The Day We Broke Up (Dihari Kita Putus)

Mencintai lebih dari ini, bisakah?

“Joon…. !” Suara Yuri menghentikan langkahnya, namun ia tidak berbalik.

Pemuda itu meskipun matanya terpejam ia masih dapat membayangkan wajah gadis itu saat memanggilnya, dengan ekspresi terluka dan suara yang bergetar. Menahan marah dan sakit hati. Mata bulatnya yang tampak basah. Dan tubuhnya gemetar dalam kesedihan.

“Mengapa?” Tanyanya dengan suara halus, mengungkapkan perasaannya yang tidak mengerti.

Terdengar langkah Yuri mendekat. Dan gadis itu mendekapnya dari belakang.

“Joon…. Jangan pergi. Kumohon. !” Yuri berbisik sambil menempelkan wajahnya pada punggung Joon dan melingkarkan pegangannya erat.

Joon mendesah. Merasakan gadis itu menangis dipunggungnya. Sejenak ia bimbang dan akhirnya membiarkan saja pelukan Yuri.

Perlahan Joon menyentuh tangan Yuri, jemari gadis itu dingin dan kemerahan. Cuaca sangat dingin dan meskipun ia memakai mantel, rasa dingin masih menggigit tulangnya. Namun gadis itu sepertinya tidak peduli atau sudah tidak peduli dengan apapun. Joon merasa sedih dan ingin menangis namun bila berbalik dan melihat gadis ini sekarang, pertahanannya akan rubuh. Jadi ia menahan dirinya.

“Mengapa kau tidak pakai sarung tangan?” Tanyanya dengan nada perlahan.

Joon merogoh kantung mantelnya dan menenemukan sarung tangan kulit. Ia memakaikannya pada tangan gadis itu.

“Udara sangat dingin, lain kali jangan hanya memakai pakaian tebal. Tanganmu sangat dingin. ” Ujarnya lembut.

“Selama ini aku tak pernah kedinginan, karena tanganmu selalu menggenggamku. ” Bisik Yuri dengan mengisak sedih.

Bulir-bulir air mata kembali menelusuri wajah cantiknya dan membasahi mantel Joon.

“Mulai saat ini aku tidak akan menggenggam tanganmu lagi. Jadi kau harus bisa menjaga dirimu, Yuri. ” Joon seolah mengingatkannya akan kenyataan bahwa perpisahan ini adalah nyata, bukan hanya mimpi buruk dalam tidurnya.

“Kau harus bahagia. Agar aku tidak merasa bersalah. ” Bisik Joon dengan lembut.

“Kalau aku tidak bahagia dan merusak diriku sendiri, apakah kau akan kembali?” Tanya Yuri getir.

Joon menarik nafas panjang. Walau Yuri yang ia kenal adalah wanita pintar dan mandiri, ia sudah menduga gadis ini akan menggunakan rasa bersalahnya untuk menahannya. Tapi ia tidak bergeming. Joon sudah memilih dan Yuri bukanlah pilihan utamanya lagi. Ia harus melakukannya. Ia harus tega pada gadis ini.

“Aku tidak akan ada lagi untukmu. Meskipun kamu menangis di jalan saat tengah malam. Meskipun kamu sakit dan tak punya siapapun yang akan merawatmu. Aku tak bisa kembali padamu. Aku tak bisa melakukannya untukmu. Maafkan aku, Yuri. ”

Semua kata-kata Joon terdengar bagaikan sayatan pisau yang perlahan mengupas jantung gadis itu. Menambahi luka yang baru saja ia terima. Membuatnya menyadari dengan jelas, bahwa apapun yang dilakukannya Joon tak akan peduli lagi dengannya.

Sudah berakhir. Segalanya selesai disini dengan ending cerita Joon meninggalkannya.

¤¤¤¤

“Apa yang terjadi padamu?” Tanya Joon dengan keras. Menatapnya dengan pandangan marah dan tidak percaya.

Yuri tersenyum lemah, “Melanjutkan hidup, tentu saja. ” Ujarnya dengan nada pahit.

Joon menatap gadis yang berbaring di hadapannya. Yuri tampak kurus, pucat dan kurang istirahat. Wajahnya semakin tirus dengan mata yang lelah. Gadis itu memangkas habis rambut panjangnya yang indah. Tadi saat tak sengaja menyentuh tangannya, ia dapat merasakan telapak tangan Yuri sangat kasar. Apa yang bisa membuatnya seperti itu? Joon bertanya-tanya dalam hati.

“Kau terlihat hebat. ” Ucap Yuri dengan tulus. Gadis ini tersenyum lembut.

“Kau tampak kacau. Apa yang kau lakukan selama dua tahun ini?” Kata Joon terus terang.

Sejenak mata gadis cantik ini berkabut. Ia memandang ke bawah dan berucap perlahan, “Aku beberapa kali mengalami sakit. Tetapi sekarang sudah lebih baik. ”

“Sakit?! ” Ulang Joon tidak percaya. Namun alasan apalagi yang dapat dipercayainya.

“Sakit apa?” Tanyanya lagi dengan nada sedikit keras.

“Sakit ini dan itu. ” Ucap Yuri dibarengi dengan senyum kecil yang tampak menyedihkan.

Joon memandang gadis itu dengan kemarahan yang menjalari hatinya.

“Apa kau sengaja melakukan ini?” Tuduhnya dengan nada dingin.

Gadis itu tercekat kesedihan yang tak tampak. Ia membalas tatapan Joon dengan ekspresi wajah terkejut. Namun dengan cepat ia kembali tersenyum.

“Apa akan ada pengaruhnya buatmu?” Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Joon sebelumnya.

Pemuda tampan bertubuh tinggi jangkung ini terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan Yuri. Ia mengawasi perubahan ekspresi wajah gadis ini. Yuri tampak sangat tenang namun kesepuluh jarinya saling menaut erat di pangkuannya. Buku-buku jarinya memucat saking kerasnya ia menggengam. Gadis itu kembali menahan perasaannya dan menelan semua kesedihannya sendiri.

“Aku baik-baik saja. ” Ucap Yuri seolah ingin menenangkannya. Ia duduk dan bersandar pada bantal yang ditinggikan.

“Ingin membodohiku?” Sergah Joon dengan keras. Pemuda itu melihat ke sekeliling, kamar rawat inap sebuah rumah sakit.

“Sungguh.” Ucap Yuri berusaha meyakinkannya, ” Sekarang jauh lebih baik dibandingkan beberapa waktu yang lalu. Aku berusaha, sangat berusaha keras. Tapi hanya seperti inilah kemampuanku. Maaf. ”

“Bodoh. ” Cetus Joon pelan.

“Jangan merasa bersalah padaku, apa yang terjadi padaku bukanlah tanggung jawabmu. Tidak ada hubungannya denganmu. ” Kata Yuri lagi dengan keteguhan yang tak dapat dimengerti.

Joon kembali melihat ekspresi wajah gadis ini yang tampak tenang. Dan jemarinya yang tampak saling meremas. Gelisah dan tak nyaman. Apa sesulit itu baginya melihatku ada disekitarnya saat ini? Pikir Joon dengan hati tersiksa.

“Kalau begitu, hapuslah nomor teleponku dari panggilan cepatmu. Sehingga apapun yang terjadi padamu, tidak akan terhubungkan lagi olehku. ” Ujarnya seolah memerintah, bukan meminta dengan sopan.

“Maaf. ” Yuri menunduk, setitik air mata menelusuri pipi mulusnya. “Aku akan menghapusnya. ” Ujarnya lagi.

Gadis itu meraih ponselnya yang sudah digunakannya selama bertahun-tahun dan ketinggalan mode. Ia memencet tombol dan menghapus speed dial nomor satu. Nomor telepon Joon.

“Juga foto-foto kita. ” Joon mengingatkan dengan perih.

Yuri menoleh padanya, memandangnya dengan mata kelam yang bersedih. Ia hanya diam dan kembali menelusuri ponselnya.

“Adalagi?” Tanyanya tanpa memandang wajah Joon. Ia kembali berbaring dan menarik selimutnya. Menyembunyikan tangis tanpa suaranya.

“Terimakasih atas pengertianmu. ” Joon berkata dengan dingin. “Mungkin ini terakhir kalinya, kita bertemu. ”

“Joon… ” Panggil Yuri dengan lemah. ” Apakah sampai akhir kau tetap tidak akan mengatakan alasan mengapa kau meninggalkanku?”

