Anna dan Cerita Tentangnya

“Nyokap dan saudara-saudaraku sukses membuat hidupku sengsara. ” Ujar Anna sambil menyesap teh panas di cangkir putih dengan corak krisan kuning.

Dua sahabat yang telah lama tidak bertemu ini duduk berhadapan disatu gerai kafe, di sudut sebuah Mall terkenal. Adalah suatu kesempatan langka mereka bisa ngobrol setelah tidak sengaja berjumpa.

“Kau tau Han. Kemarin ada orang yang bilang aku terlihat sangat tua, padahal aku belum menikah tapi tampak seperti ibu-ibu beranak lima yang hidup susah. ”

Ada nada mengecam dalam ucapan Anna, walaupun bibirnya mengulum senyum kecil bijaksananya.

“Mengapa kau tidak menikah? Usiamu sudah 28 tahunkan. ” Tanya Farhan memastikan.

Anna tertawa, “Bagaimana mungkin aku menikah setelah melihat kehidupan keluargaku? Aku tidak mau menjalani hidup yang seperti itu. Punya anak-anak yang…. Ah, sudahlah. Aku memang tidak pernah suka anak kecil. Mereka benar-benar mahluk kecil egois yang merepotkan. ”

Farhan tertawa melihat ekspresi Anna yang berjengkit. Seperti membayangkan kotoran di hadapannya.

“Cuma kamu perempuan yang bilang begitu. ” Ujarnya dengan nada tidak percaya.

Anna menatapnya dengan mata besarnya yang terlihat bosan.

“Aku sudah terbiasa mengasuh ke empat adikku. Dan aku tidak melihatnya sebagai pengalaman yang menyenangkan. Masa kecil dan masa mudaku tak sama, saat mereka yang sebaya denganku masih sibuk main dan berpacaran. Aku malah sibuk dengan popok, susu dan tangisan balita. Aku bahkan terlambat memasuki dunia pergaulan. ”

Farhan merasa bersalah. Selama ini ia tidak pernah tahu bagaimana kehidupan Anna sebelumnya, padahal mereka sudah lama berteman.

“Kau tahu Han, nyokapku punya banyak hutang pada rentenir. Yang aku bahkan tidak tahu uangnya untuk apa saja. Kemudian tiga saudara lelakiku payah semua. Tidak ada yang bisa diharapkan membantu ekonomi dirumah. ”

Anna menarik nafas panjang dan berat. Seolah ada beban ribuan ton dipundaknya.

“Apa kerja saudara lelakimu?” Tanya Han bersimpati.

“Saudara lelaki yang satu pecandu narkoba, pemalas, hobinya berfoya-foya dan suka menggadaikan barang apa saja di rumah. Aku berharap seseorang membunuhnya atau ia mati saja kelindes truk sampah sampai gepeng. ” Ujar Anna dengan nada datar.

“Saudara lelaki selanjutnya tidak pernah serius dalam melakukan apapun. Kuliah bertahun-tahun dan tak pernah menunjukkan prestasi yang baik. Baru-baru ini ia ketangkap pakai ganja dan dipenjara selama 5 bulan. ”

Anna kembali menyesap tehnya yang mulai mendingin.

“Saudara lelaki yang paling kecil, sangat gendut. Pemalas sekali. Dan kerjaannya cuma makan dan main-main saja. ”

“Saudara perempuanmu?”

Anna menatap Han dengan pandangan aneh yang tak dapat diartikan.

“Saudara perempuanku satu-satunya tipe cewek kegenitan. Bahkan saat SD saja sudah mulai kegatelan sama lelaki. ”

Farhan diam. Lalu meneguk cangkir tehnya dan memperhatikan isi cangkirnya yang tinggal sedikit.

“Aku benci keluargaku, Han. Aku berharap tidak dilahirkan oleh orang tua seperti ini dan punya saudara yang tak bisa dibanggakan. Tapi aku tidak bisa memilih. Orang tua, saudara, keluarga adalah cinta yang dipaksakan Tuhan kepada kita tanpa kita bisa punya pilihan lain. ”

Farhan menatap Anna yang membalas tatapannya dengan jemu.

“Anna. ”

Gadis itu hanya tersenyum singkat.

“Aku lelah dan muak, Han. Betapapun aku berusaha dengan keras memperbaiki semua keadaan yang terjadi dalam keluargaku, aku tidak bisa membuat perbedaan. Semuanya selalu kembali ke awal. Dan saat kupikir keadaan akan membaik, tiba-tiba saja hal buruk terjadi dan membuat semuanya makin sulit. ” Ucap Anna dengan pandangan sedih.

Farhan menyentuh tangan gadis ini.

“Punya keluarga seperti itu membuatku sinis menghadapi dunia. Aku juga tidak memandang perlunya menikah dengan seseorang. Mungkin nanti aku akan mati tua dan kesepian, Han. ” Ujar Anna dengan nada ironi di ujung suaranya.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” Tanya Farhan dengan nada sedih.

Anna tersenyum.
“Melanjutkan hidup, Han. Apapun yang terjadi, aku harus tetap hidup dan menjalaninya. Meski hidupku tidak menyenangkan dan aku sendiri hampir mati kebosanan. Tapi selama aku bernyawa dan masih bernafas, aku tetap akan hidup. Bukan karena aku takut mati Han. Bagiku mati malah lebih baik daripada hidup seperti ini. Hidup tetaplah anugerah dari Tuhan, dan aku akan menghargainya dengan sekuat tenaga. ”

Anna kembali tersenyum.

“Anna, aku sangat berharap kau bisa menemukan seseorang yang baik. Yang bisa mengerti dirimu. Menjagamu dan bahagia bersama. ” Kata Farhan dengan tulus.

Anna tertawa.
“Yang seperti itu hanya ada di film, Han. Tidak di dunia nyata. ” Cetus Anna dengan nada meremehkan, seolah tidak percaya.

“Anna. ” Desis Farhan dengan nada getir.

Anna menepuk punggung tangan pria di hadapannya ini.

“Jangan jadikan ceritaku sebagai beban untukku, teman. Doakan saja aku kuat menjalaninya. Doakan sajalah. ” Ucap Anna dengan bibir kembali mengulum senyum bijaksananya.

Itu terakhir kalinya aku melihat Anna. Ia memang tidak terlihat hebat tapi masih semenyenangkan dahulu. Seperti saat kami masih remaja dan menuntut ilmu di bangku kuliah. Anna yang populer dan banyak disukai senior pria. Anna yang berjiwa bebas, pemberani dan selalu jujur. Anna yang suka membaca komik dan tak pernah manja diajak makan di warung pinggir jalan. Anna yang tak seperti gadis kebanyakan saat itu. Aku menyukainya dan menyayanginya sebagai seorang teman, seperti kepada adik perempuan yang keren. Seperti itulah aku pada Anna.

Beberapa bulan kemudian aku mendengar kabar dari seorang teman, Anna meninggal. Tiba-tiba saja meninggal dalam tidurnya. Tanpa merasa sakit dan tanpa membuat orang lain menjadi repot. Malaikat maut mencabut nyawa Anna saat ia tertidur dengan damai dan sebuah senyum dibibirnya. Anna, gadis itu mendapatkan apa yang selalu diidamkannya. Mati muda. Mati tanpa rasa sakit. Mati dengan damai. Dan kembali bertemu dengan Papanya, yang semasa hidupnya sangat dekat dengannya. Anna pasti sudah bahagia sekarang. Anna pasti sedang tersenyum saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s