Choose You (Memilihmu)

Aku sedang duduk dan memikirkan hidup. Seperti semua orang, hidupku tak sempurna dan selalu saja terjadi masalah. Tapi bukan hal itu yang membuat aku menyerah. Bukan karena tak sanggup menjalaninya lagi.

Aku mendesah panjang. Kembali terseret dalam lamunan pikiranku yang kelam.

Sedari kecil, aku meyakini bahwa diriku berbeda dengan orang lain. Entah karena alasan baik atau buruk tapi aku sangat yakin seperti itu. Kehilangan, trauma, pelecehan, dibedakan, bullying, pengkhianatan dan lain-lain. Banyak hal sudah terjadi dalam hidupku yang singkat, meski tak semua berupa kenangan manis tapi aku masih bisa bertahan hingga saat kini.

Hanya saja, belakangan keinginan itu muncul lagi. Bagai bisikan berulang-ulang dari sudut hatiku yang paling gelap, ia menguasaiku. Menawarkan jalan, menyudahi saja semuanya. Dan aku tergoda bahkan menghamba.

Aku ingin bisa mati.
Aku berharap aku mati.
Aku ingin menghentikan hidupku.
Aku ingin membunuh diriku.
Aku ingin menghapus keberadaanku di dunia ini.

Aku menengadah ke langit, berharap Tuhan mendengar bisikanku yang naif.

¤¤¤¤

Kyosuke menatap dari kejauhan. Sosok gadis yang sedang duduk di bangku taman.

Sore hari yang indah, ditengah musim semi kota Tokyo. Cuaca yang cerah dan angin yang berhembus perlahan. Hangat. Benar-benar sebuah keadaan yang menentramkan.

Gadis itu memejamkan matanya dengan wajah mendongak ke atas. Entah apa yang ada di benaknya saat ini, tapi Kyosuke tertarik ingin mengetahuinya. Apakah ia sedang menikmati cuaca ini dalam kesendiriannya? Atau apakah ada hal lain yang dipikirkan gadis itu?

Gadis itu bukanlah gadis tercantik yang pernah ia temui. Juga bukan salah satu yang paling menarik. Namun saat Kyosuke melihat ke dalam bola matanya dipertemuan pertama mereka yang kacau, ia menemukan sesuatu yang familiar, sesuatu yang ia pikir adalah hal yang ia sudah lupakan. Dan parahnya ia merasa tergetar. Padahal sudah sejak lama Kyosuke tak lagi merasakan apa-apa. Tapi mengapa gadis bertubuh mungil dengan mata sekelam malam ini, bisa membuatnya tergugah.

Kyosuke bingung sekaligus penasaran. Lalu perlahan ia mulai memperhatikan gadis itu dengan seksama. Mengikutinya seperti bayangan yang tak terlihat dan terasa. Mencoba menyelami isi hati dan pikiran gadis itu tanpa perlu mendekatinya, tapi tetap saja ia buta. Dan tak menemukan apapun selain misteri yang tak ia ketahui.

Nina, gumamnya perlahan. Entah nama asli atau hanya nama panggilan gadis itu di tempat ia bekerja. Di salah satu bar yang terdapat di kawasan hiburan malam Pink Light District, Kabukicho Jepang. Ia bukan pelacur, juga bukan hostes. Ia hanya gadis pelayan yang selalu berwajah dingin dengan ekspresi datar. Gadis asal Indonesia yang terjerat bekerja di Pink Saloon, dan bukan satu-satunya. Ada banyak gadis-gadis yang berasal dari berbagai negara asing yang bekerja di pusat hiburan malam kota Tokyo.

¤¤¤¤

Pria itu muncul lagi.

Nina melirik tajam pada supervisor yang kini melangkah mendekatinya dengan raut wajah tak senang. Pria Jepang dengan tingkah feminim ini menarik nafas panjang dan berkata keras.

“Nina-chan. Tolong temani Tuan Kyosuke. ” Perintahnya dengan ekspresi wajah mengeras.

