It’s Time To Kiss Goodbye

“Aku harus pergi. ” Ucap gadis cantik yang berambut pendek dengan wajah yang pucat.

“Jangan pergi. ” Pria di hadapannya berlutut dan menggenggam tangannya. Menatapnya dengan sorot mata memohon dan bersedih.

Gadis itu menggeleng. Setitik air mata jatuh, memercik di tangan keduanya yang bertaut erat. “Jangan seperti ini. ” Ujar gadis itu menahan tangisannya.

“Jangan pergi, kumohon. ” Bisik pria itu lagi dengan keras kepala. Ia menarik jemari gadis itu dan mengecupnya, panik. Ada rasa dingin yang mencengkram tenggorokannya dan ia tidak menyukainya.

“Bagaimana aku bisa pergi dengan tenang, kalau kamu seperti ini. ” Gadis itu mengeluh dengan perasaan semakin berat. Air matanya banjir menyusuri pipi mulusnya. Pria itu menghapusnya dengan telapak tangannya yang besar.

“Makanya, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. ” Pinta pria itu mencoba mematahkan keinginan gadis itu.

“Tidak bisa. ” Gadis itu menangis tergugu. “Kau tau betapa ingin aku untuk tetap tinggal, aku mencintaimu. ” Ia mengangsurkan jemari halusnya, menyentuh pipi kiri pria itu.

“Aku mencintaimu. Kumohon tinggallah untukku. ” Pria itu menekap jari gadis itu dipipinya dan menatapnya dengan wajah tersiksa.

“Aku mencintaimu. ” Bisik sang gadis lembut.

“Karena itu kita harus tetap bersama. ” Kata pria itu penuh tekanan.

“Kau harus ingat, aku mencintaimu sampai akhir. ” Gadis itu menunduk dan mengecup bibir pria ini. “Aku mencintaimu, Joe. ” Ucapnya bersungguh-sungguh.

Joseph Kim menangis. Ia menangis untuk wanita ini, gadis yang ia cintai dan paling ia inginkan. Ia menangisi hatinya yang sakit. Ia menangisi cintanya yang dalam. Ia menangisi nasib yang memisahkan mereka. Seberapa kuat dan kerasnya ia mencoba tapi mereka tetap tak bisa bersama.

Joe membuka matanya dan hal pertama yang ia lihat adalah Jill Park yang tertidur dalam pelukannya.

Wajah gadis itu tampak damai seolah sedang tertidur pulas. Tak seperti orang yang sedang koma. Yah, Jill tak pernah bangun lagi usai operasi cangkok pembuluh jantung untuk kedua kalinya. Dan di ranjang besi inilah ia nyaris delapan belas bulan berbaring.

Dokter menyatakan keajaibanlah yang membuatnya bisa tetap hidup sampai selama ini, meski ia tak pernah sadar. Tapi Joe masih berharap, ada keajaiban lain yang bisa membuat kekasihnya ini bangun. Dan mimpinya tadi sungguh sangat menakuti dirinya. Ia merasa resah.

Joe membelai wajah cantik Jill, “Kau tak boleh meninggalkanku. ” Bisiknya dengan suara rendah. “Kalau kau pergi, tak ada lagi alasanku untuk tetap hidup. Jadi semua tergantung padamu, sayang. ” Ia kembali membelai wajah Jill.

¤¤¤¤

“Jill datang dalam mimpiku, Hyung. ” Joe duduk dengan pandangan menekuri lantai. Di kantor Dokter Spesialis Bedah Thoraks, Daniel Kim.

Danny, sepupu yang lebih tua 3 tahun darinya ini menatapnya dengan prihatin. Ia tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya pada Joe yang sudah dianggapnya sebagai adik kandungnya. Dan kenyataan bahwa ialah yang mempertemukan lagi Joe dan Jill setelah 10 tahun mereka terpisah.

“Joe, mungkin kau harus mulai bersiap untuk merelakannya. ” Ucapnya dengan nada perlahan.

