Proyek Minum Teh Hijau #HariPertama

Berhubung aku wanita usia ‘mateng’ yang sulit menyediakan waktu untuk berolah raga (alesan, padahal emang males olahraga) dan kurang rajin makan sayur-sayuran, maka aku memutuskan mengkonsumsi teh hijau demi perncernaan yang baik dan mengurangi tingkat ketebalan lemak diperut (teh hijau dapat menurunkan 40% tingkat kebuncitan berdasarkan fakta google).

Jadi mulai tanggal 27 Oktober 2013, aku memulai Proyek Minum Teh Hijau. Saat ini berat badanku sekitar 48kg dan idealnya turun sekitar 3kg kalau disesuaikan dengan tinggi badanku yang tak seberapa. Akusih nggak terlalu mikiri berat tubuh ideal, yang penting nggak buncit dan urusan ‘kebelakang’ nggak ada masalah. Itu ajasih intinya.

Nah, kita cerita tentang teh hijau yuk.

Jadi ceritanya tanaman teh atau bahasa latinnya disebut Camellia Sinensis L, berasal dari Cina. Dan kebudayaan ngeteh juga berasal dari sana. Tapi yang punya ritual upacara minum teh secara khusus adalah orang Jepang. Lalu kebudayaan minum teh berkembang dan menyebar di Eropa dan benua lainnya.

Ada berbagai macam jenis teh di dunia, tapi ada 4 jenis teh yang paling umum. Yaitu teh hitam/merah, oolong, hijau dan putih. Teh secara umum mengandung katekin (atau disebut juga antioksidan, yang kadarnya lumayan tinggi dalam teh), teofilin, teobromin, sedikit kafein dan zero lemak serta protein.

Oke, itu tentang teh secara umum. Mari kita bicarain manfaat teh hijau secara spesifik.

Teh hijau diyakini bisa membantu menjaga kecantikan kulit dan kemudaannya (berkat katekin), menurunkan berat badan, mengurangi penyerapan lemak, menurunkan tekanan darah, mencegah diabetes, menurunkan kadar kolesterol jahat, menangkal radikal bebas dan kanker (antioksidan).

Wow, banyak ya kegunaan teh hijau?

That’s way, minum teh hijau baik buat kesehatan dan kecantikan. Walau rasanya tidak terlalu enak, cenderung kelat dan agak pahit. Karena sebaiknya tidak diminum dengan penambahan gula.

Nggak kebayang rasanya ocha (teh) yang diminum dalam upacara minum teh di Jepang. Bayangin aja, daun teh hijau segar di tumbuk sampai halus, diseduh dengan air panas tanpa pemanis dan diminum dengan posisi duduk, kaki terlipat berjam-jam. Pasti nggak enak dan nyiksa. Wkwkwk.

Tapi sebanding dengan manfaatnya yang baik untuk tubuh. Sehat itu mahal, kawan. Dan beauty is pain.

So, disinilah Proyek Minum Teh Hijau dimulai dan mungkin akan aku posting beberapa laporan perkembangannya kedepan. Rencananya, aku minum teh hijau setiap selesai makan. Dan untuk hari pertama, belum terjadi reaksi apapun selain ‘lancar’ urusan ‘kebelakang’. Semoga proyek ini sukses dan membawa efek yang bagus untuk diriku. Amiin. O:).

Advertisements

5 Jenis Pria Yang Tak Layak Dinikahi

Perempuan usia matang menikah (25 – 35 tahun) yang sudah mapan bekerja tapi belum menemukan jodohnya, pasti sudah bosan sekali ditanyain oleh orang-orang “Kapan kawin?”.

Dan seolah-olah perkara menemukan jodoh ini gampang, kayak ngorek upil. Kalau emang segampang itu, mana ada yang mau betah lama-lama menjomblo kalau jodoh sudah di depan mata, kawan. Belum lagi terkadang disalahin karena dianggap nggak mau usaha (lah, perempuan disuruh nguber-nguber jodoh, lelakinya ngapain dong? Garuk-garuk pantat!), atau disalahin karena terlalu pemilih. Nah, kalau untuk yang satu ini, aku kurang setuju.

Seputus asa apapun kita dan sepengen apapun hasrat kita untuk segera menikah, kita, para perempuan nggak boleh tutup mata dengan beberapa hal yang menjadi prinsip. Jangan gara-gara begitu kebeletnya kawin sampai kita samber aja apa yang datang pada kita. It’s a BIG NO, Ladies.

So, apa aja kriteria lelaki yang amit-amit jangan sampai kita mau memilihnya dalam keadaan seperti apapun? Here they are :

1. Beda Agama, Beda Akidah.

Pernikahan beda agama di Indonesia tidak diakui oleh negara. Makanya banyak pasangan beda agama asal Indonesia yang menikah diluar negeri, untuk melegalkan status pernikahan mereka.

Mengapa aku bilang jangan menikah dengan lelaki yang berbeda agama? Sayangku, pernikahan itu bukan hanya menyatukan hubungan dua jenis manusia berbeda gender dalam satu ikatan legal. Lebih dari itu, pernikahan merupakan awal dari proses pembangunan jiwa-jiwa terikat untuk masa depan yang lebih bahagia.

Agama manapun yang baik, pasti mengajarkan toleransi dalam beragama. Tapi tidak bila dalam pernikahan menurutku. Aku berkaca dengan agama islam yang kuanut, toleransi seperti apa yang bisa dilakukan seorang wanita muslim bila imamnya tak bisa menjadi imam dalam sholat-sholatnya? Tak bisa mengazankan dan mengikomatkan putra dan putrinya yang baru lahir? Tak bisa menuntun shayadat bagi istrinya atau anaknya yang sakratul maut? Alangkah sedihnya pernikahan itu pada akhirnya.

Dia, suami kita, belahan jiwa kita, tak bisa kita membagi kegelisahan atau kebahagiaan kita dalam iman karena dia tak seakidah dengan kita. Begitu juga sebaliknya kita baginya.

Saya pernah membaca tulisan Dra. Rienny Hassan, psikolog favorit saya di koran langganan ibu saya. Beliau pernah menceritakan salah seorang kenalannya yang saat istrinya sakratul maut tak dapat mendampingi si istri, karena ia bukan muslim. Jadi ia tak bisa mengucapkan zikir dan shayadat untuk istrinya dan meminta tolong pada dokter yang kebetulan muslim juga, untuk membacakan ditelinga istri yang ia cintai. Menyedihkan bukan?

Aku pribadi tidak mau punya kisah seperti itu, bagaimana dengan kalian Ladies? Bukankah lebih baik jika kita menikah dengan pria yang seagama dan seakidah dengan kita. Tapi jangan pula demi bisa bersama dengan orang yang kita cinta tapi beda agama, kita malah mengkhianati Tuhan dan memilih cinta pada mahluk yang manusiawi macam manusia biasa. Sungguh itu tak sebanding kawan, dengan cinta Tuhan yang sangat Maha.

2. Penjahat Kelamin

Pria yang tidur dengan wanita tanpa ikatan pernikahan. Pria yang melakukan hubungan seks dengan mudahnya. Pria yang menganggap hubungan intim dengan wanita tanpa harus bertanggung jawab apapun, adalah hal yang lumrah dan biasa saja. Pria gampangan yang mau saja disodori dada dan paha oleh perempuan mana saja. Dan terakhir adalah pria yang hanya mengikuti nafsu seksualnya saja tanpa takut dosa dan tanpa mau bertanggung jawab terhadap perempuan yang ia tiduri. Merekalah yang kusebut, penjahat kelamin.

Lelaki model seperti ini sangat berbahaya. Jelas ia tahu cara merayu, menggoda dan menyanjung perempuan hingga begitu mudahnya para perempuan ini menyerahkan dirinya secara sukarela dan tanpa paksaan pada laki-laki model ini. Dan lelaki tipe seperti ini jarang bisa setia dengan satu wanita, karena ia tahu banyak wanita lain yang mau saja ia ‘anu-anuin’. Dan aku yakin, pernikahan bukanlah hal yang dapat membatasinya dari kelakuan seks bebasnya. Jadi jangan berharap kalau setelah menikah ia akan berubah dan jadi lelaki baik-baik yang hanya puas melakukan ‘itu’ hanya dengan istri sahnya saja.

Bukan nggak mungkin pria seperti ini tobat dan mau terikat dengan 1 wanita saja seumur hidupnya. Pasti ada satu atau dua lelaki yang bisa berubah menjadi lebih baik. Tapi bagaimana dengan ‘benih’ yang sudah ia sebar kemana-mana? Siapkah anda bila suatu hari dalam pernikahanmu ada seorang anak yang datang dan ternyata ia adalah hasil dari ‘tindakan nakal’ suamimu dimasa lalu.

Dan bagaimana dengan kemungkinan lelaki model beginian ternyata terkena penyakit seks menular? Seperti HIV/Aids, belum ada obatnya loh sampai sekarang. Kemudian Jamur clamidia yang menyerang alat kelamin ( selain bikin alat kelamin pria dan wanita jadi tampak sangat jelek, penderitaan akibat jamur ini sendiri udah merupakan siksaan menyakitkan dan menular kepasangan juga anak yang dikandung). Lalu ada Gonorhoe atau lebih dikenal penyakit raja singa, dimana pada alat kelamin pria dan wanita terdapat bintil-bintil seperti cacar. Yang gatal, panas dan nggak sembuh-sembuh. Belum lagi resiko penularan pada janin yang dikandung bisa bikin anak cacat. Dan masih banyak lagi penyakit yang dapat ditularkan akibat seks bebas plus dampak mengerikannya bagi sipelaku, pasangannya bahkan keturunannya.

Sudah siapkah para Ladies dengan kemungkinan seperti ini? Aku sih nggak nakut-nakuti. Tapi lebih ingin memberikan informasi sebagai pertimbangan supaya para wanita, kaumku, bisa lebih cerdas dalam memutuskan memilih pria yang ingin dinikahinya.

3. Pengguna Narkoba dan Miras

Narkotika, obat-obatan terlarang dan minuman keras. Mengapa dilarang agama dan negara? Karena bisa menyebabkan mabuk/tidak sadar. Dan kalau seseorang dalam keadaan mabuk atau tidak sadar/tidak waras bagaimana dengan akibat tindakan yang ia lakukan tanpa menggunakan pikiran, kecerdasan dan nuraninya?
Bisa saja ia membunuh orang, memperkosa, menyiksa dan melakukan tindakan kejahatan lainnya gara-gara ketidaksadarannya.

