We Are Broken

Kau sakiti hati ini, tuk kesekian kali. Memang ku cinta namun tak begini.

Gadis cantik berwajah oriental ini menggumamkan sepotong bait lagu ‘Terserah Glenn Friedly’ secara pelan dengan tatapan kosong, keluar jendela.

“Nyindir nih, ceritanya?” Ujar pria bertubuh kurus langsing yang sedang berkonsentrasi menyetir mobil.

Meliriknya dengan senyuman, masam.

Gadis itu diam. Dan berusaha tidak terpancing dengan nada lunak pria di sampingnya.

“Na…” Bisik pria itu dengan lembut, meraih tangan kanan gadis itu dan meremasnya dengan jemarinya yang panjang. “Aku sayang banget sama kamu…”

“Aku capek. ” Potongnya pendek sambil menarik lengannya dari pegangan pria tersebut.

Pria itu kembali melirik wajah gadis cantiknya, sedikit merasa terancam.

Gadis yang sudah setahun ini bersamanya, setelah membutuhkan waktu yang lama ia mengejar-ngejarnya.

“Kita putus saja. ” Bisik gadis itu tanpa basa-basi.

“Ngomong apa sih?” Sergahnya terbetik marah.

“Aku lelah sama kamu, sama hubungan ini. Kupikir aku bisa lebih bahagia kalau sendiri. ” Ujarnya tanpa memandang pada pria di sampingnya.

“Jangan gitulah, yang. ” Bujuk pria ini dengan suara lembut, berusaha melunakkan hati gadis yang tampaknya sedang marah ini.

Gadis itu diam.

“Na…..” Bisik pria itu lagi.

Namun gadis yang dipanggilnya Na, tetap tidak mau menoleh padanya.

Ia yakin dalam diamnya gadis itu menyembunyikan kesedihan dan air mata, yang disesapnya perlahan.

“Kamu tahu aku sayang banget sama kamu….” Desah pria itu berusaha meyakinkannya.

Kali ini gadis itu menoleh padanya dan menatapnya penuh amarah. Dengan mata lebarnya yang berkaca-kata.

“Bisanya kamu ngomong sayang semudah itu. ” Ucapnya sedih.

“Lalu apa yang kamu lakukan selama ini? Itu yang kamu bilang cinta, dengan menyakitiku terus-menerus?” Gadis itu menyergah, marah.

¤¤¤¤

Gadis cantik itu tertidur dengan kepala bersandar ke jendela mobil. Tubuhnya tampak meringkuk, seperti kedinginan. Suhu udara di mobil memang agak dingin karena AC yang dinyalakan, sementara diluar sedang hujan.

Perjalan pulang masih sekitar satu setengah jam lagi. Dan gadis itu meninggalkan pria itu, tidur. Kelelahan, sedih juga kedinginan.

Pria itu sesekali mengamati gadis bertubuh mungil ini. Meski terlihat baik-baik saja, belakangan gadis ini semakin kurus. Dan wajahnya tampak tirus.

Apa begitu berat baginya hubungan ini?

Dulu wajah itu selalu tampak percaya diri dan bahagia, kini hanya ada kesakitan di mata itu. Gadis itu juga selalu bersikap muram dan dingin.

Pria ini ingat, pertama kali saat gadis itu mengetahui bahwa ia bukan satu-satu baginya, gadis itu sangat marah dan terluka. Tapi masih bisa memaafkannya. Lalu pengkhianatan-pengkhianatan yang lain menyusul, gadis itu menangis. Kembali ia memaafkan tapi keadaan jadi berubah, gadis itu tak pernah tersenyum lagi.

“Na, aku nggak pernah serius dengan mereka. Cuma sama kamu, aku selalu kembali. Cuma kamu, satu-satunya perempuan yang aku perkenalkan dengan Papa dan Mamaku. ” Pernah ia berucap begitu pada gadis itu.

“Bagiku, nggak pernah ada orang lain dalam hubungan kita. Gimana kalau aku juga berbuat sama, dengan yang kamu buat. Apa kamu bisa terima?”

Ia bisa membayangkan gadis ini dengan yang lain. Yakin sekali bahwa banyak pria lain yang sedang menunggu-nunggu kesempatan untuk mendapatkan gadis ini. Dan hatinya marah. Ia tidak rela.

“Kamu nggak bisakan?” Tanya gadis itu dengan raut wajah sedih. “Begitu juga aku. ” Tambahnya dengan lemah.

“Terus kamu maunya apa?” Pria itu menatapnya tajam.