Joe menatapnya dengan pandangan terluka, “Hyung, kau juga menyuruhku untuk menyerah tentang Jill?” Tanyanya tidak percaya.
Danny merasa bersalah namun ia tetap mengatakannya. “Jill sangat menderita Joe. Hanya kau saja yang menahannya untuk pergi. Kau harus mengikhlaskannya, adikku. ” Katanya dengan nada yang biasa ia gunakan untuk menenangkan keluarga pasien.

Joe bangkit dengan marah. “Jangan katakan apapun lagi, Hyung. Cukup. ”

Danny bertahan. Ia tetap harus mengatakan hal pahit yang mungkin tak ingin didengar pria muda ini. “Sebelum operasi kesempatan hidup Jill hanya 5 %. Tapi ia tetap melakukannya demi dirimu karena ia sangat mencintaimu. Dan ia bertahan selama ini merupakan hal yang tidak mungkin, tapi ini terjadi. ”

“Karena itu, Hyung. Kupikir kaulah yang paling mengerti diriku. Jadi jangan memintaku merelakannya, aku tidak bisa. Aku tidak mau. ” Kata Joe dengan suara penuh emosi.

“Kau masih hidup Joe. Tapi lihat bagaimana dirimu selama nyaris 2 tahun ini? Kau seperti sudah mati. Meninggalkan pekerjaanmu, membuat Ayah dan Ibumu khawatir. Dan apa kau pikir inilah yang diinginkan Jill darimu? Berhenti hidup. ” Bentaknya dengan wajah memerah.

Joe menatapnya dengan wajah tak kalah garang. “Aku tidak peduli. Setidaknya Jill masih bernafas dan sampai akhir aku tidak akan menyerah. ”

Danny menggeleng frustasi. “Ayah dan Ibu Jill sudah pasrah. Pikirkan perasaan mereka melihat putrinya seperti itu dan kau yang seperti ini. Mereka sudah sangat kasihan, tolong jangan membuat mereka semakin merasa bersalah dengan kekerasan kepalamu, adikku. ” Pria berjas putih ini mendekat lalu menyentuh pelan pundak Joe.

“Tolong pikirkan lagi. Ya?” Pintanya dengan nada lembut.

Joe berbalik dan meninggalkan ruangan Danny. Menutup pintu dengan keras. Dan segera menuju kamar tempat Jill selama ini dirawat. Rumah Sakit ini sudah seperti rumah baginya. Semua Dokter, apalagi para Suster mengenal dirinya. Mereka tahu dengan pasti betapa besar cinta dan kesetiaannya pada Jill. Tapi mereka tetap juga tak bisa mengerti apa yang ia rasakan saat ini. Mereka tidak memahaminya.

¤¤¤¤

“Dok, sudah seminggu ini sepertinya sepupu anda tidak tidur. Ia terus-terusan terjaga dan menemani Nona Jill yang belakangan ini sering kritis. ” Seorang Suster melaporkan keadaan Joe padanya.

Danny mengucapkan terimakasih dan segera mendatangi kamar pasien tempat Jill di rawat. Ia mengetuk pintu dan masuk. Benar saja, ia melihat Joe yang tampak kusut dengan wajah pucat dan lelah. Duduk sambil menggenggam jemari Jill.

Danny mendesah, sedih juga kasihan. “Sudah berapa hari kau tidak tidur? Jangan sampai kau juga jatuh sakit. Bagaimana kau bisa menjaganya kalau kau sakit, Joe. ” Katanya sambil menyentuh dahi sepupunya yang terasa hangat.

“Kau demam. ” Ucapnya sambil memasang alat tensi pada lengan Joe. Memeriksa tekanan darah Joe yang hasilnya rendah. “Kau tidak menjaga kesehatanmu. ” Ia melotot kesal pada pemuda ini. Bagaimanapun juga ia adalah seorang Dokter, tidak mungkin ia membiarkan saja Joe menelantarkan kesehatannya.

