After Lonely (Not Alone)

“Kau terlihat hebat!”

Kirara mendongak, terkejut melihat kemunculan Han yang tiba-tiba. Dan pria itu tersenyum hangat padanya, ada binar kerinduan yang dalam dimatanya.

“Han!?” Ujarnya tidak percaya.
Kirara menatap sekelilingnya dengan bingung. Coffe shop langganannya tampak sepi dan hanya ada dia yang sedang duduk di both sudut yang nyaman. Dan ini di Jakarta, bukannya Seoul. (Baca Baby, I’m lonely http://t.co/p3j3pwJlQI)

Pemuda itu tertawa dan dengan santainya duduk di hadapan Kirana. Menopang dagunya dan menatapnya lurus, dengan pandangan lembut.

“Cantik. Sehat. Dan sangat bahagia. ” Ucapnya menilai wanita di hadapannya.

Kirara membalas senyumnya, ragu. Dan memajukan tangan kanannya. Meraih jemari Han dan menyentuhnya sekilas. Memastikan hal ini bukan mimpi. Han nyata ada disini.

“Kau sehat?” Tanya wanita cantik ini dengan nada bicara masih selembut dahulu.

Han tersenyum dan melirik perut Kirara yang sedang membuncit. Dengan tangan kirinya wanita itu mengelus perutnya yang membesar, karena hamil. Tersenyum hangat padanya. Dan pria itu melihat cincin kawin yang melingkari jari manisnya.

“Aku bahagia, Han. ” Katanya bersungguh-sungguh.

“Dia baik?” Tanya Han dengan nada ringan.

Kirara kembali tersenyum, tulus.
“Yah, dia baik. ”

Han tersenyum kecil. Dan membuang pandangannya ke arah lain.

Kirara meremas jemarinya. Membawanya kembali menatap gadis itu.

“Dia mencintaiku, Han. Aku juga. Dan dia memperlakukanku dengan sangat baik. Kau tahu, dia selalu bilang betapa beruntungnya dirinya bertemu denganku, tetapi kenyataannya justru akulah yang bersyukur menemukannya. ”

Han menatap Kirana yang sedang tersenyum bahagia, dengan perasaan memaklumi. Betapapun ia mengerti tetap ada perih di sudut hatinya. Rasa bersalah.

“Apa yang membawamu kemari? Aku pikir kau tidak akan pernah lagi ke Indonesia. ”

“Aku sedang dekat dengan seorang gadis. ” Ujar Han berhati-hati.

Kirara menatapnya dengan binar bahagia.

“Dia memaksaku untuk menemuimu lagi!” Katanya dengan nada bicara yang terlihat ragu.

“Untuk apa?” Tanya Kirana dengan alis berkerut samar, bingung.

Han mendesah, “Ia ingin aku memastikan bahwa kau sudah melanjutkan hidup dan berbahagia. ”

Senyum dibibir Kirara memudar.
“Kau belum memaafkan dirimu sendiri?” Tanyanya dengan prihatin.

Kirara menggenggam jemari Han dan meremasnya lembut.

“Semuanya sudah berlalu Han. Anggap saja sebagai ujian yang telah berlalu. Jangan menyimpan rasa bersalah terhadapku. ”

Han tersenyum.
“Aku sedang mencobanya. ”

“Bagaimana dengan gadis itu? Apa salah satu teman artismu?”
Kirara mengedipkan matanya dan tertawa.

“Bukan. Dia hanya gadis biasa. ”

Kirara mendesah, tidak sabaran.
“Apa aku mengenalnya?”

“Tidak. Tetapi ia berasal dari Indonesia juga sepertimu. ”

“Apa?” Kaget wanita cantik ini.

¤¤¤¤

Kirara tersenyum melihat ke arahnya dan memutuskan pembicaraannya ditelefon selularnya.

Han menyerahkan air mineral yang baru saja ia beli dari mini market berlogo angka yang sekarang sedang menjamur di Jakarta.

“Darren mengajak kita makan siang bersama. ” Ujarnya dengan sisa senyum di bibirnya.

“Dia tahu siapa aku?” Tanya Han menyelidiki.

Kirara tertawa, “Tentu. Tapi jangan khawatir, dia bukan pria picik yang tidak percaya pada pasangannya. ”

“Sepertinya Dokter Darren benar-benar pria keren. ” Gumamnya dengan nada menggoda Kirara.

“Ceritakan tentang gadis yang sedang kau kencani?” Pinta Kirara saat supir mulai menjalankan mobil yang membawa mereka.

“Kami tidak berkencan. ” Ujar Han singkat.

