Jodoh buat Laila (Kun Fayakun)

“Laila sayang, kamu percaya pada Papakan?” Tanya ayahnya tiba-tiba saat menghubunginya melalui sambungan jauh internasional. Pria usia 62 tahun itu sedang beribadah haji di Mekkah.

“Tentu saja, Pa. Ada apa ini?” Laila tersenyum, merasakan kegairahan yang nyata dalam nada suara ayahnya.

“Papa sudah menemukan pria yang tepat untukmu nak.” Ujar ayahnya tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.

“Deg….” Gadis ini tertohok.

Alis Laila berkerut tajam, tidak mengerti.

“Bagaimana Papa bisa seyakin itu?” Tanyanya penuh rasa tidak percaya.

Terdengar suara ayahnya tertawa pelan, “Kun fayakun, sayang. Kalau Alloh menghendaki, apa sajapun bisa terjadi. ”

*Kun fayakun = jadi maka jadilah (QS. Yaasin : 82).

“Sesampainya di Indonesia, kita akan segera mempersiapkan pernikahanmu. Kamu setujukan dengan pilihan Papa ini?” Tanya ayahnya meminta kepastian pada Laila. “Papa bisa menjamin ia pria baik dan taat beragama. Sesuai dengan kriteria yang kamu inginkan, putriku. ” Tambah ayahnya seolah berusaha meyakinkannya.

Hati gadis ini kembali berdetak lebih kencang. Ini keputusan yang berat dan teramat sulit untuk diambil Laila. Tapi tampaknya ayahnya sangat serius dengan ucapannya. Dan entah mengapa Laila tak bisa menolak keinginan ayahnya kali ini.

Lalu Laila mengucap basmalah dalam hati dan menguatkan tekadnya. “Laila yakin pilihan Papa pasti yang terbaik. Insya allah, Laila akan setuju. ” Ucapnya dengan suara gemetar dan mata memejam.

¤¤¤¤

Pukul 10.20, 12 Desember 2012, suite room Ritz-Carlton Jakarta.

“Suami kamu ganteng sekali, Laila. ” Bisik seorang gadis padanya dengan senyuman terpesona.

“Kamu sangat beruntung bisa memilik suami seperti itu. Aku dengar paman bertemu dengannya saat sedang tersesat di Masjidil Haram. Kalau begitu suamimu sudah berhaji, Laila. Pasti agamanya kuat, diusia semuda itu sudah menyelesaikan rukun islam ke 5.” Ujar salah seorang sepupunya dengan takjub.

“Wah, benar-benar takdir ya…” Bisik-bisik yang mendengar cerita ini.

“Laila….. ” Pekik sahabatnya yang lain. “Selamat yah. Suamimu cakep sekali. Aku jadi iri….” Ujarnya sambil memeluk tubuh gadis yang sedang berbahagia ini.

Laila hanya tersenyum dengan hati membuncah bahagia.

Sejujurnya dari prosesi lamaran hingga ijab kabul tadi, Laila belum pernah berjumpa langsung dengan pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Bahkan ia sama sekali tidak mengetahui siapa nama suaminya dan seperti apa rupanya. Ayahnya berusaha keras menutupi semuanya dan Laila membiarkannya saja.

Ia percaya pada pilihan ayahnya dan tanpa protes apapun, menerima lamaran lelaki yang menurut ayahnya pantas untuk menjadi suaminya. Imamnya.

Dan kini di kamar malam pengantinya yang dihiasi mewah dan glamour, Laila menunggu kehadiran suaminya untuk pertama kalinya. Pesta pernikahan yang khusuk dan private akan diadakan di ball room hotel bintang 5 ini, dan hanya dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak dan teman-teman terdekat saja.

Laila duduk di tepi ranjang kamar suite president. Hatinya berdebar kencang dan badannya panas dingin.

“Aku sudah menikah… ” Bisiknya pada diri sendiri. Berusaha meyakini.

Terdengar ketukan ringan di pintu kamar. Lalu pintu terbuka dan seseorang memasuki kamar yang temaram.

Laila menundukkan wajah cantiknya yang memerah padam. Jantungnya berdetang keras, hingga rasanya bunyinya terdengar sampai 5 mill jauhnya.

