Mendekap Rasa, Merindu

mendekap rasa, merindu

mendekap rasa, merindu

“Bagaimana kabarmu?…….. Senang balik ke Indonesia lagi?………. Sorry, aku nggak bisa jemput. Tapi lusa kita ketemuan ya, ada yang mau aku kenalin……… Oke, ……bye. Sampai jumpa lusa! ”

Eros memencet sekilas tombol hands free bluetooth, ditelinganya. Dan menatap layar ponselnya. Wallpapernya gambar seorang gadis cantik dengan wajah tersenyum lembut.

“Mengapa kamu tersenyum secantik itu?” Bisiknya pada layar ponselnya.

¤¤¤¤

Eros menggandeng tangan Kirana. Gadis itu tidak menolak dan hanya tersenyum lembut. Mereka berjalan bersisian dengan langkah tidak terburu-buru.

Pemuda ini bertubuh tinggi atletis dan berwajah tampan yang selalu tersenyum. Diam-diam ia memperhatikan ekspresi wajah gadis di sampingnya. Kirana, memang selalu pendiam. Wajahnya yang cantik selalu terasa teduh baginya. Dan ia tidak seperti gadis lain yang pernah didekatinya. Kirana selalu menjadi misteri baginya.

Dan hari ini Kirana tampak rapi dan bersih dari belepotan cat lukis. Terlihat cantik mengenakan dress sederhana yang warna birunya sangat sesuai dengan kulit putihnya yang pucat. Eros merasa bangga bisa berjalan disampingnya dan menggandengnya. Tak semua orang bisa seberuntung dirinya. Mendapatkan gadis yang mempunyai bakat melukis ini.

Mereka tiba duluan di restoran makanan westren, tempat janjian makan siang. Hari ini Eros ingin memperkenalkan sepupunya pada Kirana. Eros memesan tiga porsi steak, kentang goreng dan salad. Sementara Kirana, gadisnya duduk dengan tenang di sampingnya. Mengaduk lemon teanya berkali-kali.

Bersamaan dengan datangnya pesanan, seseorang mendorong pintu kaca restoran dan memasuki ruangan ini. Sesosok pemuda jangkung dengan wajah menarik. Eros melambai padanya. Dan pemuda itu menoleh, tersenyum.

Kirana tercekat, menatap pada sosok itu dengan pandangan terkejut dan sedih.

“Makanannya baru aja datang. ” Ujar Eros dengan semangat padanya.

Sosok itu melihat pada gadis di samping sepupunya. Dan raut wajahnya sedikit berubah. Terkejut dan shock.

“Kirana, ini sepupuku satu-satunya. Radhitya. ” Eros tersenyum memamerkan lesung pipinya yang dalam. Dan menoleh pada gadis di sampingnya.

“Dhit, ini Kirana. ” Ucapnya dengan kebanggaan. “Kekasihku. ”

¤¤¤¤

Kirana melihat ke arah ponselnya yang menampilkan sebuah nomor tidak dikenal, yang memanggilnya.

“Halo!” Ucapnya pelan.

“Ini aku. ” Ujar seseorang disana.

Kirana menutup matanya, menarik nafas panjang. Ia tahu siapa orang tersebut dan alasannya menghubunginya.

“Ada apa kak?” Tanyanya langsung.

“Berapa lama kau mengenal Eros? dan berapa lama kalian berpacaran?” Tanya Radithya tanpa basa-basi.

“3 tahun. Dan 1 tahun berpacaran. ” Katanya dengan nada biasa.

“Putuskan dia. ” Ucapnya dengan dingin.

Kirana tercekat. “Mengapa?” Tanyanya terbata.

“Kau gila ya, bagaimana perasaannya saat tahu kau adalah bekas kekasihku? Jadi sebelum semuanya rumit sebaiknya kau meninggalkannya. ”

Kirara terdiam. Namun tak urung matanya berkaca-kaca.

“Aku mencintainya, kak. Ku mohon, biarkan aku bersamanya. ” Pintanya tergugu.

“Kalau kau tidak bisa memutuskannya, biar aku yang memberitahu segalanya padanya. ”

Klik. Tut. Tuuut.

Ia memutuskan pembicaraan tanpa basa-basi.

Kirana menangis dalam diam.

Bukan pertama kalinya Radhitya bertindak kejam terhadapnya. Dan luka akibat kelakuannya juga belumlah sembuh benar. Jauh sebelum ia berhubungan dengan Eros, Radithya pernah menjadi segalanya bagi gadis ini.

Flashback

“Kita….. putus saja. ” Ucapnya tiba-tiba, mengejutkan gadis yang sedang duduk di depan pemuda itu.