Entah mengapa, tamu penting yang satu ini selalu meminta gadis keras kepala yang tak mengenal rasa takut ini. Gadis yang menolak melayani tamu dan memilih menjadi pelayan meski terkadang tetap saja mendapatkan perlakuan nakal dari tamu. Gadis yang tetap berwajah datar tanpa suara selagi dipukuli, dan menolak melakukan hal yang tidak ingin ia lakukan. Gadis yang menyeringai seolah menyongsong kematian dengan enteng saat diancam akan dibunuh.

Ishikawa Harada bergidik ketakutan saat mengingat awal kehadiran Nina. Yang menjadi masalah besar hingga membuatnya pusing. Hingga kini ia masih belum bisa melupakan seringai mengerikan di wajah Nina, diwaktu itu.

Cepat Harada memusatkan pikirannya kembali kemasa kini. Lalu ia memberi kode pada Bartender untuk memberikan nampan berisi minuman anggur mahal untuk dibawa Nina pada tamu khususnya. Gadis itu hanya diam, namun perlahan ia meraih nampan tersebut dan berjalan menuju tempat tamunya menunggu.

“Tumben sekali ia tidak menolak. ” Ujar Bartender itu pada Harada.

Harada berdecak kesal. “Tentu saja. Aku juga mau kalau dibayar mahal hanya untuk duduk diam selama beberapa jam. Tanpa harus melakukan apa-apa. ” Ungkapnya dengan mencibir.

Sudah menjadi rahasia umum, Harada tidak menyukai Nina. Dan Nina juga tak perlu membuktikan bahwa ia peduli lelaki bertampang kewanita-wanitaan ini menyukainya atau tidak.

¤¤¤¤

Dia lagi. Bisik Nina pada hatinya. Entah apa maksudnya dengan selalu meminta ia temani. Tapi Nina tak ingin bertanya ataupun mengetahui alasannya.

Mereka hanya diam dan sesekali saling menatap. Nina menuangkan minuman champagne yang sangat mahal ke dalam gelas, setiap kali gelas itu kosong. Dan pria itu menyesapnya sambil memandang lurus pada gadis itu.

Begitu setiap kali, selama beberapa kali pertemuan mereka. Tidak ada perbincangan dan tak ada sentuhan fisik.

Nina tidak mau berpikir keras, kenapa dan mengapa. Ia sudah lama tidak peduli pada sesuatu.

Dan pria itu seolah juga mengerti jalan pikiran Nina dan tidak peduli. Tapi entah apapun motivasi pria ini, ia sekarang ada didekat gadis ini. Dan bersamanya.

Hanya ada kebisuan dalam ruangan ini, meski di luar sana begitu riuh dan gemerlap. Dan ketenangan yang cuma bisa dirasakan sebentar oleh Nina saat bersama pria ini sepertinya harus dibayar mahal.

¤¤¤¤

“Sachou-sama… !” Pria dengan pakaian jas resmi warna hitam ini melapor padanya.

Matsumoto Kyosuke melirik pada Sasaki. Lalu kembali membaca berkas dimejanya.

Ruang kerja Kyosuke berada di satu lantai paling atas gedung Matsumoto Corporation Family. Ia mewarisi ruangan ini dari ayahnya dan ayahnya mewarisi dari kakeknya. Hanya garis keluarga lelaki yang dapat menjadi pemimpin bagi Klan Matsumoto. Dan sudah bertahun-tahun ruangan ini menjadi singgasana bagi pemimpin Klan Matsumoto.

“Ada apa?” Tanyanya dengan nada tegas dan berwibawa.

“Gadis itu akan dipulangkan ke Indonesia dalam minggu ini. ” Ucap Sasaki tanpa basa-basi.

Kyosuke menoleh padanya. Ia tahu pasti gadis yang mana, yang sedang dibicarakan oleh orang kepercayaannya ini.

“Ishikawa Harada, berusaha mengumpankannya pada tamu. Dan gadis membuat kekacauan besar. ” Kata Sasaki menjelaskan tanpa diminta.