“Aku tidak bisa tidur, Hyung. Aku sangat khawatir, Jill sudah beberapa kali kritis dan aku takut. ” Ujarnya dengan mata memerah dan wajah lelah. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari gadis itu.

Danny kesal, ia menyeret Joe ke sofa dan memasangkan plester kompres ke dahinya. Ia menarik tangan pemuda ini, menepuk-nepuk lengan dalamnya dan menyuntikkan cairan ke pembuluh darahnya. Semuanya dilakukan dengan cepat dan cermat.

“Ini hanya vitamin. Tidurlah, aku akan menjaga Jill selama kau tidur. ” Katanya dengan nada lembut menenangkan.

Joe diam namun ia membaringkan juga badannya ke sofa. Wajahnya menghadap ke ranjang Jill. Perlahan memejamkan matanya, mencoba untuk tertidur. Dan sepuluh menit kemudian pemuda ini benar-benar tidur. Nafasnya melambat dan wajahnya tampak tenang.

Danny mendesah. Menoleh pada Jill yang terbaring lemah dan tidak sadar.
“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaannya bila kau pergi. ” Katanya seolah berbicara pada gadis ini. “Saat ini saja, ia sudah seperti mayat hidup. ”

Dokter bedah thoraks ini kemudian duduk di sebelah ranjang. Ia menyentuh jari-jari Jill dan mengusapnya perlahan dengan tisu basah. “Aku tahu kau bertahan selama ini, hanya karena dia. Jujur Jill, terkadang aku menyesali mengapa kalian harus bertemu lagi, jika hanya harus seperti ini. Tapi saat mengingat betapa bahagianya dirimu dan begitu besarnya kemauanmu untuk sembuh, aku merasa bersalah. ”

Danny mengingat hari itu. Ia sedang melakukan visite pasien dengan Prof. Han Seo. Mereka memeriksa dan mengecek kondisi pasien bangsal bedah thoraks. Dan saat itu ada seorang pasien yang baru masuk, memiliki kelainan jantung dari kecil dan sudah beberapa kali operasi. Danny menatap status pasien ditangannya, “Gillian Park. Umur 22 tahun. ” Bacanya perlahan. Sepertinya familiar, pikirnya sendiri.

Profesor Han menyapa pasien-pasien dengan hangat. Pria umur 61 tahun ini memang Dokter yang ramah dan bijaksana, oleh sebab itu ia populer dikalangan pasien dan disegani para koleganya. Dan saat itulah Danny melihat Gillian Park atau yang lebih ia kenal sebagai Jill.

Gadis itu lebih cantik dibandingkan beberapa tahun lalu, meski tampak pucat dan sakit. Keluarga mereka dahulu cukup dekat dan ia mengetahui Jill punya penyakit jantung bawaan. Itulah sebabnya kedua orang tuanya akhirnya membawanya pindah ke Amerika untuk berobat. Dan membuat Joe sepupunya kehilangan kontak dengan cinta pertamanya ini.

Setelah yakin kalau ini benar-benar Jill, Danny lalu menghubungi sepupunya dan memberitahukannya informasi ini. Joe yang awalnya tidak percaya, secepat kilat datang ke Rumah Sakit Myunghee dan menemuinya di ruang konsultasi pasien.

“Kau benar melihatnya, Hyung? Benar-benar Jill? Tidak salahkan?” Tanyanya dengan bersemangat.

“Hei, kau pikir aku ini apa?” Katanya kesal direcoki dijam kerjanya yang sibuk. Joe datang berpura-pura jadi pasien dan mengganggunya dengan pertanyaan bertubi-tubi tentang Jill.

“Dia benar Jill. Aku bahkan sudah bertemu Paman dan Bibi Park. ” Danny melotot kesal dibalik kaca matanya.

Joe tersenyum lebar. “Dimana kamarnya, Hyung? Aku mau mengunjunginya. ” Ujarnya bersemangat.