Perlahan wajahnya yang sedari tadi menunduk, menoleh ke arahnya dengan mata bersinar pedih. Kedua belah bahunya yang rapuh tampak gemetar dan tangannya terkepal di atas pangkuannya.

Ia menatap pemuda bermata tajam dihadapannya. Berharap kata-kata yang baru saja didengarnya tidak benar. Hanya candaan. Tidak berarti. Namun ketegasan raut wajah tampan itu, mematahkan harapannya.

“Mengapa, kak?” Bisiknya terisak.
Bahunya bergetar menanggung segala perasaan yang membuncah di dadanya.

“Kalau aku bersalah…!”

“Bukan salahmu. ” Potong pemuda itu dengan cepat.

Pemuda itu memalingkan wajahnya dan menatap keluar jendela kaca, ruang tamu rumah gadis ini. Menahan keyakinannya supaya tidak runtuh saat melihat gadis itu menangis.

Perlahan air mata gadis itu turun dan membanjiri wajahnya, juga pangkuannya. Ia menahan isakan dibibirnya.

“Maafkan aku. ” Ujar pemuda yang sudah dua tahun ini menjadi kekasihnya. “Maaf. ” Katanya perlahan.

Jadi inikah jawaban dari semua perubahan kelakuanmu kak? Selalu sibuk. Tidak punya waktu untukku. Tidak pernah menghubungiku lagi. Bersikap acuh dan tak peduli. Bahkan saat ini pun kau tidak mau memandangku lagi.

Aku pikir semua ini karena kau sedang berkonsentrasi dengan pekerjaanmu. Ternyata aku salah. Kau memang menghindariku, kak. Kau ingin lepas dariku. Sudah hilangkah semua perasaanmu padaku? Tak ada artinya lagikah keberadaanku di hatimu? Setidaknya berikanlah aku alasan, dimana kesalahanku? Mengapa kau berubah? Apa ini salahku? Ataukah memang ada yang lain?

Beribu pertanyaan menghantui pikiranku. Tetapi tidak satupun bisa terjawab. Kakak hanya diam dan membiarkanku menangis sendirian. Menanggung semuanya. Menerima keputusan sepihak yang sudah kau ambil. Karena seberapa kerasnya pun aku menolak, kakak tidak akan pernah kembali padaku. Jadi aku akan menelan semua derita ini. Semoga kakak bahagia. Dan kelak mungkin kita bisa bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik. Selamat tinggal kak.

Flashback end.

¤¤¤¤

Eros menatap Kirana yang terlihat pucat dan gelisah. Sudah beberapa minggu ini ia seperti menghindarinya dan tampak banyak pikiran. Lebih banyak terdiam dengan pandangan kosong, seolah hanya tubuhnya yang ada disini dan jiwanya entah berada dimana.

“Kirana…. Kirana… ! Sayang!” Panggil Eros pada gadis itu namun tidak ada respon.

Ia menyentuh pundak gadis itu dan akhirnya Kirana tersadar. Pemuda ini mendesah, bersedekap dan menatap langsung wajah kekasihnya. Ada saat-saat dimana Kirana seperti ini. Gadis ini, mengapa suka sekali bengong.

“Ada apa?” Tanya Eros tanpa basa-basi.

Kirana tidak berani memandangnya. Ia menunduk. Perlahan air matanya jatuh menetes tanpa di sadari oleh Eros.

“Kamu ingat dulu aku pernah punya kekasih. Dan ia meninggalkanku. Saat itu kita belum bertemu. ” Ujarnya dengan nada sedih.

“Lalu?” Eros menatapnya dengan pandangan tidak mengerti.

“Dia adalah Radhitya, sepupumu. ” Ucap Kirana dengan suara terluka.

Eros terdiam. Mencerna kata-katanya dan menatapnya tajam.

“Bagaimana bisa seperti ini?” Katanya seolah pada diri sendiri setelah lama mereka terdiam.

“Apa ini mengubah segalanya?” Tanya Kirana perlahan.

Eros memperhatikan raut wajah gadis itu yang tampak cemas dan berharap.

“Aku tidak tahu. ” Ujarnya dengan nada terluka.

Kirana terpukul mendengar jawabannya. Ia menunduk dan menahan air mata yang menumpuk di pangkal bulu mata bawahnya.

“Aku akan menunggu. Apapun keputusan kamu. ” Bisiknya dengan perlahan.

Eros bangkit dan meninggalkan ruang tamu rumah orang tua Kirana. Dengan perasaan terkejut dan sedikit marah.