“Lalu?” Wanita cantik yang sedang hamil tua ini mencecarnya.

“Dia bekerja padaku. ” Han mendesah.

“Ooh, skandal yang romantis. ” Kirara menggodanya. “Bagaimana kalian bertemu?” Tanyanya lagi.

Han terdiam. Dan mengingat lagi kejadian sekitar setahun yang lalu. Saat pertama kali ia bertemu dengan Saina Malika.

Flashback

“Aku bukan pelacur. Tolong jangan lakukan ini. Help me. Please help me. Ku mohon. ”

Han terkejut mendengar teriakan menghiba sorang wanita, saat ia sedang berjalan keluar ruang VIP. Yang membuatnya tertarik adalah teriakan minta tolong itu bercampur dengan beberapa kata Korea, Inggris dan Indonesia. Bahasa asing yang mengingatkannya pada seseorang yang sudah lama pergi dari hidupnya. (Baca Baby, I’m lonely http://t.co/p3j3pwJlQI)

Han mencari asal suara itu dan menemukan seorang wanita dengan pakaian tercabik dan bibir berdarah. Tersungkur di lantai dan memandang ke atas dengan sinar mata ketakutan dan juga marah. Sementara seorang pria berjongkok di hadapannya dan menjambak rambutnya keras. Membuatnya mengaduh kesakitan.

“Pelacur sialan, kau harus melayani tamu. Kalau tidak aku akan membuangmu di jalanan. ” Kata pria itu kasar.

“Kalian menipuku, bukan pekerjaan ini yang kalian tawarkan. Aku datang bukan untuk jadi wanita penghibur. ” Ucapnya dengan berani.

Dan keberaniannya harus dibayar mahal, pria itu kembali menamparnya dan darah kembali menetes di bibirnya yang pecah.

“Wanita sial. Kau pikir kau pintar, hah!” Maki Pria itu tanpa iba. Ia bangkit dan menendang perut wanita itu kejam. Tidak memperdulikan jeritan kesakitannya.

“Hentikan!” Sergah Han dengan suara penuh tekanan.

Pria itu menoleh dengan kaget dan sedikit bergidik melihat pemuda yang tiba-tiba muncul ini. Ia tahu siapa pemuda ini dan tidak ingin mencari masalah.

Han, seorang bintang Hallyu terkenal dan tidak ada yang tahu latar belakangnya namun menurut rumor keluarganya sangat kaya dan berkuasa.

“Hanya pria pengecut yang memukul wanita dan orang yang lebih lemah darinya. ” Kata Han penuh tekanan. Tubuhnya gemetar menahan amarah, melihat ketidakadilan ini.

Flashback end.

“Wow!” Kirara menatapnya dengan pandangan kagum.

“Kau selalu seperti itu, suka menolong orang. Tipikal pahlawan romantis. ” Tambahnya lagi.

Han mendesah, “Bukan suka menolong. Tapi sudah seharusnya. Itu dua hal yang berbeda. ” Ujarnya dengan nada biasa.

“Lalu bagaimana setelah itu?” Kirara menatapnya dengan pandangan penasaran.

“Aku membantunya mendapatkan pekerjaan di Agency. Dan kami jadi sering bertemu. ”

“Kapan kau mulai menyukainya?” Tanya Kirara dengan serius.

“Aku tidak tahu. ” Ucap Han bersungguh-sungguh.

“Tapi aku selalu merasa nyaman saat bersamanya. Dia selalu bisa membuatku tertawa bahkan tanpa disadarinya. Dan dia punya kesabaran lebih menghadapi kelakuanku. ”

Kirara tersenyum bijak. Ia mengerti maksud perkataan Han, karena ia mengenal pria ini dengan sangat baik.
Wanita berambut panjang ini mengelus lengan Han perlahan. Seolah menyemangatinya.

“Dia tidak pernah berusaha membuatku terkesan secara sengaja ataupun tidak. Tetapi entah mengapa aku selalu saja melihat ia tampak menonjol dimanapun ia berada. ”

“Kau benar-benar menyukainya. Sudah memberitahunya tentang perasaanmu?” Ungkap Kirara dengan hati-hati.

Han menggeleng. Sorot matanya tampak sendu.

“Mengapa?” Bisik Kirara tidak mengerti.

Han tersenyum sedih.
“Samchonku (pamanku). Sepertinya beliau tahu aku punya perasaan terhadapnya. Aku tidak ingin ia mendapat masalah oleh karena hal tersebut. ” Nada bicara pria tampan ini tampak getir.

