Tears are Falling

Klub M, 11. 58 PM.
Sepasang anak manusia yang sedang bercumbu di sofa empuk sebuah klub terkenal di kota London. Lalu saat tangan sang pria mulai menjelajahi tubuh sigadis, tiba-tiba ia mendorong sang pria. Sang pria masih terengah-engah, tampak agak terkejut dan tidak mengerti. Ia kembali mendekatkan dirinya pada gadis itu. Namun Kiara, sigadis bertubuh mungil dengan wajah semanis malaikat itu tersenyum. Memamerkan deretan gigi kelincinya yang putih.
“I have to go now!” Ujarnya tanpa melepaskan senyum dibibirnya.
Pemuda itu membelai lengannya yang telanjang, “Tidak bisakah kita melanjutkannya? Di tempatku atau di tempatmu. ” Rayunya dengan wajah menggoda.
Kiara membungkuk dan mengecup pipi pemuda itu.
“Thanks a lot, Alex. Aku sangat ingin bersamamu, darling. Tapi kau tidak akan kekurangan teman yang akan menemanimu di ranjang. ” Bisiknya dengan nada tak kalah menggoda.
Seanggun dan secepat gerakan kucing gadis itu bangkit dan berjalan, menuju pintu keluar club. Meninggalkan Alex yang hanya bisa tersenyum masam.
“Kau selalu begitu Kiara. Tidak pernah memberi kesempatan kepada siapapun untuk tidur denganmu, namun hal itu justru membuatmu semakin menarik. ” Ucapnya pada dirinya sendiri dan mulai melihat kesekitarnya, mencari wanita lain.

¤¤¤¤

Bandara Incheon, Korea Selatan.
Kiara berjalan sambil menarik koper ukuran sedang berwarna hijau. Ia menarik napas panjang dan menatap sekeliling yang ramai. Tidak ada satupun orang yang dikenalnya dan ia sedang menunggu orang yang menjemputnya.
Sudah lama sekali ia tidak pulang ke Korea. Sejak 7 tahun yang lalu neneknya meninggal dan ia memutuskan meneruskan sekolahnya ke Kanada. Kini ia sudah menjadi warga negara Kanada dan mempunyai kehidupan yang mapan di New York, Amerika. Sebagai penulis beberapa novel laris.
Tadinya ia pikir tidak akan pernah lagi memijakkan kaki ke Korea, namun ia ingin menjiarahi orang tua dan neneknya. Dan kebetulan ada sebuah perusahaan film yang membeli hak pakai sebuah novelnya, sehingga ia putuskan untuk pulang dan sekalian melihat dan mengawasi pembuatan skenario film tersebut.
“Miss Cho!” Sapa seorang pria yang mengenakan setelan jas rapi.
Kiara mengangguk dan menyerahkan kopernya.
“Selamat datang di Seoul. ” Ujarnya dengan ramah. “Saya akan mengantar anda ke hotel, tempat anda menginap.”
Kiara tersenyum simpul dan mengucap terimakasih. Lalu kembali diam dan mengikuti langkah pria tersebut.

¤¤¤¤

Rumah Abu, “Teratai Jiwa”.
Kiara berjalan menyusuri lorong rapat yang berisi lemari-lemari panjang, tempat menyimpan guci abu jenasah. Tidak banyak orang yang sedang berjiarah.
Dan akhirnya langkah gadis ini terhenti di sebuah blok. Ia menatap ke sudut rak kaca, beberapa guci tersimpan rapi di sana. Dan terpajang foto juga. Kiara meletakkan rangkaian bunga lili putih dan tulip yang dibawanya dan melepaskan kaca mata hitamnya.
“Ayah, ibu dan nenek. Aku pulang. ” Bisiknya dengan wajah sendu.
Ia meraba bingkai foto yang mulai berdebu. Dan setitik air mata, jatuh tepat di tulang pipinya yang cantik.
“Aku sangat merindukan kalian. ” Ucapnya dengan perlahan.

Aku pernah terbaring tak berdaya.
Dengan tubuh lebam, terluka dan berdarah.
Perasaan hancur, marah dan malu. Bahkan aku berharap saat itu aku mati saja.

