Passion-ku pada Kata dan Seleraku Terhadap Pria

Menulis adalah passion (hasrat)ku. Aku nggak peduli orang mau baca, menyukainya atau malah mengkritik apa yang aku kemukakan. Silahkan saja. Aku melakukannya demi kesenanganku sendiri terhadap ‘kata’.

Awal kecintaanku terhadap tulisan adalah sejak aku sudah bisa membaca pada kelas 2 SD. Aku tergila-gila membaca apa saja yang ada huruf-hurufnya. Bahkan kertas koran bekas bungkus ikan asin, tetap menarik bagiku untukku baca. Setelah tergila-gila dengan membaca, kecepatanku membaca sesuatu juga mengagumkan. Aku sih tidak pernah menghitung tapi aku bisaloh menghabiskan novel tebal Harry Potter jilid 7 sehari semalam tanpa tidur dan mengerjakan hal-hal lain. Kau boleh mengujiku tanding membaca buku, aku bisa membaca dengan sangat cepat. Ohya sekedar informasi, aku pernah membaca kalau salah seorang President Amerika, Jhon F Kennedy mempunyai kecepatan membaca 1200 kata/menit. Bayangkan betapa banyak buku yang bisa ia baca dengan kecepatan seperti itu?

Nah, setelah membaca begitu cepat aku mulai kehabisan bacaan. Maklumlah pada jaman aku kecil tersebut (sekitar tahun 90an akhir) belum ada internet dan buku-buku lebih banyak tersedia di kota saja. Sedangkan aku tinggal di kampung, alhasil aku menjadi anggota hampir seluruh perpustakaan di daerahku. Segala buku, biografi, komik, majalah dan novel silat (aku paling suka cerita Wiro Sableng-nya Bastian Tito atau bapaknya Vino G Sebastian. Makanya kalau ada yang nanya aku fansnya Vino, aku jawab aku justru ngefans berat sama almarhum bapaknya) habis kulahap dengan cepat. Bahkan kebiasaan menjadi anggota perpustakaan atau taman bacaan ini masih terus kupelihara meskipun aku sudah merantau kemana-mana. Di Padang, Payakumbuh, Jakarta, Pekanbaru. Setiap tempat yang baru ku datangi, tempat membaca atau perpustakaan adalah hal pertama yang aku cari dan tandai.

Kesukaanku membaca ini diturunkan oleh kedua orang tuaku. Tapi kecepatan membacaku tidak. Aku bisa membaca dengan cepat karena terbiasa penasaran dan tidak tahan bila tidak segera menamatkan bacaan yang sedang kupegang. Lalu Papaku (Almarhum Jon Anwar S) memotivasiku untuk mulai menulis. Kata bokap, tidak semua orang bisa menulis. Tidak semua orang dilahirkan dengan bakat seperti itu. Tapi bakat hanya 2 % saja, selebihnya adalah kerja keras, latihan terus menerus dan tekad yang kuat. Dan bokap bilang menulis adalah cara kita bercerita dan meninggalkan jejak di dunia ini dengan lebih abadi. Saat itu aku pikir ini adalah ide yang romantis. Contohnya seperti membaca Romeo dan Juliet di abad 21, indah bukan? Dan tak lekang dimakan waktu. Mengerti maksudku?

Aku mulai menulis. Tapi tidak pernah selesai. Dan tidak fokus. Terus menulis walaupun tidak pernah dipublikasikan. Bahkan tidak pernah ada yang membaca karyaku. Aku tidak peduli. Karena aku benar-benar menyukai kegiatan ini. Aku menyukai menulis seperti aku juga sangat mencintai membaca. Kedua hal tersebut, bagiku tak dapat dipisahkan.

Ternyata kebiasaanku ini berpengaruh loh, ke cara aku memandang lawan jenis. Aku suka dengan pria yang juga punya selera yang sama sepertiku. Suka membaca dan menulis. Karena bagiku pria yang suka membaca dimataku seksi, ia pasti punya banyak pengetahuan. Dan pria yang pintar menulis, pasti juga suka membaca. Lebih seksi lagi karena jelas pintar dan berpengetahuan luas. That’s way I love the smart man. Apalagi kalau udah pintar ditambah lucu walau mukanya nggak cakep, the sexiest man alive buatku. Haha!

Hmm, saat ini aku baru beberapa bulan menulis diblog. Sudah hampir seratus postingan yang aku tulis. Isinya beragam, dan masih ‘pemula’ sekali sehingga terkadang aku malu membacanya. Tapi aku tetap akan menulis. Memperbaiki lagi. Berusaha keras. Dan kelak aku bisa menulis novel yang diterbitkan di Gramedia Pustaka, Bukene atau Gagasmedia. Amin. Amin. Amin. Aku sungguh-sungguh berharap bisa.

Mendekap Rasa, Merindu

mendekap rasa, merindu

mendekap rasa, merindu

“Bagaimana kabarmu?…….. Senang balik ke Indonesia lagi?………. Sorry, aku nggak bisa jemput. Tapi lusa kita ketemuan ya, ada yang mau aku kenalin……… Oke, ……bye. Sampai jumpa lusa! ”

Eros memencet sekilas tombol hands free bluetooth, ditelinganya. Dan menatap layar ponselnya. Wallpapernya gambar seorang gadis cantik dengan wajah tersenyum lembut.

“Mengapa kamu tersenyum secantik itu?” Bisiknya pada layar ponselnya.

¤¤¤¤

Eros menggandeng tangan Kirana. Gadis itu tidak menolak dan hanya tersenyum lembut. Mereka berjalan bersisian dengan langkah tidak terburu-buru.

Pemuda ini bertubuh tinggi atletis dan berwajah tampan yang selalu tersenyum. Diam-diam ia memperhatikan ekspresi wajah gadis di sampingnya. Kirana, memang selalu pendiam. Wajahnya yang cantik selalu terasa teduh baginya. Dan ia tidak seperti gadis lain yang pernah didekatinya. Kirana selalu menjadi misteri baginya.

Dan hari ini Kirana tampak rapi dan bersih dari belepotan cat lukis. Terlihat cantik mengenakan dress sederhana yang warna birunya sangat sesuai dengan kulit putihnya yang pucat. Eros merasa bangga bisa berjalan disampingnya dan menggandengnya. Tak semua orang bisa seberuntung dirinya. Mendapatkan gadis yang mempunyai bakat melukis ini.

Mereka tiba duluan di restoran makanan westren, tempat janjian makan siang. Hari ini Eros ingin memperkenalkan sepupunya pada Kirana. Eros memesan tiga porsi steak, kentang goreng dan salad. Sementara Kirana, gadisnya duduk dengan tenang di sampingnya. Mengaduk lemon teanya berkali-kali.

Bersamaan dengan datangnya pesanan, seseorang mendorong pintu kaca restoran dan memasuki ruangan ini. Sesosok pemuda jangkung dengan wajah menarik. Eros melambai padanya. Dan pemuda itu menoleh, tersenyum.

Kirana tercekat, menatap pada sosok itu dengan pandangan terkejut dan sedih.

“Makanannya baru aja datang. ” Ujar Eros dengan semangat padanya.

Sosok itu melihat pada gadis di samping sepupunya. Dan raut wajahnya sedikit berubah. Terkejut dan shock.

“Kirana, ini sepupuku satu-satunya. Radhitya. ” Eros tersenyum memamerkan lesung pipinya yang dalam. Dan menoleh pada gadis di sampingnya.

“Dhit, ini Kirana. ” Ucapnya dengan kebanggaan. “Kekasihku. ”

¤¤¤¤

Kirana melihat ke arah ponselnya yang menampilkan sebuah nomor tidak dikenal, yang memanggilnya.

“Halo!” Ucapnya pelan.

“Ini aku. ” Ujar seseorang disana.

Kirana menutup matanya, menarik nafas panjang. Ia tahu siapa orang tersebut dan alasannya menghubunginya.

“Ada apa kak?” Tanyanya langsung.

“Berapa lama kau mengenal Eros? dan berapa lama kalian berpacaran?” Tanya Radithya tanpa basa-basi.

“3 tahun. Dan 1 tahun berpacaran. ” Katanya dengan nada biasa.

“Putuskan dia. ” Ucapnya dengan dingin.

Kirana tercekat. “Mengapa?” Tanyanya terbata.

“Kau gila ya, bagaimana perasaannya saat tahu kau adalah bekas kekasihku? Jadi sebelum semuanya rumit sebaiknya kau meninggalkannya. ”

Kirara terdiam. Namun tak urung matanya berkaca-kaca.

“Aku mencintainya, kak. Ku mohon, biarkan aku bersamanya. ” Pintanya tergugu.

“Kalau kau tidak bisa memutuskannya, biar aku yang memberitahu segalanya padanya. ”

Klik. Tut. Tuuut.

Ia memutuskan pembicaraan tanpa basa-basi.

Kirana menangis dalam diam.

Bukan pertama kalinya Radhitya bertindak kejam terhadapnya. Dan luka akibat kelakuannya juga belumlah sembuh benar. Jauh sebelum ia berhubungan dengan Eros, Radithya pernah menjadi segalanya bagi gadis ini.

Flashback

“Kita….. putus saja. ” Ucapnya tiba-tiba, mengejutkan gadis yang sedang duduk di depan pemuda itu.

Perlahan wajahnya yang sedari tadi menunduk, menoleh ke arahnya dengan mata bersinar pedih. Kedua belah bahunya yang rapuh tampak gemetar dan tangannya terkepal di atas pangkuannya.

