Duka Itu Masih Menggantung

Postingan kali ini, mari kita membicarakan tentang sosok Ayah. Atau aku membiarkan diriku berbicara tentang Papaku.

Aku dekat sekali dengan bokap. Bukan cuma karena dia cinta pertamaku yang tak pernah mati. Kenapa aku bilang begini? Karena bagi seorang perempuan, anak perempuan. Laki-laki pertama yang ia kenal adalah ayahnya. Laki-laki yang dapat ia percaya dan harapkan serta andalkan tanpa motif tersembunyi, hanyalah ayahnya sendiri. Laki-laki yang menyayanginya tanpa syarat, yang peduli dan mencemaskannya dengan tulus, adalah ayahnya. Jadi bagaimana seorang anak perempuan tak jatuh cinta pada ayahnya sendiri? Bagaimana seorang anak perempuan tak bisa lepas dari figur sempurna ayahnya? Dan itulah mengapa perempuan selalu mencari sosok lelaki untuk dijadikan suami, agak mirip dengan ayahnya.

Seperti yang pernah aku ceritakan, Papaku sudah beberapa tahun pergi, hingga kini aku masih menyebutnya ‘baru’. Aku kehilangan dan tak ada yang menggantikannya. Tak ada yang bisa.

Aku masih hidup, maksudku tetap melanjutkan hidup. Berusaha menepis rasa sakit ini. Tak memikirkannya. Dan kupikir cukup berhasil diwaktu-waktu tertentu. Tapi terkadang saat aku mengingatnya lagi, bokap, selalu berhasil membuatku meneteskan air mata.

Walaupun aku cukup beruntung ditinggal saat sudah dewasa. Tapi siapasih yang pernah merasa cukup dengan kasih sayang orang tuanya?

Setelah bokap nggak ada. Aku jadi sering memperhatikan hubungan ayah dan anak, pada orang lain. Yang dekat dan mesra seperti kami. Atau yang berjarak dan dingin pada beberapa orang. And I feel sorry for them.

Aku nggak ngerti kenapa bisa ada hubungan orang tua yang seperti itu. Kalau aku di posisi mereka, aku akan merangkul bokapku dengan erat. Bila ia dingin, aku akan bermanja-manja padanya. Bila ia menjauh, aku akan menempel erat padanya. Bila ia pemarah dan tak tahu cara mengekspresikan sayangnya, aku yang pertama akan mengulurkan tangan padanya. Karena aku yakin, tak ada orang tua yang tak sayang pada anaknya.

Ini adalah cerita tentang seorang teman, ia tak dekat dengan ayahnya yang perwira Polisi. Karena ayahnya selalu bersikap keras dan disiplin. Membuatnya jadi takut dan jauh dari ayah kandungnya sendiri. Aku menasihatinya, agar jangan bersikap seperti itu. Mengapa tak mendekati ayahnya duluan dan bermanja-manja. Kubilang, jangan sampai menyesal dikemudian hari. Sialnya, omonganku terbukti.

Sekitar 2-3 bulan setelah pembicaraan itu, ayahnya tiba-tiba terkena serangan jantung saat pergi dinas. Dan tak pernah sadar lagi hingga kematiannya. Yang ada dibenak temanku tersebut adalah “ini yang pernah Yona bilang padaku. ”

“Inilah yang dirasakan Yona saat kehilangan papanya. Rasa sakit yang seperti ini. ”

Dia menyesal. Sangat. Tak sempat mengucapkan selamat tinggal pada pria yang telah memberikan ia hidup. Tak sempat mengatakan betapa ia bangga menjadi putrinya. Tak sempat mengatakan betapa ia bersyukur dibesarkan dengan baik dan terlindungi. Dan yang paling ia sesalkan adalah tak sempat bilang, bahwa ia menyayangi ayahnya.

Aku menangis saat ia mengabari berita tersebut, kami sama-sama menangis. Kurasa akulah yang paling tahu bagaimana perasaannya dan bagaimana rasanya diposisi dan menjadi dirinya. Karena dulu aku pernah mengalaminya. Dan kini masih kehilangan.

Oleh karena itu, aku mengingatkan kalian. Selagi orang tua kalian masih hidup, perlakukan mereka dengan baik. Hormati dan senangkanlah beliau. Jangan sampai menyesal, karena yang mati tak akan pernah bisa hidup lagi. Dan kehilangan orang tua, tak akan pernah ada kesempatan kedua. Dukanya yang menggumpal lalu waktu tak akan berpengaruh untuknya. Luka itu, lubang di hati akibat kehilangan mereka, tak bisa di penuhkan serta diisi dengan cinta-cinta yang lain. Kau hanya bisa membawanya sepanjang hidupmu.

3 thoughts on “Duka Itu Masih Menggantung

  1. Aku mengerti rasanya. Aku tahu ketakutannya, ketakutan pada kehilangan sosok bapak. Sebab aku juga hampir mengalaminya. Hampir, yah.. Aku bersyukur ada kata itu di dunia ini. Tuhan begitu baik memberi waktu yang panjang untuk kami. Dan aku tidak akan pernah menyia-siakan itu. Mencintai bapak, mewujudkannya dlm bentuk tindakan dan ucapan. Tidak akan mengecewakannya. Semoga. Amin.

    I love u Bapak, i love u more Ibuk. I do love u both.. Extremely. Until the end. Coz love never stop to do something.. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s