After A Long Time Has Passed, I Got You

“Kau suka padaku ya?” Ia tersenyum kecil, memamerkan gigi putih ratanya dan lesung dikedua sudut bibirnya. Gadis ini tampak cantik sekali.

“Apa?” Ulang Dennis ragu.

Bella Jung, tertawa sangat manis. Ia mengibaskan rambut cokelat tuanya dengan anggun. Lalu tangan kanannya terulur, membelai wajah Dennis yang menatapnya bingung.

“Aku pikir kau suka padaku. ” Ujar Bella dengan perlahan.

Dennis merasa kerongkongannya kering. Pemuda usia 16 tahun ini menelan air ludahnya dan berkata, “Jangan main-main. ” Katanya ketus sambil menyingkirkan tangan Bella.

Bella tertawa kecil. Ia bangkit dari duduknya dan merapikan mini dressnya.

“Kau mau pergi?” Tanya Dennis sambil mendongak menatapnya.

Bella tersenyum manis, menggoda dengan kerlingan mata indahnya. “Iya. Sehyun mau menjemputku. Aku bosan di rumah. ”

Wajah Dennis langsung berubah, tidak suka. “Kau ini main terus. Sama Sehyun pula. Apa kau tidak tahu dia itu pemuda brengsek?” Katanya dengan nada keras.

“Uh, manisnya. Kau cemburu ya?” Bella menunduk, dan mencubit pipi Dennis gemas.

Dennis melengos. Marah diperlakukan seperti anak kecil. Dan tidak dianggap serius oleh gadis di hadapannya.

“Dennis kami marah. ” Ucapnya dengan nada geli. “Hei, jangan cemas. Aku juga bukan cewek bodoh. Dan aku juga bukan anak baik-baik. ” Katanya dengan nada ringan, seolah mengatakan hal tidak penting.

Dennis semakin kesal, bangkit dari duduknya. Ia mencengkram tangan Bella. “Kau ini perempuan, Bella. Jangan pergi dengannya. ” Ujarnya tegas. Ia menatap gadis di hadapannya dengan wajah serius.

Bella tersenyum, mendekatkan wajahnya pada Dennis. Membuat pemuda di hadapannya rikuh dan mundur. Dengan hati berdebar-debar.

“Kalau begitu, kau saja yang temani aku ke klub malam ini. ” Ajaknya dengan senyum menggoda, tidak ingin ditolak.

Dennis mendesah kesal. Bella tahu ia belum cukup umur dan punya kartu identitas penduduk. Gadis ini sengaja berbuat seperti itu karena ia pasti menolak.

“Ohya aku lupa. Dennis Oh tidak mungkin melakukan hal tersebut. Yasudah, aku pergi saja. ” Katanya dengan suara ringan.

“Bella, ….. !” Dennis masih menahan tangannya. Wajah tampannya yang imut tampak mengeras. “Aku memang suka padamu. Jadi jangan pergi. ” Katanya keras.

Bella tampak terkejut. Namun dengan cepat ia mengubah raut wajahnya dan kembali tersenyum menggoda. Gadis itu memajukan wajahnya dan mengecup bibir Dennis.

Dennis melotot, tampak kesal. “Apa yang kau lakukan?” Ia mundur dan melepaskan pegangan tangannya.

Bella tertawa seolah itu bukan masalah. “Aku tidak suka kamu. ” Ucapnya dengan cepat.

“Apa?” Dennis menatapnya bingung. “Kau tidak menyukaiku?” Tanyanya lagi.

Bella mengangguk dengan tegas.

Dennis menatapnya tajam. “Tapi kau baru saja menciumku. ” Katanya dengan nada ragu.

Bella tertawa dan membelai pipinya sekilas. “Itu bukan ciuman sayang. Hanya kecupan. Kalau bagiku, ciuman itu lebih dalam. ” Ujar Bella terkikik geli. Ia mengedipkan mata pada Dennis yang wajahnya saat ini memerah marah. Sangat marah.

“Kau…!” Katanya dengan kemarahan tertahan. “Brengsek. ” Makinya entah pada siapa.

“Aku memang brengsek. Jadi jangan sukai aku. ” Ucap Bella dengan wajah tetap tersenyum. “Dan bagaimanapun aku lebih tua daripada kamu. Sebaiknya panggil aku, kakak. ” Tambahnya dengan nada menggurui.

Dennis menatapnya garang. Ia sangat tersinggung saat ini. Dan Bella tidak peduli dengan itu.

“Sudahlah. Aku pergi dulu. ” Putus gadis itu tanpa basa-badi. Ia meraih sling bagnya dan berjalan ke pintu kamar Dennis. “Dah, Dennis. Kakak pergi. Belajar yang rajin. ” Ia melambai-lambai dengan tertawa genit.

“Gadis brengsek. ” Dennis menatap pintu yang tertutup dengan wajah sangat marah. “Brengsek. ” Makinya lagi.

Dennis menyadari Bella memang sengaja mempermainkannya. Gadis itu tahu benar bagaimana perasaannya tapi ia berpura-pura tidak mengerti. Dan bodohnya, Dennis merasa sangat kesal karena ia menanggapi dengan serius perkataan Bella. Sekarang ia menyesali apa yang telah terlanjur dikatakannya tadi.

¤¤¤¤

“Halooo…” Bella melambaikan tangannya dengan sikap berlebihan.

Dennis berdecak kesal. Segera ia mendekati Bella yang sedang duduk sempoyongan di lantai dekat pintu klub. Gadis ini mabuk berat. Dennis mengernyitkan hidungnya mencium bau alkohol yang menusuk, berasal dari mulut gadis ini.

Ia memapah Bella menuju mobil yang dikendarai supir Kim. Bella menceracau tidak jelas dan sekarang sedang terkik geli. Dennis mendorongnya kasar, memasuki mobil.

“Jalan, Pak. ” Perintahnya pada sopir keluarga mereka.

“Baik, tuan muda. ” Supir Kim segera menjalankan mobil. Menyelusuri jalan pulang ke rumah.

“Baik, tuan muda. ” Ulang Bella dengan nada mengejek. Gadis itu tertawa sambil memejamkan matanya. Kepalanya terasa sangat pusing dan berat. Sementara perutnya mual dan ingin muntah.

“Apa yang kau lakukan, bodoh? ” Sergah Dennis memarahinya.

“Apa yang kau lakukan, bodoh?” Bella mengulangi lagi perkataannya.

Dennis semakin kesal. ” Tidak sadarpun masih bisa menyebalkan. ” Katanya ketus. Dan kembali Bella mengulangi perkataannya.

“Berhenti mengikuti. ” Ujarnya semakin kesal.

“Berhenti mengikuti. ” Kata Bella lagi.

“Ish, kau ini. ” Dennis menatapnya tajam. “Ish, kau ini. ” Bella meniru ucapannya.

“Ehm, tuan muda. Saya rasa nona Bella punya kebiasaan saat mabuk mengulangi perkataan orang. Ada yang seperti itu. ” Kata supir Kim menengahi mereka.

Dennis melirik supir Kim dengan pandangan bingung. “Memangnya ada yang seperti itu?” Tanyanya serius.

Supir Kim tertawa kecil. “Tingkah orang mabuk memang aneh-aneh. Tuan muda tidak tahu saja, saya sudah melihat banyak yang lebih parah. ” Ujar pria setengah baya ini.

Bella bersandar pada kursi. Kepalanya menempel pada bahu Dennis dan gadis itu memeluk lengannya defensif.