Joon menggeleng. “Maaf, Yuri. Aku hanya bisa mengatakan hal itu. ”

Perlahan ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.

“Joon, tak bisakah kita kembali? Aku sungguh… tidak dapat … menahannya … ” Tangis gadis itu mengisak. Membuat siapapun yang mendengarnya merasa kasihan dan iba.

Tapi tidak dengan Joon. Ia harus melakukannya, bersikap kejam dan dingin. Agar Yuri benar-benar terluka dan melupakannya. Yuri seharusnya membencinya setelah perlakuannya ini. Ia pergi tanpa melihat kebelakang lagi.

¤¤¤¤
Flash Back.
Sekolah Elit, kawasan Gurosu-gil. Apgujeong. Kelas 10-1. Jam pelajaran ke-3.

“Apa yang kau lakukan?” Seru seorang gadis dengan nada keras.

Joon mendongak, memandang wajah cantik Yuri dengan kedua belah pipi merah padam. Gadis itu tampak marah, melihat pemuda jangkung ini menduduki bangkunya dan memegang buku bersampul kulit miliknya dengan halaman terbuka.

Joon meletakkan buku tersebut di meja. Dan bangkit dari duduknya. Ia memegang tengkuknya dan menunduk membalas tatapan Yuri selembut mungkin.

“Aku melihatnya terbuka dan penasaran. ” Ujar Joon dengan nada sedikit merasa bersalah.

Yuri tidak memperdulikannya. Ia duduk di kursinya dan merapikan buku-bukunya yang bertebaran di meja. Gadis berambut indah ini memasukkan buku bersampul kulit tersebut ke dalam ransel putihnya. Dan kembali mengacuhkan Joon yang masih berdiri di dekatnya.

“Maaf. ” Ujar Joon perlahan.

Yuri masih diam dan tidak mau balas memandang pemuda ini.

Sudah menjadi rahasia umum Joon si anak nakal di Sekolah Elit di kawasan Garosu-gil, naksir berat pada Yuri si juara umum sejak semester pertama ia menginjak sekolah ini. Siapa yang tidak menyukai Kim Yuri yang cantik, baik hati dan pintar. Sialnya walau mereka selalu sekelas, Yuri selalu mengacuhkannya dan tidak menyukainya. Joon sadar dengan predikat siswa bandel dan digila-gilai siswi-siswi lain, semakin membuat Yuri antipati padanya.

“Kim Yuri, maukah kau pulang denganku?” Tanya Joon sambil tersenyum dan menaruh kedua tangannya dalam saku celananya.

Yuri mendongak padanya, tersenyum tipis dan berkata ” Aku dijemput ibuku. Tapi terimakasih. ” Ia kembali menekuri buku tebal yang baru saja dibukanya.

“Bagaimana kalau nonton bioskop diakhir pekan?” Kata Joon dengan berani. Ia tahu banyak siswa lain yang pernah mengajak Yuri jalan, namun belum ada satupun yang berhasil. Termasuk dirinya.

Yuri mendesah perlahan dan menatap wajah Joon yang tersenyum memikat.
“Lee Joon-ssi, maaf tidak bisa. ” Ucapnya dengan sabar.

“Oke. Mungkin lain kali. ” Joon tersenyum pahit dan kembali ke bangkunya yang terletak di barisan belakang.

Joon duduk sambil memandang Yuri yang berada di barisan paling depan, dekat jendela. Kursi favorit semua murid rajin dan pintar. Ia mendesah, untuk kesekian kalinya ia gagal. Tapi ia belum menyerah, Yuri adalah satu-satunya gadis yang menganggap buku pelajaran lebih menarik dari dirinya. Dan ini sedikit menyinggung harga dirinya.

Yuri berjalan kaki pulang dari tempat bimbingan belajarnya, sambil menjilati es krim cokelat vanila bertoping kacang. Cuaca mulai dingin tapi tidak bisa menghentikannya dari kesukaannya terhadap es krim. Ia tidak menyadari langkah-langkahnya diikuti oleh sesosok pemuda jangkung yang sudah memperhatikannya dari kelas bimbingan. Pemuda itu menepuk pundak gadis itu. Yuri tersentak dan tak sengaja cone es krimnya tumpah ke bajunya.

“Maaf. ” Pemuda itu menyodorkan sapu tangan dengan simbol merk mahal disalah satu sudutnya.

Yuri menerima sapu tangan tersebut dan membersihkan bajunya dengan hati sedikit kesal.

“Sedang apa kamu disini?” Tanya Yuri ketus.

Joon tersenyum, “Mungkin kamu tidak menyadarinya tapi aku sekarang juga belajar ditempat yang sama denganmu. ” Pemuda itu menjajari langkahnya dengan riang.

Yuri mendesah, “Sejak kapan kamu tertarik dengan pelajaran?” Ucapnya dengan nada skeptis.

Joon menggaruk-garuk kepalanya dengan wajah malu. “Sejak wali kelas kita mengancamku tinggal kelas. ” Katanya dengan ekspresi lucu.

“Bukankah rockstar tidak perlu belajar dan lulus sekolah?” Tanya Yuri mengingatkan pernyataan yang pernah dikatakannya saat dihukum guru tidak mengerjakan home work.

Joon tertawa keras. Ia senang Yuri mengingat kejadian itu.

“Aku mendapat peringatan dari manager saat melihat report nilaiku semester lalu. Jadi aku terpaksa ikut bimbingan belajar. ” Ia menjelaskan tanpa rasa malu.

Yuri menggeleng perlahan. Sepertinya hari-hari bimbingannya akan menjadi lebih ramai karena direcoki pemuda ini. Hah, habislah sudah kedamaiannya.

Flash Back End.

¤¤¤¤

Mencintai kurang dari ini, bisakah?

Joon menatap tidak percaya sosok yang baru saja melewati dirinya. Ia nyaris bangkit dari duduknya dan memanggil gadis itu. Gadis yang sangat cantik dengan tubuh indah yang dibalut gaun mahal. Gadis itu meliriknya dan tersenyum angkuh, lalu berjalan dengan percaya diri seolah-olah tidak mengenalinya.

“Yuri!” Desis Joon pelan. Ini benar-benar Kim Yuri, namun dengan tampilan berbeda dan aura yang sangat mempesona.

Joon memperhatikan gadis itu yang kini sedang dipeluk seorang pemuda yang tampan bermata tajam. Pemuda itu adalah CEO dari grup Daesoong. Lee Jun Seo. Pemuda itu berbisik pada Yuri, lalu gadis itu menoleh pada Joon dan menggeleng. Mereka lalu duduk di meja dekat kaca. Tempat yang mempunyai view terbaik di restoran ini.

Yuri kembali bertatapan dengan Joon. Namun pandangan gadis itu tampak jenuh dan tidak peduli. Sama sekali tidak terlihat terkejut, marah atau emosi lain yang harusnya tampak ketika mereka bertemu lagi. Setelah perpisahan menyakitkan dua tahun yang lalu. Joon untuk kedua kalinya meninggalkan Yuri tanpa menoleh lagi. Dan kini tanpa sengaja mereka berjumpa, Joonlah orang yang paling terpukul.

Benar saat ini ia berada dalam puncak karirnya setelah bertahun-tahun merintisnya. Dengan mengorbankan banyak hal. Tetapi saat melihat Yuri saat ini, hatinya terguncang. Benarkah pilihannya dahulu saat meninggalkan gadis itu? Beberapa kali ia pernah mencari kabar Yuri, tapi tidak menemukan apapun. Gadis itu sepertinya menghilang.

Saat Lee Jun Seo menerima telepon dan keluar ruangan, tiba-tiba Yuri berjalan mendekati meja Joon, menunduk ke arahnya. Membuatnya kembali bertanya-tanya sekaligus berdebar.

“Maaf, bisakah anda tidak melihat saya seperti itu?” Ujarnya dengan nada lembut dan menusuk.

Yuri kembali tersenyum dan menatapnya dengan pandangan aneh. Seperti meremehkannya.

“Tunangan saya pencemburu dan dia tidak suka melihat anda seperti itu. Saya jadi bertanya-tanya apakah anda mengenal saya? Karena terus terang saya tidak kenal pada anda. ” Ujarnya dengan ketenangan yang tak bisa dipercaya.

“Kim Yuri. ” Hanya kata itu yang bisa diucapkan Joon pada akhirnya.