Pemakai narkoba dan pemabuk tidak bisa menggunakan akal sehatnya saat sedang kecanduan. Sudah banyak kejadian para suami dan ayah yang kecanduan narkoba dan miras, tega menjual istri dan anaknya demi mendapatkan uang untuk membiayai kebutuhan mabuknya.

Sekali lagi, jangan berkhayal pernikahan bisa melunakkan kecanduan mereka sehingga mereka bisa dengan mudahnya berhenti memakai. Bahkan dengan kemauan keras dan niat para junkies ini untuk sembuh dari ketergantungan narkoba dan miras, adalah hal yang sangat sulit dilakukan.

Bayangkan sebuah pernikahan dimana pasangan kita adalah pecandu narkoba atau minuman keras. Apa yang Ladies harapkan dari orang yang sedang mabuk dan tak waras? Bagaimana jika Ladies diajak bercinta olehnya? Jangankan membaca doa sebelum melakukan ‘itu’, ingat dengan siapa melakukannya saja ia belum tentu. Lah, wong dia nggak sadar dengan apa yang ia lakukan. Maukah Ladies menerima pria seperti ini?

Dan bagaimana dengan perkembangan psiklogi anak-anak dalam pernikahan seperti ini? Sungguh bukan keadaan yang baik bagi jiwa seoarang anak melihat ayahnya dalam keadaan mabuk dan tidak sadar. Belum lagi jika ternyata ada sifat kekerasan yang dilakukan oleh sipemakai narkoba dan pemabuk ini. Orang yang tak sadar dan waras, bisa melakukan apa saja loh. Kalau cuma dipukul dan dihajar oleh ayah yang sedang mabuk, mungkin masih lebih baik dari pada dilecehkan secara seksual (incest) oleh ayah yang seperti itukan. Ladies sudah memikirkan sejauh ini?

4. Penjudi

Judi itu seperti candu. Dan orang yang sudah kecanduan judi, bisa saja menjual segala harta bendanya termasuk anak dan istrinya, demi segepok uang yang dapat ia pertaruhkan dimeja judi.

Enggak ada itu taruhan besar dan taruhan kecil. Semuanya yah berawal dari sebuah taruhan kecil yang lama-lama meningkat jadi taruhan besar. Orang-orang yang sudah kecanduan berjudi, mana kepikiran lagi untuk mencari nafkah. Mengurus keluarga. Atau membesarkan anak-anak dengan baik.

Kalau seorang suami atau seorang ayah lebih memilih menghabiskan uangnya demi bermain judi dibandingkan membelikan istrinya baju atau membayarkan spp anaknya atau membeli beras, pria seperti itu tak layak untuk dipertahankan. Karena dalam pernikahan, yang paling utama adalah kepentingan keluarga berupa makan, kebutuhan pokok, biaya kesehatan, pendidikan bagi istri dan anak. Bukan lagi kesenangan pribadi yang tidak membawa faedah baik dalam berkeluarga.

So, para perempuan yang budiman pikirkan lagi keputusanmu dalam memilih laki-laki yang suka berjudi. Karena pria yang suka berjudi, pasti juga nggak segan-segan mempertaruhkan segalanya demi memuaskan keinginan atau hasrat judinya. Dan apa kamu mau suatu saat akan datang waktunya kamu atau anak-anak kalian terpaksa menderita demi seorang suami atau ayah yang suka berjudi? I don’t think so. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini, dear.

5. Penyuka Kekerasan

Nah, ini bagian yang tampaknya sepele padahal bisa berakibat fatal. Pria yang suka menggunakan kekerasan pada wanita adalah pria banci. Yeah, banci.

Cuma pria dengan ego besar dan (mungkin) t*tit kecil yang memukuli perempuan yang sudah jelas-jelas kalah kekuatan dan lebih lemah dari dirinya. Kalau memang dia pria jagoan, carilah lawan yang seimbang untuk digebukin, coba saja berantem sama Agung Hercules, The Rock, Vin Diessel atau Jackie Chan sekalian. Itu baru berani dan pantas dibanggain. Masa mukuli perempuan sih?

Perempuan itu buat disayang-sayang, mas. Bukan buat dipukuli kayak karung pasir. Dan kalau anda butuhnya seperti itu, kawin aja sama sandsak. Itu lebih bermutu dan menggembleng anda jadi petinju.

Dan bodohnya, ada loh perempuan yang dari mulai berpacaran sudah biasa menerima perlakuan kasar dari kekasihnya. Ya ditempeleng, ditendang, dijambak dan lain-lain. Dan super idiotnya tetap mau menikahi pria model ini dengan harapan setelah menikah akan berubah.

Bertahan dalam suatu hubungan baik berpacaran atau pernikahan dengan pelaku kekerasan adalah menantang maut bagi diri sendiri. Siapa yang bisa menjamin dia nggak kebablasan sampai menghilangkan nyawa? Orang yang mukul itukan nggak ngerasain sakitnya. Lah, kita yang jadi korban yang merasakannya. Mau mati atau cacat ditangan orang seperti ini? Kalau aku sih ogah berhubungan dengan pria model ‘jagoan kandang’ gini. Hidup, hati dan tubuhku terlalu berjarga untuk dirusak oleh pria pelaku kekerasan.

Dan kekerasan juga nggak selalu melukai fisik saja. Ada yang disebut dengan kekerasan verbal, dimana pelakunya dengan sengaja menghina, merendahkan, melukai, mengejek secara sengaja dan terus menerus sehingga korbannya merasa bahwa apa yang dikatakan oleh sipelaku adalah benar. Dan sikorban menjadi kehilangan kepercayaan dirinya serta harkat dan martabatnya.

Neng, bad habit atau kebiasaan buruk yang sudah mendarah daging seperti ini, nggak akan bisa hilang dengan sendirinya. Tanpa kemauan dan niat keras sipelaku kekerasan serta sangat perlu bantuan dari ahli kejiwaan untuk menanganinya. Dan tentu saja perlu waktu yang panjang untuk menyembuhkannya.

Jadi jangan bermimpi pernikahan bisa merubah sifat jahat dan attitude buruk lelaki dengan mudahnya. Dan kalau nggak ada niat dan kemauan keras dari si lelaki untuk merubahnya, nggak akan ada perubahan yang lebih baik yang akan terjadi.

Well, inti dari tulisanku kali ini adalah jangan merendahkan standar prinsip dalam memilih lelaki yang datang dalam hidupmu. Kalau brengsek ya tetap akan brengsek meski kau menutup mata dan berhalusinasi kalau dalam pernikahan ia akan berubah.

Jangan menerima lelaki yang kau sudah tahu kebejatannya dengan keyakinan bahwa tidak ada yang lebih baik dari ini akan datang untukmu. Oh, please jangan merendahkan dirimu sampai seperti itu sayangku. Kamu berharga, lebih dari pria-pria tak layak ini.

Seorang sahabatku berkata “jodoh itu cerminan dari diri kita”. Kalau kita baik, jodoh kitapun pasti orang baik-baik. Dan kalau kita buruk, jodoh kita mungkin sama buruknya dengan kelakuan kita. Jadi kalau kamu yakin kamu wanita baik dan terhormat, mengapa kamu mau dengan pilihan buruk seperti itu? Karena cinta? Karena takut dibilang nggak laku? Karena takut nggak ada yang mau lagi?

Hei, soal jodoh itu hak prerogratif Tuhan. Itu mutlak urusannya dan kita cuma bisa berharap dan berdoa.

Yakinlah Tuhan masih menyisakan pria-pria baik yang mempesona untuk dirimu dan pasti ada. Jadi jangan sampai kau terburu-buru dan salah memilih jodohmu. Ini soal hidup, dan hidupmu belum berhenti, tak ada salahnya kau menunggu sedikit lebih sabar untuk mendapatkan yang terbaik.

I Pray – Aku Berdoa

Jangan minta diberi kesabaran sama Tuhan, kamu malah bakal diberi banyak cobaan nantinya.

Jangan minta diberi kekuatan sama Tuhan, nanti kamu malah diuji sampai dimana batas yang kamu bisa.

Jangan minta diberi ketabahan sama Tuhan, nanti malah dicoba masalah sampai lelah.

Mintalah untuk tak pernah ditinggalkan Alloh dalam keadaan apapun.

Mintalah untuk tetap disayangi Alloh meski dalam keadaan terburuk sekalipun.

Mintalah maafnya yang tak terhingga untuk segala dosa, yang telah dan belum dilakukan.

Minta tetap dicintai Alloh meski terkadang iman turun naik dan lupa padanya.

Lebih dari itu, Tuhanmu adalah sang maha.
Ia lebih dekat daripada urat nadi di lehermu.
Ia selalu ada meski kau mengabaikannya.
Semesta raya, bukanlah apa-apa dibandingkan kekuasaannya.
Jadi berdoalah. Jangan lupakan. Berimanlah padanya.

Jodoh buat Laila (Kun Fayakun)

“Laila sayang, kamu percaya pada Papakan?” Tanya ayahnya tiba-tiba saat menghubunginya melalui sambungan jauh internasional. Pria usia 62 tahun itu sedang beribadah haji di Mekkah.

“Tentu saja, Pa. Ada apa ini?” Laila tersenyum, merasakan kegairahan yang nyata dalam nada suara ayahnya.

“Papa sudah menemukan pria yang tepat untukmu nak.” Ujar ayahnya tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.

“Deg….” Gadis ini tertohok.

Alis Laila berkerut tajam, tidak mengerti.

“Bagaimana Papa bisa seyakin itu?” Tanyanya penuh rasa tidak percaya.

Terdengar suara ayahnya tertawa pelan, “Kun fayakun, sayang. Kalau Alloh menghendaki, apa sajapun bisa terjadi. ”

*Kun fayakun = jadi maka jadilah (QS. Yaasin : 82).

“Sesampainya di Indonesia, kita akan segera mempersiapkan pernikahanmu. Kamu setujukan dengan pilihan Papa ini?” Tanya ayahnya meminta kepastian pada Laila. “Papa bisa menjamin ia pria baik dan taat beragama. Sesuai dengan kriteria yang kamu inginkan, putriku. ” Tambah ayahnya seolah berusaha meyakinkannya.