¤¤¤¤

Radhitya tersenyum melihat sepupunya duduk di sofa menunggunya.

“Udah lama? Kenapa nggak nelfon dulu sebelum datang? ” Tanyanya sambil mengangsurkan sebotol minuman dingin.

Eros hanya mendesah. Meletakkan botol minuman itu ke meja. Dan menatapnya serius.

“Kirana sudah bercerita. ” Ucapnya perlahan.

Radhitya menghela nafas dan tampak lebih serius.

“Tepatnya apa yang ia ceritakan? ” Tanyanya berhati-hati.

“Tak banyak. Bahwa kalian dulu sepasang kekasih, jauh sebelum aku mengenalnya. Dan kau memutuskannya. ”

Tatapan Eros tampak menusuknya. Rasa penasaran dan marah memenuhi dirinya.

“Itu benar. Aku yang meninggalkannya. ” Ucap Radhitya dengan kalem.

“Tapi itu terjadi sebelum aku mengenalnya, tak masalah bagiku. Hanya saja aku tidak mengerti. Mengapa kau berpura-pura tidak mengenalnya?” Eros kembali menatapnya tajam.

“Aku meninggalkannya karena Kirana tidak tepat buatku. Dan buatmu juga. ” Ujarnya dengan nada miris.

Kening Eros berkerut, semakin bingung. “Maksudmu apa?”

“Kirana mengidap skizofrenia. Tidak bisa disembuhkan dan nyaris harus selalu minum obat anti depresan. Dia pernah dirawat di bangsal psikiatri selama sekitar beberapa tahun. ”

Eros tercekat, menatap Radhitya yang tidak mau menatapnya secara langsung.

“Kirana tidak ingat semua hal tersebut. Waktu kecil ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ibunya membunuh ayah tirinya, yang sudah mencabulinya. ”

Eros terdiam. Raut wajah tampannya berubah menjadi gelap. Tidak ada lesung pipi dalam yang selalu tampak saat ia tersenyum.

“Kirana tidak akan bisa masuk kedalam keluarga kita dengan latar belakang seperti itu. Dia sakit jiwa dan tak pernah bisa benar-benar sembuh. ” Ucap Radhitya dengan perlahan.

Kedua pemuda tampan yang bersaudara ini duduk di sofa dalam diam. Radhitya tampak gelisah sedangkan Eros tampak sangat terpukul.

“Apa semua yang kau katakan itu benar?” Tanya Eros memastikan.

“Sumpah demi Tuhan, Ros. Aku tahu semua ini saat tugas praktek ke Lapas Pembinaan Wanita Tanjung Gusta. Aku bertemu pasien yang ternyata ibunya Kirana. Aku melihat foto Kirana yang selalu didekapnya. Aku bertanya dan ia menceritakan semuanya. Lalu aku pulang ke Jakarta dan bertemu Kirana. Tapi Kirana tidak ingat apapun. Aku bahkan menemui psikiater yang merawatnya selama ini dan ternyata memang begitulah ceritanya. ” Ujarnya panjang lebar, menceritakan segala hal yang diketahuinya.

Eros merasa tenggorokannya sangat kering. Ia meminum air botol dihadapannya.

“Lalu kau memutuskan Kirana?” Tanyanya pada akhirnya.

Radhitya mendesah, kalah.
“Ya, aku memutuskannya. Dan ia menerimanya. ”

“Kau tahu, saat pertama kali aku melihatnya ia seperti anak anjing yang tersesat. Cantik, polos dan kebingungan. Aku langsung jatuh cinta pada gadis itu. Sungguh tidak mudah mendapatkannya, Dhit. Kirana berkali-kali menolakku, bahkan untuk ajakan nonton ataupun makan. ” Eros tampak mengenang semuanya dengan senyuman.

Eros menoleh padanya. Menatap sepupunya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Kirana, wanita yang paling sulit kudapatkan. Dan aku benar-benar mencintainya, Dhit. ” Ucapnya dengan pahit.

“Aku yang lebih dahulu tahu, ia wanita cantik dan baik. Tapi itu tidak cukup untuk menjadikannya wanita yang dipilih untuk dinikahi, Ros. Carilah wanita lain. Jangan dia. Penyakitnya, masa lalunya. Terlalu berat untuk diterima keluarga kita. ”

“Kirana tidak bersalah. ” Tegas Eros padanya.

“Kirana sakit jiwa. ” Ucap Radhitya mengingatkan.

Eros bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruang tengah.

“Kau akan melupakannya setelah beberapa saat. ” Kata Radhitya keras.

Eros berbalik, menatapnya tajam.

“Itu yang kau lakukan?” Katanya dengan sinis.

