Soal Jodoh dan Indonesia Ditangan Mereka

“Gimana persiapan lebaran okekan, secara gaji ke 13 udah keluar?” Tanyaku pada teman pas lagi chatting siang ini. Teman aku ini profesinya PNS di dinas Peternakan.
“Cih, apaan. Pengennya sih ada gaji ke 14. ” Balasnya gitu. “Yang penting siapin mental ajalah. Ntar lebaran pasti ditanyain keluarga besar ‘Kapan menikah’. ” Curhatnya padaku.
Aku yang juga keadaannya sama kayak doi, jadi ikutan sewot juga. “Bosen ditanyain begitu, lama-lama gue kawin juganih. ” Timpalku gemas. Lah, dia ngakak. “Ah, kalo itu mah emang maunya elo. ” Rutuknya padaku.

Kemudian pas lagi buka puasa, aku makan masakannya nyokap dan masakan nyokap emang nggak ada dua enaknya. Nyokapku adalah orang minang jadi kalo masakan rumah makan padang adalah menu biasa di meja makan. Dan aku jadi mikir gini, mungkin inilah salah satu alasan kenapa aku belum menikah. Belum bisa pisah dengan masakan nyokap. Karena belum tentu masakan suami aku bisa seenak masakan nyokap, atau masakan mertuaku bisa nyaingin masakan nyokap. Soalnya aku bercita-cita pengen punya suami yang jago masak, ntar suamiku yang masak akunya cuci piring. He3x.

Anyway, terserah deh umur udah berapa. Masih jomblo dan belum mikir mau nikah (ya gimana mau nikah kalau calonnya juga nggak ada). Aku cuma bisa pasrah dan santai aja ngejalani hidup. Toh selama urusan jodoh masih diatur oleh Tuhan, aku nggak perlu takut jodohku bakal disamber orang. Diserobot atau dialihkan ke orang lain. Karena aku yakin urusan sama Tuhan tuh beda, nggak kayak urusan sama birokrasi pemerintah Indonesia. Yang ribet, suka dipersulit dan perlu uang pelicin dimana-mana. Makanya liat aja gimana keadaan negara kita saat ini. Rusak sampai keakar-akarnya dan parahnya pemimpin kita tidak bisa mengendalikan para bawahannya untuk tidak bertindak curang. Pemimpin kita mah lebih sibuk dengan bikin album, ngurus partai, main twitter dan belakangan ini bikin akun facebook, youtube dan lain-lain. Ada kecenderungan pengen narsis terus atau pengen jadi celebrity di dunia maya sepertinya. Nggak ngertideh, manfaatnya apa gitu buat kemajuan Indonesia. Gegayaan doang lu, Pak.

Aku udah lelah berharap sama hal-hal besar, akhirnya kuputuskan kebahagiaanku tidak boleh tergantung pada sesuatu. Aku sendiri yang memutuskan aku ingin bahagia atau tidak, dan mewujudkannya. Jadi soal menikah atau nggak, tidak lagi membebani diriku. Kemudian soal pemimpin kita yang ‘seperti itu’, yeah whateverlah pak. Sesuka bapak ajalah mau jadi apa Indonesia selama kekuasaan anda. Yang jelas Indonesia udah memperlihatkan gejala kebangkrutan ditangan bapakloh. Utang pemerintah terus menumpuk. Aset negara, tanah dan sumber daya alam dikuasai pihak swasta. Cadangan devisa merosot ketitik nol. Pemerintah tidak bisa mengendalikan harga kebutuhan pokok dan pangan (sumber Waspada 18/7/13). Dan bapak masih bisa sesumbar tingkat penduduk miskin berkurang? Sak karepmu pak. Sak karepmu ae.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s