Lama gadis itu terpekur di depan abu jenasah keluarganya. Setelah bertahun-tahun lamanya, ternyata kesedihan itu tetap membekas dijiwanya. Ia tetap merasa sedih setiap mengenang ayah, ibu dan neneknya yang telah pergi. Meninggalkannya sebatang kara di dunia ini.
“Aku sehat dan baik-baik saja. Memang tidak mudah menjalaninya hingga sampai di titik ini. Tapi kini semuanya berjalan dengan semestinya. Jangan khawatirkan aku lagi. ”
Gadis itu membungkuk, memberikan hormat sebanyak dua kali. Sebagai penghormatan bagi keluarga yang telah meninggal.

¤¤¤¤

Ruang VIP Restoran “Mayashi”
“Saya sudah membaca skenario yang anda tulis. Dan saya menyukainya!” Puji Kiara tulus pada Penulis Kim.
“Benarkah?” Wanita setengan baya itu tersenyum senang.
“Jadi anda setujukan memberikan hak pakai novel anda, untuk film yang akan diproduksi Production House kami?” Tanya Produser Song dengan semangat.
Gadis itu tersenyum simpul, “Kita masih perlu membicarakan beberapa kesepakatan. Silahkan anda menghubungi agen saya untuk mengurus kontraknya, tapi sepertinya saya ingin bekerja sama dengan PH kalian. ” Katanya dengan nada lunak.
Produser Song dan Sutradara Jo tampak sangat antusias.
“Maaf saya permisi sebentar. ” Kiara pamit keluar dari ruangan VIP tersebut. Berjalan menelusuri lorong menuju kamar mandi. Sebelum mencapai belokan, sebuah pintu dorong dari ruangan VIP lain terbuka dan seseorang keluar.
Sesaat mereka berpandangan lalu Kiara tidak memperdulikannya dengan terus berjalan.
“Cho Ahra!”
Kiara terpaku. Sudah lama tidak ada yang memanggilnya dengan nama itu. Dan suara itu, ia mengingat siapa pemilik suara tersebut. Seseorang yang sangat tidak ingin ia jumpai lagi dalam hidupnya.
Kiara memejamkan matanya, tubuhnya gemetar dengan tangan terkepal. Ia masih berdiri dengan kaku. Wajahnya memucat dan berkeringat dingin.
Oh Tuhan, aku harap ini hanya mimpi buruk. Bisiknya pada diri sendiri.
Ia berusaha bernafas dengan perlahan dan berusaha mengendalikan dirinya lagi.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya sosok itu mendekat.
Ia nyata dan bukan mimpi. Ia benar-benar ada di hadapanku dan melihatku dengan wajah terlihat khawatir.
Kiara mundur. Gemetar ditubuhnya semakin menghebat. Lalu tiba-tiba tubuhnya lunglai dan ia kehilangan kesadarannya.

Aku tidak ingin lagi hidup, memijak bumi dan menghirup udara yang sama dengannya.
Aku berkali-kali berharap aku lenyap saja menjadi buih.
Atau menghilang seperti asap. Menjadi sesuatu yang tidak bermassa lagi.
Dan setelah waktu berlalu, keadaan tetap tidak membaik untukku.

¤¤¤¤

Kamar Rawat VIP Rumah Sakit
Gadis itu sudah sadar sejak sejam yang lalu. Ia menangis dalam diam. Sudah lama sekali ia berusaha melupakan kenangan buruk yang terus menghantuinya. Ribuan malam ia lalui sendiri dengan ketakutan yang menyesakkan dadanya. Berkali-kali sesi terapi yang diikutinya ternyata tidak lantas membuatnya bisa menghadapi hari ini.
Kiara menangis tergugu dengan sangat menyedihkan. Ia menutup mulutnya dengan kepalan tangannya. Terisak dengan hati yang kembali hancur seperti beberapa tahun yang lalu, saat tidak seorangpun mau menolongnya.
Kiara mengambil ponselnya dan memencet nomor satu, panggilan cepat.
“Gabe, batalkan kontrak itu dan aku ingin segera pulang ke New York besok. ” Katanya dengan nada tidak terbantahkan.
“Katakan saja, aku berubah pikiran!” Ujarnya lagi dengan nada tegas.
“Aku tidak peduli, Gabe. Saat ini aku hanya ingin pulang. ” Putusnya.
Seharusnya ia tidak pergi ke Korea dan melupakan saja semua yang pernah terjadi disini. Hidup dengan nyaman di apartemennya yang hangat dan menikmati hari-harinya yang menyenangkan di kota big apple.