“Lihatlah dirimu, Dhit. Kau lari dari orang yang mencintaimu dengan tulus. Dan jadi apa kau sekarang? Kesepian dan sinis memandang kehidupan orang lain. ”

Radhitya merasa tertohok dengan ucapan Eros.

¤¤¤¤

Gadis itu masih duduk membeku di ruang tamu rumahnya. Setelah sejam yang lalu Radhitya datang dan berbicara padanya. Memintanya meninggalkan sepupunya, Eros.

“Mengapa?” Tanyanya pada lelaki yang dahulu pernah sangat ia cintai.

“Kau tidak perlu tahu alasannya. ” Ucapnya dengan dingin.

Kirana diam dalam gemetar tubuhnya. Seperti beberapa tahun yang lalu. Ditempat ini juga. Ia menahan semua perasaannya dan menangis tanpa suara.

“Aku tidak pernah tahu apapun. Tetapi kalian benar-benar tahu cara mematahkan hatiku. Jadi apakah aku harus menerimanya?” Ujarnya dengan suara bergetar marah dan sedih.

“Eros tidak akan mau melakukannya. Jadi harus kaulah yang memaksanya putus. Bilang saja kau tidak ingin bersamanya lagi setelah mengetahui aku adalah sepupunya. ”

“Dia tidak akan percaya hal itu. ” Kata Kirana menolak.

“Dia harus percaya. Ini demi kebaikannya. ” Ucap Radhitya dengan keras.

“Lalu bagaimana denganku, kak?” Tanya Kirana dengan tatapan mata yang tampak sangat terluka.

Radhitya menghela napas dengan berat.

“Kau bisa menghadapinya, seperti biasa. Ini demi kebaikan Eros. ” Katanya dengan nada memaksa.

“Maaf. ” Bisiknya perlahan.

“Maafkan aku. ” Bisiknya lagi.

Radhitya memandangnya dengan perasaan bersalah dan kasihan. Namun ia memantapkan hatinya dan berbalik pergi. Meninggalkan gadis itu sendiri. Seperti dahulu.

¤¤¤¤

Institute of Mental Health aka Woodbrigde Hospital. Singapore.

Di sebuah fasilitas ruang bermain bagi pasien bangsal psikiatri. Gadis itu duduk sendirian didekat jendela besar. Menatap kanvas lukisan dengan pandangan kosong. Namun air mata terus membanjiri wajah cantiknya.

“Kau kenapa? Apakah sakit?” Jack bertanya padanya.

Ia menoleh pada pria bermata biru di sampingnya. Yang entah darimana datangnya dan sejak kapan sudah berada di bangsal perawatan psikiatri. Pria itu tercekat melihat betapa cantiknya wajahnya yang bersedih.

“Apa kau pasien juga?” Tanyanya dengan suara polos seperti anak kecil.

Jack mengangguk dengan sedikit ragu. Ia memang dalam terapi psikosis untuk mengatasi depresi yang dialaminya tetapi tidak menginap di lembaga ini.

“Aku mengidap skizofrenia. Sulit bagiku membedakan antara dunia nyata dan khayalan. Aku bahkan tidak bisa mengingat kehidupanku yang dulu, benar terjadi atau cuma khayalanku. Tapi tadi dokter bilang ternyata aku hamil, sudah delapan minggu. ”

Gadis itu kembali menatap kanvas lukisannya yang belum selesai.

“Aku tidak tahu siapa yang menghamiliku. Sepertinya aku memang punya kekasih tapi aku bukan orang seperti itu, hingga bisa hamil. Aku bingung. ” Ujarnya dengan menggelengkan kepala. Membuat rambut panjangnya yang hitam berkilat bergerak liar.

Jack semakin terpesona melihatnya. Ia sebenarnya sudah beberapa kali melihat gadis ini tetapi tidak pernah sedekat ini. Ia benar-benar cantik, rapuh dan polos.

“Tuan, bisakah aku menitipkan anakku kelak padamu? Sebentar saja sampai aku sembuh. Aku mungkin akan lama disini sebelum akhirnya sembuh. Kau sepertinya orang baik. ”

Jack kembali takjub memandang kedalam mata gadis ini. Ya Tuhan, ia seperti malaikat. Dan ada perasaan ingin melindungi yang dirasakannya saat melihatnya seperti ini.

“Daripada menitipkan anakmu, bagaimana kalau kita menikah saja?” Kata Jack mengambil resiko.

“Menikah?” Ucap gadis itu terlihat bingung.