Hati gadis ini kembali berdetak lebih kencang. Ini keputusan yang berat dan teramat sulit untuk diambil Laila. Tapi tampaknya ayahnya sangat serius dengan ucapannya. Dan entah mengapa Laila tak bisa menolak keinginan ayahnya kali ini.

Lalu Laila mengucap basmalah dalam hati dan menguatkan tekadnya. “Laila yakin pilihan Papa pasti yang terbaik. Insya allah, Laila akan setuju. ” Ucapnya dengan suara gemetar dan mata memejam.

¤¤¤¤

Pukul 10.20, 12 Desember 2012, suite room Ritz-Carlton Jakarta.

“Suami kamu ganteng sekali, Laila. ” Bisik seorang gadis padanya dengan senyuman terpesona.

“Kamu sangat beruntung bisa memilik suami seperti itu. Aku dengar paman bertemu dengannya saat sedang tersesat di Masjidil Haram. Kalau begitu suamimu sudah berhaji, Laila. Pasti agamanya kuat, diusia semuda itu sudah menyelesaikan rukun islam ke 5.” Ujar salah seorang sepupunya dengan takjub.

“Wah, benar-benar takdir ya…” Bisik-bisik yang mendengar cerita ini.

“Laila….. ” Pekik sahabatnya yang lain. “Selamat yah. Suamimu cakep sekali. Aku jadi iri….” Ujarnya sambil memeluk tubuh gadis yang sedang berbahagia ini.

Laila hanya tersenyum dengan hati membuncah bahagia.

Sejujurnya dari prosesi lamaran hingga ijab kabul tadi, Laila belum pernah berjumpa langsung dengan pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Bahkan ia sama sekali tidak mengetahui siapa nama suaminya dan seperti apa rupanya. Ayahnya berusaha keras menutupi semuanya dan Laila membiarkannya saja.

Ia percaya pada pilihan ayahnya dan tanpa protes apapun, menerima lamaran lelaki yang menurut ayahnya pantas untuk menjadi suaminya. Imamnya.

Dan kini di kamar malam pengantinya yang dihiasi mewah dan glamour, Laila menunggu kehadiran suaminya untuk pertama kalinya. Pesta pernikahan yang khusuk dan private akan diadakan di ball room hotel bintang 5 ini, dan hanya dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak dan teman-teman terdekat saja.

Laila duduk di tepi ranjang kamar suite president. Hatinya berdebar kencang dan badannya panas dingin.

“Aku sudah menikah… ” Bisiknya pada diri sendiri. Berusaha meyakini.

Terdengar ketukan ringan di pintu kamar. Lalu pintu terbuka dan seseorang memasuki kamar yang temaram.

Laila menundukkan wajah cantiknya yang memerah padam. Jantungnya berdetang keras, hingga rasanya bunyinya terdengar sampai 5 mill jauhnya.

“Laila Gemintang, istriku. ” Seru sosok itu penuh percaya diri.

Laila terpaku. Sangat terkejut. Ia mengenali suara yang sedang memanggilnya itu. Lalu gadis itu menoleh pada sesosok bertubuh jangkung yang kini tersenyum, menyeringai senang padanya.

“Kamu…” Pekiknya terkejut dengan wajah pucat pasi.

¤¤¤¤

Dua tahun sebelumnya. Di Sky On 57, restoran yang terletak di menara 1 lantai 57. Marina Sand Bay, Singapura.

“Menikahlah denganku!” Pinta Marquez dengan suara bergetar pada gadis mungil berambut hitam panjang, yang duduk kaku di hadapannya.

Laila terhenyak. Gadis itu membelalakkan mata indahnya, tampak sedikit terkejut dengan pernyataan pria Spanyol berwajah tampan ini. Sesaat ia bahkan sampai lupa untuk bernafas. Cepat ia meneguk air putih dalam gelas dihadapannya.

Ia, Laila sudah mengenal Marquez sejak delapan belas bulan yang lalu. Tapi hubungan mereka tak pernah lebih dari sekedar atasan dan bawahan. Tak ada kisah romantis apalagi lovey dovey mewarnai interaksi mereka.

Laila adalah sekretaris Maximillian Marquez di Indonesia. Lalu karena ia satu-satunya sekretaris yang bisa bertahan begitu lama terhadap kelakuan Marquez yang perfectionist dan tak bergeming terhadap godaan pesona flamboyan seorang Max Marquez, akhirnya ia menjadi sekretaris utama dari sang CEO.

Dan kini, di sebuah restoran Italy terbaik di Singapura. Di ketinggian beberapa ratus meter dari bumi, dengan pemandangan malam kota yang indah. Marquex melamarnya tanpa basa-basi.

Laila menatap seksama pria tampan bertubuh tinggi atletis. Marquez yang berkulit cerah sewarna patung-patung perungu dan kini sedang memasang raut wajah tegang. Menunggu jawaban darinya.

“Anda mabuk, Sir?” Tanya gadis bermata lebar ini sangsi, pada akhirnya. Setelah ia berhasil menemukan lidahnya kembali.

Marquez tertawa gugup.

Ia sudah menduga Laila tidak akan mempercayai apa yang telah ia ucapkan. Tapi sesungguhnya saat ini ia benar-benar sangat serius. Mungkin justru baru kali ini ia berpikir dan memutuskan melakukan sesuatu dengan pikiran paling jernih dan waras. Ironisnya, Laila malah menduga ia mabuk.

“Anda tampak pucat dan sedikit gemetar. ” Laila menyipitkan matanya, tampak semakin cemas. “Sepertinya anda sakit, Sir. ” Ujarnya gugup.

Marquez mengusap wajahnya yang berkeringat, tak kalah gugup.

“Aku tidak mabuk, Laila. ” Potongnya dengan cepat. “Juga tidak sedang sakit.” Tambahnya lagi.

Pria ini menegakkan posisi duduknya dan menatap Laila dalam-dalam, dengan sinar mata berani. Mengumpulkan tekadnya yang tersisa.

“Aku serius dengan ucapanku. ” Marquez mengawasi ekspresi wajah Laila yang tampak terkejut. Lalu perlahan ada rona merah jambu yang menjalari kedua belah pipinya yang halus. Gadis itu tampaknya mulai mengerti.

“Maukah kau menikah denganku, Laila Gemintang?” Ulangnya dengan tegas dan bersungguh-sungguh.

Laila terdiam. Membalas tatapan mata Marquez yang tajam dan menuntut. Lalu menunduk tampak malu, juga serba salah.

“Saya tidak bisa. ” Jawabnya sambil menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang kembali kering.

“Apa?!” Marquez terbeliak. “Kau bisa memikirkannya dulu…” Ucapnya melemah.

Laila menggeleng dan tersenyum penuh ketenangan. “Meskipun anda memberi saya waktu yang banyak. Jawabannya akan tetap sama. Tidak, saya tidak bisa. ” Ungkap gadis cantik ini dengan nada berhati-hati.

Marquez mendesah, kecewa. Namun tidak putus asa. Tidak mungkin atau tidak bisa, bukanlah kata yang ada dalam kamus hidupnya.

“Kenapa?” Tanyanya dengan suara dalam dan wajah muram.

Laila memberikan sebuah senyum kecil yang lembut. Satu dari lima senyum favorit Laila Gemintang yang paling disukai Marquez.

“Karena kita beda agama, Sir. ” Sahut gadis itu dengan nada tegas tak terbantahkan.

¤¤¤¤

Maximilliam Marquez, pria usia 27 tahun. Tampan dan kaya. Punya karir bagus sebagai CEO di perusahaan pertambangan milik keluarganya turun temurun, Repsol. Yang menguasai 32 % cadangan minyak bumi dan gas alam diseluruh dunia.

Ia tidak pernah mendapatkan penolakan. Dengan segala pesonanya Marquez bisa dengan mudah memikat wanita-wanita cantik. Sudah tak terhitung berapa artis, model dan beberapa selebriti yang ia pacari. Dan selama Laila menjadi sekretarisnya, gadis ini telah banyak membantunya menyelesaikan urusan dengan para kekasih yang diputuskan dan mantan yang histeris.

Laila mengetahui dengan pasti sepak terjang percintaan Marquez. Bahkan bisa dibilang dalam waktu nyaris dua tahun, hanya Laila seorang, wanita yang punya hubungan stabil dan permanen dengannya.

Apa mungkin karena hal itu Laila jadi meragukan niat tulusnya?

Marquez mendesah, ada kekecewaan yang menyelimuti hatinya. Membuatnya merasa sangat muram.

Kejadian tadi malam kembali menghantuinya. Pria ini cepat-cepat meneguk liquor dalam gelas kristal ditangannya.

Ia ingin mabuk dan melupakannya. Dan terbangun dengan harapan, semua ini hanya mimpi buruk.

“Laila Gemintang…!” Desahnya pelan.

Gadis itu selalu bersikap dingin tapi profesional padanya. Gadis yang cerdas, efisien dan selalu mengambil keputusan efektif. Marquez menyukai kinerjanya dan merasa puas. Tapi bukan itu yang membuat ia menyerahkan hatinya pada Laila.

Suatu hari ia pernah sangat sakit. Terkena flu berat dan demam. Satu-satunya orang yang terlintas dibenaknya untuk dihubunginya adalah Laila.

Gadis itu segera datang, meski saat itu tengah malam. Bersama supir kantor, ia membawa Marquez ke rumah sakit. Dan mengurusnya hingga ia merasa baik dan menghandle semua urusan kantor. Laila sangat bisa diandalkan, itu sudah pasti.

Mulai saat itu Marquez, memandang Laila dengan berbeda. Ia jadi berdebar-debar dan gugup, saat gadis itu ada di sampingnya. Seperti anak ingusan yang baru saja mengenal cinta.

Lalu dengan perlahan Marquez jadi lebih memperhatikan Laila dengan seksama. Dan mudah saja baginya jatuh hati, pada gadis itu. Gadis itu berbeda dengan semua wanita yang pernah ia kencani. Sama sekali bukan tipe kesukaannya. Tapi sialnya, pesona Laila sudah menyihirnya dan ia tak dapat menahan diri lagi. Ia ingin memilikinya. Namun gadis itu tak sepertinya tak percaya pada cinta, apalagi pada pria yang jelas-jelas adalah playboy. Satu-satunya cara yang akan diterima oleh Laila adalah menikahinya. Sayang, penolakan Laila tak pernah terlintas dipikirannya.

