Rasa yang Dimulai Terlalu Awal

Kei, bocah berusia 4 tahun itu menatap bayi mungil dalam box kaca, dengan pandangan tidak biasa bagi anak kecil seusianya. Dan matanya hanya tertuju pada bayi dengan rambut tipis kemerahan itu.

“Kei….!” Tegur ibunya yang kini berdiri di sampingnya.

Mereka sedang bersiap-siap pulang, karena Kyosuke. Suami dari wanita ini dan ayah dari bocah kecil ini, sedang menunggu mereka di rumah. (Baca Matsumoto Kyosuke dan Nina dalam Choose You (Memilihmu) http://t.co/bE6emIAzcj).

Keisuke mendongak pada wanita cantik yang tersenyum, membelai sayang kepala bocah laki-laki ini.

“Bayi yang cantik, bukan?” Desah Nina, dengan pandangan merindu.

Ia dan suaminya, Kyosuke. Sangat mendambakan mempunyai seorang anak lagi setelah memiliki Keisuke. Entah itu perempuan atau lelaki. Tapi keinginan itu belum dapat tercapai hingga hari ini.

Dan saat ia melihat bayi perempuan cantik, anak dari Sasaki Tanaka dan Maria, ia terpesona.

Nina tersenyum, menoleh pada putra semata wayangnya. Dan menggendongnya. Mendekatkan badannya pada dinding kaca yang memisahkan mereka dengan ruang bayi, di rumah sakit ini.

“Sayang,…. Mari kita pulang. ” Bisiknya pada Keisuke dengan lembut.

Bocah tampan yang sangat mirip dengan ayah kadungnya, Kyosuke, ini menggeleng keras.

“Kei tidak mau pulang…” Ucapnya tegas.

Nina tertawa kecil, lalu mencium pipi merah jambu putranya. Menggodanya.

“Tapi ayah sudah menunggu kita di rumah. ” Kata ibunya memberitahu. “Kei tidak rindu pada ayah?” Tanyanya dengan suara merayu.

Untuk sesaat Keisuke mengernyit. Ia sangat menyukai ayahnya hingga nyaris memujanya. Lalu menatap ibunya dengan mata berbinar.

“Kei mau itu…” Tunjuknya pada bayi di dalam box kaca.

Nina tercekat, bingung juga antusias. Kei, putra semata wayangnya ini jarang sekali menginginkan sesuatu.

“Kei mau adik bayi?” Tanyanya dengan hati-hati.

Keisuke menggeleng keras-keras. “Kei mau itu….” Kembali ia menunjuk pada bayi di dalam box, dengan keras kepala.

“Ayo, kita bawa itu pulang…” Ucapnya penuh semangat.

Nina tertawa geli sambil mengusap kepala anak lelakinya. Bocah ini, tidak mengerti bahwa bayi bukanlah boneka yang bisa diambil begitu saja.

“Sayangku, kita tidak bisa bawa pulang bayi itu. ” Nina tersenyum membujuknya.

“Kenapa?” Kei menatapnya tajam.

Di dalam hati, Nina berkata “Anak ini benar-benar persis seperti Ayahnya. Semua keinginannya harus dituruti. ”

“Karena adik bayi itu, milik Sasaki-san dan Maria-san. ” Ujar Nina berusaha menerangkan.

Wajah Keisuke tampak cemberut dan mulai memerah, menahan marah.

“Tidak mau. Kei mau bawa itu pulang…” Lalu ia mulai memberontak dalam gendongan ibunya.

Nina mulai kewalahan menghadapi tangisan Keisuke yang mengamuk, marah. Tantrum.

“Nyonya… ” Seorang pria yang mengenakan pakaian resmi hitam memanggilnya, membuat Nina menoleh.

“Syukurlah kau disini, Yamada. ” Nina meringis, berusaha menentramkan putranya yang masih kalap.

“Ada apa, Nyonya?” Sasaki yang baru saja keluar dari ruang bayi tampak heran. Ia mengendong bayi mungil, anak pertamanya dengan canggung.

Wajah Nina tampak memerah karena malu. “Keisuke, ia bersikeras ingin membawa putrimu pulang ke rumah kami. ” Ia tertawa kecil.

Sasaki dan Yamada, tampak shock dan terkejut.

“Aku mau bawa dia pulang…” Rengek Kei dengan suara keras dan melengking. “Ibu harus bawa dia pulang…” Tangisnya tidak mau tahu.

“Kei…. Tidak boleh begitu…” Larang ibunya putus asa.

Sasaki melihat putri dalam gendongannya lalu tersenyum lebar pada Keisuke.

“Kei-sama ingin membawa putri saya pulang?” Tanyanya dengan lembut.