“Aku sakit jiwa, Tuan. Dan aku hamil tanpa tahu siapa bapak anakku. Kau mau menikah dengan orang seperti itu?” Tanyanya dengan ekspresi wajah kosong.

“Aku dulu gay. Dan aku sudah berkali-kali ingin bunuh diri, namun selalu selamat. Bahkan sekarang aku mengalami depresi berat. Aku juga sakit. ” Ucap Jack dengan senyum masam.

Gadis itu menatapnya dan ikut tersenyum.

“Kita sama-sama sakit. ” Katanya sambil tertawa kecil.

“Yah, kita sama-sama sakit. Jadi maukah kau menikah denganku?” Tanya Jack dengan serius.

Gadis itu mendongak padanya.

“Aku akan bersikap baik padamu. Aku janji. ” Ucapnya bersungguh-sungguh.
“Tuan, apa orang gila boleh menikah?” Tanyanya dengan wajah cemas.

Jack tertawa. Lalu mengusap kepala gadis itu lembut.

“Ayo kita menikah. ”

¤¤¤¤

“Ayolah, kau tidak akan menyesal ikut. Singapurakan dekat. Kita bisa liburan, jalan, shopping dan sedikit bersantai. ” Rayu Tasya padanya.

Eros mendesah malas.
“Bilang saja kau ingin melihat pameran lukisan. ” Ujarnya tidak bersemangat.

Tasya tersenyum senang.
“Ada pameran lukisan Jack Reynor. Setelah hampir sepuluh tahun ia kembali lagi. Duh, Irish man yang sangat berbakat. Tahu nggak dulu gosipnya dia gay, depresi berat karena ditentang orang tuanya dan ditinggal kekasihnya. Sekarang kabarnya dia sudah menikah dan punya anak. ” Ujar gadis cantik ini panjang lebar.

“Ohya, kabarnya istrinya sangat cantik dan muse (dewi kesenian dalam mitologi Yunani) bagi karya-karyanya. Pamerannya banyak mendapat pujian dari kritikus seni. Aku tidak sabar ingin melihatnya. Temani yah, pliiis!” Kata Tasya sambil memasang mimik wajah terbaiknya.

Eros melengos, kesal. Ia tidak suka datang ke pameran lukisan. Satu-satunya pelukis yang ia kenal hanya Kirana. Dan karena hal itu juga ia jadi mengingat gadis yang telah 3 tahun lamanya menghilang, ia membenci perasaan tersebut. Ia masih belum bisa melupakan Kirana dan masih mencarinya. Walaupun kini sudah bertunangan dengan Tasya.

“Ayolah. Aku janji nanti kita ke Universal Studio. Oke?” Tasya memasang wajah memohon seperti anjing kecil yang ingin menangis.

Eros mendesah, akhirnya mengalah.
“Baiklah. ” Putusnya pada akhirnya.

Tasya berteriak kegirangan dan memeluknya hangat.

Dan sekarang ia berada disini. Di acara pembukaan pameran lukisan Jack Reynor. Hanya undangan VIP saja yang bisa datang dan masuk ketempat ini. Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan langka ini. Eros bahkan tidak tahu berapa duit yang dihabiskan Tasya untuk mendapatkan invitation ke acara ini. Ia bahkan tidak peduli.

Eros memegang gelas champagne dan berjalan melewati kerumunan orang-orang di depan beberapa lukisan. Tasya sudah mengilang sejak 5 menit mereka tiba disini.

Eros sama sekali tidak mengerti lukisan, namun tidak dipungkiri lukisan Jack Reynor benar-benar indah. Jack banyak menggambar model seorang perempuan dan sepertinya perempuan itu Musenya. Menurut kabar perempuan tersebut adalah istrinya.

Eros berjalan mendekati sebuah lukisan yang tampak istimewa. Terlihat dari bingkainya yang tampak cantik dan posisi lukisannya yang tepat di tengah ruang pamer, seolah ia adalah inti dari semua karya-karyanya ini. Dan Eros sangat terkejut hingga lupa mencengkram gelas yang dipegangnya.

“Trang….” Gelas itu jatuh dan pecah.

Beberapa orang menoleh kepadanya. Seorang pelayan dengan cepat membersihkan kekacauan yang dibuatnya. Namun Eros tidak peduli. Ia terpaku melihat lukisan seorang wanita yang sedang menggendong bayinya. Eros mengulurkan tangan hendak menyentuh wajah wanita itu. Wanita yang sangat ia rindukan.

“Anda menyukainya?” Tanya seseorang dengan bahasa Inggris dengan logat British yang kental, mengagetkannya.

