Milan & Paris (Belenggu Rasa)

Mereka bilang, saat kau ingin tahu apa yang sebenarnya kau benar-benar dambakan. Kau pejamkan saja matamu dan apa yang memenuhi benakmu saat itu, adalah hal yang paling kau inginkan. Tapi aku, saat aku memejamkan mataku. Yang ada hanya gelap dan kekosongan. Tidak ada apa-apa. Dan tidak ada apapun yang mengisi pikiranku. Nihil.

“Milan…. ” Terdengar suara kakakku, Paris.

Klek. Pegangan pintu berputar dan pintu terdorong membuka. Seraut wajah tampan muncul dengan senyuman khasnya. Aku membalas senyumannya.

“Sedang apa?” Tanya kakakku sambil ikut berbaring di karpet persia warna merah bata. Di kamarku yang hangat.

Aku tersenyum, menunjukkan buku sketsaku. Kakakku yang sangat tampan dan baik hati, membelai puncak kepalaku dengan bangga.

“Itu sangat bagus. ” Ujarnya dengan senang.

“Apa kau senang hari ini?” Tanyanya lagi.

Aku tersenyum dan mengangguk. Kembali menekuri buku sketsaku dan membolak-balik halamannya.

“Kau sudah makan?” Kata kakakku sambil melonggarkan dasinya.

Aku menggeleng sambil memperhatikan raut wajahnya yang lelah. Mungkin pekerjaannya di kantor membuat kakakku capek. Dan banyak pikiran.

Aku menarik tangannya sehingga ia duduk. Kakak terlihat heran namun aku tidak memperdulikannya. Lalu aku memijat bahu kakakku dengan lembut.

Terdengar suara tertawa lirih kak Paris.

“Adikku Milan, memang yang terbaik. ” Ujarnya dengan rasa sayang yang tak dapat ditutupi.

Drrt. Drrt. Drrt. Suara ponsel bergetar dari saku jas hitam Armani yang diletakkan di karpet. Kak Paris meraih saku jasnya dan mengambil ponsel hitamnya yang sepasang dengan ponsel putihku. Aku melirik nama pemanggil yang tertera di layar ponsel tersebut.

Cih, wanita penyihir. Kara. Aku membenci wanita itu. Wanita sombong dan berpikiran dangkal. Dasar pengganggu yang berusaha merebut semua perhatian kak Paris. Aku melengos kesal.

Kak Paris menoleh padaku, tersenyum dan mencubit pipiku gemas.

“Halo… Aku baru sampai rumah…. Aku tahu…. Sampaikan saja salamku pada mereka. Aku tidak bisa keluar malam ini…. Aku lelah. ” Kakak terdiam cukup lama dan sepertinya Kara sedang merajuk padanya.

“Mengertilah. Besok pagi aku harus meeting dan Milan sedang tidak sehat…. Kara.. Kara… !” Kak Paris tampak sedikit kesal. Kara memutuskan pembicaraan mereka dengan sepihak.

Aku menatap kakakku dengan pandangan mencela. Ia tersenyum menenangkan. Kakak memang mengetahui betapa tidak sukanya aku pada wanita penyihir tersebut. Ia menepuk-nepuk punggungku degan lembut.

“Tidak apa. Semua baik-baik kok. ” Ujarnya dengan senyuman memikat.

Mungkin orang lain bisa tertipu dengan senyum maut kakakku. Tapi aku, adik satu-satunya ini tak bisa dibohongi dengan senyum palsu begitu. Aku yakin kak Paris sedang berantem dengan Kara.

¤¤¤¤

“Menyebalkan. ” Pekik Kara dengan gemas.

Ia memutuskan panggilan pada Paris dan meletakkan ponselnya dengan kasar.

“Lagi-lagi ia menolak ajakanku dan lebih memilih bersama adiknya yang bisu itu. ” Ujarnya dengan suara tinggi.

Ia bersama seorang teman perempuannya di toilet sebuah club elit, tempat mereka sedang berpesta. Temannya yang berambut pirang itu mentertawainya.

“Sudahlah. Mengapa cemburu dengan adik pacarmu… ” Katanya dengan sisa tawa.