“Ck, benar-benar gadis ini. ” Rutuknya dengan nada mengecam.

¤¤¤¤

“Apa yang kau lakukan?” Dennis menatapnya dengan pandangan menghakimi. “Kau ini sudah kelas tiga, tapi tidak pernah belajar. Bagaimana dengan sekolahmu?”

Bella tersenyum tidak peduli. Ia kembali merapikan bedaknya dan memakai lipstick.

Dennis yang berdiri di belakangnya semakin kesal. “Kau mau kemana?” Tanyanya dengan nada suara agak pelan.

Bella melirik padanya, “Sehyun mengajakku keluar. ” Ucapnya dengan tenang.

“Kau masih bersama sibrengsek itu?” Tanyanya tidak percaya. “Lelaki brengsek itu meninggalkanmu begitu saja di klub, mabuk berat. Dan aku terpaksa menjemputmu kemarin malam. ”

“Aku berterimakasih, Dennis. ” Ujarnya ringan, namun tidak terlihat tulus.

Dennis memegang lengan Bella. Mencegahnya pergi, melewati pintu. “Berhenti merusak hidupmu, Bella. ” Pintanya dengan tulus dan prihatin.

“Aku hanya bersenang-senang. Di rumah bosan melihat ayah yang main gila dan ibu yang terlalu sibuk, terus-terusan berkelahi.” Bella melirik pada Dennis.

“Aku mengerti. Tapi tidak begini caranya. ” Ucap Dennis prihatin. Ia memegang kedua belah bahu gadis cantik ini.

“Kau tidak mengerti, Dennis. Ayah dan ibumu memang sibuk dan tak punya waktu untukmu. Tapi mereka saling mencintai dan tidak main gila di depan matamu. Mereka hanya tidak memperdulikanmu. ” Katanya dengan sinis.

Dennis mendesah. “Kalau kau kesepian, aku akan menemanimu. Tapi jangan pergi dan melakukan hal-hal tidak berguna. ” Bujuk Dennis padanya.

“Yang kau katakan tidak berguna, bisa membuatku melupakan semuanya. Maaf aku tetap akan pergi. ” Gadis itu tersenyum lembut dan meremas tangan Dennis.

Pemuda ini mendesah kesal. Dan berkata “Baiklah kalau itu maumu. Tapi jangan telefon aku lagi saat kau mabuk. Aku tidak akan menjemputmu. Aku muak. ”

Dennis mendahuluinya, keluar dari kamar gadis itu dengan membanting pintu. Walaupun ia berkata seperti itu, bila Bella menelefonnya kapan saja. Meski ditengah malam atau pagi buta, ia pasti akan tetap muncul untuk gadis ini.

¤¤¤¤

Bella semakin menggila setelah kedua orang tunya yang lelah bertengkar, memutuskan untuk bercerai. Gadis itu menolak pulang ke rumahnya dan sesekali menginap di rumah Dennis. Tidak mau mengangkat telefon dari ayah dan ibunya. Semakin sering membolos sekolah.

Kedua orang tuanya hanya bisa saling menyalahkan dan semakin tidak bisa mengendalikan anak tunggal mereka. Dan hanya Dennis yang setengah mati, mencari Bella kesana kemari. Membawanya pulang. Mengurusnya. Menasihatinya dan peduli dengannya tulus.

“Ah, sepupuku tersayang. Dennis Oh. ” Bella tersenyum sambil cegukan. Sehyun tampak tertawa dengan bodoh di sebelahnya. Berbisik ditelinga Bella kemudian mereka tertawa terkikik.

“Ayo, pulang. ” Dennis menarik tangan Bella dengan wajah mengeras. Ia sudah muak melihat pasangan ini.

“Hei dude. ” Sehyun menahan lengan Bella yang satunya. “Dia bersamaku. ” Ucapnya dengan suara meremehkan.

“Dia akan pulang bersamaku. ” Ucap Dennis dengan ketenangan.

“Tidak. Tidak. Dia akan bersamaku malam ini. Hal yang anak kecil tidak mengerti. ” Katanya dengan ekspresi menjengkelkan Dennis.

“Bella.. Bella. ” Dennis menepuk pipi gadis itu dengan lembut. “Kau ingin pulang?” Tanyanya pada Bella.

“Kau ingin pulang?” Ujar Bella tidak fokus.

Sehyun terkikik mendengar ucapan Bella. Ia memeluk gadis ini dan menciumnya. “Kau cute. ” Katanya dengan gemas.

Dennis menarik napas. Mulai merasa kesal. Sepertinya kehadirannya disini untuk menjemput Bella salah.

“Baiklah aku pulang. Mati saja kalian disini. ” Kasar ia melepaskan tangan Bella.

Namun gadis itu meraih tangan Dennis, mendongak memandang wajah pemuda ini dengan sedih. Dennis melihat kepadanya.

“Jangan tinggalkan aku, Appa. ” Ucapnya dengan nada perlahan. “Jangan bercerai dengan Omma, Appa. Jangan tinggalkan kami. ”

Dennis menatap wajah Bella yang tampak sangat terpukul, air mata mengumpul dipelupuk mata gadis ini. Membuat Dennis merasa kasihan dan lemah terhadap gadis yang sangat disukainya ini.

“Hikhik…. ” Sehyun tertawa dengan bodohnya. “Dia bukan ayahmu, bodoh. ” Celutuknya dengan cengiran lebar.

Dennis menarik napas panjang. “Sudahlah. Ayo kita pulang. ” Ia memapah Bella untuk berdiri.

“TIDAK. ” Ucap Sehyun sambil menggeleng. “Dia pulang bersamaku. ” Katanya keras kepala.

“Kau mabuk. Sebaiknya kau juga pulang. ” Dennis menarik Bella.

Namun Sehyun menarik pundak gadis itu. “Dia kekasihku. Aku akan membawanya pulang ke apartemenku. Hotel kalau perlu. Kau, anak kecil pulang saja sana. Menyusu pada ibumu. ” Ucapnya kasar pada Dennis.

“Supir Kim. Supir Kim. ” Dennis memanggil supirnya yang berdiri di luar pintu ruang karaoke private ini.

Pria setengah baya itu melongokkan kepalanya, “Ya, tuan?” Sahutnya dengan hormat.

“Mari kita bawa Bella pulang. Dan tolong pesankan taksi atau sopir panggilan untuk sipemabuk yang satunya. ” Putusnya dengan lelah.

Supir Kim memapah Bella dari sebelah kiri. Gadis itu sudah setengah tertidur.
“Hei brengsek, kau dengar aku tidak?” Teriak Sehyun kesal.

Dennis mengacuhkannya. Dan itu semakin membuatnya kesal. “Hei sialan!” Makinya sambil ia meraih bahu pemuda kelas dua SMU ini dan meninjunya. Namun luput, hanya lewat tipis dari dagunya.

Dennis menatapnya marah, lalu dengan cepat ia melayangkan pukulannya tepat ke wajah Sehyun. Dilanjutkan dengan tinjuan dengan tangan kirinya kedagu pria yang sangat menyebalkan ini. Tubuh Sehyun limbung dan ia terjatuh di lantai. Dennis dengan raut wajah datar menendang wajah Sehyun, beberapa kali. Darah keluar dari hidung dan mulut pemuda tersebut. Dennis terus menedang perut dan wajahnya, seperti orang kesetanan. Ia melampiaskan semua kekesalannya selama ini. Hingga akhirnya beberapa petugas keamanan menyeretnya keluar ruangan.