Alis gadis itu berkerut samar.
“Kamu siapa?” Tanyanya bersungguh-sungguh. Tidak ada kebohongan di mata berbinar indah itu.

Setelah pertemuan yang tidak direncanakan itu, Joon jadi lebih banyak diam dan berfikir. Tadinya ia pikir tidak akan pernah melihat Yuri lagi, tetapi saat melihat gadis itu ia merasa sangat gelisah. Sudah dua tahun sejak terakhir kalinya ia melihat Yuri dalam keadaan terpuruk dan saat ini ia terlihat sangat berbeda. Jauh lebih cantik, berani dan tampak kembali mengacuhkannya seperti dulu. Atau sama sekali sudah melupakannya seperti yang ia suruh. Joon merasa terganggu. Oleh karena itu ia meminta kenalannya menyelidiki Kim Yuri.

“Gadis itu bernama Kim Yuri, tunangan dari Lee Jon Seo. CEO Daesoong Grup. Mereka bertemu sekitar satu setengah tahun yang lalu saat Yuri dirawat di rumah sakit. ” Ujar seseorang yang ditugaskan Joon mencari tahu tentang Yuri ditelepon.

“Gadis itu sempat koma setelah operasi, lalu Lee Jon Seo membawanya berobat ke Jepang. Dan baru dua bulan ini mereka kembali ke Seoul. ” Sambung pria tersebut memberitahunya.

“Operasi? Koma?” Ulang Joon tidak mengerti. Ia tidak mengetahui hal ini.

“Kim Yuri menderita penyakit Jantung dari kecil. Setelah kematian ibunya sekitar 3 tahun yang lalu, kondisinya memburuk. Apalagi setelah keluarga ayahnya mengambil semua aset perusahaan dan tidak meninggalkan apapun untuknya. Beruntung ia punya asuransi kesehatan dan mendapatkan cangkok jantung tepat pada waktunya. Namun entah mengapa kondisinya bukan membaik setelah operasi dan mengalami koma selama beberapa bulan. ” Pria tersebut kembali menjelaskan panjang dan lebar.

Joon terdiam menyimak semua kata-katanya. Mencoba mereka-reka apa yang terjadi dan betapa banyak hal yang tidak diketahuinya. Berapa tahun yang ia jalani bersama Yuri tanpa ia sadari gadis itu mengidap penyakit jantung. Pantas saja Yuri selalu tampak lemah, mudah sakit dan tidak pernah ikut olah raga di sekolah. Dan Joon sama sekali tidak tahu ibunya Yuri sudah meninggal. Kalaupun ia tahu saat itu, apakah ia akan kembali pada Yuri? Ia bertanya-tanya dalam hati.

“Setelah dibawa ke Jepang, ia sadar namun terkena amnesia. Karena sepertinya sebagian ingatannya hilang selama koma tersebut. Dan sekarang kesehatannya sudah pulih. ” Suara pria itu kembali menyadarkannya dari lamunannya.

Lalu apa? Setelah ia tahu Yuri sudah berbahagia dengan yang lain dan benar-benar lupa padanya. Tetap tidak akan mengubah apa-apa. Ia yang sudah meninggalkan gadis itu tanpa tahu apapun. Ia mungkin adalah penyebab memburuknya kondisi gadis itu. Ia jugalah yang akhirnya menjadi pemicu segala penderitaan yang telah dilupakan Yuri. Seharusnya saat ini ia bahagia, karena Yuri telah melakukan apa yang dipintanya 4 tahun lalu. Melupakannya dan berbahagia. Namun Joon sama sekali tidak senang dengan semua ini. Ia merasa hampa.

¤¤¤¤

“Ck, kau lagi. ” Ujar Yuri dengan nada jemu.

Gadis itu bahkan tidak mau menatap wajahnya dan kembali berlari-lari kecil dimesin treadmill.

Joon menghidupkan treadmill di sebelah gadis itu dan ikut berlari. Ia bahkan sengaja mendaftar di klub yang diikuti gadis ini. Setelah mencari segala sesuatu informasi tentang Kim Yuri.

“Menyebalkan. ” Rutuk gadis itu terang-terangan. Ia berhenti berlari dan menatap langsung pada Joon.

“Hei, Tuan. Sebenarnya maumu apa?” Tanyanya dengan wajah memerah marah, namun tidak kehilangan kecantikannya.

Joon memperhatikan sikap Yuri yang sekarang jauh berbeda dengan dahulu. Yuri yang sekarang akan mengatakan apa yang ada dipikirannya tanpa peduli dengan orang lain. Dingin dan kejam. Ia sudah kehilangan sifat baik hati dan ramahnya yang dulu. Pikir Joon di dalam hati.

“Bukankah sudah kubilang, aku teman sekolahmu. Namaku Lee Joon. ” Ujar Joon tanpa punya malu.

Yuri berdecak, kesal. “Aku tahu itu. Jon Seo Oppa sudah menyelidiki latar belakangmu. Katanya kau bekas pacarku saat di sekolah. ”

Joon tersentak. Jadi tunangan gadis ini juga sudah menyelidiki dirinya dan mengetahui masa lalu mereka.

“Kau sudah tahu itu?” Tanyanya memastikan.

Joon menatap wajah Yuri yang tidak berekspresi. Raut wajah cantiknya tampak datar dan tak peduli.

“Well, semua sudah berlalu. Jadi katakan apa maumu? Aku muak melihatmu berlari-lari di sekelilingku seperti anjing tersesat.” Kata Yuri bernada tajam.

Joon menatap gadis itu dengan perasaan tidak menentu. Mungkin memang sudah berakhir. Antara dia dan Yuri. Sudah tidak ada apapun. Bahkan untuk menunjukkan penyesalanpun ia tidak merasa pantas. Tetapi mengapa hatinya tetap menggeliat dengan keras, setiap kali mengingat gadis ini.

“Apa sekarang kau bahagia?” Tanya Joon bersungguh-sungguh.

Yuri meliriknya, raut wajahnya tampak melunak dan bibirnya mengandung senyuman tulus.

“Aku sangat bahagia. ” Ucapnya dengan keyakinan penuh.

“Dia memperlakukanmu dengan baik?” Cecar Joon lagi.

Yuri tampak sedikit tersinggung. Ia menatap tajam pada pria di sampingnya ini.

“Kau pikir aku apa? Kalau ia tidak baik padaku, tentu saja aku tidak mau bersamanya. ” Katanya dengan nada tinggi.

“Aku tidak tahu bagaimana hubungan kita dulu, aku tidak peduli. Tapi saat ini Jon Seo Oppalah yang paling mengerti aku. Bagiku Oppa yang paling penting di dunia ini, yang lainnya bukan urusanku. ” Sambungnya dengan ketus.

Kata-kata Yuri barusan menohok batin Joon. Rasa bersalah dan malu membuatnya terdiam dan tak bisa membalas satu katapun pada gadis ini.

“Maaf… ” Ujar Joon bersungguh-sungguh.

Gadis cantik itu menatapnya heran. Menyilangkan kedua belah tangannya didada. Dan bersikap tidak peduli.

“Untuk semuanya. Aku minta maaf. ” Joon menatap wajah itu dengan tidak nyaman.

“Apa yang telah kau lakukan?” Tanya Yuri dengan senyum meremehkan. “Untuk kesalahan dimasa lalu, yang bahkan tidak kuingat. ” Ia tertawa sumbang.

Joon menyentuh lengannya, merasa tersinggung. Yuri menoleh padanya dengan raut wajah keras.

“Jangan seperti itu Yuri. ” Ucapnya perlahan.

Yuri tersenyum sinis, menyingkirkan tangan Joon. “Oh, aku selalu melakukan apa saja yang kuinginkan. Dan siapa kau, beraninya berkata seperti itu padaku. ”

“Mengapa kau jadi seperti ini?” Desah Joon tidak mengerti.

Yuri kembali tertawa, “Seperti apa? Seperti inilah aku adanya. Tidak ada urusannya denganmu. Jadi, berhentilah mengikutiku. ” Ucap Yuri sebelum akhirnya meninggalkannya.

Joon menatap punggung gadis itu, yang melenggang dengan santai menuju ruangan loker perempuan.

“Kau berubah. Sangat berubah. Tapi mengapa hati ini…… Semakin menginginkanmu… ” Ucap Joon pada dirinya sendiri.

¤¤¤¤

“Oppa..” Rajuk gadis cantik itu yang tiba-tiba saja muncul di ruangan kerja Jon Seo.