“Kau tidak tahu saja. Milan itu monster. Ia sangat membenciku dan selalu menghalangi Paris lebih dekat denganku. Gadis idiot itu, aku sangat membencinya. ” Rutuk gadis cantik yang berprofesi sebagai model terkenal ini.

Temannya mengajaknya keluar. Kara menolak, ia memutuskan menghabiskan sebatang rokok sebelumnya.

“Kau merokok lagi?” Tanya temannya kaget. “Aku kira, kau sudah berhenti. ”

“Hanya di depan Paris saja. ” Ujarnya dengan nada bosan.

Temannya kembali tertawa mengejek. “Kau ini bisanya berpura-pura. ”

“Aku akan melakukan apa saja, untuk mendapatkan Paris. Dan saat kami menikah kelak, aku akan mengirim adiknya sekolah ke kutub utara sekalian. Semoga saja ia tersesat dan tidak pernah kembali. ” Ujarnya dengan bersungguh-sungguh.

¤¤¤¤

Paris tersenyum melihat ke arah gadis muda yang sedang cemberut dikursi sebelahnya. Ia sedang menyetir Porsche merah menuju sebuah pesta resmi. Ia kembali melirik adiknya. Milan tampak cantik mengenakan gaun lace hitam dengan rompi bulu berwarna putih. Milan tidak menyukai keramaian, sehingga ajakan pesta hari ini membuatnya kesal. Namun tak urung Milan ikut juga setelah dibujuk berkali-kali.

Paris sangat menyayangi adik perempuannya satu-satunya ini. Milan lahir prematur, dan sejak kecil kesehatannya tidak baik. Setelah Milan berumur setahun, ibu mereka meninggal karena sakit. Lalu saat Paris berusia 21 tahun, ayahnya meninggal karena kecelakaan mobil. Dan Milan yang sangat terpukul, tidak mau berbicara lagi hingga kini. Sudah empat tahun lamanya Milan menutup diri, tidak mau bertemu orang-orang. Bahkan Milan terpaksa home schooling saat ini, karena tidak mau berada dikeramaian seandainya masuk sekolah normal.

Paris menggenggam tangan adiknya. Ia dapat merasakan kegugupan gadis muda, usia 16 tahun ini. Milan tampak gamang melihat keramaian pesta di sebuah hotel bintang 5 ini. Paris tersenyum menenangkannya, sesekali ia meremas tangan Milan yang dingin.
“Tak apa… ” Katanya dengan senyum lebar.

Paris mengajak Milan bertemu dengan beberapa kenalan dan teman keluarga mereka. Milan berusaha tersenyum dan menempel erat pada kakak lelakinya. Paris merangkul adiknya protektif.

Lalu Kara muncul dengan dua orang temannya. Wanita muda ini tampak sangat cantik dan glamour. Mengenakan gaun Dior pendek, berwarna merah. Rias wajahnya tampak sempurna dan rambutnya digelung kecil, yang semakin menonjolkan pundak telanjangnya. Kara tampil sempurna malam ini. Sedangkan teman-temannya tampak hanya seperti dayang-dayangnya saja.

Dengan mesra, Kara menggelayut pada Paris dan mengecup pipinya.

“Halo, Tampan. ” Ia tersenyum menantang pada pria di hadapannya.

Selintas ia melirik pada Milan yang berdiri kaku di samping Paris.
“Hai, Milan. ” Ucapnya dengan senyum tampak mengejek. Ia memandangi gadis itu dari ujung kaki sampai kepala, seolah menilai. Lalu ia kembali memerhatikan Paris dan menganggap seolah Milan tidak ada. Tak lebih dari lalat pengganggu.

Milan menempel dengan ketat pada kakaknya. Bukan hanya karena ia takut berada di tengah banyak orang, ia juga merasa tidak nyaman orang-orang yang tidak dikenalnya dengan baik. Dan Kara berusaha memonopoli Paris untuk dirinya sendiri. Semakin membuat Milan tidak betah berada disini.

Gadis muda itu mengguncang lengan kakaknya perlahan. Ia sudah sangat ingin pulang dan muak melihat Kara yang bermanja-manja pada Paris. Milan menarik lengan kakaknya dan menatapnya dengan pandangan memohon.