¤¤¤¤

“Buat apa kau muncul disini?” Dennis menatap Bella dengan pandangan sengit.

“Jangan sesinis itu padaku. ” Katanya tanpa memperdulikan Dennis.

Pemuda itu mendesah kesal dan membiarkannya masuk ke dalam kamarnya yang luas.

“Maaf membuat semuanya jadi kacau. Kapan kau berangkat?” Tanya gadis itu sambil melirik beberapa kotak penuh barang pemuda ini.

“Lusa. ” Sahut Dennis pendek. Ia duduk di depan tv dan kembali menekuri gamenya.

Kejadian pemukulan terhadap Sehyun berbuntut panjang. Sehyun masuk rumah sakit dengan hidung patah dan babak belur. Menuntut memenjarakan Dennis yang masih dibawah umur. Kedua orang tua Dennis langsung pulang dari Amerika untuk mengurus masalah anak tunggal mereka. Dan setelah berdamai, mereka memutuskan membawa Dennis ikut mereka ke Amerika.

“Setidaknya dengan kejadian ini, kau bisa bersama-sama dengan orang tuamu lagi. ” Ujar Bella lembut.

Dennis masih marah kepadanya. Diam tidak merespon ucapannya.

“Appa dan Ommaku sudah resmi bercerai. Dan aku memutuskan tidak ikut keduanya. ” Ucapnya sambil menarik napas panjang dan tersenyum pada Dennis yang meliriknya.

“Kau baik-baik saja?” Tanyanya dengan wajah khawatir.

“Tidak. Tapi aku bisa berbuat apa?” Bella menyeringai pada sepupunya ini.
“Ikut aku ke Amerika. Aku akan menjagamu. ” Dennis meraih tangannya dan menatapnya serius.

Bella tertawa lalu dengan tangannya yang bebas, ia mengucek rambut Dennis. “Kau manis, sekali. ”

“Aku serius. ” Ucapnya tersinggung.

“Kau baik-baik disana. ” Bella tersenyum lembut padanya. “Tapi kau pasti tetap baik-baik saja, dimanapun kau berada. Kau memang seperti itu. ”

“Bagaimana denganmu?” Tanya Dennis dengan suara mulai meningkat, marah.

“Aku akan seperti biasa. ” Ucapnya tidak peduli.

“Bella Jung. Kau ini manusia atau bukansih, kenapa mau hidup seperti sampah?” Marahnya pada gadis di sebelahnya ini.

“Kau ini tidak pernah sopan. Bagaimanapun aku lebih tua dibandingkan kau? Panggil aku kakak. ” Balas Bella sambil menatap Dennis dengan mata lebarnya yang indah.

“Tidak mau. ” Ketus Dennis dengan sebal. “Kelakuanmu bahkan tidak pantas. Bagaimana aku bisa sopan padamu?”

Bella tertawa kecil. “Aku akan merindukanmu. ” Ujarnya bersungguh-sungguh.

“Aku tidak. ” Kata Dennis keras kepala.

“Aku tahu. ” Ucap Bella ringan. Diam-diam Dennis merasa sakit hati mendengarnya. Gadis ini tahu itu tidak benar, tapi ia tidak pernah peduli.

“Bella, aku menyukaimu. ” Dennis menatapnya dan menggenggam tangannya.

Bella balas memandangnya. Kali ini ia tidak tersenyum. Ia memajukan wajahnya, mengecup lembut bibir Dennis. Mundur dan menatapnya lekat. Dan kembali mencium bibir Dennis.

“Apa yang kau lakukan?” Dennis mendorongnya dan tampak gugup. Mengusap bibirnya.

Bella tersenyum. “Bagiku suka atau cinta ya seperti ini. Anak kecil seperti dirimu belum mengerti. ” Katanya meremehkan.

“Brengsek. ” Maki Dennis, marah. Ia mencengkram leher Bella dan menariknya. Mulutnya meraup bibir merah gadis itu dan menciumnya dengan kasar. Penuh hasrat. Bella tampak terkejut. Dan menarik wajahnya mundur. Tapi cengkraman Dennis terlalu kuat, ia bahkan tak dapat menoleh kearah lain. Dennis menggigit bibirnya. Menumpahkan kekesalannya selama ini, yang selalu dianggap anak kecil. Dan perasaan terlukanya karena tidak dianggap serius oleh gadis yang disukainya.

Dennis menatap pada Bella yang memejamkan matanya. Melepaskan gadis itu dengan napas masih tersengal. Karena gairah dan marah.

“Kau akan menyesal, memperlakukanku seperti ini. ” Ucapnya dengan bersungguh-sungguh. Dennis bangkit dan meninggalkan Bella.

¤¤¤¤

7 Tahun Kemudian.

Di studio foto kawasan Chongdamdong, photographer terkenal Patrick Kim sedang mengambil foto seorang model untuk iklan rangkaian kosmetik 7 cell.

Sebuah brand kosmetik baru yang diluncurkan perusahaan Queens, merk 7 cell. Dan memperkenalkan empat seri rangkaian produk kecantikan sekaligus sebagai produk pertama mereka. Seri 4 musim yaitu spring, summer, autumn dan winter secara eksklusif. Spring melambangkan kecantikan peri hutan yang polos dan lugu. Summer melambangkan kecantikan mermaid yang segar dan alami. Autumn melambangkan kecantikan gadis korea yang anggun dari masa lalu. Dan seri winter melambangkan kecantikan legenda putri salju yang berambut dan mata sehitam kayu eboni, kulit sebersih salju dan bibir semerah darah.

Konsep iklan yang diusung adalah kecantikan segar dan alami. Oleh sebab itu sang model didandani dengan seksama, senatural mungkin namun juga terlihat segar. Gadis itu mengenakan minidress warna dusty pink dengan rumbai-rumbai lace dan mutiara. Rambutnya pirang yang panjang digerai, bergelombang. Sedang berpose sebagai peri hutan yang liar sekaligus innocent, menggoda dengan keluguannya. Setting hutan dibuat seperti berada di fairytopia, surga para mahluk-mahluk mistis dalam negeri dongeng.

Dan pengambilan foto yang sudah dimulai dari jam 9 pagi hingga hampir jam makan siang ini, sudah memasuki 1 sesi terakhir untuk seri summer. Namun sang photographer sudah cukup puas dengan banyak gambar, akhirnya meminta semuanya istirahat makan siang terlebih dahulu. Ia menghampiri sang model, yang masih berdiri di bawah sorot lampu. “Bella-ssi. Mari makan siang dahulu. ” Ajaknya pada gadis yang dikontrak eksklusif sebagai brand ambassador 7 cell selama 3 tahun.

Bella Jung. Model profesional dan artis. Usia 25 tahun. Cantik, muda dan berbakat. Beberapa kali muncul sebagai bintang musik video artis terkenal Korea. Saat ini ia juga sudah menerima beberapa peran kecil di drama dan film. Tapi tetap lebih mengutamakan karir modelnya. Ia lebih suka difoto dengan berbagai pakaian indah dan pose, selain kerjanya lebih cepat dibandingkan syuting. Dan fokusnya saat ini adalah kontrak eksklusifnya, sebagai ikon merk kosmetik baru ia harus bekerja keras dalam memperkenalkan brand ini. Dan Bella merasa sangat tertantang karena kontrak ini didapatnya setelah melewati audisi dan penyeleksian ketat, hingga akhirnya menjadi wajah dari merk tersebut.