Eros menoleh pada seorang pria tampan, bermata biru yang dalam dengan rambut kecoklatan. Ia tersenyum hangat. Bersisian mereka menatap lukisan tersebut. Tinggi dan postur tubuh mereka tampak sama-sama bagusnya.

“Anda pelukisnya? Jack Reynor. ” Ucap Eros dengan nada hati-hati.

Jack mengulurkan tangan kanannya dan disambut Eros dengan sedikit ragu. Jari-jarinya panjang dan terasa panas.

“Eros Sadewo. Dari Indonesia. ” Katanya memperkenalkan diri.

Jack tersenyum, ada kilauan senang di matanya.
“Apa anda begitu terpikat pada lukisan ini hingga menjatuhkan gelas anda? Saya merasa tersanjung. ” Ujarnya dengan senyum ramah.

Eros menoleh lagi pada lukisan tersebut. Menatapnya dengan pandangan kesukaan yang ganjil.

“Saya tidak tahu apapun tentang lukisan. Tetapi lukisan ini sangat indah. Mungkin karena modelnya yang begitu cantik. ” Ucapnya dengan intonasi perlahan.

Jack tertawa kecil. Merasa itu adalah pujian yang tulus dari orang yang tidak mengerti seni lukis.

“Yah, bisa dibilang begitu. Modelnya adalah istri saya, dia segalanya bagiku. My muse. ” Ucapnya dengan pandangan memuja.

Eros tampak terluka melihat Jack. Tatapan seperti itu, dulu ia juga selalu melakukannya. Memandang Kirana dengan mata memuja.

“Istri anda dari Indonesia?” Tanyanya dengan hati berdebar.

Jack terkejut, dan memandangnya hati-hati.

“Tak banyak yang tahu hal tersebut. Apa anda wartawan? ” Katanya pada Eros.

“Bukan. Tetapi bila istri anda bernama Kirana, maka kami saling mengenal. Apakah istri anda bernama Kirana?”

Eros menatapnya dengan bersungguh-sungguh.

Jack tampak semakin terkejut. Ia memperhatikan Eros dengan lebih seksama.

Iya. Dia ingat. Wajah ini, wajah pria ini ada banyak digambar dalam buku sketsa milik Kirana. Pria dari masa lalu yang tidak diingat Kirana. Yang dikiranya hanyalah ilusi delusional skizofrenia Kirana. Ternyata pria ini nyata adanya.

Eros memahami ekspresi wajah Jack. Semua tebakannya sudah terjawab dengan melihat wajah Jack Reynor.

“Bagaimana keadaannya? Apakah ia sehat? Bahagia?” Bisik Eros dengan hati yang berdegub kencang.

“Dia baik. Kami bahagia. ” Ujar Jack dengan tak kalah hati-hati.

“Apakah ia berada disini?” Eros menatap sekeliling dan mencari-cari sosok Kirana.

“Istriku tidak suka keramaian. Lagipula anak kami masih terlalu kecil sehingga tidak bisa dibawa ketempat ini. ” Kata Jack dengan penuh tekanan.

“Anak?” Ulang Eros dengan tidak percaya.

Kirana sudah punya anak. Dengan lelaki lain. Ia menutup matanya sejenak. Mencoba menenangkan jantungnya yang dipenuhi adrenalin dan kemarahan.

“Bisakah saya bertemu Kirana?” Bisiknya perlahan.

¤¤¤¤

Kirana menggendong putranya, Gill Reynor yang baru berusia 2 tahun 2 bulan. Putranya yang tampan, berkulit putih pucat dengan mata dan rambut hitam dan lesung pipi yang dalam.

Eros menatap mereka dengan pandangan terluka, penasaran dan kerinduan yang dalam. Kirana dengan santai melewatinya seolah ia tidak mengenalinya lagi.

“Kirana. ” Panggil Eros dengan suara lembut.

Namun wanita cantik ini tidak meresponnya. Seolah ia tidak mendengar panggilan dari sedekat itu.
Eros menangkap bahunya dan menariknya berbalik. Kirana menatapnya dengan pandangan bingung.

“Honey, did you see him?” Tanyanya pada buah hati di gendongannya.

Gill tertawa menggemaskan.
“Mommy, who’s that?”

Gill mengapai-gapai wajah Eros.
“Mommy’s flend?”

Eros tergugu. Bagi Kirana, ia hanya dianggap sebagai salah satu dari khayalan atau delusinya saja. Dan itu sangat menyakitkan baginya.

“Kirana, aku Eros. Aku bukan salah satu dari khayalanmu. ” Bisiknya dengan suara bergetar.

“Oh, maaf. Maafkan aku. ” Ujarnya dengan wajah malu-malu.