Paris membelai kepala adiknya, tersenyum. “Sebentar. Kakak akan berpamitan dulu dengan beberapa orang teman. Setelah itu kita pulang. ” Ucapnya dengan lemah lembut.

Milan mengangguk dengan sabar.

Kara terlihat tidak senang. Ia memasang wajah merajuknya dan berkata “Mengapa cepat sekali pulang? Ayo kita ke club untuk berpesta bagian kedua. ” Ajaknya dengan suara menggoda Paris.

“Tidak bisa Kara. Milan masih dibawah umur, lagipula aku tidak mengijinkannya pergi ke tempat seperti itu. ” Katanya dengan sabar.

“Oh, ayolah sayang. Bagaimana kalau Milan pulang sendiri saja. Diakan sudah cukup besar, tidak perlu diawasi lagi. ” Kembali Kara merayu Paris, agar mengikuti keinginannya.

Namun Paris tidak bergeming. “Maaf, sayang. Lain kali saja. ” Ucapnya penuh penyesalan.

Kara menatap Milan dengan marah. Namun ia tidak berkata apapun. Ketika Paris meninggalkan mereka sejenak, Kara dan temannya menyudutkan Milan. Mereka mendorong gadis itu ke sudut ruangan dan mendorong-dorongnya.

“Aku benci sekali padamu. ” Ujar Kara dengan penuh tekanan.

Milan menatapnya dengan berani dan tersenyum sinis. Seolah menantang Kara. Wanita cantik itu bertambah kesal, ia mendorong bahu Milan dan mengancamnya.

“Awas saja kau. Kalau aku dan Paris menikah, kau akan kukirim jauh sehingga tidak bisa menggangguku lagi. Kau akan menyesal, gadis idiot. ” Ujarnya dengan kasar.

Milan menatapnya dengan pandangan marah. Lalu secara refleks ia mengayunkan jemarinya ke wajah Kara. Dan cincin bermata jamrud yang dipakai dijari tengahnya menggores pipi Kara. Sehingga berdarah. Kara menjerit marah dan kesakitan. Lalu sekuat tenaga ia mendorong Milan. Gadis muda ini terhuyung dan jatuh menimpa meja yang penuh dengan gelas-gelas champagne. Milan jatuh dan membawa belasan gelas pecah bersamanya. Suasana menjadi ramai dan tambah kacau saat Paris muncul.

“Milan… ” Ia segera mendekati adiknya yang terduduk di tengah pecahan gelas. “Kau tidak apa-apa?” Ujarnya khawatir.

Ia melihat tangan Milan tertusuk kaca dan berdarah. “Apa yang terjadi?” Katanya tidak mengerti.

Ia melihat ke arah Kara yang memegangi wajahnya yang terluka. “Ada apa dengan wajahmu?” Tanyanya kaget.

Kara menangis histeris, “Tanya saja pada adikmu. Ia menamparku dan mengamuk seperti orang gila. Aku tahu ia tidak menyukaiku tapi tega sekali ia membuat wajahku terluka. Aku ini seorang model, wajahku adalah asetku yang berharga. Dasar gadis jahat. ” Pekiknya penuh kemarahan.

“Benar seperti itu?” Tanya Paris dengan nada tidak percaya pada Milan.

Milan menggeleng dengan keras. Wajahnya pucat dan seperti ingin menangis. Namun gadis itu menahan kesakitannya dan tak mau menangis karena Kara. Perempuan yang sangat dibencinya.

“Dia bohong, sayang. Loly dan Lily jadi saksi, kalau ia tiba-tiba saja mengamuk dan memukuliku. ” Kata Kara sambil melihat ke arah kedua temannya.

“Benar-benar. ” Ujar kedua wanita yang berada di kiri dan kanan Kara, membeo.

“Sepertinya ada yang salah dengan gadis ini. ” Ucap salah satu dari mereka. “Tiba-tiba menyerang Kara dan melukai wajahnya. ”

Milan mengepalkan tangannya yang berdarah dan menatap mereka dengan penuh kemarahan. Mereka berbohong. Mereka semua mengatakan hal bohong dan memanfaatkan ketidakmampuannya berbicara. Milan marah sekali pada Kara dan kedua temannya.

