Just The Two Of Us

“Kinan…. ” Ujarnya dengan suara berbisik dan mata tersaput kabut.

Seo In Su yang agung. Pria sombong dengan kebanggaan pribadi yang tinggi. Yang selalu bersikap jahil dan tidak menyukaiku saat ini berdiri di hadapanku. Dengan keadaan kacau dan kelakuan yang sedikit gila.

“Kinan…. Bisakah kau hentikan pernikahan ini? Bukan… Bukan itu tapi jangan menikah. Kumohon jangan menikahinya. ” Ujarnya pasti dengan wajah memohon dan mata yang bersinar penuh rasa sedih dan terluka.

Dan aku hanya bisa terdiam. Terkesima dengan perasaan bingung juga takjub. Bagaimana bisa seperti ini? Apa yang telah terjadi selama ini dan aku tak pernah menyadarinya. Seo In Su, di hari pernikahanku. Di ruang tunggu pengantinku. Berdiri dengan gelisah di hadapanku, dengan suara gemetar memintaku membatalkan pernikahan yang akan berlangsung sebentar lagi.

Kisah ini dimulai saat musim semi setahun yang lalu. Aku Kinan, berdarah Indonesia separuh Korea dari ibuku. Kedua orang tuaku bercerai dan selama ini aku ikut dengan Ayah di Bali. Namun setiap liburan aku selalu mengunjungi ibu. Dan setelah lulus kuliah jurusan desain, aku magang di butik milik ibuku. Sebagai putri tunggalnya, aku harus belajar bisnis agar kelak bisa mewarisi usaha milik ibu.

Lalu disanalah aku bertemu dengan Seo In Ha. Pria tampan anak teman sekaligus pelanggan tetap butik Madam Cha. In Ha bukanlah pria tertampan yang pernah aku lihat tapi ia satu-satunya pria yang punya senyum lembut sehangat selimut listrik. Aku langsung menyukainya.

Walau aku yang pertama menyukainya, aku terlalu pemalu untuk mendekatinya duluan. Aku bisa dengan mudah mendapatkan nomor telepon genggamnya namun tak pernah punya keberanian untuk menghubunginya. Yah, aku perempuan seperti itu. Tapi siapa yang menyangka keajaiban menghampiriku. Suatu hari Nyonya Seo membutuhkan bantuanku untuk mendekorasi pesta kejutan ulang tahun Tuan Seo, karena mendadak orang yang biasa mengerjakannya mendapat kecelakaan.

Seo In Ha menjemputku di rumah. Bersama-sama denganku dan sepuluh orang pekerja, kami mendekorasi taman rumahnya untuk acara makan siang bersama dengan penuh gaya. Meja dengan taplak penuh bordiran indah. Diisi dengan peralatan makan perak yang indah dan bunga-bunga musim semi yang harum. Tenda terbuka dengan hiasan tanaman jalar yang cantik. Makanan sudah dipesan dari sebuah restoran timur tengah, dan satu jam sebelum acara dimulai mobil boks pengirim makanan sudah stan by di sini.

Lalu sebagai hiburan ada live band yang membawakan lagu-lagu rock tahun 70an, kesukaan Tuan Seo. Juga ada permainan poker yang mengundang bandar judi asli serta russian roulette. Tentu saja pesta berlangsung sangat meriah dan sukses. Tuan dan Nyonya Seo sangat senang dan puas. Aku berhasil menyelamatkan kegagalan pesta kejutan ini.

Untuk pertama kalinya Seo In Ha menatapku dengan pandangan tertarik. Dan disanalah aku juga pertama kali bertemu dengan Seo In Su. Ia menumpahkan minumannya ke bajuku dan sialnya gaun katun sederhana yang kupakai berwarna putih sehingga nampak dengan jelas kotor.

Seo In Su memang meminta maaf namun aku tak melihat ketulusan dimata tajamnya. Entah mengapa aku merasa ia sedang mempermainkanku. Tidak ingin merusak suasana pesta, aku segera permisi dan pulang dengan taksi. Hari itu kuhabiskan dengan menyesali, mengapa tak membawa pakaian ganti.