“Laila Gemintang, istriku. ” Seru sosok itu penuh percaya diri.

Laila terpaku. Sangat terkejut. Ia mengenali suara yang sedang memanggilnya itu. Lalu gadis itu menoleh pada sesosok bertubuh jangkung yang kini tersenyum, menyeringai senang padanya.

“Kamu…” Pekiknya terkejut dengan wajah pucat pasi.

¤¤¤¤

Dua tahun sebelumnya. Di Sky On 57, restoran yang terletak di menara 1 lantai 57. Marina Sand Bay, Singapura.

“Menikahlah denganku!” Pinta Marquez dengan suara bergetar pada gadis mungil berambut hitam panjang, yang duduk kaku di hadapannya.

Laila terhenyak. Gadis itu membelalakkan mata indahnya, tampak sedikit terkejut dengan pernyataan pria Spanyol berwajah tampan ini. Sesaat ia bahkan sampai lupa untuk bernafas. Cepat ia meneguk air putih dalam gelas dihadapannya.

Ia, Laila sudah mengenal Marquez sejak delapan belas bulan yang lalu. Tapi hubungan mereka tak pernah lebih dari sekedar atasan dan bawahan. Tak ada kisah romantis apalagi lovey dovey mewarnai interaksi mereka.

Laila adalah sekretaris Maximillian Marquez di Indonesia. Lalu karena ia satu-satunya sekretaris yang bisa bertahan begitu lama terhadap kelakuan Marquez yang perfectionist dan tak bergeming terhadap godaan pesona flamboyan seorang Max Marquez, akhirnya ia menjadi sekretaris utama dari sang CEO.

Dan kini, di sebuah restoran Italy terbaik di Singapura. Di ketinggian beberapa ratus meter dari bumi, dengan pemandangan malam kota yang indah. Marquex melamarnya tanpa basa-basi.

Laila menatap seksama pria tampan bertubuh tinggi atletis. Marquez yang berkulit cerah sewarna patung-patung perungu dan kini sedang memasang raut wajah tegang. Menunggu jawaban darinya.

“Anda mabuk, Sir?” Tanya gadis bermata lebar ini sangsi, pada akhirnya. Setelah ia berhasil menemukan lidahnya kembali.

Marquez tertawa gugup.

Ia sudah menduga Laila tidak akan mempercayai apa yang telah ia ucapkan. Tapi sesungguhnya saat ini ia benar-benar sangat serius. Mungkin justru baru kali ini ia berpikir dan memutuskan melakukan sesuatu dengan pikiran paling jernih dan waras. Ironisnya, Laila malah menduga ia mabuk.

“Anda tampak pucat dan sedikit gemetar. ” Laila menyipitkan matanya, tampak semakin cemas. “Sepertinya anda sakit, Sir. ” Ujarnya gugup.

Marquez mengusap wajahnya yang berkeringat, tak kalah gugup.

“Aku tidak mabuk, Laila. ” Potongnya dengan cepat. “Juga tidak sedang sakit.” Tambahnya lagi.

Pria ini menegakkan posisi duduknya dan menatap Laila dalam-dalam, dengan sinar mata berani. Mengumpulkan tekadnya yang tersisa.

“Aku serius dengan ucapanku. ” Marquez mengawasi ekspresi wajah Laila yang tampak terkejut. Lalu perlahan ada rona merah jambu yang menjalari kedua belah pipinya yang halus. Gadis itu tampaknya mulai mengerti.

“Maukah kau menikah denganku, Laila Gemintang?” Ulangnya dengan tegas dan bersungguh-sungguh.

Laila terdiam. Membalas tatapan mata Marquez yang tajam dan menuntut. Lalu menunduk tampak malu, juga serba salah.

“Saya tidak bisa. ” Jawabnya sambil menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang kembali kering.

“Apa?!” Marquez terbeliak. “Kau bisa memikirkannya dulu…” Ucapnya melemah.

Laila menggeleng dan tersenyum penuh ketenangan. “Meskipun anda memberi saya waktu yang banyak. Jawabannya akan tetap sama. Tidak, saya tidak bisa. ” Ungkap gadis cantik ini dengan nada berhati-hati.

