Just Fall For You

“Aku bukan pelacur. Tolong jangan lakukan ini. Let me go, let me go. Jebal (kumohon)! ” Isak seorang wanita dengan suara keras.

Han terkejut mendengarnya. Sebuah isakan mengiba wanita, saat ia sedang berjalan keluar klub dari pintu belakang. Yang membuatnya tertarik adalah teriakan minta tolong itu bercampur dengan beberapa kata Korea, Inggris dan Indonesia. Bahasa asing yang mengingatkannya pada seseorang yang sudah lama pergi dari hidupnya. (Baca Baby, I’m lonely http://t.co/p3j3pwJlQI dan After Lonely (Not Alone) http://wp.me/p2SQIe-4P)

“Tidak. Aku tak mau. Sampai mati aku tidak mau. ” Tolak wanita itu dengan suara bercampur tangis.

Han mencari asal suara itu dan menemukan seorang wanita dengan pakaian tercabik dan bibir berdarah. Tersungkur di lantai dan memandang ke atas dengan sinar mata ketakutan dan juga marah. Sementara seorang pria berjongkok di hadapannya dan menjambak rambutnya keras. Membuatnya mengaduh kesakitan.

“Pelacur sialan, kau harus melayani tamu. Kalau tidak aku akan membuangmu di jalanan. ” Kata pria itu kasar.

“Kalian menipuku, bukan pekerjaan ini yang kalian tawarkan. Aku datang bukan untuk jadi wanita penghibur. ” Ucapnya dengan berani.

“Plak… Plak..!” Dan keberaniannya harus dibayar mahal, pria itu kembali menamparnya dan darah kembali menetes di bibirnya yang pecah.

“Wanita sial. Kau pikir kau pintar, hah!” Maki Pria itu tanpa iba. Ia bangkit dan menendang perut wanita itu kejam. Tidak memperdulikan jeritan kesakitannya.

“Hentikan!” Sergah Han dengan suara penuh tekanan. Darahnya seolah mendidih melihat kekejaman ini. Ia sangat marah.

Pria itu menoleh dengan kaget dan sedikit bergidik melihat pemuda yang tiba-tiba muncul ini. Ia tahu siapa pemuda ini dan tidak ingin mencari masalah. Han, seorang bintang Hallyu terkenal dan tidak ada yang tahu latar belakangnya namun menurut rumor keluarganya sangat kaya dan berkuasa.

“Hanya pria pengecut yang memukul wanita dan orang yang lebih lemah darinya. ” Kata Han penuh tekanan.

“Ini bukan urusanmu. Sebaiknya kau pergi. ” Sentaknya dengan suara sedikit bergetar.

Tapi pemuda di hadapannya tidak memperdulikannya. Ia mengambil ponselnya dan mengambil foto pria tersebut beberapa kali.

“Kau tahu twitter? Kurasa tidak. ” Ujarnya dengan nada merendahkan. “Intinya, bila gambar ini kusebar di internet. Orang-orang akan mengetahuinya dengan cepat. Dan masalah ini akan sampai ke penegak hukum. Kujamin kau akan terkenal dalam waktu beberapa menit saja. Kau mau?” Ia melirik pria itu dengan pandangan dingin dan datar.

¤¤¤¤

“Gadis ini dipukuli dan dipaksa jadi pelacur. Oleh pria brengsek itu. ” Ujarnya dengan nada dingin dan mata yang menatap gadis yang sedang diperiksa oleh dokter di sebuah klinik pribadi.

“Seharusnya kau tidak ikut campur, Han!” Ujar pria di sebelahnya menasihati.

“Ya Tuhan, Hyung. Bagaimana mungkin aku diam saja melihatnya. ” Sentaknya dengan menahan marah. Ia menoleh kepada Hyungnya dengan pandangan menghakimi.

Pria yang dipanggilnya Hyung merasa agak malu. “Tapi ini bisa jadi masalah buat nama baik dan karirmu. ” Katanya lagi.

“Hyung, buat apa aku punya uang banyak, nama baik dan semua ketenaran itu. Kalau untuk menolong seseorang tidak bisa? Aku benar-benar payah. Dulupun aku tidak bisa melindungi Kirara, makanya ia akhirnya pergi. ”

Pria itu menatap Han dengan perasaan bersalah.

“Kali ini biarkan aku melakukannya dengan benar, Hyung. ” Pintanya dengan bersungguh-sungguh dan membungkukkan badan.

“Han. Jangan seperti itu!” Ujarnya semakin merasa bersalah dan tidak dapat menolak.

“Apa kau akan membantuku, Hyung?” Tanya pemuda ini dengan wajah memelas dan berharap besar.

Manajernya menatapnya dengan perasaan tidak enak. “Aku akan membantumu!” Putusnya pada akhirnya.

Han menoleh dan tersenyum padanya. “Aku punya rencana, Hyung. Di tempat itu ada kamera CCTVnya dan bukankah kepala keamanan klub itu temanmu Hyung? Kau mengertikan?” Katanya dengan senyum percaya diri.

¤¤¤¤

Gadis itu mulai tersadar. Matanya berkedip-kedip dan perlahan terbuka. Ia melihat sekeliling dengan pandangan heran dan akhirnya fokus pada Han yang sedang duduk di kursi bertangan di dekat ranjang. Gadis itu bangkit dan memegangi rusuknya, raut wajahnya terlihat mengernyit. Menahan rasa sakit. Ia duduk di tempat tidur.

“Aku dimana? Dan kau siapa?” Tanyanya dengan bahasa Korea terbata-bata. Suara gadis ini sangat lembut dan beraksen berbeda.

“Namaku Han dan ini rumahku. ” Jawab Han dengan nada hati-hati.

Ia menatap Han dalam-dalam dan berkata, “Terima kasih sudah menolongku. ”

“Siapa namamu?” Tanya Han lagi.

“Saina. Saina Malika. Aku dari Indonesia. ” Gadis itu berusaha tersenyum, luka dibibirnya tampak mengering.

