Doa Sang Peminta (Memuja ALLAH Sang Maha)

Sudah sejak lama ia melihat dunia tanpa warna.
Yang ada hanya hitam, putih dan abu-abu.
Tak ada yang salah dengan matanya, hanya saja setelah begitu banyak melalui kehidupan berputar-putar memusingkan, semua telah memudar bersama hatinya yang menjadi serpih.
Ia tak lagi memaknai gairah dalam kelopak mawar.
Ia tak lagi tersentuh melihat semburat lazuardi.
Ia pun tak menandai perbedaan tanah basah dan pucuk daun teh berembun.

Berkali-kali, ia memohon untuk diselamatkan. Karena ia tahu tak bisa selamanya terus-terusan begini.
Ia menunggu, mencari-cari.
Sesuatu, seseorang bahkan satu kedipan pertanda awal yang baru untuknya.
Sebuah permulaan baik untuknya.
Hanya belas kasih Tuhanlah yang kini dapat menyelamatkannya.
Dan ia akan sabar, berharap dan berdoa :
“Ya Allah, Tuhanku yang maha pengasih. Penyayang lagi pemurah. Kumohon, jangan biarkan kesepian ini membumbung tinggi dan merusak akal sehatku.
Kuatkan aku. Tabahkan hatiku. Lembutkan kesabaranku dalam menjalani semua perintahmu.
Dan jangan pernah meninggalkanku sedetikpun, meskipun aku mungkin pernah meragukanmu. Menghujatmu. Marah dan kecewa.
Maaf. Maaf. Maafkan aku, duhai Tuhanku.
Aku pantas mati dan menjadi debu tak berarti di dasar nerakamu.
Tapi Tuhanku, sungguh aku tak sanggup menghadapi siksamu.
Maka berikanlah setitik saja kemurahan hatimu padaku.
Amin. Amin. Amin ya Allah-ku. “

2 thoughts on “Doa Sang Peminta (Memuja ALLAH Sang Maha)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s