Masih Bisa Bilang Enakan Dizaman Orba, Setelah Baca Ini?

Dan setelah 15 tahun selepas Reformasi, masih juga ada yang bilang “masih enak zaman orde baru pas Soeharto berkuasa. Kalo nggak ada dia, negara ini udah lama hancur kemana-mana. “

Meh, mungkin yang bisa bilang begitu adalah orang dari kalangan yang tidak merasakan susah pas zaman Soeharto. Atau bisa juga karena ia tidak melihat betapa Soeharto memerintah negara ini dengan tangan besi. Padahal Indonesia adalah negara demokrasi, tapi kok mengkritisi pemerintah dianggap perbuatan makar. Rakyat dibungkam dan dipaksa mengikuti mengikuti keinginan sang penguasa, nyaris 6 kali pemilihan umum dan yang selalu menjadi presiden adalah Soeharto.

Benarkah ia memang menang mutlak? Gimana nggak menang, lah semua orang dipaksa milih Golkar. Seluruh aparat pemerintahan, pegawai negeri sipil, polisi, tentara, guru, bahkan karyawan perkebunan milik negara (PTPN dan lain-lain) diwajibkan memilih Golkar, atau dipecat. Masih bisakah Indonesia era Soeharto disebut berdemokrasi kalau rakyat dipaksa memilih partai Golkar? Dimana saat itu jika Golkar menang, maka seluruh Anggota DPR dan MPR pastilah berasal dari ini. Lalu mereka (DPR/MPR) yang memilih presiden, maka mereka sudah jelas memilih Pak Harto. Begitulah siklusnya selama bertahun-tahun.

Apa kalian tahu, kalau seluruh keturunan orang-orang yang dituduh PKI atau berpaham Komunis, tidak diterima di sekolah milik negara. Tidak diperbolehkan kuliah di perguruan tinggi negeri. Tidak diperbolehkan bekerja diinstansi pemerintah, polisi, tentara. Dan diberi kartu tanda penduduk dengan label “orang terlibat”. Mereka dibedakan. Dikucilkan. Dan dipisahkan. Padahal mungkin yang salah adalah kakek, nenek dan orang tua mereka. Tapi mereka tetap dipersalahkan atas kejahatan yang tidak mereka lakukan. Apakah ini pantas menurut kalian?

Soeharto memerintah negara ini selama 32 tahun. Dan jika ia memang sebegitu banyak berjasanya, tentu sebagian besar rakyat akan tetap mendukung dan menghormatinya. Tapi apa coba? Hanya segelintir orang yang masih menganggap ia pahlawan, dan segelintir orang ini yang mungkin mendapat keuntungan saat ia berkuasa. Sebagian besar lainnya mengutuki dirinya, karena memberikan warisan demokrasi yang bobrok. Yang meski sudah 4 kali pergantian presiden, tetap saja keadaan Indonesia belum menunjukkan arah yang lebih baik. Kita masih miskin, punya banyak hutang juga bergudang masalah lainnya. Yang tak serta-merta dapat diselesaikan dalam satu dekade kepemimpinan.

Memimpin Indonesia yang penduduknya banyak dan mempunyai keragaman yang luar biasa, memang bukan pekerjaan mudah. Diperlukan ketegasan dan kekuatan dalam menentukan keputusan yang mempengaruhi nasib bangsa ini. Tapi tidak pula memerintah dengan seperti ditaktor. Justru kelakuan Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun terlihat sama seperti pemimpin komunis di China Deng Xiao Ping, atau Kim Jong Il dari Korea Utara. Saya malah jadi bertanya, siapa yang sebenarnya komunis? PKI atau Seoharto? (Abaikan pertanyaan ini, karena Pak Harto bukan komunis. Ia hanya tiran yang mencoba menguasai negeri ini, namun pada akhirnya ia kalah ).