Aku merasa ketakutan dan mencurigai semua orang.
Aku menyadari diriku hina dan kotor meskipun aku tidak sepenuhnya bersalah.
Aku sampah menjijikkan bukan?

¤¤¤¤

New York City, 11. 00 AM.
“Ada apa denganmu Kiara?” Tanya Gabriel Ortega tanpa basa-basi ketika gadis itu pada akhirnya membuka pintu apartemennya. Setelah hampir satu jam Gabe memaksa, merayu bahkan memohon diizinkan masuk.
“Jezz, apa yang terjadi disini? Pekiknya terkejut saat melihat ruangan tamu yang kacau.
Ia berbalik melihat Kiara dengan mata menyipit dan pandangan prihatin.
“Kau sudah makan?” Tanyanya dengan lembut.
Kiara menggeleng, dan lalu melangkah ke sofa.
Duduk dengan posisi memeluk kakinya. Gabe mengikutinya dan duduk di sampingnya.
“Gabe, maaf aku membuat kacau semuanya. ” Ucapnya dengan lirih.
“Aku hanya tidak mengerti alasannya.” Jawab Gabe sambil menyentuh lengannya lembut.
Kiara menoleh padanya, “Aku bertemu dengan seseorang yang sangat aku benci. Dan ternyata ia adalah presiden direktur dari production house yang ingin membeli hak pakai novelku. ” Katanya menjelaskan.
“Sebenci apa kau padanya sampai merusak kesepakatan bisnis yang besar? Oke, aku memang agenmu tapi aku juga temanmu selama beberapa tahun ini. Aku tidak pernah melihatmu seterpuruk ini. ” Gabe kembali menyentuh lengan gadis ini.
“Dia orang yang menghancurkan hidupku, Gabe. Yang membuatku terpaksa meninggalkan Korea. ”
Perlahan air mata menetes membasahi pipi Kiara, dan tubuhnya gemetar. Mengingat semua luka itu.
“Aku masih berusia 16 tahun saat itu. Seminggu beberapa kali aku belajar bersama dengan seorang kakak kelas yang orang tuanya sangat kaya. Aku terpaksa melakukannya demi mendapatkan beasiswa di sekolah. Lalu suatu hari, aku tidak tahu kenapa ia melakukannya. ” Kiara mulai terisak.
“Melakukan apa?” Tanya Gabe berhati-hati.
“Dia memperkosaku, Gabe. Aku sudah memohon, berteriak dan memakinya tetapi ia tetap melakukannya. Dan tidak ada yang menolongku di rumah itu. ” Jerit Kiara mulai histeris.
Ia menunduk semakin memeluk kakinya lebih erat. Menangis dengan sangat menyedihkan. Gabe memeluknya dengan perasaan sedih. Ia membelai punggung gadis itu.
“Aku dan nenekku melaporkannya ke polisi. Namun dengan kekuasaan orang tuanya, ia bisa lolos dari jeratan hukum. Orang tuanya memberikan kompensasi yang sangat besar. Nenekku yang sedih dan terpukul akhirnya terkena serangan jantung. Dan aku yang tidak memiliki siapapun lagi akhirnya memutuskan sekolah ke Kanada. ” Cerita Kiara saat akhirnya ia sudah duduk tenang dan menyesap teh yang dibuat Gabe.
“Aku mengerti keputusanmu dan selalu mendukungmu, Girl. ” Gabe mengenggam tangan Kiara dengan hangat.
“Tapi aku sedih, mengapa selama ini kau tidak pernah bercerita padaku? Padahal aku ini temanmu. ” Ujar Gabe dengan mata berlinang air mata.
“Kau menahan semuanya sendirian. Oh, Kiara. Seandainya aku yang di posisimu, mungkin aku sudah bunuh diri. ” Pemuda itu mengusap wajahnya dengan tisu. Wajahnya membengkak dan hidungnya memerah.
Kiara tersenyum dengan mata yang juga berlinang air mata. “Thanks, Gabe. Kau adalah teman priaku yang sangat baik. Aku rasa kalau kau tidak gay, aku akan menikahimu. ” Katanya dengan bibir merekah dengan senyum.
“Sialan, kau. ” Gabe melemparnya dengan tisu basah.
“Aku serius. ” Kata Kiara lagi.

