Mendekap Wangimu Yang Tersisa

Kita memang masih disini, duduk bersisian dalam keheningan.
Dengan tangan yang saling menggenggam dan hati yang bertaut.
Kau memejamkan matamu, mengigit bibirmu. Tak ingin mendengar sepatah katapun dariku. Menolak untuk itu.

Aku gelisah bagai pengecut yang ingin dihukum mati. Berusaha mengulur waktu selama mungkin, untuk bisa terus bersamamu.
Kuharap waktu bisa berhenti selamanya disini, denganmu.

Sayang, kutahu apa yang mengganjal dihatimu. Dan kaupun tahu apa yang hendak kulontarkan.
Meskipun kita menangis dan menangis lagi, keadaan tak akan berubah.
Kumohon, kumohon jangan pergi padanya.
Jangan tinggalkan aku.
Jangan lakukan itu.
Bertahanlah lebih lama lagi.

Tapi wajah memerah dengan mata tersaput kabut itu, aku mencintaimu.
Tak ingin kau menderita lebih dari ini. Haruskah aku melepaskan tanganmu dan berbalik pergi tanpa melihat lagi?
Namun mengapa air mata ini tak henti mengalir?
Hati ini berderak bagai serpihan kaca yang luruh.
Tubuhku gemetar sampai kejantung dan tulang.
Hanya Tuhan yang tahu bagaimana aku bisa tetap berdiri di hadapanmu.

Sayangku, meskipun aku memohon untuk kau tetap disini.
Bila ternyata kau tetap harus pergi maka pergilah tanpa suara, dan tak perlu merasa bersalah untukku.
Aku akan diam dan membeku menatap punggungmu yang menjauh. Aku akan mengingatmu sebagai kekasih paling indah yang tercinta.
Aku akan menangisimu sesekali dan mendoakan kau bahagia.
Aku akan mendekap wangimu yang tersisa sampai saat aku bisa melupakanmu. Entah kapan itu.

(Footnote: Terinspirasi dari lagu Please Don’t – K Will. Well aku punya kecenderungan mudah sekali menyukai lagu ballad. Dengan bahasa apapun itu. Dan aku bisa merasakan setiap kepedihan itu meskipun tidak mengerti liriknya. Walau biasanya karena penasaran aku pasti goggling nyari terjemahan liriknya. Sudah banyak juga tulisanku yang berawal dari mendengarkan musik.
Ohya, belakangan ini aku agak jarang posting tulisan. Tapi bukan berarti aku nggak nulis loh. Aku masih nulis tiap hari. Dan sudah banyak draft tulisan yang kubuat, cuma saja aku belum bisa fokus buat membuat akhir penutup dalam tulisanku. Jadi, tetap dukung blog ini yah dan baca tulisanku. Terimakasih sebelumnya. )

8 thoughts on “Mendekap Wangimu Yang Tersisa

  1. Yuk yon’s … sayangnya wangi yg tertinggal itu telah menyatu dengan aliran darah dalam setiap tarikan nafas…So stupid ha??not easy to let go off that hand

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s