Esoknya aku dibuat terkejut dengan kiriman bunga ke kantorku, dilantai 3 butik Madam Cha. Lalu Seo In Ha mengajakku makan siang, sebagai permintaan maaf tidak mengantarkanku pulang. Aku merasa sangat amat senang, namun dengan anggun menerima undangannya.

Ia menjemputku dengan senyum yang sangat cerah, membuatku tidak menyesal mengenakan pakaian kasual dan sepatu yang nyaman. Dengan ini aku berharap bisa lebih lama menghabiskan waktu dengannya. Berjalan-jalan mungkin setelah makan siang. Aku tersenyum sendiri membayangkannya.

Kami makan dengan santai di restoran cina langganannya. Dan masakannya memang benar-benar enak. Saat tengah makan sambil mengobrol seru, tiba-tiba si pengacau datang.

“Hyung, kau disini!” Ujarnya dengan senyum yang nampak licik. Ia melirikku sekilas.

“In Su.. ” Seo In Ha menoleh pada sepupunya. “Oh, kau ingat Nona Cha.” Ujarnya memperkenalkan kami.

Seo In Su membungkuk hormat padaku. “Apa kabar, Nunna?” Sapanya dengan sangat sopan. “Tentu saja aku ingat Hyung. Kemarin aku tidak sengaja menumpahkan minuman ke bajunya. ” Ujarnya dengan nada yang tidak nampak bersalah.

Aku hanya bisa mengangguk dengan sabar dan tersenyum. Lalu Seo In Su bergabung ke meja kami dan memonopoli pembicaraan dengan Hyungnya. Benar-benar setan kecil, pengganggu. Aku merasa kecewa.

Saat mengantarku kembali ke butik, Seo In Ha mengenali ekspresi diraut wajahku. Ia tampak merasa bersalah namun sebelum ia berkata apapun, Seo In Su melongokkan wajahnya dari jendela mobil dan berteriak “Hyung. Cepatlah. ”

In Ha tersenyum malu-malu dan memegang leher bagian belakangnya. “Emh, nanti bolehkah aku menelefonmu?” Tanyanya bersungguh-sungguh.

Aku tersenyum. “Tentu saja. ” Ucapku bahagia. “Dan terimakasih makan siangnya. Tadi menyenangkan. ”

Ia tertawa kecil sambil membulatkan matanya tidak percaya. Lalu ia permisi pulang. Setidaknya ia masih melambai saat sudah mengendarai mobilnya pergi.

Aku masih belum menapak di bumi sekitar 2 jam selanjutknya. Namun sayangnya gelembung kebahagiaanku pecah juga akhirnya. Seo In Ha tidak menghubungiku bahkan sampai seminggu lamanya. Aku hanya bisa memandang hampa ke ponsel pink milikku dan bertanya-tanya mengapa ia tidak jadi menghubungiku.

Aku merutuki diriku sendiri yang tidak berani menghubunginya duluan, tapi juga merasa penasaran. Jadi aku mengirimkan pesan singkat padanya, menanyakan kabarnya. Namun tidak dibalas. Aku tidak berani berharap lebih lagi. Pria ini mungkin memang tidak tertarik padaku.

Tiga hari setelah itu Nyonya Seo datang kebutik kami dan disambut dengan hangat oleh ibuku. Mereka berbincang-bincang di ruang kerja ibuku. Sedangkan aku menyibukkan diri di ruang jahit, membuat pola dan menggunting kain. Menempelkan potongan kain pada manekin dan menyematkan jarum agar potongan itu menyatu untuk sementara. Dan sebuah gaun selesai kurancang. Hanya perlu dijahit dan dirapikan tapi secara umum, rancangan ini tidak buruk. Selagi memperhatikan dengan seksama, aku mendengar suara batuk. Dan menoleh ke pintu. Dia disana.

