Si Bapak Yang Senilai 2000 Rupiah

Belakangan ini aku sering jagain warung nyokap. Banyak macam ragam pembeli yang datang dengan segala permasalahannya. Tapi hari ini aku akan cerita tentang kejadian yang baru saja terjadi. Tentang seorang bapak yang sudah menjadi pelanggan.

Aku sudah menandai bapak ini orang yang perhitungan soal uang seribu dua ribu. Terkadang dia menawar untuk membeli sesuatu. Dan aku kadang meluluskan keingingannya, kalau menurutku masih dapat untung. Tetapi kejadian hari ini berbeda. Sibapak datang dengan uang 20.000 membeli sebungkus rokok seharga 13.500, kukembalikan uang sebesar 6.500. Tapi kemudian aku baru ingat ia juga mengambil 2 bungkus makanan ringan seharga 2000. Jadi seharusnya kembalian yang kuberikan sebanyak 4.500 dan bapak tersebut mengembalikan uang kepadaku sebanyak 2000.

Tapi kenyataannya bapak itu entah berpura-pura lupa, beneran lupa atau sengaja tidak mengembalikan uang yang berlebih itu. Dia bilang uang dua ribu yang berlebih tersebut baru saja ia keluarkan dari dompetnya. Padahal aku lihat dengan mata kepalaku sendiri uang yang ia keluarkan bentuknya rapi (lain dengan 3 lembar uang 2000 yang tadi aku berikan. Sudah lecek. ) Memang ada ia keluarkan tapi sudah dimasukkan lagi ke dalam dompet. Malah uang 2000 lecek dariku itu yang diakunya sebagai miliknya, yang baru saja dikeluarkan dari dompetnya.

So, aku cuma senyum saja dan menganggap masalah ini selesai. Mungkin di dalam hati bapak tersebut bilang aku ‘BEGO’ karena bisanya lupa dengan jumlah yang baru saja aku berikan padanya. Dan merasa senang dengan keadaan ini. Tapi bapak itu salah besar. Karena aku nggak sebodoh itu sampai lupa dengan kejadian yang baru saja sedetik berlalu. Aku ingat dengan jelas. Hanya saja tidak mau mempermasalahkannya. Kenapa? Karena kalau kupermasalahkan bapak tua itu sendiri yang malu. Cuma perkara seperak dua perak. Tapi aku bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana perasaan bapak tersebut saat menghisap 12 batang rokok tersebut? Dan memakan makanan yang dibelinya tadi? Apa nuraninya tak menggeliat, tak nyaman dengan kecurangan yang dilakukannya? Entahlah. Tapi memang ada jenis orang yang memang bisa tega dan tak merasakan apapun terhadap hal salah yang dilakukannya. Entah sudah biasa atau memang nuraninya sudah mati. Sudah menyeberang ke sisi gelap seutuhnya. Mengerikan ya?

Untung dari berjualan warung tidaklah seberapa. Hanya seribu dua ribu. Apalagi dari berjualan rokok, tidak begitu besar (karena ada harga banderolnya). Terlalu mahal orang tidak mau beli, terlalu murah malah merugi. Tapi nggak apa-apa, karena aku yakin rejeki bisa datang darimana aja. Tuhan nggak pernah salah alamat mengirimkan rezeki seseorang. Aku anggap saja uang yang ‘hilang’ tadi sedekah. Amiin. O:).

Satu yang mungkin tidak diperkirakan sibapak tadi, beliau sudah kehilangan rasa hormat dan respek dariku. Nilai sibapak tersebut dimataku tak lebih dari uang 2000 perak. Wkwkwk. Parah ya? Kenapa aku bilang seperti itu? Karena beliau hanya demi uang 2000 perak yang tak seberapa sudah tidak jujur dalam membeli.

Uang 2000 perak mungkin memang tidak seberapa, bagi sebagian orang. Masalahnya bukan karena nilai rupiahnya yang kecil atau besar, tapi tentang kejujuran. Justru kalau kita sampai kehilangan kejujuran hanya karena nilai yang kecil seperti inikan lucu. Gimana dengan uang dengan nilai yang jauh lebih besar? Apakah bisa orang seperti ini diberi kepercayaan? Semua hitungan dimulai dengan angka kecil. Semua hal dimulai dengan hal-hal kecil. Kalau angka kecil atau hal-hal kecil saja sudah membuat kita tak jujur, bagaimana dengan hal-hal besar? Inilah bibit-bibit korupsi yang terkadang tak kita sadari. Kita lupa Tuhan tidak tidur dan mengawasi selama 24 jam tanpa henti.

Untuk mengubah hal besar harus dimulai dari hal kecil, dari diri sendiri dan dari saat ini. Bagaimana kita bisa mengubah hal besar kalau hal kecil saja kita sudah ‘kalah’? Maka jangan mau kalah dengan hal kecil, uang kecil maupun besar. Jangan mau kehilangan kejujuran dan nurani. Tanpa dua hal tersebut, meskipun kita punya otak yang pintar, tetap saja kita tak ubahnya dengan binatang. Tuhan memberikan akal sebagai kelebihan pada manusia, gunakanlah berdampingan dengan kebijaksanaan. Manusia adalah makhluknya yang paling pintar sekaligus yang paling serakah. Maka hanya nurani dan kejujuran yang bisa membatasi kita dari tindakan yang salah. Kalau kita sudah kehilangan kedua hal tersebut, apa bedanya kita dari hewan? Bahkan hewan mungkin lebih baik dari kita, karena hewan tak pernah makan lebih dari yang bisa ia makan. Tapi manusia serakah, akan tertimbun dalam gunungan emas tanpa menyadari keserakahannya dan malah mencelakakan nyawanya. Buat apa semua harta itu kalau kita tak bisa menggunakannya atau bahkan menikmatinya, karena keburu mati? Nggak ada gunanya sama sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s