Ia menatap pemuda bermata tajam dihadapannya. Berharap kata-kata yang baru saja didengarnya tidak benar. Hanya candaan. Tidak berarti. Namun ketegasan raut wajah tampan itu, mematahkan harapannya.

“Mengapa, kak?” Bisiknya terisak.
Bahunya bergetar menanggung segala perasaan yang membuncah di dadanya.

“Kalau aku bersalah…!”

“Bukan salahmu. ” Potong pemuda itu dengan cepat.

Pemuda itu memalingkan wajahnya dan menatap keluar jendela kaca, ruang tamu rumah gadis ini. Menahan keyakinannya supaya tidak runtuh saat melihat gadis itu menangis.

Perlahan air mata gadis itu turun dan membanjiri wajahnya, juga pangkuannya. Ia menahan isakan dibibirnya.

“Maafkan aku. ” Ujar pemuda yang sudah dua tahun ini menjadi kekasihnya. “Maaf. ” Katanya perlahan.

Jadi inikah jawaban dari semua perubahan kelakuanmu kak? Selalu sibuk. Tidak punya waktu untukku. Tidak pernah menghubungiku lagi. Bersikap acuh dan tak peduli. Bahkan saat ini pun kau tidak mau memandangku lagi.

Aku pikir semua ini karena kau sedang berkonsentrasi dengan pekerjaanmu. Ternyata aku salah. Kau memang menghindariku, kak. Kau ingin lepas dariku. Sudah hilangkah semua perasaanmu padaku? Tak ada artinya lagikah keberadaanku di hatimu? Setidaknya berikanlah aku alasan, dimana kesalahanku? Mengapa kau berubah? Apa ini salahku? Ataukah memang ada yang lain?

Beribu pertanyaan menghantui pikiranku. Tetapi tidak satupun bisa terjawab. Kakak hanya diam dan membiarkanku menangis sendirian. Menanggung semuanya. Menerima keputusan sepihak yang sudah kau ambil. Karena seberapa kerasnya pun aku menolak, kakak tidak akan pernah kembali padaku. Jadi aku akan menelan semua derita ini. Semoga kakak bahagia. Dan kelak mungkin kita bisa bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik. Selamat tinggal kak.

Flashback end.

¤¤¤¤

Eros menatap Kirana yang terlihat pucat dan gelisah. Sudah beberapa minggu ini ia seperti menghindarinya dan tampak banyak pikiran. Lebih banyak terdiam dengan pandangan kosong, seolah hanya tubuhnya yang ada disini dan jiwanya entah berada dimana.

“Kirana…. Kirana… ! Sayang!” Panggil Eros pada gadis itu namun tidak ada respon.

Ia menyentuh pundak gadis itu dan akhirnya Kirana tersadar. Pemuda ini mendesah, bersedekap dan menatap langsung wajah kekasihnya. Ada saat-saat dimana Kirana seperti ini. Gadis ini, mengapa suka sekali bengong.

“Ada apa?” Tanya Eros tanpa basa-basi.

Kirana tidak berani memandangnya. Ia menunduk. Perlahan air matanya jatuh menetes tanpa di sadari oleh Eros.

“Kamu ingat dulu aku pernah punya kekasih. Dan ia meninggalkanku. Saat itu kita belum bertemu. ” Ujarnya dengan nada sedih.

“Lalu?” Eros menatapnya dengan pandangan tidak mengerti.

“Dia adalah Radhitya, sepupumu. ” Ucap Kirana dengan suara terluka.

Eros terdiam. Mencerna kata-katanya dan menatapnya tajam.

“Bagaimana bisa seperti ini?” Katanya seolah pada diri sendiri setelah lama mereka terdiam.

“Apa ini mengubah segalanya?” Tanya Kirana perlahan.

Eros memperhatikan raut wajah gadis itu yang tampak cemas dan berharap.

“Aku tidak tahu. ” Ujarnya dengan nada terluka.

Kirana terpukul mendengar jawabannya. Ia menunduk dan menahan air mata yang menumpuk di pangkal bulu mata bawahnya.

“Aku akan menunggu. Apapun keputusan kamu. ” Bisiknya dengan perlahan.

Eros bangkit dan meninggalkan ruang tamu rumah orang tua Kirana. Dengan perasaan terkejut dan sedikit marah.

¤¤¤¤

Radhitya tersenyum melihat sepupunya duduk di sofa menunggunya.

“Udah lama? Kenapa nggak nelfon dulu sebelum datang? ” Tanyanya sambil mengangsurkan sebotol minuman dingin.

Eros hanya mendesah. Meletakkan botol minuman itu ke meja. Dan menatapnya serius.

“Kirana sudah bercerita. ” Ucapnya perlahan.

Radhitya menghela nafas dan tampak lebih serius.

“Tepatnya apa yang ia ceritakan? ” Tanyanya berhati-hati.

“Tak banyak. Bahwa kalian dulu sepasang kekasih, jauh sebelum aku mengenalnya. Dan kau memutuskannya. ”

Tatapan Eros tampak menusuknya. Rasa penasaran dan marah memenuhi dirinya.

“Itu benar. Aku yang meninggalkannya. ” Ucap Radhitya dengan kalem.

“Tapi itu terjadi sebelum aku mengenalnya, tak masalah bagiku. Hanya saja aku tidak mengerti. Mengapa kau berpura-pura tidak mengenalnya?” Eros kembali menatapnya tajam.

“Aku meninggalkannya karena Kirana tidak tepat buatku. Dan buatmu juga. ” Ujarnya dengan nada miris.

Kening Eros berkerut, semakin bingung. “Maksudmu apa?”

“Kirana mengidap skizofrenia. Tidak bisa disembuhkan dan nyaris harus selalu minum obat anti depresan. Dia pernah dirawat di bangsal psikiatri selama sekitar beberapa tahun. ”

Eros tercekat, menatap Radhitya yang tidak mau menatapnya secara langsung.

“Kirana tidak ingat semua hal tersebut. Waktu kecil ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ibunya membunuh ayah tirinya, yang sudah mencabulinya. ”

Eros terdiam. Raut wajah tampannya berubah menjadi gelap. Tidak ada lesung pipi dalam yang selalu tampak saat ia tersenyum.

“Kirana tidak akan bisa masuk kedalam keluarga kita dengan latar belakang seperti itu. Dia sakit jiwa dan tak pernah bisa benar-benar sembuh. ” Ucap Radhitya dengan perlahan.

Kedua pemuda tampan yang bersaudara ini duduk di sofa dalam diam. Radhitya tampak gelisah sedangkan Eros tampak sangat terpukul.

“Apa semua yang kau katakan itu benar?” Tanya Eros memastikan.

“Sumpah demi Tuhan, Ros. Aku tahu semua ini saat tugas praktek ke Lapas Pembinaan Wanita Tanjung Gusta. Aku bertemu pasien yang ternyata ibunya Kirana. Aku melihat foto Kirana yang selalu didekapnya. Aku bertanya dan ia menceritakan semuanya. Lalu aku pulang ke Jakarta dan bertemu Kirana. Tapi Kirana tidak ingat apapun. Aku bahkan menemui psikiater yang merawatnya selama ini dan ternyata memang begitulah ceritanya. ” Ujarnya panjang lebar, menceritakan segala hal yang diketahuinya.

Eros merasa tenggorokannya sangat kering. Ia meminum air botol dihadapannya.

“Lalu kau memutuskan Kirana?” Tanyanya pada akhirnya.

Radhitya mendesah, kalah.
“Ya, aku memutuskannya. Dan ia menerimanya. ”

“Kau tahu, saat pertama kali aku melihatnya ia seperti anak anjing yang tersesat. Cantik, polos dan kebingungan. Aku langsung jatuh cinta pada gadis itu. Sungguh tidak mudah mendapatkannya, Dhit. Kirana berkali-kali menolakku, bahkan untuk ajakan nonton ataupun makan. ” Eros tampak mengenang semuanya dengan senyuman.

Eros menoleh padanya. Menatap sepupunya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Kirana, wanita yang paling sulit kudapatkan. Dan aku benar-benar mencintainya, Dhit. ” Ucapnya dengan pahit.

“Aku yang lebih dahulu tahu, ia wanita cantik dan baik. Tapi itu tidak cukup untuk menjadikannya wanita yang dipilih untuk dinikahi, Ros. Carilah wanita lain. Jangan dia. Penyakitnya, masa lalunya. Terlalu berat untuk diterima keluarga kita. ”

“Kirana tidak bersalah. ” Tegas Eros padanya.

“Kirana sakit jiwa. ” Ucap Radhitya mengingatkan.

Eros bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruang tengah.

“Kau akan melupakannya setelah beberapa saat. ” Kata Radhitya keras.

Eros berbalik, menatapnya tajam.

“Itu yang kau lakukan?” Katanya dengan sinis.

“Lihatlah dirimu, Dhit. Kau lari dari orang yang mencintaimu dengan tulus. Dan jadi apa kau sekarang? Kesepian dan sinis memandang kehidupan orang lain. ”

Radhitya merasa tertohok dengan ucapan Eros.

¤¤¤¤

Gadis itu masih duduk membeku di ruang tamu rumahnya. Setelah sejam yang lalu Radhitya datang dan berbicara padanya. Memintanya meninggalkan sepupunya, Eros.

“Mengapa?” Tanyanya pada lelaki yang dahulu pernah sangat ia cintai.

