Tanyaku Pada Mantan

Dahulu, punggungmu menjadi tempatku bersandar yang hangat dan aman. Dan aku rela menempuh berkali-kali mati untuk bisa ada di situ.
Bahumu pernah menjadi pelabuhan resah dan tangisku. Aku suka wangimu yang menempel padaku setelah itu.
Dan pelukanmu adalah rumah untukku selalu kembali. Rumah dimana hati berada.
Tapi itu dulu, sebelum aku tahu ternyata punggung, bahu dan pelukmu juga kau berikan pada gadis lainnya di belakangku.
Aku menjadi limbung dan tak bisa lagi menuju ke arahmu.
Semua jadi berbeda setelah kutahu kenyataannya.
Lalu perasaanku pun perlahan menghilang, seperti debu yang tertiup angin.
Kini siapa yang bersandar padamu?
Masihkah kau bagikan pelukmu pada banyak gadis, sayang?
Sudahkah kau menemukan rumah bagimu sendiri?

One thought on “Tanyaku Pada Mantan

  1. Seandainya tulisan dan kata-katamu bisa aku laminating, Yon. Yah.. seandainya saja. Ia begitu begitu berharga untuk hilang dikikis waktu. I love your words. Pake So Much!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s