatmu meniduri pelacur itu, Fabian.”
Aku mengerjapkan mata dan mempertahankan wajah tanpa ekspresi.
“Aku…aku..tidak..! Itu hanya..” Terbata-bata ia berusaha membela diri.
“Oh, aku tahu perempuan itu yang menggodamu duluan. ”
“Itu benar. ” Sergahnya dengan nada keras.
“Tapi aku paling tidak suka barang milikku disentuh orang lain. Jika aku tidak dapat memilikinya aku akan menghancurkannya. ” Kataku dengan nada tenang.
Fabian semakin pucat dan berlutut memohon maaf padaku. Ia memegang jemariku dengan wajah memelas.
“Singkirkan tangan kotormu. Dan segeralah menghilang dari hadapanku. ” Aku menepis tangannya dengan angkuh.
Lalu segera bangkit dari dudukku, persetan dengan rengekan dan permintaan maafnya.
“Larilah Fabian, sebelum aku gelap mata dan membunuhmu. ” Ancamku sebelum meninggalkan ruangan ini.

¤¤¤¤

Tiga bulan setelah Fabian pergi, keheningan pagi di rumah kami dipecahkan dengan suara muntahan seseorang. Aku yang kebetulan sedang sarapan dengan ayahku, tidak merasa heran melihat perempuan itu mual-mual dan ingin muntah.
“Apa Bonnie sakit?” Tanya ayah pada ibu tiriku yang gugup.
Aku memotong sosisku dengan pisau, menyuapkan potongan besar ke dalam mulutku.
Sampai kapan ia bisa menutupi kehamilan putrinya? Pikirku dalam hati.
“Biarkan Dokter Talbot memeriksanya ayah. ” Kataku sambil tersenyum pada ibu tiriku.
“Tidak ada penyakit yang tak bisa diobatinya. Benarkan ayah?” Kataku sambil meminta persetujuan ayahku.
Ayah lalu menyuruh seorang pelayan mengirim kereta kuda, untuk menjemput Dokter keluarga kami itu.
Aku menyesap tehku dan meninggalkan meja makan dengan sopan.
Beberapa jam kemudian aku mendengar keributan di ruang baca ayahku.
“Oh, sudah dimulai. ” Kataku pada diri sendiri dan berjalan menuju sumber suara gaduh itu.
Aku melihat wajah ayah memerah dan ibu tiriku menangis dengan wajah pucat.
“Helena!” Ayahku menatapku dengan pandangan sedih.
“Jadi ini alasan kau memutuskan pertunangan dan Fabian kabur begitu saja?” Tanya ayahku dengan suara lemah.
Aku memasang ekspresi terbaikku.
“Maksud ayah apa?” Tanyaku dengan bingung.
Ayah menutup matanya dan bersandar pada meja. Aku mendekatinya dan memegang lengannya.
“Apa yang terjadi yah?” Tanyaku dengan suara lembut.
“Bonnie hamil oleh Fabian. ” Ujarnya singkat.
Aku terdiam. Dan bayangan malam itu kembali menghantuiku.
“Apa benar itu ibu?” Tanyaku dengan nada tajam pada wanita yang sedang menangis itu.
“Helena, Bonnie diperkosa oleh lelaki itu. Ia tidak bersalah. Makanya lelaki itu kabur karena takut bertanggung jawab. Bonnie hanya gadis tak berdosa yang terjebak. ” Ia menangis dan memasang wajah paling menyedihkan yang pernah aku lihat.
“Bagaimana ini ayah?” Aku memandang ayah yang tampak kecewa dan terpukul.
“Ayah tidak tahu harus bagaimana, Helena. ” Bisiknya dengan raut wajah bingung.
“Paling tidak Bonnie harus menikah dengan seseorang, untuk menutupi aib ini. ” Kataku memberi usul.
“Bagaimana dengan Fabian?” Kata ibu tiriku.
“Kalau ibu tahu ia dimana, kita bisa menyeretnya untuk menikahi Bonnie. ”
Aku menatap wajahnya yang terlihat bingung. Aku tentu saja tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia setelah mengkhianatiku. Enak saja.
“Ayah ingat dengan Kolonel Strauss?” Kataku pada ayahku.
“Tidak. Jangan dia. ” Kata ibu tiriku dengan cepat.
“Kolonel Strauss pria yang baik. ” Ujarku dengan nada meyakinkan.
“Tidak. Dia sudah tua, punya banyak istri dan, Ya Tuhan. Bonnie tidak mungkin menjadi istrinya. ” Pekiknya keberatan.
“Ibu, siapa yang mau menikahi wanita yang hamil oleh pria lain? Bonnie tidak punya banyak pilihan. ”
Aku menatapnya dengan pandangan meremehkan.
“Jangan dia. Bagaimana dengan anak teman-teman ayahmu saja?”
Aku mendengus kesal. Bangsawan mana yang mau menikahi wanita bejat yang mencuri tunangan kakak tirinya dan hamil diluar nikah? Menipu orang lain akan berakibat buruk, apalagi menipu seseorang dengan kedudukan tinggi dimasyarakat. Kau ingin mati rupanya? Aku menatapnya muak.
“Bagaimana dengan salah satu dari pekerja atau pelayan di rumah ini?” Kata ayah dengan suara getas.
Wanita itu memekik kaget.
“Pekerja, pelayan. Tidak. Sayang bagaimana mungkin Bonnie menikahi kaum rendahan seperti itu?”
Ia mengeleng-geleng dan mendekati ayahku.
Ayah menatapnya dengan tajam.
“Sebelum menikah denganku, kau juga berasal dari kaum seperti itu. Dan apakah benar Bonnie diperkosa? Mengapa ia diam saja selama ini? Atau jangan-jangan memang Bonnie berniat mencuri tunangan kakaknya?” Sergah ayah sangat marah.
Wanita itu tampak ketakutan dengan kemarahan ayahku.
“Ayah, kita tidak bisa membiarkan masalah ini. Perut Bonnie tidak akan bisa ditutupi dan dia harus menikah dengan seseorang. Secepatnya!” Putusku sambil menenangkan ayah.
Ayah menatapku dengan pandangan sayang dan rasa sedih. Aku mengerti perasaan ayah, tapi ia tidak tahu aku lebih kuat dari yang ia bayangkan.
“Aku akan mengurus semuanya. Ayah tidak perlu cemas. ” Aku menepuk-nepuk lengannya dan berusaha tersenyum.

