Please Don’t Act Like Jerk, Bisa?

Hari ini aku bertemu dengan laki-laki menyebalkan. Aku nggak kenal dia dan dia juga nggak kenal aku tapi lagaknya reseh banget. Dari mulai nanya harus manggil mbak atau adik (seolah nggak yakin umurku di bawah atau di atasnya), ngeliatin orang segitunya dari atas sampai bawah (memangnya ada perempuan yang nyaman dipandang seperti barang) dan bilang kalo aku tampak seperti orang yang sudah menikah dan melahirkan (sok tahu, aku belum menikah, belum pernah melahirkan). Pokoknya ngerendahin sekali dan syukurnya aku bisa nggak balas membuat dia malu. What the hell, aku nggak tahu otaknya terbuat dari apa. Dan aku nggak mau peduli deh. Yang jelas dia berhasil merusak moodku hari ini. Congratulation!

Ternyata memang ada ya, orang yang suka membuat kesan pertama jelek dengan sengaja. Mungkin karena aku bukan orang yang penting, cuma perempuan yang ditemui dalam satu kesempatan yang mudah dilupakan. Atau karena memang tampangku seperti orang udik yang gampang dibully, jadi dia memperlakukanku seperti kotoran. Aku nggak bisa menebak. Yang jelas, orang seperti itu kuharap bisa jauh-jauh deh dari kehidupanku.

Apa yang kita lakukan itu seharusnya mencerminkan diri kita. Bagaimana kita bersikap terhadap orang lain, akan berdampak dengan cara mereka memperlakukan kita. Pertanyaannya, apakah mungkin orang akan memperlakukan kita secara hangat dan hormat apabila kita lebih dahulu bersikap tidak sopan pada mereka? Jawabannya tentu saja tidak. Jadi rasa hormat itu tidak bisa didapatkan begitu saja. Sebelum kita dihormati atau dihargai oleh orang lain, kita harus menghormati dan menghargai diri kita dengan cara memperlakukan orang lain sama berharganya dengan diri kita sendiri. Nggak terlalu sulitkan? Yah, memang nggak gampang juga dong kalau mau diperlakukan secara terhormat sama orang lain. Masa harus nunggu kita atau orang-orang dekat kita diperlakukan nggak enak sama orang lain baru kita berlaku baik, yah terlambatlah.

Merendahkan orang lain yang baru kita temui dan tidak kita kenal secara pribadi, sepertinya sudah menjadi kebiasaan buruk bagi beberapa orang. Nggak ngerti juga apakah ini hanya pelampiasan rasa frustasi mereka terhadap sesuatu atau memang sudah menjadi sifat meraka, kita nggak tahukan. Well, aku bisa bilang begini karena sudah banyak melihat hal seperti ini di dunia maya seperti Twitter dan di dunia nyata juga. Orang-orang cenderung menilai sesuatu secara tidak seimbang dan menyatakan hal-hal jahat dengan mudahnya tanpa berpikir panjang. Kita jelas sudah seperti kehilangan adat timur kita yang menjunjung tinggi kesopanan dan budi pekerti. Dan aku nggak bisa membayangkan generasi muda kita 10 atau 20 tahun kedepan, tanpa mereka memiliki budaya timur kita lagi. Seperti apa jadinya mereka? Kasihan.

Noblesse Oblige adalah frasa dalam bahasa Perancis. Yang kira-kira artinya kewajiban berperilaku mulia. Seseorang yang mempunyai kedudukan dan status tinggi atau kekayaan yang berlimpah, punya kewajiban untuk berperilaku mulia. Karena dengan kedudukan, status dan kekayaannya tersebut ia mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain. Orang-orang yang kedudukan di bawahnya, orang-orang yang tidak berstatus penting, orang-orang miskin dan lain-lain. Begitulah sikap yang harus dimiliki para bangsawan dan kaum aristrokat pada jaman dahulu, pada status dan kedudukan tinggi mereka menempel kewajiban bersikap mulia terhadap orang lain. Namun pada perkembangan selanjutnya, Noblesse Obligase tidak hanya ditujukan kepada kaum bangsawan. Sikap berperilaku mulia juga menjadi pegangan para kaum terpelajar dan mereka yang mempunyai tanggung jawab terhadap masyarakat secara langsung maupun tidak.

Kita, siapapun diri kita. Kaya atau miskin. Terpelajar atau tidak. Berkedudukan ataupun cuma rakyat jelata yang sengsara. Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memperlakukan orang lain sama berharganya dengan diri kita, bagaimanapun orang tersebut. Tidak pantas dan tidak ada hak kita membuat orang lain merasa rendah karena perlakuan kita. Memangnya siapa diri kita boleh bersikap seperti itu? Apa kita lebih hebat dari Tuhan sampai berani menghina manusia lain yang sama-sama ciptaan Dia? Aku kira tidak. Hanya orang yang lupa diri dan tak berharga, yang memperlakukan pribadi lain seperti sampah. Padahal yang sesungguhnya yang sampah adalah dirinya sendiri. So guys, mari kita pikirkan lagi tindakan kita. Pilihan kita untuk bersikap. Bukan karena esok kita akan mati atau karena kejadian nggak enak ini sedang kita alami. Tapi karena kita YANG MEMANG MEMILIH untuk jadi pribadi yang lebih baik. Yang bisa berlaku mulia terhadap diri kita sendiri dan juga orang lain. Think about it clearly and thanks for your considering (ysl).

One thought on “Please Don’t Act Like Jerk, Bisa?

  1. udah biasa kok, hal seperti itu melanda setiap orang, tinggal bagaimana menyikapi’a. Dan, masih banyak hal yg penting dr hal tsb, yg seharusnya kita pikirkan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s