Please Don’t Make Me Say ‘I Quit’ (Berhenti Hidup)

Keluarga.
1 kata yang membuatku mendesah berat dan merasa seluruh dunia ini dibebankan di pundakku, seorang.

Setiap keluarga punya rahasia. Setiap keluarga punya masalah mereka sendiri. Dan keluargaku, aku tidak tahu kata yang dapat dengan pasti mengambarkannya. Yang jelas, setiap memikirkan keluargaku, membicarakannya dan berada di posisiku, aku merasa tidak bahagia.

Lucu, seharusnya seburuk apapun dan sesulit apapun keadaan yang menerpamu. Keluarga seharusnya menjadi tameng terakhir, tempat kau berlindung. Tapi kurasa, hal yang sebaliknya terjadi padaku. Keluarga adalah sesuatu yang dipaksakan Tuhan untukku dan yang paling bisa menyakitiku dengan sangat dalam. Dan malam ini sakit yang kurasakan, hanyalah salah satu alasan untukku menangisi ketidakberuntunganku. Hanya untuk malam ini, kuharap.

Aku merasa sangat lelah untuk hidup. Dan sering terpikirkan olehku, bahwa kematian tampak terlalu menggoda. Kau tahu apa yang masih membuatku bertahan, untuk tak mengakhiri segalanya?

Cuma harga diri. Sebuah harga diri yang tinggi dari seorang Yona Sukmalara. Siapa Aku? Aku seorang yang makan sekolahan, aku orang yang haus akan ilmu pengetahuan, aku orang yang selalu berpikir rasional dan tahu sedikit tentang dasar agamaku. Walau kuakui aku cenderung pesimis terhadap hidup. Dan sedikit suka menggugat Tuhan, meski kecintaanku terhadapnya lebih besar (toh, aku hanya manusia biasa, aku berhak salah dong). Dan terakhir, aku terlahir sebagai pemberani yang hanya tahu caranya maju, meski keadaan sangat sulit dan berat, aku hanya bisa maju untuk melanjutkan hidup. Begitulah keadaan diriku, aku tak hebat dalam apapun. Tapi nilai-nilai yang kupahamilah yang menahanku untuk terus melanjutkan hidup dan tak mengambil keputusan ‘berhenti’, cukup sampai disini. Kau mengerti maksudku?

Aku tidak tahu apakah orang lain juga bisa mengerti keinginan ini. Aku sangat tahu ini dosa besar yang tak termaafkan Tuhan. Siapa kita yang berani mengambil kehidupan yang telah ia beri? Meskipun itu hidup kita sendiri. Jujur saja, mungkin aku hanya lemah dan putus asa. Tapi tak punya keberanian untuk ‘berhenti hidup’. Bila bagi orang Jepang, harakiri adalah kematian terhormat. Dalam benakku kematian seperti itu, adalah tanda kepengecutan. Aku tak mau jadi pengecut seperti itu (harga diriku tak mengizinkanku). Karena berani mengambil keputusan untuk mengakhiri hidup, memang butuh nyali dan tekad yang kuat untuk melakukannnya. Tapi untukku pribadi, melanjutkan untuk tetap hidup, setelah luluh lantak di hancurkan badai kehidupan dan dipermainkan nasib, jauh butuh kekuatan yang lebih besar. Dan hanya orang-orang terpilih yang dapat melakukannya. Walau tak selalu dalam keadaan ‘utuh’ lagi ataupun sempurna.

Aku menantang hidup meski dengan keras kenyataan selalu menamparku, balik.
Aku sering kali patah, tapi tak pernah lupa untuk kembali tumbuh, meski tak indah.
Dan aku menahan erat, mengucapkan selamat tinggal.
Aku memilih hanya hidup, tetap hidup.
Cuma itu yang dapat kulakukan.
Yang terbaik dapat kupilih.

One thought on “Please Don’t Make Me Say ‘I Quit’ (Berhenti Hidup)

  1. Dan janganlah kau ‘berhenti’. Pun aku tak memiliki keluarga yang sempurna. Bersabarlah dan percaya akan rencana Tuhan yang akan indah pada waktunya🙂
    Anyway, tulisan yang bagus ^^
    Visit back: iheartpuitis.blogspot.com🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s