Marquez mendesah, kecewa. Namun tidak putus asa. Tidak mungkin atau tidak bisa, bukanlah kata yang ada dalam kamus hidupnya.

“Kenapa?” Tanyanya dengan suara dalam dan wajah muram.

Laila memberikan sebuah senyum kecil yang lembut. Satu dari lima senyum favorit Laila Gemintang yang paling disukai Marquez.

“Karena kita beda agama, Sir. ” Sahut gadis itu dengan nada tegas tak terbantahkan.

¤¤¤¤

Maximilliam Marquez, pria usia 27 tahun. Tampan dan kaya. Punya karir bagus sebagai CEO di perusahaan pertambangan milik keluarganya turun temurun, Repsol. Yang menguasai 32 % cadangan minyak bumi dan gas alam diseluruh dunia.

Ia tidak pernah mendapatkan penolakan. Dengan segala pesonanya Marquez bisa dengan mudah memikat wanita-wanita cantik. Sudah tak terhitung berapa artis, model dan beberapa selebriti yang ia pacari. Dan selama Laila menjadi sekretarisnya, gadis ini telah banyak membantunya menyelesaikan urusan dengan para kekasih yang diputuskan dan mantan yang histeris.

Laila mengetahui dengan pasti sepak terjang percintaan Marquez. Bahkan bisa dibilang dalam waktu nyaris dua tahun, hanya Laila seorang, wanita yang punya hubungan stabil dan permanen dengannya.

Apa mungkin karena hal itu Laila jadi meragukan niat tulusnya?

Marquez mendesah, ada kekecewaan yang menyelimuti hatinya. Membuatnya merasa sangat muram.

Kejadian tadi malam kembali menghantuinya. Pria ini cepat-cepat meneguk liquor dalam gelas kristal ditangannya.

Ia ingin mabuk dan melupakannya. Dan terbangun dengan harapan, semua ini hanya mimpi buruk.

“Laila Gemintang…!” Desahnya pelan.

Gadis itu selalu bersikap dingin tapi profesional padanya. Gadis yang cerdas, efisien dan selalu mengambil keputusan efektif. Marquez menyukai kinerjanya dan merasa puas. Tapi bukan itu yang membuat ia menyerahkan hatinya pada Laila.

Suatu hari ia pernah sangat sakit. Terkena flu berat dan demam. Satu-satunya orang yang terlintas dibenaknya untuk dihubunginya adalah Laila.

Gadis itu segera datang, meski saat itu tengah malam. Bersama supir kantor, ia membawa Marquez ke rumah sakit. Dan mengurusnya hingga ia merasa baik dan menghandle semua urusan kantor. Laila sangat bisa diandalkan, itu sudah pasti.

Mulai saat itu Marquez, memandang Laila dengan berbeda. Ia jadi berdebar-debar dan gugup, saat gadis itu ada di sampingnya. Seperti anak ingusan yang baru saja mengenal cinta.

Lalu dengan perlahan Marquez jadi lebih memperhatikan Laila dengan seksama. Dan mudah saja baginya jatuh hati, pada gadis itu. Gadis itu berbeda dengan semua wanita yang pernah ia kencani. Sama sekali bukan tipe kesukaannya. Tapi sialnya, pesona Laila sudah menyihirnya dan ia tak dapat menahan diri lagi. Ia ingin memilikinya. Namun gadis itu tak sepertinya tak percaya pada cinta, apalagi pada pria yang jelas-jelas adalah playboy. Satu-satunya cara yang akan diterima oleh Laila adalah menikahinya. Sayang, penolakan Laila tak pernah terlintas dipikirannya.

Perbedaan agama. Klise sekali.

Laila menolaknya karena keyakinan mereka tak sama, Tuhan yang mereka percaya berbeda. Bukan karena tidak mau.

Marquez tiba-tiba tersenyum. Sebuah ide terlintas dibenaknya.

Ia percaya Tuhan hanya ada satu. Walau orang-orang memanggil-NYA dengan nama yang berbeda dan menyembahnya dengan ritual masing-masing yang mereka percayai. Tapi pada hakikatnya, Tuhan cuma ada satu. Siapapun itu.