“Ck, kau ini. Menganggu sekali. Dia sedang general chek up. Mungkin sekitar sejam lagi baru kembali ke kamarnya. ” Danny melirik keluar ruangan, pasiennya masih banyak yang antri. “Bukankah ini masih jam kantor? Pulang sana. ” Usirnya pada sepupunya yang manja ini.

Joe tertawa lebar. “Aku sudah pesan ke sekretarisku, meeting di luar kantor.” Ucapnya tanpa merasa bersalah. Membuat Danny menggelengkan kepala, tidak habis pikir. Bagaimana pemuda ini bisa memegang jabatan penting di perusahaan besar bila kelakuannya masih tidak bertanggung jawab seperti ini.

Danny menyebutkan ruangan Jill di rawat dan Joe langsung memeluknya girang. Berterimakasih secara berlebihan. Membuat Danny merasa malu di depan pasiennya dan Suster yang berdiri di belakang mereka. Lalu Joe langsung kabur sebelum Danny berteriak, memarahinya.

“Dasar berandalan. ” Makinya pelan. Yang langsung mendapat hadiah pelototan dari pegawai senior, Perawat Lee. Danny meringis dan mencoba berpura-pura memanggil pasien selanjutnya. “Bapak Han Kang!” Serunya mengalihkan perhatian.

¤¤¤¤

Setelah itu Joe semakin sering mengunjungi Jill. Danny yang sering memergoki sepupunya ini hanya bisa menarik nafas panjang. Diam-diam ia mempelajari catatan kesehatan Jill walaupun gadis itu bukanlah pasien yang ditanganinya. Dan untuk pertama kali Danny merasa takut. Karena mengetahui kesehatan jantung Jill memang buruk dan kemungkinannya untuk sembuh sangat kecil. Lalu bagaimana dengan Joe bila terjadi sesuatu padanya? Pikirnya gelisah.

“Oppa.. ” Jill menyapanya dengan senyum cerah.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Danny dengan sabar.

Jill tersenyum lembut. “Kurasa Oppa yang lebih tahu. Tidak membaik. ” Jawabnya dengan jujur.

Mereka duduk bersisian di bangku taman, yang terletak di tengah Rumah Sakit Myunghee. Danny merasa gadis ini tak bisa dibohongi kalau keadaannya memang tidak baik.

“Oppa, apa Joe baik-baik saja kalau kutinggal?” Jill bertanya dengan nada ringan. Namun Danny tahu ia pasti sangat mencemaskan Joe.

“Aku tidak tahu, Jill. Tapi yang paling penting kau akan terus berusaha untuk sembuhkan?” Danny menatap gadis itu dengan seksama.

Jill mendesah pelan, jarinya yang kurus dan pucat menyisipkan sejumput rambut ikal hitamnya ke balik telinga. “Dokterku di Amerika bilang umurku tinggal setahun. Dan Prof. Han Seo bilang operasi kedua inipun kemungkinannya sangat kecil. Tapi aku tetap ingin mencobanya, Oppa. ” Ucapnya dengan perlahan. “Aku ingin hidup. Sedikit lebih lama, demi dia. ” Bisiknya halus.

Danny tidak tahu harus berkata apa, ia hanya bisa terdiam dan menatap wajah gadis ini yang penuh tekad. Jauh didalam lubuk hatinya, ia merasa sedih juga kasihan. Ia tahu dengan pasti sakit yang diidap Jill membuatnya sangat menderita sekali, kematian nyaris lebih baik. Dan operasi-operasi itu juga tak kalah menyakitkan rasanya namun gadis itu terus bertahan.

“Oppa bangga padamu, Jill. Apapun keputusanmu, Oppa akan mendukungmu. ” Ucapnya pada akhirnya.

“Oppa, kalau ternyata keadaanku akhirnya tak membaik atau bahkan….. lebih buruk lagi. ” Jill menatap Danny dalam-dalam, ada kesungguhan disana. “Tolong katakan pada Joe, ia harus tetap hidup dengan baik. ”

Danny melihat gadis itu menahan air matanya yang mengumpul di pelupuk mata lebarnya. “Aku selalu berharap dapat bertemu kembali dengannya. Dan meskipun sebentar, aku sangat bahagia bersamanya. ” Timpalnya lagi dengan sebuah senyuman hangat tersungging dibibirnya.