¤¤¤¤

Aku tidak mengerti cinta. Aku tidak tahu apapun tentang cinta. Yang kutahu dengan pasti kak Paris sama sekali tidak cocok dengan Kara. Kakakku pintar, dewasa dan baik hati. Sedangkan Kara, ia tidak memiliki apapun selain wajah cantik dan tubuh yang bagus. Entah apa yang dilihat kak Paris dari dirinya, sampai sekarang aku tidak bisa menebaknya. Kara adalah wanita paling palsu yang pernah aku temui. Tadinya aku sudah mencoba untuk berdamai dengannya, karena kakakku memilihnya. Tapi sudah jelas tindakanku salah. Wanita seperti dia sama sekali tidak pantas untuk kak Paris. Namun kapan kakakku ini akan menyadarinya? Melihat Kara lebih dalam, lebih dari sekedar cantik. Ataukah memang semua laki-laki seperti itu? Tidak ada yang lebih penting dari wajah cantik dan gaya merayu?

Aku tidur dengan wajah menghadap ke tembok. Sudah beberapa hari ini, menolak berkomunikasi dengan kakakku. Sejujurnya, aku tidak marah dengan kak Paris. Aku hanya kesal mengingat betapa dramanya Kara. Dan betapa bencinya aku melihatnya berada disekitar kami. Aku tidak keberatan bila kakakku menikah, tapi dengan wanita baik-baik. Yang jelas itu sama sekali bukan Kara.

Klek. Terdengar pintu terbuka. Aku segera memejamkan mata dan bernafas dengan lembut. Kak Paris baru pulang dari kantor. Dan hal pertama yang selalu dilakukannya adalah mengecek keberadaanku. Bercengkrama dan makan malam bersama. Tapi tidak untuk beberapa hari ini. Aku sedang tidak berminat kemana-mana. Yang aku mau, hanya tidur-tiduran di ranjangku dan berdiam diri.

Kak Paris duduk ditepi ranjang dan menyentuh dahiku. Memastikan aku tidak demam ataupun sakit. Terdengar suaranya mendesah dan bergumam tidak jelas.

“Kakak tahu adikku tersayang belum tidur. Tapi sampai kapan kau menolak berbicara dengan kakak?” Ucapnya dengan nada merayu, yang biasanya meluluhkan hatiku.

Namun aku tak bergeming.

Sampai kapan kakak masih bersama wanita penyihir itu? Dia sama sekali tidak cocok dengan kakak. Pekikku dalam hati.

“Milan, kakak mencemaskanmu. Nanny bilang kau hanya minum susu dan tak mau makan. Ini sudah beberapa hari, kakak tidak ingin kau jatuh sakit adikku. ” Ucapnya bersungguh-sungguh.

Aku masih diam dan memejamkan mata. Tidak memperdulikan semua ucapannya.

“Mengenai Kara, kau jangan khawatir. Bekas lukanya sudah hilang dan tak ada masalah soal itu, Kara sudah menemui Dokter kulit terbaik yang ada disini. ”

Puih. Seharusnya ia bukan menemui Dokter kulit, tetapi ahli kejiwaan untuk memperbaiki sikapnya yang jahat kalau di belakang kak Paris. Aku sungguh-sungguh tidak mau gadis seperti dia jadi istri kakakku. Tapi bagaimana menjelaskannya pada kakakku? Aku tidak mengerti cara menunjukkan seperti apa Kara sebenarnya pada kak Paris.

Perlahan aku merasakan kak Paris bangkit dan berjalan keluar dari kamarku. Menutup pintu dengan perlahan. Dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.