Pria tampan ini tersenyum penuh kemenangan.

¤¤¤¤

“Saya akan berpindah agama, demi kamu. Jadi maukah kamu menikah denganku, Laila?” Marquez tersenyum penuh rasa percaya diri, dihadapan gadis manis yang sangat digilainya.

Wajah Laila memucat. Ada gejolak rasa sedih dan marah dalam tatapannya yang tajam pada pria tampan ini. Jadi inilah alasan dibalik undangan makan siang di mansion Marquez, hari ini. Tadianya ia kira mereka akan membahas soal pekerjaan sambil bersantai-santai.

Laila tidak menyangka kalau Marquez masih berharap ia mau mengubah keputusannya. Walaupun ia sangat menyadari kalau dengan sifat keras kepala pria ini, tidak mungkin akan menyerah dengan mudah.

“Saya tidak bisa menerima lamaran anda, Sir. ” Tolak gadis ini tanpa basa-basi.

Kini giliran wajah Marquez yang memucat, tidak mempercayai pendengarannya.

“Mengapa?!” Tuntutnya marah dengan jari-jari mengepal di bawah meja makan yang dihiasi taplak renda putih.

“Bukankah kamu menolakku karena perbedaan agama? Dan sekarang saat aku memutuskan mengikuti keyakinanmu, kamu tetap menolakku tanpa berpikir sedikitpun. ” Ungkapnya penuh kemarahan.

Laila menarik nafas panjang.

“Apa yang dapat saya percayai dari anda? Kalau Tuhan yang maha baik saja bisa anda khianati demi saya, bagaimana anda bisa setia pada saya sampai akhir?” Tanyanya dengan nada penuh ketenangan.

“Bagaimana saya bisa menyerahkan hidup dan cinta saya untuk anda? Seseorang yang hanya demi wanita biasa macam saya, rela meninggalkan kepercayaannya bahkan Tuhannya sekalipun. Maaf Sir, saya sama sekali tidak terkesan dengan semua ini. ” Ujar Laila sambil menatap langsung pada Marquez yang masih tercengang.

Dan sekali lagi lamaran Marquez ditolak tanpa basa-basi oleh Laila. Tapi kali ini, efeknya luar biasa mengagetkan bagi pria Spanyol yang pantang menyerah ini. Jauh lebih menyakitkan dari saat pertama.

¤¤¤¤

“Kapan kamu akan menikah?” Tanya pria tua yang berwajah tampan dimasa mudanya ini pada putri sulungnya.

Laila tersenyum, mengalihkan padangannya dari TV yang menayangkan berita siang. Ia dan Papanya sedang duduk santai di sofa ruang keluarga, rumah milik pria setengah baya ini.

“Mengapa papa bertanya seperti itu?” Ia mengedipkan mata, geli.

“Papa dengar kamu menolak lamaran bosmu…. ” Ujar pria setengah baya ini hati-hati.

Laila segera berbalik. Memandang ayahnya dengan tajam. Menelisik kemungkinan-kemungkinan liar yang bisa ia percayai, mengingat sifat Marquez yang tak pernah bisa ditolak.

“Papa tahu darimana?” Tanyanya dengan mata menyipit, curiga. “Apa Marquez menghubungi papa?” Bisiknya tidak percaya.

Pria tua ini tertawa dengan ekspresi malu, tertangkap basah.

“Bosmu menemui Papa, di Jakarta kira-kira dua hari sebelum kamu pulang. Ia meminta izin papa untuk melamarmu. Papa lihat ia pria yang baik, berani dan bertanggung jawab. Bahkan ia bersedia berpindah agama agar bisa menikahimu loh. ” Ujar Jon, ayah dari gadis ini dengan hati-hati.

Laila mendesah, mencermati perkataan ayah kandungnya. Orang yang sangat ia hormati dan puja. Satu-satunya orang yang dapat membuat keputusannya berubah. Dan Marquez dengan licik sepertinya sudah membuat ayahnya mendukungnya.