Perbedaan agama. Klise sekali.

Laila menolaknya karena keyakinan mereka tak sama, Tuhan yang mereka percaya berbeda. Bukan karena tidak mau.

Marquez tiba-tiba tersenyum. Sebuah ide terlintas dibenaknya.

Ia percaya Tuhan hanya ada satu. Walau orang-orang memanggil-NYA dengan nama yang berbeda dan menyembahnya dengan ritual masing-masing yang mereka percayai. Tapi pada hakikatnya, Tuhan cuma ada satu. Siapapun itu.

Pria tampan ini tersenyum penuh kemenangan.

¤¤¤¤

“Saya akan berpindah agama, demi kamu. Jadi maukah kamu menikah denganku, Laila?” Marquez tersenyum penuh rasa percaya diri, dihadapan gadis manis yang sangat digilainya.

Wajah Laila memucat. Ada gejolak rasa sedih dan marah dalam tatapannya yang tajam pada pria tampan ini. Jadi inilah alasan dibalik undangan makan siang di mansion Marquez, hari ini. Tadianya ia kira mereka akan membahas soal pekerjaan sambil bersantai-santai.

Laila tidak menyangka kalau Marquez masih berharap ia mau mengubah keputusannya. Walaupun ia sangat menyadari kalau dengan sifat keras kepala pria ini, tidak mungkin akan menyerah dengan mudah.

“Saya tidak bisa menerima lamaran anda, Sir. ” Tolak gadis ini tanpa basa-basi.

Kini giliran wajah Marquez yang memucat, tidak mempercayai pendengarannya.

“Mengapa?!” Tuntutnya marah dengan jari-jari mengepal di bawah meja makan yang dihiasi taplak renda putih.

“Bukankah kamu menolakku karena perbedaan agama? Dan sekarang saat aku memutuskan mengikuti keyakinanmu, kamu tetap menolakku tanpa berpikir sedikitpun. ” Ungkapnya penuh kemarahan.

Laila menarik nafas panjang.

“Apa yang dapat saya percayai dari anda? Kalau Tuhan yang maha baik saja bisa anda khianati demi saya, bagaimana anda bisa setia pada saya sampai akhir?” Tanyanya dengan nada penuh ketenangan.

“Bagaimana saya bisa menyerahkan hidup dan cinta saya untuk anda? Seseorang yang hanya demi wanita biasa macam saya, rela meninggalkan kepercayaannya bahkan Tuhannya sekalipun. Maaf Sir, saya sama sekali tidak terkesan dengan semua ini. ” Ujar Laila sambil menatap langsung pada Marquez yang masih tercengang.

Dan sekali lagi lamaran Marquez ditolak tanpa basa-basi oleh Laila. Tapi kali ini, efeknya luar biasa mengagetkan bagi pria Spanyol yang pantang menyerah ini. Jauh lebih menyakitkan dari saat pertama.

¤¤¤¤

“Kapan kamu akan menikah?” Tanya pria tua yang berwajah tampan dimasa mudanya ini pada putri sulungnya.

Laila tersenyum, mengalihkan padangannya dari TV yang menayangkan berita siang. Ia dan Papanya sedang duduk santai di sofa ruang keluarga, rumah milik pria setengah baya ini.

“Mengapa papa bertanya seperti itu?” Ia mengedipkan mata, geli.

“Papa dengar kamu menolak lamaran bosmu…. ” Ujar pria setengah baya ini hati-hati.

Laila segera berbalik. Memandang ayahnya dengan tajam. Menelisik kemungkinan-kemungkinan liar yang bisa ia percayai, mengingat sifat Marquez yang tak pernah bisa ditolak.

“Papa tahu darimana?” Tanyanya dengan mata menyipit, curiga. “Apa Marquez menghubungi papa?” Bisiknya tidak percaya.

Pria tua ini tertawa dengan ekspresi malu, tertangkap basah.

“Bosmu menemui Papa, di Jakarta kira-kira dua hari sebelum kamu pulang. Ia meminta izin papa untuk melamarmu. Papa lihat ia pria yang baik, berani dan bertanggung jawab. Bahkan ia bersedia berpindah agama agar bisa menikahimu loh. ” Ujar Jon, ayah dari gadis ini dengan hati-hati.

Laila mendesah, mencermati perkataan ayah kandungnya. Orang yang sangat ia hormati dan puja. Satu-satunya orang yang dapat membuat keputusannya berubah. Dan Marquez dengan licik sepertinya sudah membuat ayahnya mendukungnya.

“Laila tidak ingin menikah dengan seseorang yang dengan mudahnya berpindah agama dan mengkhianati Tuhannya, hanya untuk memiliki wanita yang katanya sangat ia cintai. Apa Papa tidak berpikir, bagaimana seandainya cinta Marquez luntur? Bisa sajakan ia meninggalkan Laila.” Gadis itu mengawasi perubahan raut wajah ayahnya yang serius.

“Apa kamu tidak merasa tersanjung? Ada lelaki yang sampai sebegitu cintanya padamu, sampai mau mengorbankan imannya untukmu. ” Tanya ayahnya lagi.

Laila menggeleng. “Mungkin wanita lain akan seperti itu, Pa. Tapi Laila tidak. ” Ia tersenyum lemah.

Papanya membalas tatapannya dengan seksama. Menyadari keteguhan hati anaknya.

“Apa ini ada kaitannya dengan Eru?” Tanya ayahnya lagi berhati-hati.

Seketika hati Laila mencelos, dingin. Suasana ruang keluarga mereka yang sejuk, tiba-tiba terasa membekukan gadis ini.

Eru adalah mantan kekasih terakhirnya, yang dengan kejam mencampakkannya tanpa alasan yang jelas. Demi gadis lain. Dan saat ini ia sudah berbahagia dengan keluarganya sendiri.

“Tentu saja bukan, Pa. Laila sudah lama melupakan Eru. ” Ucapnya dingin.

“Tapi Papa tidak pernah melihatmu punya hubungan yang stabil dengan orang lain setelahnya. Apa… Kamu masih mengharapkan dia?” Kali ini ada nada cemas dalam perkataan pria tua ini.

Laila menggeleng, tampak sedih. “Tidak. Laila hanya lebih berhati-hati, Pa. Dan Marquez bukanlah pasangan tepat untuk Laila saat ini. Laila tidak bisa yakin pada pria itu. ”

Jon, mendesah khawatir. Putrinya yang cantik dan pintar, pernah salah memberikan hatinya pada seorang bajingan tengik macam kekasihnya yang terdahulu. Dan itu membuat Laila trauma dan kehilangan kepercayaannya terhadap percintaan.

“Papa hanya ingin kamu bahagia. Dengan siapapun itu. Papa tidak akan memaksakan kamu menikah, kalau kamu belum siap. ” Ujar ayahnya tampaknya ingin mengakhiri perbincangan mereka.

Laila mendesah, “Terimakasih, Pa” ujarnya tulus.

“Laila Gemintang, tahukah kamu kenapa kamu diberi nama itu? Karena kamu lahir dimalam indah yang penuh jutaan bintang yang bersinar bagai berlian. Kamu, putri kesayangan Papa. ” Bisik ayahnya penuh kasih sayang.

Laila tersenyum sampai kehati dengan mata berbinar. “Laila tahu, Pa. ”

Ia memeluk tubuh ayahnya dengan lembut. Satu-satunya lelaki yang ia percaya sampai mati dan mencintainya tanpa syarat, ayahnya.

¤¤¤¤

Seorang pria tua tampak tersesat di kawasan Masjidil Haram. Tadinya ia setelah usai shalat magrib lalu hendak mengisi perutnya dengan kembali ke hotel tempat ia menginap, ia berjalan menelusuri jalanan yang biasa ia tempuh. Namun anehnya kini ia berada di tengah lautan jemaah haji yang tidak ia ketahui asalnya. Dan ia sudah berputar-putar selama satu jam lebih. Ia sangat lelah.

“Permisi, Pak. Apa anda tersesat?” Tanya seseorang santun padanya dengan bahasa inggris yang fasih.

Jon yang berjongkok lemas karena gula darahnya menurun, mendongak. Menatap sosok muda yang menjulang di hadapannya.

Ia tertohok kaget. Tidak mempercayai pandangannya. Dan sosok yang sedang ia tatap juga tak kalah kagetnya. Sama-sama terkejut dan tidak menyangka dapat bertemu di tempat ini.

“Anda…. ” Desisnya tidak percaya. “Bagaimana mungkin…..” Sambungnya dengan suara tercekat.

¤¤¤¤

Pukul 19.30. Tanggal 25 Juni 2013, Ball Room Hotel Alila, Jakarta.

Laila Gemintang memasuki balai pertemuan di dalam sebuah hotel dengan arsitektur minimalis kawasan Pecenongan, Jakarta barat.

Ada pertemuan alumni akbar dari kampus tempat ia menyelesaikan kuliahnya dahulu. Ini pertama kalinya Laila datang ke acara reuni. Dan ia sangat gugup.

Saat memasuki ruangan, ia mencari-cari seseorang yang mungkin masih ia kenal. Teman-temannya atau senior dan yunior yang akrab dengannya. Maklumlah saat kuliah dulu Laila adalah gadis populer yang banyak dikenal orang. Tadi ada seorang temannya berjanji akan menemuinya disini.

“Laila…..” Pekik seorang wanita cantik yang bertubuh subur.

Mata Laila terbeliak, senang. “Elsye…” Katanya tak kalah gembira.

Keduanya lalu berpelukan tanpa malu-malu. “Ayo kita temuin yang lain.” Ajak temannya bersemangat.

Laila tersenyum senang. “Ada siapa aja?” Tanyanya terlular semangat Elsye.

“Ada Riska, Jinie, Tika dan ….” Elsye memutarkan bola matanya, mengejek. “Nur…” Bisiknya geli.

Laila tertawa. “Ia masih belum berubah?” Bisiknya sambil menatap kerumunan temannya yang semakin dekat.