Perlahan garis bibir Kyosuke tertarik tipis. Ia tersenyum, membayangkan gadis mungil yang tidak takut pada apapun itu mengamuk hebat sehingga membuat orang-orang di bar mendapat masalah, lagi. Lalu mungkin gadis itu juga mendapat beberapa kali pukulan dari centeng-centeng bar, tapi ia akan tetap tidak melemah.

“Apa yang akan anda lakukan?” Tanya Sasaki sambil mengawasi wajah majikannya dalam-dalam.

Setelah sekian lama, baru kali ini Kyosuke tertarik dengan wanita lagi. Meski ketertarikannya tak ia tunjukkan dengan cara yang lazim. Ia hanya beberapa kali mengunjungi gadis itu di bar. Dan selalu mengikutinya secara diam-diam, saat gadis itu keluar diwaktu luangnya.

¤¤¤¤

Nina menyeringai dengan wajah babak belur. Meludahkan cairan liur bercampur darah. Yang berasal dari bagian dalam mulutnya yang pecah karena hantaman keras. Ia duduk bersandar pada dinding ruangan yang lembab.

Kyosuke melangkah mendekati gadis yang sudah dikurung selama dua hari ini. Berjongkok dihadapannya dan menatap lurus kemata itu dalam cahaya yang temaram, berasal dari lampu di langit-langit yang suram.

“Aku tidak mau melakukan hal yang tak ingin kulakukan…” Seru gadis ini dengan ketegasan saat pertama kali ia melihat Nina, yang sedang membuat ulah.

Kyosuke melirik gadis itu dari kejauhan. Banyak wanita asing yang merasa tertipu saat ternyata disuruh bekerja di tempat-tempat seperti Pink Light District. Tapi pada akhirnya dengan berbagai ancaman dan tekanan siksaan, wanita-wanita itu kebanyakan menyerah dan terpaksa melakukannya. Menjadi wanita pekerja seks komersial, misalnya.

Tapi gadis bermata kelam ini tetap tak bergeming. Oleh sebab itu ia akhirnya hanya dijadikan pelayan yang mengantarkan minuman dan disuruh mengerjakan banyak kerja kasar lainnya. Dan sekarang ia kembali menunjukkan kekerasan hatinya lagi.

“Apa yang kau inginkan?” Tanya Kyosuke dengan suara datar.

Nina membalas pandangannya dan tersenyum menimbang-nimbang.

“Apa kau akan mengabulkannya?” Ia balas bertanya dengan suara yang terdengar sedikit antusias.

“Kau tahu siapa aku?” Ucap Kyosuke tajam.

Nina meringis, merasakan luka dimulutnya mengganggu. “Yang aku tahu kau bisa melakukan apapun. ” Katanya tidak terlihat peduli.

“Lalu apa maumu?” Tanya Kyosuke lagi, kali ini bersungguh-sungguh ingin mendengar jawaban gadis ini.

Nina menatapnya tajam. Dan Kyosuke melihat tekad yang kuat disana.

“Aku ingin mati… ” Bisiknya perlahan.

Secepat kilat Kyosuke menarik tubuhnya berdiri, menjauhi gadis itu. Dan raut wajahnya menggelap menunjukkan emosinya yang memuncak.

Nina mendongak, memandang ke dalam bola mata Kyosuke langsung. Ekspresi wajahnya tampak sangat serius dengan ucapannya sebelumnya.
“Tadinya aku bertanya-tanya, gadis seperti apa dirimu. ” Gumamnya dengan nada kecewa.

“Tapi sepertinya aku sudah bisa menebak. Kupikir kau punya sikap dan hanya terjebak disini. Namun aku salah. ” Sambung Kyosuke berhati-hati.

Nina tersenyum. “Kau pikir aku terlalu naif hingga bisa terjebak trafficking?” Ia lalu tertawa dengan suara halus dan mengancam.