Walau tampak kacau, tak dapat dipungkiri gadis ini sangat menarik. Ia tidak terlalu tinggi namun badannya berisi. Kulitnya berwarna satin dan terlihat halus. Wajahnya tidak terlalu cantik namun tidak membosankan untuk dilihat berlama-lama. Dan senyumnya terasa hangat sampai ke
hati Han.

“Kau tidak perlu takut lagi. Semuanya sudah diurus, pasport dan visamu sudah aku ambil. Kontrak kerjamu juga telah dibatalkan. Mereka tidak akan mengganggumu lagi. ” Ujar Han menjelaskan.

Ia tidak perlu mengatakan bahwa ia mendapatkan semua itu dengan memaksa si pemilik klub dan menekannya dengan rekaman CCTV. Dan sedikit pengaruh dari pengacara terkenal dari firma hukum ternama di Korea.

Ekspresi wajah gadis itu sedikit terkejut dan matanya mulai tampak berkaca-kaca. “Benarkah?” Tanyanya tidak percaya. Ia merasa sangat lega namun bingung.

Han menyodorkan dokumen penting gadis itu. Dengan tangan gemetar Saina menerimanya dan memeluk kertas-kertas itu penuh rasa syukur.

“Terimakasih. Terimakasih. Aku sangat bersyukur. ” Ucapnya sambil berlinang air mata.

Han menatapnya seksama, ada rasa iba melumuri hatinya yang sudah lama tidak peduli dengan apapun.
“Apa kau mau bekerja denganku?” Tanyanya dengan tiba-tiba.

“Bekerja?” Ulang Saina tidak yakin. Ia menatap Han agak bingung.

¤¤¤¤

Han, pemuda ini bertubuh tinggi dan langsing. Tapi jangan salah, dibalik semua kain itu terdapat otot-otot terlatih tanpa lemak. Tidak percuma ia selalu meluangkan waktunya sekitar 2 jam setiap hari untuk berolah raga.

Hari masih sangat pagi, namun sudah jadi kebiasaannya untuk bangun pagi dan berolah raga. Apalagi dengan segala kesibukannya sulit sekali mencari waktu luang untuk dirinya sendiri.

Pemuda ini mengusap peluh di wajah tampannya dengan handuk kecil. Ia melirik ke meja kaca, sudah tersedia sarapan paginya berupa susu low fat dan roti isi. Juga koran pagi.

Saina. Pikirnya langsung. Kapan gadis itu masuk? Mengapa tidak menyapanya? Han mengurangi kecepatan treadmillnya dan mulai berjalan dengan santai. Beberapa saat kemudian ia mematikan mesin dan melepas earphone Ipodnya.

Ia melangkah dan duduk dengan kelelahan di sofa. Meneguk susunya dan meraih satu potong roti. Mengigitnya dengan lahap, berlari seperti ini selalu membuatnya merasa lapar.

Han ingat percakapannya dengan Presiden Direktur Agency tempat ia bekerja selama ini, Han Tae Min. Yang juga merupakan adik kandung ibunya.

“Sampai kapan kau membuatnya tetap di sisimu?” Tanya pamannya gusar.

Han sudah lama sekali tidak berbicara dengan pamannya, sejak kejadian 3 tahun yang lalu.

“Dia bukan Kirara. Jangan jadikan ia pengganti gadis itu. ” Ujar pamannya lagi.

Han menatap tajam orang yang telah mengasuhnya selama bertahun-tahun ini. Selalu topik tentang Kirara membuatnya merasa sangat marah dan terluka.

“Paman hanya ingin menjagamu, Han. Kau sudah menolongnya, berlebihan sekali kalau kau membuatnya selalu ada di sisimu. Kau tidak sedang jatuh cintakan padanya?” Tanya pamannya dengan nada hati-hati.

Han tidak menjawab satu pun pertanyaannya dan memilih meninggalkan ruangan kerja pamannya. Tidak memperdulikan panggilan pamannya di belakangnya. Ia berjalan ke ruangan latihan yang sepi dan duduk di sudut dekat jendela kaca. Han kembali memikirkan Kirara.

Saat Kirara meninggalkannya ia hancur. Putus asa dan sangat menderita. Ia tidak pernah mengerti mengapa gadis itu pergi. Sebulan setelah kepergian Kirara, ia datang ke Jakarta, Indonesia dan menemui Kirara. Memohon, mengemis dan memintanya untuk kembali bersamanya. Kirara menangis dengan sangat sedih namun tidak mengatakan apapun, selain menyuruhnya pulang. Keadaan ini jauh lebih berat bagi gadis itu, keluarga Kirara tidak sepenuhnya menerima gadis itu kembali. Dan Kirara memutuskan kali ini ia tidak mau mengecewakan keluarganya lagi. Han pulang dengan kecewa dan hati yang mati.

Lalu entah bagaimana caranya takdir memberitahukannya, bahwa saat ia berada di Jepang selama sebulan sebenarnya Kirara sedang hamil. Pamannya yang lebih duluan mengetahui hal ini, memaksa Kirara untuk mengugurkan kandungannya. Karena paman Han Tae Min sadar, kalau Han tahu hal ini ia pasti akan segera menikahi Kirara tidak peduli dengan karir dan tanggapan penggemarnya. Dan ini akan berakibat buruk buat karirnya dan ujung-ujungnya semuanya hanyalah masalah uang dan bisnis.

Han merasa lebih hancur lagi dan nyaris merasa akan gila. Paman yang sangat ia hormati tega melakukan itu dan berakibat perpisahannya dengan gadis yang sangat dicintainya. Ia sangat malu sekaligus sedih terhadap Kirara. Tidak bisa melindunginya walaupun ia berkali-kali mengatakan betapa ia sangat mencintai Kirara. Ia benar-benar tidak punya hak lagi, jangankan untuk bertemu gadis itu. Apalagi kesempatan untuk bersamanya lagi. Han membenci pamannya juga kelemahan dirinya sendiri.