Aku hanya ingin kakakku bahagia. Setelah selama ini ia begitu keras menjagaku, menjaga seluruh warisan yang ditinggalkan kedua orang tuaku. Mengelola perusahaan di usia yang begitu muda, adalah hal yang sulit. Namun kakak berhasil membuktikan bahwa ia memang pantas menjadi pewaris dari keluarga D’Arlan. Dan aku yakin, kebahagiaan buat kakakku jelas bukan Kara. Wanita seperti itu hanya menganggap Kak Paris sebagai aksesoris penunjang penampilannya saja. Sebagai benda yang bagus untuk dipamerkan dan dibangga-banggakan.
¤¤¤¤

“Alixe…. ” Paris menatapnya kaget dan tidak percaya. Alixe Sofia D’Arlan berdiri di hadapannya dengan tampang lelah dan kelaparan.

Gadis cantik dengan rambut cokelat hangat itu tersenyum. Ia tampak kurus dan kulitnya tampak berwarna gelap. Namun tetap terlihat sehat dan segar.

“Halo sepupu. ” Sapanya hangat. Ia mengecup pipi Paris dan merangkulnya manja.

Paris masih terkesima dengan kemunculannya yang tiba-tiba.

“Aku baru tiba dan langsung ke rumahmu. Tapi pembantu bilang Milan ikut summer camp. Dan kau masih di kantor. Jadi aku menyusul kemari dengan harapan ditraktir makan malam yang super lezat. ” Ujarnya dengan panjang lebar.

“Ya ampun Alixe. Apa yang terjadi denganmu?” Tanya Paris pada akhirnya.

Gadis itu memutar bola matanya dan tersenyum geli. “Makan malam dahulu!” Pintanya dengan pasti.

“Apa Milan baik-baik saja? Aku segera mengajukan izin cuti saat membaca emailnya tiga hari yang lalu, di Beirut.” Tanyanya sambil memotong steak dan memamah sepotong kentang.

Paris mendesah, “Milan sedang tidak berbicara denganku. ” Ucapnya dengan nada resah.

“Kau masih berkencan dengan model itu?” Tanya Alixe dengan nada biasa.

“Apa Milan berkata sesuatu tentangnya?” Tanya Paris sambil memandang lurus pada Alixe.

Alixe balas memandangnya dengan tatapan lembut. “Tidak. Tapi berita tentang gadis itu banyak di internet. Dan tidak ada satupun yang bagus. ” Ujarnya dengan nada berhati-hati.

“Milan tidak menyukainya. Kara juga begitu. ” Ujar Paris sambil menyesap winenya.

“Apa kau pernah bertanya pada Milan, mengapa ia tidak menyukai Kara. Jangan meremehkan gadis usia 16 tahun, meskipun begitu aku yakin Milan pasti punya alasan yang kuat mengapa ia tidak menyukai Kara. Aku tahu benar Milan gadis yang baik hati dan kalau ia tidak menyukai sesuatu pasti ada apa-apanya. Kurasa kau yang lebih tahu itukan?”

Alixe menatap Paris tanpa berkedip. Dan sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya. Alixe meremas tangan Paris dan menyemangatinya.

Alixe adalah sepupu yang paling dekat dengan mereka berdua. Masa kanak-kanak dan remaja mereka habiskan bersama. Milan sangat memuja Alixe dan terkadang seperti menganggapnya sebagai pengganti ibu mereka. Dan Alixe yang tidak tahu siapa ayahnya dan ditinggalkan oleh ibunya, dibesarkan oleh nenek yang tidak begitu menyukainya. Menemukan keluarga pada diri Paris dan Milan.

“Apa kau akan lama disini? Kurasa kalau Milan tahu kau datang, ia lebih memilih berada di rumah saat ini juga.”

Alixe tersenyum dan mengelap ujung bibirnya dengan sapu tangan.

“Mungkin aku bisa sedikit bersantai, sebelum ditugaskan ke Kabul atau ke Ankara. ” Ujarnya dengan santai.

“Negara-negara penuh konflik dan perang. Mengapa dokter lulusan Jhon Hopkins malah memilih mendedikasikan ilmunya di medan perang? bukannya menemukan obat kanker? ”

“Aku lebih menyukai tindakan nyata. Tapi bukan berarti aku menganggap penelitian itu tidak penting. Hanya saja saat ini aku lebih suka hal yang sedang kulakukan.” Alixe berkata dengan nada tegas.