Keisuke mengangguk dengan bersemangat. Tangisnya seketika reda dan sebuah senyum rupawan, terukir diwajahnya.

Sasaki tertawa lebar dengan wajah sangat gembira.

“Maaf, Sasaki-san. ” Gumam Nina dengan malu-malu, karena tingkah putranya yang tak biasa.

“Tidak apa, Nyonya. Saya mengerti. ” Sasaki tersenyum bijaksana. Lalu ia mendekatkan putrinya yang masih tertidur pada Keisuke yang menatapnya dengan ganjil.

Sasaki menyentuh bahu Kei.

“Kei-sama boleh mengambil putri saya, saat ia sudah berusia 16 tahun. ” Katanya berjanji.

“Tidak boleh sekarang?” Tanya Kei yang tidak melepaskan pandangannya dari wajah mungil yang terlelap dengan bibir separuh terbuka.

“Tidak bisa. ” Kata Sasaki dengan tegas. “Putri saya harus dididik agar pantas. ”

Kali ini Kei mendongak kepadanya. “Enam belas itu, lama tidak?” Tanyanya tertarik pada Sasaki.

Nina yang tadinya tercengang, kini sudah menemukan kesadarannya.

“Tidak lama sayang. Kalau kau sabar menunggu. ” Ucapnya penuh kasih sayang.

Kei menatap bayi di pelukan Sasaki dalam-dalam dan menarik nafas. Ia memeluk ibunya erat-erat. Tampak tidak rela.

Lalu Sasaki membelai kepala Tuan Mudanya, sayang.

“Sasaki berjanji pada Kei-sama. Janji seorang laki-laki. ” Ucapnya bersungguh-sungguh.

Dan sekali ini, Keisuke menarik nafas panjang. Bocah kecil ini mengulurkan tangan gemuknya kepipi, gadis kecil yang tidak tahu apa-apa ini.

“Enam belas tahun… ” Bisiknya seolah orang dewasa.

¤¤¤¤

Tengah malam. Di kediaman keluarga Matsumoto.

Nina bergelung dalam pelukan posesif suaminya, Kyosuke.

“Tadi aku mengunjungi Maria-san, di rumah sakit. ” Ujarnya memberitahu.

Kyosuke diam, menyesap wangi leher telanjang istrinya.

“Bayi mereka sangat cantik. ” Bisiknya dengan suara terdengar bahagia.

Kyosuke mengejang. Ia tahu bahwa istrinya sangat menginginkan punya seorang anak lagi. Dan kalau bisa seorang putri.

Pria tampan dengan wajah dingin ini membelai pundak istrinya lembut.

“Sasaki pasti sangat bahagia. ” Gumamnya dengan senyum lembut.

Nina tertawa kecil. Seolah ada hal lucu yang ia rahasiakan dari suaminya.

“Kurasa, kau bukan lagi merupakan satu-satunya orang yang dipuja Kei, putra kita. ” Ia kembali tertawa hingga bahunya terguncang.

“Apa maksudmu?” Kyosuke menarik tubuh istrinya, hingga wajah mereka berhadapan.

Nina tersenyum, lalu membelai wajah suaminya dengan kedua belah tangannya.

“Kei membuatku repot di rumah sakit. Ia tidak mau pulang dan mengamuk, kalau aku tidak membawa putri Sasaki yang masih bayi. ” Ia menceritakan seluruh kejadian di rumah sakit tadi, pada suaminya yang kini mengernyitkan alisnya bingung.

“Apa kita harus segera memberinya seorang adik?” Kyosuke tersenyum menggoda pada wanita yang telah 7 tahun menjadi istrinya.

Nina menggeleng. “Kurasa bukan itu yang diinginkan oleh putra kita. ” Gumamnya yakin.

Wanita bertubuh mungil ini, memasang wajah serius. Dan Kyosuke akhirnya menopang kepalanya dengan telapak tangannya, menatap istrinya serius.

“Lalu apa?” Tanyanya tidak mengerti.

Nina tersenyum, menatapnya penuh rasa takjub juga geli.

“Sepertinya, Kei suka pada gadis kecil Sasaki. ” Ia terkikik.

Kyosuke tertohok, melongok kaget.

“Kau pasti tidak percaya, karena tidak melihat sendiri tadi. Tapi bisa kupastikan, anak kita benar-benar menanggapi janji Sasaki itu dengan serius. ”

“Wow….!, ” Pria dengan tubuh setinggi 186 cm ini bangkit dari tidurnya dan duduk. Tampak sangat tertarik dengan informasi ini.

Nina mengikuti gerakan suaminya dan ikut duduk berhadapan.