“Aku punya kesulitan membedakan….”

“Antara kenyataan dan khayalan. ” Potong Eros dengan cepat.

Kirana menatapnya dengan pandangan serius.

“Apa kau menderita Skizofrenia juga? Tapi mengapa aku sering melihatmu dalam khayalanku? Apa kita pernah di rawat ditempat yang sama?” Tanyanya bertubi-tubi.

Eros tersenyum miris padanya.

“Bukan seperti itu. Bisakah kita duduk sambil bercerita?” Katanya mengusulkan.

Kirana, Eros dan Gill duduk di restoran Hotel. Gill tampak sangat menikmati es krim vanila cokelatnya. Kirana tampak menatap anak semata wayangnya dengan pandangan bahagia. Sementara Eros menatap Kirana dengan kerinduan yang dalam dan kesedihan.

“Kau tampak sehat?” Ujar Eros pada akhirnya.

Kirana tersenyum manis.

“Aku masih dalam terapi psikosis dan rutin meminum clovazine (obat untuk penyakit skizofrenia). Sejauh ini tidak ada masalah dengan kesehatanku. ” Ucapnya dengan nada biasa.

“Kau benar-benar tidak mengingat masa lalumu? Tidak ingat aku ataupun Radhitya?” Tanya Eros dengan nada mendesak.

Sejenak Kirana tertegun. Ia menatap Eros dengan pandangan bingung.

“Apakah Radhitya itu nyata juga, seperti dirimu? Aku pikir hanya delusiku. ” Katanya dengan perlahan.

Eros segera mengerti. Bagi penderita skizofrenia, mereka selalu merasa terancam dari orang-orang yang ingin membunuh, memata-matai atau mengikutinya dengan niatan jahat. Dan mereka merasa hal tersebut nyata, benar-benar terjadi.

“Apa kami di khayalanmu adalah orang-orang yang ingin menyakitimu?” Tanyanya berhati-hati.
Kirana menatapnya takut-takut. Ia terlihat cemas. Eros menyentuh lengannya menenangkannya.

“Radhitya, di khayalanku adalah orang kejam. Yang selalu ingin mengusirku jauh-jauh dan suka sekali mengambil hal yang kusukai. ” Ujarnya dengan pandangan kosong.

“Bagaimana denganku?” Tanya Eros lagi.

Kirana menolak menatapnya dan menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Kau lelaki yang ingin memperkosaku. ” Katanya dengan suara lirih.

Eros terdiam. Rasa bersalah menyeruak ke dalam hatinya. Ia dengan segala keegoisannya dan tidak memikirkan kebaikan bagi Kirana. Ia memang bersalah dan berdosa. Mungkin karena itu Tuhan menghukumnya dengan mengambil Kirana sehingga tak berjodoh.

Diam-diam, Eros memperhatikan Gill yang tampan dan mempunyai senyum seperti miliknya. Ia membelai kepala bocah yang belepotan dengan cokelat cair. Eros menangis di dalam hati. Perasaannya patah dan hidupnya tak pernah membaik. Seharusnya semua ini adalah miliknya, kebahagiaannya.

¤¤¤¤

“Ada apa denganmu?”

Eros duduk di kursi. Jack yang sedang terbaring lemah, tersenyum padanya. Jack tampak sangat kacau. Bobotnya turun dengan drastis dan kesehatannya memburuk tak juga membaik.

“Aku senang kau datang. ” Ucapnya nyaris seperti bisikan.

“Kau tampak sangat payah. ” Ujar Eros dengan jujur.

Jack tertawa. Satu hal yang ia sukai dari Eros selama dua tahun mereka berteman adalah kejujurannya.

“Ini akibat dari kelakuanku yang salah. Aku terkena HIV dari pasangan gayku sekitar 12 tahun yang lalu. ” Ucapnya tanpa basa-basi.

“Apa?” Eros menatapnya dengan tajam.

“Kau …. Apa kau menulari Kirana?” Sergahnya dengan kasar.

Eros tampak sangat marah dengan hal ini.

“Tidak. Kirana dan Gill tidak mungkin tertular. Aku tidak mungkin melakukan hal tersebut pada istri dan anakku yang amat kusayang. Aku tidak segila itu, kawan. ” Jack membantah dengan keras.

“5 tahun kami menikah, tidur seranjang. Tak pernah terpisahkan. Tapi tidak sekalipun aku menyentuh Kirana untuk hal ‘itu’. ”

Jack menatap Eros dengan tajam. Seolah pandangannya berkata, begitulah cara ia menyayangi Kirana dengan menjaganya.