Pemuda tampan yang berkaca-mata ini tersenyum. Hal yang sangat jarang dilakukannya selain pada gadis yang sudah menjadi tunangannya ini.

Yuri duduk dipangkuannya dan mengalungkan lengannya pada leher Jon Seo.

“Ada apa sayang?” Jon Seo memandang gadis itu dengan tatapan memuja.

“Aku lelah. ” Bisiknya.

Yuri memeluknya dan menyandarkan kepalanya di bahu Jon Seo. Gadis itu memejamkan matanya dan menghirup aroma maskulin dari tubuh pria di hadapannya.

Jon Seo membelai punggung terbuka gadis ini. Wanita yang paling menarik dimatanya, sekaligus yang sangat disayanginya. Jon Seo mengecup punggung tangan Yuri.

“Kenapa?” Tanya pria ini sambil menarik dagu kekasihnya sehingga ia dapat melihat mata lebar Yuri.

“Ada pria gila yang muncul dimana-mana. Membuatku muak. ” Katanya Yuri dengan bibir mencebik.

Jon Seo mengedipkan matanya, merasa tidak nyaman. Ia tidak begitu tahu bagaimana Yuri sebelum bertemu dengannya, tetapi Yuri yang dikenalnya selalu membuatnya merasa takut kehilangan. Gadis ini terlalu cantik, pintar dan susah ditebak. Walaupun Yuri sangat mempercayainya dan selalu mengikuti semua kata-katanya. Tapi dengan pesonanya itu Yuri terlalu sulit untuk ditolak siapapun. Dan kini mantan kekasihnya, yang seorang rockstar muncul. Semakin membuat Jon Seo gelisah.

“Kau ingin kembali ke Jepang?” Tanyanya bersungguh-sungguh.

Yuri tersenyum, “Aku mau kalau Oppa juga ikut. Tapi kalau sendirian, tidak menyenangkan. ” Katanya sambil merapikan dasi pria yang tergila-gila padanya ini.

Jon Seo membelai rambut hitam Yuri. Menatapnya dengan pandangan berhati-hati. Mengukur kesungguhan gadis ini. Bersyukur betapa beruntung ia memilikinya.

“Aku juga tidak suka bila tidak bisa melihatmu…. ” Ujarnya berterus terang.

Yuri tertawa kecil. Berdiri dan berjalan ke sofa tempat tamu duduk.
“Oppa tidak mempercayaiku?” Tanyanya dengan mata bersinar jahil.
Jon Seo menyusulnya dan duduk di sebelahnya. Menggenggam tangannya lembut. Dan mengusap perlahan lengan gadis cantik ini.

“Oppa percaya padamu. Tapi tidak dengan laki-laki di luar sana. ”

Yuri tertawa dengan manis. Ia mengecup pipi kekasihnya. Dan menatapnya penuh rasa sayang.

“Oppa benar-benar, deh. ” Ucapnya dengan renyah. “Cuma Oppa yang bisa membuat perasaanku membaik. ”

¤¤¤¤

Kedua pria ini duduk berhadapan di ruang private sebuah restoran terkenal. Sama-sama tampan dengan gayanya masing-masing, juga sama-sama sukses dan kaya. Dan yang paling penting, keduanya mencintai wanita yang sama.

Jon Seo menatap pria di hadapannya dengan pandangan dingin. Seolah menilai dan mempertimbangkan sesuatu.

Joon dengan gaya kasualnya namun tidak bisa menghilangkan aura bintangnya, membalas tatapan Jon Seo dengan sikap rileks dan santai.

“Aku dengar belakangan ini, kau sering berada di sekitar Kim Yuri. Dan ia tidak merasa nyaman dengan hal itu. ” Ujar Jon Seo dengan nada lugas.

Joon tersenyum dan bersandar pada kursinya yang nyaman. “Aku memang selalu membuatnya seperti itu. Dari dulu. ” Katanya dengan tanpa malu-malu.

Rahang Jon Seo mengeras, ia menatap Joon dengan menusuk. “Bisakah anda tidak mengganggu tunangan saya?” Pintanya dengan sopan.

“Apa Yuri yang memintamu melakukan itu? Atau anda sendiri yang berinisiatif? Hah, aku tidak percaya. Sudah bertunangan tapi masih insecure. Apa aku mengganggu hubungan kalian?” Tanya Joon dengan nada ringan seolah sedang membicarakan cuaca hari ini. Ia sudah tidak merasa perlu berbasa-basi lagi.

Jon Seo menarik nafas panjang. Ia sadar Lee Joon, seorang rockstar kebanggaan korea bukanlah lawan yang mudah. Apalagi dengan hubungannya dimasa lalu dengan Yuri, sudah cukup membuatnya merasa terancam. Tapi pria inilah yang dulu meninggalkan Yuri. Membuat gadis itu hancur dan terluka. Penderitaan yang disebabkan pria ini yang membuat Yuri sampai nyaris kehilangan semangat hidupnya dan amnesia. Namun bila tidak begitu mungkin Jon Seo tidak bisa bertemu Yuri dan punya kesempatan bersamanya, hingga sekarang.

“Mohon menjauhlah. Kau tidak tahu apa yang telah dilaluinya hingga jadi seperti ini. Yuri tidaklah sekuat yang kau bayangkan. Kau tidak dapat membayangkan betapa hancurnya Yuri dua tahun lalu, dan semua itu karenamu. ” Ucap Jon Seo penuh tekanan. Raut wajahnya tampak keras saat ini.

Joon menatapnya dengan pandangan marah, senyum dibibirnya telah hilang. “Apa hakmu berbicara seperti itu? Kau tidak tahu apapun. ”

Jon Seo tersenyum mengejek. “Aku tahu semuanya. Kau meninggalkannya dengan kejam. Apapun alasanmu saat itu, kau sudah melakukannya. Dan aku bertemu Yuri. Sekarang ia sudah bahagia bersamaku. Jadi kembalilah pada duniamu. Jangan mengusik Yuri lagi. ”

“Kalau memang hubunganmu sekuat itu, kenapa harus takut padaku?” Balas Joon dengan nada tak mau kalah.

“Aku bukan takut padamu, aku hanya tidak ingin Yuri terluka lagi. Seperti yang kau buat dahulu. Apa kau tidak mengerti?” Kata Jon Seo dengan keras.

“Kau sendiri, apa yang telah kau lakukan pada Yuri? Kau merubahnya menjadi wanita kasar dan dingin. Dia bukan wanita seperti itu. ” Tuduh Joon dengan nada yang juga keras.

“Aku tidak peduli Yuri seperti apa, selama ia tetap Yuri. Aku akan tetap disisinya. ” Kata Jon Seo penuh percaya diri.

Rahang Joon mengeras, ia tampak sangat marah. “Aku akan membuatnya kembali seperti dulu. ” Ucapnya bersungguh-sungguh.

“Apa kau yakin Yuri mau kembali seperti dulu? Kau tidak tahu apa yang sudah dialaminya sampai saat ini. Kau tidak tahu apapun. ”

“Tutup mulutmu. Kau yang tidak tahu apapun. ” Potong Joon dengan kesal.

Wajah kedua pemuda ini tampak emosi dan memerah. Dan keduanya sama-sama tidak mau mengalah.

“Kali ini, aku tidak akan melepaskan tangannya lagi. ” Ucap Joon penuh tekanan.

Jon Seo menatapnya tajam, “Kau coba saja. Tapi pada akhirnya Yuri tetap akan memilihku. Kau salah kalau menganggap aku yang merubah Yuri. Kaulah yang merubahnya. Kau yang mendorongnya seperti itu. Dan aku berterimakasih padamu, karena kaulah aku jadi punya kesempatan dengannya. ” Ucapnya dengan santai, sengaja membuat Joon semakin kesal padanya.

Joon bangkit dengan wajah sangat menakutkan. Pergi meninggalkan Jon Seo yang juga memendam rasa tidak suka, sama banyaknya dengan yang dirasakannya.

¤¤¤¤

Semua sudah berakhir dihari kita putus.

Yuri keluar dari mobil dan memerintahkan sopir untuk menjemputnya satu jam lagi. Gadis yang sangat cantik ini merapikan gaun hitam sederhananya dan mencengkram erat handbagnya. Ia melangkah masuk ke Rumah Abu. Hari ini adalah peringatan kematian ibunya dan Yuri untuk pertama kalinya mengunjunginya.

Saat ia masuk ke ruangan tempat abu jenasah ibunya disemayamkan, sudah ada sosok lain yang duduk di sana.