“Kau tidak perlu tahu alasannya. ” Ucapnya dengan dingin.

Kirana diam dalam gemetar tubuhnya. Seperti beberapa tahun yang lalu. Ditempat ini juga. Ia menahan semua perasaannya dan menangis tanpa suara.

“Aku tidak pernah tahu apapun. Tetapi kalian benar-benar tahu cara mematahkan hatiku. Jadi apakah aku harus menerimanya?” Ujarnya dengan suara bergetar marah dan sedih.

“Eros tidak akan mau melakukannya. Jadi harus kaulah yang memaksanya putus. Bilang saja kau tidak ingin bersamanya lagi setelah mengetahui aku adalah sepupunya. ”

“Dia tidak akan percaya hal itu. ” Kata Kirana menolak.

“Dia harus percaya. Ini demi kebaikannya. ” Ucap Radhitya dengan keras.

“Lalu bagaimana denganku, kak?” Tanya Kirana dengan tatapan mata yang tampak sangat terluka.

Radhitya menghela napas dengan berat.

“Kau bisa menghadapinya, seperti biasa. Ini demi kebaikan Eros. ” Katanya dengan nada memaksa.

“Maaf. ” Bisiknya perlahan.

“Maafkan aku. ” Bisiknya lagi.

Radhitya memandangnya dengan perasaan bersalah dan kasihan. Namun ia memantapkan hatinya dan berbalik pergi. Meninggalkan gadis itu sendiri. Seperti dahulu.

¤¤¤¤

Institute of Mental Health aka Woodbrigde Hospital. Singapore.

Di sebuah fasilitas ruang bermain bagi pasien bangsal psikiatri. Gadis itu duduk sendirian didekat jendela besar. Menatap kanvas lukisan dengan pandangan kosong. Namun air mata terus membanjiri wajah cantiknya.

“Kau kenapa? Apakah sakit?” Jack bertanya padanya.

Ia menoleh pada pria bermata biru di sampingnya. Yang entah darimana datangnya dan sejak kapan sudah berada di bangsal perawatan psikiatri. Pria itu tercekat melihat betapa cantiknya wajahnya yang bersedih.

“Apa kau pasien juga?” Tanyanya dengan suara polos seperti anak kecil.

Jack mengangguk dengan sedikit ragu. Ia memang dalam terapi psikosis untuk mengatasi depresi yang dialaminya tetapi tidak menginap di lembaga ini.

“Aku mengidap skizofrenia. Sulit bagiku membedakan antara dunia nyata dan khayalan. Aku bahkan tidak bisa mengingat kehidupanku yang dulu, benar terjadi atau cuma khayalanku. Tapi tadi dokter bilang ternyata aku hamil, sudah delapan minggu. ”

Gadis itu kembali menatap kanvas lukisannya yang belum selesai.

“Aku tidak tahu siapa yang menghamiliku. Sepertinya aku memang punya kekasih tapi aku bukan orang seperti itu, hingga bisa hamil. Aku bingung. ” Ujarnya dengan menggelengkan kepala. Membuat rambut panjangnya yang hitam berkilat bergerak liar.

Jack semakin terpesona melihatnya. Ia sebenarnya sudah beberapa kali melihat gadis ini tetapi tidak pernah sedekat ini. Ia benar-benar cantik, rapuh dan polos.

“Tuan, bisakah aku menitipkan anakku kelak padamu? Sebentar saja sampai aku sembuh. Aku mungkin akan lama disini sebelum akhirnya sembuh. Kau sepertinya orang baik. ”

Jack kembali takjub memandang kedalam mata gadis ini. Ya Tuhan, ia seperti malaikat. Dan ada perasaan ingin melindungi yang dirasakannya saat melihatnya seperti ini.

“Daripada menitipkan anakmu, bagaimana kalau kita menikah saja?” Kata Jack mengambil resiko.

“Menikah?” Ucap gadis itu terlihat bingung.

“Aku sakit jiwa, Tuan. Dan aku hamil tanpa tahu siapa bapak anakku. Kau mau menikah dengan orang seperti itu?” Tanyanya dengan ekspresi wajah kosong.

“Aku dulu gay. Dan aku sudah berkali-kali ingin bunuh diri, namun selalu selamat. Bahkan sekarang aku mengalami depresi berat. Aku juga sakit. ” Ucap Jack dengan senyum masam.

Gadis itu menatapnya dan ikut tersenyum.

“Kita sama-sama sakit. ” Katanya sambil tertawa kecil.

“Yah, kita sama-sama sakit. Jadi maukah kau menikah denganku?” Tanya Jack dengan serius.

Gadis itu mendongak padanya.

“Aku akan bersikap baik padamu. Aku janji. ” Ucapnya bersungguh-sungguh.
“Tuan, apa orang gila boleh menikah?” Tanyanya dengan wajah cemas.

Jack tertawa. Lalu mengusap kepala gadis itu lembut.

“Ayo kita menikah. ”

¤¤¤¤

“Ayolah, kau tidak akan menyesal ikut. Singapurakan dekat. Kita bisa liburan, jalan, shopping dan sedikit bersantai. ” Rayu Tasya padanya.

Eros mendesah malas.
“Bilang saja kau ingin melihat pameran lukisan. ” Ujarnya tidak bersemangat.

Tasya tersenyum senang.
“Ada pameran lukisan Jack Reynor. Setelah hampir sepuluh tahun ia kembali lagi. Duh, Irish man yang sangat berbakat. Tahu nggak dulu gosipnya dia gay, depresi berat karena ditentang orang tuanya dan ditinggal kekasihnya. Sekarang kabarnya dia sudah menikah dan punya anak. ” Ujar gadis cantik ini panjang lebar.

“Ohya, kabarnya istrinya sangat cantik dan muse (dewi kesenian dalam mitologi Yunani) bagi karya-karyanya. Pamerannya banyak mendapat pujian dari kritikus seni. Aku tidak sabar ingin melihatnya. Temani yah, pliiis!” Kata Tasya sambil memasang mimik wajah terbaiknya.

Eros melengos, kesal. Ia tidak suka datang ke pameran lukisan. Satu-satunya pelukis yang ia kenal hanya Kirana. Dan karena hal itu juga ia jadi mengingat gadis yang telah 3 tahun lamanya menghilang, ia membenci perasaan tersebut. Ia masih belum bisa melupakan Kirana dan masih mencarinya. Walaupun kini sudah bertunangan dengan Tasya.

“Ayolah. Aku janji nanti kita ke Universal Studio. Oke?” Tasya memasang wajah memohon seperti anjing kecil yang ingin menangis.

Eros mendesah, akhirnya mengalah.
“Baiklah. ” Putusnya pada akhirnya.

Tasya berteriak kegirangan dan memeluknya hangat.

Dan sekarang ia berada disini. Di acara pembukaan pameran lukisan Jack Reynor. Hanya undangan VIP saja yang bisa datang dan masuk ketempat ini. Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan langka ini. Eros bahkan tidak tahu berapa duit yang dihabiskan Tasya untuk mendapatkan invitation ke acara ini. Ia bahkan tidak peduli.

Eros memegang gelas champagne dan berjalan melewati kerumunan orang-orang di depan beberapa lukisan. Tasya sudah mengilang sejak 5 menit mereka tiba disini.

Eros sama sekali tidak mengerti lukisan, namun tidak dipungkiri lukisan Jack Reynor benar-benar indah. Jack banyak menggambar model seorang perempuan dan sepertinya perempuan itu Musenya. Menurut kabar perempuan tersebut adalah istrinya.

Eros berjalan mendekati sebuah lukisan yang tampak istimewa. Terlihat dari bingkainya yang tampak cantik dan posisi lukisannya yang tepat di tengah ruang pamer, seolah ia adalah inti dari semua karya-karyanya ini. Dan Eros sangat terkejut hingga lupa mencengkram gelas yang dipegangnya.

“Trang….” Gelas itu jatuh dan pecah.

Beberapa orang menoleh kepadanya. Seorang pelayan dengan cepat membersihkan kekacauan yang dibuatnya. Namun Eros tidak peduli. Ia terpaku melihat lukisan seorang wanita yang sedang menggendong bayinya. Eros mengulurkan tangan hendak menyentuh wajah wanita itu. Wanita yang sangat ia rindukan.

“Anda menyukainya?” Tanya seseorang dengan bahasa Inggris dengan logat British yang kental, mengagetkannya.

Eros menoleh pada seorang pria tampan, bermata biru yang dalam dengan rambut kecoklatan. Ia tersenyum hangat. Bersisian mereka menatap lukisan tersebut. Tinggi dan postur tubuh mereka tampak sama-sama bagusnya.

“Anda pelukisnya? Jack Reynor. ” Ucap Eros dengan nada hati-hati.

Jack mengulurkan tangan kanannya dan disambut Eros dengan sedikit ragu. Jari-jarinya panjang dan terasa panas.

“Eros Sadewo. Dari Indonesia. ” Katanya memperkenalkan diri.

Jack tersenyum, ada kilauan senang di matanya.
“Apa anda begitu terpikat pada lukisan ini hingga menjatuhkan gelas anda? Saya merasa tersanjung. ” Ujarnya dengan senyum ramah.

Eros menoleh lagi pada lukisan tersebut. Menatapnya dengan pandangan kesukaan yang ganjil.

“Saya tidak tahu apapun tentang lukisan. Tetapi lukisan ini sangat indah. Mungkin karena modelnya yang begitu cantik. ” Ucapnya dengan intonasi perlahan.