Seo In Ha tersenyum lebar, menatapku dengan pandangan ceria.

“Haloo… ” Ujarnya santai sambil memasuki ruangan butik dengan langkah pasti. Mengagumi manekin di hadapanku. “Wow, kau benar-benar berbakat ya. ” Ia menoleh lagi padaku dan tersenyum.

Aku hanya diam dan menunduk. Tidak membalas senyumnya. Aku takut akan kecewa lagi seperti sebelumnya jadi aku akan lebih berhati-hati.

“Bagaimana kau bisa masuk?” Tanyaku perlahan. Bagaimanapun ini ruangan khusus yang hanya boleh dimasuki oleh karyawan.

Ia tampak sedikit kaget dengan reaksiku. Mungkin mengharapkan sambutan yang ramah dan hangat. Tapi aku malah bertanya hal yang tidak penting.

“Aku mengantarkan ibuku. Dan ibumu menyuruhku memanggilmu. Tapi karena terlalu asik melihatmu bekerja aku jadi lupa. ”

Aku mengawasi kebenaran ucapannya namun tidak melihat alasan ia berbohong padaku. Jadi aku memutuskan menerima, toh tidak ada artinya bagiku. Aku kembali diam dan mengemasi buku sketsaku. Sebelum akhirnya mengajak ia ke ruangan ibuku. Saat kami berjalan melintasi lorong pendek antara gudang dan ruang jahit, ia menyentuh tanganku lembut.

“Maaf tidak jadi menghubungimu. Sibodoh Seo In Su, entah bagaimana menjatuhkan ponselku hingga rusak. Dan aku kehilangan nomormu. ” Ucapnya menjelaskan tanpa kuminta.

“Makanya saat ibuku berkata akan kemari, aku sengaja mengajukan diri mengantarnya. ” Tambahnya lagi saat melihat reaksiku yang masih diam.

“Begitu ya. ” Kataku lemah. Aku kembali menunduk. Dia tidak harus seperti ini hanya karena janji menghubungi yang tidak ditepati. “Tidak apa. Lagipula aku sudah melupakannya. ” Aku tersenyum padanya.

Ia tidak membalas senyumku dan sepertinya wajahnya sedikit mengeras. Lalu bersama-sama kami menemui masing-masing ibu kami.

¤¤¤¤

Hari ini aku pergi ke pameran pembukaan International Exhibition Calligraphy and Chinese Painting, yang diadakan disebuah museum yang bekerja sama dengan Konsulat Jenderal China di Korea.

Saat aku sedang membuat sketsa replika lukisan We Zetian, seorang selir yang pada akhirnya menjadi ratu yang berkuasa setelah mengalahkan Ratu sebelumnya dan seorang selir yang juga kesayangan Raja. We Zetian bukan hanya seorang wanita yang sangat cantik, ia pintar dan berambisi besar setelah mengalami berbagai cobaan dalam hidupnya. Cocok dengan semangat yang ingin kutampilkan dalam rancanganku musim ini. Lalu seseorang menepuk pundakku dan memecah konsentrasiku. Aku menoleh dan menemukannya.

Seo In Hu tersenyum padaku. Dan tanpa malu-malu duduk di sebelahku. Ia memperhatikan dengan seksama buku sketsaku dan membandingkan dengan lukisan aslinya. Membuatku merasa rikuh.

Kami minum kopi di kafe yang ada di lantai 1 museum. Aku gelisah dalam dudukku. Tidak tahu bagaimana caranya, kami bisa bertemu disini secara kebetulan.

Ia memperhatikanku dan tersenyum sebelum menyesap kopi hitam yang dipesannya. Ia terlihat menikmati keresahanku.

“Nona heran bagaimana saya bisa muncul di sini?” Tanyanya seolah membaca pikiranku. Ia tertawa melihat reaksiku.

