Dalam Kenanganku, Kau tak Manis

Tiap dengar nama Eru, Heru atau yang mirip-mirip dengan itu, aku langsung ‘membeku’ untuk sesaat. Seolah ada tangan yang meremas jantungku dalam sedetik.

Apa cuma aku atau semua orang akan merasa seperti itu? Bila ingat mantan yang pernah membuat hati luluh lantak dan nggak percaya cinta lagi.

Aku nggak tahu.

Well, nama mantanku Eru. Nggak tahu deh, kalau dia menganggap aku juga sebagai mantan atau cuma teman biasa yang menyebalkan. Karena dalam ending perjalanan kisah kami, akhirnya aku sadar kalau sepertinya aku sama sekali tidak mengenalnya. Dan semua hal yang ia lakukan untukku terasa palsu.

Aku pikir dia nggak pernah tulus padaku. Mungkin pernah tapi aku tak menyadarinya. Atau aku yang memang bodoh, nggak bisa membedakan mana yang tulus atau tidak.

Dia, Eru memberi pukulan yang telak. Meninggalkanku beberapa saat sebelum ia wisuda, dan menggandeng gadis lain di acara wisudanya di kampus kami.

Aku tadinya nggak mau datang ke acara wisuda di kampus. Tapi nggak enak sama teman-temanku yang udah aku janjiin aku bakal datang untuk mereka. Arda, Rudi, Yayat. Mereka sangat baik padaku dan banyak menghiburku saat aku kacau.

Jadi dengan seorang teman wanitaku, kucoba gagah berani, aku datang ke kampus. Setelah sebelumnya memangkas habis rambutku jadi pendek dan di cat cokelat gelap (aku nggak ngerti kenapa perempuan patah hati selalu memotong rambutnya. Tapi aku juga termasuk orang yang melakukan itu).

Aku datang dengan wajah tersenyum lebar, walau mungkin sedikit pucat dengan tangan gemetaran. Menemui teman-temanku, mengucapkan selamat dan memberikan bunga pada mereka.

Dan entah aku cenderung punya sifat masokis (menyakiti diri sendiri) atau enggak, aku menemui dia. Menyalaminya dan bilang selamat. Sempat lihat Papa dan Mamanya (aku pernah beberapa kali di bawa ke rumah orang tuanya dan sempat berkenalan dengan Papa, Mama dan adik perempuannya. Dia juga sudah pernah ke rumahku dan bertemu Mama dan keluargaku).

Bahkan dahulu saat ia wisuda D3 di kampus lamaku, akulah orang yang jadi pendamping wisudanya. Karena kedua orang tuanya tidak bisa hadir.

So, aku tetap tidak mengerti. Mungkin hanya tak bisa mengerti. Mengapa orang berubah? Mengapa cinta bisa berhenti? Dan dimana letak kesalahan itu?

Setelah semuanya, aku pulang ke kost dan di kamar saat sendirian. Aku nangis.

Menangis keras hingga kupikir suaraku bisa terdengar sampai ke jalanan.

Menangis dengan hati remuk hingga kupikir duniaku sudah terhenti.

Dan memang. Duniaku terhenti saat itu.

Aku sinis menghadapi hidup. Kupikir cinta tidak akan pernah lagi menyapaku. Dan itu memang terjadi.

Sudah berapa tahun setelah itu, aku masih sendiri. Bukan tidak ada yang mendekati. Ada. Tapi aku tak pernah tertarik.

Bagiku semua sudah tak sama. Tak pernah bisa sama lagi. Meski sekitar 7 bulan setelah ia wisuda, ia tiba-tiba menghubungiku dan tanpa basa-basi meminta maaf.

“Minta maaf untuk apa?” Tanyaku saat itu.

Ia terdengar ragu.

“Untuk semuanya. ” Ucapnya pelan. Dia bilang Papanya sakit dan adik perempuannya terkena kanker.

Aku pikir, apa aku sehebat itu sampai dia terkena karma. Aku tak percaya padanya.