¤¤¤¤

Aku duduk berdiri menghadap ke balkon kamarku. Dan menatap jauh keluar, tanah milik keluargaku sangat luas.
“Kau sudah mendapatkan orang yang mau menikahi Bonnie?” Ucapku dengan nada dingin.
“Putra kedua dari Earl Norrington kandidat terbaik yang bisa menikahi Bonnie. ”
Aku berbalik dan menatapnya yang sedang duduk dikursi.
“Kau ingin menipu bangsawan? Kau sudah siap dengan hukumannya bila ketahuan?” Tanyaku dengan nada ringan.
“Bonnie harus menikah dengan pria bangsawan yang terhormat. ” Pekiknya dengan cepat.
Aku tertawa mendengarnya.
“Siapa yang mau menikahi gadis pendosa seperti dia? Seharusnya ia kubuang ke rumah bordil. ” Ucapku dengan intonasi bosan.
Ibu tiriku tercekat.
“Kau sangat kejam. Kau tidak berniat membantu. Kau iri pada Bonnie dan ingin menghancurkan masa depannya. ” Ujarnya dengan histeris.
“Iri!” Aku mengutip perkataanya.
“Siapa putri dikeluarga ini? Dan siapa yang telah mencuri tunanganku? Apa kau tidak bisa melihat, Bonnielah yang iri terhadapku. ” Kataku dengan getas.
Dua minggu setelah itu Bonnie menikah dengan seorang bangsawan kampung yang sudah tua dan punya banyak anak dan istri. Dia tidak akan mempunyai kesempatan menjadi seorang lady terhormat. Karena bangsawan tersebut ternyata tidak mempunyai harta apa-apa.
Aku terus-terusan menahan tawa dan rasa puasku yang berlebihan. Bonnie yang barus berusia 18tahun menikahi seorang kakek jelek berusia 67tahun. Yang punya 5 orang istri dan 12 anak. Tinggal dikampung dan melarat. Itulah hidup yang cocok untuknya.
Ibunya menangis dengan histeris tetapi tidak dapat berbuat apapun. Bonnie juga menangis dengan keras tetapi tidak seorangpun akan menolongnya. Aku akan memastikan hidupnya sengsara dan penyesalannya tidak pernah berguna.
Dan yang tidak mereka ketahui adalah aku baru saja menerima telegram dari seseorang yang kubayar untuk mengikuti Fabian. Kabar terakhir yang aku dapatkan adalah Fabian terkena penyakit kelamin yang parah dan saat ini sedang di rawat disebuah rumah sakit kota sebelah. Kemungkinan untuk sembuh ada namun keadaannya jauh lebih buruk daripada mati. Karena Fabian akan kehilangan organ pentingnya dan tidak bisa punya anak lagi. Dan aku tidak bisa menjamin Bonnie juga tidak tertular penyakit ini.
Sungguh suatu tontonan yang menarik bukan. Semua akan kembali keposisinya masing-masing dengan bagian yang sudah seharusnya. Dan bagaimana denganku? Ah. Tak usah kau khawatirkan diriku. Aku seorang Lady terhormat yang baru berusia 19tahun. Aku cantik, kaya dan pintar. Tidak akan kekurangan orang yang akan melamar dan bersedia menikahiku. Tetapi tidak semudah itu menjadi suamiku. Aku sudah belajar bahwa cinta saja tidak cukup dan dengan kedudukanku yang seperti ini banyak pria yang berpura-pura mencintaiku padahal hanya mengincar harta dan kekuasaan keluargaku seperti Fabian. Jadi aku akan mencari pria yang sama dari kalanganku, yang punya harta dan kedudukan tinggi. Sehingga aku yakin ia tidak punya niat jahat terhadapku.
Dan ia harus punya moral yang baik, tidak rendahan seperti binatang. Yang baru digoda sedikit langsung lemah iman. Aku yakin masih ada pria baik seperti itu dan aku pasti mendapatkannya.
Aku percaya tiap manusia punya sisi terbaik dalam hidupnya dan inilah sisi gelapku yang terungkap. Aku sebenarnya gadis baik tetapi merekalah yang memaksaku menjadi kejam. Bukankah seorang penyair pernah mengatakan “Kita semua seperti bulan yang bercahaya terang, tetapi kita juga pasti memiliki sisinya yang gelap.” Seperti itulah aku dan kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s