“Laila tidak ingin menikah dengan seseorang yang dengan mudahnya berpindah agama dan mengkhianati Tuhannya, hanya untuk memiliki wanita yang katanya sangat ia cintai. Apa Papa tidak berpikir, bagaimana seandainya cinta Marquez luntur? Bisa sajakan ia meninggalkan Laila.” Gadis itu mengawasi perubahan raut wajah ayahnya yang serius.

“Apa kamu tidak merasa tersanjung? Ada lelaki yang sampai sebegitu cintanya padamu, sampai mau mengorbankan imannya untukmu. ” Tanya ayahnya lagi.

Laila menggeleng. “Mungkin wanita lain akan seperti itu, Pa. Tapi Laila tidak. ” Ia tersenyum lemah.

Papanya membalas tatapannya dengan seksama. Menyadari keteguhan hati anaknya.

“Apa ini ada kaitannya dengan Eru?” Tanya ayahnya lagi berhati-hati.

Seketika hati Laila mencelos, dingin. Suasana ruang keluarga mereka yang sejuk, tiba-tiba terasa membekukan gadis ini.

Eru adalah mantan kekasih terakhirnya, yang dengan kejam mencampakkannya tanpa alasan yang jelas. Demi gadis lain. Dan saat ini ia sudah berbahagia dengan keluarganya sendiri.

“Tentu saja bukan, Pa. Laila sudah lama melupakan Eru. ” Ucapnya dingin.

“Tapi Papa tidak pernah melihatmu punya hubungan yang stabil dengan orang lain setelahnya. Apa… Kamu masih mengharapkan dia?” Kali ini ada nada cemas dalam perkataan pria tua ini.

Laila menggeleng, tampak sedih. “Tidak. Laila hanya lebih berhati-hati, Pa. Dan Marquez bukanlah pasangan tepat untuk Laila saat ini. Laila tidak bisa yakin pada pria itu. ”

Jon, mendesah khawatir. Putrinya yang cantik dan pintar, pernah salah memberikan hatinya pada seorang bajingan tengik macam kekasihnya yang terdahulu. Dan itu membuat Laila trauma dan kehilangan kepercayaannya terhadap percintaan.

“Papa hanya ingin kamu bahagia. Dengan siapapun itu. Papa tidak akan memaksakan kamu menikah, kalau kamu belum siap. ” Ujar ayahnya tampaknya ingin mengakhiri perbincangan mereka.

Laila mendesah, “Terimakasih, Pa” ujarnya tulus.

“Laila Gemintang, tahukah kamu kenapa kamu diberi nama itu? Karena kamu lahir dimalam indah yang penuh jutaan bintang yang bersinar bagai berlian. Kamu, putri kesayangan Papa. ” Bisik ayahnya penuh kasih sayang.

Laila tersenyum sampai kehati dengan mata berbinar. “Laila tahu, Pa. ”

Ia memeluk tubuh ayahnya dengan lembut. Satu-satunya lelaki yang ia percaya sampai mati dan mencintainya tanpa syarat, ayahnya.

¤¤¤¤

Seorang pria tua tampak tersesat di kawasan Masjidil Haram. Tadinya ia setelah usai shalat magrib lalu hendak mengisi perutnya dengan kembali ke hotel tempat ia menginap, ia berjalan menelusuri jalanan yang biasa ia tempuh. Namun anehnya kini ia berada di tengah lautan jemaah haji yang tidak ia ketahui asalnya. Dan ia sudah berputar-putar selama satu jam lebih. Ia sangat lelah.

“Permisi, Pak. Apa anda tersesat?” Tanya seseorang santun padanya dengan bahasa inggris yang fasih.

Jon yang berjongkok lemas karena gula darahnya menurun, mendongak. Menatap sosok muda yang menjulang di hadapannya.

Ia tertohok kaget. Tidak mempercayai pandangannya. Dan sosok yang sedang ia tatap juga tak kalah kagetnya. Sama-sama terkejut dan tidak menyangka dapat bertemu di tempat ini.

“Anda…. ” Desisnya tidak percaya. “Bagaimana mungkin…..” Sambungnya dengan suara tercekat.

¤¤¤¤

Pukul 19.30. Tanggal 25 Juni 2013, Ball Room Hotel Alila, Jakarta.

