Nggak Akan Ada yang Bilang “Sir, Can I Marry Your Daugther?”

Aku nangis. Kenapa? Cuma gara-gara dengar lagu. Bagaimana ceritanya?

Yeah, aku memang orang yang gampang nangis. Baca buku pas adegan sedih, nangis. Nonton film sedih, mewek. Dengar lagu ballad yang mengiris hati, nangis kejer. Bahkan dengar cerita sedih yang dituturkan orang, aku bisa tersedu-sedu. Seperti itulah aku. Aku selalu memasukkan apa yang aku rasakan ke dalam hatiku dan bersimpati, meskipun itu tak nyata.

Lalu ada apa hari ini? Awalnya aku chatting via blackberry messenger dengan salah seorang sahabat dekatku. Kami biasa ngobrol pakai bahasa Inggris walau aku nggak begitu jago. Tapi lumayanlah supaya nggak lupa vocabulary. Dan topik pembicaraan kami hari ini adalah ‘musik apa yang lagi lo denger’.

Berhubung tadi malam aku dan nyokap nonton music video Sting dan The Police (bahkan kami sempat nyanyi-nyanyi sepenggal liriknya yang ingat. He3x). Aku lagi dengerin Rise and Fall Craig David feat Sting. Kemudian aku mengingatkan sahabatku ini sebuah lagu dari soundtrack film yang musik dan liriknya sangat sedih, pernah kami tonton bareng. Usai kami ngomongin ini, aku nanya “Lagu apa yang lagi kamu dengarin?”

Terus dia jawab, “Coba cari deh lagu Marry Your Daughter – Brian McKnight. ”

“Oh, oke. ” Kataku. Langsung saja aku searching di Google dan download lagu tersebut. Beberapa menit kelar, aku dengerin sambil baca liriknya.

Fiuuuh. Mampus deh gue. Begitu baca liriknya, mataku langsung panas dan air mataku bercucuran deras.

Inti lagunya ini, dari judulnya saja sudah kelihatan. Seorang lelaki yang sedang meminta izin kepada seorang bapak, untuk menikahi putrinya. Yang membuat aku terpukul adalah, aku langsung kepikiran sama Papaku yang udah enggak ada.

Well, aku sangat dekat dengan almarhum bokap. Aku memuja bokap dan nggak ada yang bisa menggantikannya dihatiku. Dan aku yakin, aku adalah putri kesayangan dan kebanggaan bokap. Aku ingat betapa bangganya bokap waktu aku menang lomba catur di sekolah sampai tingkat kabupaten (bokap menghadiahkan aku gitar yamaha, meski pada akhirnya aku nggak sempat belajar main gitar). Dan saat aku lulus tanpa testing ke PTN, bokap nangis dan bersyukur. Lalu disaat terakhir aku mendapatkan nilai A (tertinggi kedua di jurusanku) untuk tugas akhir kuliah D3ku, bokap nyuruh aku nyambung S1.
Dan saat dengar lagu itu, hatiku jadi sedih. Walau bokap udah pergi 8 tahun yang lalu tapi tetap aja, kehilangannya masih menyakitkan buatku. Aku memikirkan, nggak akan pernah ada lelaki yang meminta izin melamarku pada bokap. Nggak akan pernah ada bokap yang mengantarkan aku untuk menikah. Karena Papaku udah nggak ada. Beliau sudah putus kewajiban dan haknya terhadapku.

Bodohnya aku. Bahkan saat menulis postingan ini, aku masih mengusap air mata yang membanjir di wajahku. Aku tahu salah besar kalau aku masih menangisi kepergian bokap sampai sekarang. Bukan, aku hanya sedih. Di dunia ini banyak hal yang berubah, tapi tetap ada yang tak tergantikan dengan apapun. Seperti kerinduan kita pada apa-apa yang kita cintai, yang telah pergi dan nggak pernah bisa kembali. Meski kita menangis keras, memeluknya erat, menjerit, memohon bahkan merusak diri sendiri. Dia, yang tercinta dan telah tiada, tidak bisa hidup lagi.

Dan lubang yang mereka tinggalkan, tetap ada. Meskipun seluruh dunia ini diisikan padanya, tak akan pernah cukup untuk menutupnya. Seperti itulah yang kurasakan. Aku hanya bisa berdoa buat bokap. Meminta Allah, menjaganya lebih baik daripada saat hidup. Mengampunkan dosa-dosanya. Membuatnya jauh lebih berbahagia disana.

Ah, aku rindu bokap. Dan cuma bisa ngirim surat Al-Fatiha buatnya. Tapi kalian yang orang tuanya masih lengkap ataupun enggak, sayangilah ibu dan bapak kalian. Jaga dan doakan mereka. Kamu nggak tahu gimana rasanya kehilangan orang tua, maka selagi masih ada kesempatan. Bahagiakan merela.

“Dear, Allah-ku.
Tolong jaga Papaku. Sampaikan salamku untuknya. Katakan padanya, aku merindukannya setengah mati, sayang sekali padanya.
Aku baik-baik saja. Semua baik-baik saja. Tapi semua tak lagi sama tanpa dia. “

Footnote : (Buat Elviya, kamu harus tanggung jawab. Hayoo, traktir aku cokelat segunung. He3x.)

6 thoughts on “Nggak Akan Ada yang Bilang “Sir, Can I Marry Your Daugther?”

    • Tapi tetap, kita adalah putra dan putri yang disayangi dan cintai oleh Ibu dan Bapak kita. Meski mereka telah tiada. Jadi jangan berlama-lama untuk bersedih. Dan cuma doa yang bisa kirimkan untuk mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s