¤¤¤¤

“Siapa Kirara?” Tanya Saina tiba-tiba.

Han terkejut. “Darimana kau dengar nama itu?” Katanya menatap Gadis di sampingnya dengan tajam.

“Oh, aku mendengar kau menyebut namanya saat tertidur. ” Ujarnya dengan ringan. Ia tidak menyadari kemarahan di suara Han tadi.

Sinar mata Han melembut. Lalu ia kembali menatap ke luar jendela mobil. Jalanan tampak sangat ramai namun tidak macet.

“Dia dulu kekasihku. ” Ucapnya dengan pelan.

“Oh, begitu ya?” Saina mengangguk dengan prihatin. “Aku juga pernah punya kekasih. 7 tahun lamanya kami berpacaran namun keluarganya tidak merestui. Pada akhirnya aku tidak ingin membuatnya harus memilih aku atau keluarganya, jadi ……. aku meninggalkannya. ”

Han kembali menoleh pada wajah yang tersenyum sedih itu.

“Terkadang meninggalkan itu bukan karena sudah tidak menyayangi lagi. Justru merekalah yang paling terluka, karena harus mengambil keputusan menyakiti orang yang disayangi. ” Ucapnya tanpa bermaksud menasihati.

“Mengapa keluarganya tidak menyukaimu?” Tanya Han tertarik.

Saina tersenyum, “Karena aku miskin.” Ujarnya dengan nada serius.

“Dan dia menerima keputusanmu? Tidak berjuang mengejarmu?” Han menatapnya dengan seksama.

Saina meringis.
“Aku rasa ia juga sudah lelah. Kami berpisah dengan baik. Tapi bukan berarti mudah buatku. Aku tulus berharap ia bisa berbahagia. ”

Han terdiam. Sudah beberapa bulan ini Saina bekerja untuknya. Han jadi semakin mengenalnya. Ia gadis yang baik, pekerja keras, bertanggung jawab dan berkepribadian hangat. Ia sering membuat Han tertawa dengan celutukan dan tingkahnya yang lucu. Saina tidak seperti gadis lain yang berlomba-lomba mencoba menarik perhatiannya. Ia tidak pernah menggunakan make up dan baju yang menggoda di hadapan Han. Ia bahkan tampak tidak terlalu peduli Han adalah pemuda yang digilai jutaan gadis.

Kirara juga seperti itu. Tapi kepribadian dan sifat mereka sangat berbeda. Jadi tidak benar kalau Han menganggapnya sebagai Kirara ataupun penggantinya. Kirara adalah gadis lemah lembut, pendengar yang baik, sangat cantik dan penyabar. Ia seperti bidadari di mata Han. Dan Han langsung jatuh cinta saat melihatnya mengejarnya mati-matian. Ia berhasil membuat Kirara membalas perasaannya bahkan mengikutinya ke Korea dan meninggalkan keluarganya. Tapi Han jugalah yang membuat gadis itu meninggalkannya.

“Mengapa kau tidak mengejarnya kalau kau begitu menyesalinya?” Saina bertanya padanya, membuatnya tersadar dari lamunan.

“Aku pernah mencobanya. Tapi akhirnya aku sadar, aku tidak pantas mendapatkannya kembali. ” Han mendesah dan memalingkan wajah.

“Apakah dia sudah bahagia sekarang? Setidaknya salah satu dari kalian harus bahagia. ” Katanya lagi.

Han tertawa, “Aku rasa ia sudah bahagia. Ia jatuh cinta, menikah dan sekarang sedang hamil. ”

“Wow, kau memata-matainya?” Mata gadis itu membulat terkejut.

“Sedikit. ” Ucap Han dengan tawa di bibir.

¤¤¤¤

Han menyukai berbincang-bincang dengan Saina. Gadis ini pintar, lucu dan hangat Han merasa betah di dekatnya. Dan Saina juga tampak rileks berada di sekitarnya. Di matanya Han adalah orang baik dan ia berhutang budi padanya.

“Mengapa kau tidak berdandan?” Tanya Han suatu ketika.

“Aku tidak perlu menarik perhatian orangkan. ” Saina menggeleng dengan cepat.

“Jadi berdandan itu untuk menarik perhatian orang?” Ulang Han memastikan.

“Teorinya sih gitu. Tapi aku nyaman begini. Ohya apa aku tampak buruk, sampai kau bertanya begitu?” Ia menatap Han dengan matanya yang besar, bersinar penuh harapan.

Han tertegun sejenak tetapi buru-buru menutupinya. “Kau harus menjaga namaku. Aku ini artis terkenal, masa asistenku seperti gembel. ” Katanya dengan nada kesal.

“Gembel?! ” Mata Saina mendelik sempurna, tersinggung.

“Baiklah gembel ini akan lebih berhati-hati. ” Ucapnya dengan pasrah. Gadis itu membungkuk dan pergi dari ruangannya.

Han tertawa dengan keras.
“Begitu cepat menyerah dan tidak mau berdebat. ” Ucapnya dengan nada menggoda yang tidak diperdulikan Saina.

¤¤¤¤

Hari itu ia sedikit mabuk usai pesta perayaan selesainya syuting drama yang dibintanginya. Dan perolehan rating drama yang sedang airing ini sangat baik. Ia sedang ingin sedikit bersenang-senang, pulangnya ia mengajak manajernya dan beberapa teman termasuk Saina minum-minum dan karaokean di tempat langganan mereka.

Suasana tampak meriah, hangat dan menyenangkan. Han menyanyi dan berjoget-joget dengan gembiranya. Menirukan gerakan SNSD dalam lagu Gee. Membuat temannya tertawa dan ikut menari. Saina tertawa dengan wajah memerah yang bersinar. Dimata Han, ia tampak sangat cantik. Dan Han terpesona melihatnya, hal tersebut entah mengapa menimbulkan rasa panas di dadanya. Yang ia sendiri tidak mengerti itu apa.

“Hei!” Tegurnya saat melihat Saina keluar dari toilet yang sepi.