“Oppa…. Terimakasih telah mempertemukan kami lagi. ” Ucapnya dengan tulus.

¤¤¤¤

Pria tampan itu tampak muram. Wajahnya tampak bersih meski semakin tirus. Dua minggu setelah Jill tiada, ia kembali mulai bekerja. Menjalani hidupnya lagi seperti dulu. Tapi ia tidak pernah menjadi Joseph Kim yang dulu, ia tidak sama lagi. Keadaannya tidak membaik. Ia jadi lebih pendiam, muram dan tertutup.

Danny, sepupunya mencoba mengajaknya lebih banyak keluar dan bersosialisasi. Joe memang tidak menolak ajakannya, tapi itu tidak dapat membantu. Joe tetap seperti itu.

Jill tidak pernah sadar hingga kematiannya. Dari saat Jill tiada hingga akhirnya ia dikremasi, Joe tidak menangis setetespun. Ia hanya diam, tak berkata apapun. Tidak bergerak dan tidak mau makan. Seperti orang bodoh yang membeku jadi patung. Katatonik begitulah dirinya, suatu keadaan dimana seseorang mengalami guncangan jiwa hebat sehingga ia tidak dapat menerima kenyataan itu dan menutup dirinya dengan diam dan tak melakukan apapun.

Ia memang masih hidup, dan perlahan menjalaninya dengan baik. Tapi perasaannya sudah mati. Hilang bersama dengan kematian Jill. Joe seperti mayat hidup tanpa jiwa. Membuat kedua orang tuanya resah dan juga Danny yang peduli padanya.
Joe kini sedang duduk di sofa kamarnya dengan pintu balkon yang terbuka lebar. Setumpuk foto dan barang-barang peninggalan Jill berserak di kakinya. Pria ini menatap keluar kamarnya. Angin musim gugur memasuki ruangan ini membuat tirai bergerak-gerak seperti menari. Musim dingin akan segera tiba, pikir pemuda ini. Ia mengingat saat terakhir Jill sehari sebelum operasi.

Jill setengah berbaring di tempat tidur, menatap keluar jendela kamar rumah sakit. Cuaca sangat dingin karena salju sedang turun dengan derasnya.
“Aku benci musim dingin. ” Bisiknya perlahan.

Joe yang duduk di sampingnya tersenyum. “Aku suka semua musim, asalkan bersamamu. ” Ungkapnya sambil mengerling pada gadis ini.

Jill tersenyum malu-malu. Bersandar padanya dan memeluk pinggangnya.
Joe balas memeluknya ringan.

“Besok adalah saatnya operasi. Apa yang ingin kau lakukan saat semuanya sudah selesai?” Tanya Joe padanya.

Jill tegak dan melepaskan pelukannya. Memandang Joe dengan pandangan ceria. “Aku ingin kencan. ” Pekiknya bahagia.

Joe tersenyum miring, menggodanya. “Kita memang belum pernah berkencan ya… ” Katanya sambil mengingat-ingat. “Banyak sekali yang belum kita lakukan. ” Tambahnya lagi.
“Aku ingin berkencan hari ini, Dokter mengijinkan aku keluar asalkan tidak kecapaian. ” Jill memberitahunya dengan semangat.

“Baiklah. Kita mau kemana? ” Tanya Joe sambil merapikan rambut gadis ini yang meriap ke wajahnya. ” Udara sangat dingin. ” Tambahnya lagi.

“Aku ingin kencan di Apartemenmu. ” Jawab gadis ini dengan wajah semburat merah.

Joe menatapnya tajam. “Kau ingin apa di Apartemenku?” Ia menatap gadis ini berdebar-debar. Mencoba menebak arti rona di raut muka Jill yang memerah. Apakah sesuatu seperti yang ia pikirkan? Ucapnya di dalam hati.