“Kau.. ” Pekik Yuri kaget. Dan kesal.

“Aku baru tahu kalau hari ini peringatan untuk ibumu. ” Ujar Joon dengan tenang.

Gadis itu menarik nafas panjang lalu bersikap tidak peduli.

Yuri membakar hio dan lilin. Menaruh setangkai bunga lili dan berbicara kepada ibunya dalam hati.

“Ibu, apakah kau baik-baik saja?” Tanyanya dengan sinar mata melembut.

“Aku merindukanmu. ” Bisiknya lagi.

“Ibu, saat ini aku sangat berbahagia dengan Jon Seo Oppa. Ia baik hati, lembut dan sangat mencintaiku. ”

“Ibu, kau juga akan menyukainya bila bertemu dengannya. Aku mencintainya. Sangat. ”

Yuri menatap foto ibunya dengan pandangan sedih. “Walaupun begitu, aku tetap merindukanmu bu. ”

Joon menatap Yuri dengan pandangan terluka. Dulu ia adalah bagian dari semua ini. Dan sekarang ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan gadis ini. Apa yang sedang dikatakannya pada ibunya. Joon merasa bersalah dan juga sedih.

“Yuri… ” Katanya dengan lembut. “Yuri-ku. ” Ulangnya lagi.

“Kau tahu apa yang kurasakan saat pertama kali melihatmu? ” Tanya Yuri tanpa melihat padanya.

“Apa?” Joon menatapnya dengan pandangan lembut.

“Kebencian. Rasa muak dan kesedihan. Aku tidak tahu mengapa seperti itu. Padahal aku tidak mengenalmu apalagi ingat tentangmu.” Ucap Yuri dengan wajah datar.

Joon kembali terpukul dan marah. Namun memilih tidak mengatakan apapun.

“Aku tidak peduli dengan masa lalu yang pernah terjadi diantara kita. Aku tidak ingin mengetahuinya. Dan aku memutuskan seharusnya aku tidak boleh membencimu. Karena buatku, kau bukan apa-apa. ” Yuri menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi dan mata yang bersinar kelam.

“Jangan berkata seperti itu. ” Ucap Joon dengan pelan. Ada rasa sakit yang menyelinap disanubarinya.

“Sebenarnya apa maumu?” Tanya Yuri dengan berani menatap wajahnya.

Joon mendesah. Memandang wajah Yuri yang sempurna dan cantik. Penyesalan yang ia rasakan tiap kali melihat gadis itu. Yang kini bersama dengan orang lain.

“Aku ingin dimaafkan. ” Bisiknya perlahan. “Aku ingin hatimu, lagi. ” Ucap hatinya.

Yuri tersenyum. Tapi bukan sebuah senyum yang memikat, namun sebuah senyum meremehkan.

“Aku maafkan. Apapun itu. Jadi berhenti merecokiku lagi. ” Ucapnya datar dan tanpa perasaan.

Joon menarik lengannya. “Jangan mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati orang, dengan mudahnya Kim Yuri. ” Katanya dengan suara dingin.

Yuri kembali tersenyum, menatapnya dengan keberanian. “Lucu. Aku sepertinya melihat kau punya maksud yang lain. ”

Joon menatap langsung pada Yuri. Matanya yang berbinar indah. Yang ingin dia miliki lagi. “Kau bukan gadis kasar Yuri. Kau pintar, baik hati dan lembut. ” Ucapnya perlahan dan penuh perhitungan.

“Aku sudah bilang bahwa aku tidak peduli dengan masa lalu yang bahkan tidak kuingat. ” Yuri menatapnya dengan tajam. Tidak mengerti apa yang sedang dicari Joon pada dirinya.

“Tapi aku tidak bisa. Aku selalu mengingatmu. ” Kata Joon menolak. “Aku selalu merasa bersalah. Aku tidak bisa melepaskanmu. ” Jeritnya dalam hati.

“Tunggu…. ” Yuri tersenyum dan menatapnya lekat-lekat. “Jangan bilang kau masih mencintaiku. ” Sebuah senyum sinis singgah dibibirnya.

“Oh, Tuhan. Jadi selama ini, semua perbuatanmu hanya karena kau masih punya perasaan padaku. ” Yuri tertawa mengejek.

Terkejut karena Yuri menebak isi hatinya. Dan tersinggung dengan reaksi gadis itu yang meremehkannya membuat Joon merasa sangat marah. Ia menarik Yuri rapat padanya. Dengan cepat ia menunduk, melumat bibir merah gadis itu dengan kasar.

Yuri shock, marah dan tak sempat menghindar. Matanya nyalang dan ia mendorong tubuh Joon sekuat tenaga. Namun tidak bergeming. Tenaga pemuda ini terlalu kuat untuknya. Joon menekan pinggang Yuri erat kepadanya. Membuat gadis itu semakin marah, ia membuang wajahnya ke samping. Namun dengan cepat, sebelah tangan Joon menarik bagian belakang lehernya. Sehingga membawa wajahnya kembali menghadap ke depan. Bibir Joon kembali menyambutnya, rakus. Jari-jari Yuri mengepal dalam himpitan rengkuhan Joon. Ia mengatupkan bibirnya tidak membalas ciuman Joon yang bertubi-tubi. Kasar dan memaksa.

Yuri teramat marah sehingga merasa hampir meledak, namun ia tidak bisa menolak perlakuan Joon. Jadi ia membiarkannya saja. Gadis ini menatap Joon dengan pandangan penuh kebencian, tidak terpengaruh dengan yang dilakukan Joon padanya. Hingga Joon melepaskannya, masih dengan napas memburu dan wajah memerah.

“Sudah cukup?” Kata Yuri dengan seringai sinis. Ia menghapus bekas ciuman Joon dibibirnya seolah itu tidak berarti apapun. Lalu gadis itu tertawa merendahkannya.

Joon menatapnya tidak percaya dan tersinggung. “Mengapa kau tertawa?” Tanyanya pada Yuri.

“Akhirnya aku tahu apa yang kau inginkan sebenarnya. ” Ucapnya dengan nada biasa, masih terlihat bekas tawa di wajah cantiknya.

“Apa?” Kata Joon dengan hati-hati.

Sebuah senyum memikat menghiasi wajah cantik gadis itu. “Kau hanya ingin tidur denganku. Kau menginginkan tubuhku kan?” Yuri kembali tertawa mengejeknya.

“Plak. ” Joon mengayunkan tangannya tanpa sadar, menampar wajah Yuri. Ia merasa sangat marah dan terhina dengan kelakuan Yuri. Tapi kemudian ia menyesalinya setengah mati. Seharusnya ia tidak menampar Yuri. Ia tidak pernah memukul wanita, apalagi orang yang sangat diinginkannya. Raut wajah Joon sangat tersiksa, seolah ia baru saja menegak racun yang mematikan.

Tapi Yuri kembali menatapnya dengan senyuman merendahkan dibibir manisnya. Pandangan matanya sangat menusuk dan ia berkata pelan “Sampah. ” Namun terdengar bagai petir di telinga Joon.

¤¤¤¤

Joon mengamuk seperti orang gila. Menghancurkan apa saja yang ada di depannya. Berteriak frustasi dan memukul hancur meja kaca di mansion mewahnya. Tidak memperdulikan darah yang mengalir dari buku-buku jari panjangnya yang berharga.

Manajernya muncul dan segera menahan tubuhnya yang seperti kesurupan, menghancurkan barang-barang di ruang tengah rumahnya. Butuh 3 orang lelaki dewasa yang dapat membuat Joon berhenti bergerak. Namun ia masih berteriak dengan keras. Memaki-maki dengan wajah memerah.

“Apa yang terjadi?” Tanya Manajernya pada asisten pribadinya.

“Kim Yuri. ” Bisiknya takut-takut.

Pandangan mata Manajernya langsung mahfum. “Apa ia mabuk?” Tanyanya lagi.

“Tidak. Tapi sepertinya gadis itu membuatnya marah. ” Ucapnya berbisik.

Manajernya menatap Joon yang masih tersenggal-senggal dengan wajah keras. Sementara 3 orang pria dewasa yang menahannya tampak kewalahan.

“Lee Joon, sudah cukup. ” Hardik Manajernya dengan keras.

Joon tidak memperdulikannya. Menggeliat dalam kurungan laki-laki yang berusaha membuatnya tenang.