“Aku kurator museum ini. Dan saat aku menghubungi kantormu tadi pagi, Nyonya Cha bilang kau akan kemari. Kebetulan sekali bukan. ”

Aku tercekat tidak percaya. Ternyata ia seorang kurator museum. Pekerjaan yang menarik. Kupikir ia bekerja di perusahaan milik Ayahnya.

“Terimakasih telah menemaniku berkeliling. ” Ucapku dengan sopan.

Ia tersenyum hangat. “Bukan masalah. Siapa yang tidak senang menemani wanita secantik anda. Sejujurnya saya bangga dilihat bawahan saya, bersama dengan Nona Cha. ” Ujarnya sedikit berbisik dan melihat ke kiri dan kanan.

Aku menoleh padanya dengan pandangan sedikit terkejut. Ucapannya seperti sambil lalu namun aku tetap merasa tersanjung.

“Nona sudah punya pacar?” Tanyanya langsung membuat wajahku segera memerah, malu. “Saya ingin mendekati Nona, bolehkah?” Katanya tanpa malu-malu.

Begitulah hubungan kami berawal. Selanjutnya kami lebih sering menghabiskan waktu bersama atau boleh disebut dengan berkencan. Sekedar makan siang. Minum teh atau kopi di kafe langganannya. Nonton bioskop atau menemaniku berjalan-jalan ke museum dan pameran-pameran.

Aku juga jadi lebih sering bertemu dengan Seo In Su, sepupunya yang lebih muda beberapa tahun darinya. Malah kalau bisa dibilang kami seperti kencan bertiga, karena In Su selalu mengekori kami kemana-mana. Aku tidak keberatan asalkan bersama In Ha. Walau kadang kala In Su selalu membuatku sebal dan marah. Aku masih bisa bertahan menghadapinya karena kupikir In Su hanya kesepian saja dan ingin diperhatikan.

Ada satu kejadian yang sangat membekas bagiku, hari itu usai merayakan ulang tahun In Ha kami pergi minum-minum dan karaokean. Aku yang memang tidak kuat minum, hanya minum jus anggur. Seo In Ha dan Seo In Su sudah mulai mabuk dengan wajah yang memerah, namun tetap terlihat tampan. In Ha sedang menyanyikan lagu sedih. Dan aku menatapnya dengan terpesona.

“Kau benar-benar menyukai Hyungku ya. ” Ucapnya secara tiba-tiba.

Aku tersenyum malu-malu. Tidak menyadari bahwa ia mengawasiku entah sejak kapan.

“Kau terlihat bodoh. Katanya orang yang jatuh cinta memang terlihat seperti itu. ” Seo In Su menatapku tajam.

“Mengapa kau membenciku?” Lalu sebuah tanya lolos begitu saja dari bibirku.

Ia tampak terkejut namun dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya.

“Bukan begitu. Aku hanya tidak menyukaimu saja. ” Katanya dengan nada lelah.

Alisku berkerut, tidak mengerti. “Mengapa? Tapi dengan mantan pacar In Ha yang lain sepertinya kau baik. ”

In Su hanya menatapku dengan pandangan yang tidak kumengerti artinya.

“Kau wanita paling menyebalkan tapi Hyungku sangat menyukaimu. ” Ujarnya dengan setengah tidak sadar.
In Ha menghempaskan tubuhnya dan duduk di sebelahku. Merangkulku dan mencium bibirku penuh hasrat secara tiba-tiba. Namun aku masih bisa melihat Seo In Su yang menatap kami dengan kecewa dan mata yang terlihat sedih. Yah, aku melihat kesedihan padanya.

¤¤¤¤

In Ha melamarku di saat pertemuan keluarga kami. Aku tidak bisa bilang tidak dan segera saja cincin pertunangan melekat di jariku disaksikan kedua orang tua kami dikedua belah pihak. Aku merasa senang, bahagia dan terharu. Aku mencintainya dan tentu saja mau menikah dengannya. In Ha tersenyum lebar menggenggam tanganku dengan rona wajah bahagia. Tidak ada yang kuinginkan lebih dari ini.