Lagipula ia bisa saja berbohong bilang segala macam alasan. Tapi untuk apa? Aku tak melihat ada untungnya baginya. Atau apakah dia hanya ingin melihat ‘hasil dari perbuatannya’ padaku?

Siapa yang tahukan?

Dia bilang merasa bersalah dan ingat kesalahannya padaku. Lalu menghubungiku untuk meminta maaf. Tapi rasanya terlalu ‘drama’.

Aku tak percaya dia lagi. Aku tak melihat korelasi keadaannya denganku.

Namun aku bilang padanya, “aku sudah maafin kamu. Jauh sebelum kamu minta maaf. Kamu sudah bebas. Kamu nggak bersalah sama aku. Semoga Papa dan adik kamu cepat sembuh. ” Ucapku tulus.

Sejak itu aku dan dia putus kontak. Sebenarnya setelah ia mencampakkanku pun, kami tak lagi berkomunikasi. Dia memblokirku dari pertemanan media sosial. Dan aku juga tak pernah mencari beritanya lagi melalui apapun.

Bagiku sudah cukup. Berakhir ya berakhir saja disini.

Pernah suatu saat, aku chatting dengan seorang senior yang sudah kuanggap seperti abangku sendiri (senior yang sering aku ceritakan dipostingan-postinganku sebelumnya, yang mantan ketua ukm seni di kampus). Seniorku ini juga punya pengalaman yang sama denganku, ditinggal kekasih sesaat sebelum wisuda. Dan sama-sama mengalami, mantan kekasih yang menggandeng pacar barunya untuk dibawa ke acara wisuda. Kami tahu rasanya ditatap dengan penuh rasa kasihan oleh mereka-mereka yang mengenal dan tahu kisah percintaan kami. It’s suck! Believe me, guys.

Seniorku tanpa diminta menceritakan tentang dia (mantanku), bahwa ia sudah menikah dan mapan dalam bekerja. Dia sudah bahagia dengan keluarganya.

Aku cuma bisa menarik nafas panjang.

Kapan hidup pernah adil pada pecundang?

Sekali pecundang tetap saja jadi pecundang selamanya.

Sejujurnya, aku nggak tahu apa yang aku mau. Aku sungguh-sungguh tak mengharapkan dia lagi. Aku benar-benar sudah melupakan dia. Dan aku juga sudah siap untuk berhubungan dengan orang lain yang tepat. Tapi kesempatan itu tak pernah datang. Atau hanya aku saja yang terlalu malas membuat kesempatan itu ada. Entahlah.

Eru. Itu namanya.

Lelaki yang berhasil membuatku merasa tak nyaman meski hanya mendengar, membaca, melihat kata Eru, Heru atau apapun yang mirip itu.

Yeah, aku tak nyaman.

Aku tak membencinya. Hanya tak nyaman saja.

Mungkin ini refleksi dari pertahanan alam bawah sadarku, bahwa kata yang mirip dengan namanya, mengingatkanku akan trauma yang ia sebabkan. Ini murni self defence. Aku tak mengada-ada.

Kuharap kita tak akan pernah bertemu lagi.
Kuharap ini terakhir kalinya aku membicarakanmu.
Kuharap kata yang terdengar seperti namamu tak lagi menjadi momok buatku.
Kuharap, ada seseorang yang bisa menyembuhkanku. Karena kupikir sudah lama waktu aku berusaha menyembuhkan diriku sendiri, tapi tak berhasil hingga detik ini.
Dan terakhir, kuharap bila memang ada, bila Tuhan memang sudah menakdirkannya, ia akan segera ke sisiku. Lalu membuatku bisa merasa bahkan hal terburuk yang pernah terjadi dalam hidupku, seolah hanya bagai kenangan orang lain. Bukan milikku. Bukan lagi masalah untukku.

Semoga masa itu akan datang.
Semoga aku bisa berbahagia, kelak.
Amiin. O:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s