Gadis itu tampak baru saja mencuci wajahnya, ia terlihat segar.

“Sedang apa?” Katanya dengan alis berkerut. Melihat Han bersandar di lorong, menunggunya.

Han tersenyum dan melambai, menyuruhnya mendekat.

Saina itu tanpa curiga mendekat. Ia menyentuh wajah Han yang menunduk ke arahnya. Meraba keningnya lembut.

“Wajahmu memerah. Kau baik-baik saja?” Tanyanya sedikit khawatir.

“Aku baik. ” Kata Han sambil merangkul pinggangnya dan menarik Saina merapat padanya.

“Han, jangan pingsan disini. Aku tidak kuat mengangkatmu. Dimana semua orang ya?” Gumamnya pada diri sendiri.

Han tersenyum, mendengar kecemasan Saina. Kepeduliannya. Padahal ia tidak terlalu mabuk dan masih waras. Tidak banyak yang tahu kalau ia kuat minum dan tak gampang mabuk. Dan gadis ini malah mengira ia sebaliknya. Ia terlalu meremehkan dirinya, itu membuatnya menjadi impulsif. Dengan gerakan santai dan penuh perhitungan ia menundukkan wajahnya dan menarik dagu Saina.

Han menciumnya dengan penuh hasrat. Merasakan bibir Saina yang kenyal dan hangat. Mendesakkan semua perasaan yang bergumul di dadanya untuk perempuan ini. Resah, rindu, kesepian dan posesif.

Saina memundurkan wajahnya. Gadis itu melepaskan kontak fisik mereka dan memalingkan wajah dengan napas tersengal. Han menarik tubuh gadis itu lekat padanya dan membelai wajahnya lembut.

“Kenapa?” Ujarnya berbisik di telinga Saina dengan nada menggoda.

“Aku tidak bisa lebih dari ini. ” Katanya pelan dengan wajah memerah. Entah karena pengaruh malu ataupun nafsu.

“Mengapa?” Tanya pemuda itu lagi tanpa melepaskan lingkaran pelukannya. Han mengendus bahu dan leher gadis itu, membuatnya merasa bergidik.

Saina mendorong bahunya perlahan. Gadis ini memalingkan wajahnya. Ia menatap Saina dalam-dalam dan mencoba memahami isi hatinya. Ia tidak pernah mendapat penolakan.

Saina mendesah dan berkata, “Sebagian perempuan melakukannya untuk menunjukkan perasaan cinta mereka terhadap pasangannya, meskipun belum menikah. Tapi aku tidak mau melakukannya denganmu bukan karena aku tidak menyukaimu, Han. ” Ia membalas tatapan pemuda itu dengan lembut.

Alis Han berkerut samar. Tidak mengerti.

“Aku menjaga diriku dengan baik sampai pada saatnya menikah. Karena aku ingin menghargai diriku sendiri dengan menghormati seseorang yang kelak menjadi suamiku. Kau mengerti?” Ucapnya dengan hati-hati. Seakan takut menyakiti Han dengan keputusannya.

Han tersenyum kecil dan menyentuh kepalanya dengan lembut.

“Aku mengerti. ” Ucapnya dengan ketenangan yang luar biasa. Ia bisa mengerti prinsip gadis ini. Dan sejujurnya tak kurang dan lebih dari ekspektasinya terhadap diri Saina. Seperti inilah karakter dan sosoknya dipikiran Han.

¤¤¤¤

Walaupun Saina tetap bersikap biasa saja pada keesokan harinya, Han merasa tidak nyaman. Gadis itu jadi cenderung berhati-hati dan lebih menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Sejujurnya Han ingin tahu apa yang sedang dipikirkan gadis ini, tapi ia tidak tahu bagaimana cara menanyakannya.

Saina membawa banyak kantung kertas, berisi barang-barang dari sponsor dengan susah payah. Berdiri dengan limbung di depan pintu lift yang tertutup. Ting. Pintu terbuka. Hati-hati ia melangkah masuk. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang meraih sebagian besar kantung-kantung tersebut.

“Apa ini?” Han melihatnya dengan tertarik. Mengintip isi kantung yang berwarna paling mencolok.

“Barang-barang dari sponsor. ” Saina melihat sekeliling dan menyadari mereka hanya berdua saja di ruangan ini. Ia segera memencet tombol lantai yang ditujunya.

Han melirik gadis itu yang tampak sedikit gelisah.

“Soal yang kemarin… ” Ujar Han dengan suara rendah.

“Aku mengerti. ” Bisik Saina pelan. Gadis itu menolak memandang pada Han.

“Kau mengerti?! Ulang pemuda tampan ini dengan alis berkerut samar.

“Ya. Dan sebaiknya kita tidak membahasnya lagi. ” Ujar gadis itu dengan wajah memerah malu.

Han menatapnya dengan tajam. “Bagian mana yang kau mengerti?” Tanyanya dengan hati-hati.

Saina meliriknya lalu cepat-cepat menjawab. “Kita lupakan saja. ” Wajahnya semakin memerah.

Han mendesah, ia ingin mendesak gadis ini lagi. Namun melihat betapa gugup dan merahnya wajah gadis ini, ia yakin bila ia mengatakan satu kalimat lagi gadis ini bisa meledak.

“Aku tidak menganggap itu kesalahan. ” Ujarnya pada akhirnya. Ia menyerahkan bawaannya pada gadis itu, karena lantai yang dituju Saina sudah sampai.

Saina dengan wajah menunduk malu dan memerah, keluar dari lift dan berjalan cepat menuju ruang properti.

“Saina-ssi. Direktur memanggilmu ke kantornya. ” Ucap Asisten Park saat ia sudah lama berkutat di ruang properti.

“Di.. Direktur?!” Ulang Saina tidak percaya. Selama 8 bulan ia bekerja disini, belum pernah ia menemui Direktur Han Tae Min apalagi berbicara padanya. Diam-diam ia bergidik. Apa ia membuat kesalahan? Pikirnya takut-takut. Bagaimana kalau kejadian beberapa hari lalu ternyata sudah diketahuinya? Oh Tuhan aku akan kehilangan pekerjaan. Cemas gadis itu.