“Kau lihat saja sendiri. ” Elsye membalas tatapannya, tampak menahan tawa.

“Hai, ladies!” Sapa Laila pada teman-temannya yang langsung di sambut dengan kehebohan bagai gadis muda.

Riska, sahabat dekatnya memeluknya hangat. Bergantian dengan Istika dan Jinie.

Obrolan mereka langsung lancar dan penuh semangat. Hingga tanpa disadari Laila ada sosok yang melihatnya tajam dan mendekati mereka.

“Laila…” Tegur sosok tinggi besar itu.

Laila dan teman-temannya menoleh. Dan sontak mereka terdiam, menahan nafas.

“Hai…” Laila membalas sapaannya dan tersenyum tipis.

“Apa kabar, Laila?” Tanyanya dengan suara menggoda dan senyuman tertahan.

“Baik. ” Jawab Laila singkat.

“Kudengar kau berhenti bekerja di perusahaan minyak itu?” Laila menatap sekelebat kilat dimata lelaki dihadapannya ini.

“Benar. Aku sudah lama berhenti. ” Ujar Laila dengan wajah tenang. Sepertinya ia sudah dapat menduga apa alasan lelaki ini mengajaknya berbicara.

“Bagaimana kalau kau bekerja untukku saja? Aku bisa merekomendasikan kau jadi sekretarisku loh. ” Ucapnya dengan nada dibuat-buat, jelas sekali ingin menghina.

Laila mendongak, menatap lelaki yang pernah membuat hatinya berdarah-darah. Dan kali ini ia merasa sangat muak. Mengapa dulu bisa jatuh pada pria seperti ini.

“Aku heran, Ru.” Ucapnya dengan mimik muka tidak terbaca. “Bukankah IPKmu di bawah 2,5 tapi kok bisa ya masuk perusahaan BUMN? Sepengetahuanku di kampus juga kau tidak pintar-pintar amat. Aku jadi meragukan sistem penerimaan pegawai pemerintahan kita.” Nada suara Laila tampak mengancam.

Oh, tentu saja Laila yang dulu dan sekarang tetap merupakan wanita yang tak akan kehilangan lidahnya bila dalam keadaan terpaksa. Tidak percuma ia pernah memenangkan lomba debat antar Fakultas di kampus mereka.

“Oh ya, aku lupa. Ayahmukan juga bekerja di BUMN tersebut ya?” Tanyanya dengan nada manis, membuat Eru hampir membiru tersedak kemarahan.

Ia lalu menyeringai masam. “Mulutmu masih setajam dulu yah, pantas kau tidak laku-laku. ” Ujarnya penuh kemenangan, menyeringai mengejek.

Elsye, Riska dan teman-teman Laila yang mendengarnya tersentak marah. Laki-laki ini benar-benar sudah keterlaluan pada teman mereka. Namun sebelum salah satu dari mereka merangsek maju untuk melabrak lelaki berkulit putih ini, sesuatu yang mencengangkan terjadi.

Seorang pria tampan, bertubuh tinggi bagai model patung-patung pahatan Michael Angelo memeluk Laila dari belakang dan mengecup pipinya hangat.

“Maaf, sayang. Aku telat. ” Bisiknya halus.

Laila menoleh padanya dan tersenyum malu-malu. Salah satu dari lima senyum Laila yang menjadi Favorit Marquez.

Lalu pria tampan berdarah Spanyol ini berdiri tegak menatap Eru, dengan posesif ia melingkari lengan dipinggang istrinya.

“Ru, kenalkan ini Maximillian Marquez, suamiku. ” Laila tersenyum kecil, melirik Marquez dengan sayang.

“Max… Maximilliam yang itu…” Ujar Eru dengan suara terbata, tidak mengerti. Ia cukup tahu bos ditempat Laila bekerja adalah salah satu dari keturunan keluarga Marquez, pemilik Repsol.

“Halo, saya Maximillian Marquez. CEO dari Repsol. ” Ucap pria di samping Laila dengan nada profesional dan tegas. “Anda, Eru bekas pacarnya bukan?” Tanyanya tanpa basa-basi.

Eru hanya menggumam tidak jelas, saat jemarinya dengan kencang dijepit tangan Marquez yang menyalaminya.

“Thanks dude. Kalau kamu nggak ninggalin dia dulu, aku pasti nggak bisa ketemu dengan perempuan yang luar biasa seperti dirinya. ” Ucap Marquez bersungguh-sungguh tanpa bermaksud menghina.

“Wow…” Bisik Tika pada Laila. “Suamimu cakep banget. ” Ia terkikik genit.

“Laila, kau harus menjelaskan padaku. Dimana kau temuka pria setampan itu. ” Ancam Jinie dengan mata mendamba.

“Hei, mau kau kemanakan Shimada Ryora?” Ujar Riska mencubit lengan Jinie, gemas melihat kelakuannya.

Laila tersenyum. “Ceritanya panjang. ” Ucapnya dengan pelan pada teman-temannya.

¤¤¤¤

“Jadi Laila menolak lamaranmu sebanyak tiga kali?” Pekik Elsye dengan suara keras. “Kenapa?” Tanyanya tidak percaya.

Laila di bawah todongan teman-temannya yang duduk mengelilingi mereka di meja bulat, menjawab “Aku ragu padanya. Ia plaboy dan suka mempermainkan wanita, tiba-tiba saja melamarku. Siapa yang bisa percaya, coba? ”

“Lalu mengapa saat Marquez bilang ingin pindah agama untukmu kau tetap menolaknya?” Tanya Riska berhati-hati menatap pasangan ini.

“Aku tidak mau ia berpindah agama hanya karena cintanya padaku. Bukan karena kesadarannya sendiri. Kalau cintanya hilang dan berubah, siapa yang bisa menjamin ia tetap memeluk agama yang kuanut. Itukan alasan yang salah untuk berpindah kepercayaan semudah itu. ” Ucap Laila dengan mengebu-gebu. “Aku marah padanya karena menganggap enteng masalah keimanan. ” Lirik Laila pada suaminya tersayang.

Marquez tersenyum malu, mengelus lengan istrinya lembut. “Maafkan aku, saat itu aku hanya menurutkan emosiku saja. ” Ucapnya dengan jujur.

“Lalu apa yang terjadi?” Tanya Elsye kemudian, menatap mereka dengan perhatian.

Marquez tersenyum. “Laila memutuskan berhenti kerja. Lalu aku jadi sangat terpuruk. Aku kembali kekehidupan lamaku yang buruk dengan hati hampa. Sampai suatu hari aku sedang lewat sebuah toko buku dan kuputuskan masuk untuk melihat-lihat. Aku melihat sebuah buku besar, kitab suci agama yang dianut Laila. Dan memutuskan untuk membacanya. Kau tahu apa surat yang kubuka secara acak itu?” Ia memandang sambil tersenyum pada wajah-wajah yang menatapnya penuh rasa ingin tahu.

“Surah Yaasin ayat 82. Kun fayakun yang artinya jadi maka jadilah. Kupikir kuasa Tuhan sangatlah besar, hingga hal-hal mustahil yang tak bisa diterima akal bisa saja dalam detik itu terjadi bila ia menginginkannya. Saat itu aku merasa sangat dipenuhi oleh energi yang aku tidak tahu dari mana asalnya. Aku memutuskan untuk mempelajari agama islam lebih dalam. Lalu semua terjadi begitu saja, aku mualaf dan menjadi muslim. ” Pungkas Marquez dengan singkat tanpa melepas senyumannya.

“Bagaimana kalian bertemu lagi?” Cicit Jinie dengan tidak sabaran.

Marquez dan Laila saling bertatap. “Kami tidak pernah bertemu, hingga hari dimana kami menikah. ” Ucap Marquez dengan senyum terkembang.
“Apa?!” Kaget keempat kawan Laila kompak.

“Mungkin kami memang berjodoh. Saat aku menunaikan ibadah haji, aku menolong seorang bapak yang tersesat. Kalian tahu siapa orang tersebut?” Tanya pria itu dengan senyum jahil.

“Orang itu adalah Papaku.” Sambung Laila dengan mata berbinar-binar.

¤¤¤¤

Pukul 14.20, 12 Desember 2012, suite room Ritz-Carlton Jakarta.

“Aku menjemput kamu, untuk menemui tamu-tamu kita di ball room. Sekaligus mengenalkan kamu sebagai istriku, pada keluargaku. ” Ujar Marquez tanpa melepas senyuman bandelnya.

Laila menggelengkan kepalanya, yang tiba-tiba merasa pusing.

“Aku nggak ngerti. ” Desisnya dengan wajah pucat.

“Bagaimana bisa….” Ia menatap Marquez dengan pandangan horor. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanyanya lagi, tampak sedikit frustasi dengan keadaan yang tidak ia mengerti.

Marquez tersenyum, mendekati Laila yang duduk rapuh di tepi ranjang. Berjongkok di hadapannya dan meraih kedua belah tangan halus gadis itu. Menggenggamnya.

“Sepeninggal kamu, aku kembali kekehidupanku yang dulu. Kau tahukan bagaimana aku?” Marquez tampak sedikit jijik, mengingat bagaimana dirinya dulu. “Tapi beruntungnya aku, suatu hari aku dapat pencerahan. Aku belajar agama islam. Dan semuanya terjadi dengan cepat dan mudah, aku mualaf dengan keyakinan penuh.” Sambung pria ini dengan suara tenang, ia meremas jemari tangan istrinya lembut.

“Aku menunaikan ibadah haji dan saat berada di Makkah, aku berdoa semoga Alloh mengirimkan jodoh yang baik untukku. Kau tau apa yang terjadi? Aku malah bertemu dengan ayahmu. Yang ternyata juga sedang pergi berhaji. Ayahmu dan aku berpikir yang sama, ini terlalu kebetulan. Mungkin inilah yang disebut jodoh dan takdir. ” Bisiknya dengan suara bahagia, yang tak ingin disembunyikannya.

Laila menarik nafas dalam-dalam. Dengan mata lebarnya yang indah, ia menatap Marquez takjub, seolah baru pertama kali melihatnya. “Kamu nggak pernah menyerah atas aku ya?” Tanyanya dengan lembut. Jarinya terulur menyentuh rahang kiri Marquez.

Pria tampan ini menyeringai senang, ia mengecup tangan istrinya sangat bahagia.