“Kalau kamu nggak bisa setia sama aku, kita akhiri saja. Aku mau bahagia, meski tanpa kamu lagi. Aku ingin kita berpisah dan kamu jangan cari-cari aku lagi. ”

Dimana arti sebuah kesetiaan. Bila hanya dalam kata-kata. Ku coba untuk bertahan, namun aku tak sanggup. Sungguh tak mampu, sayangku….

¤¤¤¤

Gerimis masih turun saat akhirnya mereka sampai di rumah kost gadis itu. Ketika mobil berhenti dan parkir di halaman luas, gadis itu cepat meraih barang-barangnya dan keluar dari mobil.

“Na….” Seru pria itu memanggilnya.

Membuatnya menoleh dengan pandangan tajam sekaligus sedih.

“Semua omongan tadi, nggak seriuskan?” Tanyanya berhati-hati.

Sejenak wajah basah gadis itu terpilin kesedihan.

“Aku serius. Aku nggak sanggup lagi untuk terus bersama kamu dan semua kebohongan yang kamu buat bersama yang lain. Aku benar-benar capek. ”

Kepingan hati ini telah remuk digenggamanmu.
Kita sudah patah dan tak bisa lagi.
Maaf, kupikir aku harus pergi dan menyelamatkan apa yang tersisa dariku.
Kau dan aku, kita berhenti disini.
Dan tak ada jalan untuk kembali, setidaknya untukku.
Kebahagiaanku, ada di luar sana dan jelas itu bukan bersamamu.

Gadis itu berdiri dibawah siraman air hujan yang menetes perlahan. Hanya ada keteguhan diraut wajahnya, juga luka yang tak dapat disembunyikan pada sorot mata itu.

“Aku nggak bisa nerima ini semua…” Geram lelaki itu pada kekeras kepalaan kekasihnya ini.

Namun gadis itu tampak tidak perduli.

“Terserah kamu, tapi aku sudah memutuskan. Ini terakhir kalinya kita bersama, setelah ini jangan mencariku lagi. ” Ucapnya penuh ketenangan.

“Na… Aku bakal mutusin mereka semua, sekarang juga. Tapi kamu jangan seperti ini. Tolong,… Aku benar-benar sayang sama kamu. Aku cuma cinta sama kamu, yang. ” Ia berusaha menyentuh lengan gadis itu.

Tapi ia menarik tubuhnya pelan.

“Dulu kamu juga sudah berjanji seperti itu. Tapi tetap saja kamu kembali seperti ini. ” Desisnya mengingatkan.

“Kali ini aku serius, sayang…” Ujar pria itu berusaha meyakinkan.

Gadis itu menggeleng keras. “Terlambat. ” Katanya pelan seolah pada berbisik.

Ia menatap pria itu lekat-lekat. “Kamu pernah berarti penting untukku…” mungkin sekarang juga masih, bisiknya di dalam sanubarinya.

“Lain kali kalau kamu mencintai seseorang, jangan buat ia terluka seperti yang kamu buat kepadaku. Cukup aku orang terakhir yang kamu buat seperti ini. ”

Ia tersenyum penuh kesedihan.

“Selamat tinggal…” Bisiknya perlahan sebelum akhirnya berbalik dan tak pernah menoleh lagi.

Terserah, kali ini. Sungguh aku takkan peduli. Kutak sanggup lagi jalani kisah denganmu. Biarkan kusendiri, tanpa bayang-bayangmu lagi.

Pria itu menatap punggung rapuh gadis itu, yang menjauh lalu menghilang dibalik pintu ganda kayu berwarna hitam.

Ia dapat merasakan keteguhan ucapan gadis cantik berwajah oriental tersebut. Gadis itu sangat serius dan pasti akan melakukan apa yang sudah diniatkannya. Sekeras apapun ia mencoba menggagalkan niat gadis itu, akan percuma. Gadis itu malah akan semakin bersikap keras, membalasnya.

Pria itu mendesah, merasa ciut dengan rasa sesak yang melingkupinya.

¤¤¤¤

“Aku ini cantik. Pintar. Nggak kekurangan orang yang mau sama aku. Tapi aku milih kamu. Dan ini yang kamu lakukan padaku? Mengkhianati aku dengan perempuan yang sama sekali nggak lebih dari aku. ” Ujarnya penuh kemarahan dengan mata berkaca-kaca.

Kata-kata gadis itu menusuk perasaannya, karena memang sengaja diucapkan untuk menyakiti hatinya. Tapi lebih dari itu, orang yang paling terluka dalam hubungan ini tetaplah gadis itu.

“Kenapa kamu nggak bisa hanya cukup denganku? Apa kamu nggak bahagia bersamaku?” Tanya gadis itu dengan air mata berurai di wajah cantik itu.

“Bukan begitu, sayang…” Ucap pria itu bingung harus menjawab apa.