Jack tertawa kecil. Merasa itu adalah pujian yang tulus dari orang yang tidak mengerti seni lukis.

“Yah, bisa dibilang begitu. Modelnya adalah istri saya, dia segalanya bagiku. My muse. ” Ucapnya dengan pandangan memuja.

Eros tampak terluka melihat Jack. Tatapan seperti itu, dulu ia juga selalu melakukannya. Memandang Kirana dengan mata memuja.

“Istri anda dari Indonesia?” Tanyanya dengan hati berdebar.

Jack terkejut, dan memandangnya hati-hati.

“Tak banyak yang tahu hal tersebut. Apa anda wartawan? ” Katanya pada Eros.

“Bukan. Tetapi bila istri anda bernama Kirana, maka kami saling mengenal. Apakah istri anda bernama Kirana?”

Eros menatapnya dengan bersungguh-sungguh.

Jack tampak semakin terkejut. Ia memperhatikan Eros dengan lebih seksama.

Iya. Dia ingat. Wajah ini, wajah pria ini ada banyak digambar dalam buku sketsa milik Kirana. Pria dari masa lalu yang tidak diingat Kirana. Yang dikiranya hanyalah ilusi delusional skizofrenia Kirana. Ternyata pria ini nyata adanya.

Eros memahami ekspresi wajah Jack. Semua tebakannya sudah terjawab dengan melihat wajah Jack Reynor.

“Bagaimana keadaannya? Apakah ia sehat? Bahagia?” Bisik Eros dengan hati yang berdegub kencang.

“Dia baik. Kami bahagia. ” Ujar Jack dengan tak kalah hati-hati.

“Apakah ia berada disini?” Eros menatap sekeliling dan mencari-cari sosok Kirana.

“Istriku tidak suka keramaian. Lagipula anak kami masih terlalu kecil sehingga tidak bisa dibawa ketempat ini. ” Kata Jack dengan penuh tekanan.

“Anak?” Ulang Eros dengan tidak percaya.

Kirana sudah punya anak. Dengan lelaki lain. Ia menutup matanya sejenak. Mencoba menenangkan jantungnya yang dipenuhi adrenalin dan kemarahan.

“Bisakah saya bertemu Kirana?” Bisiknya perlahan.

¤¤¤¤

Kirana menggendong putranya, Gill Reynor yang baru berusia 2 tahun 2 bulan. Putranya yang tampan, berkulit putih pucat dengan mata dan rambut hitam dan lesung pipi yang dalam.

Eros menatap mereka dengan pandangan terluka, penasaran dan kerinduan yang dalam. Kirana dengan santai melewatinya seolah ia tidak mengenalinya lagi.

“Kirana. ” Panggil Eros dengan suara lembut.

Namun wanita cantik ini tidak meresponnya. Seolah ia tidak mendengar panggilan dari sedekat itu.
Eros menangkap bahunya dan menariknya berbalik. Kirana menatapnya dengan pandangan bingung.

“Honey, did you see him?” Tanyanya pada buah hati di gendongannya.

Gill tertawa menggemaskan.
“Mommy, who’s that?”

Gill mengapai-gapai wajah Eros.
“Mommy’s flend?”

Eros tergugu. Bagi Kirana, ia hanya dianggap sebagai salah satu dari khayalan atau delusinya saja. Dan itu sangat menyakitkan baginya.

“Kirana, aku Eros. Aku bukan salah satu dari khayalanmu. ” Bisiknya dengan suara bergetar.

“Oh, maaf. Maafkan aku. ” Ujarnya dengan wajah malu-malu.

“Aku punya kesulitan membedakan….”

“Antara kenyataan dan khayalan. ” Potong Eros dengan cepat.

Kirana menatapnya dengan pandangan serius.

“Apa kau menderita Skizofrenia juga? Tapi mengapa aku sering melihatmu dalam khayalanku? Apa kita pernah di rawat ditempat yang sama?” Tanyanya bertubi-tubi.

Eros tersenyum miris padanya.

“Bukan seperti itu. Bisakah kita duduk sambil bercerita?” Katanya mengusulkan.

Kirana, Eros dan Gill duduk di restoran Hotel. Gill tampak sangat menikmati es krim vanila cokelatnya. Kirana tampak menatap anak semata wayangnya dengan pandangan bahagia. Sementara Eros menatap Kirana dengan kerinduan yang dalam dan kesedihan.

“Kau tampak sehat?” Ujar Eros pada akhirnya.

Kirana tersenyum manis.

“Aku masih dalam terapi psikosis dan rutin meminum clovazine (obat untuk penyakit skizofrenia). Sejauh ini tidak ada masalah dengan kesehatanku. ” Ucapnya dengan nada biasa.

“Kau benar-benar tidak mengingat masa lalumu? Tidak ingat aku ataupun Radhitya?” Tanya Eros dengan nada mendesak.

Sejenak Kirana tertegun. Ia menatap Eros dengan pandangan bingung.

“Apakah Radhitya itu nyata juga, seperti dirimu? Aku pikir hanya delusiku. ” Katanya dengan perlahan.

Eros segera mengerti. Bagi penderita skizofrenia, mereka selalu merasa terancam dari orang-orang yang ingin membunuh, memata-matai atau mengikutinya dengan niatan jahat. Dan mereka merasa hal tersebut nyata, benar-benar terjadi.

“Apa kami di khayalanmu adalah orang-orang yang ingin menyakitimu?” Tanyanya berhati-hati.
Kirana menatapnya takut-takut. Ia terlihat cemas. Eros menyentuh lengannya menenangkannya.

“Radhitya, di khayalanku adalah orang kejam. Yang selalu ingin mengusirku jauh-jauh dan suka sekali mengambil hal yang kusukai. ” Ujarnya dengan pandangan kosong.

“Bagaimana denganku?” Tanya Eros lagi.

Kirana menolak menatapnya dan menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Kau lelaki yang ingin memperkosaku. ” Katanya dengan suara lirih.

Eros terdiam. Rasa bersalah menyeruak ke dalam hatinya. Ia dengan segala keegoisannya dan tidak memikirkan kebaikan bagi Kirana. Ia memang bersalah dan berdosa. Mungkin karena itu Tuhan menghukumnya dengan mengambil Kirana sehingga tak berjodoh.

Diam-diam, Eros memperhatikan Gill yang tampan dan mempunyai senyum seperti miliknya. Ia membelai kepala bocah yang belepotan dengan cokelat cair. Eros menangis di dalam hati. Perasaannya patah dan hidupnya tak pernah membaik. Seharusnya semua ini adalah miliknya, kebahagiaannya.

¤¤¤¤

“Ada apa denganmu?”

Eros duduk di kursi. Jack yang sedang terbaring lemah, tersenyum padanya. Jack tampak sangat kacau. Bobotnya turun dengan drastis dan kesehatannya memburuk tak juga membaik.

“Aku senang kau datang. ” Ucapnya nyaris seperti bisikan.

“Kau tampak sangat payah. ” Ujar Eros dengan jujur.

Jack tertawa. Satu hal yang ia sukai dari Eros selama dua tahun mereka berteman adalah kejujurannya.

“Ini akibat dari kelakuanku yang salah. Aku terkena HIV dari pasangan gayku sekitar 12 tahun yang lalu. ” Ucapnya tanpa basa-basi.

“Apa?” Eros menatapnya dengan tajam.

“Kau …. Apa kau menulari Kirana?” Sergahnya dengan kasar.

Eros tampak sangat marah dengan hal ini.

“Tidak. Kirana dan Gill tidak mungkin tertular. Aku tidak mungkin melakukan hal tersebut pada istri dan anakku yang amat kusayang. Aku tidak segila itu, kawan. ” Jack membantah dengan keras.

“5 tahun kami menikah, tidur seranjang. Tak pernah terpisahkan. Tapi tidak sekalipun aku menyentuh Kirana untuk hal ‘itu’. ”

Jack menatap Eros dengan tajam. Seolah pandangannya berkata, begitulah cara ia menyayangi Kirana dengan menjaganya.

” Kau tahu aku teramat mencintai istri dan anakku. Kirana adalah kesempatan terbaik yang dikirimkan Tuhan untukku. Aku memujanya, menyayanginya dan sangat tidak ingin menyakitinya. Tapi waktuku tak banyak lagi, kawan. ” Ujarnya dengan tangis yang ditahan.

“Apa maksudmu?” Eros menatapnya dengan pandangan curiga dan bertanya-tanya.

“Apakah terjadi hal yang buruk, Jack?” Tanyanya lagi.

Jack menangis tanpa suara. Eros menatapnya dengan perasaan bersalah.

“Jack, katakan sesuatu?” Pintanya cemas.

“Aku menyesali diriku yang dulu, kawan. Aku menyesali mengapa aku bisa menjadi gay dan tertular penyakit sialan ini. Aku menyesali hukuman yang diberikan Tuhan padaku. ” Jack menangis terisak-isak.

Eros terdiam. Menatapnya dengan pandangan sedih juga kasihan. Bagaimanapun Jack adalah seorang teman yang baik selama ini. Juga pria dan suami yang baik untuk Kirana. Wanita yang masih sangat dicintainya.

“Jack, bertahanlah. Kau harus memikirkan Kirana dan Gill. Mereka sangat mencintaimu dan membutuhkanmu. Bagaimana mereka bisa bertahan tanpa dirimu?” Ujarnya menyemangati Jack.

Jack mengusap air matanya dengan jari-jarinya yang kurus dan panjang. Eros menatapnya iba. Ia menyentuh lengan pria Irlandia ini.

