Dia, Si Pecundang Paling Nyata

Kesendirian ini tak pernah kau pertanyakan, apalagi mengerti.
Aku cukup membencimu sebanyak yang aku mau dan kau juga begitu.
Kita tidak saling peduli, tak juga saling membutuhkan.
Lalu dimana titik temu kita?
Tak ada selain darah yang sama mengalir dalam tubuh.
Tapi selain itu, kita tak punya hubungan lain.

Tak perlu dijelaskan, kau dan aku berada disisi yang saling berseberangan.
Aku tak bisa mengerti pilihan hidupmu yang kacau, sedang kau bercampur iri dan kebodohanmu, menganggap sudah seharusnya begitu.
Kaulah, pecundang paling nyata yang pernah kusaksikan.
Sampah. Belatung menjijikkan. Pemalas yang cuma bisa omong dan bermimpi, uang jatuh dari langit.
Naif hingga sangat kasihan.
Seperti itulah dirimu.

Kupikir, orang sepertimu memang ada di dunia ini untuk menjadi ujian bagi yang lain, yang waras.
Dan tak dapat dipungkiri akhir yang menyedihkan sudah menunggumu, bila kau habiskan hidupmu dengan selalu begitu.
Entah cepat atau lambat, tapi penyesalanmu tak akan berguna kalau kau hanya bisa mengeluh tanpa usaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s