Catatan : Tentang Ramadhan Tahun Ini

Sejujurnya sudah sejak lama, hari raya Idul Fitri tidak lagi mempunyai arti ‘Wah’ bagiku. Aku tidak bermasalah dengan bulan Ramadhan atau puasa, malah senang karena bisa mengontrol berat badan dan nafsu makan yang menggila. Merapatkan sholat yang masih suka bolong-bolong dan bahkan tidurpun dibulan Ramadhan adalah ibadah. Gampang bangetkan cari pahala dibulan ini?

Tapi, ya itu tadi. Bulan Syawalnya yang katanya adalah bulan perayaan kemenangan, setelah berpuasa menahan lapar, haus, marah dan lain-lain nyaris sebulan lamanya. Aku kurang menyukainya. Bukan apa-apa. Aku hanya merasa tekanan selama menuju ke lebaran dan seminggu setelahnya, sangat berat. Kenapa aku merasa begitu? Karena saat ini bulan puasa dan hari raya Idul Fitri, semakin identik dengan komersialisasi. Dan hal tersebut membebani nuraniku.

Komersialisasi apanya? Sebuah contoh kecil saja. Lihat siaran TV di saat bulan ramadhan, penuh dengan iklan makanan, minuman, sarung, pakaian, ini dan itu. Yang membuat masyarakat semakin konsumtif dibulan ini. Belum lagi dengan waktu ngabuburit dimana semua jenis makanan dan minuman, tumpah ruah di jalanan, pasar dan lain-lain. Dan juga serbuan diskon pada toko-toko, mall, plaza terhadap barang-barang sandang. Seperti pakaian, sepatu, baju dan lain-lain. Semakin membuat orang-orang boros saja.

Ramadhan dan Idul Fitri sekarang sudah dikotori dengan ide kapitalis hingga menjadi tradisi yang salah. Kita dicekoki setiap hari, tanpa sadar untuk membeli. Membeli, membeli dan terus menghabiskan uang, untuk hal-hal yang sama sekali bukan kewajiban untuk seorang hamba Tuhan. Makanan, minuman, pakaian, sepatu, tas dan lain-lain bukanlah inti dari puasa kita. Tapi beribadahlah yang seharusnya menjadi fokus kita.

Memangnya kenapa dengan makanan rumahan? Memangnya kenapa dengan pakaian lama yang masih bagus? Memangnya harus ya berlebaran dengan mukena, sepatu, sendal dan tas baru? Aku yakin, seyakin-yakinnya Allah tidak melihat itu. Tuhan tidak menjadikan Ramadhan sebagai alasan untuk kita berfoya-foya. Justru sebaliknya, dibulan yang penuh berkah ini seharusnya kita lebih banyak lagi beribadah. Menumpuk pahala sebanyak-banyaknya. Semakin mendekatkan diri pada Allah, mencari syafaat. Agar kelak saat Syawal tiba, kita memang pantas merayakan perjuangan selama sebulan berpuasa.
Lihat, tingkat kejahatan dibulan ramadhan semakin meningkat. Rampok, copet, pencurian. Kenapa? Karena tekanan dari keadaan dimasyarakat yang mengharuskan lebaran harus punya ini dan itu. Akhirnya orang-orang yang berpikiran pendek, mengambil jalan pintas dengan berbuat kriminal untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Dan kesenjangan sosial menimbulkan kecemburuan, hingga saat Syawal tiba dan musim mudik, rumah-rumah banyak dirampok dan kecurian. Oleh orang-orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Bulan Puasa dan Lebaran, sudah pasti akan kembali datang setiap tahun sekali. Dan jangan mau hanya menjadi budak dari hawa nafsu konsumtif. Ramadhan dan Syawal, lebih dari sekedar makanan enak, baju dan sepatu baru. Seharusnya dibulan ini, kita merefresh keimanan untuk menjadi lebih kuat. Menjadi pribadi yang lebih baik. Mencari pahala sebanyak-banyaknya. Berbuat kebaikan pada sesama. Bersedekah pada para fakir, yatim dan janda miskin. Memperlancar kaji Al-Quran dan masih banyak hal lain.

Mungkin tulisan ini telat untuk diposting, mengingat bulan Ramadhan telah berlalu dan Syawal sudah menjelang akhir. Tapi seperti yang kubilang tadi, bulan Puasa dan Lebaran pasti akan datang lagi. Semoga kelak di saat yang akan datang, kita tak lagi berfikiran sempit dengan bersikap seolah-olah tradisi konsumtif itu adalah keharusan bagi bulan suci umat Islam sedunia ini. Pikirkan makna berpuasa, bahwa seharusnya kita bisa mengerti bagaimana fakir miskin merasakan kelaparan dan kehausan karena tak punya. Bagaimana kita menahan hawa nafsu agar setan tetap terpenjara. Bagaimana saudara-saudari kita dibelahan bumi lain, yang sedang berpuasa dalam keadaan perang dan terancam bahaya nyawanya. Masihkan pantas kita berpesta pora, bersenang-senang sementara umat muslim yang sedang mencari keadilan di negerinya yang sedang terjajah, ditembaki sampai mati? Pikirkan tentang itu teman. Pikirkan lagi.

Semoga Allah, selalu merahmati dan menjaga iman kita tetap kuat. Amiin. O:) Amiin. O:).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s