“Pasti melelahkan bukan?” Kata Patrick padanya saat memperlihatkan beberapa hasil gambar yang berhasil mereka dapatkan. “Tapi hasilnya sangat memuaskan. ” Ujarnya dengan bangga. Bella tersenyum puas, hasilnya memang tidak sia-sia.

Bella berterimakasih pada Patrick dan beberapa kru yang lain. Pemotretan hari ini selesai dan sukses. Ia dan manajernya harus segera kesebuah butik, untuk fitting baju. Setelah itu janji bertemu sutradara dan pihak kreatif 7 Cell di sebuah restoran, membicarakan rencana syuting video iklan 7 Cell. Jadwalnya penuh hari ini dan Bella mencuri-curi waktu beristirahat disela-sela perjalanan mereka.

Setelah sebulan kemudian, hari ini foto-foto iklan 7 Cell sudah disebar ke beberapa majalah, billboard. Acara peluncuran merk baru ini diadakan secara mewah dan glamour. Sekalian memperkenalkan Bella sebagai brand ambassadornya. Video iklannya juga ditayangkan pertama kali ditempat ini. Berhubung ini masih musim semi, maka Bella kembali menjadi sosok peri hutan yang lugu dan cantik. Merk ini mendapatkan respon yang bagus dari orang-orang dan media cetak. Belum pernah ada kosmetik yang menawarkan seri 4 musim sekaligus. Dan konsep yang dipilih benar-benar berbeda dengan merk-merk lain. Segera saja produk 7 Cell habis dipasaran, bahkan jumlah permintaan pasar sangat tinggi.

Pesta peluncurannya berlangsung sangat meriah. Bella didapuk untuk berpose bagi seluruh wartawan yang hadir. Beberapa bahkan meminta waktu untuk wawancara dengannya. Bella tersenyum dengan elegan. Lalu perwakilan dari 7 Cell mengajaknya menemui Direktur kreatif dan pengembangan produk, yang mempunyai ide iklan sukses ini.

“Direktur sengaja datang dari Amerika, untuk melihat acara peluncuran hari ini. Beliau sangat senang dengan respon pasar terhadap iklan 7 Cell. Dan semua ini berkat Bella-ssi. ” Ujar wanita itu dengan semangat. Ia mengandeng Bella menuju meja para petinggi 7 Cell.

Bella membungkuk dengan hormat. Ada 3 orang pria dan dua orang wanita yang duduk di meja tersebut. Beberapa wajah pernah dilihatnya beberapa kali. Namun pria yang membelakanginya tampak asing.

“Maaf, Direktur. Ini Nona Bella Jung. Brand ambassador 7 Cell kita. ” Ucap wanita yang membawa Bella tadi, memberitahukan kehadirannya.

Pria itu berdiri dan berbalik pada mereka. Bella mendongak menatap wajahnya. Dan tercekat, sangat kaget.
“Apa kabar, Nona Bella Jung?” Sapanya dengan sopan dan tersenyum hangat. “Anda pasti bekerja keras. Dan kami sangat berterimakasih anda mau berkerjasama dengan kami. ” Ujarnya dengan nada terkesan profesional.

Bella segera menghapus keterkejutan di wajahnya dan menggantinya dengan senyuman manis. Ia membungkuk hormat. “Saya juga sangat berterimakasih pada kesempatan yang diberi 7 Cell. ” Ucapnya dengan nada tegas. Selanjutnya ia lebih banyak diam dan tersenyum saja.

Usai acara dan beramah tamah dengan beberapa orang yang dikenalnya, Bella permisi pulang dan tidak mengikuti acara minum-minum yang diadakan panitia. Gadis itu menunggu di depan lobby, hari sudah larut dan ia sangat lelah. Sebuah mobil convertible merah berhenti tepat di hadapannya, secara otomatis kacanya terbuka dan dia disana. Memasang wajah datar dan berkata “Masuklah. Kuantar pulang. ”

Sejenak gadis itu tertegun, lalu dengan langkah kaku ia masuk ke dalam mobil sport tersebut.

Mobil melaju dengan mulus dan suasana hening melingkupi mereka. Bella merasa belum menyebutkan alamatnya namun sepertinya sosok di sebelahnya sudah tahu, kemana mengantarkannya pulang.

“Sudah berapa lama kau di Seoul?” Tanya Bella pada akhirnya.

“Baru 3 hari. Maaf tidak menghubungimu terlebih dahulu, aku sibuk sekali. ” Ucapnya dengan senyum menenangkan.

Bella mengatupkan giginya, kesal. Dan tidak mau memandang sedikitpun kepada pria yang sedang menyetir ini.

“Bagaimana kalau kita minum dulu?” Ajaknya dengan senyuman lebar.

“Aku lelah. ” Ungkapnya dengan bahasa informal.

“Kalau makan siang, besok?” Katanya lagi, kali ini dengan cengiran khasnya.
“Besok pagi, aku berangkat ke Jepang.” Kembali gadis ini menolaknya.

“Kapan kembali?” Tanya dengan wajah menggoda.

“Seminggu lagi. ” Ucapnya pendek.

“Jadi, kapan kau ada waktu?” Tanyanya lagi.

“Berhenti disini saja. ” Pinta Bella tidak memperdulikan pertanyaannya.

Mobil berhenti dan gadis itu membuka handle pintu. Namun pintu kembali terkunci otomatis. Bella berbalik, menatap pria itu marah.

“Kau tampak marah. ” Ujar pria itu sambil mengawasi raut wajah gadis cantik ini.

“Aku lelah. Dan cuma ingin pulang. ” Kata gadis ini dengan nada suara tinggi.

“Bisakah kita berbicara sebentar?” Pintanya dengan bersungguh-sungguh.

Bella menggeleng dan kembali membuka pintu mobil.

“Aku tidak punya waktu untukmu, Direktur Oh. Hari ini, besok dan besoknya lagi aku sangat sibuk. Jadi selamat tinggal. ” Gadis itu melangkah keluar mobil dengan gusar. Samar-samar ia masih mendengar suara tawa pria tersebut sebelum menutup pintunya dengan keras.

Dennis Oh tertawa lirih. Kemunculannya yang tiba-tiba sukses membuat Bella marah besar. Gadis itu terkejut namun berpura-pura bersikap tidak kenal. Sepanjang acara tadi, Dennis sudah lama memperhatikan gadis itu. Hanya saja tidak sempat menyapanya secara langsung.

Ia sudah berubah. Bukan lagi sebagai pemuda tanggung yang canggung. Saat ini ia sudah berusia 23 tahun dan bekerja sebagai Direktur kreatif dan pengembangan produk di Queens Corporation. Proyek brand 7 Cell adalah ide terbesarnya dan yang paling sukses. Queens Corp punya banyak anak usaha yang maju tapi tidak ada satupun yang bergerak dibidang kecantikan. Sebagai seorang bisnisman andal, Dennis bisa melihat peluang dibidang ini. Dan ia mewujudkannya.

“Sepertinya sangat marah. ” Ucapnya sambil menatap punggung Bella yang menghilang di balik pintu kaca.

¤¤¤¤

“Apa itu? Muncul setelah 7 tahun menghilang dan cuma bilang hai. ” Bella masih merutuki pria itu saat ia sudah duduk manis di dalam pesawat menuju jepang esok paginya.