“Aku ingin melihat seperti apa rumah tempat Joseph Kim selama ini hidup. Seperti apa Joe-ku menghabiskan waktunya di rumah. Aku selalu ingin melihatnya. ” Kata gadis itu dengan senyuman kecil dibibir merahnya.

Joe mendesah lalu raih tangannya. “Kelak kita akan lebih banyak menghabiskan waktu disana. ” Janjinya pada gadis ini.

Dan saat ia akhirnya membawa Jill ke Apartemennya, gadis itu tampak sangat antusias. Memperhatikan setiap detil, berjalan kesana-kemari dengan semangatnya. Hingga Joe juga merasa tertular keceriaan gadis ini. Ia juga jadi bersemangat, menunjukkan koleksi film dan game yang ia punya. Ruang kerja dan ruang tidurnya.

Jill berjalan menelusuri ranjang dan berdiri di depan balkon teras kamar, yang tertutup rapat. Joe berdiri dengan santai di dekat pintu kamar, menatap punggung gadis ini.

“Jadi ini adalah kamar tempat Joe-ku tidur, bermimpi dan istirahat. ” Bisiknya perlahan.

Joe mendekatinya dan memeluknya dari belakang. “Sudah kubilang, tak ada yang istimewa disini. ” Katanya sambil meletakkan dagunya pada bahu gadis ini.

“Tentu saja istimewa. ” Bantah Jill tidak setuju. ” Semua hal tentangmu sangat penting bagiku. ” Ungkapnya dengan nada pasti.

Mereka duduk di sofa kamar yang menghadap ke balkon. Kaca yang berembun karena tertutupi salju. Namun temperatur udara di kamar hangat, karena Joe memasang penghangat udara. Mereka berpelukan dalam diam. Joe mengusap-usap pelan rambut hitam Jill.

“Aku mencintaimu. ” Bisiknya pada gadis yang memejamkan mata ini.

“Aku tahu. ” Balasnya dengan pelan. Jill semakin mengeratkan pelukannya.
¤¤¤¤

Joe mendesah, kenangan itu selalu berputar saat ia berada dikamar ini. Bahkan rasanya Joe masih dapat mencium aroma Jill di sofa ini. Hal yang sangat mustahil terjadi.

Wajah Jill, senyumannya, suaranya dan gerakannya yang selalu anggun. Semuanya terlihat jelas dalam ingatan Joe. Ia sadar Jill telah pergi. Dan betapa inginnya ia menyusul gadis itu, ia tidak pernah bisa. Karena ia tahu dengan jelas, Jill berharap ia dapat melanjutkan hidupnya dengan baik. Tapi bagaimana ia bisa hidup, bila kehidupannya adalah gadis itu. Dan gadis itu telah pergi dan tak bisa kembali lagi. Meski Joe telah menangis, memohon dan berlutut padanya. Jill tak bisa tetap disisinya.

Joe tidak bisa mengeluarkan air mata lagi. Semua kesedihan ini telah menghisap seluruh kekuatannya sehingga bahkan untuk menangis saja ia tak punya energi. Tapi raut wajah pria ini sungguh lebih menyedihkan daripada tangisan. Ia seperti sedang dibakar hidup-hidup di neraka. Seperti itulah ekspresi Joe saat ini.

Ia sudah berusaha dengan keras untuk tetap melanjutkan hidupnya setelah Jill tiada. Tapi hanya inilah yang dapat dilakukannya. Bersikap seperti mayat hidup yang tak punya jiwa. Oh, bukan ia tak mencoba tapi memang tak ada lagi hal yang dapat menarik perhatiannya.

Ia hanya tidak ingin Ayah dan Ibunya bersedih. Juga Hyungnya, Danny yang selalu mencemaskannya. Ia sadar dibalik sikap protektif Danny yang selalu mengingatkannya untuk makan, beristirahat dan mengajaknya untuk bersenang-senang. Danny sangat khawatir dengan keadaannya. Dan Joe tidak ingin membuat Danny merasa sedih karenanya.