“Tuan Han Tae Min masih seperti itu? Memperlakukanmu sebagai asetnya yang berharga. ”

Han terkejut mendengar nada bicara mencela keluar dari bibir Kirara. Ia sadar betapa terlukanya dulu wanita ini saat paman Han Tae Min memaksa Kirara mengugurkan kandungannya. Dan Han sama sekali tidak mengetahuinya karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya di Jepang. Hal ini kembali membuat hatinya merasa sangat bersalah pada wanita di sampingnya ini.

“Maaf… !” Bisik Han perlahan.

Han masih mengingat perpisahan mereka beberapa tahun yang lalu. Betapa keras ia meminta, memohon bahkan mengemis pada Kirara agar kembali padanya. Wanita ini hanya menangis dan memintanya melepaskannya. Saat itu hatinya hancur dan bertambah parah lagi saat ia mengetahui alasan Kirara meninggalkannya.

¤¤¤¤

Melihat Darren yang bersikap lembut dan penuh kasih pada Kirara, tidak ada kecemburuan dihatinya. Darren Snape Potter, tipe pria inggris yang gentleman dan sopan. Kriteria pria yang sangat ingin diseret wanita ke altar pernikahan. Dan wanita beruntung itu adalah Kirara. Ia pantas berbahagia setelah semua yang telah terjadi bersama Han.

“Aku senang bertemu denganmu hari ini. ” Ujar Han dengan raut wajah tersenyum simpul.

Kirara menatap matanya.
“Kelak kita harus bertemu lagi. ” Katanya sambil menoleh pada suaminya dan memegang lengan suaminya.

“Bawalah kekasihmu saat kita bertemu lagi. ” Darren mengucapkannya dengan senyuman tulus. Ia mengenggam jabatan tangan Han dengan kuat dan hangat.

Han membalas senyumannya. Ia mulai berjalan memasuki gerbang chek in dan meninggalkan pasangan yang telah mengantarnya.

“Han Tae Yang!”

Han menoleh. Kirara memanggilnya dengan nama lengkapnya, yang orang lain tidak mengetahuinya. Wanita itu tersenyum di dalam dekapan suaminya. Dan mengelus perut buncitnya.

“Kau harus bahagia. Kau berhak untuk itu. Perjuangkanlah cintamu, jangan menyerah. Dan jangan pernah membiarkan gadis yang kau cintai merasa kesepian, Han. Jangan lagi. ”

“Aku mengerti. ” Balas pria ini berteriak.

Han tersenyum padanya dan melambai. Lalu menghilang memasuki kerumunan orang-orang yang ramai di bandara.

Kirara mendesah. Dan memandang suaminya dengan lembut.

“Aku benar-benar berharap ia bisa bahagia. ” Ujarnya sedikit khawatir.

Darren membelai punggungnya.
“Aku yakin dia kuat. Dan kurasa ia tak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. ”

Kirara tersenyum dan berjinjit mengecup pipi Dokter Darren.
“Terimakasih, sayang. ” Ujarnya dengan perasaan bahagia.

¤¤¤¤

Han duduk dikursi VVIP penerbangan ke Seoul. Sendirian. Pria tampan ini memandang jauh keluar jendela. Pikirannya penuh dengan berbagai macam urusan yang belum selesai. Dan ia merasa rindu pada seorang gadis. Ingin melihat wajahnya dan mendengar suaranya.

Saina Malika yang manis dan tegar. Gadis yang menyuruhnya memastikan sendiri bahwa Kirara baik-baik saja dan bahagia. Gadis yang selalu menatapnya dengan pandangan hormat dan merasa berhutang budi. Yah, ia menyadari Saina memperlakukannya seperti itu. Dan sama sekali tidak ada perasaan pribadi di sana.

Han mendesah. Khawatir dan juga penasaran. Ada saat dimana ia kehilangan kendali atas dirinya dan parahnya ia tidak menyesali hal tersebut. Kini ia hanya sedikit merasa kesal, mengapa ia bertindak bodoh pada gadis itu.

Flashback.

Hari itu ia sedikit mabuk usai pesta perayaan selesainya syuting drama yang dibintanginya. Dan perolehan rating drama yang sedang airing ini sangat baik. Ia sedang ingin sedikit bersenang-senang, pulangnya ia mengajak manajernya dan beberapa teman termasuk Saina minum-minum dan karaokean di tempat langganan mereka.