” Kau tahu aku teramat mencintai istri dan anakku. Kirana adalah kesempatan terbaik yang dikirimkan Tuhan untukku. Aku memujanya, menyayanginya dan sangat tidak ingin menyakitinya. Tapi waktuku tak banyak lagi, kawan. ” Ujarnya dengan tangis yang ditahan.

“Apa maksudmu?” Eros menatapnya dengan pandangan curiga dan bertanya-tanya.

“Apakah terjadi hal yang buruk, Jack?” Tanyanya lagi.

Jack menangis tanpa suara. Eros menatapnya dengan perasaan bersalah.

“Jack, katakan sesuatu?” Pintanya cemas.

“Aku menyesali diriku yang dulu, kawan. Aku menyesali mengapa aku bisa menjadi gay dan tertular penyakit sialan ini. Aku menyesali hukuman yang diberikan Tuhan padaku. ” Jack menangis terisak-isak.

Eros terdiam. Menatapnya dengan pandangan sedih juga kasihan. Bagaimanapun Jack adalah seorang teman yang baik selama ini. Juga pria dan suami yang baik untuk Kirana. Wanita yang masih sangat dicintainya.

“Jack, bertahanlah. Kau harus memikirkan Kirana dan Gill. Mereka sangat mencintaimu dan membutuhkanmu. Bagaimana mereka bisa bertahan tanpa dirimu?” Ujarnya menyemangati Jack.

Jack mengusap air matanya dengan jari-jarinya yang kurus dan panjang. Eros menatapnya iba. Ia menyentuh lengan pria Irlandia ini.

“Kau harus menjaga mereka bila terjadi hal buruk terhadapku. ” Ucap Jack penuh ketegasan.

“Kau harus bertanggung jawab terhadap Kirana dan Gill disaat aku sudah tidak ada. Kau harus melakukannya. ”

Jack menatapnya dengan tajam. Ada kemarahan dan keyakinan yang tak terbantahkan di sorot mata itu.

“Anggaplah ini permintaan seorang teman yang sangat kau sayangi. ”

“Jack. Tanpa kau mintapun aku akan menjaga mereka. Kurasa kau pun tahu bagaimana perasaanku selama ini. ” Ucap Eros dengan jujur.

Jack tertawa. “Kau diam-diam mencintai istri temanmu. Dan berharap ia mati. ”

Eros tergelak, walaupun matanya masih terlihat sedih.

“Jack. Terimakasih karena selama ini telah menjaga Kirana dan Gill dengan sangat baik. ”

Jack kembali tertawa dengan mata yang berkaca-kaca.

“Hei, tentu saja. Mereka istri dan anakku yang sangat berharga. Kau harus ingat itu. ” Ucapnya dengan nada mencemooh.

Mereka kembali tertawa.

¤¤¤¤

Kirana tampak terpukul. Wajahnya sembab dan matanya bengkak. Ia berdiri dengan kaku, bersandar pada Eros. Sedangkan Gill memeluk Eros dengan wajah penuh bulir air mata, tampak sangat bersedih dengan kepergian Daddynya.

Jack Reynor telah meninggal dalam keadaan tenang dan tanpa merasa menderita dipelukan keluarganya yang sangat mencintainya. Jack juga sudah menyiapkan surat wasiat yang menyatakan Eros sebagai wali dari Istrinya yang menderita Skizofrenia dan anak semata wayangnya yang baru berusia 4 tahun 5 bulan.

Perlahan peti berukiran cantik dari kayu eboni sebagai tempat tidur terakhir Jack, itu di kerek turun ke dalam lubang. Dan pekerja yang menggali tanah, mulai menyekop tanah untuk menutupi kuburan tersebut.

Eros menatap foto Jack yang sedang tersenyum. Pria Irlandia tampan dengan mata biru yang dalam dan rambut cokelat yang hangat. Pria yang telah mencintai, menjaga dan menyayangi Kirana. Wanita yang sama-sama mereka cintai. Dan menjadi ayah terbaik bagi Gill yang bahkan bukan darah daging Jack.

Eros menangis dalam diam.

“Terimakasih, kawan. Semoga kau lebih bahagia disana. ” Bisiknya perlahan.

2 thoughts on “Mendekap Rasa, Merindu

  1. ini cerpen kak? walaah alurnya kepanjangan hahaha. setting nya juga kurang tergambar gara gara kebanyakan dialog hehe. tapi idenya bagus. coba kalo lebih padet dan gak lari sana sini alurnya, pasti bagus hehehehe

    sorry, gak maksud menggurui, cuma kasih masukan aja kok, gue juga masih pemula buat nulis cerpen🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s