“Enggak pernah. Aku yakin kalau kamu pasti bisa jadi milikku. Aku juga nggak tahu bagaimana bisa seyakin itu. Tapi doaku dijawab, meski tak mudah dan harus melalui jalan yang panjang. ” Ucapnya dengan wajah sumringah.

Laila membalas senyumannya, menghela nafas. Dan terlihat lega.

“Terimakasih sudah memilihku. ” Ujar gadis ini dengan jujur.

Marquez tersenyum senang, “Terimakasih juga sudah menerimaku, Lady Marquez.” Ia kembali mengecup jari istrinya dengan lembut.

Why I Like Marquez?

“Kemenangan terbesar itu bukan karena menjadi nomor 1, tapi melakukannya dengan penuh hasrat dan hati yang senang. Hasil akhir itu hanya bonus saja.” ~ Yona Sukmalara.

Belakangan ini aku rajin nonton Moto GP dan ngikutin beritanya dikoran atau portal berita online. Dan dengan mudah perhatianku langsung tertuju pada pembalap muda berbakat, monster rookie dari Honda Repsol, Marc Marquez.

Kenapa aku suka Marquez? Dia mewakilkan tiga kata yang kusukai. Young, foolish and happy. Dan senyum kekanakannya, yummy sekali dimataku, hehehe! *evil laugh*.

Marquez masih muda, berbakat dan sangat bersemangat. Itu terlihat jelas dari cara membalapnya sangat agresif, entah karena ia masih terlalu muda sehingga dengan bodohnya hanya memikirkan siapa yang paling cepat di arena balap. Atau memang Marquez begitu ambisius untuk menjadi Juara Dunia Moto GP 2013.

Tapi tidak bisa dipungkiri Marquez memang berbakat di sirkuit balap. Ia jauh lebih cepat dibandingkan Lorenzo, Pedrosa apalagi Rossi yang karirnya semakin menurun. Padahal seharusnya sebagai pembalap kedua dari Tim Honda Repsol, fungsi Marquez harusnya hanyalah menjadi tandem bagi Dani Pedrosa. Menghalangi pembalap lain dan memastikan Pedrosalah yang menjadi juara di podium. Tapi Marquez tidak, ia menunjukkan bahwa ia meski kurang pengalaman tapi bakatnya memang cemerlang. Tak bisa terbendung, bahkan oleh Lorenzo sekalipun, sang juara Moto GP 2012.

Dan minggu lalu adalah minggu berat bagi Marquez. Ia didiskualifikasi karena tidak mengganti ban setelah sepuluh putaran di Phillip Island (peraturannya semua pembalap harus mengganti ban setelah 10 kali putaran. Tapi tim Marquez menginstruksikan Marquez untuk masuk Pit pada putaran 11). Ia masuk pit pada putaran kesebelas dan dihadiahkan bendera hitam. Jadi kesalahan ini murni karena ketidaktahuan Tim Marquez, bukan karena ketidakmampuan Marquez.

Dan seharusnya Lorenzo nggak usah sesenang itu di podium, karena memenangkan balapan ini cuma sedikit beruntung saja. Bukan karena jauh lebih baik dan cepat dari Marquez. Lorenzo hanya beruntung karena Marquez terkena diskulaifikasi gara-gara ban. Itu bukan hal yang terlalu keren untuk dibanggainkan? Dan Lorenzo tahu pasti hal ini. Tapi menang adalah menang, siapa yang peduli dengan kekalahan meski disebabkan hanya karena setitik kesalahan.

Well, pertarungan tinggal 2 sirkuit lagi. Dan total nilai Marquez dan Lorenzo hanya terpaut 10 poin. Kita tidak bisa memprediksi siapa yang akan menjadi juara dunia 2013 ini, Lorenzo masih bisa membalikkan keadaan. Tapi dari hati yang paling dalam aku berharap si monster rookielah yang menang. Meskipun bila pada akhirnya Marquez tidak memang, tak apa. Marquez sudah bersenang-senang selama hampir setahun di Moto GP, ia melakukan hal terbaik yang bisa ia lakukan. Dengan hasrat besar dan ia tampak sangat menikmati balapan.

Bukan hanya perkara menang atau kalah, Marquez memang menyukai kecepatan. Dan kemenangan-kemenangan yang diraihnya adalah bonus dari kerja kerasnya.

Tapi apapun bisa terjadi di lintasan balap. Bukan hanya siapa yang paling cepat, butuh sedikit keberuntungan dan banyak sekali kerja keras untuk bisa menjadi juara. Dan aku harap Marquez bisa mendapat hasil maksimal dari kerja kerasnya selama satu tahun ini.

Viva Dek Marquez, Audaces Fortuna -Iuvat!! (Selamat Dek Marquez, nasib baik menolong mereka yang berani).

Dalam Kenanganku, Kau tak Manis

Tiap dengar nama Eru, Heru atau yang mirip-mirip dengan itu, aku langsung ‘membeku’ untuk sesaat. Seolah ada tangan yang meremas jantungku dalam sedetik.

Apa cuma aku atau semua orang akan merasa seperti itu? Bila ingat mantan yang pernah membuat hati luluh lantak dan nggak percaya cinta lagi.

Aku nggak tahu.

Well, nama mantanku Eru. Nggak tahu deh, kalau dia menganggap aku juga sebagai mantan atau cuma teman biasa yang menyebalkan. Karena dalam ending perjalanan kisah kami, akhirnya aku sadar kalau sepertinya aku sama sekali tidak mengenalnya. Dan semua hal yang ia lakukan untukku terasa palsu.

Aku pikir dia nggak pernah tulus padaku. Mungkin pernah tapi aku tak menyadarinya. Atau aku yang memang bodoh, nggak bisa membedakan mana yang tulus atau tidak.

Dia, Eru memberi pukulan yang telak. Meninggalkanku beberapa saat sebelum ia wisuda, dan menggandeng gadis lain di acara wisudanya di kampus kami.

Aku tadinya nggak mau datang ke acara wisuda di kampus. Tapi nggak enak sama teman-temanku yang udah aku janjiin aku bakal datang untuk mereka. Arda, Rudi, Yayat. Mereka sangat baik padaku dan banyak menghiburku saat aku kacau.

Jadi dengan seorang teman wanitaku, kucoba gagah berani, aku datang ke kampus. Setelah sebelumnya memangkas habis rambutku jadi pendek dan di cat cokelat gelap (aku nggak ngerti kenapa perempuan patah hati selalu memotong rambutnya. Tapi aku juga termasuk orang yang melakukan itu).

Aku datang dengan wajah tersenyum lebar, walau mungkin sedikit pucat dengan tangan gemetaran. Menemui teman-temanku, mengucapkan selamat dan memberikan bunga pada mereka.

Dan entah aku cenderung punya sifat masokis (menyakiti diri sendiri) atau enggak, aku menemui dia. Menyalaminya dan bilang selamat. Sempat lihat Papa dan Mamanya (aku pernah beberapa kali di bawa ke rumah orang tuanya dan sempat berkenalan dengan Papa, Mama dan adik perempuannya. Dia juga sudah pernah ke rumahku dan bertemu Mama dan keluargaku).

Bahkan dahulu saat ia wisuda D3 di kampus lamaku, akulah orang yang jadi pendamping wisudanya. Karena kedua orang tuanya tidak bisa hadir.

So, aku tetap tidak mengerti. Mungkin hanya tak bisa mengerti. Mengapa orang berubah? Mengapa cinta bisa berhenti? Dan dimana letak kesalahan itu?

Setelah semuanya, aku pulang ke kost dan di kamar saat sendirian. Aku nangis.

Menangis keras hingga kupikir suaraku bisa terdengar sampai ke jalanan.

Menangis dengan hati remuk hingga kupikir duniaku sudah terhenti.

Dan memang. Duniaku terhenti saat itu.

Aku sinis menghadapi hidup. Kupikir cinta tidak akan pernah lagi menyapaku. Dan itu memang terjadi.

Sudah berapa tahun setelah itu, aku masih sendiri. Bukan tidak ada yang mendekati. Ada. Tapi aku tak pernah tertarik.

Bagiku semua sudah tak sama. Tak pernah bisa sama lagi. Meski sekitar 7 bulan setelah ia wisuda, ia tiba-tiba menghubungiku dan tanpa basa-basi meminta maaf.

“Minta maaf untuk apa?” Tanyaku saat itu.

Ia terdengar ragu.

“Untuk semuanya. ” Ucapnya pelan. Dia bilang Papanya sakit dan adik perempuannya terkena kanker.

Aku pikir, apa aku sehebat itu sampai dia terkena karma. Aku tak percaya padanya.

Lagipula ia bisa saja berbohong bilang segala macam alasan. Tapi untuk apa? Aku tak melihat ada untungnya baginya. Atau apakah dia hanya ingin melihat ‘hasil dari perbuatannya’ padaku?

Siapa yang tahukan?

Dia bilang merasa bersalah dan ingat kesalahannya padaku. Lalu menghubungiku untuk meminta maaf. Tapi rasanya terlalu ‘drama’.

Aku tak percaya dia lagi. Aku tak melihat korelasi keadaannya denganku.

Namun aku bilang padanya, “aku sudah maafin kamu. Jauh sebelum kamu minta maaf. Kamu sudah bebas. Kamu nggak bersalah sama aku. Semoga Papa dan adik kamu cepat sembuh. ” Ucapku tulus.

Sejak itu aku dan dia putus kontak. Sebenarnya setelah ia mencampakkanku pun, kami tak lagi berkomunikasi. Dia memblokirku dari pertemanan media sosial. Dan aku juga tak pernah mencari beritanya lagi melalui apapun.

Bagiku sudah cukup. Berakhir ya berakhir saja disini.

Pernah suatu saat, aku chatting dengan seorang senior yang sudah kuanggap seperti abangku sendiri (senior yang sering aku ceritakan dipostingan-postinganku sebelumnya, yang mantan ketua ukm seni di kampus). Seniorku ini juga punya pengalaman yang sama denganku, ditinggal kekasih sesaat sebelum wisuda. Dan sama-sama mengalami, mantan kekasih yang menggandeng pacar barunya untuk dibawa ke acara wisuda. Kami tahu rasanya ditatap dengan penuh rasa kasihan oleh mereka-mereka yang mengenal dan tahu kisah percintaan kami. It’s suck! Believe me, guys.