Seo In Su ada disana. Duduk diantara keluarga, menyesap winenya. Tertawa dan bercanda dengan sekumpulan Tante yang tampak memujanya. Hari ini ia sama sekali tidak mengandeng salah seorang dari banyak kekasihnya. Biasanya ia tidak absen membawa gadis cantik. Pria ini, In Su membalas tatapanku. Tersenyum tipis dan mengangkat gelasnya padaku. Bersulang.

“Selamat, Bodoh. ” Ucapnya lamat-lamat tanpa suara.

Aku hanya tersenyum, melambai padanya dengan tangan In Ha melingkari pinggangku.

Kemudian semuanya berjalan dengan cepat. Persiapan pernikahan kami, semuanya aku yang mengurus sendiri. Tunanganku, Seo In Ha tidak bisa bersamaku karena sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tapi tak apa, aku bisa melakukannya. Dan Seo In Su dengan sukarela mengajukan diri membantuku. Aku tidak tahu apa motifnya namun aku terima saja kebaikan hatinya. Jadilah In Su menemaniku kemana-mana. Bertemu wedding organizer. Memilih gedung, kapel, kartu undangan, makanan dan minuman, dan membuat baju pengantin. Ibuku merancang sendiri baju pengantin yang akan aku pakai dipernikahanku.

Seo In Su yang menemaniku fitting baju pengantin di Butik Madam Cha. Aku merahasiakan baju ini dari In Ha dan berharap ini akan jadi kejutan baginya. Gaun pengantinku berwarna broken white dengan model klasik dan elegan. Membuatku terlihat ramping dan anggun. Ekornya tidak terlalu panjang dan kerudungnya terbuat dari renda yang sangat halus sehingga seperti awan yang menyelimutiku.

Aku berdiri di depan kaca, tersenyum puas dan pelayan menarik kain gorden. Seo In Su yang sedang duduk di sofa, menatapku dengan pandangan sedikit terkejut tapi muram.

“Bagaimana?” Tanyaku cemas. Melihat reaksinya yang seperti di pemakaman saja.

“Cantik. ” Jawabnya pendek. Dan hanya itu saja. Membuatku merasa tidak nyaman.

Aku terdiam, mengawasi raut wajahnya yang tampak tersiksa dan marah.

“Apa kau merasa terganggu?” Tanyaku dengan lembut. Aku takut emosinya akan membuatku bersedih dan mengacaukan persiapan pernikahan kami. Tapi dia adalah Seo In Su yang merupakan sepupu paling dekat dengan In Ha Oppa.

Ia menatapku tajam, namun tetap menyembunyikan perasaannya. Setelah sekian lama bergaul dengannya aku tahu dengan jelas, In Su tidak pernah membuka dirinya padaku. Tidak pernah benar-benar tulus menerimaku dan aku tidak tahu mengapa. Aku tak tahu salahku dimana.

“Apa pernikahan ini benar-benar yang kalian inginkan?” Tanyanya dengan wajah mengeras.

Aku melangkahi beberapa tangga dan duduk di sampingnya. Mengelus lengannya dengan lembut. Sesungguhnya walau ia berlaku seperti itu, aku tetap menganggapnya sebagai adik. Adik yang menyebalkan.
“Aku mencintai In Ha Oppa. Dan menikah dengannya adalah hal yang sangat kudambakan. Aku pikir In Ha Oppa juga seperti itu. ” Ucapku lembut padanya.

Seo In Hu masih menatapku dengan pandangan keras kepalanya.
“Kalau aku menolak memberi restu, kalian akan tetap menikah?”

Aku menatapnya dengan wajah terperangah. “Sayangnya, iya. Tapi mengapa kau menentangnya, In Su? Apa aku ada salah?” Kataku perlahan. Tak urung hatiku terasa sakit dan mati-matian menahan tangis.