“Lee Joon. ” Kembali Manajernya menghardik. “Sadarlah. ” Ucapnya marah.

Pemuda itu balas menatapnya marah. “Apa yang sudah kulakukan pada Kim Yuri? Apa yang telah kulakukan padanya? Aku menyesal. Aku menyesal Hyung. Aku sangat menyesalinya. ” Teriaknya dengan keras.

“Plak..” Manajer yang dipanggilnya Hyung, menamparnya dengan keras.

“Sadarlah, Joon. Apa yang sedang kau lakukan?” Katanya memarahi anak didikannya ini.

“Aku menginginkan Kim Yuri, Hyung. Semakin ia menolakku, semakin membuatku ingin mendekatinya. Aku tersiksa. Aku tak bisa menahannya lagi. Aku masih mencintainya. Aku menyesal meninggalkannya. Aku sangat menyesal. ” Ucapnya dengan terburu-buru.

Manajernya tertegun mendengar perkataannya. “Joon, 4 tahun lalu kau sudah memilih meninggalkannya. Kau harus memikirkan karirmu saat ini, kau sedang dipuncak kejayaanmu. Untuk apa mengingat gadis itu lagi.” Katanya mengingatkan pemuda itu.

“Apa kau tahu Hyung, ibu Yuri meninggal 4 tahun lalu. Gadis itu jatuh miskin. Sakit. Operasi jantung. Koma. Lupa ingatan. Dan bertemu orang lain. Aku tidak tahu apapun. Aku meninggalkannya dengan kejam. Aku pantas mati Hyung. Mati dengan sengsara. Tapi demi Tuhan, aku masih menginginkan gadis itu. Hanya dia. ” Teriak Joon dengan suara serak dan nyaris menangis.

“Kau membuatku terlihat bodoh, Hyung. Dengan menutupi semuanya.” Suara Joon tercekat dan melemah.

“Joon, sadarlah. Semua sudah terjadi. Tak ada yang bisa mengembalikannya. Kau harus berkonsentrasi pada karirmu saja. Lupakan gadis itu. Ia sudah bahagia dengan orang lain. Ia bahkan hampir menikah. ” Manajernya menguncang bahunya, berusaha menyadarkannya.

Joon tertawa lirih. Terlihat putus asa dan tampak sedikit gila.
“Aku tidak peduli. Aku akan merebutnya, Hyung. Aku bisa membuatnya mencintaiku lagi.”

“Jangan gila, Joon. Aku tidak mengijinkannya. ” Marah Manajernya.

Joon menatapnya dan kembali tertawa. “Aku tidak peduli, Hyung. Aku akan menghancurkan semuanya kalau kau tidak membantuku. ” Katanya dengan nada mengancam.

Manajernya tertegun, dan Joon masih menatapnya dengan wajah keras.

“Kau harus membantuku, Hyung. ” Paksanya dengan penuh tekanan.

¤¤¤¤

Yuri tidur dengan gelisah. Sudah beberapa hari ini ia tidak bisa tenang. Setiap hari ada saja yang mengirimkannya foto-fotonya dengan Joon. Video rekaman saat ia bersama Joon. Awalnya Yuri hanya menganggap ini tidak penting. Tapi setelah setiap hari hampir selama dua minggu lebih, dicekoki hal yang sama. Yuri mulai merasa terganggu. Perlahan ia merasa takut dan tidak nyaman. Setiap malam setelah itu ia mimpi buruk. Ia tidak tahu persis apa yang terjadi, namun hatinya terasa sangat sedih. Ia selalu menangis dalam tidurnya. Dan ia tidak tahu alasannya apa. Hal ini membuat suasana hatinya semakin buruk.

“Yuri… Sayang. ” Jon Seo menguncang bahunya lembut.

Yuri mengerjapkan matanya, bingung. Wajahnya basah dengan air mata. Dan hatinya entah mengapa terasa sakit.

“Oppa!” Bisiknya halus. Ia bangkit dan memeluk Jon Seo yang tampak cemas.
“Mimpi buruk?” Tanya Jon Seo lembut. Ia membelai puncak kepala tunangannya dengan penuh kasih.

“Aku memimpikan dia, Oppa. ” Ujarnya dengan suara bergetar oleh rasa takut.

Jon Seo tahu benar, siapa yang disebut dia oleh Yuri. Ia membalas pelukan Yuri. Menepuk-tepuk pelan punggung gadis yang sangat dicintainya ini. Membiarkannya menangis sedih di dadanya.

“Dia orang yang jahat. Dia kejam sekali, Oppa. Dalam mimpiku dia meninggalkanku meski aku sudah memohon. Mengemis padanya. Dia bahkan tidak melihat ke belakang. ” Tangis Yuri tergugu.

Jon Seo mengeratkan pelukannya. Merasakan kesedihan yang dialami gadis ini dahulu.

Lee Joon, pria itu benar-benar membuat gadis ini trauma. Dan Jon Seo tahu selama ini pemuda itulah yang mengirim foto dan video pada Yuri. Ia sengaja membuat Yuri ingat lagi kenangan-kenangan mereka. Benar-benar lelaki egois yang mau menang sendiri. Ia bahkan tidak peduli dengan apa yang sebenarnya Yuri inginkan. Apa yang terbaik buat gadis ini.

“Oppa, aku takut. ” Bisik Yuri dengan lemah. “Kau tidak akan meninggalkanku kan?” Gadis itu menatapnya dengan pandangan memohon.

Jon Seo tersenyum lembut, mengusap wajahnya yang basah. “Kau tahu, aku tidak pernah bisa seperti itu. ” Ucapnya bersungguh-sungguh.

“Oppa, berjanjilah!” Pinta gadis ini dengan halus. Ia mengusap wajahnya yang penuh lelehan air mata.

Jon Seo memegang kedua belah bahunya, tampak berpikir keras. “Yuri, aku langsung jatuh cinta pada saat pertama kali melihatmu. Sejak saat itu aku sudah memutuskan, hanya ada kau untukku. Selamanya. Hubungan kita tidak mudah, tapi kita bisa melewati semuanya dan bertunangan. Dan aku pikir mungkin sudah saatnya bagi kita untuk menikah, bagaimana menurutmu?” Pemuda ini berkata di dalam hati, sambil menatap wajah wanita yang sangat ia cintai di hadapannya.

Jon Seo menangkupkan kedua belah tangannya pada pipi Yuri. “Hmm, wajah seperti ini. Mata sebesar ini. Hidung mungil yang runcing. Bibir merah yang selalu merekah bagai mawar. Kupikir aku ingin menikah dengan pemilik wajah ini.” Ia mengecup sekilas bibir Yuri. Dan tersenyum memamerkan lesung pipinya yang dalam.

“Menikah?” Yuri mengulang perkataan tunangannya. Wajahnya tampak pucat dan kosong. Tertegun.

“Maukah kau menikah denganku? Dan menjadi istriku? Aku tidak bisa menjanjikan kita selalu bahagia. Tapi aku pasti selalu berusaha membuatmu bahagia, aman dan tidak kekurangan apapun. Kau cukup berada disisiku, tersenyum dan melakukan apa saja yang kau sukai. ” Jon Seo tersenyum, menyelipkan sejumput rambut kebalik telinga gadis cantik ini.

Perlahan rona memerah menjalari wajah Yuri. Binar-binar bintang muncul dimata lebarnya. Bibir merahnya mengulum senyum malu-malu. “Oppa tidak romantis, masa melamarku disaat seperti ini. Aku pasti terlihat jelek. ” Ucapnya tampak bingung dan ngelantur. Yuri menunduk dan menyembunyikan wajahnya.

Jon Seo tertawa, lalu menarik Yuri kedalam pelukannya. “Kau tidak jelek kok. Kau terlihat manis dengan piama ini dan wajah bekas menangis. Aku tetap ingin menikahimu meski ingusmu kemana-mana ” Bisiknya pada Yuri dengan nada bercanda.

“Oppa…. !” Yuri membalas pelukannya erat. Ia bahagia. Hanya dengan berada disisi Jon Seo saja ia sudah merasa cukup. Pria ini, ia mencintainya dan menghormatinya. Meski selama ini ia tidak selalu menunjukkan perasaannya, tapi ia juga mencintainya sebanyak perasaan pria ini.

“Aku mau, Oppa. Jadi istrimu. ” Ucapnya perlahan dengan suara bergetar. Wajahnya entah mengapa menjadi sangat merah dan rasanya ia ingin menangis lagi.