Gadis itu duduk dikursi kelas satu, sendirian. Mengecek jadwal promosi 7 Cell yang padat. Selain dijual di Korea, produk ini juga dijual kebeberapa negara Asia dan Eropa. Dan sebagai satu-satunya brand ambassador 7 Cell, Bella akan sangat sibuk belakangan ini.

Diam-diam gadis ini mengingat lagi pertemuannya semalam. Jujur saja ia takjub melihat Dennis sekarang. Ia sudah jadi lelaki dewasa. Dan cukup tampan. Bohong, pikir Bella. Dennis sangat tampan, bahkan dari dulu. Itu sebabnya ia suka sekali menggoda sepupunya tersebut. Bella tertawa tanpa suara.

“Ehmmm.. ” Terdengar suara mendeham di kursi sebelahnya. Bella menoleh dan melihat siapa yang duduk disana.

Dennis Oh, melambai padanya dan tersenyum lebar. Bella melihat kekiri dan kanan. Mencari manajernya yang seharusnya duduk di sebelahnya.

“Manajer Jang memintaku bertukar kursi. Katanya ia perlu mendiskusikan jadwal Nona Jung dengan bagian humas. ” Katanya memberitahukan Bella. Lalu dengan santai ia duduk di kursinya.

“Ah, nyaman sekali. ” Bisiknya kepada dirinya sendiri.

Gadis itu menarik napas panjang. Lalu berbalik melihat kaca jendela. Kedua telinganya disumpal dengan earphone Ipod berwarna putih susu. Ia lebih memilih bersabar daripada bertengkar dengan Dennis yang sepertinya memang sengaja membuatnya kesal. Dan sepertinya perjalanan ke Jepang ini akan jauh menguras tenaganya, dengan kehadiran Dennis.

Respon pasar di Jepang setelah peluncuran 7 Cell sangat bagus. Launching produk seri 4 musimnya laku keras dan media massa memuji konsep iklan mereka yang sangat berbeda dengan produk kecantikan lainnya. Bella banyak diundang ke acara bincang-bincang dan ia dengan semangat mempromosikan 7 Cell. Dan ada beberapa majalah mewawancarainya secara esklusif serta menjadikannya sampul majalah.
Hari ini semua jadwal sudah selesai. Dan mereka mendapat 1 hari bebas sebelum lusa balik lagi ke Korea. Bella merasa lelah tetapi sekaligus juga bersemangat karena proyek 4 Musimnya diterima dengan luas. Dan ini membuatnya semakin dikenal bukan hanya di Korea. Ia tidak sabar menunggu iklan 7 Cell edisi autumn dan winter yang belum di release. Dan melihat reaksi orang-orang. Tapi ia yakin, respon pasar juga akan sebagus edisi spring dan summer.

Selama nyaris 5 hari ini, Dennis tanpa malu-malu mengikuti kemanapun Bella pergi. Dengan santai akhirnya ia mengatakan kepada semua orang diacara minum-minum, bahwa Bella Jung adalah sepupunya. Dimana mereka sudah lama sekali tidak berjumpa. Sejak ia akhirnya pindah ke Amerika mengikuti orang tuanya.

Manajernya menatapnya bingung dan bertanya, “Benar seperti itu?” Katanya tak percaya, karena selama ini Bella tidak pernah bercerita.

Bella menatap Dennis kesal dan mengangguk malas.

“Ibu kami saudara sepupu. Marry Kim dan Min Hwa Kim. ” Ujar Dennis menjelaskan. “Tapi hubungan kami tidak bagus. ” Sergah Bella kesal. “Bukan. Kami hanya sedang bertengkar saja. Biasa pertengkaran saudara. ” Ungkap Dennis disertai tertawaan dari yang lain.

“Pantas sepertinya Bella selalu menghindari Direktur. ” Celetuk seorang wanita dari bagian Humas.

Dennis tertawa, “Dia marah karena aku tidak membawakannya oleh-oleh. Sepupuku ini sangat manja. ” Ujarnya yang disambut tawa oleh yang mendengarnya.

Bella tampak kesal, tapi tidak bisa berkata apapun. Beraninya Dennis mengatakan dia manja di depan manajernya dan tim 7 Cell yang ikut ke Jepang.

“Dennis-kami, sangat menggemaskan waktu kecil. Kami sama-sama anak tunggal dan aku sangat ingin punya adik perempuan, jadi aku sering mendandaninya dengan pakaianku. ” Ujar Bella sambil tersenyum puas, bola matanya berputar jahil.

“Hahaha…. ” Dennis tertawa garing. “Dia bohong tuh. ” Ucapnya meralat.

“Tidak. ” Bella tersenyum memikat dengan mata yang berkilat-kilat. Ia mengangsurkan sepotong foto yang dilaminating. Segera saja foto itu beredar dari tangan satu ketangan lain. Dan rata-rata wajah yang melihat foto tersebut memerah, menahan tawa. “Ini beneran, Direktur Oh?” Tanya Manajer Jang memastikan. “Ya ampun. Direktur manis sekali waktu kecil. ” Cetus seorang wanita dari tim 7 Cell gemas.
“Cantik sekali… ” Mereka berbisik dan tertawa geli. Terkikik tak bisa menyimpan tawa lagi.

Dennis tersenyum pasrah. Tidak menyangka Bella masih menyimpan dan membawa-bawa foto masa kecil mereka.

“Aku juga punya foto waktu kami liburan di pantai. Dennis memakai baju renangku. ” Ujar Bella semakin berbahaya. Membuat yang lain semakin ribut, ingin melihat gambar tersebut.

“Oke.. Sudah cukup. ” Ujar Dennis mengaku kalah. “Saat itu Bella mengancam tidak akan mengajakku bermain kalau aku tidak mau memakai pakaiannya. Puas?” Ia menatap Bella dengan wajah mangkel.

Bella terkekeh senang, ia tertawa lepas. “Puas sekali. ” Dennis ikut tertawa dengannya.

“Jadi kita berbaikan?” Tanya Dennis sambil menjajari langkahnya pulang ke Hotel. Pria muda ini meraih tangan Bella dan menggandengnya.

“Tidak semudah itu. Aku tidak mudah dibujuk. ” Ucap Bella sekenanya.

Dennis mengayun-ayunkan tangan mereka dengan gembira. “Tenang saja. Aku punya banyak waktu untuk membujukmu. ” Ia tersenyum pada gadis di sebelahnya, lega.

¤¤¤¤

“Apa yang kaulakukan?” Bella tersenyum melihat pria yang baru saja mengetuk pintu kamarnya dan menerobos masuk saat ia membukanya. Dennis tampak sangat bersemangat, berjalan mondar-mandir di kamar tempat Bella menginap. Ia menoleh pada gadis ini dengan wajah sumringah.

“Kau berhutang banyak padaku. Hutang hal-hal yang dulu ingin kulakukan. ” Ucap Dennis dengan nada riang. Tampak suasana hatinya sedang sangat baik.

“Seperti apa?” Tanya gadis dengan lesung disudut bibir ini. Bella berdiri dengan melipat tangannya didada.

“Kau akan tahu, nanti. Sekarang ganti bajumu dengan yang santai. Karena kita akan kencan seharian. ” Dennis membalikkan tubuh Bella dan mendorongnya masuk ke kamar mandi. Memaksanya berganti pakaian.

“Kau suka naik motor?” Tanya Bella dengan mata membulat heran, ia kelihatan kesulitan memasang helm merahnya. Yang diberikan Dennis padanya untuk dipakai. Mereka sedang berada di parkiran hotel, di depan sebuah motor merah yang bagus.