Seniorku tanpa diminta menceritakan tentang dia (mantanku), bahwa ia sudah menikah dan mapan dalam bekerja. Dia sudah bahagia dengan keluarganya.

Aku cuma bisa menarik nafas panjang.

Kapan hidup pernah adil pada pecundang?

Sekali pecundang tetap saja jadi pecundang selamanya.

Sejujurnya, aku nggak tahu apa yang aku mau. Aku sungguh-sungguh tak mengharapkan dia lagi. Aku benar-benar sudah melupakan dia. Dan aku juga sudah siap untuk berhubungan dengan orang lain yang tepat. Tapi kesempatan itu tak pernah datang. Atau hanya aku saja yang terlalu malas membuat kesempatan itu ada. Entahlah.

Eru. Itu namanya.

Lelaki yang berhasil membuatku merasa tak nyaman meski hanya mendengar, membaca, melihat kata Eru, Heru atau apapun yang mirip itu.

Yeah, aku tak nyaman.

Aku tak membencinya. Hanya tak nyaman saja.

Mungkin ini refleksi dari pertahanan alam bawah sadarku, bahwa kata yang mirip dengan namanya, mengingatkanku akan trauma yang ia sebabkan. Ini murni self defence. Aku tak mengada-ada.

Kuharap kita tak akan pernah bertemu lagi.
Kuharap ini terakhir kalinya aku membicarakanmu.
Kuharap kata yang terdengar seperti namamu tak lagi menjadi momok buatku.
Kuharap, ada seseorang yang bisa menyembuhkanku. Karena kupikir sudah lama waktu aku berusaha menyembuhkan diriku sendiri, tapi tak berhasil hingga detik ini.
Dan terakhir, kuharap bila memang ada, bila Tuhan memang sudah menakdirkannya, ia akan segera ke sisiku. Lalu membuatku bisa merasa bahkan hal terburuk yang pernah terjadi dalam hidupku, seolah hanya bagai kenangan orang lain. Bukan milikku. Bukan lagi masalah untukku.

Semoga masa itu akan datang.
Semoga aku bisa berbahagia, kelak.
Amiin. O:)

Rasa yang Dimulai Terlalu Awal

Kei, bocah berusia 4 tahun itu menatap bayi mungil dalam box kaca, dengan pandangan tidak biasa bagi anak kecil seusianya. Dan matanya hanya tertuju pada bayi dengan rambut tipis kemerahan itu.

“Kei….!” Tegur ibunya yang kini berdiri di sampingnya.

Mereka sedang bersiap-siap pulang, karena Kyosuke. Suami dari wanita ini dan ayah dari bocah kecil ini, sedang menunggu mereka di rumah. (Baca Matsumoto Kyosuke dan Nina dalam Choose You (Memilihmu) http://t.co/bE6emIAzcj).

Keisuke mendongak pada wanita cantik yang tersenyum, membelai sayang kepala bocah laki-laki ini.

“Bayi yang cantik, bukan?” Desah Nina, dengan pandangan merindu.

Ia dan suaminya, Kyosuke. Sangat mendambakan mempunyai seorang anak lagi setelah memiliki Keisuke. Entah itu perempuan atau lelaki. Tapi keinginan itu belum dapat tercapai hingga hari ini.

Dan saat ia melihat bayi perempuan cantik, anak dari Sasaki Tanaka dan Maria, ia terpesona.

Nina tersenyum, menoleh pada putra semata wayangnya. Dan menggendongnya. Mendekatkan badannya pada dinding kaca yang memisahkan mereka dengan ruang bayi, di rumah sakit ini.

“Sayang,…. Mari kita pulang. ” Bisiknya pada Keisuke dengan lembut.

Bocah tampan yang sangat mirip dengan ayah kadungnya, Kyosuke, ini menggeleng keras.

“Kei tidak mau pulang…” Ucapnya tegas.

Nina tertawa kecil, lalu mencium pipi merah jambu putranya. Menggodanya.

“Tapi ayah sudah menunggu kita di rumah. ” Kata ibunya memberitahu. “Kei tidak rindu pada ayah?” Tanyanya dengan suara merayu.

Untuk sesaat Keisuke mengernyit. Ia sangat menyukai ayahnya hingga nyaris memujanya. Lalu menatap ibunya dengan mata berbinar.

“Kei mau itu…” Tunjuknya pada bayi di dalam box kaca.

Nina tercekat, bingung juga antusias. Kei, putra semata wayangnya ini jarang sekali menginginkan sesuatu.

“Kei mau adik bayi?” Tanyanya dengan hati-hati.

Keisuke menggeleng keras-keras. “Kei mau itu….” Kembali ia menunjuk pada bayi di dalam box, dengan keras kepala.

“Ayo, kita bawa itu pulang…” Ucapnya penuh semangat.

Nina tertawa geli sambil mengusap kepala anak lelakinya. Bocah ini, tidak mengerti bahwa bayi bukanlah boneka yang bisa diambil begitu saja.

“Sayangku, kita tidak bisa bawa pulang bayi itu. ” Nina tersenyum membujuknya.

“Kenapa?” Kei menatapnya tajam.

Di dalam hati, Nina berkata “Anak ini benar-benar persis seperti Ayahnya. Semua keinginannya harus dituruti. ”

“Karena adik bayi itu, milik Sasaki-san dan Maria-san. ” Ujar Nina berusaha menerangkan.

Wajah Keisuke tampak cemberut dan mulai memerah, menahan marah.

“Tidak mau. Kei mau bawa itu pulang…” Lalu ia mulai memberontak dalam gendongan ibunya.

Nina mulai kewalahan menghadapi tangisan Keisuke yang mengamuk, marah. Tantrum.

“Nyonya… ” Seorang pria yang mengenakan pakaian resmi hitam memanggilnya, membuat Nina menoleh.

“Syukurlah kau disini, Yamada. ” Nina meringis, berusaha menentramkan putranya yang masih kalap.

“Ada apa, Nyonya?” Sasaki yang baru saja keluar dari ruang bayi tampak heran. Ia mengendong bayi mungil, anak pertamanya dengan canggung.

Wajah Nina tampak memerah karena malu. “Keisuke, ia bersikeras ingin membawa putrimu pulang ke rumah kami. ” Ia tertawa kecil.

Sasaki dan Yamada, tampak shock dan terkejut.

“Aku mau bawa dia pulang…” Rengek Kei dengan suara keras dan melengking. “Ibu harus bawa dia pulang…” Tangisnya tidak mau tahu.

“Kei…. Tidak boleh begitu…” Larang ibunya putus asa.

Sasaki melihat putri dalam gendongannya lalu tersenyum lebar pada Keisuke.

“Kei-sama ingin membawa putri saya pulang?” Tanyanya dengan lembut.

Keisuke mengangguk dengan bersemangat. Tangisnya seketika reda dan sebuah senyum rupawan, terukir diwajahnya.

Sasaki tertawa lebar dengan wajah sangat gembira.

“Maaf, Sasaki-san. ” Gumam Nina dengan malu-malu, karena tingkah putranya yang tak biasa.

“Tidak apa, Nyonya. Saya mengerti. ” Sasaki tersenyum bijaksana. Lalu ia mendekatkan putrinya yang masih tertidur pada Keisuke yang menatapnya dengan ganjil.

Sasaki menyentuh bahu Kei.

“Kei-sama boleh mengambil putri saya, saat ia sudah berusia 16 tahun. ” Katanya berjanji.

“Tidak boleh sekarang?” Tanya Kei yang tidak melepaskan pandangannya dari wajah mungil yang terlelap dengan bibir separuh terbuka.

“Tidak bisa. ” Kata Sasaki dengan tegas. “Putri saya harus dididik agar pantas. ”

Kali ini Kei mendongak kepadanya. “Enam belas itu, lama tidak?” Tanyanya tertarik pada Sasaki.

Nina yang tadinya tercengang, kini sudah menemukan kesadarannya.

“Tidak lama sayang. Kalau kau sabar menunggu. ” Ucapnya penuh kasih sayang.

Kei menatap bayi di pelukan Sasaki dalam-dalam dan menarik nafas. Ia memeluk ibunya erat-erat. Tampak tidak rela.

Lalu Sasaki membelai kepala Tuan Mudanya, sayang.

“Sasaki berjanji pada Kei-sama. Janji seorang laki-laki. ” Ucapnya bersungguh-sungguh.

Dan sekali ini, Keisuke menarik nafas panjang. Bocah kecil ini mengulurkan tangan gemuknya kepipi, gadis kecil yang tidak tahu apa-apa ini.

“Enam belas tahun… ” Bisiknya seolah orang dewasa.

¤¤¤¤

Tengah malam. Di kediaman keluarga Matsumoto.

Nina bergelung dalam pelukan posesif suaminya, Kyosuke.

“Tadi aku mengunjungi Maria-san, di rumah sakit. ” Ujarnya memberitahu.

Kyosuke diam, menyesap wangi leher telanjang istrinya.

“Bayi mereka sangat cantik. ” Bisiknya dengan suara terdengar bahagia.

Kyosuke mengejang. Ia tahu bahwa istrinya sangat menginginkan punya seorang anak lagi. Dan kalau bisa seorang putri.

Pria tampan dengan wajah dingin ini membelai pundak istrinya lembut.

“Sasaki pasti sangat bahagia. ” Gumamnya dengan senyum lembut.

Nina tertawa kecil. Seolah ada hal lucu yang ia rahasiakan dari suaminya.

“Kurasa, kau bukan lagi merupakan satu-satunya orang yang dipuja Kei, putra kita. ” Ia kembali tertawa hingga bahunya terguncang.

“Apa maksudmu?” Kyosuke menarik tubuh istrinya, hingga wajah mereka berhadapan.

Nina tersenyum, lalu membelai wajah suaminya dengan kedua belah tangannya.

“Kei membuatku repot di rumah sakit. Ia tidak mau pulang dan mengamuk, kalau aku tidak membawa putri Sasaki yang masih bayi. ” Ia menceritakan seluruh kejadian di rumah sakit tadi, pada suaminya yang kini mengernyitkan alisnya bingung.