Saina berdiri dengan kaku, setelah sekretaris mempersilahkannya masuk ruangan Direktur. Gadis itu mengetuk daun pintu tebal sebelum akhirnya masuk dengan takut-takut.

Direktur Han Tae Min sedang duduk memeriksa beberapa berkas yang ada di meja kerjanya. Sekilas ia melirik gadis ini tajam dan memerintahkannya duduk di salah satu kursi berlengan empuk, tempat ia menjamu tamu-tamunya.

Gelisah, Saina duduk dengan gugup. Sekitar 20 menit kemudian Direktur Han berjalan di ke arahnya dan duduk di kursi berhadapan dengan gadis ini.

“Nona Saina sudah berapa lama bekerja disini?” Tanyanya dengan suara kering.

Gadis itu menelan ludah karena entah mengapa tenggorokannya kering. “Sudah 7 bulan 23 hari, Pak. ” Ucapnya perlahan.

“Lumayan lama. Betah kerja disini?” Pria berusia 48 tahun ini bersandar sambil menatapnya tajam.

“Iya, Pak. ” Jawab Saina tanpa berpikir.
Pria tersebut tersenyum kecil. “Han Tae Yang memperlakukanmu dengan baik?” Ia menyebutkan nama asli dari Han yang tak banyak orang mengetahuinya.

“Saya pikir Han baik kepada semua orang. ” Kata Saina dengan alis berkerut tidak mengerti.

Direktur Han mengawasi dengan seksama wajah gadis ini, menimbang seberapa besar tebakannya salah.

“Han tidak pernah peduli dengan apapun. Ia hanya tidak menunjukkannya saja. Jadi tidak benar ia selalu baik pada semua orang. ” Ujarnya dengan hati-hati.

Alis gadis ini berkerut samar, tidak mengerti. Tapi ia tetap diam dan menunggu.

“Apa pendidikan terakhir Nona?” Tanyanya sambil bersandar di kursi dan menyilangkan kaki.

“Sekolah Menengah Atas. Sempat kuliah tapi tidak selesai. ” Jawab Saina dengan jujur.

“Nona tulang punggung keluarga?” Ia kembali bertanya.

“Benar. ” Saina mulai merasa tidak nyaman.

“Sudah bekerja dibanyak tempat sebelum disini?” Direktur Han Tae Min mengawasi dirinya dengan seksama.

“Benar. ” Jawab Saina dengan lirih. Tiba-tiba ia merasa tidak berdaya.

“Han Tae Yang adalah keponakanku yang berharga. Bukan sekedar artis dimanajemen ini. Saya tidak bisa membiarkannya melakukan hal-hal yang dapat merusak karirnya. Nona bisa mengertikan maksud saya apa?” Pria ini menatap Saina dengan pandangan tajam.

“Maksud anda apa?” Tanya Saina dengan wajah pias, tidak mengerti.

“Maaf. Tapi sejujurnya dengan latar belakang dan keadaan Nona, sama sekali tidak memenuhi kriteria untuk Han Tae Yang. ” Ujarnya langsung.

“Wanita yang kelak bersamanya haruslah dari keluarga terhormat, berpendidikan dan kaya. Han Tae Yang mengetahui itu dengan jelas. Jadi sebelum Nona sakit hati sebaiknya… ”

“Tidak terjadi apapun diantara kami. ” Potong Saina sebelum ia menyelesaikan pembicaraannya.

“Direktur tenang saja. Saya cukup tahu diri dengan keadaan saya.” Sambungnya lagi dengan nada bergetar. Antara sedih dan marah. Ia menyadari maksud dari pertanyaan Direktur Han Tae Min tentang pendidikan dan latar belakang dirinya. Jauh sebelum ada yang mengingatkan siapa dirinya, Saina sangat sadar siapa dirinya. Tapi tak urung hatinya merasa sedih. Seolah luka lamanya kembali diusik.

“Saya percaya Nona tidak seperti itu. Tapi Han yang tidak bisa saya percayai. ” Ucapnya sambil menatap lurus kepada gadis berambut panjang ini.

“Lalu, apa yang anda inginkan?” Bisik Saina dengan suara perlahan. Takut dengan apa yang akan didengarnya.

“Bisakah anda pergi?” Pria itu menanyakannya tanpa basa-basi.

¤¤¤¤

“Han Tae Yang… ” Manajernya berteriak dengan keras, saat akhirnya melihat pemuda ini turun dari mobilnya. “Kemana saja kau beberapa hari ini? Paspormu hilang dan aku tidak bisa menghubungimu. Ya Tuhan, kau benar-benar ingin membunuhku. ”

Han merangkul pria yang sudah dianggapnya sebagai abangnya ini. Mengajaknya masuk ke dalama rumahnya yang mewah. “Maaf, Hyung. Aku mendadak pergi tanpa memberitahumu. ” Ucapnya dengan nada dibuat bersalah.

“Kau pergi kemana?” Tanyanya dengan bersunggut-sunggut saat mereka sudah memasuki rumah Han.

“Aku menemui Kirara, Hyung. ” Katanya dengan jujur. (Baca After Lonely (Not Alone) http://wp.me/p2SQIe-4P).

Manajernya diam dan menatapnya dengan pandangan serba salah. “Bagaimana kabarnya?” Tanyanya dengan tulus.

Han tersenyum dan menyandarkan tubuhnya ke sofa empuk di ruang tengah rumahnya. Tampak santai dan tidak terbebani. “Dia sehat, bahagia dan sebentar lagi akan menjadi ibu. Suaminya pria baik dan menyenangkan. ” Ucapnya dengan ringan.

Mereka lalu terdiam cukup lama, masing-masing tenggelam dengan pikirannya.

“Kau tahu Saina menghilang?” Tanya Manajernya memecah keheningan.