Joe bangkit dari duduknya. Dan mengemasi foto-foto serta barang-barang lainnya yang mengingatkan ia pada Jill. Memasukkan semuanya ke dalam kotak besar. Ia tidak akan membuang ini, hanya menitipkannya pada Danny hingga kelak saat ia bisa dengan santai melihat barang-barang ini tanpa rasa sedih. Atau bahkan mungkin membuangnya tanpa merasa terluka.

Segera ia mengenakan mantel abu-abu panjang kesukaannya dan melangkah keluar kamar. Sambil memeluk boks berwarna cokelat tanah ini. Joe meraih kunci dari nakas dekat sofa ruang tengah. Dan berjalan keluar Apartemennya dengan langkah tegap.

Ia masuk ke dalam lift dan memencet tombol basement. Menuju tempat parkiran mobil penghuni gedung ini. Joe berjalan menelusuri mobil-mobil yang berjejer rapi. Tidak ada orang lain disini. Suasananya sangat sepi. Padahal hari belum terlalu malam. Joe menunduk di samping mobilnya, memasukkan kunci.

Lalu tiba-tiba ada sepasang sosok hitam yang berindap-indap, menghampirinya dari belakang. Seseorang memukul tengkuknya dengan pukulan bisbol. Joe terjatuh ke lantai, masih sadar namun pelipisnya berdarah terhantam spion mobil.

“Serahkan uangmu. ” Kata salah seorang dari mereka yang mengacungkan pisau belati tajam.

Joe berusaha bangkit, duduk dengan kepala sangat pusing. Ia menarik boks cokelat yang ikut terbanting. Si perampok yang memegang tongkat bisbol berlutut dan menggeledah kantung mantelnya. Mengambil kunci mobil yang terjatuh dan dompet pria ini.

“Hei, apa isi kotak ini?” Tanya yang memegang pisau dengan suara kasar.

Joe hanya diam dan memeluk kencang kotak itu, sementara darah mulai mengucur deras dari pelipisnya. Si pemegang tongkat bisbol menariknya dengan kasar namun Joe mempertahankannya. “Serahkan, brengsek. ” Katanya getas.

“Ini barang tidak berharga. ” Ujar Joe dengan suara keras. Ia mencoba menarik kotak itu lebih keras.

Namun kedua perampok tersebut memandangnya tidak percaya. Si pemegang tongkat bisbol kembali menarik-narik boks tersebut. Tapi Joe tetap tidak melepaskannya.

“Dasar sialan.. ” Makinya sambil mendorong Joe.

“Jangan.. ” Kata Joe lemah, ia menggapai boks cokelat tersebut.

Lalu “Jleb…” Sipemegang belati yang tidak sabaran menikam pria muda ini. Joe menatapnya dengan pandangan kosong dan sedih. Pisau itu menancap di perut bagian kanan Joe dan darah hitam kental perlahan merembes dari lukanya. Joe menunduk, menekan tangannya pada luka itu.

“Brengsek, apa yang kau lakukan?” Tanya sipemegang tongkat bisbol. Ada nada ketakutan disuaranya. “Kau membunuhnya. ” Teriaknya dengan panik.

Sipemegang belati tampak tidak peduli. Ia mengangkat kotak tersebut dan membuka mobil convertible milik Joe. Menghidupkan mesin dengan tergesa-gesa. “Ayo. ” Teriaknya pada rekanannya.

Sipemegang tongkat bisbol ragu sejenak. Namun ia masuk juga ke dalam mobil mewah tersebut. Secepat kilat mobil itu menderu, meninggalkan sesosok tubuh yang kini terkulai lemah.

¤¤¤¤

Danny melepaskan kaca matanya yang berembun dan mengelap mata bengkaknya. Sudah semalaman ia menangis dan menangis terus. Bibinya sudah berkali-kali pingsan dan kini sedang bersistirahat di salah satu ruangan. Sementara di sisi kanan Pamannya, Ayah Joe masih tampak shock dan terpukul.

