Kapan Kita Potong Jarinya, Pak Akil?

Apa kabar mantan ketua partai berkuasa yang pernah bilang kalau ketahuan korupsi 1 sen saja, bersedia digantung di Monas (Anas: Satu Rupiah Saja, Gantung Saya di Monas http://kom.ps/AEixkq)?
Lalu baru saja terjadi, apa kabar ketua MK yang terkenal vokal tentang korupsi dan nantangin hukuman potong jari buat koruptor (“AKIL MOCHTAR USUL HUKUMAN POTONG JARI PADA KORUPTOR” — http://t.co/IRSlhugljv”)?

Miris. Cuma satu kata itu yang bisa menggambarkan perasaan saya terhadap pemberitaan baru-baru ini. Nggak terlalu kaget lagi sih dengan berita KPK nangkap oknum pejabat (karena terlalu seringnya). Walaupun status dari ketua MK Akil Mochtar belum jelas, tapi nggak mungkinlah KPK nggak punya bukti atau saksi yang kuat. Tinggal tunggu waktu saja status beliau menjadi tersangka korupsi suap. Lagi pula orang bodoh juga bisa nebak kali, seorang pejabat, hakim dan pengusaha dalam satu ruangan dengan timbunan uang cash senilai 2-3 milyar. Coba ngana pikir, nggak mungkin arisan atau main monopolikan?

Sebenarnya Ketua MK Akil Mochtar sudah pernah dicurigai menerima suap sekitar 3 tahun yang lalu tapi sayangnya tidak terbukti (http://m.news.viva.co.id/news/read/448845-5) dan beliau malah dengan semangat, berkoar-koar menuntut orang yang menuduhnya seperti itu. Tapi kali ini beliau tidak bisa berkutik lagi, karena tertangkap tangan menerima suap. Dan dengar-dengar di berbagai portal berita, saat ini Akil Mochtar sedang dalam keadaan menangis dan frustasi.

Wkwkwk. Lucu, kemana mulut besarnya yang dahulu ngancam koruptor potong jari? Ataukah ia menangis karena takut kemakan omongannya sendiri ya? Halah, nggak ada yang bisa kita harapkan selain semoga saja dengan tertangkapnya ia kali ini, kasus sebelumnya yang tak ada bukti bisa diketahui seperti apa kebenarannya.

Ingat nggak dengan iklan partai Demokrat yang mengusung jargon “Katakan Tidak Dengan Korupsi!”, pasti ingat dong. Pada nyadarkan saat ini beberapa anggota DPR RI seperti Angelina Sondakh sedang menjalani hukuman karena terlibat kasus korupsi hambalang, Nazaruddin yang sudah sempat lari melanglang buana ke belahan dunia lain dan akhirnya ketangkap juga, kemudian Anas yang sudah dinyatakan sebagai tersangka walau belum ditangkap dan sidang. Mereka ada dalam iklan tersebut, tapi mereka juga merupakan pelaku dari tindakan korupsi. Itu yang kusebut EPIC FAIL.

Ada satu kesamaan dari semua pelaku-pelaku tindak korupsi tersebut, mereka semua MUNAFIK. Mereka mencitrakan diri mereka bersih, vokal dan menentang korupsi tapi dalam kenyataannya mereka sama saja. Uang, kesempatan dan kedudukan membutakan hati nurani mereka. Mereka sudah lupa batasan mana yang benar dan salah, dan menerabas saja sesuka hati. Saya setuju perlu ada tekanan keras, untuk membuat para pejabat di Indonesia ini merasa takut. Hukuman mati? Rasanya terlalu ekstrim. Hukum potong jari atau dibuat cacad, boleh juga tapi bisa melanggar HAM. Cukup biarkan saja mereka tetap hidup namun terhina sepanjang umur. Dengan label ‘KORUPTOR’ yang tak bisa akan dilupakan masyarakat sampai 7 turunan. Kita, masyarakat yang kecewa jangan pernah membiarkan mereka bisa lupa akan kejahatan mereka. Mereka harus membayarnya dengan hidup terhina dimata rakyat Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s