Berulang-ulang kali, ia bermain di belakang gadis ini. Dan tertangkap basah. Dan berkali-kali pula gadis itu memaafkannya meski sangat marah dan terluka.

“Suatu saat, aku akan ninggalin kamu. Dan aku akan mencari orang yang jauh segalanya dibandingkan kamu. ” Pekiknya penuh kemarahan saat ia berusaha menenangkan gadis yang menangis histeris ini, karena melihatnya bermesraan dengan wanita lain.

“Kamu brengsek…” Makinya dengan putus asa sambil memukuli dada pria yang memeluknya putus asa.

¤¤¤¤

Dan kini, saat ia bertemu gadis itu lagi setelah lama perpisahan mereka, ia hanya bisa tertegun.

“Ren…” Vino menyapanya dengan senyum sumringah. Rasa bahagia terpancar jelas di sekujur sel tubuhnya.

“Ini Andriana Sumirat. Tunanganku. ” Ujarnya bangga sambil memeluk posesif pinggang gadis cantik dengan kulit putih susu dan mata sipit yang tajam.

Gadis itu dengan mata bersinar berani dan angkuh, mengulurkan jemari tangannya yang halus. Sebuah cincin berlian menghiasi jari manisnya.

“Kau bisa memanggilku, Nana!” Ucapnya dengan suara lembut mengayun.

Adriana, Nana…. bekas kekasihnya yang menghilang sekitar setahun yang lalu. Dan kembali sebagai tunangan Vino, sepupunya.

Gadis itu tampak sangat baik. Jauh lebih cantik dan berbahagia. Dan semua itu bukan bersamanya ataupun karena dirinya. Hal tersebut menyakitinya jauh lebih dalam, lebih dari apapun.

Ia menatap Vino, pria tampan yang kini memandang Adriana dengan pandangan memuja serta tergila-gila. Dan Adriana yang membalas tatapan Vino dengan lembut dan penuh cinta.

Yah, ia menyadari sepasang kekasih di hadapannya ini saling mencintai dan perasaan mereka tampak kuat.

Ada kesedihan menyusup dalam sanubarinya. Jantungnya serasa diremas dengan kecemburuan. Dulu iapun pernah berada diposisi yang sama, ia pernah memandang gadis itu dengan rasa cinta yang sama atau mungkin masih.

Ia masih mencintai Nana. Setelah perpisahan sepihak itu, Nana menghilang. Ia mencari gadis ini seperti orang gila. Tapi Nana pindah kota dan mengganti semua akses yang dapat ia hubungi. Gadis ini benar-benar memutuskan hubungan dengannya.

Ia menyesal, sangat menyesal. Tapi Adriana tak memberi kesempatan lagi untuknya.

“Kamu akan menyesal, kamu pasti menyesal. Dan saat itu, aku sudah bahagia dengan hidupku. Tanpa kamu….”

Adriana pernah berucap seperti itu. Dan itulah saat ini, hari pembalasan. Dimana ia melihat Adriana sangat berbahagia dengan lelaki lain. Dan ia bukan bagian dari bahagia gadis itu. Ini hukuman yang harus ia alami, selamanya.

¤¤¤¤

Footnote : Wow, nggak kerasa blog ini udah berusia satu tahun loh.

I’m so happy, masih rajin nulis dan semakin banyak yang baca. Semoga kemampuan merangkai kataku juga mengalami kemajuan yah.

By the way, thanks buat para pembaca yang telah mendukung dan memberi kritik atau komentar di blog ini.

Dan tulisan kali ini adalah hadiah anniversary 1 tahun blog Yona Sukmalara.

Arigato……..

3 thoughts on “We Are Broken

  1. Hello Web Admin, I noticed that your On-Page SEO is is missing a few factors, for one you do not use all three H tags in your post, also I notice that you are not using bold or italics properly in your SEO optimization. On-Page SEO means more now than ever since the new Google update: Panda. No longer are backlinks and simply pinging or sending out a RSS feed the key to getting Google PageRank or Alexa Rankings, You now NEED On-Page SEO. So what is good On-Page SEO?First your keyword must appear in the title.Then it must appear in the URL.You have to optimize your keyword and make sure that it has a nice keyword density of 3-5% in your article with relevant LSI (Latent Semantic Indexing). Then you should spread all H1,H2,H3 tags in your article.Your Keyword should appear in your first paragraph and in the last sentence of the page. You should have relevant usage of Bold and italics of your keyword.There should be one internal link to a page on your blog and you should have one image with an alt tag that has your keyword….wait there’s even more Now what if i told you there was a simple WordPress plugin that does all the On-Page SEO, and automatically for you? That’s right AUTOMATICALLY, just watch this 4minute video for more information at. Seo Plugin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s