Pria tampan yang selalu berlaku sombong padaku ini terdiam dengan wajah terluka. Tapi aku sungguh tidak mengerti mengapa ia harus begini.

“Kalau berat bagimu, aku tidak akan memaksamu lagi untuk membantuku. Dan kau tidak perlu datang kepernikahan kami. ” Putusku dengan perasaan tidak menentu.

“Aku bercanda. ” Ucapnya dengan tidak tulus. Bergumam panjang lebar yang tidak kumengerti.

Bercanda, disituasi seperti ini. Sungguh Seo In Su tidak pernah peka. Entah mengapa pemuda ini, begitu kejam terhadapku. Dan aku tidak yakin In Ha Oppa mengetahui kelakuan sepupunya ini padaku. Diam-diam aku menahan kesedihanku agar tak tumpah dan tidak mempengaruhi keputusanku.

Seo In Su diam. Dan aku segera bangkit untuk mengganti pakaianku. Saat ini perasaanku sudah sukses rusak dibuatnya. Yang kuinginkan saat ini adalah hanya bertemu In Ha Oppa dan memeluknya.

¤¤¤¤

Kembali ke saat ini, sekitar 20 menit sebelum upacara pernikahanku dengan Seo In Ha.

“Kinan…. Bisakah kau hentikan pernikahan ini? Bukan… Bukan itu tapi jangan menikah. Kumohon jangan menikahinya. ” Ujarnya pasti dengan wajah memohon dan mata yang bersinar penuh rasa sedih dan terluka.

“Apa maksud perkataanmu, In Su?” Bisikku dengan suara pecah karena rasa takut bercampur bingung.

Menatap dengan pandangan terperangah pada pria yang menjadi Bestman tunanganku. Pria yang juga merupakan sepupu dan teman terdekatnya. Yang saat ini berdiri di depanku, di ruang pengantin. Tempatku menunggu di jemput oleh Ayahku.

“Sepuluh menit lagi, Ayahku akan mengantarkanku ke altar dan menikahkanku dengan In Ha Oppa. ” Ucapku perlahan sambil tanganku meremas gaunku yang indah.

“Jangan menikah dengan In Ha Oppa. Aku mohon, Kinan. ” Ucapnya dengan suara tercekat kesedihan dan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia meraih tanganku dan menggenggamnya dengan jemarinya yang dingin.

Perlahan kesadaranku timbul. Mungkin In Su bukan membenciku tapi diam-diam mungkin ia menyimpan rasa terhadapku. Jadi itukah alasan ia selalu berlaku jahat padaku? Aku merasa sangat terkejut dan juga kecewa.

“Maaf, Seo In Su. ” Aku menggeleng dan menepiskan tangannya. Tegas.

¤¤¤¤

Kinan tampak sangat cantik dan bahagia di gandeng oleh Ayahnya, berjalan menuju altar dengan langkah perlahan. Sementara In Ha menunggunya di depan pendeta dengan wajah sumringah dan sangat ceria.

Pria tua itu menyerahkan putri tunggalnya pada In Ha, menyembunyikan kesedihan sekaligus rasa bahagianya. Bahwa pada akhirnya putrinya diambil oleh orang. Bahwa putrinya kini menjadi milik lelaki lain.

Kinan, sang pengantin wanita tampak sangat cantik dalam bayangan cadar. Memandang calon suaminya, tampan dalam balutan tuxedo hitam yang semakin membuatnya gagah. Mereka saling tersenyum bahagia dan bergandengan tangan. Mengucap janji sehidup semati atas nama Tuhan, di depan pendeta dan seluruh jemaat yang hadir. Dan dengan restu dan kuasa Pendeta, mereka sah menjadi satu. Suami dan istri.

Seo In Ha menyampirkan cadar Kinan, menatapnya intens dan mengecup lembut bibir pengantinnya. Sontak kelopak bunga mawar berjatuhan dan menambah kesan suasana romantis. Keluarga, teman dan kolega segera larut dalam kebahagiaan mereka.