Danny berdiri menerima ucapan duka dari beberapa tamu yang datang silih berganti. Ia menoleh pada pigura foto Joe yang dipakaikan pita hitam. Joe tampak sangat tampan dan bahagia di foto tersebut.

Perlahan Danny menyesap air matanya dengan sapu tangannya yang telah basah.

“Sibrengsek ini… ” Bisiknya dengan suara parau. Air matanya kembali banjir.

Semalam ia sedang menunggu Joe yang akan berkunjung ke rumahnya. Mereka janjian pergi minum setelahnya. Lalu tiba-tiba ia menerima telefon bahwa Joe menjadi korban perampokan. Panik, ia menghubungi kedua orang tua Joe dan segera berangkat ke rumah sakit.

Joe sudah tewas di tempat kejadian. Kehabisan darah karena ditikam tepat pada levernya. Danny meraung histeris, memeluk tubuh dingin Joe yang entah mengapa malah tampak tersenyum tenang.

“Bangun bodoh… Aku bilang bangun brengsek.. ” Ia mengguncang tubuh sepupu kesayangannya ini. Beberapa petugas medis berusaha menenangkannya. Tapi Danny tidak peduli. “Hei, brengsek. Apa yang kau lakukan? Joseph Kim. ” Teriaknya dengan kalap.

Ia kembali menguncang tubuh Joe. “Kau bilang kau akan mencoba melupakannya. Kau bilang kau ingin hidup dengan baik. Dasar…. brengsek kau. ” Tangisnya penuh rasa kesal. “Pembohong..” Makinya keras.

“Apa yang harus kulakukan, brengsek? Bagaimana dengan Ayah dan Ibumu? Anak sialan. Kau benar-benar… !” Danny meraung dengan sedih.

Paman dan Bibinya tampak terpaku di pintu ruang ICU. Danny menoleh pada mereka dengan pandangan bersalah dan sedih. Hatinya semakin hancur melihat kedua orang tua Joe.

“Joe..!” Bisik ibunya dengan hati mencelos, pedih. Suaminya memeluknya dengan wajah bersimbah air mata.

Anak semata wayang mereka kini terbaring tanpa nyawa. Dengan tubuh kaku dan pucat. Joseph Kim yang tampan dan baru berumur 25 tahun, meninggal bahkan mendahului kedua orang tuanya. Keduanya menangis sedih sambil berpelukan.

Dibandingkan semua kesedihan ini, Danny merasa sangat marah. Joe meninggal dengan tiba-tiba dan tragis. Disaat pemuda itu sudah berjanji padanya, akan berusaha untuk menata hidupnya lebih baik. Danny merasa dikhianati dengan kepergian Joe. Tapi jauh dalam sanubarinya, ia tahu Joe bahagia. Mungkin saat ini ia sudah bertemu dengan Jill. Bergandengan tangan dengan gadis itu dan mentertawainya.

“Brengsek.. !” Desis Danny pelan. Setetes air mata jatuh menelusuri hidunya yang runcing. “Brengsek kau Joe. ” Bisiknya lagi.

¤¤¤¤

Footnote : Hmm, pernah melihat Music Video JYJ yang judul lagunya In Heaven? Cerita video klipnya sedih, tentang pria yang ditinggal mati kekasihnya. Namun pria ini mendapat kesempatan kembali bertemu dan mengubah takdir kematian wanita yang dicintainya. Dan pada akhirnya keduanya mati bersama.
Saat aku mendengar lagu tersebut lagi diplaylistku, aku kepikiran dengan perasaan sang pria yang ditinggal mati kekasih yang sangat dicintainya. Pasti tidak mudah. Bagi yang ditinggalkan juga yang meninggalkan. Dari situlah ide awal cerita ini berkembang dan kutulis.
Thanks buat yang sudah meluangkan waktu untuk membaca. Kritik dan saranmu sangat kuhargai (ysl).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s