Mengapa saya sebut beliau tiran? Karena beliau mungkin sudah lupa bagaimana caranya menjadi pemimpin yang mengayomi rakyatnya sendiri. Beliau hanya tahu cara mempertahankan kekuasaannya dengan membungkam setiap riak yang diperkirakannya, akan mengguncang kursi kepemimpinannya. Beliau tidak bisa menerima kritik dan saran dari beberapa orang yang berani dan vokal dalam menyampaikan kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Setelah seluruh mahasiswa, aktivis dan rakyat seluruh Indonesia bersatu meminta ia mundur. Setelah jatuh korban-korban bermatian, akhirnya Pak Harto memilih mundur. Karena seluruh dunia menatap Indonesia dan ia tak bisa membabi-buta, mempertahankan kekuasaannya sementara rakyat sepakat memintanya mundur.

Dan seperti yang kita ketahui, walau Pak harto tidak dihukum oleh pengadilan. Tak terbukti bersalah oleh hukum (karena keburu mati sebelum disidang). Aku dapat menjamin beliau mengalami saat-saat terakhir dengan kesepian dan berat. Hari-hari tuanya sebagai seorang pahlawan, seharusnya diisi dengan penghormatan dan pemujaan dari rakyat yang sudah dipimpinnya bertahun-tahun. Tapi kenyataannya tidak. Pak Harto mati dengan tragis, menderita dan penuh penyesalan. Menyedihkan.

Mengapa aku sebut seperti itu? Karena tak ada yang bisa membuktikan bahwa ia tak bersalah atas apa yang telah terjadi. Sebagaimana iapun tak dapat dinyatakan bersalah. Bukankah itu menyedihkan, seandainya kita yang berada diposisinya, kita pasti merasa jadi pecundang besar. Tak ada yang lebih memalukan dari itu dan tak ada yang bisa menggantikan perasaan tersebut. Ternyata terlalu lama berkuasa, membuat beliau lupa akan amanahnya menjadi pelayan rakyat. Beliau malah terlalu sibuk mempertahankan kekuasaan hingga akhirnya rakyat membuangnya tanpa rasa hormat karena tak dapat dipercaya lagi.

Dan percayakah kalian, kalau saya mengatakan hal-hal seperti ini dijaman orde baru maka saya akan langsung menghilang. Entah itu dipenjara atau dibunuh dan mayatnya dihilangkan tanpa jejak. Bayangkan kalau orde baru masih berkuasa (siapapun pemimpinnya) lalu kita memposting tulisan, ngetweet dan membuat status di media sosial apapun, akan ada sensor yang ketat macam pemerintahan komunis di China dan Korut. Apa masih bisa kalian mengatakan, “masih enakan dizaman orde baru” atau “masih enakan dizaman Pak Harto” setelah ini? Masih ingin hidup dizaman seperti itu? Dimana kebebasan berbicara, berpendapat dan menyampaikan pemikiran dibatasi, dilarang dengan keras dan selalu diawasi.

Saya tidak mau hidup lagi dizaman seperti itu. Seburuk-buruknya keadaan Indonesia saat ini, tak akan ada yang bisa mengekang saya untuk menyuarakan apa yang ada dipikiran saya. Saya bebas menyatakan pendapat, opini dan pikiran saya, seliar apapun diforum yang tepat. Tanpa takut nyawa saya dan keluarga saya terancam. Kebebasan seperti ini adalah hak azasi bagi setiap orang, dan tak perlu ada lagi pemimpin otoriter yang menghalangi rakyatnya untuk hal ini di Indonesia tercinta.

4 thoughts on “Masih Bisa Bilang Enakan Dizaman Orba, Setelah Baca Ini?

  1. klo di jaman orde baru ada media sosial, pasti bakal diawasi sama Departemen Penerangan. Supaya klo ada orang yg menyebarkan konten “makar” langsung “dibina” oleh pemerintah :p

    • Pastinya… Nggak kebayangkan kita hidup seperti itu.
      Kayak di China tuh, penggunaan fb sm twitter diawasi secara ketat. Bahkan ada pasangan suami istri yg dipenjara gegara ‘katanya’ menyebarkan paham revolusi.

    • Yuhuu, aku jadi pengen beli dan baca bukunya Pandji – Berani Mengubah.
      Well, saat zamannya orba aku masih anak kecil. Tapi saat itu saja aku sudah merasa aneh, kok sepertinya semua orang harus milih Golkar. Kok majalah Tempo selalu dibrendel, padahal majalah Tempokan bagus (papaku langganan). Aku pikir pasti ada yang salah dengan pemerintah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s