Seo In Su, pemuda itu sedari tadi menatap semuanya dari sebelah pengantin Pria. Bahkan ialah yang menyerahkan sepasang cincin pernikahannya. Ia tersenyum simpul sepanjang acara, ikut berfoto bersama pengantin dan keluarga. Bahkan sempat berfoto bertiga bersama kedua pengantin yang sedang berbahagia.

” In Su, terimakasih. Aku bahagia sekali. ” Seo In Ha memeluknya dengan hangat. “Semua ini tidak mungkin tanpa bantuanmu. ” Ia menepuk bahu sepupunya, ceria.

In Su tersenyum, menoleh pada Kinan yang berdiri di sebelahnya dengan rona tak kalah bahagia dengan In Ha suaminya. “Terimakasih. ” Bisiknya pelan. Ia meremas lembut lengan In Su kemudian menggandeng lengan In Ha.

Seo In Su masih duduk di tangga altar, di kapel yang telah sepi. Ia memegang sepotong foto dengan gambar mereka bertiga. Pemuda tampan ini mulai meneteskan air matanya. Menangis tergugu sambil mengigit kepalan tangannya. Setelah semua yang ia lakukan, mereka tetap menikah. Yah, ia sudah berusaha menghalangi In Ha dan Kinan. Karena sejak di pesta kejutan ulang tahun Ayah In Ha, ia sudah menyadari In Ha tertarik pada Kinan. Ia pura-pura menumpahkan minuman kebaju gadis itu, untuk membuatnya malu. Ia sengaja muncul di restoran tempat In Ha biasa makan siang. Ia juga dengan sengaja menjatuhkan dan memijak smartphone In Ha agar tidak bisa menghubungi Kinan. Dan dengan liciknya ia menghapus pesan Kinan, hingga In Ha yang memang sudah kehilangan nomor ponsel Kinan tetap tak dapat menghubungi gadis itu.

Seo In Su selalu menempel seperti lintah setiap saat pada In Ha dan Kinan. Namun gadis itu tetap sabar menghadapi tingkahnya yang menyebalkan. Dia memang benar-benar berbeda dengan semua wanita yang pernah dikencani In Ha dan sepupunya serius dengan Kinan. Dia berbeda dan In Su merasa terancam oleh keberadaannya.

Pemuda itu menangis dengan sedih. Lalu mengoyak foto ditangannya.
“Aku mencintaimu… ” Teriaknya dengan kalap dan marah.
Ia membuang bagian tengah foto tersebut dan menyatukan gambar dirinya dan….. Seo In Ha.

“Hyung, aku mencintaimu. ” Bisiknya putus asa dan wajah memerah penuh air mata.

Yah, Seo In Su mencintai Seo In Ha. Sepupunya. Bukan gadis itu, Kinan.

¤¤¤¤

Footnote : ada yang pernah lihat musik video K Will yang judulnya Please Don’t? Kalau belum, silahkan lihat di youtube. Kalau sudah, pasti mengerti kalau cerita ini terinspirasi dari MVnya. Nggak terlalu mirip sih dan agak didramatisasi. Dan aku justru tertarik untuk membuat cerita ini setelah membaca terjemahan liriknya dan mendengar musiknya berulang-ulang.

Inti dari cerita ini adalah perjuangkanlah cintamu, meski itu tidak mungkin. Meski itu akan membuatmu sangat terluka. Meski itu tidak akan berhasil. Dan meski kau harus lebih menderita setelahnya. Tapi kau tidak akan pernah menyesal karena tak pernah berusaha dan berandai-andai dengan segala kemungkinan yang tak pernah berani kau coba.

4 thoughts on “Just The Two Of Us

  1. Woah! I’m really enjoying the template/theme of this site. It’s simple, yet effective. A lot of times it’s tough to get that “perfect balance” between superb usability and visual appearance. I must say that you’ve done a amazing job with this. Also, the blog loads extremely quick for me on Chrome. Superb Blog!|

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s