Marah dan Tidak Menyesal

Pernah tiba-tiba emosi meledak/ngamuk/marah besar cuma gara-gara hal sepele?

Aku pernah. Dan baru saja terjadi. Aku berantem mulut sama nyokap, cuma gara-gara nggak terima omongan nyokap. Aku yang merasa bukan kesalahanku cuma nyokap ngelampiaskannya sama aku, akhirnya terpancing emosi dan ngelawan semua omongan nyokap. Dan sedihnya walau aku ngomong dengan suara sangat keras, nangis dan nyokap juga begitu sih. Aku tetap tidak merasa itu kemenangan. Nyokap jadi nyumpahi aku dan ujung-unjungnya semua kata-kata yang selama ini cuma disimpen di dalam hati keluar semua. Aku nggak tahu apa semua ucapan itu hanya karena marah sesaat atau benar begitu adanya pandangan nyokap keaku. Aku rasanya udah nggak peduli lagi. Semuanya udah jadi abu.

Aku tahu nggak sepantasnya kita ngelawan orang tua kandung kita, apalagi ibu. Dan aku nggak mencari pembenaran terhadap kelakuanku. Menjadi orang tua itu sulit, tetapi menjadi anak juga sulit. Seharusnya orang tua mau meminta maaf kalau ternyata sikapnya salah dan anak juga harus lebih sabar menghadapi orang tua. Mereka orang tua kita, yang melahirkan dan merawat kita sampai jadi seperti sekarang. Tapi keadaan nggak bisa semudah itu buatku, selama ini aku udah menahan emosiku terhadap keluarga dan ibuku. Dan dengan tekanan keadaan yang rumit, kekecewaan yang dalam dan rasa frustasiku terhadap semuanya aku meledak hanya karena masalah sepele. Aku mengamuk. Menjerit. Melawan semua ucapan nyokap. Bikin nyokap nangis dan pasti kecewa padaku.

Aku selalu berpikir hubunganku dengan nyokap memang selalu begini, love and hate. Dan setiap kali aku berada terlalu lama di rumah, aku pasti berantem sama nyokap. Malah setiap kali aku jauh dan jarang pulang nyokap merindukanku. Tapi aku sih ngerasa saat aku jauh aku paling merasa nyaman.

Ah, rasanya ingin pergi jauh dari rumah dan nggak usah peduli dengan semua urusan keluarga. Aku ingin hidup untuk diri aku sendiri. Tampak egois ya? Tapi kamu nggak tahu gimana keadaan aku sesungguhnya. Aku lelah berjuang untuk keluarga yang mengecewakan seperti ini, karena seberapa keras aku berusaha untuk mereka enggak ada artinya bagi mereka. Mereka enggak ingat dan nggak bakalan menghargai apa yang sudah kulakukan selama ini.

Aku lelah. Dan nggak tahu untuk apa lagi aku harus berusaha. Aku bahkan nggak punya sebiji alasan untuk tetap bertahan. Hidup benar-benar membosankan buatku.

I lost my temper, I feel like shit. And the sadly part is I’m still a live.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s