“Aku mencemaskanmu Alixe. Setiap melihat berita negara konflik, aku selalu berharap kau tidak berada di sana. Padahal kau bisa saja bekerja di rumah sakit terbaik dimana saja, bisa melakukan berbagai penelitian yang penyakit-penyakit yang belum ditemukan obatnya. Seharusnya aku tidak membiarkanmu jadi relawan UN. ”

“Aku rasa kita harus segera menjemput Milan pulang. Mumpung aku masih belum mendapat panggilan dinas. ” Putus Alixe mengalihkan pembicaraan.

Milan tentu saja dengan senang hati mengepak seluruh barangnya dan pulang ke rumah setelah Alixe dan Paris menyambanginya di perkemahan musim panas. Dan setelah itu Milan tidak terpisahkan lagi dari Alixe yang sangat disayanginya. Milan begitu memuja Alixe begitu juga sebaliknya. Alixe sangat memanjakan Milan, bagai saudari kandungnya sendiri. Dan Paris merasa sedikit iri melihat kedua gadis tersebut terlihat sangat bahagia berdua.

Malam ini Paris mengajak Kara makan malam di rumah, sekalian mengenalkan Kara pada Alixe. Tentu saja Alixe bisa mempesona siapapun dengan keahlian memasaknya yang tiada duanya tetapi tidak dengan Makhluk bernama Kara. Tapi secara garis besar makan malam berlangsung dengan baik. Omongan mereka lancar dan Kara tidak bisa menemukan celah untuk tidak menyukai Alixe yang cerdas, lucu dan jago masak.

Namun saat Paris mengantarkan ia pulang, Kara mengatakan sesuatu yang diasumsikan Paris sebagai kecemburuannya.

“Berapa lama ia akan tinggal di rumahmu?” Tanya Kara dengan nada tajam.

Paris agak kaget dengan pertanyaan ini, namun ia tetap menjawabnya. “Alixe bisa tinggal selama yang ia mau. Alixe adalah keluarga, tentu saja. ”

Kara mendesah dengan kesal, “Apa kau tidak bisa melihat? Milan berusaha menjodohkanmu dengan Alixe. ” Katanya dengan nada tinggi.

Paris tertawa mendengarnya. Tetapi Kara menatapnya dengan wajah tidak terpengaruh.

“Hubungan kami tidak seperti itu, Kara. ” Ucapnya dengan tenang.

“Mungkin kau menganggap seperti itu tapi tidak dengannya. ” Cecarnya lagi.

Alis Paris berkerut, tanda ia mulai tidak sabar.

“Demi Tuhan, Kara. Alixe hanya beberapa minggu saja disini. Dan kau menganggapnya ancaman. Dia sudah seperti adik bagiku. ”

“Apa ancaman?” Kara menatapnya dengan kesal. “Dia tidak sebagus itu hingga bisa membuat aku merasa terancam. Aku ini Kara. Supermodel. Terkenal. Dan kaya. ”

Paris menatapnya dengan pandangan mencela. “Dan kurasa kau harus belajar membumi, Kara. ” Ucapnya dingin.

¤¤¤¤

“Kemana kau pergi kali ini?” Tanya Paris saat mereka mengantarkan Alixe ke bandara internasional, Charles De Gaulle.

Alixe tersenyum samar. “Aku akan menelefon setelah aku sampai dengan selamat. Tetap mengabariku perkembangan terapi bicara Milan yah. ”

Paris membungkuk, memeluk Alixe sekilas dan membiarkan gadis itu mengecup kedua belah pipinya.

“Ah, belum apa-apa aku sudah merindukanmu sepupu. ” Bisiknya lembut pada Alixe.

Alixe tersenyum, merapikan rambut Paris yang terkena angin. Menatapnya dengan lembut.

“Paris, terlepas dari ketidaksukaan Milan. Kalau kau pikir kau bahagia dengan Kara, kau harus mempertahankannya. Milan pada akhirnya pasti akan mengerti. ” Ucap Alixe dengan nada selembut saat ia berbicara pada Milan.

“Berhati-hatilah disana. Jaga dirimu dan pulanglah dengan utuh. ”

Paris memeluknya sekali lagi, sebelum pada akhirnya Alixe berjalan menuju gerbang keberangkatan. Alixe berbalik sejenak dan melambai pada Paris.