Laila Gemintang memasuki balai pertemuan di dalam sebuah hotel dengan arsitektur minimalis kawasan Pecenongan, Jakarta barat.

Ada pertemuan alumni akbar dari kampus tempat ia menyelesaikan kuliahnya dahulu. Ini pertama kalinya Laila datang ke acara reuni. Dan ia sangat gugup.

Saat memasuki ruangan, ia mencari-cari seseorang yang mungkin masih ia kenal. Teman-temannya atau senior dan yunior yang akrab dengannya. Maklumlah saat kuliah dulu Laila adalah gadis populer yang banyak dikenal orang. Tadi ada seorang temannya berjanji akan menemuinya disini.

“Laila…..” Pekik seorang wanita cantik yang bertubuh subur.

Mata Laila terbeliak, senang. “Elsye…” Katanya tak kalah gembira.

Keduanya lalu berpelukan tanpa malu-malu. “Ayo kita temuin yang lain.” Ajak temannya bersemangat.

Laila tersenyum senang. “Ada siapa aja?” Tanyanya terlular semangat Elsye.

“Ada Riska, Jinie, Tika dan ….” Elsye memutarkan bola matanya, mengejek. “Nur…” Bisiknya geli.

Laila tertawa. “Ia masih belum berubah?” Bisiknya sambil menatap kerumunan temannya yang semakin dekat.

“Kau lihat saja sendiri. ” Elsye membalas tatapannya, tampak menahan tawa.

“Hai, ladies!” Sapa Laila pada teman-temannya yang langsung di sambut dengan kehebohan bagai gadis muda.

Riska, sahabat dekatnya memeluknya hangat. Bergantian dengan Istika dan Jinie.

Obrolan mereka langsung lancar dan penuh semangat. Hingga tanpa disadari Laila ada sosok yang melihatnya tajam dan mendekati mereka.

“Laila…” Tegur sosok tinggi besar itu.

Laila dan teman-temannya menoleh. Dan sontak mereka terdiam, menahan nafas.

“Hai…” Laila membalas sapaannya dan tersenyum tipis.

“Apa kabar, Laila?” Tanyanya dengan suara menggoda dan senyuman tertahan.

“Baik. ” Jawab Laila singkat.

“Kudengar kau berhenti bekerja di perusahaan minyak itu?” Laila menatap sekelebat kilat dimata lelaki dihadapannya ini.

“Benar. Aku sudah lama berhenti. ” Ujar Laila dengan wajah tenang. Sepertinya ia sudah dapat menduga apa alasan lelaki ini mengajaknya berbicara.

“Bagaimana kalau kau bekerja untukku saja? Aku bisa merekomendasikan kau jadi sekretarisku loh. ” Ucapnya dengan nada dibuat-buat, jelas sekali ingin menghina.

Laila mendongak, menatap lelaki yang pernah membuat hatinya berdarah-darah. Dan kali ini ia merasa sangat muak. Mengapa dulu bisa jatuh pada pria seperti ini.

“Aku heran, Ru.” Ucapnya dengan mimik muka tidak terbaca. “Bukankah IPKmu di bawah 2,5 tapi kok bisa ya masuk perusahaan BUMN? Sepengetahuanku di kampus juga kau tidak pintar-pintar amat. Aku jadi meragukan sistem penerimaan pegawai pemerintahan kita.” Nada suara Laila tampak mengancam.

Oh, tentu saja Laila yang dulu dan sekarang tetap merupakan wanita yang tak akan kehilangan lidahnya bila dalam keadaan terpaksa. Tidak percuma ia pernah memenangkan lomba debat antar Fakultas di kampus mereka.

“Oh ya, aku lupa. Ayahmukan juga bekerja di BUMN tersebut ya?” Tanyanya dengan nada manis, membuat Eru hampir membiru tersedak kemarahan.

Ia lalu menyeringai masam. “Mulutmu masih setajam dulu yah, pantas kau tidak laku-laku. ” Ujarnya penuh kemenangan, menyeringai mengejek.

Elsye, Riska dan teman-teman Laila yang mendengarnya tersentak marah. Laki-laki ini benar-benar sudah keterlaluan pada teman mereka. Namun sebelum salah satu dari mereka merangsek maju untuk melabrak lelaki berkulit putih ini, sesuatu yang mencengangkan terjadi.