¤¤¤¤

Gabe berjalan keluar dari apartemen Kiara. Saat ia baru saja turun dari lift, ponselnya bergetar. Dan ia melihat panggilan dari sebuah nomor asing.
“Hallo!” Sapanya dengan heran.
“Bisakah saya berbicara dengan Gabriel Ortega?” Tanya seseorang dengan intonasi suara terdengar agak asing.
“Ya, saya sendiri. Maaf ini dengan siapa?” Tanyanya lagi.
“Saya Lee Sang Hyuk. Anda ingat saya?” Katanya dengan nada sopan.
Ingatan Gabe kembali pada beberapa tahun yang lalu, saat ada seorang pria Asia yang menemuinya. Dan memintanya menjadi agen bagi seorang penulis muda yang belum mempunyai nama. Ia bersedia menjadi sponsor dengan dana tak terbatas bagi penulis itu namun ia meminta supaya hal tersebut dirahasiakan dan Gabe harus berjanji penulis tersebut harus dibantu dengan maksimal. Pria tersebut adalah Lee Sang Hyuk.
“Saya ingat siapa anda. ” Kata Gabe dingin. “Dan saya baru saja mengetahui kalau andalah yang dulu merusak hidup Kiara, atau Cho Ahra. ” Ujarnya dengan penekanan keras.
Terdengar pria itu menarik nafas panjang. “Benar. Saya adalah pria itu. ” Ucapnya dengan ketenangan yang mengagumkan. Membuat Gabe merasa sangat muak.
“Anda mau apa?” Tanyanya langsung, tidak ingin berbasa-basi lagi.
“Bagaimana keadaan Ahra?” Tanyanya dengan nada lembut.
Alis pemuda ini berkerut, “Tentu saja ia masih shock dan ketakutan. ” Dan semua itu karenamu. Rutuknya dalam hati.
Lee Sang Hyuk terdiam. “Aku tidak menyangka ia masih terpukul. Aku tidak berharap ia memaafkanku, tapi aku selama ini…… mungkin seumur hidup aku akan selalu sangat menyesal. ” Ujarnya dengan hati-hati.
“Apa anda pikir dengan melakukan ini semua anda akan dimaafkan?” Tanya Gabe dengan ketus.
Pria itu kembali mendesah.
“Aku tidak berani berharap begitu. Kau tidak tahu penyesalan dan rasa bersalah yang kualami. Mungkin kau tidak mempercayainya, tapi saat ini aku benar-benar berharap Ahra bisa bahagia dalam hidupnya. ” Kata pria itu terdengar tulus.
“Aku juga berharap Kiara bahagia. ” Ujar Gabe dengan lembut.
“Tolong jaga gadis itu, Tuan Gabriel. Saya sangat berterimakasih karena selama ini anda telah membuatnya jadi penulis yang hebat. ” Ucapnya dengan nada yang menyejukkan.
“Semoga suatu hari ia akan memaafkan anda, Tuan Lee Sang Hyun. ” Kata Gabe dengan nada tulus. Mungkin pria ini benar-benar merasa bersalah, menyesal dan berharap Kiara bisa berbahagia. Kalau tidak buat apa ia diam-diam membantu Kiara hingga menjadi penulis terkenal. Mengkhawatirkannya. Peduli pada gadis itu.
“Terimakasih!” Ucap Lee Sang Hyun terdengar sedih.

6 thoughts on “Tears are Falling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s