“Hei, jangan menangis lagi. ” Bujuk kekasihnya lembut.

Mereka masih berpelukan dengan rasa bahagia.

“Ohya, aku heran kok Oppa bisa ada disini? Kapan Oppa datang?” Tanya Yuri sambil menatapnya dengan serius.

“Maaf, belakangan ini aku sangat sibuk hingga sulit menemuimu. Aku dengar dari Nyonya Ahn kau sering bermimpi buruk, jadi aku mampir kemari untuk melihatmu. ” Jon Seo mengusap dahi gadisnya dengan sayang.

“Kau pasti sayang sekali padaku. ” Ujar Yuri dengan mimik muka menahan tangis. Diam-diam ia merasa terharu.

¤¤¤¤

Yuri menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan bosan dan jenuh. Sudah beberapa hari ini ia tidak keluar rumah, karena tidak ingin bertemu dengan Joon. Yah, Joon mengikutinya terus seperti plester yang menempel dikulit. Dan itu membuatnya kesal. Belum lagi hujanan bunga dan hadiah-hadiah yang dikirim Joon ke apartementnya. Yuri tidak habis pikir bagaimana dan dengan cara apa Joon bisa mendapatkan alamatnya.

Sekarang Joon entah bagaimana bisa muncul diparkiran usai Yuri melakukan chek-up ke dokter spesialis jantungnya. Dan menyudutkannya dengan paksa.

“Mengapa kau mengembalikan semua hadiah yang kuberikan?” Tanyanya dengan suara kesal.

“Aku tidak suka. ” Ujarnya dengan datar dan masih mempertahankan wajah tidak pedulinya.

Joon berdecak kesal dan memegang tengkuknya, menahan emosinya.

“Aku memberikan itu semua, sebagai penebusan kebodohanku selama 4 tahun ini. ” Joon menatap mata Yuri langsung dan memegang bahunya lembut.

“Aku tidak butuh semua itu. ” Ujar Yuri sambil menepis tangan Joon.

Joon menarik napas panjang, menahan amarahnya karena penolakan Yuri lagi.

“Aku mampu memberikan semua hal yang bisa diberikan pria itu. Aku tidak kalah darinya. Aku ingin kau kembali padaku, Yuri. ” Ucapnya dengan tenang dan bersungguh-sungguh.

Yuri mendesah, “Aku akan menganggap percakapan ini tidak ada. Sebaiknya kau berhenti melakukannya, kami akan segera menikah. ” Katanya dengan suara tegas.

“Apa??” Joon terkejut dan nyaris berteriak. Ia memegang kedua lengan Yuri dengan kencang.

“Aku dan kamu sudah lama berakhir. Kamu harus terima itu. Dan jangan membuatku susah dengan tingkahmu yang sulit seperti ini. ” Ucap Yuri tanpa memperdulikan kedua lengannya yang terjepit.

Joon nyaris menggeram, melihat betapa dinginnya perkataan Yuri padanya. “Aku mencintaimu Yuri. Jangan seperti ini padaku. ” Bisiknya seperti memohon.

Yuri menatapnya dengan pandangan kasihan sekaligus bosan. “Kamu tidak ada saat aku sangat membutuhkanku. Kamu membuangku, Lee Joon-ssi. Lalu aku bertemu dengan Jon Seo Oppa, kami saling jatuh cinta. Dan aku sudah lama sekali melupakanmu. Jadi bagian mana yang tidak kau mengerti?”

Joon semakin memperkuat cengkraman jarinya. “Aku tidak percaya, kau sudah tidak mencintaiku. Kau hanya ingin menghukumku kan? Menyiksaku? Aku tidak sanggup lagi Yuri. ” Pemuda itu meraih tangan Yuri dan menempelkannya didada sebelah kirinya. “Hatiku sakit. Disini, rasanya terbakar Yuri. Rasanya sangat sengsara hingga aku ingin mati saja. ”

“Kumohon, jangan seperti ini. Maafkan aku dan kembalilah padaku. Kali ini aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu lagi. Aku janji. ” Joon memegang sebelah pipi gadis itu. Memaksanya menatap langsung padanya, melihat kedalam bola mata itu.

Yuri menarik nafas panjang dan mengelengkan kepala. Merasa lelah. “Aku tidak sedang menghukummu. Sungguh. Tapi aku benar-benar sudah tidak merasa apapun padamu. Bahkan aku tidak merasakan marah atau benci lagi padamu. ”

“Itu tidak mungkinkan?” Ucap Joon tidak percaya. “Apa hebatnya dia, selain kaya? Aku juga kaya. Apa lebihnya dia dari aku?” Kata Joon keras, mulai kehilangan kesabarannya.

“Kau tidak akan mengerti. ” Ucap Yuri kesal. Ia menepis tangan Joon. Dan kini ada bercak merah dikedua lengan mulusnya.

“Buat aku mengerti. ” Sergah Joon keras kepala.

Yuri mengusap wajahnya. Lalu kembali mendongak pada pria di hadapannya. “Dia mencintaiku tanpa syarat. Dia tidak peduli dengan latar belakangku, masa lalu, keadaanku bahkan sifat burukku. Dia menerima semua hal dalam diriku tanpa meminta apapun. Dan jangan tanya mengapa aku mencintainya. Aku tidak tahu alasannya. Aku merasa nyaman dan terlindungi dengannya. Yakin dan tidak pernah merasa takut akan apa yang akan terjadi esok hari. Bisakah kau mengerti?”

Joon diam, mencerna semua perkataan Yuri yang membuat perasaannya semakin sakit. Namun ia masih tidak bisa melepaskan gadis ini. Gadis ini sudah menjadi obsesinya sejak kelas 1 SMU. Tadinya ia pikir musik dan karirnya lebih penting dari segalanya, dan ia memilih itu. Tapi setelah waktu berlalu, ia tetap merasa hampa. Kim Yuri tetap menjadi ratu yang berkuasa dihatinya. Meskipun kini gadis itu telah sangat berubah. Tapi dia tetap mencintai gadis ini dan ingin memilikinya.

“Aku juga mencintaimu tanpa syarat. Kesalahanku adalah pernah meninggalkanmu. Dan kau tak mau memaafkanku karena itu. ”

“Bukan tidak mau memaafkan, tapi sudah ada orang lain yang kucintai. Ya Tuhan, sudahlah. Aku mau pergi. ” Yuri menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia mendorong tubuh Joon dan berbalik membuka pintu mobil.

Tapi Joon tidak diam saja. Ia menahan pintu mobil sehingga Yuri tidak dapat membukanya. Mereka berdiri, bersisian di samping mobil Audi silver milik Yuri.

Yuri mendesah kesal. “Kau mau apalagi?” Katanya dengan nada lelah. “Aku capek dan ingin segera pulang. ”

Joon menatap wajah cantik Yuri. Perasaannya bercampur aduk. Namun ia sangat ingin memeluk pemilik wajah ini, membuatnya tertawa dan bergelung hangat dengannya.

“Aku tidak akan berhenti Yuri. Sampai kau balik padaku lagi. Dengan cara apapun. Aku pasti membuatmu jatuh cinta lagi padaku. ” Ungkapnya dengan nada nyaris frustasi karena perasaan yang bercampur aduk didadanya.

Yuri menggeleng dengan wajah menyorotkan rasa kasihan. “Aku tidak mengerti seperti apa kau dulu mencintaiku. Tapi jika memang sebesar ini seharusnya kita tidak terpisahkan. Kau berbuat apapun sekarang, aku sudah tidak menginginkan yang lain selain Jon Seo Oppa. Jangan memaksaku lagi. ”

Yuri menbuka pintu mobilnya dan segera masuk. Perlahan mesin berderum dan Audi silver itu bergerak mulus meninggalkan parkiran. Dan Joon masih terpaku menatap kepergian gadis itu.

¤¤¤¤

Yang terpenting adalah kebahagiaanya, dia yang kucintai.

Jon Seo menatap nanar pada berita di layar tabletnya. Merutuk kesal dan khawatir. Bukan karena posisinya yang jadi tersudut. Tapi memikirkan bagaimana perasaan Yuri saat melihat semua berita ini di televisi dan media online. Yuri memang jarang menonton tv apalagi ditambah kesibukannya mempersiapkan pernikahan mereka, tapi bukan tidak mungkin akhirnya ia mengetahui berita ini.

Ponsel pria ini bergetar dan ia melihat nama pemanggil dilayarnya. Yuri. Ia segera menjawab telefonnya.