Seorang pria tampan, bertubuh tinggi bagai model patung-patung pahatan Michael Angelo memeluk Laila dari belakang dan mengecup pipinya hangat.

“Maaf, sayang. Aku telat. ” Bisiknya halus.

Laila menoleh padanya dan tersenyum malu-malu. Salah satu dari lima senyum Laila yang menjadi Favorit Marquez.

Lalu pria tampan berdarah Spanyol ini berdiri tegak menatap Eru, dengan posesif ia melingkari lengan dipinggang istrinya.

“Ru, kenalkan ini Maximillian Marquez, suamiku. ” Laila tersenyum kecil, melirik Marquez dengan sayang.

“Max… Maximilliam yang itu…” Ujar Eru dengan suara terbata, tidak mengerti. Ia cukup tahu bos ditempat Laila bekerja adalah salah satu dari keturunan keluarga Marquez, pemilik Repsol.

“Halo, saya Maximillian Marquez. CEO dari Repsol. ” Ucap pria di samping Laila dengan nada profesional dan tegas. “Anda, Eru bekas pacarnya bukan?” Tanyanya tanpa basa-basi.

Eru hanya menggumam tidak jelas, saat jemarinya dengan kencang dijepit tangan Marquez yang menyalaminya.

“Thanks dude. Kalau kamu nggak ninggalin dia dulu, aku pasti nggak bisa ketemu dengan perempuan yang luar biasa seperti dirinya. ” Ucap Marquez bersungguh-sungguh tanpa bermaksud menghina.

“Wow…” Bisik Tika pada Laila. “Suamimu cakep banget. ” Ia terkikik genit.

“Laila, kau harus menjelaskan padaku. Dimana kau temuka pria setampan itu. ” Ancam Jinie dengan mata mendamba.

“Hei, mau kau kemanakan Shimada Ryora?” Ujar Riska mencubit lengan Jinie, gemas melihat kelakuannya.

Laila tersenyum. “Ceritanya panjang. ” Ucapnya dengan pelan pada teman-temannya.

¤¤¤¤

“Jadi Laila menolak lamaranmu sebanyak tiga kali?” Pekik Elsye dengan suara keras. “Kenapa?” Tanyanya tidak percaya.

Laila di bawah todongan teman-temannya yang duduk mengelilingi mereka di meja bulat, menjawab “Aku ragu padanya. Ia plaboy dan suka mempermainkan wanita, tiba-tiba saja melamarku. Siapa yang bisa percaya, coba? ”

“Lalu mengapa saat Marquez bilang ingin pindah agama untukmu kau tetap menolaknya?” Tanya Riska berhati-hati menatap pasangan ini.

“Aku tidak mau ia berpindah agama hanya karena cintanya padaku. Bukan karena kesadarannya sendiri. Kalau cintanya hilang dan berubah, siapa yang bisa menjamin ia tetap memeluk agama yang kuanut. Itukan alasan yang salah untuk berpindah kepercayaan semudah itu. ” Ucap Laila dengan mengebu-gebu. “Aku marah padanya karena menganggap enteng masalah keimanan. ” Lirik Laila pada suaminya tersayang.

Marquez tersenyum malu, mengelus lengan istrinya lembut. “Maafkan aku, saat itu aku hanya menurutkan emosiku saja. ” Ucapnya dengan jujur.

“Lalu apa yang terjadi?” Tanya Elsye kemudian, menatap mereka dengan perhatian.

Marquez tersenyum. “Laila memutuskan berhenti kerja. Lalu aku jadi sangat terpuruk. Aku kembali kekehidupan lamaku yang buruk dengan hati hampa. Sampai suatu hari aku sedang lewat sebuah toko buku dan kuputuskan masuk untuk melihat-lihat. Aku melihat sebuah buku besar, kitab suci agama yang dianut Laila. Dan memutuskan untuk membacanya. Kau tahu apa surat yang kubuka secara acak itu?” Ia memandang sambil tersenyum pada wajah-wajah yang menatapnya penuh rasa ingin tahu.