Han terkesiap, kaget. “Menghilang? Bagaimana bisa?” Ia duduk dengan tegak. Raut wajahnya cemas.

Manajernya mendesah, khawatir. “Sudah dua hari ia tidak masuk kerja. Tanpa alasan apapun. Yang membuatku semakin khawatir, teman sekamarnya bilang sepertinya ia berencana pulang ke Jakarta. Barang dan tiket pesawatnya ditemukan di halte bis dekat rumah sewanya, bahkan penerbangannya sudah terlewat. Tapi Saina tidak ada dimanapun. ”

“Apa?” Han bertambah kaget. Kini ia benar-benar tampak sangat khawatir. “Sudah lapor polisi, Hyung?” Ujarnya menyarankan.

“Sudah. ” Manajernya mengangguk. “Polisi sudah bertanya kebeberapa orang yang terakhir kali melihatnya beberapa hari yang lalu. Tidak ada yang aneh darinya, kecuali ia bertemu dengan Direktur Han. ”

“Pamanku bertemu dengannya?” Han menatapnya curiga.

Manajernya tersenyum lemah. “Kurasa kau tahu apa yang terjadi. Tapi aku tidak berpikir menghilangnya Saina ada kaitannya dengan Direktur. ” Katanya tanpa bermaksud membela Direktur Han.

“Hyung, pamanku bisa berbuat apa saja. ” Pemuda itu menghela napas berat. “Ia sudah sangat keterlaluan. ” Ujarnya lagi.

“Han, jangan mencari masalah dengannya. Bagaimanapun ia pamanmu. ” Ujarnya menasihati pemuda ini, yang tampak sangat emosi.

Drrrt… Drrrrrt.. Ponsel manajernya bergetar. Pria itu melihat layarnya dengan pandangan kaget. Segera ia mengangkat panggilan tersebut.

“Sudah ditemukan? Dimana?” Ia nyaris berteriak sambil melirik Han yang tampak waspada.

¤¤¤¤

Han menatap wajah Saina yang tertidur pulas di sofa empuk ruang tengah rumahnya. Meskipun terlihat pucat dan kuyu, tidak menghilangkan pesona gadis ini. Saina tetap terlihat cantik dengan rambut kusut dan wajah memelas. Dan Han tidak ingin membiarkannya sendirian untuk sementara ini.

Manajernya mengawasinya dari dapur. Menarik napas dengan berat. Belum pernah ia melihat Han semarah ini. Ia bahkan bergidik saat mengingatnya. Setelah mendapat kabar dimana Saina disekap, mereka pergi ketempat tersebut. Jantungnya nyaris copot karena Han menyetir seperti orang gila. Dan saat mereka tiba, polisi sudah menyerbu gudang tersebut. Pemuda itu ikut berlari ke dalam gedung terbengkalai itu. Dan tak berapa lama ia kembali dengan membopong Saina yang tampak lemah dan masih tampak ketakutan. Dengan wajah mengeras yang tampak seperti ingin membunuh orang. Ia sangat marah.

Yang membuat manajernya lebih kaget, ternyata orang yang menculik Saina adalah Manajer klub yang dulu pernah memaksa gadis itu menjadi wanita penghibur. Ternyata saat Saina menunggu bis, ia sedang lewat jalan itu dan melihatnya. Ia yang masih dendam dan penasaran memaksa Saina masuk ke dalam mobilnya dan menculiknya.

Dan sekarang beritanya sudah tersebar kemana-mana. Hal tersebut yang membuat pria ini tampak susah. Karena entah darimana beritanya justru negatif, Han dikatakan punya hubungan dengan wanita malam. Bahkan wanita tersebut merupakan sindikat dari mafia. Tentu saja berita ini langsung menjadi topik utama dimana-mana. Orang-orang mulai mempertanyakan kebenarannya, dan anti fans membuat segalanya menjadi lebih rumit lagi. Benar-benar neraka bagi mereka. Tapi anehnya Direktur Han Tae Min malah terlihat tenang dan cenderung membiarkan saja rumor yang berkembang.

“Hyung… ” Han melambai padanya, menyuruhnya mengikuti ke ruang kerja yang lebih tertutup.

Manajernya menutup pintu dan berbalik. Han duduk dengan nyaman di salah satu kursi empuk. Menyilangkan kaki dan wajahnya tampak datar.

“Kau sudah melihat berita?” Tanya manajernya tanpa basa-basi.

“Belum. ” Sahutnya pendek. “Tapi sudah menduganya. ” Ia menatap lurus pada pria ini.

Kening manajernya berkerut, tidak mengerti.

“Semua ini perbuatan Paman Han Tae Min. ” Katanya dengan nada dingin.

“Hah?” Kaget manajernya tidak percaya. “Masa ia setega itu?” Ucapnya perlahan.

“Ia menyuruh Saina pergi. Tapi tidak menyangka diperjalanan gadis itu malah diculik. Ia membiarkannya saja sampai masalahnya jadi sebesar ini. Ia pikir aku tidak akan bertindak. ”

“Kau ingin melakukan apa?” Tanya manajernya dengan was-was.

Han tersenyum simpul, menatapnya dengan percaya diri. “Aku akan membuat semuanya jadi berpihak padaku. Dan kali ini paman Han Tae Min tidak akan bisa berbuat apapun. Kali ini aku butuh bantuan besar darimu, Hyung. ”

¤¤¤¤

Esoknya beredar video Han menolong gadis yang dipukuli lelaki di sebuah klub. Segera saja video ini mengundang bermacam-macam spekulasi. Dan semuanya mempunyai efek positif dan menghapus semua rumor yang berkembang di hari kemarin. Han dianggap sebagai pahlawan yang menolong wanita tidak berdaya. Bahkan video tersebut menjadi bukti kejahatan manajer klub yang telah menculik Saina. Hal tersebut semakin membuatnya terjerat lebih dalam lagi di mata hukum. Selain penculikan dan penyekapan, ia diduga terkait dengan trafficking manusia.