“Calon menantu kita baru berumur 5 hari dan anak kita harus menunggu sampai usianya 16 tahun. ” Katanya dengan nada geli.

“Pria-pria keluarga Matsumoto memang berbeda, yah….” Ia kembali terkikik.

¤¤¤¤

Yuki-chan. Gadis manis dengan rambut berwarna merah muda ini sedang duduk gelisah, di sebuah ruangan rumah keluarga Matsumoto.

Mulai hari ini ia akan tinggal di sini. Karena ayahnya yang dirawat di rumah sakit dan Lady Matsumoto yang baik hati memintanya secara khusus tinggal disini.

Yuki menarik nafas panjang.

Lady Matsumoto, wanita cantik dan yang sangat baik hati. Berteman akrab dengan mendiang ibunya. Dan ayahnya, Sasaki Tanaka sudah seumur hidupnya, mengabdi pada Lord Matsumoto dengan setia.

Gadis bernama lengkap Sasaki Yuki ini, beberapa kali sudah bertemu dengan Lady Matsumoto dan beliau memperlakukannya sangat istimewa, seolah putri kandungnya sendiri.

Memang, gadis ini pernah mendengar cerita bahwa Lady Matsumoto sangat ingin punya seorang anak perempuan. Namun ia tak pernah bisa memilikinya. Mungkin karena itu Lady Matsumoto sangat baik padanya.

Yuri mendesah.

Ia mengkhawatirkan kesehatan ayahnya.

Ayahnya memang mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit paling baik yang ada di Jepang. Tapi tetap saja ia merasa sangat khawatir. Hanya ayahnya, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Rasanya ia menjadi sedih tanpa alasan.

¤¤¤¤

“Ibu….” Tiba-tiba terdengar suara berat lelaki dan diiringi dengan langkah di tatami.

Yuki-chan menoleh pada pintu geser yang terbuka.

Sesosok pemuda usia awal dua puluhan, setinggi 186 cm dengan tubuh proposional terbalut atasan putih dan hakama. Pakaian memanah tradisional Jepang.

Pemuda itu tertegun, menatap Yuki-chan dengan pandangan tajam dan tampak seperti sangat marah. Membuat gadis ini bergidik tanpa alasan. Namun entah mengapa tatapan pemuda itu memenjarakan Yuki-chan.

Lalu ia tanpa berkata apa-apa langsung berbalik setelah menutup pintu dengan sangat keras. Terdengar langkah menjauh yang terburu-buru.

Yuki-chan terkejut melihat reaksinya.

Mengapa ia seperti membenciku? Pikir gadis ini heran. Dan hal itu semakin membuatnya merasa sedih. Sayang sekali, padahal pemuda itu sangat tampan dengan rambut hitam dam mata bersinar tajam. Ujar gadis ini di dalam hati.

“Sret…!” Pintu dorong terbuka kembali dan seorang wanita usia awal 40 tahun memasuki ruangan ini.

“Yuki-chan…” Serunya dengan wajah sumringah.

Gadis manis ini langsung tersenyum, menyambut sang nyonya rumah. Lady Matsumoto.

“Kau sudah bertemu Kei, putraku?” Tanyanya sambil mengawasi sisa ketegangan di wajah gadis, Yuki-chan. Tadi ia sempat melihat Keisuke tampak terburu-buru pergi.

“Ooh… Pemuda tadi, putra anda. ” Gumam Yuki dengan sedikit rasa terpukul. Ia sedih karena pemuda itu sepertinya tidak menyukai kehadirannya.

Lady Matsumoto dapat merasakan ada yang salah dari nada bicara Yuki. Namun tidak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi.

“Keisuke memang agak pemalu. Maaf kalau ia mungkin menyinggung Yuki-chan. ” Lady Matsumoto tersenyum dan duduk di hadapan Yuki.

“Apa tidak akan masalah, bila saya tinggal disini Nyonya?” Tanya Yuki ragu-ragu.

Lady Matsumoto menggeleng dengan wajah geli. “Tentu saja tidak. ” Jawabnya dengan cepat.

“Kami sekeluarga menyambut kedatangan Yuki-chan dengan senang hati. Dan kurasa Sasaki-san juga menghendaki hal ini. ” Ungkapnya dengan nada keibuan.

Yuki menarik nafas lega. Ayahnya memang tampak senang saat mendengar permintaan Lady Matsumoto, agar Yuki tinggal di rumahnya. Dan mungkin benar kalau putra nyonya ini bukan membencinya, tapi hanya terkejut melihat orang asing di dalam rumahnya.

¤¤¤¤

Yuki-chan menatap nanar ke ruang seberang kamarnya yang di pisahkan sebuah taman Zen dan air mancur kecil.

Harapannya sudah hancur dalam sekejap mata.