Dennis tersenyum dan membantu mengancingkan kaitan helmnya. “Suka. ” Katanya singkat. “Hari menurut prakiraan cuaca bakalan cerah seharian dan nggak hujan. Pasti menyenangkan naik motor. ” Sambungnya lagi.

Pria muda ini menaiki motornya dan menghidupkan mesin. “Ayo, naik. ” Perintahnya pada Bella yang masih berdiri canggung, menatap ke arahnya.

“Aku salah kostum. ” Ujarnya sambil melihat ke bawah. Pada bagian bawah minidress kuning dengan bordiran bunga-bunga daisy putih, yang sedang dipakainya.

“Aku nggak ngebut kok. Jadi rokmu nggak bakal terbang dan mamerin celana dalammu. ” Dennis tersenyum jahil.

“Ish. ” Bella menggebuk lengan pria ini. Tapi tidak urung, ia naik juga keboncengan motor Dennis. Dan melingkarkan tangannya ke pinggang Dennis. Pria muda ini tersenyum senang. Lalu menjalankan motor dengan kecepatan sedang.

Dennis mengajaknya makan, nonton film, mendengarkan musik di toko kaset, melihat-lihat majalah dan buku di sebuah toko. Beli sovenir di jalanan yang mereka lalui. Belanja pakaian dan sepatu di beberapa toko outlet indie. Dan sepanjang mereka berjalan berdua, Dennis mengenggam tangan Bella hangat. Sambil menenteng belanjaan Bella dengan tangan yang lain.

“Mau minum kopi?” Tanya Dennis sambil menoleh padanya.

“Boleh. ” Jawab Bella sambil tersenyum. Sudah lama sekali ia tidak merasa sesantai dan sesenang ini. Bisa berjalan-jalan tanpa harus takut dikenali orang. Hal yang sangat langka bila dilakukan di Seoul.

Mereka masuk ke dalam kafe yang berkonsep green garden. Dan mendapatkan meja dengan pemandangan bagus. Dennis memesankan kopi untuk mereka berdua, satu cake cokelat dan satu tiramisu.

Bella menunduk, tangannya mengurut pergelangan kakinya yang terasa pegal setelah nyaris 5 jam berjalan kesana kemari dengan Dennis.

“Kenapa?” Tanya Dennis sambil pindah ke kursi di samping Bella. Ia melongok ke bawah meja. Tangannya yang hangat menyentuh kaki Bella dan melepaskan ikatan tali high heels gadis ini.

“Akukan sudah bilang. Pakai yang santai saja. Ini akibatnya memakai high heels selama berjalan panjang. ” Ujarnya dengan lembut, menasihati Bella.

“Kau ini tidak mengerti. Sepatu yang cantik akan membawamu ketempat yang menyenangkan. ” Bella mengutip sebuah ungkapan yang pernah dilihatnya di drama tv.

“Ah, wanita. ” Keluh Dennis, menggelengkan kepala tidak mengerti. Ia masih mengurut-urut kaki Bella dengan lembut. Sementara Bella menatap wajahnya dengan lekat dan mengagumi mata pemuda ini yang tajam namun selalu bersinar hangat. Tulang pipinya yang menonjol, rahangnya yang tegas. Serta hidungnya yang mancung. Dennis tampan, bahkan tergolong sangat tampan.

“Menyesal tidak menerimaku dari dulu?” Dennis tersenyum menggodanya.

Bella tertawa, “Tidak. Aku hanya berpikir, aku sudah melewati banyak fase penting dalam hidup Dennis-kami. Aku sedikit kesal rasanya. ”

Dennis balas menatapnya serius. “Ingin tahu apa yang kulakukan selama hampir delapan tahun ini?” Ia bertanya pada gadis di sebelahnya. Bella mengangguk.

“Aku belajar dengan keras, supaya cepat lulus. Bekerja dengan sangat keras hingga diposisi ini. ” Ucapnya singkat. Bella tidak perlu tahu betapa beratnya ia menyelesaikan kuliah S2 diusianya yang baru 21 tahun. Kemudian bekerja diperusahaan milik orang tuanya, hingga mencapai posisi Direktur kreatif dan pengembangan produk. Walau perusahaan itu milik keluarganya, namun Dennis benar-benar dituntut untuk profesional dan bisa memberikan keuntungan bagi perusahaan. Tekanan baginya jauh lebih berat dibandingkan pegawai lain diperusahaan tersebut.

“Hmm, Dennis-kami tumbuh sangat baik dan membanggakan. Aku senang sekali, tidak lebih dan tidak kurang dari yang aku harapkan.” Ucapnya sambil menyentuh wajah Dennis dengan lembut.

“Kau sendiri lebih hebat. Memutuskan tidak kuliah dan terjun ke dunia modeling. Aku tidak tahu kau punya bakat seperti itu. ” Dennis menatapnya dengan pandangan bangga dan juga kagum.

“Sama sepertimu. Di dunia ini gadis muda dan cantik sangat banyak, yang membedakan adalah yang mau berkerja mati-matian dan punya bakat. ” Ujar Bella dengan tenang.

“Wow, baru pertama kali aku mendengar sesuatu yang bijak dari bibir ini. ” Dennis mencubit dagunya dengan jahil.

“Aku sudah menemukan apa yang ingin kulakukan. Kehidupanku membaik dan hubunganku dengan kedua orang tuakupun perlahan mencair. ” Bella tersenyum menatap Dennis. “Tetapi mengapa selama ini kau tidak pernah menghubungiku? Tidak pernah mau menemuiku. Membalas telefonku bahkan mengirim email sekalipun tidak. ” Ujar gadis ini dengan wajah kembali kesal. Mengingat beberapa kali ia ke Amerika, namun Dennis selalu tidak pernah ada. “Kau masih marah?” Tanyanya lembut.

Dennis menunduk, jarinya menyusuri bordiran bunga diujung rok Bella.
“Aku sengaja. ” Ucapnya pelan.

Bella tampak terkejut. “Kejam sekali. ” Gumamnya perlahan dengan wajah kecewa.

Dennis menoleh padanya. “Aku sengaja seperti itu, agar kau sadar kau sudah kehilangan apa. Selain aku juga takut bertemu denganmu. ”

“Takut?” Ulang Bella dengan dahi berkerut. Heran.

Dennis tersenyum lemah, dan menempelkan jari panjangnya pada kening gadis itu. “Aku takut bila melihatmu saat itu aku goyah. Dan kembali mengekorimu seperti anak anjing tersesat. ” Akunya dengan jujur.

“Alasan payah. ” Ujar Bella tidak mempercayainya. “Jadi kalau aku tidak menjadi model 7 Cell, kita pasti tidak akan bertemu lagi. ” Kata gadis ini dengan ketus.

Dennis menggeleng. “Tidak. Kita pasti ketemu. Sudah takdir. ” Katanya dengan nada sedikit sombong. Bella tertawa. “Dasar pembohong. ” Ujarnya mengejek.

Dennis ikut tertawa sambil memperhatikan wajah Bella yang tampak bercahaya dan bahagia. “Kita pasti bertemu. Karena 7 Cell memang sengaja aku ciptakan untukmu. Harus kamu yang menjadi modelnya. Audisi untuk model itu hanya formalitas, karena sejak awal aku memang sudah memilih kamu yang menjadi ikon 7 Cell. Hanya saja kamu tidak perlu tahu ini, Bella. ” Ujar Dennis di dalam hati.