“Kau harus menjaga mereka bila terjadi hal buruk terhadapku. ” Ucap Jack penuh ketegasan.

“Kau harus bertanggung jawab terhadap Kirana dan Gill disaat aku sudah tidak ada. Kau harus melakukannya. ”

Jack menatapnya dengan tajam. Ada kemarahan dan keyakinan yang tak terbantahkan di sorot mata itu.

“Anggaplah ini permintaan seorang teman yang sangat kau sayangi. ”

“Jack. Tanpa kau mintapun aku akan menjaga mereka. Kurasa kau pun tahu bagaimana perasaanku selama ini. ” Ucap Eros dengan jujur.

Jack tertawa. “Kau diam-diam mencintai istri temanmu. Dan berharap ia mati. ”

Eros tergelak, walaupun matanya masih terlihat sedih.

“Jack. Terimakasih karena selama ini telah menjaga Kirana dan Gill dengan sangat baik. ”

Jack kembali tertawa dengan mata yang berkaca-kaca.

“Hei, tentu saja. Mereka istri dan anakku yang sangat berharga. Kau harus ingat itu. ” Ucapnya dengan nada mencemooh.

Mereka kembali tertawa.

¤¤¤¤

Kirana tampak terpukul. Wajahnya sembab dan matanya bengkak. Ia berdiri dengan kaku, bersandar pada Eros. Sedangkan Gill memeluk Eros dengan wajah penuh bulir air mata, tampak sangat bersedih dengan kepergian Daddynya.

Jack Reynor telah meninggal dalam keadaan tenang dan tanpa merasa menderita dipelukan keluarganya yang sangat mencintainya. Jack juga sudah menyiapkan surat wasiat yang menyatakan Eros sebagai wali dari Istrinya yang menderita Skizofrenia dan anak semata wayangnya yang baru berusia 4 tahun 5 bulan.

Perlahan peti berukiran cantik dari kayu eboni sebagai tempat tidur terakhir Jack, itu di kerek turun ke dalam lubang. Dan pekerja yang menggali tanah, mulai menyekop tanah untuk menutupi kuburan tersebut.

Eros menatap foto Jack yang sedang tersenyum. Pria Irlandia tampan dengan mata biru yang dalam dan rambut cokelat yang hangat. Pria yang telah mencintai, menjaga dan menyayangi Kirana. Wanita yang sama-sama mereka cintai. Dan menjadi ayah terbaik bagi Gill yang bahkan bukan darah daging Jack.

Eros menangis dalam diam.

“Terimakasih, kawan. Semoga kau lebih bahagia disana. ” Bisiknya perlahan.

After Lonely (Not Alone)

“Kau terlihat hebat!”

Kirara mendongak, terkejut melihat kemunculan Han yang tiba-tiba. Dan pria itu tersenyum hangat padanya, ada binar kerinduan yang dalam dimatanya.

“Han!?” Ujarnya tidak percaya.
Kirara menatap sekelilingnya dengan bingung. Coffe shop langganannya tampak sepi dan hanya ada dia yang sedang duduk di both sudut yang nyaman. Dan ini di Jakarta, bukannya Seoul. (Baca Baby, I’m lonely http://t.co/p3j3pwJlQI)

Pemuda itu tertawa dan dengan santainya duduk di hadapan Kirana. Menopang dagunya dan menatapnya lurus, dengan pandangan lembut.

“Cantik. Sehat. Dan sangat bahagia. ” Ucapnya menilai wanita di hadapannya.

Kirara membalas senyumnya, ragu. Dan memajukan tangan kanannya. Meraih jemari Han dan menyentuhnya sekilas. Memastikan hal ini bukan mimpi. Han nyata ada disini.

“Kau sehat?” Tanya wanita cantik ini dengan nada bicara masih selembut dahulu.

Han tersenyum dan melirik perut Kirara yang sedang membuncit. Dengan tangan kirinya wanita itu mengelus perutnya yang membesar, karena hamil. Tersenyum hangat padanya. Dan pria itu melihat cincin kawin yang melingkari jari manisnya.

“Aku bahagia, Han. ” Katanya bersungguh-sungguh.

“Dia baik?” Tanya Han dengan nada ringan.

Kirara kembali tersenyum, tulus.
“Yah, dia baik. ”

Han tersenyum kecil. Dan membuang pandangannya ke arah lain.

Kirara meremas jemarinya. Membawanya kembali menatap gadis itu.

“Dia mencintaiku, Han. Aku juga. Dan dia memperlakukanku dengan sangat baik. Kau tahu, dia selalu bilang betapa beruntungnya dirinya bertemu denganku, tetapi kenyataannya justru akulah yang bersyukur menemukannya. ”

Han menatap Kirana yang sedang tersenyum bahagia, dengan perasaan memaklumi. Betapapun ia mengerti tetap ada perih di sudut hatinya. Rasa bersalah.

“Apa yang membawamu kemari? Aku pikir kau tidak akan pernah lagi ke Indonesia. ”

“Aku sedang dekat dengan seorang gadis. ” Ujar Han berhati-hati.

Kirara menatapnya dengan binar bahagia.

“Dia memaksaku untuk menemuimu lagi!” Katanya dengan nada bicara yang terlihat ragu.

“Untuk apa?” Tanya Kirana dengan alis berkerut samar, bingung.

Han mendesah, “Ia ingin aku memastikan bahwa kau sudah melanjutkan hidup dan berbahagia. ”

Senyum dibibir Kirara memudar.
“Kau belum memaafkan dirimu sendiri?” Tanyanya dengan prihatin.

Kirara menggenggam jemari Han dan meremasnya lembut.

“Semuanya sudah berlalu Han. Anggap saja sebagai ujian yang telah berlalu. Jangan menyimpan rasa bersalah terhadapku. ”

Han tersenyum.
“Aku sedang mencobanya. ”

“Bagaimana dengan gadis itu? Apa salah satu teman artismu?”
Kirara mengedipkan matanya dan tertawa.

“Bukan. Dia hanya gadis biasa. ”

Kirara mendesah, tidak sabaran.
“Apa aku mengenalnya?”

“Tidak. Tetapi ia berasal dari Indonesia juga sepertimu. ”

“Apa?” Kaget wanita cantik ini.

¤¤¤¤

Kirara tersenyum melihat ke arahnya dan memutuskan pembicaraannya ditelefon selularnya.

Han menyerahkan air mineral yang baru saja ia beli dari mini market berlogo angka yang sekarang sedang menjamur di Jakarta.

“Darren mengajak kita makan siang bersama. ” Ujarnya dengan sisa senyum di bibirnya.

“Dia tahu siapa aku?” Tanya Han menyelidiki.

Kirara tertawa, “Tentu. Tapi jangan khawatir, dia bukan pria picik yang tidak percaya pada pasangannya. ”

“Sepertinya Dokter Darren benar-benar pria keren. ” Gumamnya dengan nada menggoda Kirara.

“Ceritakan tentang gadis yang sedang kau kencani?” Pinta Kirara saat supir mulai menjalankan mobil yang membawa mereka.

“Kami tidak berkencan. ” Ujar Han singkat.

“Lalu?” Wanita cantik yang sedang hamil tua ini mencecarnya.

“Dia bekerja padaku. ” Han mendesah.

“Ooh, skandal yang romantis. ” Kirara menggodanya. “Bagaimana kalian bertemu?” Tanyanya lagi.

Han terdiam. Dan mengingat lagi kejadian sekitar setahun yang lalu. Saat pertama kali ia bertemu dengan Saina Malika.

Flashback

“Aku bukan pelacur. Tolong jangan lakukan ini. Help me. Please help me. Ku mohon. ”

Han terkejut mendengar teriakan menghiba sorang wanita, saat ia sedang berjalan keluar ruang VIP. Yang membuatnya tertarik adalah teriakan minta tolong itu bercampur dengan beberapa kata Korea, Inggris dan Indonesia. Bahasa asing yang mengingatkannya pada seseorang yang sudah lama pergi dari hidupnya. (Baca Baby, I’m lonely http://t.co/p3j3pwJlQI)

Han mencari asal suara itu dan menemukan seorang wanita dengan pakaian tercabik dan bibir berdarah. Tersungkur di lantai dan memandang ke atas dengan sinar mata ketakutan dan juga marah. Sementara seorang pria berjongkok di hadapannya dan menjambak rambutnya keras. Membuatnya mengaduh kesakitan.

“Pelacur sialan, kau harus melayani tamu. Kalau tidak aku akan membuangmu di jalanan. ” Kata pria itu kasar.

“Kalian menipuku, bukan pekerjaan ini yang kalian tawarkan. Aku datang bukan untuk jadi wanita penghibur. ” Ucapnya dengan berani.

Dan keberaniannya harus dibayar mahal, pria itu kembali menamparnya dan darah kembali menetes di bibirnya yang pecah.

“Wanita sial. Kau pikir kau pintar, hah!” Maki Pria itu tanpa iba. Ia bangkit dan menendang perut wanita itu kejam. Tidak memperdulikan jeritan kesakitannya.

“Hentikan!” Sergah Han dengan suara penuh tekanan.

Pria itu menoleh dengan kaget dan sedikit bergidik melihat pemuda yang tiba-tiba muncul ini. Ia tahu siapa pemuda ini dan tidak ingin mencari masalah.

Han, seorang bintang Hallyu terkenal dan tidak ada yang tahu latar belakangnya namun menurut rumor keluarganya sangat kaya dan berkuasa.