Baru saja pintu dorong kamar itu terbuka dan sosok penghuninya tampak. Memandang kearahnya dengan raut wajah terkejut dan seperti memendam marah. Lalu dengan cepat pemuda itu menutup pintu tersebut dengan suara keras.

Yuki terhenyak kaget.

Pemuda itu, Matsumoto Keisuke. Sepertinya benar-benar membencinya. Setiap kali melihat dirinya ia selalu membanting pintu dengan cepat dan keras.

Memangnya aku salah apa? Tanya Yuki dengan bingung.

Ini tak seperti bayangannya selama ini. Matsumoto Keisuke yang selalu diceritakan oleh ayahnya, adalah pemuda sopan dan cerdas. Yuki-chan dapat melihat betapa ayahnya sangat membanggakan Kei-sama dan tampak menyayangi pemuda tampan itu. Tapi kenyataannya, Kei-sama membencinya tanpa alasan.

Ia merasa sedih.

Padahal ini pagi pertama ia di rumah ini. Bahkan ia belum sempat melakukan apapun dan pemuda itu sudah berhasil merusak moodnya.

Yuki mendesah. Lalu bangkit dari duduknya.

Sepertinya kehidupannya di rumah keluarga Matsumoto, tidak akan selancar yang diinginkannya. Karena pemuda yang merupakan anak tunggal Lord dan Lady Matsumoto, tidak menyukainya. Dan ia tak tahu salahnya dimana.

¤¤¤¤

“Sial!” Maki Keisuke dengan pelan.

Ia merutuki dirinya sendiri. Yang tiba-tiba menjadi sangat gugup setiap kali bertemu pandang dengan gadis berambut merah muda itu.

Dan sudah dua kali ia membanting pintu dengan keras, tepat di depan hidung gadis yang bernama Yuki-chan itu. Dalam rentang waktu yang berdekatan.

Keisuke berguling-guling kesal di atas futonnya yang berantakan.

“Mengapa dia selalu melihatku dalam keadaan kacau?” Serunya pada dirinya sendiri.

Sore itu, Yuki-chan melihatnya dalam keadaan kotor dan berantakan sehabis melakukan kegiatan memanah sambil berkuda.

Lalu pagi ini, sesaat ia bangun tidur. Sebelum sempat mencuci muka dan masih acak-acakan.

Brengsek. Pekiknya dalam hati.

Bagaimana ia bisa lupa kalau mulai kemarin Yuki-chan tinggal di rumahnya. Dan kamarnya tepat berada di depan kamar Kei sendiri.

Bukankah sepanjang malam ia tak dapat memejamkan mata karena merasa sangat berdebar-debar, bisa berada begitu dekat dengan Yuki-chan.
Keisuke, melepaskan jeritan putus asanya kedalam bekapan selimut tebalnya. Suaranya teredam. Namun kekesalannya masih belum berkurang.

“Tok.. Tok..”

Terdengar suara mengetuk.

“Sayang, kau sudah bangun?” Suara ibunya yang lembut terdengar di depan pintu.

Kemudian pintu terbuka dan wanita cantik itu tersenyum padanya.

“Apa yang kau lakukan? Biasanya jam segini putra ibu sudah bangun. ” Gumam wanita itu.

Ia melangkah memasuki kamar dan mendorong pintu samping yang mengakses langsung ke taman.

“Ibu…” Serunya terlambat.

Ibunya sudah membuka pintu tersebut sebelum ia berhasil melarangnya.

Keisuke menatap ke ruang kosong di seberang taman.

Yuki-chan sudah tidak ada.

Dan tiba-tiba saja, Keisuke merasa muram.

“Apa apa?” Tanya ibunya dengan raut wajah heran.

Keisuke hanya terdiam dengan wajah tampak tidak senang.

Ibunya berdecak tidak sabar. “Sayang, bukankah tadi malam ibu sudah memintamu untuk mengantarkan Yuki-chan ke sekolah. Gadis itu belum mengenal jalanan di daerah ini. Lagi pula arah kampusmu dan sekolahnya berdekatan. Ibu mohon, berbaik hatilah pada gadis itu. ” Pinta ibunya bersungguh-sungguh.

Diam-diam Keisuke tersenyum, di balik punggung ibunya.

“Hei… Cepat bersiap. Jangan sampai Yuki-chan terlambat ke sekolah. ” Hardik ibunya bingung melihat ia masih belum bermalas-malasan.

“Ibu tenang saja. ” Ia tertawa sangat lebar. Memamerkan wajah rupawannya yang duplikat asli dari ayahnya yang tampan.

¤¤¤¤

4 thoughts on “Rasa yang Dimulai Terlalu Awal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s