“Oppa dimana?” Tanya gadis itu langsung. Terdengar cemas.

“Di kantor. Ada apa sayang?” Ia balik bertanya.

“Tidak. Aku hanya ingin bilang bahwa aku mulai saat ini akan tinggal di rumah Oppa saja. ”

Alis Jon Seo berkerut halus. Mereka belum menikah dan Yurilah yang selama ini berkeras mereka tidak boleh hidup bersama sebelum resmi menikah.

“Apa ada masalah sayang?” Ujarnya dengan nada menenangkan gadis ini.

Yuri terdengar mendesah pelan sebelum berkata. “Dia pindah ke apartement sebelahku, Oppa. ”

Ya, Tuhan. Pria itu benar-benar mendesak Yuri sedemikian rupa.

“Kau dimana sayang?” Tanya Jon Seo akhirnya.

“Aku masih di apartementku. Mengambil beberapa barang. Hanya sebentar kok. ” Ujar gadis itu dengan nada lelah.

“Tunggu saja. Aku akan menjemputmu. Kita sama-sama pulang. ” Kata Jon Seo padanya.

“Aku sudah di depan lift, Oppa. Sebaiknya kita jumpa di rumah saja. ”

“Baiklah. Sampai jumpa di rumah. ”

Yuri memutuskan pembicaraan mereka. Dan Jon Seo segera bersiap-siap pulang. Ia mengenakan lagi jas hitam yang tersampir di kursinya. Mengambil handphone dan menyimpan dompet disaku dalam jasnya.

Ting. Pintu lift terbuka dan Yuri terperangah kaget. Ada Joon sendirian di dalam ruang kotak tersebut.

“Kau mau kemana selarut ini?” Tanya pemuda itu sambil melangkah mendekatinya.

Ia menatap heran, pada tas besar yang dibawa Yuri.

“Bukan urusanmu. ” Ketus gadis ini dingin. Ia melangkah masuk lift.

Namun Joon menahan pintunya dengan tangannya.

“Kau mau kemana? Biar kuantar. ” Ujarnya lagi, dengan lembut.

“Aku pindah ke rumah Jon Seo Oppa. ” Ucapnya datar tanpa memperdulikan reaksi Joon.

Lalu tiba-tiba Joon sudah menarik lengannya dengan keras. Menyeretnya keluar dari lift.

“Apa yang kau lakukan?” Pekik Yuri marah. Tas bawaannya terjatuh dan Joon tidak memperdulikannya. Ia membawa gadis itu secara paksa menelusuri lorong dan mendorongnya masuk ke dalam apartement milik pemuda ini.

“Kau…. ” Yuri menatapnya dengan wajah merah padam. “Semua gosip itu pasti kau yang menyebarkannya. Termasuk foto-foto itu. Benar-benar sampah. ” Kecam gadis itu dengan nada dingin.

“Tapi percuma. Kami tidak akan menunda pernikahan hanya gara-gara gosip murahan seperti itu. ” Ucap Yuri dengan tenang.

“Aku tidak keberatan disebut perempuan matre yang mengejar laki-laki kaya dan meninggalkan bekas pacarnya yang sekarang menjadi artis terkenal. Atau aku juga tidak peduli dengan anggapan orang-orang yang menyatakan Jon Seo Oppa pria licik yang mencuri kekasih orang dengan menggunakan harta dan kekuasaannya. Aku sungguh tidak peduli. ”

“Kim Yuri, hentikan. ” Sergah Joon dengan keras. Wajah pemuda ini tampak sangat marah. Ia maju, mendekati gadis keras kepala ini.

“Apanya? Perkataanku atau perbuatanku. ” Tanya gadis itu dengan gaya menantang. Tidak merasa terintimidasi.

“Kau membuatku terlihat menyedihkan. Hentikan itu. ” Ujar pemuda itu dengan penuh emosi.

“Aku tidak mau. ” Yuri menatapnya dengan berani. “Kau yang membuat aku begini. ”

“Jangan mendesakku, Yuri. Kau tahu aku selalu mendapatkan apa yang kumau bagaimanapun caranya. ” Joon terlihat mengancamnya dengan sorot mata tajam.

Yuri tertawa sinis. “Kau coba saja, aku lebih suka mati daripada bersamamu. ”
“Kim Yuri. ” Sentaknya semakin marah.

“Kau tidak percayakan?” Ujarnya sambil tertawa mengejek. “Kau akan lihat. ”

Yuri mendorong tubuh Joon yang menghalanginya. “Kau mau apa?” Tanya Joon keras.

Gadis itu tersenyum meremehkan. Ada tekad tidak terbantahkan disorot mata gadis itu. Lalu berjalan keluar dari apartement Joon. “Kim Yuri. ” Panggil Joon lagi. Ia menjejeri langkah gadis cantik ini.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Joon mulai panik. Namun Yuri dengan wajah datar tanpa ekspresi tidak memperdulikannya. Berjalan dengan cepat menuju jalan raya yang ramai.

“Hei, apa yang kau lakukan?” Joon berusaha menghalanginya. Tapi dengan gesit gadis ini bisa lolos darinya dan melangkah ke jalan raya.
Joon pucat dan mulai merasa takut. “Kim Yuri, hentikan. Jangan seperti ini.” Katanya dengan kemarahan tertahan.

Gadis itu melangkah dengan perlahan ke tengah jalan dan berdiri tegak menghadap ke arah Joon. “Ini yang kau maukan?” Pekiknya keras di sela-sela suara deru mobil dan klakson bertubi-tubi.

“Kim Yuri, kembali. ” Teriak Joon keras. Ia tampak sangat panik melihat banyaknya kendaraan berlalu lalang dan Yuri malah berjalan semakin ke tengah. Seolah menantang maut.

“Kim Yuri. ” Teriaknya penuh amarah dan ketakutan. Yuri menoleh padanya, tersenyum sinis dan menyongsong sebuah truk berkecepatan tinggi.

“YURIII, Tidaak…. ” Joon berteriak ngeri.

Ciiiiiiiiit Braaaaak…… Terdengar decitan suara ban yang dipacu kecepatan tinggi lalu tiba-tiba direm mendadak. Lalu suara benturan sesuatu.

“Yuri.. ” Joon menatap nanar. Seolah jantungnya lolos dan berada didalam lambungnya. Ia merasa mual dan ingin muntah. “Yuri. ” Desisnya lagi. Melangkah gontai ke arah gadis itu.

Sesosok tubuh lain tampak terbaring disamping tubuh Yuri. Lee Jon Seo tampak setengah memeluknya dan terbaring pingsan dengan darah meleleh di dahinya.

¤¤¤¤

Yuri terbaring lemah di kamar gawat darurat. Sementara Jon Seo berada di ranjang sebelahnya. Tidak sadar. Dengan penyangga leher dan kepala diperban.

Joon berdiri di luar kamar ICU dengan perasaan hancur. Terpukul dan merasa sangat bersalah. Kim Yuri, gadis itu benar-benar sudah menghancurkan hatinya. Ia sudah kalah. Bahkan jauh dari sebelum ini. Ia sudah kehilangan gadis itu di hari ia memutuskan hubungan mereka. Joon menangis dalam diam. Air mata menetes satu persatu dipelupuk matanya. Ia menangis tergugu.

¤¤¤¤

Epilog.

“Yuri, apa yang kau lakukan?” Jon Seo menatapnya marah. “Melompat ke depan truk yang sedang melaju di jalan. ”

Yuri, gadis itu tersenyum sedih. “Aku lelah Oppa. Dia tidak juga bisa mengerti. ” Ujarnya dengan wajah tampak bersalah dan malu-malu. “Aku tidak ingin kembali kesaat-saat terburuk dalam hidupku. Juga tidak ingin hidup tanpa ada Oppa. ”

Jon Seo menyentuh wajah kekasihnya. “Jangan melakukannya lagi. Kau nyaris membuatku jadi pecundang, sayang. ” Keluhnya dengan nada terluka.

Yuri memeluk tubuh Jon Seo. “Oppa, kau adalah hal terbaik dalam hidupku. Aku tidak menyesal sudah melewati begitu banyak rasa sedih dan sakit, sebelum bertemu denganmu. ”

“Oppa… ”

“Ya…!” Jon Seo membelai rambut gadis ini.

“Aku mencintaimu. ” Bisik Yuri dengan lembut. “Aku mencintaimu. ” Ulangnya lagi.

¤¤¤¤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s