¤¤¤¤

Dennis menyambut Bella yang baru saja pulang ke Apartmentnya. Pemuda itu sudah sekitar sejam berada disana, menunggu gadis itu.
Bella tersenyum walau dengan tampang kelelahan, namun tetap cantik.

“Hei, ada apa dengan wajah itu?” Ia menghempas tubuhnya ke sofa, meringkuk sambil memeluk lengan Dennis. Merasa puas.

Dennis memperhatikan wajah gadis ini dalam-dalam. Menyadari betapa ia sangat menyukainya, sedari ia masih kecil. Hanya gadis ini saja yang ia lihat. Sampai saat ini, dia masih mempesona hati pria muda ini.

“Sepertinya aku akan kembali ke Amerika. ” Ungkap Dennis sambil mengawasi ekspresi Bella.

“Benarkah?” Bella menatapnya lekat. “Tapi kau akan kembalikan?” Tanyanya lagi, memastikan.

“Ya. Tapi tidak dalam waktu cepat. ” Ujar pemuda ini dengan nada perlahan.

“Aku akan mengunjungimu. ” Ucap Bella dengan pasti. “Ah, aku pasti merindukanmu. ” Bisiknya sambil mengeratkan pelukannya pada Dennis.

Pemuda ini meletakkan dagunya pada puncak kepala Bella. Membalas pelukannya hangat.

“Aku tidak yakin bisa meninggalkanmu dengan tenang. ” Gumamnya perlahan.

“Mengapa?” Bella memiringkan kepalanya, menatapnya lekat dengan mata lebar.

Dennis merapikan poni gadis ini, “Siapa Song Seung Hoon?No Min Woo?” Terdengar nada gusar dalam suaranya.

“Aah, gosip itu. ” Bella tersenyum maklum. “Oppa Seung Hoon, dia aktor terkenal loh. ” Gadis itu mengedipkan matanya manja. “Kalau Oppa Min Woo, dulu dia rocker. Sekarang lebih fokus main film. ”

“Kau memanggil mereka Oppa?” Dennis memberikan tatapan mencela. “Lebih pantas disebut Ajusshi (paman) dari pada Oppa (abang). ” Rutuknya kesal.

Bella tertawa lirih. “Kau saja tidak pernah memanggilku Nunna (kakak). Tidak sopan pada yang lebih tua. ” Kata Bella dengan nada geli.

“Memangnya kau ingin sekali kupanggil Nunna?” Dennis menatapnya kesal. “Lebih tua kok bangga. ” Gumamnya pelan.

“Tentu saja. Sekarang lagi trend wanita dewasa berpacaran dengan pemuda yang lebih muda. Sepertinya keren juga. ” Bella tersenyum menggodanya.

“Jadi kita… ” Dennis tersenyum senang.
“Apa?” Potong gadis itu cepat. “Personil Teen top dan EXO, masih muda dan imut-imut. Kemarin ada yang menitipkan nomor handphonenya untukku. ” Ujarnya tanpa menyembunyikan rasa senangnya.

“Apa?” Dennis meledak marah. “Kau ini, seperti tante-tante genit saja. ”

Bella tertawa dalam hati. “Atau aku berpacaran dengan Oppa Seung Hoon atau Oppa Min Woo sajalah. Tante-tante cocoknya dengan Ajusshi (paman). “Tambahnya lagi, semakin memanasi Dennis.

“Tidak boleh. ” Kata Dennis keras. “Aku tidak jadi balik ke Amerika atau kau yang harus ikut aku. ” Putusnya dengan marah.

Akhirnya Bella tertawa lepas, hingga wajahnya memerah. Sudah lama ia tidak melihat Dennis marah-marah seperti ini.

“Tidak berubah. Hanya badanmu saja yang tumbuh. ” Cetusnya dengan wajah masih tersisa tawa.

“Aku tidak pernah tidak serius padamu, Bella Jung. Dari dulu hingga sekarang. Dan jangan anggap becanda keseriusanku. ” Ucapnya perlahan namun penuh tekanan.

“Maaf. ” Bella menatapnya serius sekarang. “Dari dulu kamu selalu mengikutiku kemana-mana. Aku pikir itu karena kita sama-sama kesepian. Tapi aku tidak yakin perasaan itu kuat. ”

Dennis mendesah, “Aku pernah berpacaran saat kuliah. Tapi tetap tidak bisa menghilangkan kamu dari pikiranku. Dan saat kita bertemu lagi, aku semakin yakin perasaanku lebih dalam daripada yang kupikirkan. ”

Pemuda itu menatap Bella lekat, dan bertanya “Bagaimana denganmu?”

“Entahlah, aku tidak yakin melihatmu sebagai pria. ” Ujar Bella dengan jujur.
“Aku memang pria, Bella. Sudah lama aku tidak menjadi anak-anak lagi. Sejak aku sadar kalau kamu yang kuinginkan, buat diriku sendiri. ” Dennis memandang gadis itu frustasi saat menyatakan hal tersebut.

Bella menatap raut wajah Dennis seksama. Ia menyayangi pemuda ini. Suka dengan segala perhatiannya, kemarahan dan kecemburuan Dennis. Tapi ia tidak yakin semua hal tersebut cukup kuat untuk disebut cinta. Sesungguhnya iapun tidak ingin melihat wajah ini kecewa dan sedih. Karena hal yang paling disukainya adalah ketika Dennis tertawa dan tersenyum padanya.

¤¤¤¤

Bella menatap barisan kata-kata dalam email Dennis yang baru saja ia terima. Ia merindukannya. Meskipun mereka intens berkomunikasi melalui telefon, pesan, email dan video call. Rasanya tidak cukup, tidak sama bila ia benar-benar melihat Dennis.

“Respon video Bella Beauty Class sangat bagus. Video kelima yang baru diluncurkan dua hari yang lalu, sudah ditonton 1,1 juta viewers. ” Manajer Jang memberitahukan kabar dari 7 Cell.

“Ohya, Iklan Parfume 7 Cell for Man juga mendapat sambutan hangat dari media.” Ujar Manajer Jang dengan semangat, menceritakan iklan terbaru Bella Jung.

“Itu ide Dennis. Ia terinspirasi melihat G-Dragon yang mengiklankan Lipstick. Lalu mengapa tidak Bella Jung saja yang mengiklankan 7 Cell For Man, begitu pikirnya. Membuat pria berpikir bahwa Bella sedang memeluk mereka bila menggunakan parfume itu. ” Ujar Bella dengan nada kurang antusias.

“Pemuda itu benar-benar jenius. 7 Cell menjadi produk yang paling dicari dimana-mana. ” Manajer Jang menyeringai senang. Karena hal ini juga berimbas dengan job Bella yang semakin banyak dan mahal.

Bella mendesah. Ia tahu alasan sesungguhnya Dennis tidak jadi menggunakan model pria untuk iklan 7 Cell For Man. Pilihannya tim kreatif jatuh pada Song Seung Hoon atau No Min Woo, tapi Dennis membatalkannya karena tidak ingin mereka dekat-dekat dengannya setelah ada gosip di internet. Untungnya Bella Arm’s berhasil diterima, dan malah dianggap ide orisinil yang sangat menjual.

Bella menggeleng, gelisah. Belakangan ini ia semakin sering memikirkan Dennis. Ia sangat merindukannya. Meskipun saat ini ia sedang sangat sibuk dengan kerjaannya.

“Manajer, beberapa hari ke depan jadwalku masih penuh?” Tanyanya perlahan, meski ia tahu jawabannya.