“Hanya pria pengecut yang memukul wanita dan orang yang lebih lemah darinya. ” Kata Han penuh tekanan. Tubuhnya gemetar menahan amarah, melihat ketidakadilan ini.

Flashback end.

“Wow!” Kirara menatapnya dengan pandangan kagum.

“Kau selalu seperti itu, suka menolong orang. Tipikal pahlawan romantis. ” Tambahnya lagi.

Han mendesah, “Bukan suka menolong. Tapi sudah seharusnya. Itu dua hal yang berbeda. ” Ujarnya dengan nada biasa.

“Lalu bagaimana setelah itu?” Kirara menatapnya dengan pandangan penasaran.

“Aku membantunya mendapatkan pekerjaan di Agency. Dan kami jadi sering bertemu. ”

“Kapan kau mulai menyukainya?” Tanya Kirara dengan serius.

“Aku tidak tahu. ” Ucap Han bersungguh-sungguh.

“Tapi aku selalu merasa nyaman saat bersamanya. Dia selalu bisa membuatku tertawa bahkan tanpa disadarinya. Dan dia punya kesabaran lebih menghadapi kelakuanku. ”

Kirara tersenyum bijak. Ia mengerti maksud perkataan Han, karena ia mengenal pria ini dengan sangat baik.
Wanita berambut panjang ini mengelus lengan Han perlahan. Seolah menyemangatinya.

“Dia tidak pernah berusaha membuatku terkesan secara sengaja ataupun tidak. Tetapi entah mengapa aku selalu saja melihat ia tampak menonjol dimanapun ia berada. ”

“Kau benar-benar menyukainya. Sudah memberitahunya tentang perasaanmu?” Ungkap Kirara dengan hati-hati.

Han menggeleng. Sorot matanya tampak sendu.

“Mengapa?” Bisik Kirara tidak mengerti.

Han tersenyum sedih.
“Samchonku (pamanku). Sepertinya beliau tahu aku punya perasaan terhadapnya. Aku tidak ingin ia mendapat masalah oleh karena hal tersebut. ” Nada bicara pria tampan ini tampak getir.

“Tuan Han Tae Min masih seperti itu? Memperlakukanmu sebagai asetnya yang berharga. ”

Han terkejut mendengar nada bicara mencela keluar dari bibir Kirara. Ia sadar betapa terlukanya dulu wanita ini saat paman Han Tae Min memaksa Kirara mengugurkan kandungannya. Dan Han sama sekali tidak mengetahuinya karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya di Jepang. Hal ini kembali membuat hatinya merasa sangat bersalah pada wanita di sampingnya ini.

“Maaf… !” Bisik Han perlahan.

Han masih mengingat perpisahan mereka beberapa tahun yang lalu. Betapa keras ia meminta, memohon bahkan mengemis pada Kirara agar kembali padanya. Wanita ini hanya menangis dan memintanya melepaskannya. Saat itu hatinya hancur dan bertambah parah lagi saat ia mengetahui alasan Kirara meninggalkannya.

¤¤¤¤

Melihat Darren yang bersikap lembut dan penuh kasih pada Kirara, tidak ada kecemburuan dihatinya. Darren Snape Potter, tipe pria inggris yang gentleman dan sopan. Kriteria pria yang sangat ingin diseret wanita ke altar pernikahan. Dan wanita beruntung itu adalah Kirara. Ia pantas berbahagia setelah semua yang telah terjadi bersama Han.

“Aku senang bertemu denganmu hari ini. ” Ujar Han dengan raut wajah tersenyum simpul.

Kirara menatap matanya.
“Kelak kita harus bertemu lagi. ” Katanya sambil menoleh pada suaminya dan memegang lengan suaminya.

“Bawalah kekasihmu saat kita bertemu lagi. ” Darren mengucapkannya dengan senyuman tulus. Ia mengenggam jabatan tangan Han dengan kuat dan hangat.

Han membalas senyumannya. Ia mulai berjalan memasuki gerbang chek in dan meninggalkan pasangan yang telah mengantarnya.

“Han Tae Yang!”

Han menoleh. Kirara memanggilnya dengan nama lengkapnya, yang orang lain tidak mengetahuinya. Wanita itu tersenyum di dalam dekapan suaminya. Dan mengelus perut buncitnya.

“Kau harus bahagia. Kau berhak untuk itu. Perjuangkanlah cintamu, jangan menyerah. Dan jangan pernah membiarkan gadis yang kau cintai merasa kesepian, Han. Jangan lagi. ”

“Aku mengerti. ” Balas pria ini berteriak.

Han tersenyum padanya dan melambai. Lalu menghilang memasuki kerumunan orang-orang yang ramai di bandara.

Kirara mendesah. Dan memandang suaminya dengan lembut.

“Aku benar-benar berharap ia bisa bahagia. ” Ujarnya sedikit khawatir.

Darren membelai punggungnya.
“Aku yakin dia kuat. Dan kurasa ia tak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. ”

Kirara tersenyum dan berjinjit mengecup pipi Dokter Darren.
“Terimakasih, sayang. ” Ujarnya dengan perasaan bahagia.

¤¤¤¤

Han duduk dikursi VVIP penerbangan ke Seoul. Sendirian. Pria tampan ini memandang jauh keluar jendela. Pikirannya penuh dengan berbagai macam urusan yang belum selesai. Dan ia merasa rindu pada seorang gadis. Ingin melihat wajahnya dan mendengar suaranya.

Saina Malika yang manis dan tegar. Gadis yang menyuruhnya memastikan sendiri bahwa Kirara baik-baik saja dan bahagia. Gadis yang selalu menatapnya dengan pandangan hormat dan merasa berhutang budi. Yah, ia menyadari Saina memperlakukannya seperti itu. Dan sama sekali tidak ada perasaan pribadi di sana.

Han mendesah. Khawatir dan juga penasaran. Ada saat dimana ia kehilangan kendali atas dirinya dan parahnya ia tidak menyesali hal tersebut. Kini ia hanya sedikit merasa kesal, mengapa ia bertindak bodoh pada gadis itu.

Flashback.

Hari itu ia sedikit mabuk usai pesta perayaan selesainya syuting drama yang dibintanginya. Dan perolehan rating drama yang sedang airing ini sangat baik. Ia sedang ingin sedikit bersenang-senang, pulangnya ia mengajak manajernya dan beberapa teman termasuk Saina minum-minum dan karaokean di tempat langganan mereka.

Suasana tampak meriah, hangat dan menyenangkan. Han menyanyi dan berjoget-joget dengan gembiranya. Menirukan gerakan SNSD dalam lagu Gee. Membuat temannya tertawa dan ikut menari. Saina tertawa dengan wajah memerah yang bersinar. Dimata Han, ia tampak sangat cantik. Dan Han terpesona melihatnya, hal tersebut entah mengapa menimbulkan rasa panas di dadanya. Yang ia sendiri tidak mengerti itu apa.
“Hei!” Tegurnya saat melihat Saina keluar dari toilet yang sepi.

Gadis itu tampak baru saja mencuci wajahnya, ia terlihat segar.

“Sedang apa?” Katanya dengan alis berkerut. Melihat Han bersandar di lorong, menunggunya.

Han tersenyum dan melambai, menyuruhnya mendekat.

Saina itu tanpa curiga mendekat. Ia menyentuh wajah Han yang menunduk ke arahnya. Meraba keningnya lembut.

“Wajahmu memerah. Kau baik-baik saja?” Tanyanya sedikit khawatir.

“Aku baik. ” Kata Han sambil merangkul pinggangnya dan menarik Saina merapat padanya.

“Han, jangan pingsan disini. Aku tidak kuat mengangkatmu. Dimana semua orang ya?” Gumamnya pada diri sendiri.

Han tersenyum, mendengar kecemasan Saina. Kepeduliannya. Padahal ia tidak terlalu mabuk dan masih waras. Tidak banyak yang tahu kalau ia kuat minum dan tak gampang mabuk. Dan gadis ini malah mengira ia sebaliknya. Ia terlalu meremehkan dirinya, itu membuatnya menjadi impulsif. Dengan gerakan santai dan penuh perhitungan ia menundukkan wajahnya dan menarik dagu Saina.

Han menciumnya dengan penuh hasrat. Merasakan bibir Saina yang kenyal dan hangat. Mendesakkan semua perasaan yang bergumul di dadanya untuk perempuan ini. Resah, rindu, kesepian dan posesif.

Saina memundurkan wajahnya. Gadis itu melepaskan kontak fisik mereka dan memalingkan wajah dengan napas tersengal. Han menarik tubuh gadis itu lekat padanya dan membelai wajahnya lembut.

“Kenapa?” Ujarnya berbisik di telinga Saina dengan nada menggoda.

“Aku tidak bisa lebih dari ini. ” Katanya pelan dengan wajah memerah. Entah karena pengaruh malu ataupun nafsu.

“Mengapa?” Tanya pemuda itu lagi tanpa melepaskan lingkaran pelukannya. Han mengendus bahu dan leher gadis itu.

Saina mendorong bahunya perlahan. Gadis ini memalingkan wajahnya. Ia menatap Saina dalam-dalam dan mencoba memahami isi hatinya. Ia tidak pernah mendapat penolakan.

Saina mendesah dan berkata, “Sebagian perempuan melakukannya untuk menunjukkan perasaan cinta mereka terhadap pasangannya, meskipun belum menikah. Tapi aku tidak mau melakukannya denganmu bukan karena aku tidak menyukaimu, Han. ” Ia membalas tatapan pemuda itu dengan lembut.