“Surah Yaasin ayat 82. Kun fayakun yang artinya jadi maka jadilah. Kupikir kuasa Tuhan sangatlah besar, hingga hal-hal mustahil yang tak bisa diterima akal bisa saja dalam detik itu terjadi bila ia menginginkannya. Saat itu aku merasa sangat dipenuhi oleh energi yang aku tidak tahu dari mana asalnya. Aku memutuskan untuk mempelajari agama islam lebih dalam. Lalu semua terjadi begitu saja, aku mualaf dan menjadi muslim. ” Pungkas Marquez dengan singkat tanpa melepas senyumannya.

“Bagaimana kalian bertemu lagi?” Cicit Jinie dengan tidak sabaran.

Marquez dan Laila saling bertatap. “Kami tidak pernah bertemu, hingga hari dimana kami menikah. ” Ucap Marquez dengan senyum terkembang.
“Apa?!” Kaget keempat kawan Laila kompak.

“Mungkin kami memang berjodoh. Saat aku menunaikan ibadah haji, aku menolong seorang bapak yang tersesat. Kalian tahu siapa orang tersebut?” Tanya pria itu dengan senyum jahil.

“Orang itu adalah Papaku.” Sambung Laila dengan mata berbinar-binar.

¤¤¤¤

Pukul 14.20, 12 Desember 2012, suite room Ritz-Carlton Jakarta.

“Aku menjemput kamu, untuk menemui tamu-tamu kita di ball room. Sekaligus mengenalkan kamu sebagai istriku, pada keluargaku. ” Ujar Marquez tanpa melepas senyuman bandelnya.

Laila menggelengkan kepalanya, yang tiba-tiba merasa pusing.

“Aku nggak ngerti. ” Desisnya dengan wajah pucat.

“Bagaimana bisa….” Ia menatap Marquez dengan pandangan horor. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanyanya lagi, tampak sedikit frustasi dengan keadaan yang tidak ia mengerti.

Marquez tersenyum, mendekati Laila yang duduk rapuh di tepi ranjang. Berjongkok di hadapannya dan meraih kedua belah tangan halus gadis itu. Menggenggamnya.

“Sepeninggal kamu, aku kembali kekehidupanku yang dulu. Kau tahukan bagaimana aku?” Marquez tampak sedikit jijik, mengingat bagaimana dirinya dulu. “Tapi beruntungnya aku, suatu hari aku dapat pencerahan. Aku belajar agama islam. Dan semuanya terjadi dengan cepat dan mudah, aku mualaf dengan keyakinan penuh.” Sambung pria ini dengan suara tenang, ia meremas jemari tangan istrinya lembut.

“Aku menunaikan ibadah haji dan saat berada di Makkah, aku berdoa semoga Alloh mengirimkan jodoh yang baik untukku. Kau tau apa yang terjadi? Aku malah bertemu dengan ayahmu. Yang ternyata juga sedang pergi berhaji. Ayahmu dan aku berpikir yang sama, ini terlalu kebetulan. Mungkin inilah yang disebut jodoh dan takdir. ” Bisiknya dengan suara bahagia, yang tak ingin disembunyikannya.

Laila menarik nafas dalam-dalam. Dengan mata lebarnya yang indah, ia menatap Marquez takjub, seolah baru pertama kali melihatnya. “Kamu nggak pernah menyerah atas aku ya?” Tanyanya dengan lembut. Jarinya terulur menyentuh rahang kiri Marquez.

Pria tampan ini menyeringai senang, ia mengecup tangan istrinya sangat bahagia.

“Enggak pernah. Aku yakin kalau kamu pasti bisa jadi milikku. Aku juga nggak tahu bagaimana bisa seyakin itu. Tapi doaku dijawab, meski tak mudah dan harus melalui jalan yang panjang. ” Ucapnya dengan wajah sumringah.

Laila membalas senyumannya, menghela nafas. Dan terlihat lega.

“Terimakasih sudah memilihku. ” Ujar gadis ini dengan jujur.

Marquez tersenyum senang, “Terimakasih juga sudah menerimaku, Lady Marquez.” Ia kembali mengecup jari istrinya dengan lembut.

4 thoughts on “Jodoh buat Laila (Kun Fayakun)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s