Orang-orang semakin penasaran dengan Han. Wartawan memburunya ke kantor Agencynya, bahkan sampai menginap di jalanan kompleks rumah mewah Han. Tapi Han bergeming tetap tidak mau keluar dan memberikan konfirmasi apapun. Hanya manajernya dan beberapa asistennya keluar masuk rumahnya, tanpa memberikan keterangan apa-apa. Membuat wartawan semakin penasaran.

Lalu tiba-tiba disebuah stasiun TV terkemuka menayangkan kutipan wawancara eksklusif yang baru saja dilakukan satu jam yang lalu. Han tampak mengenakan jas hitam dengan kaos berkerah V dan celana abu-abu. Ia tampan dan kelihatan sederhana namun tetap bersahaja. Duduk dikursi dengan menyilangkan kaki panjangnya, santai.

“Bagaimana kabar anda?” Tanya sang wartawan beruntung tersebut, menyalaminya dengan hangat.

Han tersenyum santun dan berkata, “Dengan berbagai berita yang berkembang seperti ini, tentu saja saya sedikit terganggu. ” Ia berterus terang.

“Saya akan bertanya langsung, benarkah video yang beredar tersebut adalah anda?” Tanyanya kepokok masalah tanpa basa-basi.

Han menatapnya dengan serius. “Benar. Itu saya. ” Jawabnya tegas.

Wartawan tersebut tampak berbinar senang. “Kapan kejadiannya? Mengapa anda tidak melaporkannya kepada Polisi?” Tanyanya bersemangat.

Han menarik nafas panjang. “Sekitar bulan April, pertengahan. Sayangnya korbannya yang merupakan warga negara asing, menolak memperpanjang masalah ini. Gadis itu sudah cukup bersyukur bisa selamat tanpa kurang apapun. ” Ia menjelaskan dengan seksama. “Tapi beberapa hari yang lalu gadis ini kembali diculik pria tersebut. Sehingga saya tidak bisa membiarkannya lagi. Saya sudah melaporkan semuanya kepada pihak berwajib. ” Tambahnya dengan raut wajah bersungguh-sungguh.

“Jadi tidak benar kalau gadis itu bukan wanita baik-baik? Dan terlibat dengan kawanan penjahat. ” Cecar wartawan tersebut tidak sabar.

Han menatapnya dengan tajam. “Tidak. Ia gadis baik-baik yang sudah ditipu jaringan perdagangan wanita internasional. ” Ujarnya penuh tekanan.

“Gadis tersebut sangat beruntung telah diselamatkan, berkali-kali. ” Wartawan tersebut menatapnya dengan penasaran. “Apakah anda mengenalnya secara pribadi?” Tanyanya dengan hati-hati.

Han tersenyum simpul. “Ya. Saya menawarkannya pekerjaan, jadi ia bekerja pada saya. Ia gadis pintar, pekerja keras dan menguasai beberapa bahasa asing. ”

Wartawan tersebut tersenyum senang, seperti mengendus sesuatu yang menarik. “Apakah anda punya hubungan khusus dengannya?”

Han menunduk, tersenyum malu-malu. “Saya tidak bisa bilang. ” Ucapnya pelan.

Sang wartawan nyaris tersedak kegirangan. “Gadis beruntung tersebut. Apakah ia baik-baik saja?” Tanyanya kembali memancing pembicaraan pada Han.

“Ia masih shock dan dalam pengawasan pihak berwajib, karena menjadi saksi penting kasus penculikan dan perdagangan manusia. Tapi selain itu ia sehat. ” Kata Han memberitahunya.

“Apa ada yang ingin anda sampaikan pada masyarakat dan penggemar anda?” Wartawan itu bertanya untuk terakhir kalinya.

Han menatap kamera dengan pandangan teguh. “Saya cuma manusia biasa yang terkadang bisa melakukan hal salah. Tapi saat ini saya benar-benar melakukan hal yang benar. Bagaimana mungkin saya bisa membiarkan wanita diperlakukan seperti itu oleh pria… Pria yang tampaknya tidak bermoral. ” Ia tampak menahan emosinya. “Gadis itu tidak bersalah. Jadi jangan lagi mengatakan hal-hal yang tidak benar tentangnya. Ia hanya korban disini. Ia gadis yang baik, tulang punggung keluarga dan pekerja keras. Saya sangat mengagumi semangat hidupnya. ”

“Dan kepada seluruh masyarakat Korea yang merasa terganggu dengan pemberitaan miring tentang saya, saya mohon maaf dengan setulus hati saya. Kepada para penggemar saya, terimakasih telah mendukung dan tetap percaya pada saya. Tanpa kalian semua, saya bukan apa-apa. ” Usai mengatakan hal tersebut pemuda ini berdiri dan membungkuk hormat ke arah kamera.

Pemberitaan itu mendapat rating tertinggi di stasiun TV tersebut sehingga diputar beberapa kali dan dibeli oleh siaran TV lainnya. Dampak dari wawancara tersebut memberikan kesan positif bagi Han. Dan tentu saja langsung menjadi headline berbagai pemberitaan.

Han tersenyum puas saat mendengar manajernya memberitahu berbagai respon positif yang diterimanya. Bahkan Han mendapat penghargaan sebagai pahlawan dari Kepolisian, yang diterimanya dengan suka cita.

Manajernya tidak kalah senangnya, berbagai tawaran film, drama, iklan, wawancara dan pemotretan sampul majalah bertubi-tubi menghampirinya. Jadwal Han yang memang sudah penuh jadi semakin padat hingga dua tahun kedepan. Ini adalah puncak keberhasilannya sebagai seorang manajer artis. Tak terkatakan betapa bersyukurnya ia masalah ini terselesaikan dengan baik.

Hari ini Han makan siang dengan Direktur Han Tae Min. Sudah lama sekali ia tidak pernah makan bersama dengan pamannya lagi dan kali ini ia yang berinisiatif mengajak duluan.