¤¤¤¤

Aku masih tidak mengerti cinta. Namun ada satu hal yang dapat kupelajari. Bahwa seberapa keras aku mencoba memisahkan kak Paris dan Kara, tidak pernah berhasil. Tapi hati memang tak bisa diarahkan dan dipaksa, ia akan selalu mengikuti kemana pemilik sejatinya berada. Seperti bunga matahari yang selalu menghadap ke arah cahaya, seperti itulah cinta. Seharusnya aku tak perlu melakukan apa-apa, karena ternyata Kakakku punya pilihannya sendiri.

Ditengah kesibukan Kara yang sedang merancang pesta pertunangannya yang megah dan glamour, sebenarnya bukan Kak Paris yang melamarnya. Tapi Karalah yang mengusulkan di depan kedua orang tuanya, dan Kak Paris tidak kuasa untuk menolak.

Keadaan tiba-tiba berubah sejak ada berita meletus kerusuhan di Kabul, Afghanistan. Dan ada beberapa relawan UN yang diculik dan sandera. Saat itu kami sedang menonton televisi sambil main scrabble. Entah mengapa Kak Paris jadi sangat pucat, ia lalu menelefon ke beberapa nomor luar negeri. Dan dari konsulat Perancis di Turki, didapatlah kepastian Alixe tidak berada di Ankara. Kak Paris menelfon ke kantor perwakilan Perancis di UN dan ternyata benar. Alixe dan seorang temannya sesama dokter dari NATO, diculik milisi Taliban. Aku tertohok. Takut dan bingung. Kak Paris tampak sangat marah dan baru kali ini aku melihatnya begitu rapuh. Ia sangat mengkhawatirkan Alixe-kami. Aku menangis semalaman dan kak Paris tidak henti-hentinya menghubungi beberapa kenalan keluarga yang bisa membantu menyelamatkan Alixe. Paginya kak Paris langsung berangkat ke bandara, bersama rombongan yang aku-tidak-tahu-siapa-tapi-sepertinya-mereka orang-orang-penting. Naik private jet milik keluarga D’Arlan, langsung ke Kabul, Afghanistan.

Aku tidak tahu bagaimana cerita selengkapnya, yang jelas Kara mengamuk dan histeris karena calon tunangannya menghilang tanpa kabar berita pada hari H-nya. Pesta pertunangannya batal dan semakin kacau-balau karena Kara tertangkap kamera sedang dalam pose tidak elegan menghancurkan semua barang dan dekorasi pertunangannya. Sehingga kedua orang tuanya memaksanya mengikuti terapi dan rehabilitas. Yang semakin membuat heboh berita gosip.
Dan setelah penantian selama beberapa hari, kak Paris pulang membawa Alixe yang terlihat lemah dan terluka tapi selebihnya baik-baik saja. Saat melihat kakakku menggandeng Alixe, aku bisa melihat ada hal yang berbeda namun tidak tahu apa itu. Aku hanya cukup senang Alixe kembali dengan selamat dan memutuskan mengikuti permintaan kak Paris untuk tidak kembali ke daerah konflik.

Sebulan setelah itu, kakakku mengajakku makan malam di sebuah restoran favorit kami. Aku menduga ada hal penting yang ingin disampaikannya lagi. Oh Tuhan, aku berharap ini bukan soal pertunangannya dengan Kara lagi. Masa ia masih mau bertunangan dengan wanita yang mentalnya tidak stabil seperti Kara.

Aku gugup sekali, saat memasuki resto tersebut. Lalu aku melihat kak Paris dan Alixe sudah datang dan duduk dimeja kami. Aku merasa sedikit lega karena tidak melihat Kara disini. Segera saja aku bergabung dengan mereka.

“Hai!” Sapaku pada mereka.

Ohya, aku lupa memberitahu kalian. Kalau aku sudah mulai berbicara lagi secara normal. Kata terapisku, pada akhirnya aku sudah menemukan kestabilan dan kenyamanan dalam menjalani kehidupan sehingga secara perlahan aku sudah bisa menerima keadaan. Aku memutuskan menyampaikan emosiku secara verbal dan itu sebuah kemajuan yang menggembirakan. Walau terkadang ada saat-saat aku malas untuk berbicara.