“Kurasa tidak…” Kata Kyosuke sambil mengawasi perubahan ekspresi Nina. “Lalu apa tujuanmu?”

Nina mengerjabkan matanya yang lebar. Dan menjilat bibirnya yang kering. “Aku berharap bisa mati, oleh siapapun. Aku tak peduli. ”

Kyosuke mengernyit, merasakan kemarahan yang luar biasa karena ucapan gadis di hadapannya. Ia merasa tertipu bisa tertarik dengan seorang gadis yang bahkan tidak menghargai nyawanya sendiri.

“Mengapa kau tidak bunuh diri saja? Ada banyak cara untuk mati hingga tak perlu pergi jauh-jauh ke Jepang. ” Geram Kyosuke padanya.

“Aku ingin mati dengan cara pilihanku. Bukan oleh tanganku sendiri. Dan juga untuk menyakiti seseorang. ” Ungkap gadis itu dingin.

¤¤¤¤

Kyosuke tertawa, di ruang kerjanya yang mewah. Sendirian. Sambil menyesap cairan bening di gelas kristal.

Ia sangat kesal hingga rasanya siap untuk membunuh singa dengan tangan kosong.

“Brengsek… ” Makinya entah pada siapa.

Gadis brengsek. Pikirannya hanya tertuju pada wanita itu. Nina.

Gadis itu berhasil mengingatkannya pada perasaan yang sudah lama sekali ia lupakan. Perasaan yang juga pernah ia rasakan, diawal masa remajanya yang penuh pemberontakan.

Oh ya, Matsumoto Kyosuke juga pernah merasa ingin mati saja. Saat itu ia merasa sangat lelah dan kecewa. Menjadi penerus klan Matsumoto, keluarga Yakuza yang menguasai sebagian besar bisnis prostitusi dan perjudian. Bukan hal yang membanggakan buatnya dan ia malu pada takdir yang harus ia terima. Tidak pernah mudah, jalan bagi dirinya untuk sampai pada saat ini.

Nina. Gadis itu, entah apa alasannya tak mau hidup lagi dan sengaja menantang maut.

Kyosuke merasa gemas dan kesal. Rasanya seperti tertipu oleh gadis ingusan yang tak punya kekuasaan apapun itu. Lalu berani-berani gadis itu memanfaatkan perhatiannya, Nina meminta kematian padanya. Memang bukan hal yang sulit untuk membunuh gadis itu dengan tangannya sendiri atau melalui orang lain. Tapi Kyosuke tak mau dimanipulasi oleh perempuan licik itu. Itu membuatnya sangat marah. Dan ia tak akan mau memberikan apa yang diinginkan Nina.

Ia akan membalas gadis itu dengan caranya.

Kyosuke tersenyum menyeringai.

¤¤¤¤

“Bagaimana keadaanmu?” Kyosuke menatapnya dalam-dalam.

Dan entah mengapa Nina melihat secercah kelembutan disinar mata lelaki itu.

Nina mengedikkan bahu, tampak berusaha tidak peduli.

Pria itu membawanya pulang ke rumah keluarga Matsumoto. Dan memerintahkan pelayannya untuk mengobati dan mengurus Nina selama disana. Dan saat ini, semua lukanya sudah sembuh. Tapi Nina tidak tahu apa yang akan dilakukan Kyosuke setelahnya.

“Terimakasih…” Ucap gadis itu dengan suara perlahan.

Ia mengawasi pria di hadapannya ini. Menimbang-nimbang apa yang diinginkan Kyosuke darinya.

Suasana hening selalu menelingkupi mereka berdua, hingga tak masalah jika mereka tak saling berbicara.

Kyosuke membalas tatapan Nina dengan tajam. Tidak berusaha menyembunyikan bahwa ia mempunyai maksud tertentu. Dan ia sangat ingin gadis ini mengabulkannya.

“Kau tahu ini dimana?” Tanya Kyosuke dengan wajah mengurai sebuah senyuman kecil.