Han sudah muncul sepuluh menit dari waktu yang ditentukan. Dan ia mengajak Saina ikut serta. Gadis itu tampak cantik dengan gaun biru berpotongan sederhana yang melekat dibadannya. Wajah Direktur Han tampak mengernyit tidak senang saat melihatnya, namun ia tidak berkata apapun.

“Apa kabar, Paman?” Tanyanya seformal mungkin. “Aku akan berkata langsung saja. Aku menguasai saham perusahaan sebanyak 31% dan saham Ibu sebanyak 26% persen. Jadi dengan begitu aku menjadi pemilik suara terbesar saat ini, meminta CEO Han Tae Min segera pensiun. ” Katanya tanpa basa-basi.

Pamannya tampak sangat terkejut, wajahnya memerah karena marah. “Paman sudah terlalu lama bekerja keras. Dan sebaiknya sekarang Paman berlibur dan bersantai-santai seperti Ibu. Aku akan menjaga semuanya mulai sekarang. ” Katanya lagi tanpa bermaksud kurang ajar dan masih bersikap sangat sopan.

“Aku sudah memaafkan perbuatan Paman yang lalu-lalu. Aku pikir saat inilah aku harus memulai kehidupan baruku yang lebih baik. Dan aku harap Paman juga begitu. ” Ucapnya dengan nada lembut.

Pamannya menatap air muka Han yang tampak tenang dan tak ada kemarahan disana. Entah mengapa pria setengah baya ini merasa sedih. Keponakan yang sangat ia sayangi dan jaga selama ini telah menjadi lelaki dewasa dan bertanggung jawab. Dan ia sendiri malah pernah melakukan kesalahan tak termaafkan namun ponakannya ini telah memberinya maaf yang membebaskan.

“Makanannya sudah datang. ” Kata Saina tiba-tiba memecahkan suasana canggung. Han tersenyum padanya.

“Lain kali, kita harus lebih banyak makan bersama sebagai keluarga. Benarkan Paman?” Ucap Han hangat kepada pria tua yang sedang rikuh ini.
Mata pria itu berkaca-kaca, ia berusaha tersenyum. “Benar. Lain kali harus lebih sering. ” Katanya tercekat kesedihan.

¤¤¤¤

Han duduk di sofa ruang tunggunya yang nyaman, dengan sebuah naskah film yang berada di pangkuannya. Ia sedang merasa kesal. Sementara Saina tanpa merasa bersalah berjalan bolak-balik merapikan properti miliknya. Pakaian, aksesoris dan berbagai barang dari sponsor tanpa memperhatikan Han sedikitpun. Gadis ini sudah kembali bekerja dan selalu bersikap profesional. Sedangkan Manajer Choi saat ini sudah menjadi CEO menggantikan Direktur Han Tae Min yang pensiun.

“Hei… ” Sergahnya kesal pada Saina yang sedang memeluk setumpuk baju.

Gadis itu menatapnya bingung. Han berdiri dan merengut semua bawaannya. Dan mendorongnya duduk di sofa.

“Kau, duduk saja disitu. Aku pusing melihatmu kesana-kemari. ” Katanya kesal sambil menyampakkan baju-baju tersebut ke meja.

Saina diam dan tidak menolak perintah Han. Pemuda itu duduk di sebelahnya dan kembali menekuri naskah di tangannya. Namun tak berapa lama kemudian saat ia melirik pada gadis itu, kembali ia sangat kesal. Saina tampak sibuk dengan tab ditangannya, mengecek dan membalas email masuk dengan cepat. Serta mengupdate jadwal kegiatan Han.

“Yak, kau ini. ” Katanya dengan keras.
“Apa?” Saina menatapnya tidak mengerti, namun jari-jarinya masih menempel di layar tab.

“Tidak bisakah saat bersamaku, perhatianmu hanya tertuju buatku?” Ucapnya dengan nada lelah.

Saina mendengus kesal dan kembali mengetik dengan cepat. “Saya sedang bekerja, Tuan. ” Katanya dengan nada acuh.

Han memperhatikannya dengan lebih seksama. Saina mengenakan minidress warna krem kecoklatan tanpa lengan yang dipadukan dengan blazer putih dengan aksen kancing perak. Sepatu bot kulit warna hitam dan riasan wajah yang lembut. Dandanannya manis dan sedikit feminim.

“Sejak kapan kau mulai berdandan? Sampai pakai make-up segala. ” Kata Han kesal, ia melemparkan naskahnya ke tumpukan baju.

“Hah!” Saina kaget ditanya seperti ini. “Bukankah dulu kau yang menyuruhku lebih memperhatikan penampilan, sehingga tidak membuatmu malu. ” Balasnya dengan kesal, karena terganggu.

“Itu sebelum kau jadi pacarku. Kalau sekarang kau terlihat seperti ingin menggoda orang. ” Ucap Han dalam hati. Ia melotot kesal pada gadis itu, tidak menyukai gadis itu terlihat sangat menarik di depan umum.

“Kau ini… ” Ia merengut kesal. “Belakangan ini semakin berani saja. ” Tambahnya dengan suara pelan.

Saina memandangnya sengit. “Yak, kau yang semakin aneh. Aku ini bekerja dibagian promosi tapi kau memaksaku ikut kegiatanmu seharian. Menyuruhku ini dan itu, tidak jelas. Aku jadi tidak enak dengan Direktur Choi. ” Katanya kesal pada Han.

“Hyung tidak masalah kok. ” Ucap Han enteng, seolah tidak peduli. Ia menarik gadis itu duduk merapat padanya.

“Yak, Han Tae Yang. Kau mau apa?” Saina menatapnya dengan curiga.

“Sedikit ini itu, tidak masalahkan. ” Ia tersenyum menggoda gadis di pelukannya.

Saina mendorong bahunya sekuat tenaga, wajah gadis itu memerah menahan rasa malu.

“Sudah kuduga, ternyata kau orang yang mesum. ” Rutuknya keras.

Han tersenyum semakin lebar. “Kau baru sadar?” Katanya meremehkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s