“Ada berita apa?” Tanya Milan dengan ekspresi wajah khawatir.

“Anak ini, nggak ada basa-basinya sedikitpun. ” Ujar Paris dengan mata membelalak, sedikit kesal. “Setidaknya kita selesai makan dululah. ” Sambungnya lagi.

Milan menggeleng, “Katakan sekarang juga. Kalau beritanya jelek, aku bisa langsung pulang karena sopir masih nunggu di mobil. ” Ujarnya dengan wajah dingin, tidak terpengaruh.

Paris menatap Alixe, dan Alixe membalasnya dengan senyum menyemangati. Milan menatap mereka dengan pandangan curiga. Apa mereka bekerja sama untuk membujukknya menerima Kara?

“Apa ini menyangkut urusan pertunangan?” Tebak Milan dengan was-was.

“Kau tahu?” Tanya Paris kaget, ia menoleh pada Alixe dengan pandangan bingung.

“Apa? Jadi benar?” Kata Milan dengan wajah pias.

“Kau tidak senang?” Tanya Paris lagi.

Milan menahan tangisnya, “Tentu saja. Masa kau mau menikahi wanita yang mentalnya tidak stabil seperti dia? Aku tidak setuju. ” Katanya dengan keras.

“Kau tidak setuju?” Tanya Alixe berhati-hati.

“Dari dulu aku tidak suka padanya, karena aku pernah memergoki dia berciuman dengan orang lain. Tapi karena kau menyukainya, aku diam saja.”

“Tunggu-tunggu, kau sedang membicarakan siapasih?” Potong Paris semakin bingung.

Milan menatap kakaknya heran. “Kara-kan?” Ujarnya lemah.

Paris dan Alixe tertawa. Lalu saling berpandangan. Paris meraih tangan kiri Alixe dan mendekatkannya pada Milan. Ada sebuah cincin bermata safir biru di jari manisnya. Mata Milan membulat.

“Maksudnya kau dan Alixe?” Kagetnya tak percaya.

Alixe tersenyum bijak, “Saat aku ditangkap dan diculik. Yang ada dipikiranku hanya kalian berdua. Kalian adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Jadi seandainya aku bisa pulang dengan selamat, aku akan hidup bersama kalian. ” Kata Alixe dengan mata berkaca-kaca.

“Saat aku mendengar kabar Alixe diculik, aku nyaris gila karena ketakutan. Dan waktu pertama kali melihat ia diselamatkan aku sangat bersyukur. Aku pikir aku tak bisa hidup lagi jika ia tak ada. ” Paris meremas lembut tangan kekasihnya.

“Wow, aku sama sekali tidak tahu hal ini. ” Milan menatap mereka takjub.

Paris mengacak sayang rambut adiknya. “Karena kau masih kecil, adikku sayang. ”

“Jadi bukan Kara yah?” Milan tertawa dengan rasa malu. “Hahaha….. Sukurlah. Sekarang mari kita pesan makanan. Aku sangat lapar. ” Ujarnya tanpa basa-basi.

“Hei, kau tidak mengucapkan selamat atau apapun gitu?” Tanya Paris pada Adik semata wayangnya.

Milan mendelik, menatapnya dengan pandangan kesal. “Tidak kumarahi, karena menyembunyikan hal sebesar ini saja harusnya kau bersyukur. Kau tahu tidak betapa stresnya aku karena berpikir kau akan menikah dengan Kara. ”

Paris dan Alixe tertawa.

Well, kau pasti bisa membayangkan hari-hariku ke depannya bagaimana. Kakakku tersayang akhirnya menikah dengan sepupu yang paling aku kagumi. Dan tentu saja aku ikut bahagia. Kita tidak pernah tahukan kemana takdir membawa kita, tapi percayalah orang yang baik pasti juga mendapatkan pasangan yang sama baiknya dengannya.

7 thoughts on “Milan & Paris (Belenggu Rasa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s