Alis Han berkerut samar. Tidak mengerti.

“Aku menjaga diriku dengan baik sampai pada saatnya menikah. Karena aku ingin menghargai diriku sendiri dengan menghormati seseorang yang kelak menjadi suamiku. Kau mengerti?” Ucapnya dengan hati-hati. Seakan takut menyakiti Han dengan keputusannya.

Han tersenyum kecil dan menyentuh kepalanya dengan lembut.

“Aku mengerti. ” Ucapnya dengan ketenangan yang luar biasa.

Flashback end.

Han menarik nafas panjang dan mengeratkan hoddie hitam yang dipakainya. Membuang pandangannya kembali keluar jendela pesawat.

Beberasa jam lagi mungkin ia akan tiba di Seoul. Kembali ke mansionnya dan rutinitasnya yang sibuk. Tetapi ada yang berbeda kini setelah ia bertemu kembali dengan mantan kekasihnya, Kirara.

Kirara benar. Seharusnya ia mulai memaafkan dirinya sendiri. Berbahagia. Dan memperjuangkan cinta barunya. Paman Han Tae Min tidak berhak mengatur perasaannya. Dan saat ini, ia ingin bersama Saina. Ia ingin menjaga gadis itu, memilikinya dan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Perasaannya bergolak saat mengingat gadis manis itu dan ia yakin hal itu sudah cukup untuk membuatnya bertahan menghadapi segala hal yang akan datang.

“Saina, tunggulah!” Bisiknya pada langit yang menghitam.

Han merasa optimis dengan hal ini. Tawa kecil menghiasi bibirnya.

Mengkhianati Tuhan

Si Anu menikah dan berpindah agama mengikuti suaminya. Berpindah agama dengan alasan cinta atau masalah ekonomi bukan hal baru yang kudengar. Tapi tetap saja aku tidak bisa mengerti alasan seperti itu.

Bagiku berpindah agama karena memang menemukan keyakinan terhadap Tuhan diagamanya yang baru lebih baik daripada karena alasan remeh macam cinta atau ekonomi. Tetapi memang kebanyakan dari kita menganut agama karena dibesarkan dan mengikuti kepercayaan yang diyakini oleh orang tua kita. Memang bukan karena keinginan kita sendiri. Tapi dalam proses perjalanannya saat kita melakukan ibadah dalam hidup kita, apa tidak ada rasa ‘percaya’ kita terhadap Tuhan dan segala keyakinan terhadap agama yang kita anut? Bukankah kita juga belajar membaca, memahami dan meyakini kitab suci agama kita? Tidak adakah perasaan terharu, antusias, fanatisme, kebanggaan, kecintaan kita terhadap kitab suci dan isinya?

Aku dilahirkan dari kedua orang tua yang muslim. Dan aku juga muslim. Tapi imanku, aku yang menemukannya sendiri. Aku belajar mengaji, mendengar dan membaca cerita nabi-nabi, membaca terjemahan al-quran, sholat dan berpuasa, belajar tentang fikih, al-quran dan hadist, sejarah islam. Begitulah cara aku menemukan imanku terhadap Allah. Begitulah cara aku menemukan kecintaanku pada nabi kami. Aku mencari. Aku belajar. Dan aku menemukannya. Iman itu ditemukan, bukan diberikan oleh orang tua atau Tuhan begitu saja. Kita yang harus mencari dan meyakininya.

Jadi kalau pada akhirnya ada yang berpindah agama dengan alasan cinta atau masalah ekonomi, aku tidak dapat berkata apapun. Mereka memang LEMAH IMAN sedari awal. Bagaimana bisa cintanya terhadap Tuhan lebih rendah daripada cintanya terhadap manusia lain atau bahkan cintanya pada Tuhan dapat dikalahkan oleh kesulitan hidup dan ekonomi yang seret? Jadi buat apa menasihati orang-orang seperti ini. Kalau selama ini mereka memang sudah menjalankan agamanya dengan benar-benar dan dengan hati (bukan karena terpaksa atau dipaksa oleh orang lain), nggak akan bisa mereka mengganti Tuhannya dengan Tuhan-Tuhan yang lain.

Kalau cinta pada Tuhannya saja bisa ia khianati, bagaimana pula dengan cinta terhadap orang tua dan kekasihnya? Padahal Tuhanlah yang telah memberikan segalanya tanpa meminta imbalan apapun. Tuhanlah yang menyediakan udara secara gratis, sinar matahari secara terus menerus tanpa meminta bayaran diakhir bulan. Tuhan memberikanmu segala hal yang baik dan kau masih bisa mengkhianatinya?

Tuhan tidak akan kekurangan apapun jika kita meninggalkannya, tapi kita yang merugi jika sampai IA yang meninggalkan kita. Tuhan tidak masalah jika kita mengkhianati-NYA, tapi kita yang bermasalah kalau DIA tidak lagi menyayangi umatnya yang kufur. Kau tidak akan bisa membayangkan apa yang dapat Tuhan lakukan apabila IA marah? The end of the world, 2012, Jurassic Park, Volcanoes, dan Transformer dijadikan satu belumlah secuil dari apa yang Tuhan bisa lakukan. Bisakah kau membayangkannya?

Cintamu terhadap pasanganmu tidak akan menjamin kau hidup bahagia di dunia apalagi diakhirat. Karena manusia itu rapuh dan mudah berubah. Mengapa kau menggan tungkan hidup dan kebahagiaanmu pada manusia, yang tidak abadi dan tak berdaya apapun dibandingkan Tuhan? Dan keterbatasan ekonomi dan kesulitan hidup yang kau jadikan alasan untuk berpindah keyakinan, bisa jadi cuma ujian kecil yang Tuhan berikan sebelum kau naik kelas. Namun kau melewatkannya dengan harga yang mahal.

Apapun itu, semua ada ditanganmu. Keputusan untuk memilih Tuhan-Tuhan yang lain. Memilih bersatu dengan yang kau cinta dengan mengorbankan akidahmu. Lakukanlah dan jangan pernah menyesal. Meskipun kelak dimasa depan ternyata hidupmu tak seindah yang kau inginkan atau bayangkan. Meskipun kelak kau dicintai namun tak bahagia. Meskipun kau bergelimang harta tapi jauh dilubuk hatimu sengsara. Atau meskipun kelak hidupmu jauh-jauh lebih buruk keadaannya daripada sekarang. Jangan pernah menyesali keputusanmu untuk mengkhianati Tuhan. Apalagi untuk kembali. Itu sangat memalukan walau mungkin dilakukan. Sangat-sangat memalukan.

Mengkhianati Tuhan demi cinta atau kemelaratan adalah hal terakhir yang dapat kau lakukan sebelum akhirnya kau kehilangan esensimu sebagai manusia.

Ketika Tuhan Menciptakan Pria Tampan

Ketika Tuhan menciptakan pria tampan, IA tidak sedang hanya menciptakan. Ada makna yang sangat dalam terkadung darinya. Apa saja itu?

Mengapa Tuhan menciptakan pria tampan dengan lesung pipi yang dalam? Agar saat ia tersenyum duniamu serasa berputar hanya mengelilingi dia.

Adakah alasan Tuhan menciptakan pria yang mempunyai senyum yang hangatnya sampai ke hati? agar para wanita tetap yakin akan adanya harapan. Harapan bahwa dalam tiap ujian dan kesulitan yang datang terdapat kemenangan bahkan dalam prosesnya.

Tuhan tidak akan sia-sia menciptakan pria tampan yang bahkan jarang tersenyum, adalah tugas wanita untuk membuatnya bisa membuat lengkungan garis bibir itu.

Ketika Tuhan memutuskan ada pria tampan yang berkelakuan baik hati dan bertutur kata santun, terberkatilah wanita yang menjadi pasangannya. Siapapun itu.

Adalah pria tampan yang kata-katanya manis dan merayu, diciptakan Tuhan untuk menguji kesabaran dan keimanan wanita-wanita di sekelilingnya.

Dan Tuhan menciptakan pria tampan dengan perut kotak-kotak, supaya para wanita lebih banyak bersyukur dilahirkan ke dunia (seperti aku).

Pria tampan dengan mata tajam, akan membuatmu merasa dihakimi dengan pandangannya tetapi debaran jantungmu akan berkhianat.

Pria tampan dengan senyum kecil yang tulus, akan melelehkan hati-hati yang beku. Dan menumbuhkan tunas harapan.

Pria tampan dengan bibir yang selalu mengatakan hal indah, akan membuat banyak wanita patah hati kemudian jatuh cinta lagi.

Pria tampan dengan kelakuan brengsek, mungkin akan mudah dimaafkan tetapi tidak semudah itu dipilih menjadi pemimpin dalam membangun keluarga.

Pria tampan yang menjaga dirinya dari fitnah dan maksiat, menundukkan kepalanya dari pandangan terpesona perempuan yang memujanya adalah sebaik-baiknya pria yang diciptakan Allah.

Dan tidaklah diberikan ia anugerah ketampanan itu hanya sebagai keberuntungan, Tuhan juga mengujinya dengan hal tersebut.

Mungkin wanita diciptakan cantik untuk menjadi perhiasan dunia dan keluarga, tetapi pria-pria tampan diciptakan di dunia untuk menjadi kesenangan bagi semua wanita.