Nina melihat ke sekeliling. Ini kamar tamu di rumah tradisional Jepang. Tempat ia selama hampir dua minggu dirawat.

“Bukankah ini rumah keluarga Matsumoto… ” Katanya dengan nada kurang yakin.

“Kau benar. ” Ucap Kyosuke dengan tenang. “Aku tidak pernah membawa wanita pulang ke rumahku. ”

Alis Nina berkerut, tidak mengerti.

“Kupikir aku tidak peduli dengan alasanmu yang ingin segera mati. Yang jelas, semua orang pasti akan mati juga akhirnya. ” Pria itu mengangkat gelas teh hijaunya dan menghirup aromannya, pelan.

“Lalu….” Nina menatapnya dengan pandangan semakin bingung.

“Aku tidak mau melakukan hal yang kau minta. ” Putus Kyosuke dengan wajah tersenyum.

Nina diam. Dan raut wajahnya tampak datar tanpa ekspresi.

“Nina, gadis keras kepala. Bekas pelayan di Guma-guma Bar sudah mati. ”

Kyosuke menatapnya dalam-dalam dan kali ini ada sinar lain dimatanya.

“Yang ada di hadapanku saat ini adalah Nina, Lady Matsumoto. Pendampingku. ”

“APA?” Kaget Nina tak mengerti.

Kyosuke tersenyum lebar. Kali ini matanya berbinar lucu, seperti menyimpan tawa.

“Aku tidak bisa membiarkanmu mati begitu saja. Jadi kupikir, lebih baik mengikatkan takdir kita berdua. ” Katanya tanpa basa-basi. Membuat Nina semakin merasa bingung.

“Yang bisa kujanjikan padamu adalah kau akan jadi satu-satunya bagiku. Dan aku tidak akan pernah memaksamu melakukan apa yang tak ingin kau lakukan. ”

“Apa ini pernyataan cinta?” Tanya Nina dengan bodohnya.

Kyosuke tertawa perlahan. “Bisa dibilang seperti itu. ”

“Hidup ini aneh. ” Nina menggelengkan kepalanya, masih tidak mempercayai pendengarannya. “Orang yang ingin mati, malah diberikan kesempatan untuk memiliki pendamping. Dan yang paling aneh, adalah dirimu!” Ia menatap Kyosuke dengan pandangan tajam.

Kyosuke tersenyum lembut, hal yang sudah lama tak ia lakukan lagi. Dengan hati tulus.

Ia kemudian meraih tangan Nina dan menggenggamnya hati-hati. Seolah-olah satu remasan lembut saja, bisa menghancurkan gadis ini.

“Kau tahu, untuk berada diposisiku saat ini. Aku menjalani hidup yang sangat berat dan kesepian. ”

Nina, walau ia tidak tahu kesulitan seperti apa yang dialami pewaris klan Yakuza jepang. Namun ia menyadari semua hal itu pasti tidak mudah. Dan pria di hadapannya saat ini tampak begitu berbeda dibandingkan biasanya. Tapi Nina tidak tahu hal apa yang membuatnya menjadi lain.

” Bertemu denganmu. Dan melihat sorot matamu itu… ” Kyosuke mengulurkan jemari tangannya yang panjang ke sudut mata kiri Nina. Membelai pelipis hingga tulang wajah gadis ini. “Aku seperti melihat bayangan diriku, padamu. ”

“Dan kurasa, dengan adanya orang seperti dirimu di sampingku. Aku sanggup menjalani hidup seperti ini hingga 1000 tahun lagi. ”

Nina tercekat. Ada perasaan aneh yang membuncah di dalam dadanya yang membeku. Lalu perlahan rona wajahnya memerah. Nina merasa kedua belah pipinya terbakar oleh api, yang tidak ia ketahui asalnya dari mana.

Dan Kyosuke perlahan tersenyum padanya.

¤¤¤¤

Cerita selanjutnya tentang Keluarga Matsumoto : Rasa yang Dimulai Terlalu Awal http://t.co/KEPnqaJDot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s