Suasana tampak meriah, hangat dan menyenangkan. Han menyanyi dan berjoget-joget dengan gembiranya. Menirukan gerakan SNSD dalam lagu Gee. Membuat temannya tertawa dan ikut menari. Saina tertawa dengan wajah memerah yang bersinar. Dimata Han, ia tampak sangat cantik. Dan Han terpesona melihatnya, hal tersebut entah mengapa menimbulkan rasa panas di dadanya. Yang ia sendiri tidak mengerti itu apa.
“Hei!” Tegurnya saat melihat Saina keluar dari toilet yang sepi.

Gadis itu tampak baru saja mencuci wajahnya, ia terlihat segar.

“Sedang apa?” Katanya dengan alis berkerut. Melihat Han bersandar di lorong, menunggunya.

Han tersenyum dan melambai, menyuruhnya mendekat.

Saina itu tanpa curiga mendekat. Ia menyentuh wajah Han yang menunduk ke arahnya. Meraba keningnya lembut.

“Wajahmu memerah. Kau baik-baik saja?” Tanyanya sedikit khawatir.

“Aku baik. ” Kata Han sambil merangkul pinggangnya dan menarik Saina merapat padanya.

“Han, jangan pingsan disini. Aku tidak kuat mengangkatmu. Dimana semua orang ya?” Gumamnya pada diri sendiri.

Han tersenyum, mendengar kecemasan Saina. Kepeduliannya. Padahal ia tidak terlalu mabuk dan masih waras. Tidak banyak yang tahu kalau ia kuat minum dan tak gampang mabuk. Dan gadis ini malah mengira ia sebaliknya. Ia terlalu meremehkan dirinya, itu membuatnya menjadi impulsif. Dengan gerakan santai dan penuh perhitungan ia menundukkan wajahnya dan menarik dagu Saina.

Han menciumnya dengan penuh hasrat. Merasakan bibir Saina yang kenyal dan hangat. Mendesakkan semua perasaan yang bergumul di dadanya untuk perempuan ini. Resah, rindu, kesepian dan posesif.

Saina memundurkan wajahnya. Gadis itu melepaskan kontak fisik mereka dan memalingkan wajah dengan napas tersengal. Han menarik tubuh gadis itu lekat padanya dan membelai wajahnya lembut.

“Kenapa?” Ujarnya berbisik di telinga Saina dengan nada menggoda.

“Aku tidak bisa lebih dari ini. ” Katanya pelan dengan wajah memerah. Entah karena pengaruh malu ataupun nafsu.

“Mengapa?” Tanya pemuda itu lagi tanpa melepaskan lingkaran pelukannya. Han mengendus bahu dan leher gadis itu.

Saina mendorong bahunya perlahan. Gadis ini memalingkan wajahnya. Ia menatap Saina dalam-dalam dan mencoba memahami isi hatinya. Ia tidak pernah mendapat penolakan.

Saina mendesah dan berkata, “Sebagian perempuan melakukannya untuk menunjukkan perasaan cinta mereka terhadap pasangannya, meskipun belum menikah. Tapi aku tidak mau melakukannya denganmu bukan karena aku tidak menyukaimu, Han. ” Ia membalas tatapan pemuda itu dengan lembut.

Alis Han berkerut samar. Tidak mengerti.

“Aku menjaga diriku dengan baik sampai pada saatnya menikah. Karena aku ingin menghargai diriku sendiri dengan menghormati seseorang yang kelak menjadi suamiku. Kau mengerti?” Ucapnya dengan hati-hati. Seakan takut menyakiti Han dengan keputusannya.

Han tersenyum kecil dan menyentuh kepalanya dengan lembut.

“Aku mengerti. ” Ucapnya dengan ketenangan yang luar biasa.

Flashback end.

Han menarik nafas panjang dan mengeratkan hoddie hitam yang dipakainya. Membuang pandangannya kembali keluar jendela pesawat.

Beberasa jam lagi mungkin ia akan tiba di Seoul. Kembali ke mansionnya dan rutinitasnya yang sibuk. Tetapi ada yang berbeda kini setelah ia bertemu kembali dengan mantan kekasihnya, Kirara.

Kirara benar. Seharusnya ia mulai memaafkan dirinya sendiri. Berbahagia. Dan memperjuangkan cinta barunya. Paman Han Tae Min tidak berhak mengatur perasaannya. Dan saat ini, ia ingin bersama Saina. Ia ingin menjaga gadis itu, memilikinya dan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Perasaannya bergolak saat mengingat gadis manis itu dan ia yakin hal itu sudah cukup untuk membuatnya bertahan menghadapi segala hal yang akan datang.

“Saina, tunggulah!” Bisiknya pada langit yang menghitam.

Han merasa optimis dengan hal ini. Tawa kecil menghiasi bibirnya.

One thought on “After Lonely (Not Alone)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s