“Apa kita harus segera memberinya seorang adik?” Kyosuke tersenyum menggoda pada wanita yang telah 7 tahun menjadi istrinya.

Nina menggeleng. “Kurasa bukan itu yang diinginkan oleh putra kita. ” Gumamnya yakin.

Wanita bertubuh mungil ini, memasang wajah serius. Dan Kyosuke akhirnya menopang kepalanya dengan telapak tangannya, menatap istrinya serius.

“Lalu apa?” Tanyanya tidak mengerti.

Nina tersenyum, menatapnya penuh rasa takjub juga geli.

“Sepertinya, Kei suka pada gadis kecil Sasaki. ” Ia terkikik.

Kyosuke tertohok, melongok kaget.

“Kau pasti tidak percaya, karena tidak melihat sendiri tadi. Tapi bisa kupastikan, anak kita benar-benar menanggapi janji Sasaki itu dengan serius. ”

“Wow….!, ” Pria dengan tubuh setinggi 186 cm ini bangkit dari tidurnya dan duduk. Tampak sangat tertarik dengan informasi ini.

Nina mengikuti gerakan suaminya dan ikut duduk berhadapan.

“Calon menantu kita baru berumur 5 hari dan anak kita harus menunggu sampai usianya 16 tahun. ” Katanya dengan nada geli.

“Pria-pria keluarga Matsumoto memang berbeda, yah….” Ia kembali terkikik.

¤¤¤¤

Yuki-chan. Gadis manis dengan rambut berwarna merah muda ini sedang duduk gelisah, di sebuah ruangan rumah keluarga Matsumoto.

Mulai hari ini ia akan tinggal di sini. Karena ayahnya yang dirawat di rumah sakit dan Lady Matsumoto yang baik hati memintanya secara khusus tinggal disini.

Yuki menarik nafas panjang.

Lady Matsumoto, wanita cantik dan yang sangat baik hati. Berteman akrab dengan mendiang ibunya. Dan ayahnya, Sasaki Tanaka sudah seumur hidupnya, mengabdi pada Lord Matsumoto dengan setia.

Gadis bernama lengkap Sasaki Yuki ini, beberapa kali sudah bertemu dengan Lady Matsumoto dan beliau memperlakukannya sangat istimewa, seolah putri kandungnya sendiri.

Memang, gadis ini pernah mendengar cerita bahwa Lady Matsumoto sangat ingin punya seorang anak perempuan. Namun ia tak pernah bisa memilikinya. Mungkin karena itu Lady Matsumoto sangat baik padanya.

Yuri mendesah.

Ia mengkhawatirkan kesehatan ayahnya.

Ayahnya memang mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit paling baik yang ada di Jepang. Tapi tetap saja ia merasa sangat khawatir. Hanya ayahnya, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Rasanya ia menjadi sedih tanpa alasan.

¤¤¤¤

“Ibu….” Tiba-tiba terdengar suara berat lelaki dan diiringi dengan langkah di tatami.

Yuki-chan menoleh pada pintu geser yang terbuka.

Sesosok pemuda usia awal dua puluhan, setinggi 186 cm dengan tubuh proposional terbalut atasan putih dan hakama. Pakaian memanah tradisional Jepang.

Pemuda itu tertegun, menatap Yuki-chan dengan pandangan tajam dan tampak seperti sangat marah. Membuat gadis ini bergidik tanpa alasan. Namun entah mengapa tatapan pemuda itu memenjarakan Yuki-chan.

Lalu ia tanpa berkata apa-apa langsung berbalik setelah menutup pintu dengan sangat keras. Terdengar langkah menjauh yang terburu-buru.

Yuki-chan terkejut melihat reaksinya.

Mengapa ia seperti membenciku? Pikir gadis ini heran. Dan hal itu semakin membuatnya merasa sedih. Sayang sekali, padahal pemuda itu sangat tampan dengan rambut hitam dam mata bersinar tajam. Ujar gadis ini di dalam hati.

“Sret…!” Pintu dorong terbuka kembali dan seorang wanita usia awal 40 tahun memasuki ruangan ini.

“Yuki-chan…” Serunya dengan wajah sumringah.

Gadis manis ini langsung tersenyum, menyambut sang nyonya rumah. Lady Matsumoto.

“Kau sudah bertemu Kei, putraku?” Tanyanya sambil mengawasi sisa ketegangan di wajah gadis, Yuki-chan. Tadi ia sempat melihat Keisuke tampak terburu-buru pergi.

“Ooh… Pemuda tadi, putra anda. ” Gumam Yuki dengan sedikit rasa terpukul. Ia sedih karena pemuda itu sepertinya tidak menyukai kehadirannya.

Lady Matsumoto dapat merasakan ada yang salah dari nada bicara Yuki. Namun tidak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi.

“Keisuke memang agak pemalu. Maaf kalau ia mungkin menyinggung Yuki-chan. ” Lady Matsumoto tersenyum dan duduk di hadapan Yuki.

“Apa tidak akan masalah, bila saya tinggal disini Nyonya?” Tanya Yuki ragu-ragu.

Lady Matsumoto menggeleng dengan wajah geli. “Tentu saja tidak. ” Jawabnya dengan cepat.

“Kami sekeluarga menyambut kedatangan Yuki-chan dengan senang hati. Dan kurasa Sasaki-san juga menghendaki hal ini. ” Ungkapnya dengan nada keibuan.

Yuki menarik nafas lega. Ayahnya memang tampak senang saat mendengar permintaan Lady Matsumoto, agar Yuki tinggal di rumahnya. Dan mungkin benar kalau putra nyonya ini bukan membencinya, tapi hanya terkejut melihat orang asing di dalam rumahnya.

¤¤¤¤

Yuki-chan menatap nanar ke ruang seberang kamarnya yang di pisahkan sebuah taman Zen dan air mancur kecil.

Harapannya sudah hancur dalam sekejap mata.

Baru saja pintu dorong kamar itu terbuka dan sosok penghuninya tampak. Memandang kearahnya dengan raut wajah terkejut dan seperti memendam marah. Lalu dengan cepat pemuda itu menutup pintu tersebut dengan suara keras.

Yuki terhenyak kaget.

Pemuda itu, Matsumoto Keisuke. Sepertinya benar-benar membencinya. Setiap kali melihat dirinya ia selalu membanting pintu dengan cepat dan keras.

Memangnya aku salah apa? Tanya Yuki dengan bingung.

Ini tak seperti bayangannya selama ini. Matsumoto Keisuke yang selalu diceritakan oleh ayahnya, adalah pemuda sopan dan cerdas. Yuki-chan dapat melihat betapa ayahnya sangat membanggakan Kei-sama dan tampak menyayangi pemuda tampan itu. Tapi kenyataannya, Kei-sama membencinya tanpa alasan.

Ia merasa sedih.

Padahal ini pagi pertama ia di rumah ini. Bahkan ia belum sempat melakukan apapun dan pemuda itu sudah berhasil merusak moodnya.

Yuki mendesah. Lalu bangkit dari duduknya.

Sepertinya kehidupannya di rumah keluarga Matsumoto, tidak akan selancar yang diinginkannya. Karena pemuda yang merupakan anak tunggal Lord dan Lady Matsumoto, tidak menyukainya. Dan ia tak tahu salahnya dimana.

¤¤¤¤

“Sial!” Maki Keisuke dengan pelan.

Ia merutuki dirinya sendiri. Yang tiba-tiba menjadi sangat gugup setiap kali bertemu pandang dengan gadis berambut merah muda itu.

Dan sudah dua kali ia membanting pintu dengan keras, tepat di depan hidung gadis yang bernama Yuki-chan itu. Dalam rentang waktu yang berdekatan.

Keisuke berguling-guling kesal di atas futonnya yang berantakan.

“Mengapa dia selalu melihatku dalam keadaan kacau?” Serunya pada dirinya sendiri.

Sore itu, Yuki-chan melihatnya dalam keadaan kotor dan berantakan sehabis melakukan kegiatan memanah sambil berkuda.

Lalu pagi ini, sesaat ia bangun tidur. Sebelum sempat mencuci muka dan masih acak-acakan.

Brengsek. Pekiknya dalam hati.

Bagaimana ia bisa lupa kalau mulai kemarin Yuki-chan tinggal di rumahnya. Dan kamarnya tepat berada di depan kamar Kei sendiri.

Bukankah sepanjang malam ia tak dapat memejamkan mata karena merasa sangat berdebar-debar, bisa berada begitu dekat dengan Yuki-chan.
Keisuke, melepaskan jeritan putus asanya kedalam bekapan selimut tebalnya. Suaranya teredam. Namun kekesalannya masih belum berkurang.

“Tok.. Tok..”

Terdengar suara mengetuk.

“Sayang, kau sudah bangun?” Suara ibunya yang lembut terdengar di depan pintu.

Kemudian pintu terbuka dan wanita cantik itu tersenyum padanya.

“Apa yang kau lakukan? Biasanya jam segini putra ibu sudah bangun. ” Gumam wanita itu.

Ia melangkah memasuki kamar dan mendorong pintu samping yang mengakses langsung ke taman.

“Ibu…” Serunya terlambat.

Ibunya sudah membuka pintu tersebut sebelum ia berhasil melarangnya.

Keisuke menatap ke ruang kosong di seberang taman.

Yuki-chan sudah tidak ada.

Dan tiba-tiba saja, Keisuke merasa muram.

“Apa apa?” Tanya ibunya dengan raut wajah heran.

Keisuke hanya terdiam dengan wajah tampak tidak senang.

Ibunya berdecak tidak sabar. “Sayang, bukankah tadi malam ibu sudah memintamu untuk mengantarkan Yuki-chan ke sekolah. Gadis itu belum mengenal jalanan di daerah ini. Lagi pula arah kampusmu dan sekolahnya berdekatan. Ibu mohon, berbaik hatilah pada gadis itu. ” Pinta ibunya bersungguh-sungguh.

Diam-diam Keisuke tersenyum, di balik punggung ibunya.

“Hei… Cepat bersiap. Jangan sampai Yuki-chan terlambat ke sekolah. ” Hardik ibunya bingung melihat ia masih belum bermalas-malasan.

“Ibu tenang saja. ” Ia tertawa sangat lebar. Memamerkan wajah rupawannya yang duplikat asli dari ayahnya yang tampan.

¤¤¤¤