Pria tampan akan selalu menarik perhatian dalam waktu yang singkat, tetapi bila tidak ditunjang dengan kemampuan dan kelakuan yang memadai tidak akan cukup wajah itu membuat segala hal menjadi mudah.

Dan bagiku pribadi (aku wanita normal), aku memang suka dengan wajah-wajah menarik. Tubuh tinggi dan berotot. Attitude (kelakuan) yang sopan dan manis. Tutur kata lembut dan santun. Tetapi bila ada pria yang tidak tampan namun lucu dan pintar, tetap saja ia terlihat menarik hati bagiku.

Setiap kali melihat pria-pria tampan, aku jadi ingat Tuhan dan semakin bersyukur saja. Terimakasih telah menciptakan keindahan yang dapat dilihat dengan mataku dan terimakasih lagi karena telah memberikan aku kesempatan melihatnya. Tuhan memang baik padaku dan IA selalu terbaik.

Bahagiaku Itu Sederhana

Kalau kau bertanya, apa arti bahagia buatku?
Sulit bagiku untuk menjelaskannya.
Bukan karena susah memahaminya.
Karena bahagiaku itu sederhana.
Tak melulu tentang kamu.
Bahagiaku itu sederhana, asalkan bisa makan yang cukup. Tidur dengan nyenyak dan bisa mengenangmu dengan senyuman.
Bahagiaku itu sederhana, tidak selalu tentang uang dan materi.
Bahagiaku itu sederhana, seperti menarik nafas dengan lega dan buang angin yang tak tertahan.
Bahagiaku itu sederhana tidak terpengaruh harga bawang yang meroket dan tidak pula mempengaruhi ketersediaan solar.
Bahagiaku itu sederhana, bisa menangkap 26 huruf dan menyimpannya dalam sebuah makna. Membaginya pada dunia.
Bahagiaku itu sederhana, meskipun aku selalu sendiri dan kesepian tetapi tidak pernah kehilangan harapan.
Bahagiaku itu sederhana, saat menyelipkan sebuah nama ke dalam doaku dan berharap dia baik-baik saja.
Bahagia tak pernah rumit bagiku.
Karena aku selalu bisa berbahagia dengan hal-hal sederhana di sekelilingku.
Hal-hal yang terjadi dan selalu aku syukuri.
Bukan tanpa usaha untuk lebih berbahagia tetapi dengan hal kecil dan sederhana yang aku terima dengan ikhlas, Tuhan lebih menyayangi manusia yang selalu bersyukur dan tabah.
Jadi katakan dalam hatimu dengan tegas dan yakinilah
“Aku bahagia. Aku bahagia. Aku bahagia. Terimakasih Tuhan. ”
Niscaya kau akan merasakannya.

Jangan Lakukan 5 Hal Bodoh ini di Sosial Media

Ketik. Publish. Dan voila, seluruh dunia bisa melihat dan membagikannya dalam waktu beberapa detik saja. Oke, itu mudah. Tapi bagaimana kalau yang diposting tadi adalah kata-kata, foto atau apapun itu yang mengundang kecaman dari orang lain dan kita sesali pada akhirnya? Disinilah perlu kita menerapkan sopan santun dunia maya.

Sosial media dan jaringan internet yang mudah diakses dari telepon selular, membuat orang-orang gampang saja berselancar di dunia maya. Tetapi ada juga sisi negatifnya, semua kemudahan ini harus dibayar mahal. Karena setiap pemikiran dan perbuatan mempunyai sisi pro dan kontra. Kita jelas harus lebih bijak dalam bertindak dan berpikir dua kali sebelum mengomentari atau memposting sesuatu. Apa saja hal tersebut, mari kita lihat satu-persatu.

1. Mengetik Cepat dan Typo

Ini kesalahan umum yang paling sering terjadi. Misalnya di twitter saat kita melihat tweet seseorang dan mengomentarinya tanpa lebih dahulu mengecek tweet-tweet sebelumnya, kita bisa saja salah mengerti maksudnya.
Wajar saja sih, karena tiap tweet hanya terdiri dari 140 karakter, jadi terkadang untuk memposting sesuatu maksud ia menggunakan beberapa tweet yang runut. Sayangnya karena timeline yang ramai, tweet tersebut hanya terlihat sepotong. Dan inilah yang bisa mengundang kesalahan dalam mengomentari.
Well, aku sendiri pernah mengalaminya. Dan saat akun selebtwit tersebut membalas komentarku agak “nylekit” langsung saja ada beberapa akun lain yang ngebully. Padahal kesalahanku cuma kecil.
Typo (salah ketik) juga hal yang paling sering terjadi dan mengesalkan apabila sudah keburu dipublish. Lebih baik cepat dihapus dan perbaiki. Dan sebelum mempublish sesuatu ada baiknya kita cek lagi apa yang sudah kita tulis untuk menghindari kesalahan ini.

2. Komentar yang Kasar

Jangankan di dunia maya, dikehidupan nyata komentar kasar itu tidak enak didengar. Dan tetap saja ada orang-orang yang suka berkomentar kasar dengan maksud-maksud tertentu. Padahal dengan perkataan lembut dan tepat toh tidak akan mengurangi maksud yang dikemukakan.
Mungkin bagi sebagian orang ada yang menganggap dunia maya itu jangan terlalu dianggap serius. Padahal bagi beberapa orang apa yang ia tunjukkan disana adalah miniatur dari kepribadian sesungguhnya. Aku pribadi orang yang seperti itu. Jadi kalau aku melihat mereka yang berkata-kata kasar di sosial media, aku sih menganggap the realnya dirinya pasti seperti itu juga.
Saat ini sudah banyak orang-orang yang bila ingin melihat kepribadian seseorang, dengan melihat rekam jejaknya melalui sosial media. Bahkan ada perusahaan yang sampai melihat aktifitas sosial media calon pegawai sebelum merekrutnya sebagai pekerja mereka.
Kalau kalian menganggap dunia maya itu bohongan, kalian salah. Dunia maya itu nyata, yang ada memang banyak orang-orang berbohong disini. Tapi di kehidupanpun tidak semua orang jujur, banyak juga manusia-manusia palsu. Letak bedanya adalah mereka yang memilih untuk tidak nyata dan berbohong, itu ajasih. Kamu dan apa yang kamu lakukan disini, mungkin orang lain tidak mengetahuinya. Tetapi kamu sendiri tahu kebenarannya seperti apa, dan orang yang paling kamu tipu itu sebenarnya bukan orang lain melainkan nurani kamu sendiri. Kasihan sekali menjadi diri kamu ya.

3. Menjadikan SARA, Jenis Kelamin dan Musibah/Bencana/Kecelakaan sebagai Becandaan atau Joke

Sebenarnya hal beginian sih memang tidak pantas dilakukan, tetapi masih banyak orang yang melakukannya dengan alasan lucu-lucuan. Contohnya baru-baru ini saat terjadi kecelakaan pesawat Lion Air di Bali, banyak foto kecelakaan yang beredar dan diedit menjadi ada gambar ultraman dan monster. Seolah-olah pesawat tersebut jatuh karena pertarungan ultraman tersebut. Foto-foto tersebut banyak beredar di broadcast message, bahkan dipakai sebagai display picture BBM.
Well, untuk orang-orang seperti ini aku hanya bisa bilang mereka PAYAH karena nggak peka. Bahkan yang cuma ikut-ikutan karena temannya pakai juga dan lagi happening. Kalian enggak punya otak atau nggak punya hati? Mending baca ini dulu deh. Stop! Menjadikan Musibah Sebagai Becandaan http://t.co/YsctjD8zKc

4. Jangan membicarakan hal pribadi di forum yang terbuka

Kebebasan itu memang mutlak pilihan seseorang. Tetapi alangkah baiknya bila tidak semua orang tahu masalah yang sedang kau hadapi atau hal-hal pribadi yang tidak usah dikonsumsi publik. Kita tentu tidak mau informasi pribadi kita nantinya bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Karena itu berhati-hatilah mengumbar informasi pribadi di sosial media.
Dan apabila kau bertanya hal yang pribadi pada seorang teman atau kenalan di sosial media sebaiknya gunakan fasilitas yang lebih private. Seperti inbox di Facebook atau DM di Twitter. Karena akan lebih sopan dan nyaman bagi kedua belah pihak.

5. Menandai/Tag-in Foto Barang Dagangan atau Membombardir Akun Orang lain dengan Berita Broadcast Tidak Penting

Aku bukannya tidak mendukung jual beli online tetapi hanya merasa sedikit terganggu dengan ulah para penjual produk secara online yang suka seenaknya menandai kita dengan foto barang dagangannya. Ini menggangguloh. Apalagi jika ada yang berkomentar di foto tersebut maka pemberitahuan akan masuk ke kita. Padahal hal tersebut sesungguhnya tidak berhubungan dengan kita.
Kemudian hal terakhir yang paling menjengkelkan adalah broadcast message yang masuk ke akun kita yang berisi iklan dagangan atau pesan-pesan tidak penting. Terkadang hal seperti inilah alasan mengapa pada akhirnya kita menghapus pertemanan di sosial media atau BBM. Aku pribadi malah pernah mendelete kontak seseorang karena suka mengirim pesan-pesan yang melecehkan wanita atau nge-PING terus menerus sehingga aku merasa terganggu.

Oke, ini hanya opiniku saja. Tetapi aku tetap menganggap perlunya mengetahui sopan santun dalam berinteraksi di sosial media, walau belum ada peraturan baku tentang hal tersebut. Bagaimana menurutmu?