“Ada wawancara radio dan pemotretan majalah Asian Star. Minggu depan ada reading dengan Produser Lee Man Soo. Kenapa?” Manajernya menatapnya heran.

“Sepertinya aku sakit. ” Ujarnya berbisik.

Manajernya mendesah keras. “Aku tahu, ada yang lain setelah Dennis pulang ke Amerika. Kau jadi murung. ” Ia menatap Bella dengan tajam. “Jangan ditutupi. Aku orang yang sudah bersamamu bertahun-tahun. Aku cukup mengenalmu, Bella. ” Katanya dengan nada tegas.

“Aku tidak melanggar kontrak apapun. ” Ujar Bella membela diri.

“Belum saja. ” Potong Manajer Jang cepat. “Aku pribadi kurang setuju dengan peraturan artis tidak boleh berpacaran dari manajemen. Artiskan juga manusia, apalagi mereka sedang berada dipuncak siklus kehidupan. Wajar saja bila jatuh cinta dan berpacaran. ” Ungkapnya dengan nada mengecam, seolah sedang melihat berita kriminal.

“Jadi?” Bela menatapnya dengan bingung, tidak tahu kemana arah pembicaraan mereka.

“Jadi, kau akan pergi ke Amerika. Berapa hari?” Manajer Jung bertanya dengan suara profesioal, seolah sedang bernegosiasi masalah job.

Bella tertawa gembira, wajahnya berseri-seri bahagia.

“Tapi setelah pulang. Aku tidak mau lagi melihatmu murung. Tidak bersemangat dan lain-lain. Dan satu hal lagi, jangan sampai membuat skandal. ” Ujarnya memperingatkan artis binaannya ini.

¤¤¤¤

Dennis menatap Bella yang sedang tertidur pulas di atas ranjang, kamarnya. Gadis ini tampak sangat kelelahan sehingga tertidur seperti bayi. Dennis masih takjub melihat kehadirannya yang tiba-tiba. Bella tiba-tiba muncul di restoran tempat ia makan malam dengan Victoria.

Setelah berhasil membuat Dennis salah tingkah di depan Victoria, Bella dengan sedikit defensif memaksanya ikut ke hotel tempat ia menginap. Mereka menghabiskan waktu mengobrol selama hampir satu jam sampai akhirnya Bella tertidur. Tadinya ia ingin pulang ke apartementnya tapi niatnya diurungkannya, setelah ia mendengar Bella memanggil namanya dalam tidurnya. Ia jadi ingin menghitung, berapa kali Bella akan memanggil namanya.

“Pagi… ” Ujar Dennis saat melihat gadis itu mengerjapkan matanya, mulai terjaga.

Bella bangkit, mengucek matanya dan masih menguap. “Kau tidak pulang?” Tanyanya sambil melihat Dennis yang masih mengenakan pakaian tadi malam.

“Supirku sudah mengantarkan baju ganti. Sepertinya aku akan telat masuk kantor, karena ingin sarapan denganmu dulu. ” Ujar pemuda itu sambil menunjuk troli yang baru saja diantar room service.

“Kopi atau teh?” Ujarnya sambil meletakkan cangkir diatas piring kecil.
“Siapa Victoria?” Tanya Bella dengan acuh tak acuh.

Dennis tersenyum, lalu menuangkan teh pada cangkir tersebut. “Teman kuliah. ” Jawabnya singkat.

“Hanya teman?” Tanya gadis itu lagi sambil mengambil cangkir tehnya.

Pemuda itu menatap Bella lurus, tidak ada gunanya berbohong pada gadis ini. “Mantan pacar saat kuliah. ” Jawabnya dengan jujur sambil mengawasi reaksi Bella.

Tidak ada perubahan di raut wajah cantiknya. Bella dengan santai meneguk minumannya. “Tehnya enak. ” Ia tampak terlalu perhatian terhadap cangkir ditangannya. “Untuk apa kalian bertemu?” Tanya Bella sambil menatapnya tajam, kali ini.

Dennis tertawa kecil. “Dia bekerja sebagai analis pasaran di Queens Corp. Dan kami sedang membicarakan kemungkinan 7 Cell memasuki pasar Amerika. “Ujar Dennis dengan serius. Ia menyerahkan sepotong roti pada gadis ini.

“Wah, ini sisi Dennis Oh yang tidak kukenal. ” Bella menyesap tehnya perlahan.

Pemuda itu meraih tangannya dan menatapnya lembut. “Kau bisa percaya padaku. ” Janjinya pada gadis ini.

Bella hanya diam, tidak berkomentar apapun. Jarinya tampak memutar-mutari lingkaran cangkir tehnya. Ia tampak resah. Tapi Dennis tidak peduli, ia menarik Bella ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepalanya. “Aku senang sekali kau datang. ” Ucapnya bersungguh-sungguh.

Bella balas memeluknya. “Aku rindu berat. Untung saja manajerku pengertian. Kalau tidak, kita baru bisa bertemu sekitar 4 bulan lagi. ”

Dennis mengusap rambut Bella yang kali ini berwarna hitam. Sudah masuk musim dingin di Korea, sehingga penampilan Bella saat ini diubah menjadi Snow White. Hampir satu tahun lamanya ia sudah menjadi brand ambassador 7 Cell. Dan gadis ini berhasil membawa image yang baik untuk sebuah merk baru yang sedang berkembang.

“Orang tuaku mengundang kita makan malam, nanti. ” Ujarnya dengan hati-hati.

“Paman dan Bibi tahu darimana aku disini?” Tanya gadis ini heran, ia menatap Dennis seksama.

“Aku yang bilang. Ibuku senang sekali kau datang. ” Dennis menarik napas panjang. “Dan Ayahku sangat menyukai iklanmu yang terbaru. Dia bilang memilihmu sebagai modelnya itu tindakan jenius.” Ucapnya ogah-ogahan.

“Wah, sudah lama aku tidak bertemu Paman dan Bibi. Pakai baju apa yah?” Bella bangkit dan melihat isi lemarinya, mencari-cari gaun yang pantas.

“Kau pakai apa saja bagus kok!” Dennis melihatnya dengan pandangan heran. Sejak kapan Bella tidak yakin dengan penampilannya.

“Akukan harus terlihat baik dimata orang tua lelaki yang berkencan denganku. ” Ujarnya sambil lalu, namun membuat Dennis terbeliak senang.

Ia tersenyum sangat lebar, “Apa perlu kubelikan gaun Oscar De Larenta atau Alexander Macqueen? ” Tawarnya bersungguh-sungguh.

“Ini cuma makan malam biasakan?” Bella menoleh kepadanya dan tersenyum cerah.

“Siapa yang tahu, bisa saja pulang-pulang kau sudah memakai cincin berlian Winston di jari manismu. ” Dennis nyengir bahagia.

Tidak ada yang lebih membahagiakan baginya, melihat gadis ini tertawa dan tersenyum disisinya. Dennis tahu maksud kedatangan Bella saat ini. Ia sudah memutuskan menerima dirinya, meskipun tidak mengatakannya secara langsung. Dan Dennis merasa sudah saatnya mengatakan pada orang tua mereka tentang hubungan mereka.

“After a long time passed Bella, I got you (setelah waktu lama berlalu Bella, aku mendapatkamu)” Bisik Dennis pada dirinya sendiri dengan perasaan puas dan bahagia.

2 thoughts on “After A Long Time Has Passed, I Got You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s